Ketahuilah Posisi Kalian di dalam Tarekat

IMG-20160824-WA0026

Syekh Hisyam Kabbani
Masjid Peckham, 23 Februari 1995 – Ramadan

 

A`udzu billaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Allah (swt) berfirman di dalam Al-Qur’an, “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.  Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul, Sayyidina Muhammad (saw), dan taatilah ulil amri (para pemimpin) di antara kalian,” ini artinya patuh kepada syekh kalian.  Dan Nabi (saw) bersabda di dalam sebuah hadits sahih, “ad-diinu nasiiha” “Agama adalah nasihat.”  Agama bukan seperti materi kuliah untuk diajarkan oleh seorang ulama kemudian pergi begitu saja.  Agama adalah nasihat, dan nasihat tidak akan muncul tanpa melalui pengalaman. Nasihat tidak bisa berupa teori saja.  Orang yang memberi nasihat harus mempunyai pengalaman tentang apa yang diberikannya itu.

Sayyidina Syah Naqsyband (q) berkata, “Thariqatuna ‘sh-shuhbah wa ‘l-khayru fi jam`iyyah “Tarekat kita berdasarkan pada asosiasi, yaitu menjaga kebersamaan, shuhbah atau asosiasi, perkumpulan; dan kebaikan dicapai melalui kebersamaan.”  Bisa juga dikatakan, “Jalan kita adalah melalui bimbingan, dan kebaikan ada dalam asosiasi.”  Tanpa asosiasi, tanpa nasihat, tidak mungkin kita mendapatkan mudarat atau kebaikan.

Sekarang, setiap kali Mawlana Syekh Nazim (q) meminta saya untuk berbicara, saya merasa malu.  Karena kalian semua, masya Allah adalah murid-murid senior.  Dan kalian semua mempunyai pengalaman yang luas, kalian memiliki bintang di pundak kalian, seperti saudara kita di sini, Syekh `Ali, kalian semua adalah perwira.  Mustahil seorang prajurit memberi nasihat kepada perwira. Jadi makin sering Mawlana berkata, “Bicaralah sesuatu,” saya merasa, diri saya ini tidak mengetahui apa-apa.  Ini juga merupakan ujian bagi saya di mana saya merasa seperti terpojok. Karena saya merasa apa pun yang akan saya katakan, ada beberapa orang yang bisa menerima, dan ada pula yang tidak.  Saya tidak ingin mengatakan bahwa pembicaraan itu tidak ada gunanya sama sekali, karena selama ada orang yang mendapat manfaat, saya akan berbicara. Tetapi, pada saat yang sama, saya merasa malu kepada orang yang tidak senang dengan apa yang saya katakan.  Mungkin mereka merasa bahwa mereka telah dipaksa untuk mendengarkannya.

Saya masih sangat muda ketika pertama kali datang kepada Mawlana Syekh.  Tidak perlu untuk membicarakan apa yang saya lihat dari Mawlana, tetapi jangan berpikir bahwa ego akan menyerah begitu saja.  Ego tidak pernah menyerah. Bahkan jika salah seorang dari kita berkata bahwa ia mencintai Mawlana Syekh Nazim (q), ego kita juga tidak menyerah.  Kita telah bepergian dari jarak yang cukup jauh untuk sampai ke sini (Inggris), untuk duduk bersama Mawlana Syekh selama 10 hari atau 1 minggu, sebagian datang hanya selama 3 hari, kemudian pergi.  Bahkan mereka, dengan antusiasme dan energi yang tinggi, ego mereka juga tidak menyerah.

Bagaimana kalian mengetahui bahwa ego tidak menyerah?  Itu mudah. Ketika Syekh mengirimkan ujian kepada kalian, Syekh biasanya mengirimkan ujian, bukan untuk mengetahui sampai di mana tingkat pencapaian kalian, atau apakah kalian gagal atau tidak—karena mereka telah mengetahui semuanya.  Mereka tidak memerlukan informasi semacam itu, karena mereka adalah orang-orang yang berdiri di belakang kalian—tetapi mereka ingin KALIAN mengetahui sampai di mana kalian mampu berdiri sendiri.

Jika seorang anak—seorang bayi—tidak jatuh, ia tidak akan belajar bagaimana caranya berjalan.  Kita harus jatuh, dan mereka (syekh) akan membiarkan kita jatuh, agar kita bisa berdiri sendiri nantinya.  Agar kita bisa mendatangi mereka. Seorang ibu mencoba menjaga jarak dengan bayinya, satu atau dua meter darinya, lalu ia memanggilnya sehingga si bayi akan menghampirinya, kemudian bayi itu terjatuh—barulah sang ibu mengangkatnya.  Dengan cara ini seorang ibu mengajarkan bayinya untuk datang kepadanya di waktu-waktu berikutnya dengan berjalan kaki.  

Ujian ini diletakkan di depan kita agar kita tidak pernah kehilangan harapan, kita harus selalu mempunyai pikiran bahwa suatu hari nanti kita akan berserah diri.  Nabi (saw) adalah orang yang sempurna, Sayyidina Muhammad (saw), beliau adalah manusia yang sempurna, beliau memiliki jiwa yang sempurna, beliau yang akan sampai di Hadratillah pertama kali, beliau adalah cermin dan juga pintu bagi seluruh makhluk.  Dengan semua kebesaran itu, hidup beliau tetap saja penuh dengan kesulitan dan perjuangan.

Orang-orang Quraisy datang kepadanya dan berkata, “Wahai Muhammad!  Jika kau menginginkan kekayaan, kami akan memberikannya kepadamu, jika kau menginginkan Ka`bah, kami akan memberikannya kepadamu.  Jika kau menginginkan ketenaran, kami akan memberikannya kepadamu, dan jika kau menginginkan jabatan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin.”  Lalu beliau menjawab dengan ucapannya yang sangat terkenal, “Jika mereka memberikan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, Aku tidak akan meninggalkan risalah ini.”  Jadi apa pun yang akan terjadi, kita harus berjuang untuk mencapai yang terbaik. Kita harus menjaga iman kita sebagaimana Syekh kita datang, menunjukkan dan membuka jalan yang benar bagi kita.

Pertama kita harus meraih hati Syekh dan dari beliau kepada hati Nabi (saw), lalu ke Hadratillah.  Sebagaimana yang digambarkan Allah (swt) di dalam Al-Qur’an, “Ketika manusia menzalimi diri sendiri, mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw).”  Ini adalah ayat dalam Al-Qur’an. Ayat itu mengisyaratkan adanya perantaraan. “Mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw), dan mereka bertobat kepada Allah (swt),” dan itu saja belum cukup.  Allah mengatakan hal itu! Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti di situ. Ketika mereka mendatangi Muhammad (saw) dan memintakan pengampunan atas namanya, SAAT ITU barulah mereka akan mendapati bahwa Allah Maha Pengampun.

Allah (swt) mengatakan hal itu!  Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti sampai di situ, tetapi ayat di dalam Al-Qur’an tidak berhenti sampai di situ.  Keseluruhan ayat itu berbunyi, “Dan ketika mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, jika mereka datang kepadamu dan memohon ampunan Allah (swt) dan meminta Nabi (saw) untuk memohonkan ampunan bagi mereka, barulah mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”  “Pada saat itu mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun,” berarti itu adalah kondisi pada saat Nabi (saw) memohonkan ampunan atas nama kita. Dan para pemimpin yang disebutkan oleh Allah (swt) di dalam ayat, “Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul (saw) dan taatilah ulil amri di antara kalian.”  Itu berarti ketika kita memohon ampun, kita harus benar-benar bertobat dalam kehadiran mereka kepada Allah (swt) karena doa orang–orang yang saleh akan dikabulkan oleh Allah (swt). Dengan kata lain kita harus berdoa melalui perantaraan mereka. Sebagaimana firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah (swt) dan berkumpullah bersama orang-orang yang dapat dipercaya.”  Para pemimpin (ulil amri) itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Ketika mereka mengangkat tangannya untuk berdoa, “Ya Allah, ampunilah mereka!” Allah (swt) akan mengampuni kalian.

Kita semua adalah bayi dan kita terjatuh, kita bangun, lalu jatuh lagi.  Satu hari bangkit, sehari kemudian jatuh, satu hari jatuh hari berikutnya bangun.  Walaupun seorang bayi terjatuh, ia tidak mengetahui apa yang sedang dilakukannya, ibunya sangat sayang kepadanya, begitu juga keluarganya.  Mereka membersihkannya, memandikannya, memberinya bedak, mereka tidak pernah merasa bosan atau jemu dalam membesarkan anaknya. Dalam pandangan Syekh, kita semua adalah anak-anaknya, oleh sebab itu beliau memandikan kita, membersihkan kita, memberi kita bedak agar tubuh kita menjadi wangi walaupun pada kenyataannya kita berbau busuk, tetapi beliau memberi kita bedak wangi yang sangat spesial—mahal dan eksklusif.

Orang kaya tidak suka membeli parfum yang murah, palsu, atau bercampur alkohol—mereka membeli parfum tua yang nilainya sangat tinggi dan dengan merek yang terkenal.  Mereka berkata, “Parfum seharga lima puluh pound, itu baru bagus; kalau yang dua pound, itu tidak bagus.” Syekh memberi kita wewangian tua semacam itu, yang bernilai tinggi, dan mahal, jangan menyia-nyiakannya dengan terus melakukan akhlak dan perilaku yang buruk.

Kita semua masih seperti bayi, bahkan beberapa orang dari kita masih berada dalam momongan.  Beberapa yang lain mulai merangkak dengan kedua kaki dan tangannya seperti makhluk lain yang saya tidak mau sebutkan namanya, karena nanti mereka akan bilang, “Syekh Hisyam (q) menyebut kita binatang.”  Hal ini karena saya berada dalam pengawasan yang ketat, mereka sangat memperhatikan setiap kata yang saya ucapkan, sehingga mereka akan meninggalkan 99% bagian yang baik yang telah diberikan dalam pelajaran ini, mereka juga akan mengeluarkan kritik.  Saya senang dengan sifat kritis ini agar nanti saya bisa mengoreksi diri dan untuk yang berikutnya saya akan lebih akurat lagi. Jadi kita harus seimbang dengan memperhatikan kondisi hati setiap orang. 

Saya lanjutkan, yang lain bisa berjalan dan merangkak dengan kaki dan tangannya, atau mereka bisa berjalan dengan kakinya.  Yang lain bisa berjalan namun karena belum kuat mereka terjatuh, sementara yang lain lagi bisa berjalan dengan tegap. Walaupun mereka bisa berjalan, tetap saja ibunya masih memegangi tangannya.  Mereka belum bisa dilepaskan begitu saja, karena kalau dibiarkan mereka akan mengambil apa saja yang ada di atas meja, menghancurkannya dan akan merusak rumah. Begitu mereka mulai berjalan, mereka menjadi masalah, mereka menjadi berisik.  Ayah dan ibu harus berlarian ke sana ke mari seharian untuk mengejar mereka, karena kalau saja pintu terbuka kemungkinan anaknya akan keluar dan bisa saja ia tertabrak mobil lalu meninggal. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri, ini adalah keadaan yang paling membahayakan.  Ketika ia mulai sedikit terlihat dewasa, orang tua mulai memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Walaupun ia masih mungkin melakukan kesalahan tetapi ini masih bisa dipantau dan kesalahan ini tergolong minor. Sampai ia bisa bertanggung jawab dan Syariah mengharuskan ia melakukan segala kewajiban dalam agama ketika ia berusia 15 tahun dan telah dewasa atau akil balig.

Tetapi di dalam tarekat walaupun kalian telah mencapai usia 70 tahun, kalian masih dianggap sebagai anak kecil tanpa “tanggung jawab” yang sebenarnya.  Jangan berkata, “Aku telah bersama Syekh selama 70 tahun tetapi aku tidak mencapai apa-apa!” Perhatikanlah apa yang bisa terjadi. Kalian mungkin bisa merusak diri kalian sendiri dan siapa saja yang berada di dekat kalian.

[komentar: yang dimaksud Syekh Hisyam di sini: Syekh tidak memberikan amanat rohaniah kepada kita, karena kita belum cakap dalam menggunakan amanat itu dengan benar–bukannya mendatangkan kebaikan, boleh jadi kita malah dapat menyebabkan sesuatu yang berbahaya.  Dengan demikian orang tidak pernah melihat ada kekuatan ajaib atau keramat yang muncul dari murid-murid Syekh Nazim (q) dan seringkali kita merasa bahwa kita telah mencapai sedikit kemajuan rohani. Hal ini berbeda dengan tarekat yang lain, di mana seringkali keadaan kasyaf dan beberapa keramat dianugerahkan kepada murid bahkan dalam tahap-tahap awal di jalur mereka. Wallaahu a`alam – dan Allah Maha Mengetahui.]

Kalian harus mencapai suatu keadaan di mana mereka memperbolehkan kalian melakukan jalan kalian sendiri.  Tetap saja ketika kalian terjatuh, mereka akan membantu mengangkat kalian. Kalian akan terjatuh, mustahil kalian mengatakan, “Tidak, aku tidak akan membuat kesalahan lagi.  Sekarang aku adalah seorang syekh besar; tidak mungkin, aku adalah seorang deputi sekarang; atau aku adalah murid senior; atau aku adalah seorang wakil atau utusan dari syekh.  Aku yang memimpin zikir, syekh memberi ijazah kepadaku untuk memimpin zikir. Oh, sekarang aku adalah sebuah balon yang besar.” (tertawa) Penuh udara di dalamnya. Psssh! [membuat gerakan seperti balon yang kempis]  Selesailah sudah. Kalian harus seperti roket, bertekad kuat, barulah tidak ada yang dapat mempengaruhi kalian, sebagaimana ketika kalian mengalami kemajuan dan membawa orang-orang bersama kalian ke hadirat Syekh.

“Deputi” adalah salah satu jabatan besar, “Representatif” (dari seorang Syekh) adalah jabatan besar.  Itu berarti syekh bergantung kepada orang itu baik dalam kehadirannya maupun ketika beliau tidak hadir untuk memberikan nasihat, menyembuhkan suatu penyakit dengan izin Allah (swt), melakukan pembacaan (ayat Qur’an atau zikir), menafsirkan mimpi, membimbing murid, memimpin zikir dan memberikan izin kepada seseorang untuk memimpin zikir, mengangkat level murid ke jenjang yang mampu mereka raih, membesarkan bayi hingga mereka bisa berjalan atau mencapai usia di mana bayi itu bisa berjalan.  Lalu ia akan membawa mereka semua dan mempersembahkan mereka kepada Syekh. 

Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) mempunyai 300 deputi atau khalifah.  Kita mengucapkan kata “Khalifah” dalam bahasa Arab, tetapi orang Arab mengetahui bahwa “Khalifah” bukan berarti “penerus”, tetapi “deputi”.  Beliau mempunyai 300 deputi dan beliau menyebarkannya ke seluruh penjuru Timur dan Barat, dan mereka semua membawa murid-muridnya ke hadirat Syekh, mereka semua memimpin murid-muridnya kepada Syekh.  Namun demikian setelah Syekh Khalid (q) wafat terbentuklah 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi. Karena setiap orang begitu terikat dengan Khalifahnya masing-masing, di mana mereka biasa berasosiasi dengannya, Khalifah yang telah ditunjuk oleh Sayyidina Khalid (q) kepada mereka.

Setiap orang begitu dekat dengan  Khalifah setempatnya, mereka berkata, “Oh, dialah milik kami!  Dialah pembimbing kami, setelah Syekh, dialah pembimbing kami.  Kami tidak bisa menerima yang lain.” Bisa jadi (khalifah-khalifah) yang lain lebih tinggi tetapi karena ia tidak mempunyai hubungan dengan mereka, ia tidak mengetahui apa-apa tentang mereka.  Ia hanya terhubung dengan khalifah yang diikutinya, dan orang yang diikutinya itu membawanya ke hadirat Sayyidina Khalid (q). Namun demikian, beberapa di antara mereka membawa para pengikutnya dengan keledai, seperti mengendarai keledai, yang lain dengan unta, ada yang berjalan, ada yang seolah-oleh dengan mobil, pesawat, kereta api, atau roket, tergantung kapabilitas dari deputi atau khalifahnya. 

Tetapi ada juga hikmah dan manfaatnya dari terbentuknya 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi setelah wafatnya Sayyidina Khalid (q).  Tetapi rahasia dari Mata Rantai Emas hanya diturunkan ke satu cabang, dan tidak kepada 299 cabang lainnya. Jadi apa yang terjadi dengan yang lain itu?  Apakah kita bisa menganggap mereka itu telah putus hubungan? Tidak, mereka tidak terputus, dan itulah sebabnya di dalam Sufisme, ada dua macam Syekh, yaitu: Syaykh ul-wilayat dan Syaykh at-tabarrukSyaykh ul-wilayat adalah Syekh yang mempunyai kekuatan awliya dan kekuatan untuk mengangkat muridnya ke tingkatan wali.  Syekh inilah yang memegang rahasia utama. Syekh yang kedua adalah Syekh yang membawa tajali atau berkah, berkah dari tarekat.  Inilah yang mengakibatkan berkah tersebut menyebar luas, karena terdapat hikmah di balik segala sesuatu. Orang yang mempunyai kekuatan dan rahasia kewalian inilah yang memegang cabang utama dari tarekat.  Rahasia utama atau arus listrik yang utama. Kalian perhatikan bahwa arus listrik ini masuk ke dalam gedung dari luar, tetapi ia dapat menerangi seluruh gedung. Setiap lampu melambangkan satu cabang, tetapi seluruh kekuatan berasal dari luar.  Mengerti?

Cabang-cabang ini hanya bisa memberi cahaya seperti dua atau tiga buah lampu.  Jika kalian menambahkan lebih banyak mereka akan meledak. Situasi semacam ini terjadi pada masa setelah wafatnya Sayyidina Khalid Baghdadi (q).  Satu di antara mereka adalah cabang utamanya, yang lain adalah cabang yang kecil-kecil, yang hanya menerangi orang-orang di daerahnya. Yang pertama adalah Syaykh ul-Wilayat, Syekh dengan kekuatan wali, orang yang menanggung semua tanggung jawab dari seorang Syekh, yang lainnya adalah syekh-syekh yang tugasnya menyebarkan tarekat ke seluruh penjuru Timur dan Barat.  Karena yang satu tidak bisa berada di mana-mana, oleh sebab itu lewat ke-299 syekh, terbentuklah 299 cabang, masing-masing di daerah yang berbeda sehingga lebih banyak orang yang mengikuti tarekat. Walaupun rahasia utama tidak mencapai hati mereka, paling tidak mereka mempunyai hubungan dengan tarekat ini.  Karena setiap orang yang mengatakan, “Aku adalah seorang pengikut Naqsybandi”, pasti telah berada di Hadirat Nabi (saw) dan Sayyidina Abu Bakar (ra) ketika berada di Gua Tsur, ketika Nabi (saw) hijrah dari Mekah ke Madinah. Itulah saat pertama mereka menerima Tarekat Naqsybandi dari Sayyidina Abu Bakar (ra) dan untuk pertama kali zikir Khatam Syariif dilaksanakan di gua itu.  Setiap orang yang mengatakan dirinya, “Aku seorang Naqsybandi,” walaupun ia terhubung melalui salah satu cabangnya, melalui Syaykh al-Barakah, ia tetap hadir di sana.  Namun demikian, rahasia utama tetap berada di satu cabang saja. 

Jadi, sebagian dari 299 khalifah dari Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) menerima seorang pemegang rahasia utama, tetapi kebanyakan tidak menerimanya.  Beberapa khalifah itu mentransfer para pengikutnya kepada Syekh utama, yaitu Syekh Ismail (q), tetapi yang lain tidak. Jadi, tipe percabangan ini juga terjadi pada masa Grandsyekh `Abdullah (q).  Saya hadir di sana, Saya berada di Suriah. Pada saat itu banyak murid Grandsyekh dari Suriah yang menerima Mawlana Syekh, tetapi yang lainnya tidak. Itu adalah ego, egoisme. Bagaimana mereka akan menerima?  Mereka adalah syekh besar dengan turban yang besar, lebih besar dari turbannya Mawlana Syekh Nazim (q). Beberapa di antara mereka mempunyai turban sekitar 40 yards di kepalanya, ya! (tertawa) Mereka semua hadir ketika Mawlana Grandsyekh (`Abdullah (q)) membuat surat wasiatnya, seminggu sebelum beliau wafat.  Mereka yang hadir dan duduk bersama mendorong dan melihat pada Mawlana Grandsyekh, “Di mana nama kami dalam daftar itu?” dan nama-nama mereka tidak pernah disebutkan. Mereka berada di sana, duduk di sana dan ketika Mawlana pergi, setelah beliau membuat surat wasiat, mereka membuat satu salinannya lalu mereka menambahkan nama-nama mereka.  Saya tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka. Itu akan selalu menjadi masalah. Jadi kita harus membuka hati kita.

Seperti yang dikatakan oleh Syekh Jamaluddin (q), “Ego tidak akan membiarkan kalian menerima fakta dan kebenaran.”  Dengan perintah Syekh Nazim (q) ia akan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain di Eropa. Oleh sebab itu ia mempunyai pengalaman tentang hal itu, dan seperti itulah tarekat.  Tarekat adalah pengalaman. Kalian tidak bisa duduk di rumah dan berkata, “Aku mengerjakan bisnisku, tugasku di universitas, aku mengajar, aku melakukan bisnisku di kantor dan aku ikut tarekat, aku melaksanakan zikir dan datang pada malam hari, berzikir dan aku mengetahui segala hal!”  Tidak! Itu bukan pengalaman namanya, pengalaman berarti bergaul dengan masyarakat, datang dan berbicara dengan mereka dan mengetahui cara berpikir mereka, bagaimana mereka merasakan kesulitan yang dihadapi, melalui ujian, lewat beragam ujian yang berbeda, dan dengan cara itu kalian membangun pengalaman kalian.

Itulah sebabnya Mawlana Syekh Nazim (q) menginginkan kalian untuk bepergian, agar kalian bisa belajar dari kebudayaan ini dan dari kebudayaan itu.  Beliau ingin agar kita selalu waspada terhadap segala hal [terkait budaya setempat sebelum kita berbicara]. Namun demikian, bukan berarti kalian tidak mempunyai izin untuk berbicara dengan orang-orang itu jika kalian tidak mengenal kebudayaan mereka—bukan, bicaralah dengan siapa saja yang kalian inginkan.  Tetapi harus diingat, kalian harus berhati-hati terhadap hal-hal dalam kebudayaan mereka yang tidak kalian sadari.

Ketika Saya sedang berada di Amerika ada seseorang yang datang kepada saya dengan mengeluh.  Ia berkata, “Syekh, Aku ingin mengeluarkan unek-unek kepadamu.” Ia mengatakan, “Aku tidak mau menerima caramu memperlakukan kami!”  Ia adalah orang yang baik, dan ia menyukai saya, tetapi bukan berarti apa yang dilakukannya adalah baik. Saya hanya akan mengatakan satu hal, dan itu menunjukkan kepada kalian betapa buruknya ego.  Hal itu mustahil dan luar biasa! Ia adalah orang Amerika, dan itu adalah cara mereka–untuk mengekspresikan sesuatu, tidak memendam sesuatu dalam hatinya. Mereka harus mengeluarkan apa yang mereka rasakan atau mereka merasa bahwa mereka akan meledak. 

