Pentingnya Bulan Suci Rajab dan Sya`ban

91070140_2773558369365165_108589310252417024_o

Shaykh Hisham Kabbani
Burton, Michigan, 20 Mei 2016
Khotbah Jumu`ah di As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)
As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

[Doa Khotbah]

Wahai Muslim, wahai Mukmin!  Setiap saat dalam kehidupan kita diperhitungkan; kita hanyalah seorang hamba yang lemah, tanpa kekuatan, dan tidak berdaya.  Kita berusaha menjadi seorang hamba yang ikhlas kepada Allah (swt) dan itulah sebabnya kita tidak dapat mengangkat kepala kita dan mengatakan, “Kami di sini.”  Yang ada hanyalah Allah (swt), Sang Pencipta. Dia membawa kita ke dunia dan membawa kita ke Akhirat dalam perjalanan yang penuh dengan rintangan, kesulitan; penuh masalah, dan berbagai penderitaan yang dihadapi dunia Muslim seluruhnya.  Tetapi Allah (swt) Maha Penyayang, dan Dia ingin menolong kita dalam ibadah kita dan agar diterima oleh-Nya. 

Hamba terbaik atau dapat kita katakan Hamba yang Unik adalah Sayyidina Muhammad `alayhi afdhalu ’sh-shalaatu wa ’s-salaam.  Allah (swt) mengangkat derajatnya di bawah Pengawasan-Nya dan menjadikannya sebagai Penghulu dari seluruh Rasul, sejak Adam (as) hingga Hari Kiamat, dan tidak ada lagi Rasul setelah beliau. 

Sayyidina Muhammad, `alayhi afdhalu shalaatu wa salaam, berusaha untuk tidak terlalu membebani umatnya. 

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه أن رجلا قال: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به؟ قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله” الترمذي.

Seorang pria datang kepada Nabi (saw) dan berkata, “Wahai Rasulullah (saw)!  Sesungguhnya Syariat Islam terlalu banyak bagi kami, berikanlah suatu amalan yang dapat kami pertahankan.  Rasulullah (saw) menjawab, “Senantiasa basahi lidahmu dengan dzikrullah.” (Tirmidzi)

Ketika seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) dan mengatakan, “Terlalu banyak Syariat Islam, berikanlah sesuatu yang dapat kulakukan.”  Nabi (saw) menjawab, “Ij`al lisaanaka ratban bi-dzikrillah, “Basahi lidahmu dengan dzikrullah.”  Dzikrullah adalah kitab suci al-Qur’an, oleh sebab itu jadikanlah ia sebagai sahabatmu, agar Allah menyelamatkan dirimu!  Nabi (saw) tidak memberikan sesuatu yang tidak dapat dipikul orang itu, tetapi makna dan tafsir hadits tersebut pada hakikatnya mengatakan bahwa kitab suci al-Qur’an dapat membawa seluruh alam semesta!  Allah (swt) ingin menyelamatkan Ummat an-Nabi (saw), jadi Dia memberikan waktu-waktu yang berharga dalam kehidupan mereka, seperti sekarang ini, kita berada di tiga bulan suci yang sangat dicintai oleh Nabi (saw), di mana beliau (saw) mengatakan dalam Haditsnya, 

رجب شهر الله، وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي

Rajab adalah bulannya Allah, Sya`baan adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.   (Abul-Fath ibn Abi Fawaris dalam `Amalii dari al-Hasan)

Ketika Nabi (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, “Rajab adalah bulannya Allah,”  Allah tidak memerlukannya, itu adalah untuk kita!  Dia menawarkan satu bulan dengan piring emas kepada kita, di mana bila kalian melakukan ibadah di dalamnya, kalian akan meraih keberhasilan.  Ketika beliau (saw) mengatakan, “Rajabun syahrullah, itu artinya ibadah apa pun yang kalian lakukan di bulan itu akan diangkat oleh Allah (swt) secara langsung, bukan oleh para malaikat, karena itu adalah bulannya Allah.

Wa Rajabun tsalatsatu ahrufin fa ar-Raa rahmatullah, huruf pertama, Ra, adalah Rahmatullah, Rahmat Allah pada kita; wa ‘l-jiim juuduhu `alayna, huruf Jiim melambangkan Kemurahan-Nya kepada kita; wa ‘l-Baa, huruf Baa adalah birruhu `alayna, memberi birr, nikmat kepada kita.  Li anna ar-rahmata tasubbu fiihi sabban, itulah sebabnya ia disebut ‘Rajabun syahrullah,’ karena rahmat akan turun secara langsung kepada kita di bulan itu, tidak ada malaikat yang membawakannya; wa ismuhu ‘l-asamm, dan Allah menyebutnya, “Rajabun syahrullah al-asamm,” artinya, “tidak mendengar apa-apa,” karena bertengkar di bulan ini tidak diperbolehkan, termasuk bertengkar di antara saudara-saudari kalian, kerabat dan tetangga.  Lupakan tentang perang, bahkan bertengkar pun tidak dapat diterima di bulan Rajab.  

Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku, wahai Rajab?”  Allah akan bertanya kepada bulan Rajab, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku untuk-Ku?” dan jawabannya adalah, Inna Rajab yurfa`u ila ‘Llahi ta`ala idzaa anqada fa-yas’aluhu ‘Llahu ta`ala `an `amali `ibaadihi fa yaskut. Allah akan bertanya kepada bulan Rajab ketika ia berakhir, “Apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku?  Katakan pada-Ku.” Apakah Allah tidak tahu? Dia tahu, tetapi Dia ingin agar kita mengetahui karena di bulan Rajab amal kita akan diangkat secara langsung kepada-Nya.  

Dan Allah bertanya kepadanya (Rajab), “Katakan apa yang mereka lakukan?” Fa yaskut. Lihatlah adabnya, ia tidak menjawab.  Tsumma yas’aluhu tsaaniyan fa yaskut, kemudian Dia bertanya sekali lagi, dan bulan Rajab tetap diam. Tsumma yasa’luhu tsaalitsan, kemudian Dia bertanya untuk ketiga kalinya, dan bulan Rajab tetap diam, tsumma yaquul, karena tiga kali ia tidak mengatakan apa-apa, kemudian ia ingin membela kita, “Yaa Rabb, Anta amarta `ibaadaka an yastura ba`dahum ba`da, “Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkan hamba-Mu untuk tidak saling membuka aib masing-masing, untuk saling menutupi jika mereka melakukan kesalahan,” wa sammaanii nabiyyuka Muhammad shallAllahu `alayhi wa sallama al-asamm, fa anna ‘l-asamm,” dan Nabi (saw) menyebutku, “Bulan yang tidak mendengar, dan aku tidak mendengar apa-apa, fa anna ‘l-asamm sama`atu ta`atahum,” tetapi aku mendengar ibadah mereka.”  Duuna ma`aasiihim, “Aku tidak mendengar dosa-dosa mereka, aku hanya mendengar sisi baiknya, dan aku tidak ingin mendengar sisi buruknya.”  Fa yaghfiru ‘Llah `azza wa jall li ‘l-ummat al-Muhammadiyya, Allah akan mengampuni umat Muhammad karena bulan Rajab ini, syahrullah, wa qiil rajabun li-istighfaaru ’dz-dzunuub, Allah telah menjadikan Rajab sebagai bulan pengampunan dari dosa untuk mempersiapkan kita memasuki bulan Sya`ban dan Ramadhan, wa qiil Rajab syahru ‘t-tawbah, wa Sya`baanu syahru ‘l-mahabbah wa Ramadhanu syahru ‘l-qurbah. Dikatakan bahwa Rajab adalah bulan tawbah, ampunan, dan Sya`baan adalah bulan cinta dan Ramadhan adalah bulan keakraban.  Itulah sebabnya mengapa Nabi (saw) sering mengatakan, “Sya`baanu syahrii, beliau mencintai bulan itu, wa Ramadhanu syahru qurba,“ dan Ramadhan adalah bulan keakraban, yakni ketika hamba akan dekat dengan Allah (swt), sebagaimana Dia berfirman, 

Nabi (saw) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman,

« كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشرة أمثالها إلى سبعمائة ضعف. قال الله عز وجل: إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به. يدع شهوته وطعامه من أجلي. للصائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه. ولخلوف فيه أطيب عند الله من ريح المسك» رواه مسلم

“Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat, dan Allah (`azza wa jalla) berfirman, “Kecuali puasa, karena amal itu dilakukan (murni) untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.  Ia telah meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Aku. Ada dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sesungguhnya bau mulut (orang yang berpuasa) lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi.” (Muslim)

Sekarang (malam) kelima belas Sya`ban akan tiba.  Dikatakan oleh banyak ulama bahwa Nabi (saw) bersabda, 

عن النبي صلى الله عليه وسلم من صلى أول ليلة من شعبان اثنتي عشرة ركعة يقرأ في الركعة الأولى فاتحة الكتاب مرة وقل هو الله أحد خمس مرات أعطاه الله تعالى ثواب اثنى عشر ألف شهيد وخرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ولا يكتب عليه خطيئة إلى ثمانين يوما

Barang siapa yang shalat dua belas rakaat pada malam pertama bulan Sya`ban dan membaca Surat al-Fatihah sekali dan Qul Huwa ‘Llahu Ahad lima kali pada rakaat pertama, Allah akan memberinya pahala dari 12.000 syuhada dan ia akan dibebaskan dari dosa-dosanya seperti ketika baru dilahirkan ibunya dan tidak ada dosa yang akan dituliskan baginya selama delapan puluh hari berikutnya. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri).

Jadi, itu adalah Rahmatan li ‘l-Ummah, Allah (swt) memberi kita kesempatan untuk melakukannya.  Saya akan menyebutkan sebuah sebuah kisah dari kitab Nuzhatu ‘l-Majalis dan di dalam Rawdhatu ‘l-Afkaar:

مر عيسى بن مريم عليه السلام على جبل فرأى فيه صخرة بيضاء فطاف بها عيسى وتعجب منها، فأوحى الله إليه أتريد أن أبين لك أعجب ممارأيت، قال: نعم فانفلقت الصخرة عن رجل بيده عكازة خضراء وعنده شجرة عنب، فقال: هذا رزق كل يوم، فقال: كم تعبد الله في هذه الحجر، فقال: منذ أربعمائة سنة، فقال عيسى: يارب ما أظن أنك خلقت خلقاً أفضل منه، فقال: من صلى ليلة النصف من شعبان من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم ركعتين فهو أفضل من عبادته أربعمائة عام، قال عيسى: ليتني من أمة محمد صلى الله عليه وآله وسلم

Sayyidina `Isa (as) melewati sebuah gunung dan beliau melihat sebuah batu berwarna putih di sana. Beliau berjalan mengelilinginya dan tercengang melihatnya.  Kemudian Allah (swt) mewahyukan kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?” Beliau menjawab, “Ya.”  Kemudian batu itu pun terbelah. (Nuzhat al-Majalis oleh as-Safuri)

Seperti halnya Nabi-Nabi lainnya, Sayyidina `Isa (as) sering bepergian di padang pasir atau hutan untuk melakukan suatu siyaaha, perjalanan.  Dalam perjalanannya, fa ra’aa fiihi sakhratun baydaa’ “Ketika beliau menemukan sebuah batu putih yang besar dan sangat bersih.” Fa-taafa bihaa `Isa, “Beliau berjalan mengitarinya dan berpikir, ‘Betapa mengagumkannya batu ini.’ Wa ta`ajjaba minha, “Beliau tercengang pada batu putih yang indah yang ada di sana di tengah-tengah daerah antah berantah.”  Fa-awha ‘Llahu ilayh, “Allah mewahyukan kepadanya, a-turiidu an ubayyina laka a`jaba mimmaa ra’ayt, ‘Maukah engkau Kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari apa yang kau lihat di sini?’  Sayyidina `Isa (as) mengatakan, qaala na’am, ‘Ya, aku ingin melihatnya.’”

Fa anfalaqat as-sakhrah, “Batu itu pun terbelah,” seperti dalam kisah tiga orang yang berlindung di dalam gua, Nabi (saw) menyebutkannya dalam sebuah Hadits, gua itu tertutup oleh sebuah batu dan setiap orang menceritakan pengalamannya tentang ibadah terbaik yang mereka lakukan untuk Allah, kemudian batu itu terbuka sehingga mereka bisa keluar.  Jadi ketika Allah berkata kepadanya, “Maukah engkau Kutunjukkan yang lebih hebat dari itu?” Nabi `Isa (as) menjawaba, “Na`am yaa Rabbii.” Fa anfalaqat as-sakhrah `an rajulin bi yadihi ukaazah khadraa. “Batu itu pun terbelah dan ada seorang pria yang duduk di sana dengan sebuah tongkat hijau.”  Wa `indahu syajaratu `inab, “dan di sampingnya terdapat sebatang pohon anggur.”

Hal itu lebih mencengangkan, bagaimana sebatang pohon anggur dan pria itu hidup di dalam batu itu, karena Allah berfirman, infalaqat, “Batu itu terbelah dan mereka pun terlihat.”  Orang itu berkata kepada Sayyidina `Isa, “Wahai `Isa,” ia langsung menyebutkan namanya.  Sayyidina `Isa (as) lebih terkejut lagi dan berpikir, “Bagaimana ia bisa mengetahui namaku?” Fa qaala hadza rizqu kulli yawm, “Ini adalah milikku, Allah mengirimkannya kepadaku.  Aku tidak peduli dengan dunia, aku hanya peduli dengan Akhirat, dan orang yang peduli dengan Akhirat, Allah akan memberi mereka rezeki [bahkan] di dalam sebuah batu.”  

Kita mengejar dunia seolah-oleh kita tidak melihatnya, kita menginginkan semuanya dalam kantong kita.  Kita tidak bersyukur kepada Allah (swt) bahwa Dia telah memberi kita kepala, mata, telinga dan hidung untuk mengucapkan, “Laa ilaaha illa-Llah Muhammadun Rasuulullah.”  Dia memberi kita lidah untuk membuat kita senantiasa berdzikir.  Dia memberi kita hati untuk menjaga dzikrullah!  Orang itu menyembah Allah di dalam batu dan Allah mengirimkan rezekinya di sana.  Jangan terkejut, mereka ini adalah para anbiyaa. Allah memberi tanda-tanda kepada mereka, karena kehidupan mereka adalah untuk Allah (swt), tetapi kehidupan kita adalah untuk diri kita, kita tidak hidup untuk Allah (swt), kita adalah hamba yang lemah dan tidak berdaya, kita tidak bisa seperti mereka.  Namun kita dapat mengambil teladan dari kisah-kisah mereka. 

Hadza rizq kulli yawm, fa qaala kam ta`budullah fii hadzihi ‘l-hajar, “Sudah berapa lama engkau beribadah di dalam batu itu?”  Fa qaala, mundzu arba`a mi’ata sannah, “Aku sudah berada di dalam batu itu selama empat ratus tahun.”  Sebelum Ummat an-Nabi (saw) dan Ummat Bani Israiil hingga ke Sayyidina `Isa (as), orang-orang terdahulu berumur panjang, sekarang tidak seperti itu.  Faa qaala `Isa, yaa Rabb, beliau terkejut karena orang itu bergantung kepada Allah sepenuhnya; Allah mengirimkan makanan untuknya.  Sayyidina `Isa (as) berkata, “Yaa Rabb, ma azhunnu annaka khalaqta khalqan afdhala minhu,” “Wahai Tuhan, aku pikir Engkau tidak menciptakan orang yang lebih baik darinya, sebagai seorang manusia, sebagai seorang makhluk.” 

Allah (swt) mewahyukan kepadanya, laa yaa `Isa, “Jangan berkata begitu wahai `Isa,” Fa qaal, yaa `Isa, man shalla Laylat al-nishf Sya`baan min Ummati Muhammad shall`Allahu `alayhi wa-sallam bi raka`tain fa huwa afdhal min `ibadatihi arba`a mi’ata `aam, “Karena ini adalah bulannya Sayyidina Muhammad (saw), barang siapa yang melakukan shalat dua rakaat di bulan Sya`ban, terutama pada malam kelima belas bulan Sya`ban, itu lebih baik daripada ibadah selama 400 tahun.”  

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyerukan untuk berbuat yang makruf, dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah. (Surat Aali-`Imraan, 3:110)

“Kalian adalah umat terbaik yang telah dilahirkan untuk manusia, Ummat an-Nabi (saw).” Allah mengaruniakan berbagai rahmat dan ampunan, walaupun kita tidak banyak melakukannya, Allah mengaruniakan umat ini segala sesuatu untuk Akhirat, sudah disiapkan untuk kita di Surga, insyaa-Allah.  Itu tidak berarti bahwa kita bisa sombong, Allah (swt) mengaruniainya kepada kita karena Dia menjadikan kita sebagai bagian dari Ummat an-Nabi (saw), kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw), Allah (swt) memuliakan Nabi (saw) untuk Ummatnya, untuk shalat dua rakaat dan memberi mereka `ibadaat saa’ir al-umam bi arba`a mi’ata `am.

Dia memuliakan Ummat an-Nabi lebih dari Dia memuliakan Ummah lain karena Sayyidina Muhammad (saw)!  Itulah sebabnya mengapa, Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim, wa law annahum idz zhalamuu anfusahum jaa’uuka fa astaghfaruullaah, “Ketika mereka telah menganiaya dirinya, satu-satunya jalan keluar adalah dengan mendatangimu yaa Muhammad (saw),” sebagaimana firman Allah di dalam kitab suci al-Qur’an.

