Rahasia Memberi Salam kepada Nabi ﷺ

16587199_1250558664998484_3439233937190061324_o

Wahai Muslim! Teruslah memberi salam. Teruslah mengirim tahiyaat.  As-aalaamu `alayka – salaam kepada Nabi (saw), as-salaamu `alayna wa `ala `ibadillahi ‘sh-shaalihiin, dan kemudian kepada kita semua. At-tahiyaatu ‘lillah, “At-tahiyaat bagi-Mu, ya Allah.” Ketika kalian mengunjungi seseorang, untuk masuk ke dalam rumah mereka, kalian harus mengucapkan, as-salaamu `alaykum. Kalian harus mengucapkannya dengan cara yang terbaik. Bahkan jika pintunya terbuka, kalian tetap mengetuknya karena itu adalah adab. Allah mengajari kita–pada akhir shalat–bagaimana untuk berada di Hadirat-Nya. Baiklah, kalian telah melakukan shalat kalian dan sekarang kalian harus mempersembahkannya. Kalian duduk dengan tawaduk sambil berdoa, duduk dalam hadirat Sang Raja. Kalian duduk di lantai dengan adab. Kemudian kalian berbicara, “Yaa Rabbii,” kalian belum lagi mengucapkan at-tahiyaat.

Tetapi karena kalian tidak dapat melihat dan tidak dapat mengetahui karena itu jauh dari qalbu kalian untuk mengetahui, kalian harus memberi salam kepada Allah (swt) secara in absentia. Itulah sebabnya ketika kalian mengucapkan, wa ‘sh-shalawaatu; kalian tengah mempersiapkan diri kalian untuk mencapai shalawat tertinggi, artinya segala pujian akan terkandung di dalamnya. Shallu `Alayh adalah sebuah doa, dan setiap pujian dan setiap penghormatan akan terkandung di dalamnya. Itu artinya, “Wahai hamba-Ku, kalian akan menerima segala macam pujian yang kembali pada kalian. Aku adalam al-Kariim, Yang Maha Pemurah.” Allah (swt) akan memberinya dari Kemurahan-Nya itu.

Dia akan memberi kalian segala pujian. Sekarang kalian membaca ribuan macam doa, seperti dalam Burdah Syariif dari Imam Busyiri; semua ini akan dimasukkan seolah-olah kalian telah membacanya semua dengan satu kata: shalawat. Setelah kalian mempersembahkan at-tahiyaat dan shalawaat, kalian menjadi thayyib, suci dan murni, bukan seperti, bukan seperti Qaabil saat bersama Haabil: kalian tidak bisa menawarkan yang terburuk, kalian harus menawarkan yang thayyib.

Bila kalian menawarkan yang thayyib itu, maka pintu akan dibukakan bagi kalian untuk memasuki hadirat suci Sayyidina Muhammad (saw), karena kalian tidak bisa masuk sebelumnya, hanya Sayyidina Muhammad (saw) yang bisa masuk ke sana. Tetapi ketika kalian masuk ke dalam hadirat suci Sayyidina Muhammad (saw), kalian disambut oleh Allah dengan pujian terbaik dan kalian kemudian mengucapkan, As-salaamu `alayka secara langsung kepadanya (saw). Tidak seorang pun dari ideologi apa pun yang dapat mengatakannya, itu adalah sulit.

Itulah sebabnya mengapa Ibn Mas`uud (ra) berkata bahwa ketika mereka mengucapkannya, mereka mengucapkan, As-salaamu `Alayna ayyuha ‘n-Nabi (saw). Tetapi ketika Nabi (saw) wafat, mereka mengubahnya. Karena bagi mereka, Nabi (saw) meninggalkan dunia, kemudian Ibn `Abbas (ra) berkata, “Tidak, itu harus menjadi As-salaamu `alayka, (dengan huruf Arab kaaf) karena salam kita langsung kepada Nabi (saw), karena beliau masih berada di sini bersama kita.”

Setiap orang yang mengucapkan, “As-salaamu `alayka,” Nabi (saw) hadir bersamanya, tetapi ia harus dalam keadaan suci. Ideologi yang menentang Ahlu ‘s-Sunnah mempunyai masalah dengan Sayyidina Muhammad (saw)!

Jadi ketika kita memberi salam, Nabi (saw) wajib menjawab salam itu. Dan bila kalian berada dalam hadirat Nabi (saw), kalian harus berdoa untuk seluruh Muslim; kalau tidak maka itu tidak lengkap. Ketika kalian menyempurnakan diri kalian dengan mengucapkan at-tahiyaat, kemudian salaam, dan kemudian memberi salaam untuk semua orang, maka tauhid kalian dapat diterima.

Dengan demikian kalian akan memahami makna syahaadah kalian. Karena ketika kalian mengucapkan, la ilaaha illa-Llah (Tidak ada tuhan kecuali Allah), kemudian kalian mengucapkan asy-hadu, (Aku bersaksi), itu mempunyai makna yang berbeda sepenuhnya. Kalian bersaksi.

Tetapi bersaksi pada apa, bila kalian tidak suci? Jadi Allah mempersiapkan diri kalian dengan memperkenankan kalian duduk dan mengucapkan salaam dan dalam hadirat suci itu menegaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, dan Sayyidina Muhammad (saw) adalah Nabi-Nya. Itulah mi`raj kalian, ketika kalian duduk berlutut, itulah saatnya kalian memasuki mi`raj, yang sebenarnya adalah tiruan, tetapi Allah (swt) akan menerimanya dari kalian.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia