Ketahuilah Posisi Kalian di dalam Tarekat

IMG-20160824-WA0026

Syekh Hisyam Kabbani
Masjid Peckham, 23 Februari 1995 – Ramadan

 

A`udzu billaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim 
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Allah (swt) berfirman di dalam Al-Qur’an, “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.  Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul, Sayyidina Muhammad (saw), dan taatilah ulil amri (para pemimpin) di antara kalian,” ini artinya patuh kepada syekh kalian.  Dan Nabi (saw) bersabda di dalam sebuah hadits sahih, “ad-diinu nasiiha” “Agama adalah nasihat.”  Agama bukan seperti materi kuliah untuk diajarkan oleh seorang ulama kemudian pergi begitu saja.  Agama adalah nasihat, dan nasihat tidak akan muncul tanpa melalui pengalaman. Nasihat tidak bisa berupa teori saja.  Orang yang memberi nasihat harus mempunyai pengalaman tentang apa yang diberikannya itu.

Sayyidina Syah Naqsyband (q) berkata, “Thariqatuna ‘sh-shuhbah wa ‘l-khayru fi jam`iyyah “Tarekat kita berdasarkan pada asosiasi, yaitu menjaga kebersamaan, shuhbah atau asosiasi, perkumpulan; dan kebaikan dicapai melalui kebersamaan.”  Bisa juga dikatakan, “Jalan kita adalah melalui bimbingan, dan kebaikan ada dalam asosiasi.”  Tanpa asosiasi, tanpa nasihat, tidak mungkin kita mendapatkan mudarat atau kebaikan.

Sekarang, setiap kali Mawlana Syekh Nazim (q) meminta saya untuk berbicara, saya merasa malu.  Karena kalian semua, masya Allah adalah murid-murid senior.  Dan kalian semua mempunyai pengalaman yang luas, kalian memiliki bintang di pundak kalian, seperti saudara kita di sini, Syekh `Ali, kalian semua adalah perwira.  Mustahil seorang prajurit memberi nasihat kepada perwira. Jadi makin sering Mawlana berkata, “Bicaralah sesuatu,” saya merasa, diri saya ini tidak mengetahui apa-apa.  Ini juga merupakan ujian bagi saya di mana saya merasa seperti terpojok. Karena saya merasa apa pun yang akan saya katakan, ada beberapa orang yang bisa menerima, dan ada pula yang tidak.  Saya tidak ingin mengatakan bahwa pembicaraan itu tidak ada gunanya sama sekali, karena selama ada orang yang mendapat manfaat, saya akan berbicara. Tetapi, pada saat yang sama, saya merasa malu kepada orang yang tidak senang dengan apa yang saya katakan.  Mungkin mereka merasa bahwa mereka telah dipaksa untuk mendengarkannya.

Saya masih sangat muda ketika pertama kali datang kepada Mawlana Syekh.  Tidak perlu untuk membicarakan apa yang saya lihat dari Mawlana, tetapi jangan berpikir bahwa ego akan menyerah begitu saja.  Ego tidak pernah menyerah. Bahkan jika salah seorang dari kita berkata bahwa ia mencintai Mawlana Syekh Nazim (q), ego kita juga tidak menyerah.  Kita telah bepergian dari jarak yang cukup jauh untuk sampai ke sini (Inggris), untuk duduk bersama Mawlana Syekh selama 10 hari atau 1 minggu, sebagian datang hanya selama 3 hari, kemudian pergi.  Bahkan mereka, dengan antusiasme dan energi yang tinggi, ego mereka juga tidak menyerah.

Bagaimana kalian mengetahui bahwa ego tidak menyerah?  Itu mudah. Ketika Syekh mengirimkan ujian kepada kalian, Syekh biasanya mengirimkan ujian, bukan untuk mengetahui sampai di mana tingkat pencapaian kalian, atau apakah kalian gagal atau tidak—karena mereka telah mengetahui semuanya.  Mereka tidak memerlukan informasi semacam itu, karena mereka adalah orang-orang yang berdiri di belakang kalian—tetapi mereka ingin KALIAN mengetahui sampai di mana kalian mampu berdiri sendiri.

Jika seorang anak—seorang bayi—tidak jatuh, ia tidak akan belajar bagaimana caranya berjalan.  Kita harus jatuh, dan mereka (syekh) akan membiarkan kita jatuh, agar kita bisa berdiri sendiri nantinya.  Agar kita bisa mendatangi mereka. Seorang ibu mencoba menjaga jarak dengan bayinya, satu atau dua meter darinya, lalu ia memanggilnya sehingga si bayi akan menghampirinya, kemudian bayi itu terjatuh—barulah sang ibu mengangkatnya.  Dengan cara ini seorang ibu mengajarkan bayinya untuk datang kepadanya di waktu-waktu berikutnya dengan berjalan kaki.  

Ujian ini diletakkan di depan kita agar kita tidak pernah kehilangan harapan, kita harus selalu mempunyai pikiran bahwa suatu hari nanti kita akan berserah diri.  Nabi (saw) adalah orang yang sempurna, Sayyidina Muhammad (saw), beliau adalah manusia yang sempurna, beliau memiliki jiwa yang sempurna, beliau yang akan sampai di Hadratillah pertama kali, beliau adalah cermin dan juga pintu bagi seluruh makhluk.  Dengan semua kebesaran itu, hidup beliau tetap saja penuh dengan kesulitan dan perjuangan.

Orang-orang Quraisy datang kepadanya dan berkata, “Wahai Muhammad!  Jika kau menginginkan kekayaan, kami akan memberikannya kepadamu, jika kau menginginkan Ka`bah, kami akan memberikannya kepadamu.  Jika kau menginginkan ketenaran, kami akan memberikannya kepadamu, dan jika kau menginginkan jabatan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin.”  Lalu beliau menjawab dengan ucapannya yang sangat terkenal, “Jika mereka memberikan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, Aku tidak akan meninggalkan risalah ini.”  Jadi apa pun yang akan terjadi, kita harus berjuang untuk mencapai yang terbaik. Kita harus menjaga iman kita sebagaimana Syekh kita datang, menunjukkan dan membuka jalan yang benar bagi kita.

Pertama kita harus meraih hati Syekh dan dari beliau kepada hati Nabi (saw), lalu ke Hadratillah.  Sebagaimana yang digambarkan Allah (swt) di dalam Al-Qur’an, “Ketika manusia menzalimi diri sendiri, mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw).”  Ini adalah ayat dalam Al-Qur’an. Ayat itu mengisyaratkan adanya perantaraan. “Mereka datang kepadamu, wahai Muhammad (saw), dan mereka bertobat kepada Allah (swt),” dan itu saja belum cukup.  Allah mengatakan hal itu! Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti di situ. Ketika mereka mendatangi Muhammad (saw) dan memintakan pengampunan atas namanya, SAAT ITU barulah mereka akan mendapati bahwa Allah Maha Pengampun.