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Jika sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisaa, 4:64)

Jadi kehormatan itu adalah untuk Nabi (saw) karena Allah mengampuni kita melalui beliau!  Semoga Allah (swt) mengampuni kita. 

Banyak syuyukh yang mengatakan, kaana ash-shaalihuuna yuhafizhuuna `alaa shalaati ’t-tasaabiih fii syahri sya`baan: Pada Hari Kiamat, Allah akan bertanya pada kita, “Apakah kalian melakukan Shalaat at-Tasaabiih di bulan Sya`ban?” sebagaimana Nabi (saw) telah menyebutkannya ketika beliau menunjukkan Shalaat at-Tasaabiih kepada para Sahaabah (ra), bahkan jika kalian melakukannya sekali seumur hidup, kalian akan masuk Surga, insyaa-Allah.

[Doa penutup khotbah.]

http://sufilive.com/The-Significance-of-the-Holy-Month-of-Rajab-and-Shaban-LS–6190.html
© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Kekuatan Nishfu Sya`ban

untitled

Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani

15 Juli 2011 Lefke, Siprus

Shuhbah setelah Jumat

 

A`uudzu billaahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi ‘l hamd! Yaa Rabbii, yaa Allah! zidhu yaa Rabbii! A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. (Mawlana Syekh duduk kembali).

Madad, yaa Sulthaan al-Awliya. Madad yaa RijalAllah. Yaa Rabbana w`afuw `anna w ’aghfir lanaa w ’arhamna w ’ansurna `ala ’l-qawmi’l-kaafiriin, wa azhar Sayyidina al-Mahdi, ajaban-Allah, bi-jaahi nabiyyika wa`fu `anna w ’aghfir lanaa wa tub `alayna tubna wa raja’na.

Wahai hadirin dari Timur ke Barat!  Tiba waktunya di mana seluruh bangsa akan bergegas mendengar deklarasi surgawi, dan oleh sebab itu kami katakan, “Wahai manusia!  Cukup sudah mabuk kalian! Berusahalah untuk datang, mendengar dan mengetahui.” Kita harus berusaha untuk menjadi tahu. Kita datang ke sini, dan itu bukanlah sesuatu yang sia-sia, bukan seperti daun-daun yang suatu saat berada di pohon, lalu jatuh ke Bumi dan kemudian akan berlalu.  Kita harus mengetahui tentang diri kita. Apa tujuan kita, bagaimana kita bisa berada di sini untuk sementara kemudian kita akan meninggalkan dunia ini. Allah (swt) mengirimkan ratusan atau ribuan orang-orang pilihan yang mempunyai hubungan antara Bumi dan Langit, atau alam Malakut, yang memberi kabar dan peringatan untuk manusia karena mereka mengetahui sesuatu mengenai manusia dan segala sesuatu di sekitar mereka.

Dan kita ucapkan, “a`uudzu billaahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim.”  Kita harus selalu mengatakan, “Wahai Tuhan kami! Kami berlindung kepada-Mu dari Setan!”  Karena Setan berusaha untuk membuat manusia tidak percaya dengan apa yang dibawa oleh para Nabi dari Langit.  Para Nabi berseru, “Wahai manusia! Datang dan percayalah,” tetapi Setan mengejar manusia dan mengatakan, “Jangan percaya!”  Astaghfirullah.

Orang-orang berkata, “Ini seperti dongeng dari masa lalu yang tidak ada kenyataannya, jadi tidak perlu percaya pada mereka, nikmati saja apa yang fisik kita inginkan dan tidak perlu memikirkan yang lain.”  Setan menggunakan nama-nama yang berbeda tetapi dengan racun yang sama untuk membuat pemahaman kita menjadi nol. Sekarang seluruh bangsa dalam keadaan mabuk, sebagaimana Sayyidina `Ali (ra) mengatakan, “Orang-orang tertidur dan mereka tidak bangun-bangun sampai ajal mendatangi mereka, barulah mereka bangun dan menanyakan apa yang terjadi.”

Allah (swt) mengirimkan para malaikat kepada mereka dengan perintah suci dari Langit yang mengatakan, “Wahai manusia!  Jangan menanyakan apa yang terjadi karena engkau telah diberi peringatan tentang hal itu sepanjang hidupmu, tetapi engkau mengatakan bahwa itu hanyalah dongeng dari masa lalu.  Kini waktunya telah habis dan kami akan membawa ruhmu kepada Sang Penciptamu, karena ini bukanlah tujuanmu sebenarnya, kami akan membawamu ke tempat itu, ke tempat asalmu.”

Wahai manusia!  Kita sudah sangat dekat dengan tujuan kita, di mana Nabi Penutup (saw) telah memberi kabar kepada kita.  Hari Kiamat begitu dekat dan ia datang kepada kalian, jadi waspadalah! Sekarang kita semakin dekat dengan Hari Kiamat di mana sangkakala akan segera dibunyikan.  Sebelumnya begitu banyak hal yang tidak pernah kalian yakini, tetapi kini kalian telah melihat kejadian-kejadian surgawi sebagaimana yang dikatakan kepada kita oleh para Nabi, sekarang kejadian itu datang satu demi satu.

Dastuur, yaa Sayyidi.  Sekarang adalah 14 Sya’ban.  Ini adalah bulan suci, dan malam ke-15 dari bulan suci ini akan menjadi malam yang paling penting dalam setahun setelah Malam Laylatul Qadar.  Barangkali ini (lebih penting); hanya Dia Yang Maha Mengetahui! Para Nabi mengajarkan kita mengenai Laylatul Bara`ah, di mana tadir setiap orang untuk tahun yang akan datang telah ditetapkan dan dituliskan, apa yang akan terjadi pada mereka baik secara pribadi maupun berkelompok.  

Malam ini adalah awal bagi Tahun Baru Surgawi (Langit), yang dimulai pada Malam Bara`ah.  Takdir kita akan dituliskan baik secara pribadi maupun kolektif di Loh Mahfuz. Siapa yang akan hidup, siapa yang akan meninggal dunia, nama-nama mereka akan dituliskan, juga bagi mereka yang akan muncul ke dunia, dan berapa lama hidup mereka di dunia–empat puluh tahun, tiga puluh tahun, sembilan puluh tahun, tujuh puluh tahun–dan bagi setiap orang akan ditulis segala sesuatu tentang kehidupan pribadi mereka.  Itu tidak akan berubah: siapa yang akan datang, siapa yang akan meninggal dunia, apa yang akan mereka lakukan, dan apa yang akan terjadi pada mereka baik secara pribadi maupun kolektif.

Sekarang kita berada di bagian terakhir dari kehidupan manusia, kita berada di abad ke-15 tahun hijriah.  Sesuai dengan niat kita, sesuai dengan perbuatan kita, malam ini kita dapat mengubah (apa yang telah dituliskan, karena setelah itu tidak) akan ada perubahan lagi.

Manusia di Bumi ada dua macam, sebagian ada di kelompok yang positif dan yang lainnya di kelompok negatif.  Kelompok yang positif adalah orang-orang yang beriman yang melakukan perbuatan baik bagi Tuhannya, dan terhadap ciptaan Sang Pencipta.  Mereka adalah orang-orang yang berguna. Kelompok lainnya, yaitu kelompok negatif, tidak pernah memikirkan tentang mendekatnya Hari Kiamat dan mereka hanya menimbulkan masalah bagi orang-orang, mereka melakukan pembunuhan dan menyebabkan penderitaan.  Satu kelompok berusaha untuk menolong orang, berusaha membuat mereka bahagia tetapi kelompok satunya selalu menyebabkan masalah dan inilah kesenangan mereka! Malam ini, perbuatan dari seluruh manusia akan dituliskan apakah di tangan kanan (kebaikan) atau di tangan kiri (dosa-dosa).

Wahai manusia!  Menurut Nabi (saw), malam ini adalah malam yang sangat penting, jadi berusahalah agar diri kalian bersama Tuhan kalian dalam kondisi yang baik, sehingga kalian akan meraih rahmat Allah, sehingga kalian akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.  Malam ini adalah malam pertama dan besok adalah hari pertama dari tahun baru bagi seluruh dunia. Ini bukanlah kalender hijriah atau kalender Barat, ini adalah kalender Surgawi.

Wahai manusia!  Jagalah agar jasmani dan rohani kalian bersih untuk suatu awal yang baru.  Saya takut kalau niat dan perbuatan buruk manusia tiba-tiba akan membawa mereka kepada hukuman surgawi.  Mereka dapat menyebabkan pembalasan Surgawi mendatangi mereka jika mereka tidak mengatakan, “Wahai Tuhan kami!  Engkau telah menciptakan kami tetapi kami telah banyak melakukan kesalahan, Engkaulah satu-satunya yang dapat memaafkan apa yang telah kami lakukan dan memberikan energi baik kepada kami sehingga kami dapat menjadi hamba-Mu yang taat!”  

Wahai manusia!  Malam ini adalah malam yang penting karena mungkin saja ini akan menjadi malam suci terakhir bagi manusia, karena tahun depan wujud dunia ini mungkin akan berubah; mungkin saja di antara lima orang, hanya ada satu yang bertahan sementara empat lainnya meninggal dunia!  Ini adalah suatu kutukan, karena orang-orang berlari di jalan Kematian. Oleh sebab itu, siapa pun yang berlari di sisi jalan itu dapat bertahan menurut pengetahuan surgawi. Hanya sedikit orang yang bertahan di sini. Saya pikir kita tidak akan mengerti bila azab terjadi di Bumi, kalian akan mendapati gurun yang kosong, tanpa rumah, pepohonan, lautan, hujan dan segala yang menyenangkan bagi manusia akan dicabut!  Bagi yang bertahan, Allah (swt) akan membukakan dunia yang baru bagi mereka.

Suatu hari nanti akan tiba di mana dunia kalian akan berubah hingga sulit dikenali sampai-sampai orang akan bertanya, “Inikah dunia yang kita tinggali?”  Ia dapat berubah sepenuhnya dan hanya segelintir orang yang akan bertahan, mereka yang percaya dan memberi penghormatan yang tinggi bagi Tuhannya, sementara yang lain akan disapu bersih.

Wahai manusia!  Apa yang Allah katakan akan terjadi, dan saya memohon ampunan bagi saya dan bagi kalian.  Saya memohon agar Allah menjadikan niat kita, niat yang baik. Semoga Allah mengampuni kita dan mengirimkan kepada kita para pemimpin yang dapat membawa kita ke jalan yang aman, jalan yang diridai Allah; kalau tidak, pemahaman kita akan dicabut.

Wahai manusia!  Sekarang dunia, besok akan menjadi kuburan!  Jangan mengatakan, “Aku kaya,” atau “Aku adalah orang terkaya.”  Itu tidak akan memberi manfaat bagi kalian, hanya perbuatan baik yang akan bermanfaat bagi kalian, yaa Rabbanaa!

Kami hanyalah hamba-hamba-Mu. Jangan tinggalkan kami pada Setan untuk menjadi hambanya!  Barang siapa yang mengejar Allah, ia akan selamat dan barang siapa yang mengejar Setan, ia akan dimasukkan ke dalam Neraka, astaghfirullah!

Ini bagaikan samudra di mana kita dapat berbicara hingga minggu depan atau tahun depan jika Allah memberi kekuatan, tetapi saya adalah orang yang lemah, dan kalian juga lemah.  Mintalah kepada Allah ampunan dan Samudra Rahmat-Nya yang tak terhingga. Mintalah demi kemuliaan Nabi Penutup (saw) agar kita diselamatkan dari kejahatan, dan dari tempat yang buruk setelah kemaatian kita!  

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Aziiz Allah.

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Kariim Allah.

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah.

Subhan sen, Sultan sen, yaa Rabb!

Engkau adalah Sultan!  Engkau adalah Subhaan! Engkau adalah Rahmaan!  Wahai Tuhan kami, ighfir lanaa maa madaa fii salif hayatuna!  Berikanlah ampunan-Mu dan kirimkanlah kepada kami hamba-hamba-Mu yang baik yang dapat menyelamatkan kami dan mengubah gaya hidup kami menjadi pengikut al-Qur’an suci dan Islam yang suci, demi kemuliaan Rasuulullah, Sayyidina Muhammad (saw)!

Allaahuma shalli `ala Sayyidina Muhammadin wa `aala alihi wa shahbihi wa sallim.

Allaahuma shalli `ala Sayyidina Muhammadin wa `aala alihi wa shahbihi wa sallim.

Allaahuma shalli `ala Sayyidina Muhammadin wa `aala alihi wa shahbihi wa sallim.

Fatihah.

Video: https://sufilive.com/The-Power-of-Nisf-Sha-ban-3641.html

 

 

Pentingnya Malam Laylat al-Bara`ah

26196482_1555977204456627_3864816671046252175_n

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

Zawiyah Fenton, Michigan, 1 Juni 2015

 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.
Sebagaimana yang dikatakan oleh para Awliyaullah bahwa sebuah majelis yang melakukan dzikrullah, bahkan dengan hanya 3 orang pun akan membersihkan 70,000 majlis suu’ (buruk), yaitu majelis setani (majelis yang di dalamnya tidak disebutkan nama Allah–penerj.), jadi ini adalah pembersihan bagi kita.  Dan khatm ini dari generasi ke generasi, selama 1436 tahun dari Hijrahnya Nabi (saw) dari Mekah ke Madinah, senantiasa dilakukan secara terus-menerus tanpa henti, mengikuti perintah man tasyabbaha bi qawmin fa huwa minhum, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut,” dan ktia melakukannya atas perintah Allah (swt), yang mengatakan kepada Nabi (saw) dalam sebuah Hadits Qudsi,

أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي

Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir (mengingat-Ku). (Hadits Qudsi. Ahmad, Bayhaqi)

“Aku duduk bersama orang yang mengingat-Ku,” bukannya duduk sebagaimana yang kita pikirkan karena kita tidak percaya dengan tajsim, tetapi di sini artinya adalah bersama kita, Hadirat Ilahiah-Nya.  

Kita lakukan dzikrullah dan selesai menjelang Maghrib, lalu kita baca Yasiin tiga kali.  Grandsyekh (q) menjelang akhir hayatnya, beliau berada di rumah kami di Beirut dan saat itu tanggal 15 Sya`baan 1973, beliau berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama lagi di Beirut setelah 15 Sya’ban, bawalah aku kembali ke Damaskus.”  Setidaknya itu memerlukan sebuah shuhba, tetapi beliau berkata, “Untuk membuat rumahmu manis seperti surga, tidak perlu pergi ke pasar, temukan buah apa pun yang kau temukan, baik yang sedang musim maupun di luar musimnya.”  Pada saat itu, di sana tidak seperti di sini yang mudah untuk menemukan segala hal. Tetapi kami mendapatkannya, orang-orang datang membawakan buah-buahan.

Beliau berkata, “Kita akan membaca (melakukan adab) Laylat al-Bara`ah dan ada banyak kejadian yang akan terjadi, tetapi kalian akan selamat, dan insyaAllah sebagian dari kalian akan hidup di zamannya Mahdi (as).  Setalah menyelesaikan awraad, makanlah buah-buahan itu dan hidup kalian akan menjadi manis, insyaAllah.”

Saya mengatakan kepada Ishaq sebelum naik pesawat hari ini bahwa kata-kata Mawlana Syekh datang kepada kami untuk melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Grandsyekh, karena dunia sedang memanas sekarang dan agar kita selamat dan kehidupan kita menjadi manis, oleh sebab itu saya minta untuk membawa buah-buahan dan memakannya setelah khatm, dan beberapa orang membawa jus!  Itu boleh saja, bahkan air pun boleh, itu adalah berkah untuk kita, itu sudah cukup bagi kita.

15 Sya’ban adalah tanggal dimulainya tahun surgawi.  Insya Allah, semoga Allah memberkahi kita dengan tajali malam Nisfu (pertengahan) Sya’ban itu, di mana Allah akan memberitahu kepada para malaikat apa yang akan terjadi pada tahun yang akan datang.  Allah turun ke Langit Pertama, dan bagi orang-orang yang melakukan adab pada malam itu, sesuai dengan zona waktu masing-masing, Allah akan memberi kabar kepada para malaikat bahwa kita duduk memuji-Nya dan pahalanya akan begitu besar, dan kejadian atau peristiwa yang akan terjadi pada tahun itu akan dikabarkan kepada para malaikat.  Saya tidak akan membahasnya lebih lanjut mengenai apa yang telah dikabarkan kepada para malaikat karena masih terlalu awal, tetapi kita katakan semoga Allah mengaruniai kita kehidupan yang manis dan kehidupan tanpa perselisihan!

Jika kalian marah, tinggalkanlah rumah kalian dan kembalilah beberapa saat kemudian ketika sudah tenang.  Jangan berdebat, perdebatan berasal dari Setan, sedangkan tawakal berasal dari Rahman, jadi pilihlah. Kita memohon kepada Allah (swt) untuk memberkahi kita dengan tawakal kepada-Nya dan tawakal kepada perintah-Nya, tawakal pada Ketetapan-Nya, dan untuk menunjukkan cinta kepada Sayyidina Muhammad (saw).

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-habiib bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://sufilive.com/The-Significance-of-Lailatul-Bara-ah–5879.html

 

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.