Adab dalam Hadirat Syekh

Mawlana Syekh Hisham Kabbani

dari buku At the Feet of My Master: Sufi Guidance for the 21st Century

 

Madad yaa Sulthan al-Awliya, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani
Madad yaa Sulthan al-Awliya, Syekh `Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestaani

Kita memulai dengan topik ini karena ini sangat penting bagi perkembangan spiritual kita. Berbicara dalam kehadiran fisik Mawlana sangat berbeda dengan berbicara ketika kalian berada jauh darinya, ketika kalian merasa lebih bebas. Berada dalam kehadiran Mawlana bagaikan berenang di samudra di mana kalian bisa saja tenggelam. Jika kalian berenang di sebuah danau atau sungai yang kecil, di sana tidak ada arus yang kuat sehingga kalian dapat menyelamatkan diri kalian. Dapat pula kalian katakan bahwa berbicara di hadapan Mawlana bagaikan berbicara di hadapan singa yang sedang mengaum di mana kalian tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun, sebab ia bisa menerkam kalian. Tetapi bila kalian jauh dari samudra atau singa itu, setiap kali kalian melakukan suatu hal yang tidak sempurna, kalian masih aman.

Itulah sebabnya sangat penting untuk mengetahui tentang adab atau disiplin yang benar. Berada dalam hadirat Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memanjangkan umurnya, tidak seperti berada di sekitar syekh biasa. Ada banyak ulama dan syekh biasa yang dapat kalian temui di seluruh dunia.

Nabi (saw) bersabda, “Para ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil.”
Itu artinya ilmu tentang al-Qur’an suci dan hadits membuat para ulama tersebut mewarisi rahasia spiritual dari Nabi (saw). Namun demikian para Awliyaullah sama sekali berbeda.

Wali-wali-Ku berada di bawah Kubah-Ku, tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Aku.
Alaa inna awliyaullaahi la khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun.
Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Surat Yunus, 10:62)

Allah (swt) mengatakan di sini, sudah tentu, para awliyaullah tidak mempunya rasa takut atau sedih karena Dia melindungi mereka! Awliyaullah sudah sangat mapan, dan mereka terdiri dari dua tipe: awliya biasa, yang secara bertahap mengalami kemajuan dalam ilmu-ilmu Ilahiah; dan mereka yang berada di ujung kesempurnaan, yaitu Sulthan al-Awliya yang hanya ada seorang pada setiap abad. Jadi ada protokol atau perilaku yang harus kita ikuti agar tidak membuat kesalahan serius.

Saya akan memberikan sebuah contoh. Di mana pun kalian berada di dunia ini, jika kalian hanya berpikir tentang melakukan sebuah dosa tetapi kalian tidak melakukannya, hal itu tidak dituliskan dalam catatan amal kalian di Loh Mahfuz. Berbeda halnya dengan Mekah atau Madinah, jika kalian hanya berpikir untuk berbuat dosa, itu sudah dituliskan dalam catatan amal kalian. Jadi itu sungguh berbeda!
Dalam hadirat Syekh, niat saja sudah dituliskan, apakah itu baik atau buruk, jadi ini berbahaya. Ketika kita berada di sini, jika kita mempunyai niat buruk terhadap satu sama lain, itu sudah tertulis. Hal itu seolah-olah kalian telah memberi air beracun kepada syekh. Kita datang ke sini untuk dibersihkan, bukan untuk tertular penyakit. Jadi, pertama kita harus menegakkan adab, kita harus menjaga adab terhadap syekh dan juga terhadap sesama pengunjung.

Syekh dapat membaca hati kalian dan beliau tidak ingin melihat ada monster di hadapannya. Meskipun beliau tidak menunjukannya, beliau tidak senang bila ada seseorang yang kondisinya seperti itu. Beliau senang melihat seseorang yang seperi orang sedang kasmaran. Tentu saja, setiap orang yang datang ke sini adalah para pecinta syekh, tetapi kadang-kadang ketidakmurnian kita mendorong kita berbuat kesalahan dan menciptakan masalah.


Kedekatan dengan Syekh

Mengenai kedekatan dengan syekh, banyak orang yang berpikir–karena mereka melihat syekh setiap hari atau duduk bersamanya–bahwa mereka lebih baik atau lebih maju dalam terekat daripada mereka yang mengunjungi Mawlana setahun sekali. Hal ini tidaklah benar.

Nabi (saw) bersabda, “Rubba asy `ats aghbar law aqsama `alaa Allaahi laa-abarrah
Bisa saja seseorang yang berambut kusut dan berdebu ketika ia berdoa kepada Allah memohon sesuatu, Allah segera mengabulkannya. (Sahih Muslim 2622)

Di masa Nabi (saw), seseorang bisa menempuh perjalanan selama sebulan dengan berjalan kaki atau mengendarai unta untuk bertemu beliau. Ketika mereka sampai, tubuh mereka kotor dan berdebu. Lihatlah bagaimana tanggapan Nabi (saw). Itu artinya orang yang telah menempuh perjalanan jauh, menempuh perjalanan yang sulit dan datang hanya untuk bertemu syekhnya, kemudian dengan berat hati mereka harus kembali lagi, jika mereka berdoa kepada Allah, Allah akan segera mengabulkannya.

Bagi mereka yang datang berkunjung namun harus kembali, jangan berpikir, “Oh, jika saja aku bisa tinggal di sini.” Tidak, seratus kali lebih baik jika kalian datang dan pergi, daripada kalian tinggal di tempat yang sama dan berpikir bahwa kalian begitu dekat dengan Syekh kemudian kehilangan penghormatan kalian. Karena banyak orang yang ketika mereka sangat dekat, mereka kehilangan penghormatan mereka dan tidak lagi menjaga adab. Kita belajar dari hadits ini bahwa lebih baik untuk tinggal di tempat yang jauh dan kemudian datang sekali-sekali, karena kalian akan memperoleh pahala yang lebih besar.

Sebagai contoh, Nabi (saw) bersabda di dalam hadits bahwa barang siapa yang datang ke masjid untuk shalat, Allah akan memberi pahala 10 hasanat (kebaikan) dan menghilangkan 1 sayyi’at (keburukan) untuk setiap langkahnya. Jika kalian tinggal satu blok dari syekh, kemudian kalian datang, shalat dan kembali lagi, ada berapa langkah jarak yang ditempuh? Satu, dua atau tiga ribu langkah? Mari hitung ada berapa hasanat yang akan kalian dapatkan karena untuk setiap langkah kalian akan mendapat 10 hasanat. Jadi jika kalian tinggal 10.000 kaki jauhnya, maksimum kalian akan mendapat 100.000 hasanat.

Namun demikian banyak orang yang datang dari segala penjuru dunia, dari Timur Jauh, dari Barat Jauh, datang dari jarak 10.000 mil untuk sampai ke Siprus. Sekarang kalikan pahalanya untuk 10.000 mil. Apakah lebih baik memperoleh 100.000 hasanat jika kalian tinggal 1000 kaki jauhnya atau mendapat 450.000.000 hasanat jika kalian tinggal 10.000 mil jauhnya. Ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, namun ini adalah hadits dari Sayyidina Muhammad (saw).

Kita ingin berada dekat dengan syekh, tetapi ada adabnya dan ini adalah pelajaran pertama. Kita akan melanjutkan tentang pentingnya adab yang harus kita ikuti. Jika kita tidak dapat mengikuti adab-adab ini, maka kita tidak akan dapat meraih apa yang kita cari. Kita tidak datang ke sini untuk pergi ke pasar, kita datang ke sini untuk mencari pemurnian spiritual melalui suatu pengasingan dari dunia fisik. Kita harus menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, Hadits, dalam belajar, dan menjelaskan satu sama lain, dan bertanya kepada mereka yang lebih tinggi ilmunya tentang apa-apa yang perlu kita ketahui. Jangan merasa malu untuk bertanya kepada orang lain.

Nasihat kami untuk setiap orang, sebagaimana untuk diri saya sendiri, adalah agar selalu menjaga adab, dan khususnya adab untuk mencatat. Ketika saya berumur 20an, ketika kami pergi menemui Grandsyekh, kami selalu membawa buku catatan dan alat perekam. Pada saat itu kami hanya mempunyai alat perekam yang besar yang kami letakkan di rumah Grandsyekh, karena beliau biasanya memberi shuhba tiga sampai empat kali sehari dan dari catatan Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim memberi shuhba setiap bakda Shalat Subuh dan Ashar. Grandsyekh biasa memberi shuhba sekali dalam dua jam, sepanjang masih ada tamu yang datang dan pergi, beliau akan berbicara, jadi kalian tidak berhenti untuk mencatat.

Sekarang orang-orang tidak lagi mencatat ketika mereka hadir dalam shuhba Mawlana Syekh, dan itu melanggar adab. Alat perekam ini sangat berharga, tetapi ia tidak menunjukkan dedikasi murid yang menggunakannya untuk merekam shuhba. Jika kalian kuliah di universitas, apakah kalian merekam pelajaran dari dosennya? Jika kalian adalah murid yang serius, kalian akan mencatat, menunjukkan hormat kepada dosen dan pada ilmunya.

Ketika syekh berbicara dan beliau melihat kalian mencatat, beliau menghitung dengan matanya. Bila kita mencatat, beliau akan membukakan lebih banyak rahasia. Tetapi dengan alat perekam hal itu tidak sama, alat perekam tidak akan menciptakan perasaan yang intim antara guru dan murid, tidak seperti dengan catatan. Ketika ada perasaan, maka tercipta hubungan. Ketika guru melihat muridnya mencatat, ia akan membuka lebih banyak lagi ilmunya.

Jadi, sekarang kita kehilangan salah satu adab yang paling penting, karena Allah telah menyebutkannya kepada Sayyidina Muhammad (saw) dalam wahyu pertama, “Iqra!” Perintah suci, “Bacalah!” Nabi (saw) bertanya pada malaikat Jibril (as), “Apa yang harus kubaca? Aku tidak tahu.” Nabi (saw) sebenarnya tahu, tetapi karena adabnya yang luhur, beliau (saw) bertanya, bagian mana yang engkau ingin aku membacanya?”
Membaca adalah dari sesuatu yang tertulis. Untuk mengatakan “iqra” artinya ada sesuatu yang tertulis di depan Nabi (saw). “Ya Muhammad (saw), bacalah dari situ.” Itulah sebabnya turunnya wahyu, “Iqra bismi rabbik alladzi khalaq” “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan (semua yang ada).” (Surat al-Alaq, 96:1)

Sekarang hubungan antara guru dan murid sudah hilang, jadi bagaimana guru akan memberikan rahasianya pada kalian? Ajaran Mawlana Syekh Nazim yang dulu sepenuhnya berbeda dengan yang sekarang. Ajaran yang sekarang berdasarkan ego, ego dan ego. Ceramah beliau yang terkini bahkan tidak menyebutkan tentang rahasia spiritualitas, apa yang dilihat oleh orang-orang arif dalam perjalanannya menuju ke Hadirat Ilahi, hubungan muraqabah antara guru dan muridnya, bagaimana syekh membawa muridnya ke Hadirat Ilahi, atau apa yang akan dihadapi oleh murid dalam perjalanan yang luar biasa itu. Saya tidak lagi melihat ajaran-ajaran ini dari Mawlana Syekh, karena tidak ada yang menaruh perhatian penting dengan mencacat. Alat perekam ini memang bermanfaat, tetapi dalam catatan kalian dapat menggarisbawahi hal-hal yang penting, kalian dapat segera mencari bagian spesifik dari shuhba tersebut; dan dengan mencatat juga membantu membentuk hubungan mental karena kalian menggunakan lebih banyak indera kalian (pendengaran, sentuhan, penglihatan). Jadi bawalah selalu buku catatan dan pena.

Allah (swt) berfiman bahwa malaikat di sisi kanan dan kiri setiap manusia mempunyai buku catatan dan mereka merekam untuk kalian. Allah berkata pada mereka, “Bawalah sebuah buku catatan, suhuf.” Itu adalah sebuah tanda bagi kita. Kalian harus membuat catatan dari apa yang dikatakan oleh syekh setiap hari, dan dari apa yang telah kalian capai. Itu adalah salah satu adab. Ketika syekh melihat hal itu dari murid-muridnya, beliau akan mulai membuka lebih banyak dari ilmu-ilmu Ilahiah. Menjaga adab ini akan mendatangkan lebih banyak ilmu bagi masa depan kita di Jalan ini.

Semoga Allah mengampuni kita, semoga Allah memberkahi kita, dan semoga Dia mengaruniai kita manfaat dari cinta dan penghormatan yang kita tunjukkan pada syekh kita.


Sebuah Peringatan bagi para “Perwakilan Syekh”

Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam setiap pertemuan, baik di Argentina atau di mana pun, kita harus mengerti bahwa tidak ada seorang pun yang menjadi syekh, kecuali Mawlana Syekh Nazim, dan kita semua adalah murid-murid di kaki beliau. Betapa pun tingginya maqam yang telah diraih oleh para perwakilan tersebut ia harus tahu bahwa dirinya adalah seekor semut, sedangkan syekh adalah gajahnya. Seorang wakil atau siapa pun yang menganggap dirinya sebagai deputi atau khalifah mustahil menjadi sesuatu. Kita bukanlah apa-apa di pintunya Mawlana Syekh! Beliau dapat menghancurkan kita kapan saja, khususnya mereka yang memberi bay’at atas nama beliau. Mereka harus memperjelas bahwa bay’at tersebut adalah kepada Mawlana Syekh Nazim.

Saya melihat banyak orang di berbagai zawiyah di seluruh dunia. Ketika saya tanya, “Siapa Syekhmu?” Mereka menjawab, “Oh, Syekhku adalah orang ini.” Bagaimana mungkin orang itu adalah syekhnya ketika ia juga adalah murid Mawlana Syekh? Syekh kalian bukan orang ini–Syekh kalian adalah Syekh Nazim. Ayah kalian adalah Syekh Nazim, ibu kalian adalah Syekh Nazim, dan saudara kalian adalah Syekh Nazim. Kalian memberi bay’at kepadanya dan peranan kalian selesai, sekarang hubungan orang itu secara langsung adalah kepada syekh. Pastikan bahwa kalian tetap menghormati perwakilan tersebut, tetapi arahkan cinta kalian, niat dan pengorbanan kalian kepada syekh dari Tarekat Naqsybandi, yaitu Mawlana Syekh Nazim.

wa min Allah at-tawfiq, bi hurmatil habib, wa bi hurmatil Fatihah.

Advertisements

Jatuhkan Egomu

16252131_1231276273593390_5881064429397819291_o
 
Seorang murid yang sangat setia dengan Syaikh-nya selama 25 atau 27 tahun, melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Syaikhnya, akhirnya, karena suatu sebab, sang murid ini menjadi frustrasi dan tertekan, serta berkata kepada dirinya sendiri, “Telah kuhabiskan waktuku bertahun-tahun dengan syaikhku dan aku tidak melihat apa-apa. Aku punya kawan-kawan dari tariqah lain yang sudah lebih maju dan hijab mereka sudah tersingkap, mereka melihat dan mengalami kasysyaf, dan bahkan juga kawan-kawanku dari Tariqah yang sama, sedangkan aku belum juga melihat apapun! Lalu, kenapa aku mesti menghabiskan waktuku dengan syaikhku? Aku harus berbicara dengannya!”
 
Sang murid pun pergi menemui syaikhnya dan berkata, “Yaa Sayyidii, maafkan aku, namun aku sudah bersamamu selama 25 tahun dan aku pun mendengar suhbah-suhbahmu, tetapi aku belum melihat hal-hal ghaib (kasyaf) seperti kawan-kawanku yang lain. Aku tidak melihat apa pun.”
 
Sang Syaikh berkata, “Yaa waladii (wahai anakku), mereka mengalami kemajuan dalam waktu yang singkat dibandingkan dirimu karena engkau melihat dirimu lebih baik daripada setiap orang. Kesombongan dalam dirimu inilah yang menundamu mencapai Amaanahmu, Amanah Surgawimu. Artinya, engkau mesti meninggalkan diri (ego)mu sepenuhnya dan berpegang teguh hanya kepada cinta Allah (SWT) dan Nabi-Nya (SAW) serta Syaikh-mu di dalam hatimu, kemudian melakukan awraad-mu, baru kemudian engkau akan mengalami kemajuan. Namun, jangan pernah berpikir bahwa itu karena engkau pandai dan mampu. Jika engkau berpikir seperti itu syaikh akan menghentikanmu.”
 
Murid itu pun bertanya, “Apa yang mesti kulakukan sekarang?”
 
Sang Syaikh pun menjawab, “Mudah saja: engkau mesti menghempaskan kesombonganmu dan satu-satunya cara untuk menghempaskannya adalah bukan hanya dengan melengkapi awraadmu, tetapi engkau mesti pula melakukannya secara fisik. Apa pun yang syaikhmu perintahkan untuk kau lakukan, engkau mesti melakukannya.”
 
Murid itu menjawab, “Oke!”
 
Sang Syaikh pun berkata, “Pergilah beli sebuah keranjang, penuhi keranjang itu dengan biji kenari dan duduklah di pintu masjid. Tanyalah setiap orang yang datang apakah mereka ingin kenari, dan jika mereka menjawab ya, maka suruhlah mereka untuk memukulmu di kepala dengan sepatumu dan mengatakan padamu, ‘Jangan sombong, jangan bangga pada dirimu sendiri.’ Jika orang kedua datang dan menginginkan dua kenari, berikan padanya kedua sepatumu dan suruhlah dirinya untuk memukulmu di kepalamu. Bila biji-biji kenari itu telah habis, datanglah kepadaku karena ada tugas lain menantimu.”
 
Murid itu pun berkata, “Yaa Sayyidii, aku tak mempu mengerjakan tugas pertama ini, bagaimana lagi dengan tugas kedua? Aku tak ingin Tariqahmu, aku tak ingin berurusan apa pun lagi denganmu, aku akan lakukan sendiri jalanku.”
 
Murid itu pun pergi dan hilang. Kita tak ingin diri kita hilang; karena itu, bahkan jika syaikh memerintahkanmu untuk melakukan sesuatu yang sangat sulit, engkau mesti melakukannya, setidaknya mulailah melakukannya dan jika dirimu tidak berhasil mereka akan melengkapkannya bagimu, tetapi engkau mesti menunjukkan pada mereka bahwa engkau mau melakukannya.
 
Semoga Allah selalu menjaga kita untuk mengikuti Sayyidina Muhammad (SAW); sebagaimana para Sahaabah (r.a.) yang memberikan nyawa mereka bagi beliau, semoga Allah (SWT) membimbing kita di Jalan yang Benar dan untuk mengorbankan diri kita sendiri bagi kecintaan pada Kemanusiaan, kecintaan pada sesama Makhluq, pada Cinta Sayyidina Muhammad (SAW) dan cinta Awliya’!
 
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani (ق )
Nazimiyya Indonesia