Allah (swt) mengatakan hal itu!  Jika bertobat kepada Allah (swt) saja sudah cukup, maka seseorang dapat berhenti sampai di situ, tetapi ayat di dalam Al-Qur’an tidak berhenti sampai di situ.  Keseluruhan ayat itu berbunyi, “Dan ketika mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, jika mereka datang kepadamu dan memohon ampunan Allah (swt) dan meminta Nabi (saw) untuk memohonkan ampunan bagi mereka, barulah mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”  “Pada saat itu mereka akan mendapati bahwa Allah (swt) Maha Pengampun,” berarti itu adalah kondisi pada saat Nabi (saw) memohonkan ampunan atas nama kita. Dan para pemimpin yang disebutkan oleh Allah (swt) di dalam ayat, “Taatilah Allah (swt), taatilah Rasul (saw) dan taatilah ulil amri di antara kalian.”  Itu berarti ketika kita memohon ampun, kita harus benar-benar bertobat dalam kehadiran mereka kepada Allah (swt) karena doa orang–orang yang saleh akan dikabulkan oleh Allah (swt). Dengan kata lain kita harus berdoa melalui perantaraan mereka. Sebagaimana firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah (swt) dan berkumpullah bersama orang-orang yang dapat dipercaya.”  Para pemimpin (ulil amri) itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Ketika mereka mengangkat tangannya untuk berdoa, “Ya Allah, ampunilah mereka!” Allah (swt) akan mengampuni kalian.

Kita semua adalah bayi dan kita terjatuh, kita bangun, lalu jatuh lagi.  Satu hari bangkit, sehari kemudian jatuh, satu hari jatuh hari berikutnya bangun.  Walaupun seorang bayi terjatuh, ia tidak mengetahui apa yang sedang dilakukannya, ibunya sangat sayang kepadanya, begitu juga keluarganya.  Mereka membersihkannya, memandikannya, memberinya bedak, mereka tidak pernah merasa bosan atau jemu dalam membesarkan anaknya. Dalam pandangan Syekh, kita semua adalah anak-anaknya, oleh sebab itu beliau memandikan kita, membersihkan kita, memberi kita bedak agar tubuh kita menjadi wangi walaupun pada kenyataannya kita berbau busuk, tetapi beliau memberi kita bedak wangi yang sangat spesial—mahal dan eksklusif.

Orang kaya tidak suka membeli parfum yang murah, palsu, atau bercampur alkohol—mereka membeli parfum tua yang nilainya sangat tinggi dan dengan merek yang terkenal.  Mereka berkata, “Parfum seharga lima puluh pound, itu baru bagus; kalau yang dua pound, itu tidak bagus.” Syekh memberi kita wewangian tua semacam itu, yang bernilai tinggi, dan mahal, jangan menyia-nyiakannya dengan terus melakukan akhlak dan perilaku yang buruk.

Kita semua masih seperti bayi, bahkan beberapa orang dari kita masih berada dalam momongan.  Beberapa yang lain mulai merangkak dengan kedua kaki dan tangannya seperti makhluk lain yang saya tidak mau sebutkan namanya, karena nanti mereka akan bilang, “Syekh Hisyam (q) menyebut kita binatang.”  Hal ini karena saya berada dalam pengawasan yang ketat, mereka sangat memperhatikan setiap kata yang saya ucapkan, sehingga mereka akan meninggalkan 99% bagian yang baik yang telah diberikan dalam pelajaran ini, mereka juga akan mengeluarkan kritik.  Saya senang dengan sifat kritis ini agar nanti saya bisa mengoreksi diri dan untuk yang berikutnya saya akan lebih akurat lagi. Jadi kita harus seimbang dengan memperhatikan kondisi hati setiap orang. 

Saya lanjutkan, yang lain bisa berjalan dan merangkak dengan kaki dan tangannya, atau mereka bisa berjalan dengan kakinya.  Yang lain bisa berjalan namun karena belum kuat mereka terjatuh, sementara yang lain lagi bisa berjalan dengan tegap. Walaupun mereka bisa berjalan, tetap saja ibunya masih memegangi tangannya.  Mereka belum bisa dilepaskan begitu saja, karena kalau dibiarkan mereka akan mengambil apa saja yang ada di atas meja, menghancurkannya dan akan merusak rumah. Begitu mereka mulai berjalan, mereka menjadi masalah, mereka menjadi berisik.  Ayah dan ibu harus berlarian ke sana ke mari seharian untuk mengejar mereka, karena kalau saja pintu terbuka kemungkinan anaknya akan keluar dan bisa saja ia tertabrak mobil lalu meninggal. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri, ini adalah keadaan yang paling membahayakan.  Ketika ia mulai sedikit terlihat dewasa, orang tua mulai memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Walaupun ia masih mungkin melakukan kesalahan tetapi ini masih bisa dipantau dan kesalahan ini tergolong minor. Sampai ia bisa bertanggung jawab dan Syariah mengharuskan ia melakukan segala kewajiban dalam agama ketika ia berusia 15 tahun dan telah dewasa atau akil balig.

Tetapi di dalam tarekat walaupun kalian telah mencapai usia 70 tahun, kalian masih dianggap sebagai anak kecil tanpa “tanggung jawab” yang sebenarnya.  Jangan berkata, “Aku telah bersama Syekh selama 70 tahun tetapi aku tidak mencapai apa-apa!” Perhatikanlah apa yang bisa terjadi. Kalian mungkin bisa merusak diri kalian sendiri dan siapa saja yang berada di dekat kalian.

[komentar: yang dimaksud Syekh Hisyam di sini: Syekh tidak memberikan amanat rohaniah kepada kita, karena kita belum cakap dalam menggunakan amanat itu dengan benar–bukannya mendatangkan kebaikan, boleh jadi kita malah dapat menyebabkan sesuatu yang berbahaya.  Dengan demikian orang tidak pernah melihat ada kekuatan ajaib atau keramat yang muncul dari murid-murid Syekh Nazim (q) dan seringkali kita merasa bahwa kita telah mencapai sedikit kemajuan rohani. Hal ini berbeda dengan tarekat yang lain, di mana seringkali keadaan kasyaf dan beberapa keramat dianugerahkan kepada murid bahkan dalam tahap-tahap awal di jalur mereka. Wallaahu a`alam – dan Allah Maha Mengetahui.]

Kalian harus mencapai suatu keadaan di mana mereka memperbolehkan kalian melakukan jalan kalian sendiri.  Tetap saja ketika kalian terjatuh, mereka akan membantu mengangkat kalian. Kalian akan terjatuh, mustahil kalian mengatakan, “Tidak, aku tidak akan membuat kesalahan lagi.  Sekarang aku adalah seorang syekh besar; tidak mungkin, aku adalah seorang deputi sekarang; atau aku adalah murid senior; atau aku adalah seorang wakil atau utusan dari syekh.  Aku yang memimpin zikir, syekh memberi ijazah kepadaku untuk memimpin zikir. Oh, sekarang aku adalah sebuah balon yang besar.” (tertawa) Penuh udara di dalamnya. Psssh! [membuat gerakan seperti balon yang kempis]  Selesailah sudah. Kalian harus seperti roket, bertekad kuat, barulah tidak ada yang dapat mempengaruhi kalian, sebagaimana ketika kalian mengalami kemajuan dan membawa orang-orang bersama kalian ke hadirat Syekh.

“Deputi” adalah salah satu jabatan besar, “Representatif” (dari seorang Syekh) adalah jabatan besar.  Itu berarti syekh bergantung kepada orang itu baik dalam kehadirannya maupun ketika beliau tidak hadir untuk memberikan nasihat, menyembuhkan suatu penyakit dengan izin Allah (swt), melakukan pembacaan (ayat Qur’an atau zikir), menafsirkan mimpi, membimbing murid, memimpin zikir dan memberikan izin kepada seseorang untuk memimpin zikir, mengangkat level murid ke jenjang yang mampu mereka raih, membesarkan bayi hingga mereka bisa berjalan atau mencapai usia di mana bayi itu bisa berjalan.  Lalu ia akan membawa mereka semua dan mempersembahkan mereka kepada Syekh. 

Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) mempunyai 300 deputi atau khalifah.  Kita mengucapkan kata “Khalifah” dalam bahasa Arab, tetapi orang Arab mengetahui bahwa “Khalifah” bukan berarti “penerus”, tetapi “deputi”.  Beliau mempunyai 300 deputi dan beliau menyebarkannya ke seluruh penjuru Timur dan Barat, dan mereka semua membawa murid-muridnya ke hadirat Syekh, mereka semua memimpin murid-muridnya kepada Syekh.  Namun demikian setelah Syekh Khalid (q) wafat terbentuklah 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi. Karena setiap orang begitu terikat dengan Khalifahnya masing-masing, di mana mereka biasa berasosiasi dengannya, Khalifah yang telah ditunjuk oleh Sayyidina Khalid (q) kepada mereka.

Setiap orang begitu dekat dengan  Khalifah setempatnya, mereka berkata, “Oh, dialah milik kami!  Dialah pembimbing kami, setelah Syekh, dialah pembimbing kami.  Kami tidak bisa menerima yang lain.” Bisa jadi (khalifah-khalifah) yang lain lebih tinggi tetapi karena ia tidak mempunyai hubungan dengan mereka, ia tidak mengetahui apa-apa tentang mereka.  Ia hanya terhubung dengan khalifah yang diikutinya, dan orang yang diikutinya itu membawanya ke hadirat Sayyidina Khalid (q). Namun demikian, beberapa di antara mereka membawa para pengikutnya dengan keledai, seperti mengendarai keledai, yang lain dengan unta, ada yang berjalan, ada yang seolah-oleh dengan mobil, pesawat, kereta api, atau roket, tergantung kapabilitas dari deputi atau khalifahnya. 

Tetapi ada juga hikmah dan manfaatnya dari terbentuknya 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi setelah wafatnya Sayyidina Khalid (q).  Tetapi rahasia dari Mata Rantai Emas hanya diturunkan ke satu cabang, dan tidak kepada 299 cabang lainnya. Jadi apa yang terjadi dengan yang lain itu?  Apakah kita bisa menganggap mereka itu telah putus hubungan? Tidak, mereka tidak terputus, dan itulah sebabnya di dalam Sufisme, ada dua macam Syekh, yaitu: Syaykh ul-wilayat dan Syaykh at-tabarrukSyaykh ul-wilayat adalah Syekh yang mempunyai kekuatan awliya dan kekuatan untuk mengangkat muridnya ke tingkatan wali.  Syekh inilah yang memegang rahasia utama. Syekh yang kedua adalah Syekh yang membawa tajali atau berkah, berkah dari tarekat.  Inilah yang mengakibatkan berkah tersebut menyebar luas, karena terdapat hikmah di balik segala sesuatu. Orang yang mempunyai kekuatan dan rahasia kewalian inilah yang memegang cabang utama dari tarekat.  Rahasia utama atau arus listrik yang utama. Kalian perhatikan bahwa arus listrik ini masuk ke dalam gedung dari luar, tetapi ia dapat menerangi seluruh gedung. Setiap lampu melambangkan satu cabang, tetapi seluruh kekuatan berasal dari luar.  Mengerti?

Cabang-cabang ini hanya bisa memberi cahaya seperti dua atau tiga buah lampu.  Jika kalian menambahkan lebih banyak mereka akan meledak. Situasi semacam ini terjadi pada masa setelah wafatnya Sayyidina Khalid Baghdadi (q).  Satu di antara mereka adalah cabang utamanya, yang lain adalah cabang yang kecil-kecil, yang hanya menerangi orang-orang di daerahnya. Yang pertama adalah Syaykh ul-Wilayat, Syekh dengan kekuatan wali, orang yang menanggung semua tanggung jawab dari seorang Syekh, yang lainnya adalah syekh-syekh yang tugasnya menyebarkan tarekat ke seluruh penjuru Timur dan Barat.  Karena yang satu tidak bisa berada di mana-mana, oleh sebab itu lewat ke-299 syekh, terbentuklah 299 cabang, masing-masing di daerah yang berbeda sehingga lebih banyak orang yang mengikuti tarekat. Walaupun rahasia utama tidak mencapai hati mereka, paling tidak mereka mempunyai hubungan dengan tarekat ini.  Karena setiap orang yang mengatakan, “Aku adalah seorang pengikut Naqsybandi”, pasti telah berada di Hadirat Nabi (saw) dan Sayyidina Abu Bakar (ra) ketika berada di Gua Tsur, ketika Nabi (saw) hijrah dari Mekah ke Madinah. Itulah saat pertama mereka menerima Tarekat Naqsybandi dari Sayyidina Abu Bakar (ra) dan untuk pertama kali zikir Khatam Syariif dilaksanakan di gua itu.  Setiap orang yang mengatakan dirinya, “Aku seorang Naqsybandi,” walaupun ia terhubung melalui salah satu cabangnya, melalui Syaykh al-Barakah, ia tetap hadir di sana.  Namun demikian, rahasia utama tetap berada di satu cabang saja. 

Jadi, sebagian dari 299 khalifah dari Sayyidina Khalid Al-Baghdadi (q) menerima seorang pemegang rahasia utama, tetapi kebanyakan tidak menerimanya.  Beberapa khalifah itu mentransfer para pengikutnya kepada Syekh utama, yaitu Syekh Ismail (q), tetapi yang lain tidak. Jadi, tipe percabangan ini juga terjadi pada masa Grandsyekh `Abdullah (q).  Saya hadir di sana, Saya berada di Suriah. Pada saat itu banyak murid Grandsyekh dari Suriah yang menerima Mawlana Syekh, tetapi yang lainnya tidak. Itu adalah ego, egoisme. Bagaimana mereka akan menerima?  Mereka adalah syekh besar dengan turban yang besar, lebih besar dari turbannya Mawlana Syekh Nazim (q). Beberapa di antara mereka mempunyai turban sekitar 40 yards di kepalanya, ya! (tertawa) Mereka semua hadir ketika Mawlana Grandsyekh (`Abdullah (q)) membuat surat wasiatnya, seminggu sebelum beliau wafat.  Mereka yang hadir dan duduk bersama mendorong dan melihat pada Mawlana Grandsyekh, “Di mana nama kami dalam daftar itu?” dan nama-nama mereka tidak pernah disebutkan. Mereka berada di sana, duduk di sana dan ketika Mawlana pergi, setelah beliau membuat surat wasiat, mereka membuat satu salinannya lalu mereka menambahkan nama-nama mereka.  Saya tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka. Itu akan selalu menjadi masalah. Jadi kita harus membuka hati kita.

Seperti yang dikatakan oleh Syekh Jamaluddin (q), “Ego tidak akan membiarkan kalian menerima fakta dan kebenaran.”  Dengan perintah Syekh Nazim (q) ia akan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain di Eropa. Oleh sebab itu ia mempunyai pengalaman tentang hal itu, dan seperti itulah tarekat.  Tarekat adalah pengalaman. Kalian tidak bisa duduk di rumah dan berkata, “Aku mengerjakan bisnisku, tugasku di universitas, aku mengajar, aku melakukan bisnisku di kantor dan aku ikut tarekat, aku melaksanakan zikir dan datang pada malam hari, berzikir dan aku mengetahui segala hal!”  Tidak! Itu bukan pengalaman namanya, pengalaman berarti bergaul dengan masyarakat, datang dan berbicara dengan mereka dan mengetahui cara berpikir mereka, bagaimana mereka merasakan kesulitan yang dihadapi, melalui ujian, lewat beragam ujian yang berbeda, dan dengan cara itu kalian membangun pengalaman kalian.

