RINGKASAN SUHBAH FAJAR 28 RAMADHAN

Dr. Nour Kabbani dari catatan Grandsyaikh Nazim

 

Awliya’Allah memiliki cahaya dari Allah, yang dengan cahaya itu mereka berjalan. Dengan cahaya itu pula mereka mampu melihat apa yang terlintas maupun tersimpan dalam hati manusia.

Syaitan juga memiliki kemampuan yang sama. Syaitan tidak memiliki cahaya Ilahi, tetapi Allah SWT mengaruniakan padanya kemampuan untuk melihat dan mengetahui apa yang terlintas di hati manusia.

Perbedaan antara kemampuan Awliya’ dengan Syaitan adalah, Awliya’ juga dikaruniai pengetahuan akan hikmah munculnya niat yang timbul di hati seseorang, sedangkan syaitan tidak faham hikmahnya.

Karena itulah, Awliya’Allah terkadang membiarkan munculnya niat buruk pada orang / murid yang hadir di majelis mereka, karena mereka faham akan hikmah yang lebih dalam akan niat tersebut, misalnya mungkin untuk menguji murid yang lain, dan sebagainya.

Sedangkan syaitan tidak memahaminya. Bila ia melihat niatan baik pada hati seseorang, ia akan berusaha mencegahnya. Sebaliknya, bila ia melihat niatan buruk dalam hati seseorang, ia akan mendorongnya.

Demikianlah hati manusia pada level qalb, ditempatkan di dalamnya cahaya Awliya’ dan kegelapan Syaitani. Dan di antara keduanya, Allah SWT letakkan haqiqat (realitas) diri kita.

Hakikat Insaniyah itu yang telah Allah ciptakan dari citra / refleksi Ilahiah-Nya, berdasarkan hadits sahih di Bukhari dan Muslim:
Innallaha khalaqa Adama ‘alaa suuratih

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas citra-Nya.

Maksudnya sebagai refleksi Atribut dan Asma-Nya.

Ketika diri kita mencari cahaya Ilahi yaitu melalui Awliya’Allah, dan meninggalkan kegelapan syaitani, maka saat itulah perlahan2 ruh kita menjadi bercahaya, Ruh Nurani. Dan jika kita istiqomah pada jalan tersebut, maka kita akan mencapai Maqam berikutnya dari hati, yaitu Sirr qalbu. Kita akan mencapai Syarqiy tempat terbitnya cahaya Ilahi dalam diri kita.

Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرْ فِى الْـكِتٰبِ مَرْيَمَ ۘ اِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ اَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
wazkur fil-kitaabi maryam, izintabazat min ahlihaa makaanan syarqiyyaa

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis),”
(QS. Maryam 19: Ayat 16)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Dengan mengasingkan diri dari “keluarga” kita, yaitu Nafs (ego), Hawa’ (keinginan2 buruk), Syaithan dan Dunia, maka kita akan mencapai Syarqiyy.

Allah SWT berfirman:

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَابًا ۗ فَاَرْسَلْنَاۤ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
fattakhozat min duunihim hijaabaa, fa arsalnaaa ilaihaa ruuhanaa fa tamassala lahaa basyaron sawiyyaa

“lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”
(QS. Maryam 19: Ayat 17)

dan ketika kita telah memasuki Maqam Sirr, maka Allah akan menurunkan hijab-Nya untuk melindungi kita dari Syaithan, Ego, Hawa dan Dunia. Keempat musuh2 kita tersebut tidak akan mampu mengakses diri kita di Maqam Sirr.

Kemudian Allah akan menurunkan ruh-Nya yaitu Awliya’Nya untuk membimbing kita di maqam ini. Grandsyaikh mengatakan bahwa Maqam Sirr ini diperuntukkan bagi Aimmah (Imam-imam) dari 40 Turuq (Tariqah2) selain Naqsybandi. Karenanya, Grandsyaikh menjelang wafatnya selalu menyeru Shah Mardan Sayyidina ‘Ali alayhissalaam, sebagai Pir, Pemimpin dari 40 Turuq, sebagai Pintu menuju Haqiqat kita. Karena kita tidak bisa menjadi Naqsybandi sebelum menjadi ke 40 Turuq lainnya.

InsyaAllah pada kesempatan berikutnya, kita akan membahas Maqam Hati berikutnya. Namun, yang lebih penting bukanlah sekedar mendengarnya, karena ego suka mendengar tanpa melakukannya.

Yang lebih penting adalah untuk memalingkan diri kita dari keburukan 4 musuh kita, mengarahkan wajah kita ke cahaya Ilahi yang dibawa Awliya’Allah.

Itulah makna doa yang diajarkan Nabi SAW:

Allahumma arina l-haqqa haqqan warzuqna t-tibaa’ah, wa arina l-bathila bathilan, warzuqna j-tinaabah

Yaa Allah tunjukkanlah bahwa yang Haqq itu adalah Haqq dan karuniakan kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan bahwa yang bathil adalah bathil, dan karuniakan kami untuk menjauhinya.

Wallahu a’lam bissawab, wa min Allah at Taufiq, Alfatihah.

Advertisements

Pentingnya Memohon Dukungan

71B148C2-D596-4E87-371913E729C61D87

Seri Ramadhan 2018

Dr. Nour Hisham Kabbani

23 Mei 2018 Fenton, Michigan

Shuhbah Subuh

 

Grandsyekh, Sulthanul Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani, semoga Allah senantiasa mengangkat derajatnya, berkata bahwa salah satu tanda iman adalah diluaskan dadanya, dan tanda lainnya adalah bila seorang pembicara memohon dukungan, madad.  Ini akan menundukkan ego.  Dukungan dari siapa? Dari Khalifah Rasulullah (saw), Shahibul Waqt, Sang Penguasa Waktu.  Setiap masa memiliki Penguasa Waktunya, seorang wali yang memberikan dukungan kepada manusia.

Imam Rabbani, Abdul Wahhab Asy-Sya’rani (qs) mengatakan bahwa setiap kali beliau duduk memberikan shuhba, beliau akan mengucapkan, “Madad yaa Sayyidi, yaa Shahibal Waqt, yaa Shahibaz Zaman”, memohon dukungan dari Sang Penguasa Waktu.  Orang yang tidak meminta dukungan sebelum berbicara, misalnya dalam sebuah seminar, ia berbicara bagaikan seorang tiran, dan Allah akan meninggalkan dirinya bersama egonya dan Setan.  Dan ia akan menghancurkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Oleh sebab itu Grandsyekh menasihati agar kita selalu memohon dukungan ketika kita duduk di sebuah majelis dzikir atau suatu asosiasi, ketika memberikan nasihat atau suatu ceramah, selalu katakan, “Wahai Tuhanku, aku memohon dukungan-Mu, wahai Shahibal Waqt, wahai Khalifah Rasulullah (saw), aku memohon dukunganmu agar aku dapat menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi diriku dan bagi orang-orang di sekitarku.”  

Khususnya bagi orang-orang yang telah diberi wewenang untuk memimpin zikir dan memberi nasihat di seluruh dunia, jangan lupa, jangan duduk bagaikan seorang tiran, mintalah selalu dukungan dari guru kalian, berusahalah selalu untuk mendundukkan ego kalian dan katakan bahwa kalian bukanlah tuan tertinggi–ana rabbukum a`la; tetapi guru kitalah yang mengajari kita, guru kitalah yang membawa kita ke Hadirat Ilahi, dan beliau adalah Sulthanul Awliya, Grandsyekh Muhammad Nazim al-Haqqani dan BELIAU SENANTIASA HIDUP, di mana pun kita berada, dukungannya sampai pada khalifahnya, dan kemudian sampai kepada kita, dan kita bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut.   Dalam situasi apa pun kalian dapat memohon dukungan kepada Grandsyekh, dan beliau tidak akan meninggalkan kita, beliau akan mengirimkan dukungannya kepada khalifahnya dan dari beliau kepada kita.

Mengapa kita memerlukan dukungan?

Grandsyekh mengatakan bahwa melalui ibadahnya, melalui tafakurnya, melalui dzikirnya seorang manusia dapat mencapai suatu maqam tertentu.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa Sayyidina Ahmad Badawi (qs) telah mencapai maqam Kalimullaah, di mana Allah berbicara langsung kepadanya dari balik hijab dan ini adalah maqamnya Sayyidina Musa (as).  

Suatu hari seorang Qutub, Shahibul Waqt melihat Sayyidina Ahmad Badawi, dan beliau berkata, “Wahai Ahmad, datanglah padaku, aku mempunyai kuncimu.”  Tetapi Ahmad Badawi berkata, “Aku tidak memerlukan kunci darimu. Aku hanya akan mengambil kunci dari al-Fattah, Yang Maha Membuka, Allah (swt). Aku mengambil dari-Nya dan aku tidak memerlukan kunci darimu.”  

Grandsyekh berkata, “Mengapa kita mengangkat kisah ini?”  Karena manusia tidak senang untuk merendahkan dirinya, ego mereka.  Ego tidak mau menghentikan apa yang dilakukannya, karena ego kita berpikir bahwa semakin banyak kita beribadah, semakin kuat perjuangan kita, semakin tinggi pahalanya; sehingga kita mengatakan, “Aku yang mencapainya sendiri, aku mencapainya dengan ibadah-ibadahku, aku mencapainya dengan tafakurku, dengan dzikirku, dengan shalawatku.  Akulah orang yang telah sampai pada hakikat, akulah orang yang … akulah, akulah, akulah….” Itulah ego. Jadi pada awalnya Sayyidina Ahmad Badawi melakukan ibadah hingga ia mencapai maqamnya Sayyidina Musa (as). Egonya memompa dirinya sehingga ia mengatakan, “Akulah orang yang telah mencapai maqam tersebut dengan ibadahku, dengan kekuatanku, dengan kecakapanku, dengan perjuanganku.”  

Shahibul Waqt tersebut datang padanya untuk meruntuhkan egonya.  Itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berpikir bahwa dengan membaca ini, atau dengan melakukan ini, itu, kita akan terbang, bergerak ke sana ke mari dan berkelana ke Langit.  Kita tidak menerima orang lain yang berkata, “Datanglah padaku, aku akan tunjukkan jalanmu, aku akan memberikan kuncimu.” “Tidak. Apa itu, aku tidak mau menerimanya darimu. Aku ingin mendapatkannya dari Tuhanku.”  Begitu banyak di antara kita yang melakukannya.

Grandsyekh mengatakan bahwa nafsul insan, yaitu ego manusia tidak akan membiarkan dirinya untuk merendahkan dirinya.  Tetapi Aturan Allah (swt) mengharuskan kalian untuk mengikuti Ahlullaah, orang-orang di Jalan Allah, para Awliya-Nya dan kalian menyerahkan ego kalian kepada mereka. Ego itu tidak mau berserah diri pada Ahlullaah, ia akan terus mengatakan “Ana rabbukum a’la”  Aku adalah tuhanmu yang tertinggi.   

Jadi apa yang terjadi pada Sayyidina Ahmad Badawi?  Suatu ketika saat ia sedang bertafakur, ia berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku melihat-Mu.”  Itu artinya Sayyidina Ahmad Badawi rindu untuk melihat Tuhannya, seperti kita semua, dan ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Musa (as) kepada Tuhannya.  Allah berkata, “Engkau tidak akan melihat-Ku.” Artinya “Selama dirimu masih ada, engkau tidak akan melihat-Ku. Selama engkau mengaku bahwa engkau ada, bahwa engkaulah yang bergerak, engkau yang melakukan sesuatu, engkau yang beribadah, engkau yang telah sampai; engkau tidak akan mencapai apa-apa, engkau tidak akan melihat-Ku.”  Grandsyekh mengatakan, “Barang siapa yang mengaku bahwa dirinya ada, ia tidak akan melihat Tuhannya.”

Itu artinya ia menjadikan egonya sebagai “yang kedua”.   Grandsyekh mengatakan bahwa Istana dari Raja dari semua raja tidak akan menerima adanya raja kedua, tidak ada yang kedua, hanya ada satu.  Allah berkata kepada Sayyidina Ahmad Badawi, “Wahai hamba-Ku, engkau tidak akan melihat-Ku, Aku telah memberikan kuncimu pada seorang Qutub, pada Shahibul Waqt, pergilah temui dia.”  Allah mengirimnya pada Qutub itu agar egonya dihancurkan sehingga tidak ada lagi “yang kedua” di istana Hadirat Ilahiah-Nya. “Kunci itu adalah jalan bagimu untuk berada di Hadirat-Ku, dan Aku telah memberikannya kepada Shahibal Waqt.”  Dan ini juga merupakan sebuah contoh bagi kita.

Kita semua ingin berada di Hadirat Tuhan kita, kita semua, termasuk semua Muslim, semua Imam, semua syuyukh, semuanya, bahkan semua non Muslim, tetapi untuk berada di Hadirat Ilahi, kalian harus menemukan, kalian harus mengikuti Qutbuz Zamaan, kalian harus menemukan Qutub dari zaman ini.  Kalian tidak bisa pergi begitu saja ke sembarang orang. Kalian harus menemukan Qutub, Qutub Mutasharrif, Sultan Awliya. Dan ketika kita telah menemukannya, ketika kita duduk, kita memohon dukungan kepada Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya. Sampai sekarang banyak orang yang tidak memohon dukungan kepadanya.  Untuk mencapai Hadirat Ilahi, kita harus menemukan Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya.

Jadi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Grandsyekh Sulthanul Awliya, Sayyidina Ahmad Badawi akhirnya pergi untuk mencari Qutub yang memegang kunci tersebut, namun ia tidak dapat menemukannya.  Ia terus mencari dan mencari hingga akhirnya ia menyerah. Saat itulah sang Qutub menampakkan dirinya, dan berkata,

“Jadi engkau datang yaa Ahmad,”

“Ya Sayyidi, aku datang.”  

“Apakah engkau menyerahkan dirimu kepadaku?”  

“Ya Sayyidi, aku menyerahkan diriku padamu.”

Grandsyekh mengatakan bahwa Qutub itu memandang Ahmad Badawi sekali dan dengan sekali pandangannya itu, ia telah mencabut seluruh ingatan Ahmad Badawi dan mencabut seluruh ilmu dari dadanya.  Ia membuat Ahmad Badawi benar-benar berada di derajat terendah dan kemudian ia meninggalkannya. Selama enam bulan bahkan Ahmad Badawi tidak tahu lagi bagaimana caranya shalat.

Grandsyekh berkata, “Sebelum itu, ia shalat untuk dirinya sendiri, bukan untuk Tuhannya. Ia telah menjadikan dirinya sebagai Imam, ia menyebutkan dirinya sendiri, ia mengingat dirinya sendiri dan ia shalat untuk dirinya sendiri.”  Dan itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berdzikir dan shalat untuk diri sendiri. Mengapa? Untuk mengangkat derajat diri kita di depan orang-orang. Kita memberi mereka ilmu untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang alim, kita berzikir untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang dzaakir, kita memberi mereka nasihat untuk menunjukkan bahwa diri kita luar biasa, itu semua adalah untuk kita, untuk mengangkat diri kita dan sayangnya itu yang terjadi sekarang ini.  Kita tidak beribadah untuk Allah (swt). Kalian dapat melihat pada hati kalian. Wahai Tuhan kami, ampunilah kami.

Jadi Qutub itu mencabut semua ilmu yang telah dicapai oleh egonya Ahmad Badawi–ilmu yang telah dipelajari oleh ego untuk mengangkat dirinya.  Dan ia dibiarkan selama 6 bulan sampai tidak mengetahui bagaimana caranya shalat. Sayyidina Ahmad Badawi berusaha mencari Qutub itu dan ia berjuang dengan sekuat tenaga namun ia tetap bersabar.  Dan setelah 6 bulan Qutub itu memperlihatkan dirinya kembali. Sayyidina Ahmad Badawi bertanya, “Ke mana saja engkau pergi yaa Sayyidi?” Qutub itu berkata, “Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku bersamamu, tetapi engkau tidak melihatku.”   Jadi jangan berpikir bahwa Sulthanul Awliya Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani meninggalkan kita, tidak, beliau bersama kita, tetapi kita tidak melihatnya.

Kemudian sekali lagi Qutub itu melihat pada Ahmad Badawi (qs) dan ia menuangkan ke dalam hatinya sebagaimana Rasululllah (saw) menuangkan ke dalam hati Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dan ia mengangkat kembali derajat Ahmad Badawi ke derajatnya semula, tetapi bukan melalui amal atau perbuatannya Ahmad Badawi.  Kita harus memahami hal ini, bahwa Qutub itu telah memenuhi hati Ahmad Badawi dengan ilmu dan cahaya, tetapi bukan melalui amal Sayyidina Ahmad Badawi, melainkan dari Kemurahan Allah (swt). Dan itu yang terjadi pada murid, pada seorang dzaakir, pada syaakir, pada shaabur, pada orang yang mengikuti jalan ini, mereka tidak perlu melihat buku-buku, mereka tidak perlu mempelajari ilmu-ilmu ini itu; yang mereka perlukan adalah menanti syekhnya untuk melihatnya dengan suatu pandangan dan mereka akan dipenuhi dengan ilmu dan cahaya kewalian dan itu berasal dari Kemurahan Allah (swt), itu berasal dari nikmat Allah (swt), bukan dari hasil perbuatan egonya, dan bukan dari pekerjaan setan.  Tidak ada lagi ananiyya, keinginan dan ilmu egoistik.   Ia tidak lagi dicap dengan cap ego.  Itu adalah dari Kemurahan Allah (swt).  Karena Ahmad Badawi tidak lagi dipengaruhi egonya, seluruh cahaya turun padanya, dan ia dibusanai dengan cahaya Allah (swt) dan cahaya Rasulullah (saw) dan saking kuatnya cahaya itu, Sayyidina Ahmad Badawi harus menutupi dirinya, kalau tidak orang akan pingsan ketika melihatnya.  Itulah yang berusaha kita raih.

Jangan terlalu berusaha untuk meraih suatu maqam dengan membaca atau belajar untuk diri kalian sendiri atau dengan diri kalian sendiri.  Tetap istiqomah berada di bawah gerbangnya Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, perkerjaan kalian adalah untuk menemukannya. Mencari apa? Mencari Qutbuz Zamaan.  Sekarang semua orang berusaha mencari melalui Google Search, tetapi ia tidak akan membawa kalian pada Qutbuz Zamaan.  Kalian harus menemui seorang shaadiq, orang yang dapat dipercaya.  Jika kalian belum dapat menemukan seorang mursyid, carilah seorang saudara yang dapat dipercaya.  Dan Allah akan tetap membukakan pintu itu sampai kalian menemukan seorang Qutub. Dan Qutub itu akan memenuhi hati kalian dengan ilmu dan cahaya, dan itu bukan dari ego tetapi dari Kemurahan Allah (swt), dan itu adalah ilmu sejati, ilmu ladunni, ilmu haqiqi.  

Jangan terkecoh oleh Setan, jangan terkecoh oleh ego yang mengatakan bahwa orang akan melihat kalian bila kalian mempunyai ilmu, yang artinya kalian bekerja untuk ego kalian, bukannya berusaha untuk mencapai Hadirat Ilahi.  Semoga Allah menjauhkan kita dari kendali ego kita. Semoga Allah senantiasa membuat kita berada di ambang gerbang Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, bila kalian tidak tahu siapa dia, mintalah kepada Allah dalam shalat kalian.  Al-Qutub adalah orang yang bersama dengan Shahibuz Zamaan, mintalah, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku bersama dengan Shahibuz Zamaan. Panjangkan umurku untuk mencapai masanya.” Dan kalian akan menemukan Qutub yang akan membawa kalian pada Shahibuz Zamaan.  Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang diterima oleh Qutub dan membawa kita pada Shahibuz Zamaan, membawa kita pada Hadirat Ilahi. Aamiin yaa Rabbii.

Allahumma la takilna lii anfusina tharfata ‘ain, wa laa aqalla min dzalik“, ini adalah doa Rasulullah (saw), mengapa orang-orang tidak memahami doanya.  Beliau berkata, wahai Tuhanku, jangan tinggalkan aku pada egoku walau hanya sekejap mata.  Apa artinya? Itu artinya jangan membuat egoku sebagai guruku; jangan menjadikan egoku sebagai mursyidku; jangan membuat nafsuku menjadi pedoman bagaimana aku berbuat di dunia ini dan bagaimana tingkah lakuku dalam beragama; jangan membuat ego sebagai bos bagiku, bahkan untuk sekejap mata, itu artinya, “Jagalah diriku agar senantiasa bersama-Mu, Engkaulah guruku, Engkaulah pembimbingku, jangan tinggalkan aku pada egoku.”  Sayangnya begitu banyak dari kita yang dikuasai ego kita melalui perbuatan kita sendiri. Bacalah doa itu, mintalah dukungan pada Allah (swt), Dia akan melindungi kalian dari ego kalian.

Semoga Allah melindungi kita dari ego kita, semoga Allah memberikan kita dari Cahaya-Nya yang tak terhingga.

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.