Mengirim Salam kepada Nabi ﷺ

19956799_1398343806886635_445656343689160005_o
 
Para Sahabat (ra) biasa melewati Nabi (saw) dan memberi salam. Tugas kita adalah mengucapkan, “As-salaamu `alayka yaa ayyuha ‘n-Nabi.”  Kita harus bertafakur ketika mengucapkan “As-Salaamu `alayka” di dalam shalat kita, bahkan hanya untuk sesaat, karena Nabi (saw) hadir. Shalat tidak diterima bila beliau (saw) tidak hadir dan melihat kalian. Jika beliau tidak hadir maka kalian akan merugi.
 
Jadi beliau hadir karena kita mengucapkannya di dalam at-Tahiyyat, “As-salaamu `alayka yaa ayyuhan- nabiyyu (yaa Muhammad)!” menyapanya secara langsung dan beliau hadir, tetapi kalian tidak melihatnya, beliau berada di sana. Allahumma shalli `ala Sayyidina Muhammad.
 
Sebagaimana yang dikatakan oleh para Awliya, kita harus bersyukur kepada Allah bahwa Dia telah menjadikan kita sebagai bagian dari umatnya dan mengajarkan kita apa yang perlu kita pelajari dari para Sahabatnya (ra). Para Sahabat (ra) menanggung beban yang berat, mereka menyebarkan Islam ke mana-mana; mereka berkorban dan ada yang terbunuh, sementara kita tidak melakukan apa-apa.
 
Dengan semua itu, Nabi (saw) bersabda, “Kalian adalah ash-haabi, mereka adalah ahbaabi, mereka percaya padaku walau tidak melihatku, namun aku melihat mereka.” Nabi (saw) melihat kita. Jika beliau mengatakan, “Aku mengamati amal umatku setiap hari,” di Makamnya yang Suci, apakah maksudnya? Beliau melihat, namun kita tidak hadir. Beliau hadir. Ketika kita mengatakan, “hadhirun, nadhirun,” Nabi (saw) melihat! Oleh sebab itu kit harus menjaga adab.
 
Ketika kalian pergi bekerja di pagi hari, kalian mandi terlebih dahulu, mengapa? Untuk membersihkan diri kita agar siap ketika berada di depan boss atau presiden perusahaan. Mengapa kita tidak membersihkan diri kita di hadapan Nabi (saw)? Pertanyaan kedua, mengapa kita tidak menunjukkan hormat kepada Allah (swt)? Agar bersih, kalian membersihkan jiw dan raga kalian. Itulah yang mereka inginkan melalui shalat, tetapi kalian harus detang dalam keadaan bersih dan kita, kita penuh dengan… kita mohon ampun. Jika kita mohon ampun, Allah akan mengampuni. Untuk itu kita ucapkan, “astaghfirullah.”
 
Jadi, ketika kalian akan pergi menjumpai tunangan atau istri kalian, atau kalian akan pergi mengunjungi teman kalian, kalian akan mengenakan pakaian terbaik kalian bukan? Mengapa? Karena kalian mencintai orang yang akan kalian jumpai, kalian tidak akan berpenampilan kotor.
 
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Rahasia Memberi Salam kepada Nabi ﷺ

16587199_1250558664998484_3439233937190061324_o

Wahai Muslim! Teruslah memberi salam. Teruslah mengirim tahiyaat.  As-aalaamu `alayka – salaam kepada Nabi (saw), as-salaamu `alayna wa `ala `ibadillahi ‘sh-shaalihiin, dan kemudian kepada kita semua. At-tahiyaatu ‘lillah, “At-tahiyaat bagi-Mu, ya Allah.” Ketika kalian mengunjungi seseorang, untuk masuk ke dalam rumah mereka, kalian harus mengucapkan, as-salaamu `alaykum. Kalian harus mengucapkannya dengan cara yang terbaik. Bahkan jika pintunya terbuka, kalian tetap mengetuknya karena itu adalah adab. Allah mengajari kita–pada akhir shalat–bagaimana untuk berada di Hadirat-Nya. Baiklah, kalian telah melakukan shalat kalian dan sekarang kalian harus mempersembahkannya. Kalian duduk dengan tawaduk sambil berdoa, duduk dalam hadirat Sang Raja. Kalian duduk di lantai dengan adab. Kemudian kalian berbicara, “Yaa Rabbii,” kalian belum lagi mengucapkan at-tahiyaat.

Tetapi karena kalian tidak dapat melihat dan tidak dapat mengetahui karena itu jauh dari qalbu kalian untuk mengetahui, kalian harus memberi salam kepada Allah (swt) secara in absentia. Itulah sebabnya ketika kalian mengucapkan, wa ‘sh-shalawaatu; kalian tengah mempersiapkan diri kalian untuk mencapai shalawat tertinggi, artinya segala pujian akan terkandung di dalamnya. Shallu `Alayh adalah sebuah doa, dan setiap pujian dan setiap penghormatan akan terkandung di dalamnya. Itu artinya, “Wahai hamba-Ku, kalian akan menerima segala macam pujian yang kembali pada kalian. Aku adalam al-Kariim, Yang Maha Pemurah.” Allah (swt) akan memberinya dari Kemurahan-Nya itu.

Dia akan memberi kalian segala pujian. Sekarang kalian membaca ribuan macam doa, seperti dalam Burdah Syariif dari Imam Busyiri; semua ini akan dimasukkan seolah-olah kalian telah membacanya semua dengan satu kata: shalawat. Setelah kalian mempersembahkan at-tahiyaat dan shalawaat, kalian menjadi thayyib, suci dan murni, bukan seperti, bukan seperti Qaabil saat bersama Haabil: kalian tidak bisa menawarkan yang terburuk, kalian harus menawarkan yang thayyib.

Bila kalian menawarkan yang thayyib itu, maka pintu akan dibukakan bagi kalian untuk memasuki hadirat suci Sayyidina Muhammad (saw), karena kalian tidak bisa masuk sebelumnya, hanya Sayyidina Muhammad (saw) yang bisa masuk ke sana. Tetapi ketika kalian masuk ke dalam hadirat suci Sayyidina Muhammad (saw), kalian disambut oleh Allah dengan pujian terbaik dan kalian kemudian mengucapkan, As-salaamu `alayka secara langsung kepadanya (saw). Tidak seorang pun dari ideologi apa pun yang dapat mengatakannya, itu adalah sulit.

Itulah sebabnya mengapa Ibn Mas`uud (ra) berkata bahwa ketika mereka mengucapkannya, mereka mengucapkan, As-salaamu `Alayna ayyuha ‘n-Nabi (saw). Tetapi ketika Nabi (saw) wafat, mereka mengubahnya. Karena bagi mereka, Nabi (saw) meninggalkan dunia, kemudian Ibn `Abbas (ra) berkata, “Tidak, itu harus menjadi As-salaamu `alayka, (dengan huruf Arab kaaf) karena salam kita langsung kepada Nabi (saw), karena beliau masih berada di sini bersama kita.”

Setiap orang yang mengucapkan, “As-salaamu `alayka,” Nabi (saw) hadir bersamanya, tetapi ia harus dalam keadaan suci. Ideologi yang menentang Ahlu ‘s-Sunnah mempunyai masalah dengan Sayyidina Muhammad (saw)!

Jadi ketika kita memberi salam, Nabi (saw) wajib menjawab salam itu. Dan bila kalian berada dalam hadirat Nabi (saw), kalian harus berdoa untuk seluruh Muslim; kalau tidak maka itu tidak lengkap. Ketika kalian menyempurnakan diri kalian dengan mengucapkan at-tahiyaat, kemudian salaam, dan kemudian memberi salaam untuk semua orang, maka tauhid kalian dapat diterima.

Dengan demikian kalian akan memahami makna syahaadah kalian. Karena ketika kalian mengucapkan, la ilaaha illa-Llah (Tidak ada tuhan kecuali Allah), kemudian kalian mengucapkan asy-hadu, (Aku bersaksi), itu mempunyai makna yang berbeda sepenuhnya. Kalian bersaksi.

Tetapi bersaksi pada apa, bila kalian tidak suci? Jadi Allah mempersiapkan diri kalian dengan memperkenankan kalian duduk dan mengucapkan salaam dan dalam hadirat suci itu menegaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, dan Sayyidina Muhammad (saw) adalah Nabi-Nya. Itulah mi`raj kalian, ketika kalian duduk berlutut, itulah saatnya kalian memasuki mi`raj, yang sebenarnya adalah tiruan, tetapi Allah (swt) akan menerimanya dari kalian.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia