Antara Ibadah dan Pekerjaan

photo_2016-11-21_13-24-09

Sultan al-Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)
3 Februari 2002

Setan selalu mencoba untuk memisahkan manusia dari ibadahnya, membuat mereka menunda ibadah karena sibuk dengan pekerjaan yang satu disusul pekerjaan lainnya.  Manusia zaman sekarang selalu menginginkan makanan yang masih segar.  Gaya hidup manusia yang sombong tidak mau makan dari makanan yang telah tersedia.  Bagaimana dengan Allah (swt)?  Kepada-Nya, kalian berani mengirim ‘makanan lama.’  Begitu terdengar adzan, kalian harus langsung shalat dan meninggalkan segala pekerjaan.  Siapa pun yang membuat Allah murka pasti akan berakhir masanya.

Jangan mempekerjakan orang yang tidak shalat.  Sebelum membangun sebuah pabrik, bangunlah sebuah masjid di sana.  Siapa pun yang tidak mengerjakan shalat dan tidak menyerukan orang untuk shalat, Allah katakan, “Mereka adalah musuh-Ku.”   Di Shirath al-Mustaqim nanti ada tujuh pertanyaan, satu di antaranya adalah apakah kalian telah menyeru orang agar beribadah.  Tak ada yang membicarakan hal ini sekarang, karena setiap orang disibukkan oleh gaji bulanannya.

Ketika Abu Yazid al-Bisthami (q) sedang melakukan suatu perjalanan, beliau tiba di sebuah desa yang masih asing.  Beliau shalat di belakang imam.  Selesai shalat, sang imam menyapanya, “Engkau siapa?”  “Aku adalah seorang hamba Allah.”  ”Apa pekerjaanmu?  Di kebun, toko, atau pabrik?  Punya gaji bulanan?”  “Aku piker engkau adalah seorang muslim, seorang imam, oleh sebab itu aku shalat di belakangmu.  Tetapi sekarang engkau meragukan darimana makananku berasal, berarti engkau meragukan Allah.  Sebelum menjawabnya, aku harus mengulangi shalatku dulu.”

Setelah shalat, Abu Yazid (q) berkata pada imam itu, ”Mengapa engkau tidak menanyakan bagaimana kucing dan anjing menjalani hidupnya?  Dia yang menyediakan makanan bagi mereka, Dia juga yang menyediakan makan bagi Abu Yazid (q).”

Manusia telah kehilangan keimanannya.  Selama 60 tahun orang-orang datang ke sini dan selalu tersedia roti dan sup bagi mereka.  Dan dengan berkah yang mereka bawa, saya pun bisa hidup.  Namun manusia selalu terikat pada perutnya, sehingga mereka kebingungan.

Salah satu tamu yang berkunjung hari ini berasal dari Turki dan sering bersedekah untuk kaum Muslim.  Dia punya sebuah pabrik peralatan dari baja, dan buatannya adalah nomor satu di dunia.  Dia mengirimi saya banyak sekali dan saya berdoa baginya serta memberi nasihat yang dia patuhi. Banyak pabrik bangkrut dan hanya dia yang masih bertahan. Dengan 300 pekerja, dia menjaga dan meminta mereka agar selalu beribadah.  Saya tekankan agar tidak memberi toleransi bagi mereka yang tidak beribadah.  Ketika terdengar adzan, mereka harus berhenti bekerja dan mengatakan, ‘Matikan listrik, mari kita shalat.’

Selain mengirim peralatan rumah tangga, dia juga mengirim apa yang kami butuhkan: kacang, gula, beras, minyak, dan segala yang kami masak di sini.  Dia adalah Shahibu-l khayrat wa hasanat.  Dia yang menolong Fuqara, maka Allah (swt) akan menolongnya.  Jika dia kirim satu, Allah (swt) kirim sepuluh.  Jika dia kirim 100, akan datang 1000 baginya.  Sedekah di bulan Muharram adalah 10 kali lebih berharga dibanding bulan-bulan lain.  Siapa yang memberi, maka bahan pangannya tidak akan habis.  al-Fatiha.

Advertisements