Itulah sebabnya Mawlana Syekh Nazim (q) menginginkan kalian untuk bepergian, agar kalian bisa belajar dari kebudayaan ini dan dari kebudayaan itu.  Beliau ingin agar kita selalu waspada terhadap segala hal [terkait budaya setempat sebelum kita berbicara]. Namun demikian, bukan berarti kalian tidak mempunyai izin untuk berbicara dengan orang-orang itu jika kalian tidak mengenal kebudayaan mereka—bukan, bicaralah dengan siapa saja yang kalian inginkan.  Tetapi harus diingat, kalian harus berhati-hati terhadap hal-hal dalam kebudayaan mereka yang tidak kalian sadari.

Ketika Saya sedang berada di Amerika ada seseorang yang datang kepada saya dengan mengeluh.  Ia berkata, “Syekh, Aku ingin mengeluarkan unek-unek kepadamu.” Ia mengatakan, “Aku tidak mau menerima caramu memperlakukan kami!”  Ia adalah orang yang baik, dan ia menyukai saya, tetapi bukan berarti apa yang dilakukannya adalah baik. Saya hanya akan mengatakan satu hal, dan itu menunjukkan kepada kalian betapa buruknya ego.  Hal itu mustahil dan luar biasa! Ia adalah orang Amerika, dan itu adalah cara mereka–untuk mengekspresikan sesuatu, tidak memendam sesuatu dalam hatinya. Mereka harus mengeluarkan apa yang mereka rasakan atau mereka merasa bahwa mereka akan meledak. 

Ia berkata, “Ini adalah negeri yang bebas, dan kami bukan Nazi di sini.  Di sini tidak ada perjuangan, kau tidak bisa memaksa orang lain.” Saya berkata, “Saya tidak pernah memaksa seseorang di Amerika, siapa saja.”  Ia berkata, “Tidak, tidak, tidak, kau memaksa semua orang.” Saya heran, “Dalam hal apa?” Ia berkata, “Orang-orang, ketika mereka datang untuk menemuimu pada waktu Zuhur, Ashar atau Maghrib—itu adalah suatu masalah yang sangat besar.”  Itu dianggap sebagai komplain yang besar bagi setiap orang. Orang Amerika merasa malu untuk salat. Ia berkata lagi, “Kau telah mencampuri urusan pribadi kami.” Saya lalu berpikir, “Hari kiamat akan datang kepada saya dan saya dalam masalah besar.” (tertawa) Ia berkata, “Ketika kami datang menemuimu, kadang-kadang kami datang pada saat Zuhur, atau Ashar, saat itu kau sedang makan, dan kau menyodorkan makanan kepada kami dan kami bilang, ‘tidak!’ lalu engkau memaksa kami untuk makan, dengan berkata, “Kalian duduk dan sekarang kalian harus makan.”  “Kau tidak bisa memaksa kami untuk makan dengan paksaan seperti itu. Kami adalah orang Amerika, kami berada di negeri yang bebas, kau tidak bisa memaksa kami. Ini adalah suatu kezaliman, ini adalah penindasan, kami tidak mau makan.”

Di negeri saya, jika kalian tidak mendesaknya, tamu selalu merasa malu untuk mengatakan “ya” ketika diminta untuk makan.  Tetapi jika saya tidak mengajaknya makan, saya merasa bahwa saya telah menghina tamu. Dalam kebudayaan Amerika, yang terjadi adalah kebalikannya.  Jika kalian mendesak tamu untuk makan, itu berarti kalian telah mengintervensi tamu. Ketika ia bilang “tidak” itu artinya ia tidak ingin makan, jadi tidak perlu memaksanya untuk makan.  Orang itu datang kepada saya untuk mengatakan bahwa inilah yang menjadi keluhan orang Amerika tentang perilaku saya. Jadi untuk itulah mereka mengeluh.

Jadi ini adalah masalah besar bagi orang Amerika, sementara bagi kami itu adalah simbol keramahan.  Jadi Mawlana Syekh mengirimkan murid-muridnya, murid yang senior atau deputinya untuk bepergian ke negeri yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk mengenal budaya mereka.  Karena semua kebudayaan harus melebur menjadi satu dalam tarekat ini. Kita tidak bisa bilang bahwa kita adalah orang Amerika, Perancis, Arab, Jerman, Turki, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Malaysia, atau Pakistan.  Yang ada hanya satu simbol, yaitu kecintaan Syekh kita—kita semua berasal darinya. Ini adalah sasaran terbesar, itulah sebabnya Mawlana mengirimkan setiap orang untuk belajar untuk mendapat pengalaman.

Perawi hadis yang paling penting adalah Imam Bukhari.  Beliau tidak pernah menulis hadis sebelum mandi, salat 2 rakaat lalu tidur.  Lalu dalam mimpinya beliau akan bertemu Nabi (saw) yang mengatakan, “Tulislah hadis ini pertama, kemudian yang itu, berikan nama bab itu sebagai, ‘Bab tentang Wudu’, tentang Zakat, Salat, dan begitu seterusnya.  Beliau tidak pernah membaca hadis walaupun itu diizinkan kecuali setelah beliau mandi, dan salat dua rakaat, lalu tidur dan bertemu dengan Nabi (saw) dalam mimpinya. Nabi (saw) kemudian memerintahkan untuk meletakkan suatu hadis di bab tertentu.  Hadis pertama yang beliau tuliskan dalam bukunya adalah, “Perbuatan seseorang adalah tergantung pada niatnya, jika niatnya untuk Allah (swt) dan Nabi (saw), maka ia akan diberi balasan sesuai dengan niatnya itu.” Bahkan jika orang itu membuat kesalahan [dalam melakukan pekerjaannya] tetapi jika niatnya baik [ia juga akan diberi balasan yang setimpal]. “Dan bagi siapa yang berniat untuk dunya, untuk kesenangan dunia ini orang itu akan mendapatkannya pula.”

Jadi niat adalah hal yang sangat penting dan harus kita perhatikan.  Bisa jadi seseorang tidak beruntung, tetapi ia berusaha dengan sebaik-baiknya.  Tetapi karena tidak beruntung mereka malah menghinanya. Kemudian ia menjadi lelah.

Dan seperti yang dikatakan oleh Nabi (saw), “Berhati-hatilah dengan kesabaran orang yang sabar, bisa jadi ia akan meledak.”  Ketika hal itu terjadi ia akan bergerak seperti kereta api, melabrak dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Jadi kita harus menetapkan niat, dan itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda, “Berusahalah selalu untuk melihat sesuatu dari sisi yang baik, segalanya dilihat dengan tafsir yang baik.”  Jangan memandang suatu masalah dengan tafsir yang salah karena kalian tidak bisa melihat hati seseorang, kalian tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam hati. Jika kalian menarik tafsir yang salah, pemahaman yang salah mengenai niat seseorang, kalian akan membuat suatu kesalahan. Jika kalian memandang segala sesuatu dengan kebaikan, SEGALANYA, Nabi (saw) berkata SEGALANYA, dengan tafsir yang baik kalian mungkin benar.  Oleh sebab itu kita harus selalu berada dalam hubungan dengan Mawlana Syekh. Bukannya bayi, yang masih sering jatuh, jatuh, jatuh, jatuh.

