Kita Belum Menjadi Murid

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
20 Oktober 2012,  Fenton, Michigan
Shubhah setelah Zikir
A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,
nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-suluuk, lillahi ta`alaa fii haadza ‘l-masjid.
أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum.
Taati Allah, taati Rasul, dan taati orang-orang yang mempunyai otoritas di antara kalian. (Surat an-Nisa, 4:59)

Madad yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah! Madad, yaa Awliyaullah! Madad, yaa Sulthan al-Awliya, madad.

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. 
Saya tidak berencana untuk memberi shuhbah, tetapi karena banyak orang yang datang, saya akan membuat shuhbah singkat, kemudian Syekh Shahib akan memimpin (salat) `Isya.

Islam adalah mempelajari apa yang bermanfaat bagi kita, karena Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,

ِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُُ

Inna ad-diina `inda Allaahi al-Islaam.

Agama (yang diridai) di sisi Allah adalah Islam (tunduk pada Kehendak-Nya).  (Surat Aali-`Imraan, 3:19)

Jadi, untuk dapat memahami Islam, kita perlu memahami struktur yang Allah (swt) kirimkan kepada Utusan-Nya, Sayyidina Muhammad (saw), dan membangun di atas stuktur tersebut apa pun yang telah kita pelajari dari Islam karena itu adalah struktur utamanya.  Ketika kalian membangun sebuah gedung, kalian memperkuatnya dengan baja dan beton sehingga ia dapat menyokong banyak tingkat. Islam juga mempunyai struktur yang telah Allah kirimkan kepada Nabi (saw) sebagai pedoman bagi kita. Itu sangat sederhana dan orang-orang banyak melewatkannya, tetapi tidak menerapkannya.  Kita harus memperhatikan apa yang dikatakan oleh Nabi (saw), khususnya di masa yang penuh dengan nafsu duniawi yang mempengaruhi iman kita. Islam sepenuhnya berdasarkan pada apa yang disebutkan oleh Nabi (saw),

اإنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Innamaa bu`itstu li utammima makaarim al-akhlaaq.
Aku tidak diutus melainkan untuk melengkapi akhlak. (Bukhari in Adab al-Mufrad)

Kita harus memperhatikan kata dalam Bahasa Arab, “Innamaa” yaitu menegaskan bahwa “Aku telah,” “bu`itstu” artinya “diutus,” dan “li utammima” diterjemahkan sebagai “untuk melengkapi”, bukan seperti yang banyak dijelaskan oleh para ulama sekarang, “untuk menyempurnakan”.  Tetapi ulama-ulama Arab mengatakan bahwa “utammin” adalah “untuk melengkapi” akhlak dan perilaku, yang artinya Nabi (saw) mengambilnya sebagai tanggung jawabnya di hadapan Allah bahwa, “Yaa Rabbii! Engkau telah mengutusku untuk melengkapi,” yang artinya, “Aku tidak akan membiarkan seseorang datang dengan tidak lengkap (pada Hari Kiamat).”  Allah memberinya sesuatu yang tidak diberikan kepada makhluk apa pun dan tak seorang pun dapat melengkapinya. Kullu nafsin, setiap orang bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, tetapi Nabi (saw) bersabda, “Aku akan bertanggung jawab untuk semua orang.”  Tak seorang pun yang tidak lengkap pada saat Hari Kiamat dengan kekuatan yang Allah berikan kepada Nabi (saw). Beliau (saw) tidak mengharapkan kita menjadi lengkap, karena beliau (saw) tahu bahwa kita senantiasa berjuang, satu hari kita berada di jalan yang benar, satu hari lainnya kita di jalan yang salah.  “Melengkapi” maksudnya menghilangkan semua karakter buruk dan membusanai kalian dengan karakter yang baik. Misalnya, Nabi (saw) menyingkirkan semua pakaian yang kotor dan memberi pakaian yang bersih dari sisinya, artinya beliau (saw) membuang `amal yang buruk dan menggantinya dengan `amal yang baik.

Dalam sebuah hadits Nabi (saw) disebutkan bahwa,

حياتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم ، فإذا أنا مت كانت وفاتي خيرا لكم ، تعرض علي أعمالكم فان رأيت خيرا حمدت الله تعالى وإن رأيت شرا استغفرت لكم

Hayaatii khayrun lakum tuhaditsuuna wa yuhdatsa lakum fa idzaa anaa mitt kanat wafaatii khayran lakum. Tu`radhu `alayya `amal ummatii, wa in wajadtu khayran hamadt ‘Allah wa in wajadtu ghayrah  astaghfarta lakum.

Aku mengamati `amal umatku.  Jika aku mendapatinya baik, aku bersyukur kepada Allah, tetapi bila aku menjumpainya selain dari itu, menjumpainya dalam keadaan buruk, aku memohon ampun bagi mereka. (al-Bazzaar di dalam Musnad-nya)

Jadi kita beruntung menjadi bagian dari Ummat an-Nabi (saw), tetapi kita tidak memberikan haknya, memuliakan bahwa atas nama kita Nabi (saw) melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan.  Paling tidak kita musti menunjukkan bahwa kita berjuang, tetapi sekarang orang-orang ceroboh dan tidak memberi perhatian pada apa yang berada di sekitar mereka.  Jika kalian melihat bahwa seorang Muslim tidak berpuasa dan bertanya pada kalian mengapa, mereka mengatakan, “Oh, kepalaku sakit.” Kalian bertanya pada orang kedua, “Mengapa engkau tidak puasa?”  “Oh, aku sedang sekolah.” Kalian bertanya pada orang ketiga, “Mengapa engkau tidak puasa?” Ia akan berkata, “Karena aku sedang jogging!”  Mengapa engkau jogging?  Setiap orang mempunyai alasan.  Mengapa engkau tidak salat? “Aku tidak punya waktu.”

Pada Hari Kiamat, akankah kalian berkata kepada Allah, “Aku tidak punya waktu.”  Apa yang akan Dia katakan pada kalian? “Masuklah ke Neraka, karena sekarang Aku tidak punya waktu untukmu!”  Ketika Nabi (saw) melihat kemalasan dari umat ini, beliau (saw) mengambil tanggung jawab pada dirinya sendiri dan berkata, “Aku akan melengkapinya atas nama kalian dan kalian akan muncul sebagai yang terbaik di Hari Kiamat.”  (Tetapi itu) adalah sepanjang kalian bershalawat atas Nabi (saw), “Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammad wa `ala aali Sayyidina Muhammad.”

Shalawat adalah apa yang Allah (swt) inginkan dari kita, agar kita tahu nilai dari Nabi-Nya (saw)!  Allah (swt) memerintahkan para malaikat untuk bershalawat untuk mengetahui nilai Nabi-Nya dan itu artinya shalawat adalah jalan menuju “tanah yang aman” atau “tepi yang aman”.  Setiap saat kalian mengalami kesulitan, ingatlah bahwa Allah (swt) memerintahkan kalian untuk bershalawat atas Kekasih-Nya di mana Dia akan membuat sepuluh shalawat untuk kalian, yang artinya Dia akan menghilangkan segala kesulitan!  Nabi (saw) menyebutkan dalam sebuah hadits,

من صلى علي مرة صلى الله عليه بها عشرا

Man shalla `alayya marrah, shalla ’Laahu `alayhi bihaa `asyara.
Barang siapa yang bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atanya sepuluh kali. (Sahih)

Shalawatnya Allah tidak seperti kita; shalawatnya Allah penuh dengan pahala dan menghilangkan semua kesulitan.  Jika kalian sakit, mempunyai masalah secara umum atau mempunyai masalah dalam pernikahan, bershalawatlah dan semua masalah itu akan hilang!  Jika kalian hanya duduk di tempat tidur dengan kaki terentang, tidak bershalawat, itu tidak akan berhasil. Jika kalian sakit, kita pergi ke dokter dan kita menunggu dengan cemas di ruang gawat darurat hingga empat jam.  Serupa halnya, Allah mengatakan kepada kita untuk bershalawat atas Nabi (saw) dengan harap-harap cemas. Jika kalian bershalawat selama satu jam, setengah jam, atau bahkan selama lima menit, itu sudah cukup!

Allahumma shalli `alaa Sayyidina Muhammad! Allahumma shalli wa sallim wa baarik `alaa habiibika wa nabiyyika, Sayyidina Muhammad (saw)!

Jadi Allah ingin hamba-hamba-Nya mempunyai akhlak yang baik dan tidak kasar.  Setiap orang mempunyai jalan yang berbeda dalam menunjukkan kekasarannya. Allah (swt) tidak menyukai sikap yang kasar.  Nabi (saw) tidak pernah berkata, “laa” sepanjang hidupnya, beliau (saw) menerima segalanya.  Bagi kita, jika sesuatu itu tidak sesuai dengan diri kita, kita katakan, “Tidak!”  Kita tidak setuju dengan apa saja kecuali istri kita. Kalian tidak bisa mengatakan tidak kepada mereeka, benar kan?  Mengapa? Saya tidak tahu, tetapi ini sudah menjadi tradisi sekarang, jadi kita ikuti hal itu.

Allah (swt) tidak menyukai seseorang yang kasar, itulah sebabnya Dia mengutus Nabi (saw), yaitu untuk menyingkirkan sifat kasar itu dari manusia dan menjadikan mereka sebagai orang yang baik.  Ketika orang melihatnya, mereka senang, bukannya marah, serius atau sepanjang waktu tidak senyum. Allah (swt) tidak menyukai karakter itu. Sering-seringlah senyum dan bershalawat, kalian akan memiliki dunia dan akhirat dan semoga Allah memberi kita dunia dan akhirat!

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa atinaa fii ‘d-dunyaa hasanatan wa fii’l-akhirati hasanatan waqinaa `adzaba an-naar.

Wahai Tuhan kami!  Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa Api Neraka!” (Surat al-Baqarah, 2:201)

“Selamatkan kami dari Api Neraka.”  Jika kita ingin diselamatkan, itu seperti itu.  Itu artinya mintalah agar Allah (swt) mengaruniai kalian agar mempunyai satu kaki di dunia dan satu di akhirat, tidak semuanya hanya di dunia.  Alhamdulillah, kehadiran kalian di sini memperlihatkan bahwa kalian sehat dalam ibadah kalian, dan kalian senang untuk berada di Rumah Allah.  Beberapa orang datang dari jauh, untuk apa? Untuk hubb, cinta.  Allahu Akbar!  Ia berasal dari dua huruf, yaitu “Haa” dan “Baa”, membentuk kata, “Cinta”

Allah (swt) berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Qul in kuntum tuhibbuuna ‘Llaaha fattabi`uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum w ‘Allaahu Ghafuuru ‘r-Rahiim.

Katakanlah (Wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku!  Niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Aali-‘Imraan, 3:31)

Itu artinya Allah mencintai hamba-Nya. ‘Haa’ adalah simbol dari hayyat, hidup.  Allah tidak hanya akan memberi kalian hubb (cinta di dunia ini), tetapi Allah memberikan hayyat al-abadiyya, Kehidupan yang Abadi. ‘Baa’ melambangkan “baqa,” yang artinya “kekal” atau “tidak pernah berakhir,” dan itulah makna dari ‘hubb:’ ketika Allah mencintai kallian, Dia memberi kalian kesehatan, kebaikan, kehidupan yang kekal, di dunia dan akhirat.  Itu dari dua huruf dan kita tidak ingin lagi! Cinta Allah (swt) dan cinta Nabi (saw), kalian akan selamat, karena bila kalian mencintai seseorang, kalian akan patuh padanya.  Jika kalian mencintai istri kalian, kalian mematuhinya dan begitu pula sebaliknya. Jadi, bagaimana menurut kalian tentang cinta pada Allah dan Nabi-Nya (saw)? Athii`uullaha wa athii`uu ‘r-Rasuul, karena bila kalian cinta, Allah memberi kalian kepatuhan dan menempatkan kalian di jalur yang benar.  Semoga Allah (swt) membuat kita semua cinta pada-Nya dan cinta Nabi-Nya, dan menyingkirkan semua kesulitan, dan mengaruniakan kita apa pun yang kita minta.

Allah tidak senang bila kalian mengeluh, Dia lebih senang jika hamba-Nya mengingat-Nya!  Sekarang bila kalian bertanya pada orang-orang di sini, “Apakah kalian murid?” Mereka akan berkata, “Ya,” tetapi pada hakikatnya tidak.  Kita belum mencapai level murid, kita masih pemula.

Sayyidina Syah Naqsyband (q), Imam ath-Thariqah Naqsybandi, sangat kaya sejak usia muda.  Paling tidak lima ribu orang menghadiri majelisnya dan beliau memberi makam mereka semua dari pendapatannya.  Suatu hari beliau berjalan dan mulai merasakan keinginan untuk mengunjungi Syekhnya, Sayyidina Amir Kulal (q).  Beliau berada di lorong, merasakan antara sahuw dan ghaybah, antara keadaan terjaga dan tertidur–namun itu bukan kata-kata yang tepat.  Ghaybah dan sahuw artinya antara keadaan jazbah dan haal, suatu keadaan spiritual, dalam level yang tidak merasakan apa-apa kecuali cinta pada Allah (swt) dan Nabi (saw).  Beliau datang dekat rumah Syekh dan segera setelah beliau masuk, Syekh mengetahui nama Syah Naqsyband (q), walaupun mereka belum pernah bertemu, tetapi Sayyidina Syah Naqsyband (q) telah mengambil baya` melalui seseorang yang dikenal oleh Syekh.

Syekh bertanya, “Siapa ini?”
Murid-murid berkata, “Ini adalah Syah Naqsyband.”
Beliau berkata, “Usir dia!”

Syah Naqsyband berkata, “Pada saat itu aku merasa tidak senang dan Setan mulai bermain denganku dan egoku berkata, ‘Apa yang ingin kau lakukan dengan Syekh ini?’  Namun demikian kesadaranku berkata, ‘Tidak (jangan pergi).’”

Jadi, mereka mengeluarkan Syah Naqsyband (q), tetapi tidak ada tempat baginya untuk pergi, karena hari sudah malam dan turun salju.  Beliau pergi ke ambang pintu Sayyidina Amir Kulal (q), berlutut dan meletakkan kepalanya di dasar pintu dan tinggal di sana. Kepalanya benar-benar dipenuhi salju, tetapi beliau tidak merasakan dinginnya karena beliau dalam keadaan ghaybah, gaib/tidak hadir/absen.  Waktu Subuh tiba dan Syekh keluar untuk berwudu, beliau melangkah ke atas kepala Syah Naqsyband (karena beliau tidak tahu Syah Naqsyband  berada di situ).

Sayyidina Amir Kulal (q) berkata, “Oh, kau di sini?”
Syah Naqsyband (q) berkata, “Ya, aku di sini.”
Sayyidina Amir Kulal (q) berkata, “Aku mengujimu.  Engkau sungguh seorang murid.”

Beliau membawa Syah Naqsyband (q) ke dalam, membersihkannya dan menghilangkan duri-duri dari kakinya dan mulai membusanainya dengan ma`arifah, Ilmu Ilahiah.  Ini adalah murid sejati, dan dengan kisah singkat ini, kita dapat mengatakan bahwa kita bukanlah murid sejati, kita berusaha (untuk menjadi murid), karena Syekh tidak mengatakan kepada kalian untuk pergi, karena kalian bukan murid sejati, tetapi kita tahu bahwa kita sedang berusaha.  Lanjutkan perjuangan kalian, karena jika kalian menjadi lebih baik satu persen, itu berarti lebih baik dan membuat Allah rida, sebagaimana dinyatakan dalam hadits:

يقول الله عز وجل: من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، ومن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منه، ومن تقرب إلي شبراً تقربت منه ذراعاً، ومن تقرب مني ذراعاً تقربت منه باعاً، ومن أتاني يمشي أتيته هرولة

Man dzakaranii fii nafsihi dzakartahu fii nafsii wa man dzakaranii fii mala’ain dzakartahu fii mala’ain khayra minhu wa man taqarrab ilayya syibran taqarrabtu minhu dziraa`an wa man taqarrab minnii dziraa`an taqarrabtu minhu baa`an wa man ataanii yamsyii aataytahu harwalah.

Aku seperti yang dipikirkan oleh hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia menyebut nama-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku di dalam hatinya, Aku menyebut namanya di dalam hati-Ku; dan jika dia menyebut nama-Ku dengan berjamaah, Aku menyebut namanya dalam jamaah yang lebih besar. Dan jika dia mendekatiku sejangkauan tangan, Aku akan mendekatinya sejangkauan lengan; dan jika dia mendekati-Ku sejangkauan lengan, Aku akan mendekatinya sejangkauan galah. Dan jika dia mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari” (Hadits Qudsi).

Bahkan jika kalian melakukan satu persen kebaikan dalam hidup kalian, kalian akan masuk Surga.  Nabi (saw) bersabda (kepada para Sahabat), “Jika kalian melakukan sembilan puluh persen dari apa yang aku perintahkan, kalian akan berada di tangan-tangan yang baik.  Akan tiba suatu masa di mana jika mereka hanya melakukan sepuluh persen dari apa yang aku katakan kepada mereka, mereka akan masuk Surga.”

Jadi sekarang mereka hanya meminta kita untuk melakukan sepuluh persen, artinya jika kalian menunjukkan perbuatan baik apa pun yang kalian lakukan, mereka akan membawa kita pada keselamatan dan membuat mereka bahagia.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://www.sufilive.com/We_are_not_Mureeds-4666.html

© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Mengirim Salam kepada Nabi ﷺ

19956799_1398343806886635_445656343689160005_o
 
Para Sahabat (ra) biasa melewati Nabi (saw) dan memberi salam. Tugas kita adalah mengucapkan, “As-salaamu `alayka yaa ayyuha ‘n-Nabi.”  Kita harus bertafakur ketika mengucapkan “As-Salaamu `alayka” di dalam shalat kita, bahkan hanya untuk sesaat, karena Nabi (saw) hadir. Shalat tidak diterima bila beliau (saw) tidak hadir dan melihat kalian. Jika beliau tidak hadir maka kalian akan merugi.
 
Jadi beliau hadir karena kita mengucapkannya di dalam at-Tahiyyat, “As-salaamu `alayka yaa ayyuhan- nabiyyu (yaa Muhammad)!” menyapanya secara langsung dan beliau hadir, tetapi kalian tidak melihatnya, beliau berada di sana. Allahumma shalli `ala Sayyidina Muhammad.
 
Sebagaimana yang dikatakan oleh para Awliya, kita harus bersyukur kepada Allah bahwa Dia telah menjadikan kita sebagai bagian dari umatnya dan mengajarkan kita apa yang perlu kita pelajari dari para Sahabatnya (ra). Para Sahabat (ra) menanggung beban yang berat, mereka menyebarkan Islam ke mana-mana; mereka berkorban dan ada yang terbunuh, sementara kita tidak melakukan apa-apa.
 
Dengan semua itu, Nabi (saw) bersabda, “Kalian adalah ash-haabi, mereka adalah ahbaabi, mereka percaya padaku walau tidak melihatku, namun aku melihat mereka.” Nabi (saw) melihat kita. Jika beliau mengatakan, “Aku mengamati amal umatku setiap hari,” di Makamnya yang Suci, apakah maksudnya? Beliau melihat, namun kita tidak hadir. Beliau hadir. Ketika kita mengatakan, “hadhirun, nadhirun,” Nabi (saw) melihat! Oleh sebab itu kit harus menjaga adab.
 
Ketika kalian pergi bekerja di pagi hari, kalian mandi terlebih dahulu, mengapa? Untuk membersihkan diri kita agar siap ketika berada di depan boss atau presiden perusahaan. Mengapa kita tidak membersihkan diri kita di hadapan Nabi (saw)? Pertanyaan kedua, mengapa kita tidak menunjukkan hormat kepada Allah (swt)? Agar bersih, kalian membersihkan jiw dan raga kalian. Itulah yang mereka inginkan melalui shalat, tetapi kalian harus detang dalam keadaan bersih dan kita, kita penuh dengan… kita mohon ampun. Jika kita mohon ampun, Allah akan mengampuni. Untuk itu kita ucapkan, “astaghfirullah.”
 
Jadi, ketika kalian akan pergi menjumpai tunangan atau istri kalian, atau kalian akan pergi mengunjungi teman kalian, kalian akan mengenakan pakaian terbaik kalian bukan? Mengapa? Karena kalian mencintai orang yang akan kalian jumpai, kalian tidak akan berpenampilan kotor.
 
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Ibadah yang Mudah

16298393_10154296042370886_1564412081114490125_n

Wahai Muslimiin, wahai orang-orang beriman! Untuk mengikuti (ittiba’) bukanlah sesuatu yang mudah. Suatu hari kalian terjatuh, dan di hari lain kalian bisa mengikuti, inilah yang umumnya terjadi. Untuk mengikuti sepenuhnya, 100%, sunnah Nabi (SAW), yang merupakan kewajiban bagi kita, adalah sesuatu yang sulit. Seseorang pernah mendatangi Nabi (SAW) dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah! Prinsip-prinsip Islam terlalu banyak bagiku. Berikanlah sesuatu untukku yang mudah untuk kulakukan sebagai ibadah,” dan Nabi (SAW) pun menjawab, “Jagalah agar lidahmu selalu bergerak dalam Dzikrullah,” bukannya melakukan ghibah (menggunjing) atau menyebarkan isu yang jelek (hoax, red.), tetapi lakukanlah dzikrullah, bacalah sholawat, bacalah Qur’an Suci atau lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya.

Syaikh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Shalawatnya para Malaikat

15977227_1218786238175727_8629781162530419386_n
 
Wahai Mukmin! Jika kalian tahu apa yang Allah simpan untuk kalian karena cinta kalian terhadap Nabi (saw), kalian akan meninggalkan (urusan) dunia ini dan pergi ke pegunungan dan hutan dan tidak peduli dengan apa pun! Perbanyaklah shalawat atas Nabi (saw) dan jangan malas melakukannya karena tidak ada sesuatu yang lebih menguntungkan.
 
Shalat kalian, puasa, zakat, haji dan tawhid adalah suatu kewajiban, tetapi shalawat adalah sunnah. Itu adalah anjuran dari Allah, “Jika kalian mau melakukannya, Aku akan memberi kalian apa yang tidak bisa kalian bayangkan.” Jika kalian tidak ingin melakukannya, itu terserah kalian, tetapi kalian adalah bagian dari Ummat an-Nabi (saw) jadi para malaikat akan melakukannya bagi kalian. Mengapa para malaikat bershalawat, apakah untuk mereka sendiri? Itu adalah untuk Ummat an-Nabi (saw)! Orang-orang yang bershalawat atas Nabi (saw) akan dihiasi dengan shalawatnya para malaikat.
 
Dapatkah kalian menghitung jumlah malaikat? Sekarang mereka sedang diciptakan dan di masa mendatang mereka juga akan diciptakan terus, non-stop. Jika kalian mengatakan bahwa tidak ada lagi malaikat yang diciptakan, itu adalah haram, karena para malaikat akan terus diciptakan dan mereka semua melakukan shalawat. Ayatnya jelas. Inna-Llaaha wa malaa’ikatahu yushalluuna `ala ‘n-nabiyy, yaa ayyuha ’Lladziina aamanuu shalluu `alayhi wa sallimuu tasliima. Mereka mempunyai awal karena hanya Allah saja yang tidak mempunyai Awal, tetapi para malaikat itu akan terus diciptakan tanpa henti seperti halnya manusia dan jin, yang juga mempunyai awal, tetapi mereka akan abadi, apakah di Surga atau di Neraka Jahannam.
 
Jadi, para malaikat itu mempunyai awal, tetapi tidak mempunyai akhir, dan untuk siapa shalawat mereka? (Pahala) shalawat itu akan diberikan kepada kalian, Ummat an-Nabi (saw).
 
Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

msh_q_68

“Bacalah shalawat atas Nabi! Yaa Allah, kirimkanlah kedamaian dan berkah atas Utusan Allah! Wahai Rahmat bagi segenap alam, wahai Sang Pemberi Syafaat bagi mereka yang berdosa, wahai Ciptaan Pertama Allah dan Cahaya Ciptaan-Nya, Wahai Rasulallah!”

“Mencintai Nabi (saw) adalah kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah, bagi setiap Mu’min dan Mu’minah, dan bagi semua hamba-hamba Allah (swt): mereka harus mencintai Nabi (saw)! Jika mereka tidak mencintai Nabi (saw) berarti mereka berada di luar Islam. Cinta kita pada Nabi (saw)-lah yang akan menyelamatkan diri kita. Bagaimana cinta itu menyelamatkan kita? Hal ini sebagaimana apa yang telah disabdakan Nabi (saw) kepada seorang Badui, bahwa manusia akan dibangkitkan pada Hari Pembalasan nanti bersama orang yang mereka cintai. Kalian mencintai saya, kalian akan bersama saya. Kalian mencintai Muhammad (saw), kalian akan bersama Muhammad (saw).”

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia
http://www.naqsybandi.com

Hikmah Bershalawat

15241392_10154125201140886_4594990215408657879_n

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓٮِٕڪَتَهُ ۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّۚ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

“InnaLlaaha wa malaai’katahu yushalluuna ‘ala ‘n-Nabiyy, Yaa ayyuha ‘l-ladziina aamanuu shalluu ‘alayhi wa sallimuu tasliimaa.”
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzaab, 33:56)

Para Malaikat diperintahkan untuk bershalawat atas Nabi (saw). Mengapakah mereka diperintahkan untuk melakukan shalawat? Ada hikmah di situ. Mereka diperintahkan untuk bershalawat, karena ketika kita bershalawat atas Nabi (saw), mereka, yaitu para Malaikat, akan menjawab shalawat kita dengan shalawat mereka. Jawaban mereka akan mengangkat diri kita dan membuat kita naik melalui kekuatan-kekuatan ruhaniah kita. Kalian tidak mengetahuinya karena kalian tidak merasakannya sebab kalian terhijab. Tapi pada hakikatnya, ketika kalian bershalawat, kalian akan memperoleh satu shalawat dan kalian tidak dapat membayangkan limpahan karunia yang Allah (swt) akan berikan bagi kalian. Jika kalian membaca shalawat satu kali, kalian memperoleh satu pahala, jika kalian membaca shalawat dua kali, kalian memperoleh lebih banyak pahala, dan shalawat yang pertama tak akan pernah menyerupai shalawat yang kedua; Shalawat-shalawat itu pasti berbeda (tajalinya, red.). Dan selama kalian membaca shalawat, Allah (swt) mengirimkan pada kalian shalawat-shalawat pula, ini yang Dia telah sebutkan (dalam ayat di atas).

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia
www.naqsybandi.com

Tanda-Tanda Seorang Darwis Sejati

24139781894_56f7736efe_z

Syekh Hisyam Kabbani
30 Januari 2016   Zawiyah Fenton, Michigan
Shuhba Zhuhr

Grandsyekh `AbdAllah, semoga Allah memberkahi ruhnya, pada suatu hari berkata di dalam shuhba-nya mengenai tanda-tanda atau gambaran tentang seorang darwis.  Seperti dalam pertemuan ini misalnya kita katakan keluarkan tasbih kalian dan bertasbihlah; sebagian membawanya, yang lain tidak.  Kalian harus selalu siap sedia, seperti halnya ketika di padang pasir atau di dalam hutan, kalian merasa takut dengan harimau sehingga kalian membawa sebilah pisau karena kalian tidak tahu siapa yang menyerang kalian.  Agar tidak diserang oleh Setan, karena setiap saat ia dapat menyerang kalian–kalian harus membawa kelima tanda ini, sehingga ketika seorang wali melihat, ia akan mengetahui apakah kalian seorang darwis atau bukan.  

Tanda pertama adalah bahwa kalian selalu membawa al-Qur’an, atau jika kalian tidak mempunyai hafalan, basahilah lidah kalian dengan zikrullah sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi (saw):

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه أن رجلا قال: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به؟ قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله” الترمذي.

Seorang  pria mendatangi Nabi (s) dan berkata, “Ya Rasulallah!  Syari`at Islam sangat berat bagiku, oleh sebab itu berikanlah aku sesuatu yang dapat aku pertahankan.” Nabi (saw) bersabda, “Basahilah lidahmu dengan zikrullah.” (Tirmidzi)

“Aku merasa kewalahan dengan aturan-aturan di dalam Islam,” Nabi (saw) bersabda, “Kalau begitu, basahilah lidahmu dengan zikrullah.” Zikrullah yang pertama adalah al-Qur’an.  Kalian harus mempunyai al-Qur’an untuk menjadi seorang darwis.  Bahkan jika kalian membacanya dalam hati atau melakukan zirullah dalam hati, para malaikat akan datang karena mereka mendengar kalian.  Bila kalian membacanya dengan keras, mereka dapat mendengar kalian, tetapi bila kalian membacanya dalam hati, mereka juga dapat mendengar kalian bahkan itu lebih baik lagi kerena lebih banyak berkahnya.

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan hati dan dalam rasa takut, tanpa mengeraskan kata-kata, di waktu pagi dan sore.  Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Surat al-A’raf, 7:205)

“Bacalah zikir itu dalam hati ketika kalian pergi keluar rumah pada siang hari dan sore hari,” karena Allah tidak menyukai orang yang sombong, yang suka pamer, “Aku membaca al-Qur’an,” atau “Aku melakukan zikrullah,” jadi bersikaplah rendah hati.  Jadi tanda pertama seorang darwis adalah zikrullah.  

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami yang menurunkan adz-Dzikra (al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.. (Surat al-Hijr, 15:9)

Ketika Allah mengatakan bahwa Dia melindungi al-Qur’an Suci, artinya Dia melindungi orang yang membacanya, memelihara mereka, karena mereka memelihara Kalamullah, terlebih lagi para huffazh, mereka yang menghafal al-Qur’an.  Sungguh besar berkah mereka bagi orang-orang yang ada di sekitarnya, karena mereka akan bersinar bagaikan lampu sorot pada Hari Kiamat.  Tidak seperti kita, orang lain yang tidak menghafal.  Sekarang orang-orang berkata, “Apakah aku dapat menghafalnya?”  Ya, kalian dapat menghafalnya, tetapi itu sulit, karena kita mempunyai ini itu.  Hadits Nabi (saw) mengatakan, “Membaca Qul Huw Allah tiga kali seolah-olah kalian telah membaca seluruh Qur’an, sepenuhnya.”    

Jadi itulah sebabnya salah satu awrad di dalam zikrullah yang harus dilakukan oleh seorang darwis adalah membaca 100 kali Qul Huw Allahu Ahad, hingga 1000 kali setiap hari.  Itu adalah tanda seorang darwis, yaitu orang yang menjaga zikrullah.  Yang memegang al-Qur’an Suci.  Karena kalian tidak bisa membawa al-Qur’an secara fisik ke tempat kerja kemudian kembali, kalian dapat membaca Qul Huw Allahu Ahad atau apa pun yang kalian hafal.  Sekarang orang-orang di dalam mobilnya menyetel qasidah.  Hal itu baik, tetapi mengapa kalian tidak menyetel Qur’an?  Paling tidak kalian dapat menghafalnya pada saat berangkat dan pulang ke rumah.

Jadi tanda pertama bagi seorang darwis, seorang yang sederhana yang berdiri di Pintunya Nabi (saw) dan Pintunya Allah (swt), adalah mempunyai zikrullah.  Awliyaullah, mereka dapat melihat pada dahi kalian, tanda zikrullah, yaitu Laa ilaaha illa ‘Llah Muhammadun Rasuulullah.  Ketika mereka melihat kalian, mereka dapat melihat pada wajah kalian, pada dahi kalian,  Laa ilaaha illa ‘Llah Muhammadun Rasuulullah, khususnya bagi Muslim; bagi non-Muslim, kita tidak membicarakannya.  Setiap Muslim akan mempunyai zikrullah tertulis di dahinya, tetapi bila ia melupakan zikrullah, tulisan Laa ilaaha illa ‘Llah Muhammadun Rasuulullah itu akan memudar kemudian lenyap.  Jadi Awliyaullah dapat melihat, “Oh, apa yang terjadi dengan orang ini?  Sebelumnya tertulis Laa ilaaha illa ‘Llah, tetapi sekarang sudah pudar, sudah menghilang, artinya ia telah mengabaikan awrad-nya, mengabaikan zikrullah.  

Zikrullah tidak sama dengan sebuah perkuliahan, ia adalah nasihat.

الدين نصيحة
Agama adalah nasihat.

Kuliah tidak akan mengangkat derajat kalian lebih tinggi seperti halnya zikrullah.  Jika kalian mengucapkan, “Laa ilaaha illa ‘Llah” sekali, itu akan membawa kalian ke Surga.

من قال لا اله الا الله دخل الجنة

Barang siapa yang mengucapkan, “Laa ilaaha illa ‘Llah” masuk Surga.

Jadi  zikrullah adalah penting bagi mereka yang menganggap dirinya darwis.  Jangan peduli dengan apa yang dikatakan orang, pedulilah dengan apa yang dikatakan oleh malaikat.  Jika malaikat melihat ‘Laa ilaaha illa ‘Llah Muhammadun Rasuulullah’ tertulis di dahi kalian, mereka tahu bahwa kalian berasal dari adz-dzaakiruun, orang-orang yang berzikir.  Itulah sebabnya zikrullah dianjurkan dalam berbagai tarekat, mereka melakukan zikir jahar (dengan suara keras), itu tidak masalah karena mereka ingin agar orang-orang dapat mendengar.  Sebagian yang lain seperti Naqsybandi, mereka melakukan zikir khafi di dalam awrad mereka.

Untuk melakukan zikrullah, kalian harus mempersiapkan diri kalian.  Agar bersih suci, bagaimana caranya agar kita menjadi bersih suci?  Dengan membaca Dalaa’il al-Khayraat.  Tanda kedua bagi seorang darwis, seorang yang sederhana yang mencari Hakikat.  Hakikat itu bukannya berapa banyak kalian mempunyai ini itu.  Kalian bisa saja miskin, tetapi lebih kaya dalam zikrullah, kalian akan lebih tinggi (derajatnya) di Surga atau lebih tinggi di dunia melalui timbangan para malaikat.  Walaupun dengan harta sedikit, malaikat dapat membuat kalian bahagia dengan apa yang kalian miliki melebihi apa yang dimiliki oleh orang kaya yang tidak melakukan zikrullah, karena Allah (swt) dapat mengirimkan penyakit kepada mereka, sementara orang miskin yang berzikir, mereka tidak mempunyai beban berat pada diri mereka.  Jadi kalian lebih baik daripada mereka.  Jadi untuk mempersiapkan diri kalian, kalian harus membaca shalawat Nabi (saw)

وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا

Masuklah ke rumah itu melalui pintu-pintunya. (Surat al-Baqarah, 2:189)

“Datanglah ke tujuanmu melalui pintumu,” kata buyuut mempunyai banyak makna, salah satunya adalah “tujuan”, setiap orang mempunyai pintu masing-masing, jangan berpikir bahwa itu akan sama.  Tidak!  Karena setiap orang akan mencapai sesuatu, jadi sesuai dengan apa yang akan dicapainya setiap orang akan masuk melalui pintu yang telah ditentukan baginya.  Seperti contoh di dalam al-Qur’an suci mengenai saudara dari Sayyidina Yusuf (as).  Sayyidina Ya`quub (as) berkata kepada anak-anaknya,

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

Dan ia menambahkan, “Wahai anak-anakku!  Janganlah kalian semua memasuki [kota] melalui satu pintu, masuklah dari pintu yang berlainan, namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu daripada [apa yang dikehendaki oleh] Allah: keputusan untuk menetapkan sesuatu ada di tangan Allah.  Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan hendaknya hanya kepada-Nya orang-orang bertawakkal dan bereserah diri.” (Surah Yusuf, 12:67)

“Masuklah lewat pintu yang berbeda.”  Kalian tidak bisa masuk lewat pintu saudara kalian, karena itu tidak ditetapkan untuk kalian, pintu itu mempunyai kode, kalian akan terperangkap di sana.  Sayyidina Ya’quub (as) mengatakan kepada mereka bahwa ada pintu yang berbeda-beda dan setiap orang harus memasuki pintunya masing-masing.  Karena jika orang itu melihat pintu saudaranya, ia bisa cemburu.  Jadi agar tidak terjadi kecemburuan pada saat itu–karena Allah mengawasi mereka, apa yang akan mereka katakan kepada Sayyidina Yusuf (as) ketika mereka sampai.  Jadi setiap orang harus melewat pintu yang telah ditentukan baginya.  Jadi mereka masuk melalui pintu yang berbeda-beda.

Kalian juga mempunyai pintu-pintu yang berbeda, tergantung seberapa banyak yang akan kalian capai, apakah lebih banyak atau lebih sedikit.  Jika kalian mencapai lebih banyak, pintu kalian berbeda dan yang lain tidak dapat memasukinya.  Dapatkah kalian memegang kabel listrik?  Kalian akan terbakar, tetapi jika kalian memakai sepatu kayu atau berdiri pada suatu insulator–bahan penyekat, kalian dapat memegangnya bahkan dengan voltase yang lebih besar, karena kalian telah menyekat diri kalian dengannya.  Kalian tidak mengetahui shalawat mana yang dapat menyekat diri kalian dan itulah sebabnya mengapa Muhammad al-Talmaysani (q), salah satu orang saleh yang membaca Dalaa’il al-Khayraat 100,000 kali, ia sangat bergembira dan menghadiahkannya kepada Nabi (saw) kemudian ia tidur dan di dalam mimpinya Muhammad al-Talmaysani (q) bertemu Nabi (saw).  Beliau (saw) berkata, “Wahai Muhammad al-Talmaysani, aku akan mengajarimu sebuah shalawat yang setara dengan membaca Dalaa’il al-Khayraat 800,000 kali.”  Kalian lihat bahwa ia membaca seluruh Dalaa’il al-Khayraat tetapi tidak mendapatkan itu, ia mendapatkan yang lainnya tetapi Nabi (saw) mengatakan kepadanya tentang shalawat ini–dan banyak pula shalawat lainnya yang dikatakan oleh Nabi (saw) kepada orang-orang lainnya, bukan kepada Sahabat.  Jadi jika kalian membacanya, kalian akan mendapat pahala seolah-olah telah membaca Dalaa’il al-Khayraat 800.000 kali.  

Jadi setiap orang mempunyai sebuah pintu dan pintu kita harus melalui Nabi (saw).  “Masuklah ke dalam rumah melalui pintu-pintunya.”  Jadi pertama adalah zikrullah.  Untuk melakukan zikrullah, kalian harus membuka pintunya melalui shalawat.  Itulah sebabnya di dalam awrad kita membaca shalawat Nabi (saw) mulai dari 300 hingga 24.000 kali sehari.  Kalian adalah darwis, lidah kalian sibuk, kalbu kalian sibuk dan kalian tetap bekerja.  Kalian dapat melakukan ketiganya secara bersama-sama.  Kalian harus bekerja, dan kalian harus melakukan zikrullah, dan kalian harus melakukan shalawat tanpa interupsi.  Seorang darwis yang menyerahkan dirinya kepada Allah (swt) dapat melakukan shalawat, zikrullah dan melakukan pekerjaannya sekaligus.  Karena ia tidak mengatakan, “Aku mendedikasikan waktuku 1 jam untuk membaca al-Qur’an”, tidak; atau untuk melakukan shalawat, tidak, ia secara terus-menerus menyelam dalam samudra zikrullah dan al-Qur’an suci dan menyelam di dalam samudra Nabi (saw), sehingga tubuhnya seperti yang dikatakan oleh Nabi (saw),

لي ساعة مع الرب وساعة مع الخلق

Aku mempunyai satu wajah, satu sisi (atau satu jam) bersama Tuhanku dan satu sisi (atau satu jam) bersama makhluk.

Jadi seorang darwis yang mewarisi dari Nabi (saw), ia akan menemukan banyak waktu karena tubuhnya secara terus-menerus menjadi dzaakir, selalu mengingat!  Seperti angin yang membuat kipas angin terus berputar, jadi angin zikrullah di mana malaikat menghasilkan humbusan semacam ini membuat tubuh kalian terus bertawaf dalam zikrullah mengelilingi al-Qur’an suci, jadi ini tidak menghentikan kalian dari pekerjaan kalian, kalian tetap bekerja.  Pada saat itu kalian mulai melakukan shalawat dan sesuai dengan seberapa kuat shalawat yang kalian ikuti, kalian akan ditetapkan pintunya dan itulah pintu kalian di Hari Kiamat dan pintu kalian ketika masuk ke alam kubur dan itu akan menjadi pintu kalian di dunia!  Awliyaullah dapat mendeteksi pintu itu baik bagi dirinya sendiri maupun bagi para pengikutnya.  Ketika mereka menugaskan para pengikutnya untuk melakukan beberapa awrad, khususnya beberapa awrad yang berbeda dari awrad lainnya.  Dan setiap wali mempunyai awrad-nya masing-masing yang mereka pelajari dari Nabi (saw) karena ada 124.000 wali.  Kita mengikuti seorang wali, beliau membimbing kita, kita mengikutinya, alhamdulillah.  Kita tidak berusaha untuk melompat dari satu wali kepada yang lain, yang lain, dan yang lain lagi, karena itu akan mengacaukan pintu kalian.  Tidak ada satu pintu pun yang akan dibukakan bagi kalian.    Jagalah satu pintu itu.  Pintu itu adalah pintu yang akan membawa kalian kepada Nabi (saw) dan dari beliau kepada Allah (swt).  

Jadi, apa yang kita katakan?  Pertama, kalian mempunyai al-Qur’an bersama kalian, dengan jalan menghafalnya atau melalui kitab secara fisik atau dengan membaca Qul Huw Allahu Ahad, kemudian Dalaa’il al-Khayraat, Shalaat al-Ibrahimiyya, atau shalawat lainnya yang dikenal oleh setiap orang. Itu akan membawa kalian menuju pintu kalian.  Dan bila kalian telah membuka pintu kalian, itu tidak akan tertutup, seperti sekarang ini, kalian dapat mempelajari dari apa yang ada di sekitar kalian.  Orang-orang sekarang bermain video game, mereka melewati satu level, kemudian pintu berikutnya terbuka untuk melanjutkan permainan kalian.  Dari satu level ke level berikutnya dan itu semakin sulit dan semakin sulit.  Ketika kalian mendekati Level Ilahiah dari Nabi (saw), ketika pintu itu terbuka dan kalian memasukinya, jangan mengharapkan itu akan menjadi mudah; tidak!  Mereka ingin melihat seberapa besar kesabaran kalian dalam menjaga awrad kalian, menjaga kehidupan normal kalian dan menjaga waaridaat–inspirasi yang masuk ke dalam kalbu kalian dan mengikuti apa yang harus kalian ikuti untuk maju lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.  Itu akan sangat menyakitkan, karena terlihat bahwa kalian akan mencapai tujuan kalian, tetapi ketika kalian mendekat untuk mencapai cakrawala itu, ternyata kalian melihat cakrawala lainnya!  

Ketika Awliyaullah mulai menyelam dalam cinta terhadap Sayyidina Muhammad (saw) dan cinta kepada Allah (swt), mereka menemui kesulitan itu.  Kadang-kadang orang berkata, “Ketika kami melakukan awrad, kami merasa berat,” karena ketika mereka membukakan lebih banyak pintu, itu akan semakin kuat, misalnya, bukan 100, 240 atau 360 volt, tetapi seperti voltase terkuat yang langsung berasal dari transformator, kalian akan memasuki daerah transformator tersebut, dengan voltase yang sangat kuat.  Orang menuliskan tanda peringatan, “Awas tegangan tinggi!”  Karena kalian bisa tertarik, seperti Sayyidina Musa (as), apa yang terjadi padanya?  Beliau tertarik, ketika beliau memasuki pintu-pintu ini, masuk ke pintunya Nabi (saw) dan sampai ke gerbangnya Hadratillah kemudian beliau berkata, “Oh, aku sudah ada di sini, izinkalah aku melihat-Mu.”  Allah menjawab, “Kau tidak dapat melihat-Ku.”  Karena beliau meminta, namun beliau tidak diberikan kekuatan itu.  Apa yang terjadi?  Ketika Allah mengirimkan satu tajali, itu sudah cukup.  Gunung menjadi hancur.  Allah berifirman, “Lihatlah gunung itu.”  Karena Allah ingin membuatnya mudah bagi Sayyidina Musa (as) sebagaimana Sayyidina Ya`qub (as) ingin membuatnya mudah bagi anak-anaknya sehingga beliau memerintahkan, “Masuklah dari pintu yang berbeda.”      

وَلَمَّا جَاء مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَـكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ موسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan ketika Musa datang [ke Bukit Thursina] pada waktu yang telah ditetapkan dan Tuhan telah berbicara langsung dengannya, berkatalah Musa, “Wahai Tuhanku!  Tampakkanlah Diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu!”  Tuhan berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu; jika ia tetap berada di tempatnya niscaya engkau dapat melihat-Ku.”  Ketika Tuhan menampakkan Diri-Nya kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.  Dan setelah sadar kembali ia bicara pada dirinya, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku menjadi orang yang pertama-tama beriman”. (Surat al-`Araf, 7:143)

Voltasenya akan terlalu tinggi bila kalian masuk melalui pintu yang sama.  Jika seseorang mendapat 120 volt, yang lain 120 volt, maka itu menjadi 240 volt, ditambah yang lain menjadi 360; jadi itu terakumulasi di dalam satu pintu, sehingga jika kalian masuk ke sana, kalian akan selesai.  Seperti yang terjadi pada Sayyidina Musa (as), Allah mengirimkan sedikit (tajali) dan itu menghancurkan seluruh gunung.  Jadi kita harus berhati-hati.  Ketika kita sedang melakukan zikrullah, ya kadang-kadang terasa berat di dada.  Ketika hal itu terjadi, bacalah shalawat.  Shalawat selalu menjadi proses menenangkan.  Shalawat Nabi (saw) sangat dianjurkan karena Asmaullah al-Husna begitu kuatnya, membawa kekuatan yang luar biasa dan kadang-kadang orang tidak kuat menerimanya, tetapi untuk shalawat–itulah sebabnya di Mekah, shalawat di sana setara dengan 100.000 kali, sedangkan di Madinah setara dengan 24.000 kali.  Shalawat selalu menenangkan kalian, seperti halnya hembusan angin sejuk yang menyejukkan kalian sehingga kalian dapat melanjutkan awrad kalian.  Jadi dua tanda yang harus kalian bawa adalah Qur’an Suci dan  Dalaa’il al-Khayraat.  Ketiga lainnya saya lupa (tertawa).  Tanda lainnya adalah miswak (batang kayu dari pohon Arak/Niim).  Seorang darwis harus tahu bahwa ia harus selalu datang dalam keadaan suci, sebagaimana Nabi (saw) bersabda,

لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka untuk menggunakan miswak sebelum melakukan salat. (Abu Hurayrah; Bukhari dan Muslim)

Menggunakan miswak sebelum salat menjadikan pahalanya 27 kali lipat.  Jadi sebelum memulai zikrullah kalian bersiwak, sebelum kalian bershalawat kalian bersiwak, jadi miswak itu diperlukan sebagaimana kalian membawa zikrullah dalam kalbu kalian atau secara fisik membawa al-Qur’an dan Dalaa’il al-Khayraat, kalian juga harus senantiasa membersihkan mulut kalian.  Grandsyekh (q), semoga Allah memberkati ruhnya mengatakan bahwa pada suatu ketika orang-orang kafir menyerang Nabi (saw) dan Nabi (saw) memerintahkan Sahabat untuk mengeluarkan miswak-nya, lalu duduk di tanah, mengangkat satu lututnya dan bersandar padanya, lalu membaca Allahumma thahhir qalbii min asy-syirki wan-nifaaq, “Ya Allah!  Sucikanlah kalbuku dari syirik dan kemunafikan,” itu akan mensucikan kalbu kalian pada saat itu dari syirik tersembunyi dan kemunafikan, karena ketika kita memasuki salat kita, segala macam gosip buruk, segala macam hal buruk masuk ke dalam pikiran kita dari alam bawah sadar kita, karena kita selalu mengunduh informasi yang buruk ke dalam “chip” dalam pikiran kita, dan untuk membersihkannya kita menggunakan miswak.  

Kamudian kalian memerlukan sajadah agar kalian siap untuk melakukan salat kalian.  Jadi apa yang harus ada bersama kalian?  Qur’an, shalawat, miswak, sajadah dan wudu.  Dikatakan bahwa Al-wudu silaah al-mu’min, wudu adalah senjata orang beriman.  Wudu di atas wudu, jadi bila kalian selesai melakukan Salat Zhuhur kemudian pada saat Ashar kalian memperbarui wudu kalian, karena itu adalah nuurun `ala nuur, kalian menjadi cahaya di atas cahaya.  Tetapi kadang-kadang sulit untuk memperbarui wudu dan bila kalian masih mempunyai wudu, kalian dapat melakukan salat kalian.  Jadi ini adalah lima hal yang harus kalian bawa sepanjang waktu.  

Semoga Allah (swt) menjadikan setiap napas kita\, baik tarikan maupun hembusan senantiasa suci, dengan wudu, dengan zikrullah dan shalawat Nabi (saw).  Ini adalah hal yang sangat penting bila kita ingin mengatakan, “Aku adalah seorang darwis.”  Jangan berpikir bahwa duduk di sudut melakukan zikrullah siang malam menjadikan kalian seorang darwis!  Tidak, menjadi darwis adalah dengan membaca al-Qur’an Suci dan Dalaa’il al-Khayraat tanpa menghentikan pekerjaan kalian.  Pada saat yang sama, kalian tetap bekerja, artinya kalbu dan lidah kalian sibuk (dengan berzikir), karena kadang-kadang–saya memberikan sebuah contoh, kadang-kadang ketika kalian sedang bekerja, apa yang kalian dengarkan?  Mereka menyetel lagu-lagu, mereka menyetel radio atau memasang earphone sambil bekerja, jadi mengapa tidak mendengarkan al-Qur’an?  Awliyaullah menyarankan untuk mendengarkan al-Qur’an pada saat bekerja atau kapanpun yang kalian bisa dan lambat laun tubuh kalian akan bereaksi terhadapnya dengan sendirinya dan kalian mendengar kalbu kalian mengucapkan, “Allah, Allah, Huwa, Huwa.”  Kalian dapat merasakannya.  Segera setelah kalian merapatkan lidah kalian ke langit-langit mulut kalian, itu adalah zikir khafi, kalbu kalian akan bekerja; segera setelah kalian memegang tasbih untuk membuat jari syahadat (telunjuk) bergerak–yang terpenting adalah jari syahadatnya, bukan tasbihnya–karena orang Wahabi mengatakan, “Oh, kalian tidak boleh menggunakannya”, tidak–jari syahadat itu yang bergerak menjadi saksi terhadap zikir yang kalian buat.  Jadi jari syahadat itu bergerak pada tasbih untuk menyaksikan bahwa kalian menggerakkannya; atau kalian dapat menggerakkan jari-jemari kalian.  Jadi itu tidak akan mengganggu pekerjaan kalian.  Pada awalnya mungkin akan mengganggu, tetapi setelah kalian cukup kuat, itu akan mengalir dengan sendirinya seperti sungai menuju samudra.  

Semoga Allah membuat kita mengalir ke sungai, sungai Ilahiah, insya Allah,  dan dunia kita akan seperti itu, insya Allah, mengalir dari sungai menuju samudra; dan di sana kalian akan menjadi seekor ikan, melayang dalam samudra dan tidak tenggelam. Subhaan-Allah.

Semoga Allah mengampuni kita dan menerima dari kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://sufilive.com/The-Signs-of-a-Real-Dervish–6147.html

© Copyright 2016 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.