Ujub dan Riya adalah Rintangan Terbesar untuk Meraih Derajat Kewalian

Shuhbah Dr. Nour Kabbani

Fenton, Michigan; Ahad, 13 Juni 2021


Ketika saya baru memulai, saya mengatakan kepada ayah saya, “Saya tidak suka facebook ini,” beliau menjawab, “Lakukan saja!”  Saya katakan lagi, “Baba, ini membuat saya merasa penting dan saya tidak senang dengan perasaan itu.”  Beliau mengatakan, “Tidak, ini adalah jalan agar engkau dapat menjangkau orang-orang.”  Facebook, instagram dan semua media sosial, semuanya adalah tentang ujub, membanggakan diri, kalian berpura-pura menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak seperti itu. Ujub adalah rintangan terbesar bagi kita untuk mencapai wilayah (kewalian), untuk mencapai penghambaan sejati kepada Allah (swt), ujub dan riya adalah rintangan terbesar.  Keduanya adalah hal yang paling disukai oleh ego manusia.  

Ego manusia ingin agar ia terkenal, jadi masya Allah, para psikolog di facebook, mereka mengetahui hal ini, mereka adalah orang-orang yang pintar.  Semua platform media sosial, mereka mempekerjakan para psikolog terlebih dahulu, untuk melihat bagaimana mereka dapat menggoda manusia untuk menggunakan platform mereka.  Bukan hanya psikolog, tetapi juga pemerintah, perusahaan swasta dan lain-lain.  Itu adalah cara mereka untuk menarik orang-orang, yaitu melalui ujub dan riya.  “Aku adalah sesuatu!” dan juga pamer.  Saya merasakannya dalam perjalanan pertama saya pada tahun 2015 ke California, jadi saya menghubungi ayah saya dan mengatakan, “Saya tidak suka dengan hal ini.”  Beliau mengatakan, “Ini adalah jalan yang harus dilakukan, Mawlana menempatkanmu pada situasi tertentu, dan kau harus berjuang menghadapinya.”  

Jadi sejak saat itu saya berusaha untuk tidak menarik perhatian pada facebook, instagram dan lainnya, tetapi saya gagal (tersenyum). Setiap hari saya mengecek pesan saya, setiap hari saya mengecek “like” saya (tertawa), setiap hari saya mengecek “followers” (pengikut) saya, setiap hari, setiap hari, yaa Rabbi astaghfirullaah al-`azhiim.  Itu adalah rintangan terbesar.     

Saya mendengar dari Mawlana bahwa suatu ketika ada seorang Syekh bersama muridnya.  Ia adalah seorang Syekh yang sangat baik, orang yang murni, begitu pula muridnya.  Ia juga telah mencapai level yang murni.  Saya rasa Mawlana Syekh Nazim pernah menceritakan kisah ini juga.  Murid itu mempunyai kekuatan untuk melihat ke Loh Mahfuz (Arab: لَوْحٍ مَحْفُوظٍ lauḥ maḥfūẓ).  Ia melihat ke Loh Mahfuz untuk melihat daftar orang-orang yang baik dan daftar orang-orang yang buruk.  Allah memberi kemampuan itu untuk melihat ke Lauhul Qadar, al-qadhaa wal qadar.  Ia melihat bahwa nama syekhnya ada dalam daftar ahlu ‘n-Naar, dan ia menjadi terkejut.  Ia lalu melakukan sujud sepanjang malam memohon agar Allah mengubah nama Syekhnya menjadi ahlu ‘l-jannah.  Ketika Subuh ia melihat lagi ke Loh Mahfuz dan ia melihat bahwa nama Syekhnya kini telah menjadi ahlu ‘l-jannah.  Ia senang sekali, ia merasa lega.  

Pada saat Zhuhur ia pergi ke tempat Syekhnya, tetapi begitu baru sampai, Syekhnya berseru padanya, “Wahai anakku, aku telah melihat namaku dalam daftar itu selama 40 tahun.  Aku tidak menggunakan iradahku, aku tidak menggunakan kehendakku untuk meminta Tuhan untuk mengubahnya.  Tuhanku Maha Mengetahui yang terbaik.  Aku ingin agar engkau meminta kepada-Nya untuk mengembalikan aku ke tempat semula.”  

Lihatlah ini adalah Syuyukh yang tidak takut dengan Naar, dan mereka tidak tamak (طماع), mereka tidak menginginkan Surga.  Apa yang mereka inginkan?  Mereka ingin agar Allah (swt) ridha dengan mereka, apakah mereka di sisi ini atau di sisi sana, itu tidak masalah bagi mereka.  Ini adalah Syekh sejati.

Orang yang berpura-pura menjadi syekh, atau berlagak seperti seorang syekh, mereka hanya ingin mendengarkan kata-kata yang bagus-bagus saja.  Jadi apa yang terjadi?  Saya lihat komentar-komentar (di media sosial–red) dan ketika saya melihat komentar yang buruk, saya menghapusnya (tertawa).  Apakah kalian melakukannya?  “Komentar ini tidak bagus, mengapa ia mengkritik saya, mengapa dia tidak suka dengan apa yang saya katakan?!”   Jika ia menulis komentar buruk lainnya, apa langkah selanjutnya?  Blok!  (tertawa)  Kalian hanya menginginkan madiih (مديح), pujian.  Itu adalah nafs, ego.  

Nafs hanya menginginkan pujian, ia tidak suka disalahkan, dicela (لوم) atau dikritik.  Apakah yang menjadi karakteristik Muslim yang sempurna?  

وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ

dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (QS al-Ma’idah, 5:54)

Mereka tidak takut celaan orang-orang yang mencela mereka.  Mereka bicara benar, mereka melakukan perbuatan yang benar dan mereka tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela mereka, karena mereka tahu bahwa mereka berada di jalan yang haqq.  Tetapi jika seseorang tidak tahu apakah ia berada di jalan yang haqq atau batil, mereka akan takut terhadap celaan atau mereka menyebutnya penistaan sekarang ini.  Awliyaullah di masa lampau tidak peduli dengan hal ini, celaan atau bukan tidak masalah. 

Suatu hari Musa (as) mengeluh kepada Tuhannya, “Yaa Rabbi, hamba-Mu terus mencelaku, mengkritik diriku, menyalahkan diriku.  Singkirkanlah mereka!”  Kadang-kadang jika seseorang mengganggu kalian, apa yang kalian lakukan?  Kalian duduk di pojok kamar dan berdoa, “Yaa Rabbi, khudzhu akhdza `aziizin muqtadir, wahai Tuhan, bawalah dia wahai Dzat yang membawa dengan Mahaperkasa, Mahakuasa.” (tertawa) “Bawalah dia ke penjara, rumah sakit, ke balik gunung, hilang di dalam gua, atau dimakan singa, pokoknya singkirkan dia!”  Ya, kita melakukan hal itu.

Jadi Musa (as) mengatakan kepada Allah (swt), “Yaa Rabbi, mereka sungguh membuatku kesulitan.  Mereka menyebutku dengan sebutan macam-macam, singkirkanlah mereka.”  Allah (swt) membalas, “Yaa Musa (as), apa yang mereka katakan kepadamu belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang mereka katakan tentang Diri-Ku.”  Hamba-hamba-Ku mengatakan hal-hal yang tidak benar mengenai Diri-Ku.  Mereka tidak percaya dengan apa yang Kukatakan, mereka tidak percaya dengan apa yang Kukirimkan, mereka mengatakan bahwa Aku mempunyai anak, mereka katakan bahwa Aku ada dua, tiga, empat, mereka terus mengatakan hal yang tidak benar tentang-Ku, tetapi Aku tetap memberi mereka.”  

Orang-orang juga menyebut Rasulullah (saw) dengan berbagai sebutan, namun beliau (saw) tidak mengatakan apa-apa.  Jadi seorang Muslim sejati tidak peduli dengan apa sebutan orang kepadanya.  Muslim sejati mengikuti yang Haqq.  Bersama dengan yang Haqq, itulah yang penting. Insya Allah kita bersama dengan yang Haqq, bersama Awliyaullah.  InsyaAllah siapa pun yang mempunyai cinta kepada Grandsyekh, beliau selalu bersama mereka, beliau tidak akan meninggalkan mereka.  Selama kalian mempunyai hormat terhadap para Awliyaullah, mereka akan selalu menjaga kalian.  

Ego mengatakan kepada manusia sebagaimana Syaithan berkata kepada Firaun, “Jangan memohon ampun kepada Tuhanmu.  Tidak usah bertobat!  Orang-orang berpikir bahwa engkau adalah idola mereka, engkau adalah panutan mereka, engkau adalah tuhan mereka. Bagaimana mungkin engkau bertobat, engkau adalah seseorang yang sangat penting.”  Begitu pula orang yang berpura-pura sebagai Syekh, Syaithan akan berkata kepada mereka, “Orang-orang datang kepadamu, tunjukkan pada mereka bahwa engkau adalah sesuatu.”  Jadi apa yang kalian lakukan?  Kalian mendandani diri kalian, makin besar turbannya makin bagus; makin banyak hiasan di kepala kalian makin bagus; makin bergaya pakaiannya makin bagus; makin fasih bicaranya makin bagus!  “Tunjukkan pada mereka bahwa engkau adalah sesuatu; dan bukan cuma itu, buatlah dirimu lebih tinggi daripada yang lain, sebagaimana Firaun berkata, ‘Ana rabbukumul a`la.  Aku adalah tuhanmu yang tertinggi.'”  

Itulah sebabnya kita datang kepada Awliyaullah, untuk belajar tawaduk dan rendah hati.  Mereka ingin agar kita bertobat.  Syaithan mengatakan jangan, nafs mengatakan jangan, tetapi Allah (swt) ingin agar hamba-Nya kembali pada-Nya.   Jadi apa yang terjadi?  Bagaimana kalian kembali pada Allah (swt)?  

Sebagaimana kita makan di sini, kita ucapkan, “Subhanallah, Allah (swt) mengirimkan makanan ini melalui saudara kita.  Kalian melihat nikmat-Nya, tetapi kalian tidak ghafil, tidak lalai dalam mengingat Sang Mun`im (المنعم), yang mengirimkan nikmat itu kepada kalian.  Kita semua adalah wasilah, jalan atau kendaraan.  Alhamdulillah, melalui Syekh Abdurrahman, Allah (swt) telah mengirimkan nikmat-Nya, tetapi jangan lalai dalam mengingat Mun`im, yang mengirimkan nikmat itu kepada kalian.  

Ketika kalian menyadari ada seseorang yang telah mengirimkan nikmat kepada kalian, apa yang kalian katakan, “Aku harus bersyukur.”  Bagaimana kita bersyukur kepada Yang telah mengirimkan seluruh nikmat ini?  Dia telah mengirimkan kalian seorang istri; Dia telah mengirimkan kalian seorang suami; Dia telah mengirimkan kalian anak-anak; Dia telah mengirimkan kalian teman-teman; Dia telah mengirimkan kalian tempat untuk bernaung;  Dia telah mengirimkan kalian iman, islam; Dia telah mengirimkan kepada kalian Awliyaullah;  Dia telah mengirimkan kalian Muhammad (saw).  Mengapa Allah memilih Kekasih-Nya untuk dikirimkan kepada kalian?  Agar beliau (saw) dapat mengajari kalian untuk bersyukur.

Jadi Mun`im ini, yang telah memberikan kita nikmat, apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengucapkan terima kasih.  Bagaimana kalian mengucapkan terima kasih kepada Allah (swt)? Bagaimana kalian melayani Allah (swt)?  Apa yang kalian lakukan?  Pertama kalian katakan pada diri kalian, Allah (swt) telah mengirimkan kepadaku Rasul.  Kalian mengakui Rasulullah (saw).  Kalian tidak bisa tidak mengakui Rasulullah (saw).  Bisa saja itu adalah Nuh Rasulullah, bisa saja Ibrahim Rasulullah, bisa saja Musa Rasulullah, Isa Rasulullah, Muhammad Rasulullah (saw), tergantung pada masa di mana kalian hidup.  Bisa juga Hud Rasulullah, bisa Saleh Rasulullah, bisa Yunus Rasulullah, mereka semua adalah Mursalin, mereka semua diutus, untuk apa?  Untuk apa Rasulullah (saw) diutus?  Basyiiran wa nadziiran (بَشِّرًا وَنَذِيرًا), menyampaikan kabar gembira dan peringatan.  Allah (swt) telah mengutus Rasul kepada kalian yang mengatakan kepada kalian, Allah (swt) telah mempersiapkan hal-hal yang indah bagi kalian dan tsawaab.  Dan Allah (swt) juga telah mempersiapkan hal-hal yang mengerikan kepada sekelompok orang. 

Mawlana Syekh Nazim (q) sering mengatakan bahwa di Jahannam ada ular yang seukuran keledai dan unta; satu gigitan dari ular itu akan menyebabkan nyeri hingga 70 tahun!  Jika kalian takut dengan seekor laba-laba, bayangkan kalau ukurannya 10 kali lebih besar, atau 20 kali, atau 1000 kali lebih besar!  Rasulullah (saw) datang untuk mengatakan kepada kalian bahwa Allah (swt) telah mempersiapkan dua hal, pertama adalah kebun yang indah dan yang kedua adalah lembah yang mengerikan, gunung dan gua yang penuh dengan thawaghiit, penindas (طواغيت) dan tawaabiit, peti mati (توابيت) sebagaimana yang dikatakan oleh para Awliya.  

Jadi ketika kita melihat apa yang kita makan dan kita katakan, “Yaa Rabbii, alhamdulillaahi rabbi ‘l-`aalamiin, bagaimana aku dapat berterima kasih kepada-Mu?”  Dia mengatakan, “Ingatlah Utusan-Ku.  Dia telah mengajarimu dua hal, yang pertama adalah wa`ad, janji (وعد) dan tsawaab, pahala (ثواب).”  Ada juga wa`iid, ancaman (وعيد), dan juga `iqaab (عقاب), hukuman.  Jadi apa yang kalian lakukan?  “Aku akan mundur dan bertobat,” itulah bagaimana munculnya tobat.  Tobat muncul ketika Allah memberi cahaya iman di dalam hati kalian, bahwa Tuhan itu ada.  Jadi ketika sebagian orang tidak percaya dengan Tuhan, jangan menyalahkan dan jangan terlalu kasar dengan mereka, karena cahaya itu belum masuk ke dalam hati mereka.  

Para Awliyaullah mengatakan bahwa itu adalah khathir samaawiy (سَمَاوِيّ خَاطِر), jadi iman bukanlah sesuatu yang kalian ciptakan.  Khathir samaawiy dan tawfiiq ilahiy (الهي تَوْفِيق), tawfiq yakni fasilitasi atau persiapan–tawfiq adalah suatu konsep di mana segala sesuatu ditempatkan bagi kalian agar berhasil, jadi Allah (swt) akan mempersiapkan segala sesuatunya bagi kalian untuk mencapai keyakinan bahwa Sang Pencipta itu ada, tidak seperti yang kadang-kadang dikatakan orang-orang sekarang ini dalam sains ini itu, tidak!  Sang Pencipta itu ada, Dia yang telah menciptakan kita.  Jadi itu terjadi dengan cahaya iman yang masuk ke dalam hati kalian dan kalian mengatakan, “Ya, Pencipta itu ada dan apa yang Dia inginkan dariku?  Dia menginginkan syukur.”  Jadi apa yang kalian lakukan?  “Aku akan berhenti melakukan keburukan.”  

Setelah kita bertobat, langkah selanjutnya adalah inaabah (الإنابة), kembali kepada-Nya.  Hal itu terjadi ketika kalian menemukan Waliyullah; ketika orang mulai mencari seorang mursyid, sebagaimana kita telah mencari Mawlana Syekh Nazim (q), alhamdulillah sekarang setelah beliau ada khalifahnya, dan kita mengikuti salah satu di antara mereka.  Allah (swt) mempunyai banyak Awliya, dan alhamdulillah kita beruntung telah menemukan salah satu di antara mereka dan kita mengikutinya.  Ikut ke mana?  Berjihad!  Untuk apa kalian mengikuti Syekh?  Kalian mengikuti Syekh untuk menaklukkan musuh-musuh kalian.  Jadi ketika Allah mengatakan bahwa kalian harus kembali kepada-Nya, Dia mengatakan kepada kalian untuk meninggalkan ego kalian dan kembali kepada-Nya.  Bagaimana kalian dapat meninggalkan ego itu?  Ego itu adalah yang mengatakan, “Jangan kembali kepada Tuhanmu, tetaplah tinggal di atas semua orang, karena kalian adalah tuhan mereka, kalian adalah idola mereka, kalian adalah tuan mereka.”  

Jadi ketika seseorang bertobat, ia menyadari bahwa ia mempunyai empat musuh: nafs (نَفْس), dunia (دُنْيَا), syaithan (شيطان) dan hawa (الهوى).  Awliyaullah mengatakan at-tajarrud `ani ‘d-dunya (تجرد عن الدنيا), jauhkan diri dari dunia.  Itulah sebabnya Syekh meletakkan turban di atas kepala kalian; mengatakan agar kalian memelihara janggut; mengatakan agar kalian memakai jubah; dan memberi tongkat pada kalian, sehingga ketika orang melihat kalian, mereka akan mengatakan, “Pergilah!”  Jadi sekarang kalian menarik diri dari dunia.  tajarrud bukanlah menarik diri, tetapi pada hakikatnya mengeluarkan diri kalian dari sana, keluar dari kesenangannya.  

Kalian menjadi suka dengan hal-hal yang sederhana; kalian merasa puas dengan hal-hal yang sederhana, dengan sesuatu yang sedikit; itu sudah membuat kalian lebih dari senang.  “Aku sudah cukup, tidak perlu yang lainnya.”  at-tajarrud `ani ‘d-dunya, itulah yang diajarkan guru kita.  Sedapat mungkin kalian bahagia dengan apa yang kalian miliki dan tidak meminta lebih.  

Wa tafarrud `ani ‘l-khalq (تفرد عن خلق ), tafarrud, juga memisahkan diri dari khalq, dari orang-orang, karena orang-orang adalah sumber kesenangan.  Kalian tidak dapat memperoleh kesenangan dengan diri sendiri, kalian memerlukan orang lain, kalian memerlukan sesuatu.  Jadi kalian memisahkan diri, dan itulah sebabnya mereka biasa melakukan khalwat, mengasingkan diri di gunung atau di dalam gua selama arbain (40 hari), atau enam bulan atau satu tahun yang pada dasarnya menarik diri dari orang-orang dan menarik diri dari dunia.  Syaithan, kalian harus melawannya. Ia datang kepada kalian setiap saat, memerintahkan keburukan dan kalian harus memerangi keburukan tersebut.  Ego adalah diri kalian, kalian tidak bisa meninggalkannya.  Itu adalah hal yang terberat, jadi Awliyaullah mengatakan agar kalian mengikat erat ego kalian.

وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا

washbir `alaa maa yaquuluuna wahjur-hum hajran jamiilaa (QS Muzzammil, 73:10)


Allah (swt) berfirman, “Washbir `alaa maa yaquuluuna,” bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan padamu, apa yang mereka katakan tentangmu, karena orang yang mengikuti Waliyullah dan menarik diri dari dunia, orang-orang mulai membicarakan mereka baik atau buruk.  Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, baik ketika mereka memuji kalian atau mereka mencela kalian, wahjur-hum hajran jamiilaa, tinggalkanlah mereka tetapi dengan cara yang baik, jangan bertengkar dengan mereka.  

اِنَّ لَدَيْنَآ اَنْكَالًا وَّجَحِيْمًاۙ

inna ladainaa angkaalan wa jaḥiimaa (QS Muzzammil, 73:12).


Bersama kita terdapat belenggu-belenggu wa jahiimaa, dan api yang menyala-nyala.

وَّطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَّعَذَابًا اَلِيْمًا

wa tha`aaman dzaa gushshatin wa `adzaaban aliimaa (QS Muzzammil, 73:13).


Dan ada makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih, untuk siapa?  Untuk ego kalian.  Ini adalah salah satu makna rohaniah untuk ayat ini. 

Ketika kalian menarik diri dari Syaithan, dunia, ego dan hawa, untuk membelenggu mereka, dengan apa?  Dengan Qur’anil kariim.  Bagaimana kalian mengikat Syaithan?  Dengan perintah Allah (swt).  Bagaimana kalian mengikat ego kalian?  Dengan perintah Allah (swt).  Bagaimana kalian mengikat dunia agar tidak menggoda kalian?  Dengan perintah Allah (swt). Jadi Dia berfirman, “Bersabarlah dan tariklah diri kalian dari keempatnya.  Aku telah mempersiapkan belenggu-belenggu bagi mereka.”  

Jadi ketika kalian mengikuti Waliyullah dan ia mengajari kalian Syariah dan Thariqah, ia mengajarkan kalian cara untuk membelenggu mereka dan membakar mereka; karena ketika kalian shalat, ego kalian terbakar; ketika kalian berpuasa, ego kalian terbakar; ia sedang disiksa.  Wa tha`aaman dzaa gushshatin, dan kita akan memberi makan mereka dengan makanan yang menyumbat kerongkongan, artinya ketika ego kita melakukan dzikir, ia menjadi tersumbat, ia tidak ingin melakukannya.  Ini semua atas izin Allah kalian dapat membelenggu musuh-musuh kalian.  Jadi membelenggu ego, dunia dan semua musuh lainnya bukanlah dengan imajinasi dan filosofi, melainkan dengan Qur’anil kariim dan Sunnah; dan ketika orang tidak mau melakukannya, ego mereka bebas untuk melakukan apa pun yang diinginkannya, sehingga ego itu menjadi penindas, sebagaimana yang kalian lihat sekarang ini, ego setiap orang menjadi penindas.  Inilah yang dikatakan lijaamu ‘t-taqwa, kalian mengekang mereka dengan belenggu taqwa, dengan menghindari apa yang dilarang Allah, artinya kalian mengikuti Qur’anil kariim. 

Apa yang terjadi setelah itu?  Ego kalian akan memberontak.  Ia berkata, “Aku mau makan!”  Baiklah, kau ada di gunung, kau bisa makan daun-daunan dan herbal, “Tetapi engkau punya keluarga yang harus diberi makan.”  Ego ingin membawa kalian kembali ke dunia.  Jadi apa yang kalian lakukan?  Kalian mengucapkan, “Tawakkaltu `alallaah. (تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ)” “Aku bertawakal kepada Allah.  Rezekiku akan datang.” 

Sampai kalian mulai berada di jalan yang benar itu, nafs akan terus datang dengan ujub dan riya, sebagaimana kita mengawali shuhbah ini.  Ego akan datang dengan ujub, kekaguman pada diri sendiri dan pamer, jadi ketika kalian sedang bersama orang banyak, kalian akan menunjukkan lebih banyak ibadah, tetapi ketika kalian sendiri kalian melakukannya sedikit.  Ini adalah ujub dan riya.  Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q) kemarin, kalian memerlukan keikhlasan untuk itu, kalian harus memohon agar diberi keikhlasan.      

Jadi semua posisi yang harus kita lewati ini kita lakukan bersama Waliyullah, bersama seorang Syekh, bukannya bersama Syekh abal-abal, tetapi bersama Syekh sejati yang telah melewati semua posisi ini.  Syekh abal-abal masih mentok di level pertama, bahkan belum sampai di level tobat.  Ia harus bertobat dulu untuk apa yang telah dilakukannya.  Kalian dapat melihat begitu banyak alim yang berpura-pura bahwa mereka adalah sesuatu padahal sebenarnya mereka sama seperti orang lainnya, perbedaannya hanyalah bahwa mereka mempunyai gelar.  Mereka mempunyai diploma. 

Semoga Allah (swt) mengampuni kita.  Semoga Allah senantiasa menjaga kita di jalan yang benar.  

Jadi Mawlana Syekh Nazim (q) memberikan contoh dari Sayyidina Ahmad al-Badawi (q).  Pada awalnya beliau tidak mau mengikuti siapa pun.  Beliau mengatakan, “Aku tahu segala hal.”  Mawlana Syekh Nazim (q) mengatakan bahwa sebenarnya dengan segala ibadah dan kesalehannya, Ahmad Badawi (q) telah mencapai Maqam Kalimullah, maqamnya Nabi Musa (as), di mana Allah berbicara langsung kepadanya dari balik hijab.  Jadi Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) seperti banyak di antara kita yang melakukan shalat, shalat, shalat, puasa, puasa, puasa, Rajab dan di luar Rajab, Ramadhan dan di luar Ramadhan, kalian akan mencapai suatu maqam kesalehan di mana kalian mulai dapat melihat makhluk-makhluk rohaniah yang tidak bisa dilihat sebelumnya.  Bahkan Sayyidina Ahmad Badawi (q) telah meraih maqam yang jauh lebih tinggi lagi sehingga Allah (swt) berbicara dengannya. 

Beliau berkata, “Yaa Rabbi, arinii anzhur ilayka, (يا رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ) “Yaa Rabbi, izinkanlah aku melihat-Mu.”  Dari mahabbah yang beliau alami, beliau mengatakan, “Wahai Tuhanku, izinkanlah aku melihat-Mu sekarang.”  Allah (swt) berfirman, “Engkau meminta untuk memasuki Istana Ketauhidan, ini adalah Istana Tauhid, ini adalah Istana dari Kerajaan Allah, mustahi menerima dua, tetapi jika engkau tidak mempunyai jejak yang tersisa, maka mendekatlah.  Bahru ‘t-tawhiid laa yaqbal itsnaniyyah, Samudra Keesaan Allah (swt), Samudra Tauhid Allah (swt) tidak menerima dua.  Jadi orang yang mengaku sebagai Syekh, dan mengaku bahwa maqamnya tinggi, ia belum mencapai Bahru ‘t-tawhid.  Ia tidak boleh mempunyai jejak dirinya sama sekali.  “Aku bukanlah apa-apa.”  

Apa yang dikatakan oleh Sayyida Maryam (as), “Kuntu nasyan mansiyya (وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا), aku berusaha untuk menjadi seorang yang dilupakan,” artinya tidak ada jejaknya.  Nasyan artinya sama sekali dilupakan, lalu mansyiyya, itu jauh lebih dilupakan lagi, mengapa?  Karena semakin banyak jejak kalian dalam diri kalian, semakin sedikit Keesaan dan Keindahan Allah (swt) ditunjukkan pada kalian; seperti tombol pengatur, jika kalian memutarnya ke kanan, kalian akan mendapatkan yang kanan 100%, dan jika kalian memutarnya ke kiri, kalian akan mendapatkan yang kiri 100%.  Jika kalian berada di tengah, kalian tidak mendapatkan yang kanan maupun yang kiri.  

Jika kalian menginginkan Eksistensi dan Keindahan serta Keesaan Allah, kalian harus memutar tombolnya 100% ke arah sana, itu artinya tidak ada yang terlihat pada diri kalian.  Tidak ada yang tersisa dari kalian.  Tidak ada facebook, tidak ada instagram.  Jadi, jangan terlalu semangat membuat posting di media sosial.  (tertawa)  Dan juga kutipan. “Oh Syekhku mengatakan tentang hal ini hari ini.”  Allahu Akbar!  “Syekhku menggambarkan hal ini.”  Allahu Akbar!  “Lihatlah Syekhku!”  “Lihatlah diriku, aku ini cantik, aku ini … aku itu… aku tahu banyak.”  Siapakah Yang Mahaindah?  Allah!  Siapakah Yang Maha Berilmu?  Allah!  Siapakah Yang Mahaalim?  Allah!  Siapakah Yang Mahahakim?  Allah!  Siapakah Yang Mahazhahir, Nyata?  Allah!  Siapakah al-Bathin?  Allah!  Lalu kalian ini siapa?  Kalian di mana?  Kalian azh-zhahir?  Maka kalian berlomba dengan Tuhan kalian.  Ini adalah syirik!  

Jadi seorang Syekh sejati tidak akan membiarkan hal itu terjadi.  Tetapi bila ada perintah, maka kalian harus melanjutkannya, dan kalian harus memerangi syirik itu dalam diri kalian.  Sekarang orang-orang berlomba, siapa yang dapat membuat warna paling bagus dalam sebuah poster; siapa yang dapat membuat foto terbaik; siapa yang dapat mengeluarkan kata-kata terbaik.  Siapa yang berusaha kalian tunjukkan, seorang manusia atau kalian berusaha menunjukkan Pencipta dari manusia itu?  Kalian harus berhati-hati, Bahru ‘t-tawhid tidak bisa menerima dua.  Itulah sebabnya Allah berfirman, “Jika tidak ada jejak darimu, maka datanglah.” 

Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Yaa Rabbi, bagaimana aku bisa mendatangi-Mu?”  Allah berfirman, “Aku telah memberikan kuncinya kepada Qutub itu.”  Qutub yang pernah ditolak oleh Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) sebelumnya.  Apa yang akan dilakukan oleh Qutub tersebut?  Yath-han (يطحن), bukan hanya menggilingnya, tetapi benar-benar menghancurkan dirinya sehingga tidak ada lagi yang tersisa, bagaikan tepung yang ketika ditiup akan terbang ke mana-mana.  Kalian akan seperti itu.  Apa yang dihancurkan?  Anaaniyah (أنانية), keakuan, sehingga tidak ada lagi keakuan pada diri kalian.  

Lihatlah Mawlana Syekh Nazim (q), beliau tidak pernah mengatakan, “Aku”, tetapi beliau mengatakan, “hamba-Mu yang lemah.”  Berapa kali beliau berkata seperti itu?  “Hamba yang lemah, tetapi di atasku ada Yang Mahabesar!”  Beliau tidak pernah membiarkan dirinya mengatakan, “Akulah orangnya,” atau “Aku adalah orang yang hebat.”  

Jadi Ahmad al-Badawi (q), ketika beliau mendatangi Qutub tersebut dan Qutub itu menghancurkan keakuannya, maka Allah (swt) memberikan Cahaya di wajahnya.  Bagaimana Qutub itu menghancurkan keakuannya?  Bagaimana Qutub menghancurkan keakuan pada diri kalian?  Apa yang diri kalian banggakan?  Ego kalian bangga dengan apa yang ia ketahui.  Orang bodoh tidak ada yang membanggakan apa yang diketahuinya, tetapi orang yang pandai bangga dengan apa yang diketahuinya, ia adalah ahli di bidangnya.  Jadi ego membanggakan dirinya dengan apa yang diketahuinya.  

Jadi apa yang terjadi pada Sayyidina Ahmad al-Badawi (q)?  Sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q), ketika Qutub itu melihatnya, beliau berkata, “Apakah engkau datang wahai Ahmad?”  “Aku datang yaa Sayyidi.”  Sebagaimana Sayyidina Musa (as), “Yaa Rabbi, izinkanlah aku melihat-Mu.”  Allah berfirman, “Datanglah pada Khidr (as).”  Jadi Nabi Musa (as) mendatangi Khidr (as), “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajariku?”  Sayyidina Musa (as) datang dari pintu tawaduk, memohon izin, “hal attabi`uka (هَلْ اَتَّبِعُكَ),” bukannya mengatakan, “Aku akan mengikutimu sekarang.”  Beliau mengatakan, “Hal (هَلْ), bolehkah aku, dapatkah aku attabi`uka, mengikutimu?”  “Mengapa engkau ingin mengikutiku?”  عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ Agar engkau dapat mengajariku dari apa yang telah diajarkan kepadamu, artinya aku mengikutimu untuk mempelajari apa yang tidak kuketahui.”  Itulah bagaimana ego merendah, ia tidak lagi menunjukkan apa yang ia ketahui. 

Jadi Qutub itu memandang Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) sekali dan semua ilmu yang dimilikinya dicabut sehingga sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q) Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) tidak mengetahui apa-apa lagi kecuali al-Fatihah agar ia dapat melakukan shalatnya, karena dalam shalat, kalian hanya membutuhkan al-Fatihah, bahkan jika kalian tidak membaca Surat, tasbih atau yang lainnya, hanya al-Fatihah saja itu sudah cukup.  Jadi Qutub itu meninggalkannya dengan al-Fatihah setelah beliau meraih begitu banyak ilmu yang dibanggakan egonya.  Sebelumnya ia adalah bintang yang tinggi, sekarang ia berada di bawah tanah, tidak tahu apa-apa.  Qutub itu telah menghancurkan keakuannya.  Tidak ada lagi “Aku.”  Ketika ditanya, “Siapa dirimu?”  “Aku tidak tahu.”  

Itulah sebabnya Syekhnya Yunus Emre (q) berkata padanya, “Pelajaran pertama untukmu wahai Yunus.”  “Apakah itu wahai guruku?  Aku telah memberi fatwa untuk orang-orang, aku menasihati orang apa yang harus mereka lakukan,” karena ia datang sebagai seorang alim, sebagai kadi, hakim yang menangani urusan agama.  “Aku dapat membantumu di dergah, aku dapat mengajarkan orang bagaimana cara mereka shalat.”  Syekhnya berkata, “Pelajaran pertama untukmu, aku ingin agar engkau mengatakan, ‘Aku tidak tahu!'”  Syekhnya telah mencabut ilmu dari dirinya sehingga egonya tidak dapat membanggakan diri lagi.

Seluruh ilmu dicabut dari hati Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) dan beliau dibiarkan seperti ini selama enam bulan.  Beliau tidak tahu bagaimana melakukan shalat.  Sebelumnya beliau hanya melakukan shalat demi egonya bukan untuk Tuhannya.  

Mengapa orang-orang mengadakan konferensi, mengadakan event besar ini?  Untuk mempromosikan Islam, untuk mempromosikan Allah atau mempromosikan diri mereka sendiri?  Katakan pada saya.  Jangan bohong!  Untuk mempromosikan diri mereka sendiri, untuk dimasukkan ke dalam resume (riwayat hidup), untuk dimasukkan ke dalam facebook dan instagram: “MasyaAllah, ia diundang sebagai pembicara dalam konferensi ini.”  “Ia membuat semua orang kagum dengan pidatonya.”  Jadi kalian shalat untuk siapa?  Untuk diri kalian sendiri.  Kalian melakukan semua konferensi ini untuk siapa?  Untuk diri kalian sendiri.  wa laysa li Rabbik (وليس لربك), bukan untuk Tuhan kalian.          

Beliau telah menjadikan egonya sebagai Ilah dan Imam, beliau sujud untuk dirinya sendiri dan berdzikir menyebutkan dirinya sendiri dan beliau mengatakan “Laa ilaaha illa nafsi,” tidak ada ilah selain dirinya sendiri; seperti itulah ego mengontrol manusia dengan apa yang diketahuinya.  

Jadi keakuan Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) dihancurkan, ilmunya dicabut dan selama enam bulan beliau tidak tahu bagaimana melakukan shalat karena beliau tidak shalat dengan arah yang benar.  Beliau tidak shalat menghadap kiblat yang hakiki.  

Awliyaullah mengatakan bahwa suatu ketika ada seorang pencuri kubur, yakni orang yang masuk ke dalam kuburan dan mengambil apa yang ada di sana.  Ia mendatangi Sayyidina Abayazid al-Bisthami (q) dan berkata, “Yaa Sayyidi, aku telah merampok di 1000 kuburan, tetapi aku sudah jenuh dengan pekerjaan ini dan aku ingin bertobat di tanganmu, bisakah aku bertobat?”  Beliau mengatakan, “Ya, engkau bisa bertobat.”  Ia bertobat dan tidak akan melakukan pekerjaan itu lagi.  Sayyidina Abayazid al-Bisthami (q) bertanya kepadanya, “Berapa banyak wajah orang yang menghadap kiblat dari orang-orang yang engkau rampok?”  Karena setiap Muslim, mereka hadapkan wajahnya ke arah kiblat.  Ia berkata, “Yaa Sayyidi, aku hanya melihat dua orang yang wajahnya masih menghadap kiblat, yang lainnya semua berpaling ke arah sebaliknya.” 

Mengapa?  Karena ibadah mereka, wajah mereka tidak menghadap kiblat yang hakiki, tetapi ke arah nafs, egonya sendiri.  Mereka bekerja untuk egonya, mereka mempromosikan egonya, dan mereka hanya menerima egonya dan mereka hanya mengingat egonya.

Qutub itu menatap mata Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) sekali lagi dan beliau mengembalikan seluruh ilmu ke dalam hatinya sebagaimana Rasulullah (saw) menuangkan ilmu ke dalam dada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dan beliau mengembalikan maqamnya, bukan karena apa yang telah dilakukannya, tetapi karena kemurahan Tuhannya.  Jadi ketika seorang Waliyullah menerima sesuatu dan menjadi Wali, hal itu bukanlah karena amalnya, melainkan karena kemurahan Allah.  Jadi tidak ada lagi ujub karena ego di sana,  Berbahagialah karena kalian telah menerimanya berkat kemurahan dan rahmat Allah.  Jadi itulah yang kita tunggu.  Kita menunggu seorang Qutub untuk menuangkan ke dalam hati kita sehingga ilmu kalian adalah ilmu yang hakiki.  Mata kalian tidak terhijab lagi.  

Semoga Allah (swt) mengampuni kita, semoga Allah (swt) memberi kunci itu kepada kita.  Kunci mahabbatul Rasul (saw), kunci Rabbnya para Shahabatil kiraam, kunci mahabbatul Awliyaullah, karena dengan kunci itu mereka akan memandang kalian.  Tanpa kunci itu, mereka tidak akan melihat kalian.  Mereka akan membiarkan kalian pada diri kalian.     

Tamu: Engkau adalah keturunannya Mawlana Rumi (q).

Dr. Nour: alhamdulillah, itu adalah berkahnya Mawlana Syekh Nazim (q).

Carilah di dalam al-Qur’an nasab melalui anak perempuan, melalui wanita.  Allah (swt) berfirman dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an, “Dari dzurriyah Ibrahim (as) wa Isa ibn Maryam, Isa putra Maryam.  Allah (swt) mengatakan bahwa ia adalah keturunan dari Ibrahim (as) melalui siapa?  Beliau tidak mempunyai ayah, jadi melalui ibunya.  Itu artinya nasab itu berlanjut melalui ibunya, ia tidak terputus.  Jadi anak dari ibni bintil qawm minhum, anak dari putri suatu kaum adalah bagian dari mereka. 

Alhamdulillah dari Mawlana Syekh Nazim (q) melalui ibu saya, kita kembali kepada Sayyidina Mawlana Jalaluddin Rumi (q), alhamdulillah kita diberkahi menjadi bagian dari Kekasih-Nya, yaaraan!  Kita tidak akan berbicara lebih jauh lagi, nanti bisa menjadi ujub, kita harus berhati-hati.    

https://sufilive.com/Self-Praise-Are-the-Biggest-Obstacles-to-Reaching-Sainthood-7510.html

© Copyright 2021 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected. by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.