Jangan pernah berkata bahwa kalian tawaduk  Jika kalian berkata bahwa kalian tawaduk ketika kalian berbicara dengan orang lain dan berkata, “Tidak Aku tidak mengetahui apa-apa, ENGKAU-lah sumber inspirasiku.”  Mereka akan memandang kalian seolah-olah kalian adalah sampah (tertawa). Kalian sebaiknya berkata, “Aku adalah yang paling pandai di sini.” Jangan! Jangan! Jangan! Jangan berkata seperti itu di Amerika!  Jangan menjadi bodoh seperti saya (tertawa). Jika kalian pergi ke Amerika dan berkata demikian, kalian akan habis, tamat! Kalian tidak bisa berkata, “Aku rendah hati”, kalian tidak bisa berkata, ”Oh! Maafkan Aku! Aku orang yang lemah yang duduk bersamamu.”  Ketika kalian datang, insya Allah ke Amerika untuk menghadiri undangan di suatu Universitas atau di mana pun, jangan pernah berkata, “Aku yang terlemah”, mencoba untuk merendah.  Katakanlah, “Aku adalah Presiden (tertawa)” Inilah cara berpikir mereka.

Jangan berpikir bahwa Mawlana Syekh tidak dapat mendengar kalian.  Jika beliau mengerahkan kekuatan yang Allah berikan untuk menjadi kasyaf atau tanpa hijab, beliau dapat mendengar seluruh percakapan kalian.  Bagaimana kalian mendengar suara guntur? Sejelas itulah kira-kira suara yang didengar oleh para awliya.  Hal itu tidak sulit bagi Allah (swt), bukankah Dia memberi Sayyidina `Isa (as) kemampuan untuk melihat isi suatu rumah dan apa yang dimakan mereka?  Bukankah Dia telah menganugerahkan Sayyidina `Umar (ra) kemampuan untuk melihat apa yang terjadi dengan salah satu jendralnya 2000 kilometer jauhnya.  Beliau mengatakan, “Ya Sariya, al-jabal”  “Wahai Sariya, gunung!”  Beliau memberi peringatan kepadanya terhadap serangan dari balik gunung.  Dan Sariya mendengar suaranya! Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini—Ini harus diyakini oleh seorang Muslim.  [Bahkan ulama yang paling ketat, Ibn Taymiyyah, mengatakan bahwa percaya kepada kasyaf dan keramat (kekuatan ajaib) para awliya merupakan persyaratan keimanan, di dalam kitabnya`Aqidat al-wasitiyya.–penerj.]

Keistimewaan seperti itu merupakan karunia Allah (swt), namun demikian mereka tetap saja seorang hamba.  Mereka tidak berpikir bahwa dirinya lebih dari sekedar hamba-Nya, mereka adalah “`abd”, mereka adalah hamba Allah.  Allah (swt) adalah Sang Pencipta, tidak seperti kaum Wahhabi yang gila, ketika kalian bilang, “Seorang wali mempunyai kekuatan istimewa,” mereka akan mengatakan, “Apa kamu bilang, dia seperti Allah?” Mereka berkhayal bahwa Allah (swt) seperti manusia!  Allahu Akbar! Takbir! Takbir! Allah Mahabesar.  Allah memberi umat manusia, kepada awliya, raghman `an anfihim.

http://www.naqshbandi.org/teachings/suhbats/know-your-station-in-tariqa/

Jangan Menjadikan Rumahmu sebagai Kuburan

Kitab Suci al-Qur’an akan Memberimu Syafaat (Serial)

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

4 April 2014   Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِين

Yaa ayyuha ‘Lladziina aamanuu ittaqullah wa kuunu ma` ash-shaadiqiin.

Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar (dalam perkataan dan perbuatan).

(Surat at-Tawbah, 9:119)

Wahai Muslim, saudara-saudari sekalian. Alhamdulillah bahwa Dia telah menciptakan kita sebagai Muslim, bahwa kita telah dibusanai selengkapnya dengan Islam, karena kita mengucapkan, “laa ilaaha illa-Llah,” dan Nabi (s) bersabda,

من قال لا اله الا الله دخل الجنة         

Man qaala laa ilaaha illa-Llah dakhal al-jannah.

Barang siapa yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha illa-Llah’ ia akan masuk Surga.

Kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa dapat mengucapkan, “laa ilaaha illa-Llah,” agar tidak menjadikan lidah kita kelu pada saat ajal menjemput, agar tidak menjadikan lidah kita kelu di kubur kita, dan tidak kelu pada Hari Kiamat!

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِي

Wa innaka la-`alaa khuluqin `azhiim.

Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang agung. (Surat al-Qalam, 68:4)

Setan selalu berada di sana dan jangan berpikir bahwa ia tidak mempengaruhi kalian.  Setan terbesar ada di sana, di rumah kita, yaitu layar itu, layar televisi.  Berbagai hal ada di sana, dan Nabi (s) tahu bahwa di setiap rumah ada Setan, dan ‘setiap rumah’ maksudnya adalah setiap orang.  Di dalam setiap kalbu ada tempat yang menjadi jalan masuknya Setan dan Nabi (s) bersabda agar kita waspada,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ

Laa taj`alu buyuutakum maqaabir.

Jangan jadikan rumahmu sebagai kuburan.

(Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

“Jangan menjadikan rumahmu sebagai kuburan bagi dirimu sendiri.”  Ketika kalian pergi ke pemakaman, Setan tinggal di sana, banyak jin yang tinggal di sana.  Itulah sebabnya tidak dianjurkan untuk pergi ke pemakaman setelah gelap, tetapi sampai Maghrib, tidak apa-apa. Nabi (s) bersabda,

وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ الْبَقَرَةُ لاَ يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ

Asy-Syaythan yanfiru min albayti ’lladzii tuqraa’u fiihaa surat al-Baqara.

Sesungguhnya Setan tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya dibacakan Surat al-Baqarah.  (Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

Ketika kalian masuk ke dalam rumah, dan melihat bahwa istri kalian mempunyai masalah, atau  anak-anak kalian mempunyai masalah, segeralah mandi atau wudu dan salat 2 rakaat lalu baca Surat al-Baqarah.  Dengan segera Setan akan pergi!  Kita pergi ke dokter dan berkata, “Istri saya sakit,” atau, “Suami saya sakit,” dan kadang-kadang mereka katakan bahwa kalian menderita skizofrenia atau bi-polar, tetapi apa yang dikatakan oleh Nabi (s)?  Bacalah Surat al-Baqarah.  Itulah pentingnya kitab suci al-Qur’an di rumah kita.  Bacalah selalu al-Qur’an di rumah kalian, bahkan jika kalian hanya membaca satu halaman, bacalah satu halaman itu.  Kita lanjutkan topik mengenai pentingnya membaca kitab suci al-Qur’an.

Nabi (s) sering memperingatkan para Sahabat (r) mengenai Dajjal.  Disebutkan di dalam banyak ahadits bahwa di antara tanda-tanda Hari Kiamat adalah munculnya al-Massih ad-Dajjal.  Di masa para Sahabat (r), mereka sering melihat ke belakang pohon kurma, kalau-kalau Dajjal sudah muncul, tetapi Nabi (s) tidak menyebutkan waktu tertentu.  Nabi (s) menyebutkan bahwa al-Massih ad-Dajjal akan muncul dan Nabi Isa (a) akan membunuhnya.  Ya, ia akan datang, tetapi hal itu juga adalah untuk memberi peringatan kepada kalian mengenai segala sesuatu yang jahat di dalam kehidupan kalian.

Untuk menjauhkan kejahatan dari rumah kalian, apa yang harus kita lakukan?  Nabi (s) bersabda,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

Man hafizha awwala `asyara ayaatin min surat al-kahf `usima min ad-dajjal.

Jika seseorang menghafal sepuluh ayat pertama Surat al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari Dajjal.

(Diriwayatkan oleh Abu Darda`; Muslim)

“Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat al-Kahfi, bukan hanya akan dilindungi oleh Allah dari Dajjal, tetapi ia juga akan `usima minhu, dilindungi, dan Dajjal tidak akan mempunyai kekuatan terhadapnya, dengan kata lain rumahnya akan terlindungi.”  Dan di dalam riwayat yang lain:

من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف، عصم من الدجال‏”‏ وفي رواية‏:‏ ‏”‏من آخر سورةالكهف

Man hafizha akhira `asyara ayaatin min surat al-kahf `usima min ad-dajjal.

(Barang siapa) yang menghafal sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi, ia akan dilindungi dari (fitnah atau ujian) dari ad-Dajjal. (Diriwayatkan oleh Abu Darda`; Muslim)

“Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi, ia akan dilindungi dari Dajjal dan diselamatkan dari hari itu.”

Jadi, apalagi yang kita inginkan?  Surat al-Baqarah atau sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir dari Surat al-Kahfi akan melindungi kita dari Setan dan melindungi kita dari al-Massih ad-Dajjal!

Wahai Muslim!  Sungguh, jika kalian mendalami agama kalian, kalian akan menyadari bahwa kita belum bersyukur kepada Allah sebagaimana mestinya, bahkan jika kalian banyak membaca shalawat Nabi (s), itu masih jauh dari yang sepatutunya.  Dan itulah sebabnya mengapa Nabi (s) memberi kita Surat al-Baqarah yang pertama, dan kemudian beliau mengatakan tentang sepuluh ayat pertama dan terakhir dari Surat al-Kahfi, karena inna ma` al-`usri yusraa, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. (94:6),” dan jadikan sesuatu itu mudah, jangan membuatnya menjadi sulit.

Nabi (s) bersabda, “Yassiruu wa laa tu`assiruu, mudahkanlah dan jangan kau persulit.”

فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Suatu hari Nabi (s) sangat gembira, sebagaimana dilaporkan oleh Sayyidina `Umar (r) (Nabi (s) ingin memberi sesuatu yang manis kepada umatnya.  Sepanjang hidupnya, beliau khawatir, tidak tidur, sangat memperhatikan umatnya ketika malam, sampai Sayyida `A’isyah (r) berkata, “Wahai Nabi Allah!  Mengapa engkau salat dan salat begitu banyak hingga kakimu bengkak?)

Dan Nabi (s) bersabda, “Ini adalah hari terbaik di bumi, ini adalah yang terbaik, kabar paling menggembirakan yang pernah aku dengar!” Dan beliau berkata, laqad unzila `alayya hadzihi ‘l-layla afdhal ma tala`t `alahyi ’sy-syams. “Malam ini sebuah ayat diturunkan dan ini lebih baik daripada terbitnya matahari di mana pun.”

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

Inna fatahnaa laka fathan mubiina.

Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu (wahai Muhammad!) kemenangan/pembukaan yang nyata.   (Surat al-Fath, 48:1)

“Kami telah memberikan kepadamu suatu pembukaan yang nyata,” dan itu adalah pembukaan sampai Hari Kiamat.

795 وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ وَعِنْدَهُ فَرَسٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدُورُ وَتَدْنُو وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ مِنْهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ

Ada seseorang yang membaca Surat al-Kahfi duduk di bawah pohon sendiri.  Ia telah mengikat kudanya sangat kuat dengan dua tali, karena itu adalah kuda yang sangat liar dan ia akan melarikan diri, dan sebuah awan datang di atasnya dan mendekatinya dan awan itu menutupi daerah itu, di atas kudanya.  Kudanya mulai memberontak berusaha untuk melarikan diri.  Itu adalah kuda yang liar dan kuat, tetapi ia tidak bisa melarikan diri dari situasi itu. Ketika awan itu datang mendekat, ia berusaha untuk melarikan diri, dan di pagi hari orang itu mendatangi Nabi (s) dan menceritakan apa yang terjadi.  Nabi (s) berkata kepadanya, tilka as-sakiinatu tanazalat bi’l-Qur’an, “Itu adalah sakinah,ketenangan, kedamaian, yang turun bersama kitab suci al-Qur’an dan kuda itu takut dengan sakinah yang turun.” Karena kadang-kadang, misalnya ketika kalian bangun, bulu roma kalian merinding karena sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk, begitu pula dengan rahmatullah itu yang membuat kuda menjadi gemetar, jadi apapun yang datang, ia juga mencakup kuda dan orang itu.

Saya akan mengakhiri dengan hadits ini,

من القرآن سورة ثلاثون آية شفعت لرجل حتى غفرت له ،وهي‏:‏ تبارك الذي بيده الملك

Min al-qur’anu suratun tsalaatsuun ayati syufi`at li rajulin hatta ghufirat lahu.wa hiya tabaarak alladzii bi-yadihi’l-mulk.

Ada sebuah Surat di dalam al-Qur’an yang berisi tiga puluh ayat, yang terus memberikan syafaat bagi seseorang sampai dosa-dosanya diampuni.  Surat ini adalah ‘Maha Suci Allah yang di Tangan-Nyalah segala Kerajaan.’

(Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah; Tirmidzi)

“Ada sebuah Surat di dalam al-Qur’an yang berisi tiga puluh ayat, Surat itu akan memberikan syafaat bagi seseorang sampai ia diampuni.”  Surat itu terus meminta dan meminta sampai orang itu diampuni.  Apakah Surat itu?  Surat al-Mulk, dan banyak di antara kalian yang mengetahuinya.

(Doa Penutup.)

http://www.sufilive.com/Do_Not_Turn_Your_Homes_into_Graveyards-5503.html

© Copyright 2014 Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.  Transkrip ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Internasional.  Mohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr.

Kitab Suci al-Qur’an akan Memberi Syafaat Bagimu (Serial)

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

28 Maret 2014  Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

 

Wahai Muslim, wahai Mukmin! Allah (swt) mengirimkan kitab suci al-Qur’an kepada Nabi (s) untuk kebaikan manusia, sebagaimana Dia berfirman,

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Alif. Laam. Miim. Dzalika al-kitaabu laa rayba fiihi hudan li ‘l-muttaqiin.

Ini adalah, ini adalah Kitab, yang di dalamnya terdapat petunjuk, tidak ada keraguan; bagi orang yang bertaqwa.

(Surat al-Baqarah, 2:2)

Dia berfirman kepada Nabi (s), “Kitab itu, bukannya kitab lain, hanya Kitab itu.”  Dia tidak berfirman, “Dzalika‘l-kutub.’ Dia berfirman, “Kitab itu,  laa rayba fiihi, tidak ada keraguan di dalamnya, hudan li ‘l-muttaqiin, ia merupakan petunjuk bagi manusia, bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah (swt), bagi mereka yang saleh dan ikhlas,” dan mereka mengerti bahwa Allah menurunkan kitab suci al-Qur’an untuk kebaikan manusia.

Sebagaimana yang kami sebutkan minggu lalu, melanjutkan subjek yang sama, untuk menjelaskan sedikit apa yang kami katakan minggu lalu, setiap orang memerlukan seorang penolong, memerlukan seorang pemandu untuk membimbing kita.  Allah mengutus rasul untuk membimbing umat dan Allah mengutus pembimbing untuk membimbing mereka: Allah mengutus Sayyidina Jibriil (a).  Itulah sebabnya Nabi (s) dibimbing dengan Ilmu Terbaik, dengan Kalamullah, apa yang Allah ingin Nabi-Nya pelajari dan apa yang Allah ingin sandangkan padanya, dan Dia membusanainya dengan kitab suci al-Qur’an, sebagaimana Dia berfirman,

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau seandainya Kami turunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk dan terpecah belah karena ketakutannya kepada Allah!  Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Surat al-Hasyr, 59:21)

“Kalau seandainya Kami turunkan kitab suci al-Qur’an ini kepada seluruh alam semesta, alam semesta akan hancur lebur!”  Ketika disebutkan kata ‘gunung’ di sini, dengan segera terbersit di dalam pikiran kalian bahwa itu adalah sesuatu yang sangat besar, jabal, itu adalah sesuatu yang sangat besar; bukannya seperti gua, atau bukit, yang berukuran lebih kecil.  Itulah Al-Qur’an, bahasanya fasih, kita harus mempelajarinya.  Kata ‘jabal’artinya sesuatu yang paling besar yang dapat kita pikirkan, tetapi sekarang yang terbesar yang dapat kita pikirkan adalah alam semesta, jadi itu artinya, “Kalau seandainya kitab suci Al-Qur’an ini diturunkan kepada alam semesta, kamu akan melihat seluruh alam semesta ini retak seperti gempa bumi.”

Di mana posisi Bumi di dalam peta alam semesta?  Kalian tidak bisa melihatnya, kalian bahkan tidak bisa melihatnya di dalam tata surya; bahkan ukurannya tidak lebih dari seukuran peniti, ia bahkan tidak ada di sana!  Yang ada di sana adalah planet-planet yang besar dan bintang-bintang yang besar, lebih besar daripada Bumi ini dan tata surya, galaksi.  Jika Allah menurunkan Al-Qur’an ini pada seluruh galaksi di alam semesta, kalian akan melihatnya retak, tetapi Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Sayyidina Muhammad (s) dan kalbu beliau tidak hancur! Lihatlah kekuatan kalbu Sayyidina Muhammad (s), karena Jibriil (a) telah membersihkan kalbunya.  Ketika Sayyidina Muhammad masih kecil, Jibriil (a) mendatanginya dan membuka dadanya dan mengambil kalbunya dan membersihkannya di dalam operasi jantung terbuka, 1400 tahun yang lalu; itu adalah teknik 1400 tahun yang lalu, bukan seperti teknik kita sekarang.  Yang pertama melakukan operasi jantung secara terbuka adalah Jibriil (a). Ya, sekarang kita dapat mengatakan, ‘operasi jantung terbuka,’ tetapi jika mereka mengatakannya enam puluh atau tujuh puluh tahun yang lalu, mereka akan mengatakan, “tidak mungkin.”  Jika mereka mengatakan, ‘mengganti jantung,” mereka akan mengatakan, “tidak mungkin,” tetapi sekarang mereka melakukannya.  Tetapi 1400 tahun yang lalu, Jibriil (a) mengambil jantung Nabi (s) dan membersihkannya dari tempat yang dapat dimasuki Setan.

Nabi (s) bersabda, “Satu-satunya orang yang telah menaklukkan Setannya adalah aku,” karena kalbu beliau suci, tidak ada jalan masuk bagi Setan.  Kita semua, semua manusia mempunyai satu tempat di masa Setan bisa memasukinya.

روى مسلم وأحمد عن ابن مسعود قال ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :ما منكم من أحد إلا وقد وكل به قرينه من الجن وقرينه من الملائكة . قالوا : وإياك يا رسول الله ؟ قال : وإياي ، ولكن الله أعانني عليه فأسلم ، فلا يأمرني إلا بخير.

Nabi (s) bersabda, “Setiap orang di antara kalian, telah diutus untuknya seorang qarin (pendamping) dari golongan jin.”  Para Sahabat bertanya, “Termasuk dirimu, ya Rasulallah (s)?”  Beliau bersabda, “Termasuk diriku, tetapi Allah telah membantuku untuk menundukannya, sehingga ia tunduk kepadaku, sehingga ia tidak pernah memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.”

(Muslim)

Sehingga tidak ada pengaruh Setan pada diri Nabi (s), sedangkan semua manusia mempunyai pengaruh Setan.  Sehingga Nabi (s) menerima kehormatan besar itu, karunia yang besar yang sayangnya pada hari ini hanya kita letakkan di rak buku; kita tidak membacanya, kita menaruhnya di lemari.  Padahal Nabi (s) bersabda, “Bahkan jika kalian tidak membacanya dengan baik, bacalah.”

Apakah kalian tahu Qul Huw Allahu Ahad (Surat al-Ikhlaash)? Ya, kalian mengetahuinya, dan bacalah tiga kali, seolah-olah kalian membaca seluruh al-Qur’an!

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة رسوله

Nabi (s) bersabda, “Aku telah meninggalkan dua hal bagi kalian, yang jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

(Malik dalam Muwatta)

“Apapun yang kulakukan, jalan yang kutunjukkan kepada kalian, risalah Islam, di samping segala ketentuan di Islam.” Di samping itu, beliau (s) bersabda,

انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق

Innamaa bu`itstu li utammimu makaarim al-akhlaaq.

Aku telah diutus untuk menyempurnakan akhlak (perilaku dan karakter kalian). (Bazzaar)

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak kalian.”  Itu artinya kitab suci Al-Qur’an menyempurnakan perilaku manusia dan Sunnah Nabi (s) menyempurnakan akhlak manusia, karena beliau bersabda, Tharaqtu fi kitaabi wa sunnati, jadi jika kalian mengikuti keduanya, kalian tidak akan tersesat.  Dan kemudian Nabi (s) biasa membaca seluruh Al-Qur’an dalam hadirat Jibril (a) setiap bulan Ramadan dan Sayyidina Jibriil (a) biasa membacakannya kepada Nabi (s).

Kami menyebutkan hadits ini sebelumnya:

اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

iqraau ‘l-qur’ana fa innahu ya`ti yawm al-qiyaama syafi`an li ash-haabih

Bacalah Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi Sahabatnya.

Apa lagi yang kalian inginkan lebih dari itu?  Nabi (s) bersabda, “Bacalah al-Qur’an dan ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat; ketika kalian memerlukan syafaat, ia akan datang memberikan syafaatnya bagi kalian,”  dan ini berasal dari Imam Muslim, sebuah hadits autentik yang kuat.  Sayyida `A’isyah (r) mengatakan bahwa Nabi (s) bersabda, ‘Bacalah al-Qur’an, ia akan memberi syafaat bagimu pada Hari Kiamat.’ Itu artinya semua huruf ini dapat berbicara, karena mereka adalah Kalamullah, mereka tidak diciptakan, kitab suci al-Qur’an bukanlah makhluk, ia tidak diciptakan.

Bagaimana menurut kalian, apa yang akan terjadi ketika kalian membaca Kalamullah?  Sekarang id universitas atau sekolah-sekolah, mereka mengajari kalian tentang puisi dan kalian menjadi seorang penyair atau mereka membaca qasidah dan orang-orang menjadi senang ketika mereka melantunkan qasidah.  Dan itu adalah syair yang ditulis oleh manusia, itu bukanlah Kalamullah.  Orang-orang menjadi senang dengannya dan kalian melihat di mana-mana orang melantunkan qasidah, itu adalah sesuatu yang baik.  Tetapi jangan lupa, qasidah itu mungkin tidak memberi syafaat bagi kalian, tetapi kitab suci al-Qur’an akan memberi syafaat bagi kalian, meskipun melantunkan qasidah adalah melantunkan pujian kepada Nabi (s) dan kalian akan diberi pahala untuk itu, ia akan membersihkan dosa-dosa kalian.

Tetapi Sayyida `A’isyah (r) berkata bahwa Nabi (s) bersabda bahwa Al-Qur’an akan memberis syafaat bagimu pada Hari Kiamat dan itulah yang penting!  Ketika pemberi syafaat itu datang kepada Allah, Al-Qur’an akan berbicara, “Yaa Rabbii!  Orang-orang ini tidak pernah meninggalkan aku, mereka membaca Al-Qur’an.  Aku memberi syafaat bagi mereka.”  Kalamullah akan memberi syafaat bagi seseorang.  Apakah Allah akan menolak Kalam-Nya sendiri?  Dia tidak akan menolak Kalam-Nya sendiri.  Jika seseorang memberi kata-katanya kepada kalian, berjanji kepada kalian, apakah ia akan melanggarnya?  Hanya orang-orang munafik yang melakukannya.  Setiap Muslim bukan munafik, insya Allah.  Jadi, Allah berjanji pada kita, apakah Dia akan melanggarnya?  Tidak, al-Qur’an adalah Kalamullah, dan ia akan memberi syafaat kepada kita!  Semoga Allah (swt) mengampuni kita semua, insya Allah.

Suatu hari Nabi (s) mendatangi Ibn Mas`uud (r) dan berkata kepadanya, iqraa `alayya, “Bacakan padaku.”  Nabi (s) senang bila orang membacakan Al-Qur’an kepadanya; itu artinya mereka tidak meremehkan Kalamullah.  Dan saya sangat menghargai orang-orang di daerah Sub Kontinen yang mempersiapkan anak-anaknya untuk menghafal al-Qur’an, termasuk orang-orang Pakistan, India, Bangladesh, Timur Jauh, Asia Tenggara; mereka senang anak-anak mereka menghafalkan Qur’an.  Bukannya seperti di Timur Tengah di mana mereka mengirimkan kalian ke sekolah-sekolah Kristen, Buddha, dengan mengatakan bahwa pendidikannya lebih baik.  Bahkan di sini, saya mendengar bahwa para orang tua mengirimkan anak-anaknya ke beberapa sekolah untuk “pendidikan yang lebih baik,” tetapi di sana mengjarkan Islam sementara di sini tidak!

عن عبد الله قال . قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : اقرأ علي قلت : أقرأ عليك وعليك أنزل ؟ قال : إني أحب أن أسمعه من غيري فقرأت عليه سورة ” النساء ” حتى بلغت فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيدا قال : أمسك فإذا عيناه تذرفان

Sayyidina Ibn Mas`uud (r) berkata,“Bagaimana aku dapat membaca al-Qur’an untukmu sementara al-Qur’an diturunkan kepadamu? Aku merasa tidak enak, aku merasa malu.”

Nabi (s) bersabda, “Walaupun begitu, bacalah.”

Ibn Mas`uud (r) berkata, “Dan aku membaca Surat an-Nisa hingga aku sampai pada ayat: wa kayfa idza ji’na min kullin ummatin bi syahiid wa ji’na bika `ala haauulaai syahiida, “Bagaimana nanti ketika Kami mendatangkan saksi (rasul) dari setiap umat?” [artinya dari umat Sayyidina Adam (a) dan umat Sayyidina Ibrahim (a) dan umat Sayyidina Nuh (a) dan umat Sayyidina `Isa (a) dan umat Sayyidina Musa (a), dan umat-umat lainnya dari Nabi-Nabi lainnya yang datang sebagai saksi bagi umat mereka.], “dan kemudian Kami mendatangkan kamu, wahai Muhammad, sebagai saksi atas mereka bahwa apa yang mereka katakan adalah benar; [Yakni walaupun mereka adalah Nabi, Kami tidak akan membiarkan segala sesuatunya lolos sebelum engkau menjadi saksi bagi mereka.]” Dan pada saat itu, Nabi (s) bersabda, Amsik, “Stop, jangan dilanjutkan,” dan dari matanya mengalir air matanya.

Karena itu adalah sebuah kehormatan besar bagi Nabi kita (s) dan kehormatan bagi Ummat an-Nabi (s), bahwa Nabi (s) akan menjadi saksi bagi semua Rasul dan umat mereka pada Hari Kiamat.

دم فمن دونه تحت لوائي ولا فخر

Adam faman duunahu tahta liwaa’ii yawm al-Qiyamah wa laa fakhr

Oleh sebab itu Nabi (s) bersabda, “Adam dan yang lainnya akan berada di bawah benderaku pada Hari Kiamat, dan ini bukannya sombong.” (Ahmad, Musnad)

Ibn Mas`uud (r) berkata, “Aku memandangnya dan beliau menangis.” Kehormatan apa yang telah disandangkan Allah kepada Nabi (s)!  Kehormatan apa yang telah Allah berikan kepadanya dengan membusanainya dengan al-Qur’an dan menjadikannya sebagai manusia paling utama, yang paling sempurna!  Allah telah mengutusnya sebagai Rahmatan li ’l-`Alamiin. Dan hadits ini ada di dalam Bukhari dan Muslim.

Dan saya akan mengakhiri dengan hadits ini, bahwa Abu Hurayrah (r) meriwayatkan bahwa Nabi (s) bersabda,

….. وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله و يتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة و غشيتهم الرحمة و حفتهم الملائكة و ذكرهم الله في من عنده

Tidak ada sekelompok orang yang berkumpul di rumah Allah (masjid) membaca Kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka tanpa turun sakiinah, ketenangan kepada mereka, dan rahmat melingkupi mereka, dan para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebutkan mereka kepada mereka yang berada di Hadirat-Nya.

“Jika ada sekelompok orang duduk bersama mengingat Allah (swt),” artinya di mana pun kalian melakukan dzikrullah itu adalah ‘Rumah Allah,’ dan setiap kali kalian membaca al-Qur’an, itu adalah dzikrullah, di mana Allah disebutkan, bahkan kalbu kalian menjadi Rumah Allah (swt), sebagaimana Nabi (s) bersabda,

قلب الموءمن بيت الرب

Qalb al-mu’min bayt ar-rabb.

Kalbu orang-orang yang beriman adalah Rumah Tuhan.

Beliau bersabda, “Jika mereka datang bersama, sekelompok orang,” artinya paling tidak ada tiga orang di antara mereka, “kemudian mereka menunjuk seorang Imam,” sebagaimana dalam hadits Nabi (s):

إذا كنتم ثلاثة فأمروا أحدكم

Idzaa kuntum tsalaatsat fa ammiruu ahadakum.

Jika kalian bertiga, maka jadikanlah seorang sebagai pemimpin.

“Jika kalian bertiga, tunjuk seorang pemimpin untuk memandu kalian.”  Jadi jika orang-orang akan duduk bersama, bahkan jika seorang pria dengan istrinya dan anak-anaknya, dan mereka duduk membaca al-Qur’an dan berzikir, apa yang akan terjadi?  Allah akan menurunkan sakiinah, ketenangan, kedamaian akan membusanai mereka, dan rahmat akan bersama mereka dan para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan mengingat mereka dalam Hadirat-Nya.  Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Wahai Muslim!  Ada banyak penjelasan yang indah dan mulia terhadap ahadits Nabi (s) dan ayat-ayat suci al-Qur’an untuk membuat orang-orang bahagia!  Jangan membuat orang menjadi sedih dengan perkataan kalian, jadikanlah orang-orang cinta kepada Allah (swt) dan Nabi-Nya (s).  Sebagaimana Nabi (s) cinta kepada Allah (swt) dan sebagaimana orang-orang yang saleh dan ikhlas cinta kepada Allah dan Nabi-Nya (s)!  Kita harus membuat keluarga kita, anak-anak kita bahagia dan mencintai Allah dan Nabi-Nya (s)!

http://www.sufilive.com/The_Quran_Will_Intercede_For_You-5494.html

© Copyright 2014 Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.  Transkrip ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Internasional.  Mohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr.