Khotbah Jumat: Jalan Kita adalah Shalat

72374768_399587174068563_818247134527619072_o

Dr.Nour Muhamad Kabbani
Khotbah Jumat, Darul Uloom Islamia, Manchester, Inggris

11 Oktober 2019

 

shalawat…

wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim

destur yaa Sayyidi…

Assalamu’alaykum wa rahmatullahi ta`aala wa barakatuh,

Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk berada di antara Muslim, di antara Mukmin yang mempunyai hati yang terbuka.  Ini merupakan tanda keimanan, sebagaimana guru kami Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q) mengatakan, “Iman membuat manusia menerima untuk percaya, dan Rasulullah (saw) telah datang untuk memberi kita cahaya iman ke dalam hati kita.  Dan beliau telah memberikannya kepada para Sahabat al-Kiraam, para Ahlul Bait, yang pada gilirannya mereka memberikannya kepada para Tabi’iin, Tabi Tabi’iin, pada Awliyaullah dan alhamdulillah ia juga datang kepada kita. Semoga Allah (swt) menambah iman kita, dan membuat iman kita kokoh.

Dalam iman, Allah (swt) memuji umat Mukmin bahwa mereka tidak takut terhadap kesalahan yang mungkin dilimpahkan kepada mereka.  Kita katakan, “Haqq!” Seorang Mukmin, seorang Muslim harus mengatakan, “Haqq!” Para ulama harus mengatakan Haqq, dan mereka tidak dapat menyembunyikannya.  Para ulama harus mengatakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah (saw) dan tidak bermain-main dengan hal itu.  Sayangnya para ulama sekarang telah mengubah Aturan Allah (swt), telah mengubah Sunnah Rasulullah (saw) untuk menyesuaikan dengan zaman.

Allah (swt) Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, bukannya setiap waktu ada sesuatu yang lebih baik bagi hamba-hamba-Nya.  Allah (swt) Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya sepanjang waktu, setiap saat, setiap abad, tidak ada yang lebih baik selain mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Dan itu berlaku untuk seluruh umat, untuk seluruh manusia. Insya Allah kita senantiasa ada dalam jalur tersebut.  Kita belajar dari guru-guru kita untuk mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Seorang guru yang baik, seorang guru yang saleh adalah guru yang mengajarkan Sunnah yang benar. Tetapi sekarang ini orang-orang telah mengubah rambu-rambunya, seperti ketika kalian berjalan di jalan raya–saya mendengar dari guru saya, Mawlana Syekh Nazim (q), “Bila engkau berjalan di jalan raya, kau harus mengikuti rambu-rambu yang ada, jalur ini ke Birmingham, jalur ini ke Liverpool, jalur ini ke London, jalur ini ke sini, jalur ini ke sana, tetapi Setan kemudian mengubah rambu-rambu tersebut dan memutarbalikkannya sehingga sekarang misalnya arah ke Timur, ke Leeds misalnya, dan sekarang Leeds menjadi di Barat.  Kiblat telah diubah oleh Setan untuk manusia. Bukannya mengarahkan manusia kepada Allah, mereka telah diarahkan kepada sesuatu yang lainnya. Setan adalah orang yang duduk di jalannya Mukmin, Muslim dan umat manusia, dan jalan itu adalah Sunnah Rasulullah (saw). Ia duduk di sana dan berusaha untk mengubah jalurnya.

Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, dalam surat al-Baqarah,


asta`idzubillah
yaa ayyuha ‘n-naasu kuluu mimmaa fii ‘l-ardhi halalan thayyiban, wa laa tattabi`uu khuthuwaati ‘sy-syaythaani innahu lakum `aduuwum mubiin

Wahai manusia, Allah (swt) mengetahui apa yang terbaik untukmu. 


Itulah sebabnya Dia mengatakan, “Yaa ayyuha ‘n-naas!”  pada ayat ini, bukannya “yaa ayyuhal ladziina aamanuu. wahai orang-orang yang beriman,”  tetapi di sini, “Wahai manusia!” Manusia artinya manusia di seluruh abad, setiap saat, dari sekarang hingga Hari Kiamat.  Sejak Sayyidina Adam hingga Yaumul Qiyamah, Allah (swt) mengatakan kepada manusia, “Makanlah, dapatkanlah, apa yang halal dan apa yang thayyib dan jangan ikuti jejaknya Setan, ia adalah musuh yang nyata bagimu.

Allah (swt) mengatakan kepada kita apa yang baik bagi kita, setan adalah musuh yang nyata, ia adalah bukti bahwa ia adalah musuh bagi kalian, bagaimana?  Ia telah menunjukkan dirinya sebagai musuh kepada ayah kalian, Adam (as). Itu artinya ia tidak akan membiarkan kalian, sebagaimana ia tidak membiarkan ayah dan ibu kalian wahai manusia, yaa ayyuhan naas.  Sekarang, setiap orang mengikuti jejaknya Setan.  Apakah jejaknya Setan itu? Setan datang dan berbisik di pikiran manusia, atau telinga atau hati, apa pun itu, ia berbisik.  Dan ia membisiki sesuatu yang disukai ego kalian. Ia mengatakan hal-hal yang kalian inginkan. Secara alami dan karena ego kalian menyukainya, jadi ia mengatakan kepada kalian, “Ayo, ambil saja!”  “Ayo, lakukan saja!” Dan manusia, bila ia mengikuti waswasah Setan, berarti ia mengikuti jejaknya.  

Jadi Setan ketika melemparkan waswasah itu, waswasah pertama kepada manusia adalah, “Jangan percaya kepada Allah (swt)!”  Bukankah ada manusia sekarang ini yang menerima waswasah dari Setan tersebut? Bisikan pertama, “Jangan mau menerima adanya Tuhan!”  “Jangan terima adanya Sang Pencipta!” “Jangan terima Tuhan Yang Mahaesa, Allah (swt)!” Itu adalah kufur. Jadi waswasah pertama Setan kepada manusia adalah menjadikannya seorang kafir.  Lihatlah, sekarang ini begitu banyak orang yang atheis, bukan hanya menerima banyak tuhan, tetapi mereka juga tidak menerima Tuhan! Jadi atheis atau politheis, orang-orang yang menyekutukan Tuhan atau orang-orang yang menyangkal Allah (swt) mereka mengikuti waswasah Setan.  Mereka mengikuti jejaknya Setan. Ke mana mereka akan membawa kalian? Mereka mungkin akan membawa kalian ke jalan mereka, waspadalah!     

Jangan mengikuti orang yang bukan Mukmin atau bukan Muslim.  Kalian dapat berteman dengan mereka di universitas, atau di sekolah, dalam pekerjaan, itu tidak masalah.  Kalian dapat berurusan dengan mereka dan menunjukkan akhlak yang baik kepada mereka. Tetapi jangan pergi keluyuran di malam hari bersama mereka.  Mereka hanya akan mengajari kalian hal-hal yang buruk!  

Alhamdulillah anak-anak muda sekarang banyak yang pergi ke masjid, mereka sudah kelelahan untuk keluyuran.  Sekarang yang tua, ketika mereka beranjak tua, mereka mulai shalat, alhamdulillah, itu bagus. Mereka bertobat.  Tetapi anak-anak muda, Setan mengejar mereka. Setan tidak mengejar orang tua, mereka tidak dapat melakukan apa-apa lagi, mereka tidak bisa berjalan, tidak bisa bergerak, tidak bisa melakukan apa yang dapat dilakukan oleh anak muda.  Jadi Setan mengejar kalian, wahai anak-anak muda! Mereka tidak akan meninggalkan kalian. Mereka akan mengatakan, “Tinggalkan itu halal-haram, apa itu…kalian suka kan, ambillah, lakukanlah yang kalian suka.” Jadi teman kalian, masyaAllah, mereka yang senang berpesta mereka ingin berpesta bersama kalian.  Jadi kalian pergi dan itu adalah waswasah Setan. Kalian harus berhati-hati.    

Jika Setan tidak bisa menggoda manusia dengan kufur, dengan menyangkal Allah (swt) atau menyekutukan Allah (swt), apa yang ia lakukan?  Ia berkata, “Jangan dengarkan para Nabi dan Rasul, jangan terima mereka. Buatlah agamamu sendiri. Buatlah jalan kalian sendiri!” Berapa banyak syayathin yang telah membuat jalan mereka sendiri?  Mereka mengatakan, “Ini adalah jalan kami! Kami tidak mendengar Sayyidina Muhammad (saw)–jika mereka mengatakan Sayyidina–jika mereka mengatakannya, itu artinya mereka menerimanya dan mereka menjadi Muslim–tetapi mereka tidak mengatakannya.  Mereka bahkan tidak memberikan gelar penghormatan apa pun kepada Rasulullah (saw). 

“Jangan dengarkan dia, jangan dengarkan Isa (as), jangan dengarkan Musa (as), jangan dengarkan Nuh (as) dan Ibrahim (as).”  Seperti itulah ia mengatakan pada orang-orang saat itu, menyangkal risalah mereka. “Lalu apa yang harus kulakukan?” “Membuat jalanmu sendiri!”  Berapa banyak orang yang membuat agamanya sendiri? Jalan mereka sendiri, filosofi mereka sendiri?  

Para filsuf mengklaim sebagai Nabi, bahwa mereka menunjukkan jalan bagi kalian.  Mereka bukanlah orang yang menunjukkan jalan ke Surga bagi kalian. Jalan ke Surga tidak berasal dari Bumi ke Langit, tetapi dari Langit ke Bumi.  Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, “faman tabi`a hudaaya, Aku mengirimkan kalian huda. (QS 2:38)” Sang Khaliq akan mengirimkan petunjuk (bimbingan), bukannya orang-orang di Bumi akan menemukan atau menciptakan petunjuk tersebut, itu adalah bid’ah.  Itu adalah Ahlul Bid’ah. Mereka menciptakan petunjuk, dan mereka mengatakan, “Kami akan menemukan jalan menuju Sang Pencipta, ke Hadirat Ilahi.” Tidak! Huda itu berasal dari Langit! Dia telah mengutus para Nabi. Huda hanya datang kepada para Nabi melalui wahyu, melalui Sayyidina Jibril (as).  Manusia harus menerimanya. Jangan ikuti para filsuf. Jangan ikuti orang-orang yang menciptakan jalannya sendiri ke Surga. Mereka menunjukkan slide kepada kalian:

Untuk mencapai Allah (swt), partama kalian lakukan ini, lalu ini, lalu ini… kalian melihat slide-slide tersebut dan kalian tidak mengerti apa itu. 

Jalan menuju Allah (swt) bukannya menunjukkan slide-slide seperti itu.  Jalan menuju Allah (swt) sangat sederhana. Ia adalah shalat! Daripada menujukkan slide, lakukan shalat berjamaah bersama orang-orang dan usahakan agar khusyuk.  Itulah yang perlu kalian lakukan. Bukannya mengatakan, “Bagaimana aku memurnikan hatiku?” “Bagaimana aku memurnikan pikiranku?” “Bagaimana aku memurnikan jiwaku?”  “Bagaimana aku melakukan meditasi?” Tidak perlu hal itu. Rasulullah (saw) telah mengatakan kepada kita, “Shalat!” Dua rakaat, empat rakaat, tiga rakaat fardhu kalian.  Sayyidina Jibril (as) mengajarkan Rasulullah (saw) cara mengerjakan shalat. Huda telah datang dari Langit melalui Sayyidina Jibril (as) kepada Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) telah mengatakan kepada kita bagaimana kita dapat mendekati Tuhan kita.  Apa yang seharusnya kalian capai dalam shalat. Seperti itulah guru spiritual, orang yang mengaku sebagai Imam atau syuyukh dalam spiritualitas. Kalian tidak memerlukan orang-orang seperti itu. Yang kalian perlukan adalah mencapai khusyuk dalam shalat.  Itu adalah antara diri kalian dengan Tuhan, bukannya untuk dipamerkan kepada orang lain bahwa kalian tahu tentang spiritualitas. Datanglah shalat dengan jamaah dan capailah khusyuk dalam shalat dengan demikian Allah (swt) akan menerima kalian dan akan menunjukkan pada kalian.  Menunjukkan apa? Jannatal Firdaus!  

Syekh-syekh ini yang mengaku membimbing orang-orang ke chakra-chakra tertentu dan memberikan pencerahan, dan semua yang palsu ini.  “Jika engkau mengikuti jalanku, aku akan membukakan rahasia dan hakikat bagimu.” Kita tidak memerlukan semua ini, yang kalian perlukan hanyalah shalat dan mencapai khusyuk dalam shalat.  Kalian tidak memerlukan yang lain.  

Pertama kalian menerima Rasulullah (saw), kalian masuk ke dalam Iman dan Islam.  Kemudian kalian lakukan shalat kalian. Itulah yang kalian perlukan. Jangan ikuti orang yang mengatakan, “Aku akan menunjukkan jalan ke Surga.”  Katakan pada mereka, “Aku sudah tahu jalan ke Surga.” “Apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah (saw) kepada kita, dua rakaat shalat adalah jalan kita ke Surga, kau tidak perlu menunjukkan apa-apa lagi!”

Allah (swt) menegaskan hal itu dalam Surat al-Mu’minuun.

Asta`idzu billaah,

Qad aflaha ‘l-Mu’minuun     

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman

Orang yang percaya kepada Rasulullah (saw) dan Nabi-Nabi lainnya serta percaya pada risalah yang dibawanya, mereka telah mencapai keberhasilan, mereka telah mencapai falah, mereka adalah para Muflihuun, mereka adalah orang-orang yang berhasil.  Siapa mereka? Rasulullah (saw) telah memerintahkan kita untuk mengenal kesepuluh ayat ini, atau menasihati kita atau menganjurkan kepada kita, tetapi kebanyakan di antara kita tidak mengetahuinya, oleh sebab itu bacalah sepuluh ayat pertama Surat al-Mu’minuun.  

Jika kalian melakukannya, Allah menjanjikan kepada kalian Jannatul Firdaus!  Itulah yang perlu kalian katakan pada guru-guru spiritual, yakni orang-orang yang membuat aplikasi (di HP atau yang lainnya), orang-orang yang membuat iklan di media sosial, kita tidak perlu semua itu.  Kita mengetahui jalan kita. Jalan kita adalah masjid. Jalan kita adalah shalat fardu bersama jemaah. Jalan kita adalah khusyuk dalam shalat.  

Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi`uun

(yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya. 

Allah (swt) menjanjikan Jannatul Firdaus, dan Dia menegaskan bahwa orang yang telah mencapai sukses adalah orang yang telah mencapai khusyuk dalam shalatnya.  Jadi yang perlu kalian lakukan adalah shalat dan berusaha mencapai khusyuk. Khusyuk dicapai pada saat sujud. Khusyuk adalah ketika kalian berserah diri kepada Allah sepenuhnya.  Kalian paling dekat dengan Allah ketika dalam posisi sujud, bukannya pada saat kalian berpikir bagaimana aku melakukan meditasi hari ini, atau besok. Lakukan sujud, dan itulah saat terdekat kalian dengan Allah (swt).  Kalian tidak perlu membayar seribu Euro, atau dolar, atau pound untuk mengikuti acara retreat 3 hari dan mencapai pencerahan. Kalian tidak memerlukan semua itu, yang kalian perlukan adalah sujud.

Alladziina hum fii shalaatihim khaasyi`uun, orang yang datang ke Hadirat Tuhan mereka dan mereka mencapai khusyuk

walladziina hum `ani ‘l-laghwi mu`ridhuun

dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

dan orang yang memurnikan dirinya (dengan menunaikan) zakat.  

Zakat memurnikan uang kalian dan juga memurnikan perbuatan buruk kalian, dari akhlak buruk kalian, semua itu dicapai dalam shalat.  Agar akhlak buruk keluar dari ego kalian, kalian harus melakukan shalat, mengapa? Para Awliyaullah mengatakan, “Satu-satunya jalan untuk membuat ego kalian tunduk adalah melalui shalat,” karena ada tiga hal dalam shalat yang kalian lakukan.  Kalian melakukan tadallul, wudhu dan khusyuk. Tadallul adalah ketika kalian merendahkan diri kalian. Jadi ketika kita shalat kepada Allah (swt), kita menempatkan kedua tangan kita dalam posisi menghadap Sang Raja. Bagaimana postur tubuh kalian ketika bertemu dengan seorang walikota?  Bagaimana postur kalian ketika bertemu dengan seorang ratu? Bagaimana postur kalian ketika bertemu dengan seorang raja atau presiden? Bukankah kalian merendahkan diri kalian ketika menyapanya? Bukankah kalian melakukan hal itu kepada manusia?  

Ketika kalian shalat, kalian mengajari diri kalian, kalian mengajari ego kalian bahwa “Aku berada dalam Hadirat Sang Raja dari semua raja, Sang Khaliq, Allah (swt).”  Jadi ketika kalian menempatkan kedua tangan kalian, itu merupakan tanda hormat, tawaduk dan rendah hati kepada Tuhan kalian, itulah cara menundukkan ego kalian, dengan menundukkan diri.  

Ketika kalian ruku, itu adalah hudu, kalian membuat diri kalian menunduk kepada Allah (swt), itu artinya jangan sombong.  Berikutnya sujud. Berikutnya kalian akan berada di lantai. Itu adalah jalan untuk menundukkan ego kalian.    

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

dan orang yang memurnikan dirinya adalah orang yang membuat egonya tunduk, menyingkirkan semua akhlak buruk yang dimiliki egonya, termasuk takabur, serakah, suka menipu, berbohong.

Shalat, 2 rakaat, itu cukup.


Tidak perlu berpikir bagaimana aku mencapai Allah (swt).  Heeh jangan menjadi buta, itu adalah untuk orang-orang yang tidak tahu.  Kalian tahu apa yang diajarkan oleh Rasulullah (saw) kepada kita untuk mencapai Allah (swt).  Beliau (saw) bersabda, “ash-shalaatu ma’rajal Mu’minin,” shalat adalah mi’rajnya kalian, kalian ingin mencapai Hadirat Allah (swt), sejak kalian mengucapkan Takbiratul Ihram, Allahu Akbar dan kalian mengarahkan wajah kalian ke kiblat, ke Kakbah Mu`azhzhamah, kalian sudah hadir di sana, kalian tidak perlu lagi bertanya, “Apakah aku hadir di sana?  Apakah aku tidak ada di sana?” Tetapi bila kita buta, maka kita buta. Dikatakan bahwa ketika Awliyaullah mengarahkan wajahnya ke kiblat, mereka melihat Kakbah Mu`azhzhamah, mereka melihat ke mana wajah mereka menghadap, mereka tidak buta, 

wa man kaana fii hadzihi a`maa fa huwa fi ‘l-aakhirati a`maa  (QS 17:72)

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, maka di Akhirat ia akan buta dan situasinya lebih buruk lagi.  Awliyaullah, mereka tidak buta di dunia ini, dan mereka tidak buta di Akhirat, mereka melihat ke mana mereka mengharahkan pandangannya. Sejak saat mereka mengucapkan “Allahu Akbar” mereka melihat diri mereka di depan Kakbah Mu`azhzhamah, tidak seperti kita yang melihat ke kanan ke kiri.    

walladziina hum li ‘z-zakaati ffa`iluun

walladziina hum li furuujihim haafizhuun

dan orang-orang yang memelihara kemaluannya.

Ini penting bagi anak-anak muda.  Lupakan orang-orang tua. Allah (swt) telah mengambil kekuatan dari mereka.  Tetapi anak-anak muda. Kalian lindungi martabat kalian, kalian lindungi kehormatan kalian.  Jaga kalian bersama istri kalian. Kalian jaga diri kalian dengan menikah, bukannya pergi ke sana ke mari.  Itu adalah untuk anak-anak muda. Setan akan datang dan akan menggoda kalian, berbisik pada telinga kalian, hati kalian, “Ini enak sekali, mengapa kalian tidak mencobanya!”  Karena Rasulullah (saw) dan Allah (swt) melarangnya. Rasulullah (saw) bersabda, “An-nikaahu sunnati man raghiba `an sunnati falaysa minni, nikah adalah sunnahku.”  Sayyidina Adam (as) ketika Allah mengatakan untuk masuk ke dalam Surga, Dia berfirman, “yaa Aadamuskun anta wa zawjuka ‘l-jannah, wahai Adam tinggallah engkau dan istrimu di dalam Surga. (QS2:35)”

Perintah pertama bagi Adam (as) sebagaiman yang dikatakan oleh guru kita, Mawlana Syekh Nazim adalah untuk menikah.  Perintah pertama adalah melakukan pernikahan antara dirinya dengan Sayyida Hawwa (radhiyallaahu `anwa wa karamallaahu wajhah).  Karena Allah (swt) telah berfirman, “uskun anta wa zawjuka ‘l-jannah,” wa zawj artinya istrimu, pasanganmu.  Syekh kita mengatakan bahwa orang yang melakukan pernikahan Sayyidina Adam (as) dan Sayyida Hawwa (`alayha ‘s-salaam) adalah Rasulullah (saw) di Surga.  Ini adalah jalannya Nabi (saw), jalannya Rasulullah (saw), ajaran al-Qur’an suci.  

Kita dapat melanjutkan dengan ayat berikutnya, tetapi kita tidak mempunyai waktu yang cukup.  Dan saya tidak ingin membuat kalian kehilangan fokus, fokus pada shalat. Dua rakaat sebelum kalian meninggalkan rumah, jika kalian tidak bisa melakukan shalat Subuh pada waktunya, paling tidak lakukan dua rakaat qadha, semoga Allah (swt) membuat kita semua dapat melakukan shalat fardhu, bukannya qadha.  Tetapi bila kalian tidak bisa, dan beberapa orang mempunyai alasan tertentu, lakukanlah shalat dua rakaat sebelum kalian meninggalkan rumah. Tegaskan pengabdian kalian kepada Allah (swt). Katakan,

“Wahai Tuhanku, mungkin aku terlambat. tetapi Engkau adalah Yang Maha Pemaaf. Engkau adalah Afuww, maafkanlah aku. Yang dapat kulakukan adalah dua rakaat.  Terimalah dariku yaa Rabbi.”

Allah (swt) akan melindungi kalian sepanjang hari.    

Orang-orang datang dan mengatakan “Oh sepanjang hari ini begitu mengerikan!  Begitu banyak masalah sepanjang hari.” Saya bertanya apakah kalian melakukan shalat Subuh?  “Tidak!”


Lakukanlah shalat Subuh, absen masuk (seperti di tempat kerja). Setiap orang melakukan absen masuk dan absen keluar/pulang.  Apa yang terjadi jika kita tidak melakukan absen masuk? Kalian tidak akan mendapat bayaran. Shalat Subuh adalah seperti melakukan absen masuk, menandakan kalian telah masuk ke dalam Hadirat Allah.  Allah (swt) akan memberi pahala bagi kalian. Jika kalian tidak melakukannya, maka Allah tidak akan memberi pahala bagi kalian, Allah senang terhadap orang-orang yang datang pada-Nya. Datanglah kepada Allah (swt), jangan lalai.  Jangan mengabaikan shalat dan usahakan agar khusyuk. Ajarkan diri kalian untuk khusyuk. Khusyuk adalah ketika kalian menghosongkan hati kalian dari segala hal yang mengganggu kalian; mengosongkan pikiran dari segala hal yang mengganggu kalian.   

Saya akan memberikan sebuah contoh yang mungkin kita alami.  Saya sering mengulangi cerita ini, karena saya menyukainya. Seorang pria datang untuk melakukan shalat Isya berjamaah di masjid. Imam mulai melakukan takbiratul Ihram dan memulai shalat, seluruh jemaah mengikutinya sampai Imam mengucapkan salam dan jemaah pun mengucapkan salam.  Imam lalu bertanya kepada jemaah, apakah aku shalat tiga rakaat atau empat rakaat? Imamnya juga tidak tahu. Jemaah juga tidak tahu, mereka bilang, “Kami tidak tahu, kami mengikutimu, engkau adalah Imam yang memimpin kami.” Pekerjaan Imam adalah sulit! Kalian yang memimpin mereka, dan mereka mengikuti kalian.  Jadi yang salah bukanlah mereka, kesalahan bukan pada kambing gembala, tetapi pada pengembalanya, jadi kalian harus berhati-hati.

Jadi Imam ini tidak tahu dan jemaah pun tidak tahu, kecuali seorang.  Ia mengatakan, “Wahai Imam, engkau shalat tiga rakaat!” “Dari mana engkau tahu?” tanya Imam.  Ia berkata, “Saya mempunyai empat toko! Rakaat pertama saya memikirkan seluruh penjualan di toko pertama.  Rakaat kedua saya memikirkan penjualan di toko kedua. Begitu pula dengan rakaat ketiga. Tetapi saya tidak sampai memikirkan toko keempat, jadi saya tahu kalau shalatnya tiga rakaat!”  

Sayangnya begitulah shalat kita.  Berusahalah untuk mencapai khusyuk dalam shalat.  Khusyuk, kosongkan hati kalian dari segala hal yang mengganggu kalian.  Dikatakan bahwa, dan ini adalah seorang Awliyaullah, ia mengatakan, “Sebelum masuk waktu shalat, aku mengambil wudhu dan duduk di tempat shalatku dan berdiam diri.”  Duduk selama lima atau sepuluh menit dan berdiam diri di tempat kalian akan shalat. “Kemudian aku membawa Kakbah Mu`azhzhamah di antara kedua mataku, seolah-olah aku sedang menatapnya.  Dan aku membawa Maqamul Ibrahim ke depan dadaku, seolah-olah aku shalat di Haramu ‘sy-syariif.” Betapa indahnya shalat di belakang Maqamul Ibrahim dengan memandang Kakbah Mu`azhzhamah. Insya Allah, Allah (swt) membuat kita bisa mengunjunginya lebih sering lagi, umrah, haji, insyaAllah.  “Aku letakkan Maqamul Ibrahim di hadapan dadaku, jadi aku shalat di belakang Maqamul Ibrahim. Aku letakkan Kakbah Mu`azhzhamah di antara kedua mataku dan Aku tahu bahwa Allah (swt) melihatku. Aku melihat Surga di sisi kananku, dan Jahannam di sisi kiriku. Dan aku berjalan di shirath dalam shalatku”  Ia telah meletakkan, ia telah mengelilingi dirinya dengan semua yang penting bagi kita di Akhirat. Dengan demikian dunia selesai. “Dan seperti itulah aku melakukan shalatku.” Siapa di antara kita yang melakukan hal itu? Siapa di antara kita yang benar-benar memberikan shalat dengan hak-haknya? Sangat sedikit.  Mereka adalah orang-orang yang saleh, yang telah mencapai khusyuk. Itulah yang harus kita coba. Jadi ketika kalian menghadap kiblat, bayangkan bahwa kalian sedang melihat Kakbah Mu`azhzhamah. Hadirkan di hadapan kalian. Bayangkan bahwa kalian berada dalam Hadirat Allah (swt). Rendahkan diri kalian. Kalian akan mencapai khusyuk dan kalian akan mencapai Jannatul Firdaus.  

Kalian tidak memerlukan guru-guru spiritual yang mengajarkan kalian bagaimana cara meditasi dan mencapai sesuatu.  Yang kalian perlukan hanyalah shalat dua rakaat. Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Insya Allah kita akan bertemu lagi.

Wa min Allah at-tawfiq, aquulu qawli hadza…             

Video: https://www.facebook.com/drnourmohamadkabbani/videos/1174989786029160/

 

Advertisements

Kisah mengenai Laylat al-Israa wal-Mi’raaj

56328658_10158345282669745_715136016406544384_o

Dr. Nour Hisham Kabbani

2 April 2019 Burton, Michigan

As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM)

 

Dalam setiap ibadah, kalian memerlukan dukungan Allah.  Di dalam Surat al-Fatihah, kita membaca, “Iyyaka na`abudu wa iyyaka nasta`iin, hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan,” karena kita tidak kuat, kita lemah, kita melakukan kesalahan, dan semoga Allah (swt) mengampuni kita.  Tetapi insya Allah kita dapat melaksanakan perintah yang telah diberikan oleh Grandsyekh, perintah yang telah diberikan oleh Mawlana Syekh Hisyam (q) dan berbicara sedikit mengenai Isra Mi`raaj.   Peristiwa Isra Mi’raj adalah adalah peristiwa besar yang dapat dibahas dalam banyak bab atau volume buku, tetapi kita tidak akan membahasnya semua; kita hanya akan menyampaikan beberapa poin yang singkat.

Awliyaullah telah mengatakan bahwa kita harus tahu bahwa ketika Rasulullah (saw) melaksanakan Isra, perjalanan malam, beliau pergi dari Mekah ke Baitul Maqdis di Quds asy-Syariif atau Jerusalem dengan Buraaq.  Allah (swt) memberinya Buraaq di mana orang-orang mengatakan bahwa hal itu adalah bukti bahwa beliau pergi dengan tubuh fisiknya, karena ad-daaba tuyuur il-jism, itu adalah seekor binatang dan hanya mengangkut tubuh fisik saja.  Beberapa orang mengatakan bahwa hanya ruh Nabi (saw) saja yang pergi, tetapi menurut aqidah kita, Ahl as-Sunnah wa ’l-Jama`ah–beliau (saw) pergi dengan tubuh fisik dan rohaninya.  Saat itu beliau (saw) berusia 52 tahun, setahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Di Mekah al-Mukarramah, Allah mengutus Sayyidina Jibril, Sayyidina Mika`il, Sayyidina Israfil (`alayhimu ‘s-salam) dan malaikat lainnya yang membawa Rasulullah (saw) ke kota Quds asy-Syariif dalam sekejap mata, bahkan ada yang mengatakan lebih cepat lagi.  Meskipun demikian, Allah (swt) tidak memerlukan waktu dan tidak mempunyai batas.

Jadi beliau (saw) pergi dengan binatang suci surgawi tersebut, dari Mekah ke Quds asy-Syariif dan kemudian dari Bayt al-Maqdis ke Langit Pertama.  Dikatakan bahwa dalam Mi’rajnya Rasulullah (saw) menaiki anak tangga dari emas, perak dan permata hingga ke Langit Pertama, dan dari sana beliau melanjutkan perjalanannya dengan menaiki sayap para malaikat melewati seluruh Langit hingga ke Langit Ketujuh, dan dari sana beliau (saw) melanjutkan dengan sayap Sayyidina Jibril hingga ke Sidrah.  

Nabi (saw) dibawa dengan makhluk surgawi di Bumi, melewati Langit ke Sidrat al-Muntaha ke Pohon Teratai yang disebut sebagai Barzakh, di mana cabang-cabang bagian atasnya adalah Cahaya-Cahaya dan bagian akarnya menjulur ke Neraka Jahannam.  Itu merupakan gabungan dari dua alam, yaitu Barzakh dan maqaam Sayyidina Jibril (as). Dari sana, Rasulullah (saw) melanjutkan perjalanannya ke raffraff, bantal-bantal indah yang disediakan Allah (swt).

Di Arasy dengan tubuh fisiknya, disebutkan bahwa beliau tiba di Dua Kaki.  Sekarang kita tidak dapat mengatakannya bahwa itu adalah kaki fisik, karena ar-Rahman `ala ‘l-`Arsy istauwaa, “ar-Rahman telah naik ke atas Arasy”, yang merupakan sebuah maqaam. Rasul (saw) telah mengetahui al-Mustauwaa, (istauwaa artinya “ia telah naik”), dan dalam tingkatan Mi’rajnya beliau (saw) juga melihatnya dengan Qudrah Allah (swt).  Dari sana, dikatakan bahwa pada tingkat Arasy tersebut, beliau meninggalkan komposisinya, tarkiib, taraka tarkiiba, dengan raffraff di Mustauwaa tersebut, dan beliau pergi dengan `Ayn, Essens, dan Allah (swt) Maha Mengetahui apa itu.

Saya mengatakan hal ini karena ketika beliau mencapai Level (`Ayn) tersebut, Allah memberi shalat pada Rasulullah (saw) pada level yang sangat dekat antara dirinya dengan Allah.  Dikatakan bahwa Dia (swt) mengumpulkan semua shalat yang tersebar di antara para Nabi.

SUBUH

Yang pertama melakukan shalat Subuh adalah Sayyidina Adam (as).  Dikatakan bahwa Allah (swt) membuatnya mendarat di Bumi pada malam hari, jadi kegelapan malam menyelimutinya.  Ketika beliau tidak lagi melihat apa-apa yang sebelumnya dilihat di Surga, beliau menjadi sangat takut dan sedih dan ketika Subuh tiba, beliau melakukan shalat dua rakaat untuk mensyukuri bahwa Nuur atau cahaya telah kembali dan kegelapan telah pergi.  Allah menerima tobatnya dan mengirimkan Cahaya dari keharmonisan, sukses dan tawfiq ini serta menghilangkan kegelapan dari mukhalafa, ketidakpatuhan.  Adam (as) dikaruniai Cahaya Kesuksesan dari shalatnya di waktu Subuh.  Itulah sebabnya kita bangun saat Subuh, untuk menyaksikan kegelapan itu pergi dan mengatakan, “Ya Allah, kegelapan dari ketidakpatuhanku telah pergi dan Cahaya dari Hidayah-Mu akan datang.”

ZHUHUR

Sayyidina Ibrahim (as) shalat pada saat Zhuhur, setelah zawaal.  Mengapa?  Karena Allah mengirimkan hewan untuk dikurbankan, dan pada hari pertama dari Haji, kita tahu bahwa kita harus mengorbankan hewan kurban sebelum Zhuhur, sejak awal sebelum melempar jumrah.Jadi ketika Allah mengirimkan hewan itu kepada Ibrahim (as), beliau melakukan shalat Syukur pada waktu Zhuhur; rakaat pertama karena putranya telah diselamatkan; kedua karena Allah telah ridha dengannya; ketiga karena putranya sabar; dan keempat karena Allah telah menghilangkan kesedihan dalam hatinya.

`ASHAR

Yang pertama melakukan shalat `Ashar adalah Sayyidina Yunus (as) setelah Allah menyelamatkannya dari kegelapan dalam perut ikan paus.

MAGHRIB

Yang pertama melakukan shalat Maghrib adalah Sayyidina `Isa (as), dan mengapa tiga rakaat?  Awliyaullah telah menjelaskan bahwa rakaat pertama adalah untuk menyangkal ketuhanan pada dirinya sendiri, lalu pada ibunya [sebagaimana yang salah dipahami oleh orang Kristen], kemudian menegaskan Ketuhanan pada Tuhannya.

`ISYA

Sayyidina Musa (as) adalah yang pertama melakukan shalat `isya.

Allah (swt) mengumpulkan seluruh shalat para Nabi itu dan memberikannya kepada umat Nabi Muhammad (saw).  Jadi, jagalah shalat-shalat kalian karena itu sangat berharga dan telah dilakukan oleh para Nabi.

WITIR

Semua shalat lainnya telah dilakukan oleh para Nabi, tetapi Allah (swt) memberikan shalat Witir kepada Rasulullah (saw).  Beliaulah yang pertama melakukan shalat Witir ketika beliau memimpin shalat untuk seluruh malaikat di Sidrat al-Muntaha.

Rasulullah (saw) adalah Kekasih kita yang telah dimuliakan khususnya di malam ini.  Allah (swt) menunjukkan Rasulullah (saw) kepada setiap orang. Beliau (saw) adalah yang terbaik di Bumi dan yang terbaik di Langit.  Beliau (saw) adalah Imam di Bumi dan Imam di Langit, dan beliau memberi kita hadiah berupa shalat, yang dengannya kalian akan mencapai Allah (swt) dan tanpanya tidak ada seorang pun yang dapat mencapai Allah.  Kalian harus melaksanakan semua shalat tersebut!

Rabbana wa ta qabal du`a, wahai Tuhan kami, terimalah doa kami, sebagaimana doanya Sayyidina Ibrahim, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat.  Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Wahai Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua Ibu Bapakku, dan semua orang yang beriman pada Hari diadakannya Perhitungan (Yawmil Hisab).” (Surah Ibrahim, 14:40-41)

Bi sirrii Surat al-Fatihah.

https://sufilive.com/The-Story-of-Laylat-al-Isra-wal-Mi-raj-6817.html
© Copyright 2019 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law.  

Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

RINGKASAN SUHBAH FAJAR 28 RAMADHAN

Dr. Nour Kabbani dari catatan Grandsyaikh Nazim

 

Awliya’Allah memiliki cahaya dari Allah, yang dengan cahaya itu mereka berjalan. Dengan cahaya itu pula mereka mampu melihat apa yang terlintas maupun tersimpan dalam hati manusia.

Syaitan juga memiliki kemampuan yang sama. Syaitan tidak memiliki cahaya Ilahi, tetapi Allah SWT mengaruniakan padanya kemampuan untuk melihat dan mengetahui apa yang terlintas di hati manusia.

Perbedaan antara kemampuan Awliya’ dengan Syaitan adalah, Awliya’ juga dikaruniai pengetahuan akan hikmah munculnya niat yang timbul di hati seseorang, sedangkan syaitan tidak faham hikmahnya.

Karena itulah, Awliya’Allah terkadang membiarkan munculnya niat buruk pada orang / murid yang hadir di majelis mereka, karena mereka faham akan hikmah yang lebih dalam akan niat tersebut, misalnya mungkin untuk menguji murid yang lain, dan sebagainya.

Sedangkan syaitan tidak memahaminya. Bila ia melihat niatan baik pada hati seseorang, ia akan berusaha mencegahnya. Sebaliknya, bila ia melihat niatan buruk dalam hati seseorang, ia akan mendorongnya.

Demikianlah hati manusia pada level qalb, ditempatkan di dalamnya cahaya Awliya’ dan kegelapan Syaitani. Dan di antara keduanya, Allah SWT letakkan haqiqat (realitas) diri kita.

Hakikat Insaniyah itu yang telah Allah ciptakan dari citra / refleksi Ilahiah-Nya, berdasarkan hadits sahih di Bukhari dan Muslim:
Innallaha khalaqa Adama ‘alaa suuratih

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas citra-Nya.

Maksudnya sebagai refleksi Atribut dan Asma-Nya.

Ketika diri kita mencari cahaya Ilahi yaitu melalui Awliya’Allah, dan meninggalkan kegelapan syaitani, maka saat itulah perlahan2 ruh kita menjadi bercahaya, Ruh Nurani. Dan jika kita istiqomah pada jalan tersebut, maka kita akan mencapai Maqam berikutnya dari hati, yaitu Sirr qalbu. Kita akan mencapai Syarqiy tempat terbitnya cahaya Ilahi dalam diri kita.

Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرْ فِى الْـكِتٰبِ مَرْيَمَ ۘ اِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ اَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
wazkur fil-kitaabi maryam, izintabazat min ahlihaa makaanan syarqiyyaa

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis),”
(QS. Maryam 19: Ayat 16)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Dengan mengasingkan diri dari “keluarga” kita, yaitu Nafs (ego), Hawa’ (keinginan2 buruk), Syaithan dan Dunia, maka kita akan mencapai Syarqiyy.

Allah SWT berfirman:

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَابًا ۗ فَاَرْسَلْنَاۤ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
fattakhozat min duunihim hijaabaa, fa arsalnaaa ilaihaa ruuhanaa fa tamassala lahaa basyaron sawiyyaa

“lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”
(QS. Maryam 19: Ayat 17)

dan ketika kita telah memasuki Maqam Sirr, maka Allah akan menurunkan hijab-Nya untuk melindungi kita dari Syaithan, Ego, Hawa dan Dunia. Keempat musuh2 kita tersebut tidak akan mampu mengakses diri kita di Maqam Sirr.

Kemudian Allah akan menurunkan ruh-Nya yaitu Awliya’Nya untuk membimbing kita di maqam ini. Grandsyaikh mengatakan bahwa Maqam Sirr ini diperuntukkan bagi Aimmah (Imam-imam) dari 40 Turuq (Tariqah2) selain Naqsybandi. Karenanya, Grandsyaikh menjelang wafatnya selalu menyeru Shah Mardan Sayyidina ‘Ali alayhissalaam, sebagai Pir, Pemimpin dari 40 Turuq, sebagai Pintu menuju Haqiqat kita. Karena kita tidak bisa menjadi Naqsybandi sebelum menjadi ke 40 Turuq lainnya.

InsyaAllah pada kesempatan berikutnya, kita akan membahas Maqam Hati berikutnya. Namun, yang lebih penting bukanlah sekedar mendengarnya, karena ego suka mendengar tanpa melakukannya.

Yang lebih penting adalah untuk memalingkan diri kita dari keburukan 4 musuh kita, mengarahkan wajah kita ke cahaya Ilahi yang dibawa Awliya’Allah.

Itulah makna doa yang diajarkan Nabi SAW:

Allahumma arina l-haqqa haqqan warzuqna t-tibaa’ah, wa arina l-bathila bathilan, warzuqna j-tinaabah

Yaa Allah tunjukkanlah bahwa yang Haqq itu adalah Haqq dan karuniakan kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan bahwa yang bathil adalah bathil, dan karuniakan kami untuk menjauhinya.

Wallahu a’lam bissawab, wa min Allah at Taufiq, Alfatihah.

Pentingnya Memohon Dukungan

71B148C2-D596-4E87-371913E729C61D87

Seri Ramadhan 2018

Dr. Nour Hisham Kabbani

23 Mei 2018 Fenton, Michigan

Shuhbah Subuh

 

Grandsyekh, Sulthanul Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani, semoga Allah senantiasa mengangkat derajatnya, berkata bahwa salah satu tanda iman adalah diluaskan dadanya, dan tanda lainnya adalah bila seorang pembicara memohon dukungan, madad.  Ini akan menundukkan ego.  Dukungan dari siapa? Dari Khalifah Rasulullah (saw), Shahibul Waqt, Sang Penguasa Waktu.  Setiap masa memiliki Penguasa Waktunya, seorang wali yang memberikan dukungan kepada manusia.

Imam Rabbani, Abdul Wahhab Asy-Sya’rani (qs) mengatakan bahwa setiap kali beliau duduk memberikan shuhba, beliau akan mengucapkan, “Madad yaa Sayyidi, yaa Shahibal Waqt, yaa Shahibaz Zaman”, memohon dukungan dari Sang Penguasa Waktu.  Orang yang tidak meminta dukungan sebelum berbicara, misalnya dalam sebuah seminar, ia berbicara bagaikan seorang tiran, dan Allah akan meninggalkan dirinya bersama egonya dan Setan.  Dan ia akan menghancurkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Oleh sebab itu Grandsyekh menasihati agar kita selalu memohon dukungan ketika kita duduk di sebuah majelis dzikir atau suatu asosiasi, ketika memberikan nasihat atau suatu ceramah, selalu katakan, “Wahai Tuhanku, aku memohon dukungan-Mu, wahai Shahibal Waqt, wahai Khalifah Rasulullah (saw), aku memohon dukunganmu agar aku dapat menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi diriku dan bagi orang-orang di sekitarku.”  

Khususnya bagi orang-orang yang telah diberi wewenang untuk memimpin zikir dan memberi nasihat di seluruh dunia, jangan lupa, jangan duduk bagaikan seorang tiran, mintalah selalu dukungan dari guru kalian, berusahalah selalu untuk mendundukkan ego kalian dan katakan bahwa kalian bukanlah tuan tertinggi–ana rabbukum a`la; tetapi guru kitalah yang mengajari kita, guru kitalah yang membawa kita ke Hadirat Ilahi, dan beliau adalah Sulthanul Awliya, Grandsyekh Muhammad Nazim al-Haqqani dan BELIAU SENANTIASA HIDUP, di mana pun kita berada, dukungannya sampai pada khalifahnya, dan kemudian sampai kepada kita, dan kita bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut.   Dalam situasi apa pun kalian dapat memohon dukungan kepada Grandsyekh, dan beliau tidak akan meninggalkan kita, beliau akan mengirimkan dukungannya kepada khalifahnya dan dari beliau kepada kita.

Mengapa kita memerlukan dukungan?

Grandsyekh mengatakan bahwa melalui ibadahnya, melalui tafakurnya, melalui dzikirnya seorang manusia dapat mencapai suatu maqam tertentu.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa Sayyidina Ahmad Badawi (qs) telah mencapai maqam Kalimullaah, di mana Allah berbicara langsung kepadanya dari balik hijab dan ini adalah maqamnya Sayyidina Musa (as).  

Suatu hari seorang Qutub, Shahibul Waqt melihat Sayyidina Ahmad Badawi, dan beliau berkata, “Wahai Ahmad, datanglah padaku, aku mempunyai kuncimu.”  Tetapi Ahmad Badawi berkata, “Aku tidak memerlukan kunci darimu. Aku hanya akan mengambil kunci dari al-Fattah, Yang Maha Membuka, Allah (swt). Aku mengambil dari-Nya dan aku tidak memerlukan kunci darimu.”  

Grandsyekh berkata, “Mengapa kita mengangkat kisah ini?”  Karena manusia tidak senang untuk merendahkan dirinya, ego mereka.  Ego tidak mau menghentikan apa yang dilakukannya, karena ego kita berpikir bahwa semakin banyak kita beribadah, semakin kuat perjuangan kita, semakin tinggi pahalanya; sehingga kita mengatakan, “Aku yang mencapainya sendiri, aku mencapainya dengan ibadah-ibadahku, aku mencapainya dengan tafakurku, dengan dzikirku, dengan shalawatku.  Akulah orang yang telah sampai pada hakikat, akulah orang yang … akulah, akulah, akulah….” Itulah ego. Jadi pada awalnya Sayyidina Ahmad Badawi melakukan ibadah hingga ia mencapai maqamnya Sayyidina Musa (as). Egonya memompa dirinya sehingga ia mengatakan, “Akulah orang yang telah mencapai maqam tersebut dengan ibadahku, dengan kekuatanku, dengan kecakapanku, dengan perjuanganku.”  

Shahibul Waqt tersebut datang padanya untuk meruntuhkan egonya.  Itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berpikir bahwa dengan membaca ini, atau dengan melakukan ini, itu, kita akan terbang, bergerak ke sana ke mari dan berkelana ke Langit.  Kita tidak menerima orang lain yang berkata, “Datanglah padaku, aku akan tunjukkan jalanmu, aku akan memberikan kuncimu.” “Tidak. Apa itu, aku tidak mau menerimanya darimu. Aku ingin mendapatkannya dari Tuhanku.”  Begitu banyak di antara kita yang melakukannya.

Grandsyekh mengatakan bahwa nafsul insan, yaitu ego manusia tidak akan membiarkan dirinya untuk merendahkan dirinya.  Tetapi Aturan Allah (swt) mengharuskan kalian untuk mengikuti Ahlullaah, orang-orang di Jalan Allah, para Awliya-Nya dan kalian menyerahkan ego kalian kepada mereka. Ego itu tidak mau berserah diri pada Ahlullaah, ia akan terus mengatakan “Ana rabbukum a’la”  Aku adalah tuhanmu yang tertinggi.   

Jadi apa yang terjadi pada Sayyidina Ahmad Badawi?  Suatu ketika saat ia sedang bertafakur, ia berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku melihat-Mu.”  Itu artinya Sayyidina Ahmad Badawi rindu untuk melihat Tuhannya, seperti kita semua, dan ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Musa (as) kepada Tuhannya.  Allah berkata, “Engkau tidak akan melihat-Ku.” Artinya “Selama dirimu masih ada, engkau tidak akan melihat-Ku. Selama engkau mengaku bahwa engkau ada, bahwa engkaulah yang bergerak, engkau yang melakukan sesuatu, engkau yang beribadah, engkau yang telah sampai; engkau tidak akan mencapai apa-apa, engkau tidak akan melihat-Ku.”  Grandsyekh mengatakan, “Barang siapa yang mengaku bahwa dirinya ada, ia tidak akan melihat Tuhannya.”

Itu artinya ia menjadikan egonya sebagai “yang kedua”.   Grandsyekh mengatakan bahwa Istana dari Raja dari semua raja tidak akan menerima adanya raja kedua, tidak ada yang kedua, hanya ada satu.  Allah berkata kepada Sayyidina Ahmad Badawi, “Wahai hamba-Ku, engkau tidak akan melihat-Ku, Aku telah memberikan kuncimu pada seorang Qutub, pada Shahibul Waqt, pergilah temui dia.”  Allah mengirimnya pada Qutub itu agar egonya dihancurkan sehingga tidak ada lagi “yang kedua” di istana Hadirat Ilahiah-Nya. “Kunci itu adalah jalan bagimu untuk berada di Hadirat-Ku, dan Aku telah memberikannya kepada Shahibal Waqt.”  Dan ini juga merupakan sebuah contoh bagi kita.

Kita semua ingin berada di Hadirat Tuhan kita, kita semua, termasuk semua Muslim, semua Imam, semua syuyukh, semuanya, bahkan semua non Muslim, tetapi untuk berada di Hadirat Ilahi, kalian harus menemukan, kalian harus mengikuti Qutbuz Zamaan, kalian harus menemukan Qutub dari zaman ini.  Kalian tidak bisa pergi begitu saja ke sembarang orang. Kalian harus menemukan Qutub, Qutub Mutasharrif, Sultan Awliya. Dan ketika kita telah menemukannya, ketika kita duduk, kita memohon dukungan kepada Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya. Sampai sekarang banyak orang yang tidak memohon dukungan kepadanya.  Untuk mencapai Hadirat Ilahi, kita harus menemukan Qutub Mutasharrif, Sulthanul Awliya.

Jadi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Grandsyekh Sulthanul Awliya, Sayyidina Ahmad Badawi akhirnya pergi untuk mencari Qutub yang memegang kunci tersebut, namun ia tidak dapat menemukannya.  Ia terus mencari dan mencari hingga akhirnya ia menyerah. Saat itulah sang Qutub menampakkan dirinya, dan berkata,

“Jadi engkau datang yaa Ahmad,”

“Ya Sayyidi, aku datang.”  

“Apakah engkau menyerahkan dirimu kepadaku?”  

“Ya Sayyidi, aku menyerahkan diriku padamu.”

Grandsyekh mengatakan bahwa Qutub itu memandang Ahmad Badawi sekali dan dengan sekali pandangannya itu, ia telah mencabut seluruh ingatan Ahmad Badawi dan mencabut seluruh ilmu dari dadanya.  Ia membuat Ahmad Badawi benar-benar berada di derajat terendah dan kemudian ia meninggalkannya. Selama enam bulan bahkan Ahmad Badawi tidak tahu lagi bagaimana caranya shalat.

Grandsyekh berkata, “Sebelum itu, ia shalat untuk dirinya sendiri, bukan untuk Tuhannya. Ia telah menjadikan dirinya sebagai Imam, ia menyebutkan dirinya sendiri, ia mengingat dirinya sendiri dan ia shalat untuk dirinya sendiri.”  Dan itu adalah contoh bagi kita. Betapa banyak di antara kita yang berdzikir dan shalat untuk diri sendiri. Mengapa? Untuk mengangkat derajat diri kita di depan orang-orang. Kita memberi mereka ilmu untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang alim, kita berzikir untuk menunjukkan bahwa diri kita seorang dzaakir, kita memberi mereka nasihat untuk menunjukkan bahwa diri kita luar biasa, itu semua adalah untuk kita, untuk mengangkat diri kita dan sayangnya itu yang terjadi sekarang ini.  Kita tidak beribadah untuk Allah (swt). Kalian dapat melihat pada hati kalian. Wahai Tuhan kami, ampunilah kami.

Jadi Qutub itu mencabut semua ilmu yang telah dicapai oleh egonya Ahmad Badawi–ilmu yang telah dipelajari oleh ego untuk mengangkat dirinya.  Dan ia dibiarkan selama 6 bulan sampai tidak mengetahui bagaimana caranya shalat. Sayyidina Ahmad Badawi berusaha mencari Qutub itu dan ia berjuang dengan sekuat tenaga namun ia tetap bersabar.  Dan setelah 6 bulan Qutub itu memperlihatkan dirinya kembali. Sayyidina Ahmad Badawi bertanya, “Ke mana saja engkau pergi yaa Sayyidi?” Qutub itu berkata, “Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku bersamamu, tetapi engkau tidak melihatku.”   Jadi jangan berpikir bahwa Sulthanul Awliya Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani meninggalkan kita, tidak, beliau bersama kita, tetapi kita tidak melihatnya.

Kemudian sekali lagi Qutub itu melihat pada Ahmad Badawi (qs) dan ia menuangkan ke dalam hatinya sebagaimana Rasululllah (saw) menuangkan ke dalam hati Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dan ia mengangkat kembali derajat Ahmad Badawi ke derajatnya semula, tetapi bukan melalui amal atau perbuatannya Ahmad Badawi.  Kita harus memahami hal ini, bahwa Qutub itu telah memenuhi hati Ahmad Badawi dengan ilmu dan cahaya, tetapi bukan melalui amal Sayyidina Ahmad Badawi, melainkan dari Kemurahan Allah (swt). Dan itu yang terjadi pada murid, pada seorang dzaakir, pada syaakir, pada shaabur, pada orang yang mengikuti jalan ini, mereka tidak perlu melihat buku-buku, mereka tidak perlu mempelajari ilmu-ilmu ini itu; yang mereka perlukan adalah menanti syekhnya untuk melihatnya dengan suatu pandangan dan mereka akan dipenuhi dengan ilmu dan cahaya kewalian dan itu berasal dari Kemurahan Allah (swt), itu berasal dari nikmat Allah (swt), bukan dari hasil perbuatan egonya, dan bukan dari pekerjaan setan.  Tidak ada lagi ananiyya, keinginan dan ilmu egoistik.   Ia tidak lagi dicap dengan cap ego.  Itu adalah dari Kemurahan Allah (swt).  Karena Ahmad Badawi tidak lagi dipengaruhi egonya, seluruh cahaya turun padanya, dan ia dibusanai dengan cahaya Allah (swt) dan cahaya Rasulullah (saw) dan saking kuatnya cahaya itu, Sayyidina Ahmad Badawi harus menutupi dirinya, kalau tidak orang akan pingsan ketika melihatnya.  Itulah yang berusaha kita raih.

Jangan terlalu berusaha untuk meraih suatu maqam dengan membaca atau belajar untuk diri kalian sendiri atau dengan diri kalian sendiri.  Tetap istiqomah berada di bawah gerbangnya Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, perkerjaan kalian adalah untuk menemukannya. Mencari apa? Mencari Qutbuz Zamaan.  Sekarang semua orang berusaha mencari melalui Google Search, tetapi ia tidak akan membawa kalian pada Qutbuz Zamaan.  Kalian harus menemui seorang shaadiq, orang yang dapat dipercaya.  Jika kalian belum dapat menemukan seorang mursyid, carilah seorang saudara yang dapat dipercaya.  Dan Allah akan tetap membukakan pintu itu sampai kalian menemukan seorang Qutub. Dan Qutub itu akan memenuhi hati kalian dengan ilmu dan cahaya, dan itu bukan dari ego tetapi dari Kemurahan Allah (swt), dan itu adalah ilmu sejati, ilmu ladunni, ilmu haqiqi.  

Jangan terkecoh oleh Setan, jangan terkecoh oleh ego yang mengatakan bahwa orang akan melihat kalian bila kalian mempunyai ilmu, yang artinya kalian bekerja untuk ego kalian, bukannya berusaha untuk mencapai Hadirat Ilahi.  Semoga Allah menjauhkan kita dari kendali ego kita. Semoga Allah senantiasa membuat kita berada di ambang gerbang Sang Qutub. Temukanlah Qutub itu, bila kalian tidak tahu siapa dia, mintalah kepada Allah dalam shalat kalian.  Al-Qutub adalah orang yang bersama dengan Shahibuz Zamaan, mintalah, “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku bersama dengan Shahibuz Zamaan. Panjangkan umurku untuk mencapai masanya.” Dan kalian akan menemukan Qutub yang akan membawa kalian pada Shahibuz Zamaan.  Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang diterima oleh Qutub dan membawa kita pada Shahibuz Zamaan, membawa kita pada Hadirat Ilahi. Aamiin yaa Rabbii.

Allahumma la takilna lii anfusina tharfata ‘ain, wa laa aqalla min dzalik“, ini adalah doa Rasulullah (saw), mengapa orang-orang tidak memahami doanya.  Beliau berkata, wahai Tuhanku, jangan tinggalkan aku pada egoku walau hanya sekejap mata.  Apa artinya? Itu artinya jangan membuat egoku sebagai guruku; jangan menjadikan egoku sebagai mursyidku; jangan membuat nafsuku menjadi pedoman bagaimana aku berbuat di dunia ini dan bagaimana tingkah lakuku dalam beragama; jangan membuat ego sebagai bos bagiku, bahkan untuk sekejap mata, itu artinya, “Jagalah diriku agar senantiasa bersama-Mu, Engkaulah guruku, Engkaulah pembimbingku, jangan tinggalkan aku pada egoku.”  Sayangnya begitu banyak dari kita yang dikuasai ego kita melalui perbuatan kita sendiri. Bacalah doa itu, mintalah dukungan pada Allah (swt), Dia akan melindungi kalian dari ego kalian.

Semoga Allah melindungi kita dari ego kita, semoga Allah memberikan kita dari Cahaya-Nya yang tak terhingga.

© Copyright 2018 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.