Ia berkata, “Ini adalah negeri yang bebas, dan kami bukan Nazi di sini.  Di sini tidak ada perjuangan, kau tidak bisa memaksa orang lain.” Saya berkata, “Saya tidak pernah memaksa seseorang di Amerika, siapa saja.”  Ia berkata, “Tidak, tidak, tidak, kau memaksa semua orang.” Saya heran, “Dalam hal apa?” Ia berkata, “Orang-orang, ketika mereka datang untuk menemuimu pada waktu Zuhur, Ashar atau Maghrib—itu adalah suatu masalah yang sangat besar.”  Itu dianggap sebagai komplain yang besar bagi setiap orang. Orang Amerika merasa malu untuk salat. Ia berkata lagi, “Kau telah mencampuri urusan pribadi kami.” Saya lalu berpikir, “Hari kiamat akan datang kepada saya dan saya dalam masalah besar.” (tertawa) Ia berkata, “Ketika kami datang menemuimu, kadang-kadang kami datang pada saat Zuhur, atau Ashar, saat itu kau sedang makan, dan kau menyodorkan makanan kepada kami dan kami bilang, ‘tidak!’ lalu engkau memaksa kami untuk makan, dengan berkata, “Kalian duduk dan sekarang kalian harus makan.”  “Kau tidak bisa memaksa kami untuk makan dengan paksaan seperti itu. Kami adalah orang Amerika, kami berada di negeri yang bebas, kau tidak bisa memaksa kami. Ini adalah suatu kezaliman, ini adalah penindasan, kami tidak mau makan.”

Di negeri saya, jika kalian tidak mendesaknya, tamu selalu merasa malu untuk mengatakan “ya” ketika diminta untuk makan.  Tetapi jika saya tidak mengajaknya makan, saya merasa bahwa saya telah menghina tamu. Dalam kebudayaan Amerika, yang terjadi adalah kebalikannya.  Jika kalian mendesak tamu untuk makan, itu berarti kalian telah mengintervensi tamu. Ketika ia bilang “tidak” itu artinya ia tidak ingin makan, jadi tidak perlu memaksanya untuk makan.  Orang itu datang kepada saya untuk mengatakan bahwa inilah yang menjadi keluhan orang Amerika tentang perilaku saya. Jadi untuk itulah mereka mengeluh.

Jadi ini adalah masalah besar bagi orang Amerika, sementara bagi kami itu adalah simbol keramahan.  Jadi Mawlana Syekh mengirimkan murid-muridnya, murid yang senior atau deputinya untuk bepergian ke negeri yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk mengenal budaya mereka.  Karena semua kebudayaan harus melebur menjadi satu dalam tarekat ini. Kita tidak bisa bilang bahwa kita adalah orang Amerika, Perancis, Arab, Jerman, Turki, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Malaysia, atau Pakistan.  Yang ada hanya satu simbol, yaitu kecintaan Syekh kita—kita semua berasal darinya. Ini adalah sasaran terbesar, itulah sebabnya Mawlana mengirimkan setiap orang untuk belajar untuk mendapat pengalaman.

Perawi hadis yang paling penting adalah Imam Bukhari.  Beliau tidak pernah menulis hadis sebelum mandi, salat 2 rakaat lalu tidur.  Lalu dalam mimpinya beliau akan bertemu Nabi (saw) yang mengatakan, “Tulislah hadis ini pertama, kemudian yang itu, berikan nama bab itu sebagai, ‘Bab tentang Wudu’, tentang Zakat, Salat, dan begitu seterusnya.  Beliau tidak pernah membaca hadis walaupun itu diizinkan kecuali setelah beliau mandi, dan salat dua rakaat, lalu tidur dan bertemu dengan Nabi (saw) dalam mimpinya. Nabi (saw) kemudian memerintahkan untuk meletakkan suatu hadis di bab tertentu.  Hadis pertama yang beliau tuliskan dalam bukunya adalah, “Perbuatan seseorang adalah tergantung pada niatnya, jika niatnya untuk Allah (swt) dan Nabi (saw), maka ia akan diberi balasan sesuai dengan niatnya itu.” Bahkan jika orang itu membuat kesalahan [dalam melakukan pekerjaannya] tetapi jika niatnya baik [ia juga akan diberi balasan yang setimpal]. “Dan bagi siapa yang berniat untuk dunya, untuk kesenangan dunia ini orang itu akan mendapatkannya pula.”

Jadi niat adalah hal yang sangat penting dan harus kita perhatikan.  Bisa jadi seseorang tidak beruntung, tetapi ia berusaha dengan sebaik-baiknya.  Tetapi karena tidak beruntung mereka malah menghinanya. Kemudian ia menjadi lelah.

Dan seperti yang dikatakan oleh Nabi (saw), “Berhati-hatilah dengan kesabaran orang yang sabar, bisa jadi ia akan meledak.”  Ketika hal itu terjadi ia akan bergerak seperti kereta api, melabrak dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Jadi kita harus menetapkan niat, dan itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda, “Berusahalah selalu untuk melihat sesuatu dari sisi yang baik, segalanya dilihat dengan tafsir yang baik.”  Jangan memandang suatu masalah dengan tafsir yang salah karena kalian tidak bisa melihat hati seseorang, kalian tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam hati. Jika kalian menarik tafsir yang salah, pemahaman yang salah mengenai niat seseorang, kalian akan membuat suatu kesalahan. Jika kalian memandang segala sesuatu dengan kebaikan, SEGALANYA, Nabi (saw) berkata SEGALANYA, dengan tafsir yang baik kalian mungkin benar.  Oleh sebab itu kita harus selalu berada dalam hubungan dengan Mawlana Syekh. Bukannya bayi, yang masih sering jatuh, jatuh, jatuh, jatuh.

Jangan pernah berkata bahwa kalian tawaduk  Jika kalian berkata bahwa kalian tawaduk ketika kalian berbicara dengan orang lain dan berkata, “Tidak Aku tidak mengetahui apa-apa, ENGKAU-lah sumber inspirasiku.”  Mereka akan memandang kalian seolah-olah kalian adalah sampah (tertawa). Kalian sebaiknya berkata, “Aku adalah yang paling pandai di sini.” Jangan! Jangan! Jangan! Jangan berkata seperti itu di Amerika!  Jangan menjadi bodoh seperti saya (tertawa). Jika kalian pergi ke Amerika dan berkata demikian, kalian akan habis, tamat! Kalian tidak bisa berkata, “Aku rendah hati”, kalian tidak bisa berkata, ”Oh! Maafkan Aku! Aku orang yang lemah yang duduk bersamamu.”  Ketika kalian datang, insya Allah ke Amerika untuk menghadiri undangan di suatu Universitas atau di mana pun, jangan pernah berkata, “Aku yang terlemah”, mencoba untuk merendah.  Katakanlah, “Aku adalah Presiden (tertawa)” Inilah cara berpikir mereka.

Jangan berpikir bahwa Mawlana Syekh tidak dapat mendengar kalian.  Jika beliau mengerahkan kekuatan yang Allah berikan untuk menjadi kasyaf atau tanpa hijab, beliau dapat mendengar seluruh percakapan kalian.  Bagaimana kalian mendengar suara guntur? Sejelas itulah kira-kira suara yang didengar oleh para awliya.  Hal itu tidak sulit bagi Allah (swt), bukankah Dia memberi Sayyidina `Isa (as) kemampuan untuk melihat isi suatu rumah dan apa yang dimakan mereka?  Bukankah Dia telah menganugerahkan Sayyidina `Umar (ra) kemampuan untuk melihat apa yang terjadi dengan salah satu jendralnya 2000 kilometer jauhnya.  Beliau mengatakan, “Ya Sariya, al-jabal”  “Wahai Sariya, gunung!”  Beliau memberi peringatan kepadanya terhadap serangan dari balik gunung.  Dan Sariya mendengar suaranya! Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini—Ini harus diyakini oleh seorang Muslim.  [Bahkan ulama yang paling ketat, Ibn Taymiyyah, mengatakan bahwa percaya kepada kasyaf dan keramat (kekuatan ajaib) para awliya merupakan persyaratan keimanan, di dalam kitabnya`Aqidat al-wasitiyya.–penerj.]

Keistimewaan seperti itu merupakan karunia Allah (swt), namun demikian mereka tetap saja seorang hamba.  Mereka tidak berpikir bahwa dirinya lebih dari sekedar hamba-Nya, mereka adalah “`abd”, mereka adalah hamba Allah.  Allah (swt) adalah Sang Pencipta, tidak seperti kaum Wahhabi yang gila, ketika kalian bilang, “Seorang wali mempunyai kekuatan istimewa,” mereka akan mengatakan, “Apa kamu bilang, dia seperti Allah?” Mereka berkhayal bahwa Allah (swt) seperti manusia!  Allahu Akbar! Takbir! Takbir! Allah Mahabesar.  Allah memberi umat manusia, kepada awliya, raghman `an anfihim.

http://www.naqshbandi.org/teachings/suhbats/know-your-station-in-tariqa/

Rahasia Zikir Khatm Khwajagan

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Shuhba 
25 Desember 2014
Permata Hijau

5554
 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillahi Rabbi ‘l-‘Alamiin, wa ’sh-shalaatu wa ’s-salaamu ‘alaa asyrafi ‘l-mursaliina Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin
kalimataan khafiifataan `ala al-lisaan tsaqiilataan fil-miizan subhanallah wa bihamdihi subhanallah al-`azhiim istaghfirullah, qaal an-Nabi ad-diinu nasiiha, ad-diinu nasiiha, ad-diinu nasiiha
 
Nabi (s) bersabda, “Agama adalah nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat.”  Itu artinya segala sesuatu untuk menasihati orang adalah agama.  Segala sesuatu yang baik bagi manusia dan kalian memberi nasihat mengenai hal itu, maka itu adalah bagian dari agama, karena sebagaimana sabda Nabi (s), agama adalah nasihat.  Jadi jika kalian memberi nasihat, seolah-olah kalian sedang menjalankan agama kalian.
 
Setan tidak menyukai hal itu.  Ia berusaha melakukan usaha terbaiknya untuk membuat orang menjadi tersesat.  Ia tidak bisa mengambil iman dari kalbu mereka, tetapi ia dapat memblok dan menghijab iman itu.  Allah menanam imaan di dalam kalbu manusia sebagaimana Nabi (s) menyebutkannya di dalam hadits, allaahuma shalli `alayka ya Rasuulullah (s), “yulid al-insaanu `alaa’l-fitrah.”  “Manusia lahir dalam keadaan fitrah.”  Jika ada fitrah, maka Setan tidak dapat menghilangkannya tetapi ia dapat menutupinya, dan hijab itu ada pada setiap orang.  Ia dapat menutupi cahaya iman yang ada pada setiap orang.
 
Untuk menghilangkan hijab atau penutup itu bukanlah hal mudah.  Setan membuat pentup itu seperti dinding yang terbuat dari semen.  Dapatkah kalian menghancurkannya?  Kalian perlu bor untuk menghancurkan dinding itu agar kalian bisa membuat lubang kecil agar cahaya bisa masuk ke dalamnya.  Satu-satunya yang dapat menghancurkan dinding itu, dinding semen yang menutupi kalbu adalah dengan zikrullah.   Itulah sebabnya mengapa Allah menyebutkan di dalam al-Qur’an untuk mengingat-Nya.  Dengan mengingat-Nya, kita mengutuk Setan.  Dengan mengingat bahwa Setan adalah musuh Allah, dan ia menjaga dinding itu pada diri kalian.  Jadi untuk menghancurkan hijab itu, majelis zikrullah akan menyingkirkan hijab dan membawa cahaya iman agar dapat terlihat.  Jadi untuk majelis atau pertemuan semacam itu, hijab di dalam diri kita sekarang hancur dengan zikrullah.
 
Alladziina yadzkuruunallah qiyaaman wa qu`uudan wa `ala junuubihm wa yatafakaruun fii khalqi-samaawaati wal-ardh.  Mereka yang melakukan zikrullah mampu memikirkan penciptaan langit dan bumi.  Bukanlah hal mudah untuk melakukannya, hal itu memerlukan dukungan dan dengan zikrullah, kalian akan mampu melakukannya.
 
Malam ini, kita seharusnya berada di acaranya Kyai Amir Hamzah, ada majelis besar di sana, tetapi mereka mengubahnya.  Bukannya mereka yang mengadakan acara tersebut yang mengubahnya, tetapi hal itu tidak pada Iradatullah, Kehendak Allah tidak menginginkan hal itu terjadi untuk alasan tertentu. 
 
Bulan ini adalah bulan Mawlid an-Nabi (s) dan malam ini adalah Kamis pertama dan besok adalah hari Jumat.  Dan Kamis malam adalah Laylatun mubarakah, Kehendak Allah membawa murid-murid dan yang bukan murid untuk berkumpul melakukan Khatm al-Khawajagan, zikir yang dilakukan oleh Nabi (s) bersama Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) di Gua Tsur dan zikrullah itu seolah-olah kita berada di dalam gua itu bersama Nabi (s) dan itu lebih penting karena itu bagaikan bor yang membuka kalbu manusia.  Kita melakukan Khatm al-Khawajagan yang dilakukan oleh Nabi (s) bersama Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) dan seluruh Wali Naqsybandi di Gua Tsur. 
 
Jika kita pergi ke sana untuk mendengar Mawlid an-Nabawi asy-syariif. Mawlid dapat dilakukan setiap saat, seperti Mawlid yang mereka lakukan di sini dan di atas itu, kita mulai dengan pembacaan Mawlid dan di atasnya kita mencapai rida Allah bersama kita bahwa kita melakukan zikir di tempat ini. Maqaam itu sekarang, tempat ini sekarang menjadi sebuah maqaam di mana nuur muncul dari tempat ini hingga ke langit karena setiap orang bergabung dalam zikrullah, menjadi bagian dari zikir itu.
 
Mereka akan dikenal dengan cahaya pada kening mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang melakukan zikrullah di dunia, bahkan jika kalian melakukannya sekali sepanjang hidup kalian, kalian akan menjadi seorang dzaakir.  Bahkan jika ada seseorang yang datang dan duduk bersama kalian selama lima menit karena ada suatu keperluan dengan orang yang berada di sini, kemudian ia pergi, ia juga akan dianggap sebagai dzaakir oleh Allah, itulah sebabnya kita harus mengucapkan alhamdulillah dan asy-syukur lillah.
 
Mengapa dalam zikrullah dimulai dengan syahadat?  Itu adalah seperti orang yang mandi, membersihkan diri.  Syahadat membersihkan segala sesuatu, jadi kita mulai dengan mengucapkan asyhadu an la ilaha ill ‘Llah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah (s), dengan mandi itu kalian akan menjadi bersih.  Setelah itu kalian membaca istighfaar, Allah akan mengampuni kalian.  Kemudian kalian membaca Surat al-Fatihah, sekarang kalian memasuki rahasia kitab suci al-Qur’an dan malaikat membukakan bagi kalian untuk menyelam ke dalam samudra rahasia al-Qur’an. 
 
Dan kalian membaca Surat al-Fatihah sebanyak tujuh kali.  Mengapa bukan sepuluh?  Mengapa bukan sekali?  Tujuh kali karena ada tujuh ayat di dalam Surat al-Fatihah dan, saba` matsaani, untuk itulah kita membacanya tujuh kali, dan itu adalah kunci-kunci bagi ketujuh langit.  Jadi, satu, dua,…. Tujuh.  Kalian akan diberi kunci dari ketujuh ayat yang merupakan pembuka bagi ketujuh langit.  Jadi dengan berkah dari syuyukh kita, Allah membukakan bagi kita hakikat dari semua ini dan meneruskannya dari langit pertama hingga langit ketujuh dan tidak keluar lagi dari sana sampai Hari Kiamat. 
 
Kemudian apa lagi yang kita baca?  Kita membaca 10 shalawat.  Segala sesuatu kalian harus membungkusnya dengan shalawat.  Setiap amal yang kalian lakukan, kalian harus menyebutkan Nabi (s) dengan demikian itu akan aman. Tidak ada yang dapat menyentuhnya, segera setelah kalian menyebutkan Nabi (s), Setan akan pergi.  Jadi 10 shalawat adalah untuk membungkus syahadat, istighfar dan Surat al-Fatiha, itu akan dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan untuk Hari Kiamat.  Nabi (s) akan menjaganya untuk kalian. 
 
Kemudian kalian membaca alam nashrah laka shadrak, bukankah Kami telah melapangkan dadamu ya Muhammad?  Dan Kami akan terus memberi padamu hingga engkau berkata, “Ya, aku senang.”  Apakah Nabi (s) akan mengatakan, “Aku senang”?  Tidak!  Beliau akan terus meminta dan meminta, tidak pernah berhenti karena apapun yang Allah berikan, beliau (s) akan memberikannya kepada umatnya.  Wa wadha`naa `anka wizrak, dan kemudian Kami ambil wizr bebanmu, seluruh dosa kalian telah dihapuskan. 
 
Kemudian Surat al-Ikhlash, setelah kalian dibersihkan, kalian membaca Surat al-Insyiraah, alam nashrah laka shadrak wa wadha`naa `anka wizrak, alladzii anqadha zhahrak, ketika Kami hilangkan beban berat berupa dosa-dosa, maka kalian dapat memasuki Samudra Tawhiid, ketika kalian mengucapkan, “asyhadu an la ilaha ill ‘Llah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah (s), kalian melihatnya dari level tersebut, dunia telah lenyap, setelah kalian dibersihkan dengan membaca Khatm al-Khawajagan dan ini adalah ringksan pendek dari rahasia Khatm al-Khawajagan.
 
Ketika kalian telah mencapai level fitrah itu dan kalian telah diangkat, dibukakan bagi kalian samudra Qul huw Allahu ahad, kalian menyelam dalam rahasia itu dan kalian akan merasakan hakikat Tawhiid, bukan lagi tawhiid imitasi, itu adalah tawhid yang sejati.  Kemudian kalian membaca lagi Surat al-Fatihah, tujuh kali, tetapi kali ini kalian membacanya pada level Tawhiid.  Yang pertama setelah istighfaar, kali ini setelah Tawhiid, yang pertama setelah tobat dan yang kedua membaca al-Fatihah dengan Hakikat Tawhiid.  Sekarang kalian memasuki tujuh langit, dengan ketujuh ayat ini dengan Tawhiid penuh, tidak ada lagi syirik di dalam kalbu kalian. 
 
Kemudian apa lagi yang kalian baca?  Shalawat atas Nabi (s) untuk membungkus Surat al-Fatihah dan samudra Tawhiid yang telah Allah bukakan bagi kalian.  Kalian berada di suatu tempat dan tidak ada orang yang dapat mengeluarkan kalian.  Itu terbungkus hingga Hari Kiamat.  Itulah pentingnya Khatm al-Khawajagan, jadi kalian jangan sampai melewatkan Khatm, lakukan sekali seminggu, karena itu akan membersihkan kalian dan hakikat alam nasyrah laka sadhrak, rahasia Surat al-Fatihah akan dibukakan bagi kalian di masa mendatang, insya-Allah.  Jika kalian tidak mempunyai kendaraan untuk pergi ke zawiyah di mana mereka mengadakan Khatm al-Khawajagan, maka tinggallah di rumah dan lakukan zikir itu sendiri. 
 
Jika kita pergi ke acara Mawlid malam ini, kita akan menjadi mahruumiin,  kita tidak akan mendapat shuhba ini malam ini.  Dan jika kita berada di sana, kita tidak akan mendapat rahasia ini yang Mawlana curahkan ke dalam kalbu untuk disampaikan kepada orang-orang mengenai pentingnya zikrullah dan Khatam al-khawajagan.
 
Surat al-Fatihah terdiri dari 3 level yang berbeda.  Insya Allah, Allah akan membukakan rahasia dari Surat al-Fatihah. 
[doa]

Adab dalam Hadirat Syekh

Mawlana Syekh Hisham Kabbani

dari buku At the Feet of My Master: Sufi Guidance for the 21st Century

 

Madad yaa Sulthan al-Awliya, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani
Madad yaa Sulthan al-Awliya, Syekh `Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestaani

Kita memulai dengan topik ini karena ini sangat penting bagi perkembangan spiritual kita. Berbicara dalam kehadiran fisik Mawlana sangat berbeda dengan berbicara ketika kalian berada jauh darinya, ketika kalian merasa lebih bebas. Berada dalam kehadiran Mawlana bagaikan berenang di samudra di mana kalian bisa saja tenggelam. Jika kalian berenang di sebuah danau atau sungai yang kecil, di sana tidak ada arus yang kuat sehingga kalian dapat menyelamatkan diri kalian. Dapat pula kalian katakan bahwa berbicara di hadapan Mawlana bagaikan berbicara di hadapan singa yang sedang mengaum di mana kalian tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun, sebab ia bisa menerkam kalian. Tetapi bila kalian jauh dari samudra atau singa itu, setiap kali kalian melakukan suatu hal yang tidak sempurna, kalian masih aman.

Itulah sebabnya sangat penting untuk mengetahui tentang adab atau disiplin yang benar. Berada dalam hadirat Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memanjangkan umurnya, tidak seperti berada di sekitar syekh biasa. Ada banyak ulama dan syekh biasa yang dapat kalian temui di seluruh dunia.

Nabi (saw) bersabda, “Para ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil.”
Itu artinya ilmu tentang al-Qur’an suci dan hadits membuat para ulama tersebut mewarisi rahasia spiritual dari Nabi (saw). Namun demikian para Awliyaullah sama sekali berbeda.

Wali-wali-Ku berada di bawah Kubah-Ku, tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Aku.
Alaa inna awliyaullaahi la khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun.
Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Surat Yunus, 10:62)

Allah (swt) mengatakan di sini, sudah tentu, para awliyaullah tidak mempunya rasa takut atau sedih karena Dia melindungi mereka! Awliyaullah sudah sangat mapan, dan mereka terdiri dari dua tipe: awliya biasa, yang secara bertahap mengalami kemajuan dalam ilmu-ilmu Ilahiah; dan mereka yang berada di ujung kesempurnaan, yaitu Sulthan al-Awliya yang hanya ada seorang pada setiap abad. Jadi ada protokol atau perilaku yang harus kita ikuti agar tidak membuat kesalahan serius.

Saya akan memberikan sebuah contoh. Di mana pun kalian berada di dunia ini, jika kalian hanya berpikir tentang melakukan sebuah dosa tetapi kalian tidak melakukannya, hal itu tidak dituliskan dalam catatan amal kalian di Loh Mahfuz. Berbeda halnya dengan Mekah atau Madinah, jika kalian hanya berpikir untuk berbuat dosa, itu sudah dituliskan dalam catatan amal kalian. Jadi itu sungguh berbeda!
Dalam hadirat Syekh, niat saja sudah dituliskan, apakah itu baik atau buruk, jadi ini berbahaya. Ketika kita berada di sini, jika kita mempunyai niat buruk terhadap satu sama lain, itu sudah tertulis. Hal itu seolah-olah kalian telah memberi air beracun kepada syekh. Kita datang ke sini untuk dibersihkan, bukan untuk tertular penyakit. Jadi, pertama kita harus menegakkan adab, kita harus menjaga adab terhadap syekh dan juga terhadap sesama pengunjung.

Syekh dapat membaca hati kalian dan beliau tidak ingin melihat ada monster di hadapannya. Meskipun beliau tidak menunjukannya, beliau tidak senang bila ada seseorang yang kondisinya seperti itu. Beliau senang melihat seseorang yang seperi orang sedang kasmaran. Tentu saja, setiap orang yang datang ke sini adalah para pecinta syekh, tetapi kadang-kadang ketidakmurnian kita mendorong kita berbuat kesalahan dan menciptakan masalah.


Kedekatan dengan Syekh

Mengenai kedekatan dengan syekh, banyak orang yang berpikir–karena mereka melihat syekh setiap hari atau duduk bersamanya–bahwa mereka lebih baik atau lebih maju dalam terekat daripada mereka yang mengunjungi Mawlana setahun sekali. Hal ini tidaklah benar.

Nabi (saw) bersabda, “Rubba asy `ats aghbar law aqsama `alaa Allaahi laa-abarrah
Bisa saja seseorang yang berambut kusut dan berdebu ketika ia berdoa kepada Allah memohon sesuatu, Allah segera mengabulkannya. (Sahih Muslim 2622)

Di masa Nabi (saw), seseorang bisa menempuh perjalanan selama sebulan dengan berjalan kaki atau mengendarai unta untuk bertemu beliau. Ketika mereka sampai, tubuh mereka kotor dan berdebu. Lihatlah bagaimana tanggapan Nabi (saw). Itu artinya orang yang telah menempuh perjalanan jauh, menempuh perjalanan yang sulit dan datang hanya untuk bertemu syekhnya, kemudian dengan berat hati mereka harus kembali lagi, jika mereka berdoa kepada Allah, Allah akan segera mengabulkannya.

Bagi mereka yang datang berkunjung namun harus kembali, jangan berpikir, “Oh, jika saja aku bisa tinggal di sini.” Tidak, seratus kali lebih baik jika kalian datang dan pergi, daripada kalian tinggal di tempat yang sama dan berpikir bahwa kalian begitu dekat dengan Syekh kemudian kehilangan penghormatan kalian. Karena banyak orang yang ketika mereka sangat dekat, mereka kehilangan penghormatan mereka dan tidak lagi menjaga adab. Kita belajar dari hadits ini bahwa lebih baik untuk tinggal di tempat yang jauh dan kemudian datang sekali-sekali, karena kalian akan memperoleh pahala yang lebih besar.

Sebagai contoh, Nabi (saw) bersabda di dalam hadits bahwa barang siapa yang datang ke masjid untuk shalat, Allah akan memberi pahala 10 hasanat (kebaikan) dan menghilangkan 1 sayyi’at (keburukan) untuk setiap langkahnya. Jika kalian tinggal satu blok dari syekh, kemudian kalian datang, shalat dan kembali lagi, ada berapa langkah jarak yang ditempuh? Satu, dua atau tiga ribu langkah? Mari hitung ada berapa hasanat yang akan kalian dapatkan karena untuk setiap langkah kalian akan mendapat 10 hasanat. Jadi jika kalian tinggal 10.000 kaki jauhnya, maksimum kalian akan mendapat 100.000 hasanat.

Namun demikian banyak orang yang datang dari segala penjuru dunia, dari Timur Jauh, dari Barat Jauh, datang dari jarak 10.000 mil untuk sampai ke Siprus. Sekarang kalikan pahalanya untuk 10.000 mil. Apakah lebih baik memperoleh 100.000 hasanat jika kalian tinggal 1000 kaki jauhnya atau mendapat 450.000.000 hasanat jika kalian tinggal 10.000 mil jauhnya. Ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, namun ini adalah hadits dari Sayyidina Muhammad (saw).

Kita ingin berada dekat dengan syekh, tetapi ada adabnya dan ini adalah pelajaran pertama. Kita akan melanjutkan tentang pentingnya adab yang harus kita ikuti. Jika kita tidak dapat mengikuti adab-adab ini, maka kita tidak akan dapat meraih apa yang kita cari. Kita tidak datang ke sini untuk pergi ke pasar, kita datang ke sini untuk mencari pemurnian spiritual melalui suatu pengasingan dari dunia fisik. Kita harus menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, Hadits, dalam belajar, dan menjelaskan satu sama lain, dan bertanya kepada mereka yang lebih tinggi ilmunya tentang apa-apa yang perlu kita ketahui. Jangan merasa malu untuk bertanya kepada orang lain.

Nasihat kami untuk setiap orang, sebagaimana untuk diri saya sendiri, adalah agar selalu menjaga adab, dan khususnya adab untuk mencatat. Ketika saya berumur 20an, ketika kami pergi menemui Grandsyekh, kami selalu membawa buku catatan dan alat perekam. Pada saat itu kami hanya mempunyai alat perekam yang besar yang kami letakkan di rumah Grandsyekh, karena beliau biasanya memberi shuhba tiga sampai empat kali sehari dan dari catatan Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim memberi shuhba setiap bakda Shalat Subuh dan Ashar. Grandsyekh biasa memberi shuhba sekali dalam dua jam, sepanjang masih ada tamu yang datang dan pergi, beliau akan berbicara, jadi kalian tidak berhenti untuk mencatat.

Sekarang orang-orang tidak lagi mencatat ketika mereka hadir dalam shuhba Mawlana Syekh, dan itu melanggar adab. Alat perekam ini sangat berharga, tetapi ia tidak menunjukkan dedikasi murid yang menggunakannya untuk merekam shuhba. Jika kalian kuliah di universitas, apakah kalian merekam pelajaran dari dosennya? Jika kalian adalah murid yang serius, kalian akan mencatat, menunjukkan hormat kepada dosen dan pada ilmunya.

Ketika syekh berbicara dan beliau melihat kalian mencatat, beliau menghitung dengan matanya. Bila kita mencatat, beliau akan membukakan lebih banyak rahasia. Tetapi dengan alat perekam hal itu tidak sama, alat perekam tidak akan menciptakan perasaan yang intim antara guru dan murid, tidak seperti dengan catatan. Ketika ada perasaan, maka tercipta hubungan. Ketika guru melihat muridnya mencatat, ia akan membuka lebih banyak lagi ilmunya.

Jadi, sekarang kita kehilangan salah satu adab yang paling penting, karena Allah telah menyebutkannya kepada Sayyidina Muhammad (saw) dalam wahyu pertama, “Iqra!” Perintah suci, “Bacalah!” Nabi (saw) bertanya pada malaikat Jibril (as), “Apa yang harus kubaca? Aku tidak tahu.” Nabi (saw) sebenarnya tahu, tetapi karena adabnya yang luhur, beliau (saw) bertanya, bagian mana yang engkau ingin aku membacanya?”
Membaca adalah dari sesuatu yang tertulis. Untuk mengatakan “iqra” artinya ada sesuatu yang tertulis di depan Nabi (saw). “Ya Muhammad (saw), bacalah dari situ.” Itulah sebabnya turunnya wahyu, “Iqra bismi rabbik alladzi khalaq” “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan (semua yang ada).” (Surat al-Alaq, 96:1)

Sekarang hubungan antara guru dan murid sudah hilang, jadi bagaimana guru akan memberikan rahasianya pada kalian? Ajaran Mawlana Syekh Nazim yang dulu sepenuhnya berbeda dengan yang sekarang. Ajaran yang sekarang berdasarkan ego, ego dan ego. Ceramah beliau yang terkini bahkan tidak menyebutkan tentang rahasia spiritualitas, apa yang dilihat oleh orang-orang arif dalam perjalanannya menuju ke Hadirat Ilahi, hubungan muraqabah antara guru dan muridnya, bagaimana syekh membawa muridnya ke Hadirat Ilahi, atau apa yang akan dihadapi oleh murid dalam perjalanan yang luar biasa itu. Saya tidak lagi melihat ajaran-ajaran ini dari Mawlana Syekh, karena tidak ada yang menaruh perhatian penting dengan mencacat. Alat perekam ini memang bermanfaat, tetapi dalam catatan kalian dapat menggarisbawahi hal-hal yang penting, kalian dapat segera mencari bagian spesifik dari shuhba tersebut; dan dengan mencatat juga membantu membentuk hubungan mental karena kalian menggunakan lebih banyak indera kalian (pendengaran, sentuhan, penglihatan). Jadi bawalah selalu buku catatan dan pena.

Allah (swt) berfiman bahwa malaikat di sisi kanan dan kiri setiap manusia mempunyai buku catatan dan mereka merekam untuk kalian. Allah berkata pada mereka, “Bawalah sebuah buku catatan, suhuf.” Itu adalah sebuah tanda bagi kita. Kalian harus membuat catatan dari apa yang dikatakan oleh syekh setiap hari, dan dari apa yang telah kalian capai. Itu adalah salah satu adab. Ketika syekh melihat hal itu dari murid-muridnya, beliau akan mulai membuka lebih banyak dari ilmu-ilmu Ilahiah. Menjaga adab ini akan mendatangkan lebih banyak ilmu bagi masa depan kita di Jalan ini.

Semoga Allah mengampuni kita, semoga Allah memberkahi kita, dan semoga Dia mengaruniai kita manfaat dari cinta dan penghormatan yang kita tunjukkan pada syekh kita.


Sebuah Peringatan bagi para “Perwakilan Syekh”

Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam setiap pertemuan, baik di Argentina atau di mana pun, kita harus mengerti bahwa tidak ada seorang pun yang menjadi syekh, kecuali Mawlana Syekh Nazim, dan kita semua adalah murid-murid di kaki beliau. Betapa pun tingginya maqam yang telah diraih oleh para perwakilan tersebut ia harus tahu bahwa dirinya adalah seekor semut, sedangkan syekh adalah gajahnya. Seorang wakil atau siapa pun yang menganggap dirinya sebagai deputi atau khalifah mustahil menjadi sesuatu. Kita bukanlah apa-apa di pintunya Mawlana Syekh! Beliau dapat menghancurkan kita kapan saja, khususnya mereka yang memberi bay’at atas nama beliau. Mereka harus memperjelas bahwa bay’at tersebut adalah kepada Mawlana Syekh Nazim.

Saya melihat banyak orang di berbagai zawiyah di seluruh dunia. Ketika saya tanya, “Siapa Syekhmu?” Mereka menjawab, “Oh, Syekhku adalah orang ini.” Bagaimana mungkin orang itu adalah syekhnya ketika ia juga adalah murid Mawlana Syekh? Syekh kalian bukan orang ini–Syekh kalian adalah Syekh Nazim. Ayah kalian adalah Syekh Nazim, ibu kalian adalah Syekh Nazim, dan saudara kalian adalah Syekh Nazim. Kalian memberi bay’at kepadanya dan peranan kalian selesai, sekarang hubungan orang itu secara langsung adalah kepada syekh. Pastikan bahwa kalian tetap menghormati perwakilan tersebut, tetapi arahkan cinta kalian, niat dan pengorbanan kalian kepada syekh dari Tarekat Naqsybandi, yaitu Mawlana Syekh Nazim.

wa min Allah at-tawfiq, bi hurmatil habib, wa bi hurmatil Fatihah.

Jatuhkan Egomu

16252131_1231276273593390_5881064429397819291_o
 
Seorang murid yang sangat setia dengan Syaikh-nya selama 25 atau 27 tahun, melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Syaikhnya, akhirnya, karena suatu sebab, sang murid ini menjadi frustrasi dan tertekan, serta berkata kepada dirinya sendiri, “Telah kuhabiskan waktuku bertahun-tahun dengan syaikhku dan aku tidak melihat apa-apa. Aku punya kawan-kawan dari tariqah lain yang sudah lebih maju dan hijab mereka sudah tersingkap, mereka melihat dan mengalami kasysyaf, dan bahkan juga kawan-kawanku dari Tariqah yang sama, sedangkan aku belum juga melihat apapun! Lalu, kenapa aku mesti menghabiskan waktuku dengan syaikhku? Aku harus berbicara dengannya!”
 
Sang murid pun pergi menemui syaikhnya dan berkata, “Yaa Sayyidii, maafkan aku, namun aku sudah bersamamu selama 25 tahun dan aku pun mendengar suhbah-suhbahmu, tetapi aku belum melihat hal-hal ghaib (kasyaf) seperti kawan-kawanku yang lain. Aku tidak melihat apa pun.”
 
Sang Syaikh berkata, “Yaa waladii (wahai anakku), mereka mengalami kemajuan dalam waktu yang singkat dibandingkan dirimu karena engkau melihat dirimu lebih baik daripada setiap orang. Kesombongan dalam dirimu inilah yang menundamu mencapai Amaanahmu, Amanah Surgawimu. Artinya, engkau mesti meninggalkan diri (ego)mu sepenuhnya dan berpegang teguh hanya kepada cinta Allah (SWT) dan Nabi-Nya (SAW) serta Syaikh-mu di dalam hatimu, kemudian melakukan awraad-mu, baru kemudian engkau akan mengalami kemajuan. Namun, jangan pernah berpikir bahwa itu karena engkau pandai dan mampu. Jika engkau berpikir seperti itu syaikh akan menghentikanmu.”
 
Murid itu pun bertanya, “Apa yang mesti kulakukan sekarang?”
 
Sang Syaikh pun menjawab, “Mudah saja: engkau mesti menghempaskan kesombonganmu dan satu-satunya cara untuk menghempaskannya adalah bukan hanya dengan melengkapi awraadmu, tetapi engkau mesti pula melakukannya secara fisik. Apa pun yang syaikhmu perintahkan untuk kau lakukan, engkau mesti melakukannya.”
 
Murid itu menjawab, “Oke!”
 
Sang Syaikh pun berkata, “Pergilah beli sebuah keranjang, penuhi keranjang itu dengan biji kenari dan duduklah di pintu masjid. Tanyalah setiap orang yang datang apakah mereka ingin kenari, dan jika mereka menjawab ya, maka suruhlah mereka untuk memukulmu di kepala dengan sepatumu dan mengatakan padamu, ‘Jangan sombong, jangan bangga pada dirimu sendiri.’ Jika orang kedua datang dan menginginkan dua kenari, berikan padanya kedua sepatumu dan suruhlah dirinya untuk memukulmu di kepalamu. Bila biji-biji kenari itu telah habis, datanglah kepadaku karena ada tugas lain menantimu.”
 
Murid itu pun berkata, “Yaa Sayyidii, aku tak mempu mengerjakan tugas pertama ini, bagaimana lagi dengan tugas kedua? Aku tak ingin Tariqahmu, aku tak ingin berurusan apa pun lagi denganmu, aku akan lakukan sendiri jalanku.”
 
Murid itu pun pergi dan hilang. Kita tak ingin diri kita hilang; karena itu, bahkan jika syaikh memerintahkanmu untuk melakukan sesuatu yang sangat sulit, engkau mesti melakukannya, setidaknya mulailah melakukannya dan jika dirimu tidak berhasil mereka akan melengkapkannya bagimu, tetapi engkau mesti menunjukkan pada mereka bahwa engkau mau melakukannya.
 
Semoga Allah selalu menjaga kita untuk mengikuti Sayyidina Muhammad (SAW); sebagaimana para Sahaabah (r.a.) yang memberikan nyawa mereka bagi beliau, semoga Allah (SWT) membimbing kita di Jalan yang Benar dan untuk mengorbankan diri kita sendiri bagi kecintaan pada Kemanusiaan, kecintaan pada sesama Makhluq, pada Cinta Sayyidina Muhammad (SAW) dan cinta Awliya’!
 
Mawlana Syaikh Hisham Kabbani (ق )
Nazimiyya Indonesia