Sekilas tentang Kehidupan dan Ajaran Mawlana Syekh Nazim (q) yang Kita Cintai

Salinan dari urs

Oleh Dr. Gibril Fouad Haddad

Damaskus, 12 Rabiul Awal 1425 H/1 Mei 2004

 

Segala puji dan syukur bagi-Mu, wahai Tuhan kami, yang telah membimbing kami pada Samudra Rahmat dari Kebenaran dan Cahaya-Mu.   Allaahumma! Shalawat dan salam semoga Engkau curahkan kepada junjungan kami Sayyidina Muhammad (saw), Penutup para Nabi dan Rasul-Mu, yang membawa Quranul Karim, juga bagi keluarga dan seluruh Sahabatnya, serta para pewaris beliau, baik yang hidup di masa lalu, maupun di masa sekarang, terutama pewaris dan wakil utama beliau di zaman ini.

Hamba yang dhaif ini, Gibril ibn Fouad diminta untuk “Menulis biografi dan artikel tentang kekasih kita Mawlana Syekh Nazim (q) dengan kata-kata saya sendiri, khususnya tentang kehidupan dan ajaran-ajaran beliau dan pengalaman bersama beliau.”  Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal 1425H (Mei 2004) dan ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya. Semoga Allah (swt) mengilhami penulis dan pembaca tentang Mawlana Syekh Nazim (q) agar memiliki gambaran yang adil dan tepat terhadap figur yang mulia ini. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan-Nya.  Sebagaimana Dia melingkupi kebodohan kita dengan Ilmu-Nya, semoga pula Dia melingkupinya dengan Rahmat-Nya, Amin! (Al-Hamdulillah, izin telah diperoleh dari Mawlana untuk merilis tulisan ini pada hari ini.)

Nama lengkap Mawlana adalah Muhammad Nazim `Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yashil Bash al-Haqqani al-Qubrusi ash-Shalihi al-Hanafi (q), semoga Allah mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya.  Kunyah (nama panggilan) beliau adalah Abu Muhammad – diambil dari nama anak laki-laki tertua beliau – selain itu beliau juga adalah ayah dari Baha’uddin, Naziha, dan Ruqayya.

Beliau dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Siprus (Qubrus) dari keluarga Arab dengan akar budaya Tatar.  Beliau mengatakan kepada saya bahwa ayah beliau adalah keturunan dari Syekh `Abdul Qadir Al-Jailani (q).  Diceritakan pula kepada saya bahwa ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin ar-Rumi (q).  Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad (saw) dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dari sisi ibunya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Siprus, Mawlana melanjutkan ke perguruan tinggi di Istanbul dan lulus sebagai sarjana Teknik Kimia.  Di sana, beliau juga belajar bahasa Arab dan Fiqh di bawah bimbingan Syekh Jamal al-Din al-Alsuni (wafat 1375H/1955M) dan menerima ijazah dari beliau.  Mawlana juga belajar tasawuf dan Tarekat  Naqsybandi dari Syekh Sulayman Arzarumi (q) (wafat 1368H/1948M) yang akhirnya mengirim beliau ke Syam (Suriah).

Mawlana melanjutkan studi Syariahnya ke Halab (Aleppo), Hama, dan terutama di Homs.  Beliau belajar di zawiyah dan madrasah Masjid Sahabat Agung Khalid ibn Al-Walid (ra) di Hims/Homs di bawah bimbingan Ulama besarnya dan memperoleh ijazah dalam Fiqh Hanafi dari Syekh Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud dan Syekh ‘Abd al-Jalil Murad, dan ijazah dalam ilmu Hadits dari Muhaddits Syekh ‘Abd al-‘Aziz ibn Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud al-Hanafi.

Perlu dicatat bahwa nama terakhir tadi adalah salah satu dari sepuluh guru hadits dari Rifa’i Hafizh di Aleppo, Syekhul Islam ‘Abd Allah Siraj al-Din (1924-2002 M), yang duduk berlutut selama dua jam di bawah kaki Mawlana Syekh ‘Abdullah Faiz Daghestani (q) ketika beliau mengunjungi Aleppo pada tahun 1959 dan yang memberikan bay’at dalam Tarekat Naqsybandi pada Mawlana Syekh Nazim (q) ketika beliau mengunjunginya terakhir kali di Aleppo pada tahun 2001, sebagaimana diriwayatkan kepada saya oleh Ustadz Muhammad `Ali ibn Mawlana al-Syekh Husayn ‘Ali dari Syekh Muhammad Faruq ‘Itqi al-Halabi yang juga hadir pada peristiwa tersebut.

Mawlana Syekh Nazim (q) juga belajar di bawah bimbingan Syekh Sa’id al-Siba’i yang kemudian mengirim beliau ke Damaskus setelah menerima suatu pertanda berkaitan dengan kedatangan Mawlana Syekh `Abdullah Faiz Ad-Daghestani (q) ke Suriah.  Setelah kedatangan awal beliau ke Suriah dari Daghestan di akhir tahun 30-an, Mawlana Syekh `Abdullah (q) tinggal di Damaskus, tetapi sering pula mengunjungi Aleppo dan Homs.  Di kota yang terakhir inilah, beliau mengenal Syekh Sa’id al-Siba’i yang adalah pimpinan dari Madrasah Khalid bin Walid (ra).  Syekh Sa’id menulis pada beliau (Mawlana Syekh ‘Abdullah (q), “Kami mempunyai seorang murid dari Turki yang luar biasa, yang sedang belajar pada kami.” Mawlana Syekh `Abdullah (q) menjawab, “Murid itu adalah milik kami; kirimkan dia kepada kami!”  Murid tersebut adalah guru kita, Mawlana Syekh Nazim (q), yang kemudian datang ke Damaskus dan memberikan bay’at beliau pada Grandsyekh kita pada kurun waktu antara tahun 1941 dan 1943.

Pada tahun berikutnya, Mawlana Syekh `Abdullah (q) pindah ke rumah baru beliau yang dibeli oleh murid Suriah pertamanya, dan khalifahnya yang masih hidup saat ini, Mawlana Syekh Husayn ibn ‘Ali  ibn Muhammad ‘Ifrini al-Kurkani ar-Rabbani al-Kurdi as-Syekhani al-Husayni (q) (lahir 1336H/1917M) – semoga Allah (swt) mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya – di Qasyoun, sebuah gunung yang menghadap Damaskus, di mana Allah (swt) berfirman tentangnya; “Demi Tiin dan buah Zaitun! Demi Bukit Thursina!” (QS. 95:1-2).  Qatadah dan al-Hasan Al-Basri berkata, “At-Tiin adalah Gunung di mana Damaskus terletak [Jabal Qasyoun] dan Zaitun adalah Gunung di mana Jerusalem terletak.”  Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq, al-Tabari, al-Wahidi, al-Bayzawi, Ibn al-Jawzi, Ibn Katsiir, al-Suyuti, as-Syaukani, dll., semua dalam tafsir-tafsir mereka.

Mawlana Syekh Nazim (q) juga membeli sebuah rumah dekat rumah Grandsyekh dan bersama Mawlana Syekh Husayn, membantu membangun Masjid al-Mahdi, Masjid Grandsyekh, yang akhir-akhir ini diperbesar menjadi sebuah Masjid Jami’, di mana di belakangnya terletak maqam dan zawiyah Grandsyekh, di mana hingga saat ini, makanan dan sup ayam yang lezat selalu disiapkan dalam kendi-kendi besar dan dibagi-bagikan kepada fakir miskin dua kali seminggu.

Mawlana Syekh Nazim (q) tinggal di Damaskus sejak pertengahan tahun 40-an hingga awal 80-an, sambil sesekali melakukan perjalanan untuk belajar atau sebagai wakil dari Grandsyekh, hingga Grandsyekh wafat pada tahun 1973. Setelah tahun itu, Mawlana tinggal di Damaskus selama beberapa tahun sebelum pindah ke Siprus.

Jadi, Mawlana, yang aslinya Cypriot, dan Grandsyekh, yang asalnya Daghistani, keduanya telah menjadi penduduk Damaskus “Syamiyyun” dan tinggal di distrik orang-orang salih (ash-shaalihiin) yang disebut Shalihiyya!  Tak ada keraguan lagi, bahwa pentingnya Damaskus bagi Mawlana dan Grandsyekh adalah karena Syam adalah negeri yang penuh berkah dan dilindungi melalui para Nabi dan Awliya’.

Imam Ahmad dan murid beliau, Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Nabi suci (saw) bersabda, “Kalian harus pergi ke Syam.  Tempat itu telah terpilih secara Ilahiah oleh Allah (swt) di antara seluruh tempat di bumi-Nya ini.  Di dalamnya Dia melindungi hamba-hamba pilihan-Nya; dan Allah (swt) telah memberikan jaminan padaku berkenaan dengan Syam dan penduduknya!” Imam al-Nawawi (ra) berkata dalam kitabnya Irsyad Tullab al-Haqa’iq ila Ma’rifati Sunan Khayr al-Khala’iq, “Hadits ini berkenaan dengan fadilah (keistimewaan) yang besar dari Syam dan merupakan suatu fakta yang dapat teramati!”

Direktur pimpinan Dar al-Ifta’ (secara harfiah artinya “Rumah Fatwa”, maksudnya Majelis Fatwa seperti MUI di Indonesia, penerj.) di Beirut, Lebanon, Syekh Salahud Diin Fakhri mengatakan pada saya di rumah beliau di Beirut dan menulis dengan tangan beliau kepada diri saya,

“Pada suatu pagi di hari Ahad, 20 Rabiul Akhir 1386 H, bertepatan dengan hari Minggu 7 Agustus 1966 M, kami mendapat kehormatan untuk mengunjungi Syekh ‘Abd Allah al-Daghistani (q)–rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) – di Jabal Qasyoun di Damaskus atas inisiatif serta disertai pula oleh Mawlana al-Syekh Mukhtar al-‘Alayli– rahimahullah – Mufti Republik Lebanon saat itu; [yang adalah paman dari Syekh Hisyam Kabbani], Syekh Husayn Khalid, imam dari Masjid Nawqara; Hajj Khalid Basyir – rahimahumallah (semoga Allah merahmati keduanya); Syekh Husayn Sa’biyya [saat ini adalah direktur dari Dar al-Hadits al-Asyrafiyya di Damaskus]; Syekh Mahmud Sa’d; Syekh Zakariyya Sya’r; dan Hajj Mahmud Sya’r.  Syekh ‘Abdullah (q) menerima kami dengan amat baik dengan penyambutan yang ramah serta penuh kebahagiaan dan kegembiraan.  Syekh Nazim al-Qubrusi (q) – semoga Allah (swt) merahmati dan menjaga beliau – juga berada di situ saat itu!

Kami duduk dari pukul sembilan di pagi hari hingga tiba panggilan adzan Zhuhur, sementara Syekh (Grandsyekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani, penerj.) – rahimahullah – menjelaskan tentang Syam (Suriah), keutamaannya, kelebihan-kelebihannya yang luar biasa, dan bahwa tempat itu merupakan tempat Kebangkitan dan bahwa Allah akan mengumpulkan seluruh manusia di sana untuk diadili dan dihisab.  Beliau menyebutkan pula hal-hal yang membuat hati dan pikiran kami tersentuh, dikuatkan pula oleh pengaruh suasana distrik Salihiyya yang suci, dan beliau berbicara pula tentang hubungan yang tak terpisahkan – dalam praktik maupun dalam teori – antara tasawwuf dengan Syariah… Semoga Allah membimbing dan menunjukkan pada kita petunjuk-Nya dalam perkumpulan dan shuhbah dengan Awliya’-Nya yang shiddiq.  Aamiin, yaa Rabbal ‘Aalamiin!”

Masih banyak lagi nama-nama Ulama dan Awliya’ Syam yang prestisius yang mencintai dan bersahabat dengan Syuyukh kita dalam periode keemasan tersebut, seperti Syekh Muhammad Bahjat al-Baytar (1311-1396), Syekh Sulayman Ghawji al-Albani (wafat 1378H), ayah dari guru kami, Syekh Wahbi, Syekh Tawfiq al-Hibri, Syekh Muhammad al-‘Arabi al-‘Azzuzi (1308-1382H) Mufti dari Lebanon, dan Syekh utama dari guru kami Syekh Husayn ‘Usayran, al-‘Arif Syekh Syahid al-Halabi, al-‘Arif Syekh Rajab at-Ta’i, Syekh al-Qurra’(ahli qira’at Quran, penerj.) Syekh Najib Khayyata al-Farazi al-Halabi, al-‘Arif Syekh Muhammad an-Nabhan, Syekh Ahmad ‘Izz ad-Din al-Bayanuni, al-‘Arif Syekh Ahmad al-Harun (1315-1382H), Syekh Muhammad Zayn al-‘Abidin al-Jadzba, dan lain-lain – semoga Allah (swt) merahmati mereka semuanya!

Dari tiga puluh tahun shuhbah (asosiasi) yang penuh berkah antara Mawlana dan Grandsyekh tersebut, muncullah buku Mercy Oceans (secara harfiah berarti Samudra Kasih Sayang, merujuk pada buku-buku lama kumpulan shuhbah Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani, penerj.) yang tak tertandingi, yang hingga kini masih tersebar pada setiap salik dengan judul-judulnya: Endless Horizons (“Cakrawala tanpa Batas”, penerj.), Pink Pearls (“Mutiara-Mutiara Merah Muda”, penerj.), Rising Suns (“Matahari-Matahari yang sedang terbit”, penerj.). Tak ada keraguan lagi, kumpulan-kumpulan shuhbah awal tersebut adalah tonggak-tonggak utama dari seruan dakwah Islam seorang diri Mawlana Syekh Nazim (q) di Amerika Serikat dan Eropa, dengan karunia Allah (swt)!

Semoga Allah (swt) melimpahkan lebih banyak berkah-Nya pada Mawlana Syekh Nazim (q) dan mengaruniakan kepada beliau maqam-maqam tertinggi yang pernah Dia karuniakan kepada kekasih-kekasih-Nya, berdekatan dengan junjungan kita, Sayyidina Muhammad (saw), yang bersabda,

“Jika seseorang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, Allah (swt) akan membuatnya berjalan di salah satu di antar jalan-jalan Surga, dan para Malaikat akan merendahkan sayap mereka karena bahagia dan gembira pada orang yang mencari ilmu, dan para penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan dalam lautan akan memohonkan ampunan bagi seorang pencari ilmu!  Keutamaan dari seorang yang berilmu atas orang-orang beriman secara umum bagaikan terangnya bulan purnama di kegelapan malam atas segenap bintang-gemintang!  Ulama adalah para pewaris Nabi, dan para Anbiya itu tidaklah memiliki dinar ataupun dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan; dan orang yang mengambilnya sungguh telah mengambil bagian yang banyak!”

Tempat pertama yang saya datangi untuk mencari pengetahuan Nabawi ini adalah London di bulan Ramadan 1411 H, setelah saya bersyahadat laa ilaaha illa Allah, Muhammadun Rasulullah.  Di sanalah, saya meraih tangan suci Mawlana untuk pertama kali dan melakukan bay’at (janji setia) setelah diperkenalkan pada Tarekat ini oleh menantu beliau, dan khalifah beliau di Amerika Serikat, Syekh Hisyam Kabbani (q) – semoga Allah membimbingnya dan membimbing seluruh sahabat-sahabat Mawlana!

Saya mengunjungi Mawlana beberapa kali di rumah beliau di Siprus dan juga bertemu beliau di Damaskus.  Di antara hadiah Shuhba yang diberikan Mawlana adalah pada dua minggu terakhir di bulan Rajab di tahun 1422H – Oktober 2001 – di rumah dan zawiyah beliau di kota Lefke, Siprus. Catatan pengalaman ini telah ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta diterbitkan dengan judul Qubrus al-Tarab fii Shuhbati Rajab atau Kebahagiaan Siprus dalam Shuhbat.

Pada saat itulah, dan juga saat-saat berikutnya, selama dua kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat, Inggris, serta di Siprus dan Damaskus, saya mendapatkan petunjuk agung yang sama bagi setiap pencari kebenaran:

“Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad (saw) dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya shalawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau; yang untuk ini Allah (swt) mendukung kita!”

Dari sini, saya mengerti bahwa murid yang sesungguhnya dalam Tarekat Naqsybandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad (saw), dan adalah tugasnya untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqsybandi atau bukan.

Ketika seorang Waliullah yang telah berumur delapan puluh tahunan di Batu Pahat, Johor, Malaysia, al-Habib ‘Ali ibn Ja’far ibn ‘Abd Allah al-‘Aydarus menerima kami di rumahnya di bulan Mei 2003, beliau mengenakan pakaian yang tidak pernah berubah sejak tahun 1940-an, beliau terlihat seperti Mawlana Syekh Nazim (q) dalam segenap aspeknya, dan bahkan terlihat menyerupainya ketika beliau meminta maaf atas bahasa Arabnya yang tidak fasih.  Ketika kami memohon doa beliau untuk negeri-negeri kami yang terluka dan bagi penduduknya, beliau menjawab, “Umat ini terlindungi dan berada pada tangan-tangan yang baik, dan pada Syekh Nazim (q) telah kau dapati kebercukupan!”

Jadi dalam setiap perjumpaan murid Mawlana yang sederhana ini dengan para Awliya di antara umat ini; mereka semua menunjukkan penghormatan yang tinggi serta kerendahan hati yang amat dalam terhadap Mawlana dan silsilah beliau, sekalipun mereka secara lahiriah (penampakan luar) berada pada jalan (tarekat) yang berbeda, seperti al-Habib ‘Ali al-‘Aydarus di Malaysia, Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki di Mekah, al-Habib ‘Umar ibn Hafizh di Tarim, Sayyid Yusuf ar-Rifa’i di Kuwait, Syekh ‘Isa al-Himyari di Dubai, Sayyid ‘Afif ad-Din al-Jailani dan Syekh Bakr as-Samarra’i di Baghdad, as-Syarif Mustafa ibn as-Sayyid Ibrahim al-Basir di Maroko tengah, Grandmufti Suriah (alm.) Syekh Ahmad Kuftaro ibn Mawlana al-Syekh Amin dan sahabat-sahabatnya Syekh Bashir al-Bani, Syekh Rajab Dib, dan Syekh Ramazan Dib; Syuyukh Kattani dari Damaskus; Syekh (alm.) ‘Abd Allah Siraj ud-Din dan keponakan beliau Dr. Nur ud-Din ‘Itr; Mawlana as-Syekh ‘Abd ur-Rahman as-Shaghuri; Dr. Samer al-Nass; dan guru-guru serta saudara-saudara kita lainnya di Damaskus – semoga Allah (swt) selalu melindungi Damaskus dan melimpahkan rahmat-Nya bagi mereka dan diri kita!  Saya telah bertemu dengan semua nama yang saya sebut di atas kecuali Syekh Sirajud-Din dan mereka semua mengungkapkan tarazzi atas Mawlana as-Syekh Nazim, mengungkapkan keyakinan atas ketinggian wilayah-nya (derajat kewalian, penerj.) dan memohon doa beliau atau doa pengikut-pengikut beliau; 

“…Dan cukuplah Allah (swt) sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah…” (QS. 48:28-29)

Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara para Rijal-Allah (maksudnya para Kekasih Allah, penerj.) bahwa keragaman jalan ini adalah tema (dandana, maksudnya kira-kira “diperuntukkan bagi”, penerj.) mereka yang belum terhubungkan (mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, mereka yang belum mendapatkan ‘amanat’-nya, penerj.), sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”, penerj.) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain.  Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya pada Hari Kebangkitan.  Oleh karena itu, kita, murid-murid dari jalan-jalan (Thuruq, jamak dari Thariqat) itu mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan Allah (swt) dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh berkah tersebut dan masuk dalam lingkaran tertinggi dari shuhba (persahabatan) dan jama’ah, serta jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan.

Sebagaimana Allah (swt) berfriman: “Yaa Ayyuha l-ladziina aamanu t-taqu ul-laaha wa kuunuu ma’as shadiqiin” “Wahai orang-orang beriman takutlah kalian akan Allah dan tetaplah berada [dalam persahabatan dan kesetiaan] dengan orang-orang yang Benar (Shiddiqiin)!”; dan Nabi Suci kita (saw) bersabda, “Aku memerintahkan pada kalian untuk memgikuti sahabat-sahabatku dan mereka yang mengikutinya (tabi’in, penerj.), kemudian mereka yang mengikutinya (tabi’it tabi’in, penerj.); setelah itu, kebohongan akan merajalela… Tetapi kalian mestilah tetap berada pada Jama’ah dan berhati-hatilah terhadap perpecahan!” 

Jamaah inilah yang dilukiskan dalam suatu hadits mutawatir (diriwayatkan banyak orang, penerj.): Ia yang dikehendaki Allah (swt) untuk beroleh kebajikan besar, akan Dia karuniakan padanya pemahaman yang benar (haqq) dalam Agama. Aku (mengacu pada Nabi (saw), penerj.) hanyalah membagikan dan adalah Allah yang mengkaruniakan!  Kelompok itu akan tetap menjaga Perintah dan Aturan Allah, tak akan terlukai oleh kelompok yang menentang mereka, hingga datangnya Ketetapan Allah.”

Ya Allah, jadikanlah kami selalu bersyukur atas apa yang telah Kau karuniakan dan yang telah Rasul-Mu dan Habib-Mu bagikan!

Saya mendengar Mawlana Syekh Nazim (q) berkata beberapa kali atas nama guru beliau, Sultan al-Awliya’ Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah ibn Muhammad ‘Ali ibn Husayn al-Fa’iz ad-Daghestani tsumma asy-Syami ash-Shalihi (q) (ca. 1294-1393 H) [1]

  • dari Syekh Syaraf ud-Din Zayn al-‘Abidin ad-Daghestani ar-Rasyadi (q) (wafat 1354 H)
  • dari paman maternal (dari sisi ibu) beliau, Syekh Abu Muhammad al-Madani ad-Daghistani al-Rasyadi (q) [2],
  • dari Syekh Abu Muhammad Abu Ahmad Hajj ‘Abd ar-Rahman Effendi Ad-Daghistani ats-Tsughuri (q) (wafat 1299 H) [3],
  • dari Syekh Jamal ud-Din Effendi al-Ghazi al-Ghumuqi al-Husayni (q) (wafat 1292 H) [4],
  • juga (keduanya baik ats-Tsughuri maupun al-Ghumuqi) dari Muhammad Effendi ibn Ishaq al-Yaraghi al-Kawrali (q) (wafat 1260 H) [5],
  • dari Khass Muhammad Effendi asy-Syirwani ad-Daghestani (q) (wafat 1254 H) [6],
  • dari Syekh Diya’uddin Isma’il Effendi Dzabih Allah al-Qafqazi asy-Syirwani al-Kurdamiri ad-Daghestani (q) (wafat. ? )
  • dari Syekh Isma’il al-Anarani (q) (wafat 1242 H),
  • dari Mawlana Diya’uddin Khalid Dzul-Janahayn ibn Ahmad ibn Husayn as-Shahrazuri al-Sulaymani al-Baghdadi al-Dimashqi an-Naqsybandi al-‘Utsmani ibn ‘Utsman ibn ‘Affan Dzun-Nurayn (q) (1190-1242 H) dengan rantai sanadnya yang masyhur hingga Syah Naqsyband Muhammad ibn Muhammad al-Uwaysi al-Bukhari (q) yang berkata,

 

“Tarekat kami adalah SHUHBAT (persahabatan) dan kebaikannya adalah dalam JAMA’AH (kelompok)”

Semoga Allah (swt) meridhai mereka semuanya, merahmati mereka, dan mengaruniakan pahala-Nya bagi mereka, dan memberikan manfaat bagi kita lewat mereka melalui telinga kita, hati-hati kita, dan keseluruhan wujud kita, Amin!

Beberapa kritik dari “Calon Sufi” atas Tarekat Haqqani mengatakan atas tarekat kita dengan apa yang mereka sebut sebagai “kurang dalam sisi ilmu”.  Seorang Sufi yang teliti akan menjadi orang terakhir yang mengatakan kritik yang menyesatkan seperti itu!  Semestinya mereka menjadi orang-orang pertama yang mengetahui bahwa ilmu, sebagai ilmu saja, tidak hanya tanpa manfaat, tetapi juga dapat menjadi perangkap mematikan yang mengarah kepada kebanggaan syaithaniyyah.  Tak ada maaf baik bagi orang yang sombong (yaitu dengan ilmunya, penerj.) maupun orang yang bodoh; hanya Sufi yang penuh cinta, ketulusan, serta bertobatlah, walau memiliki kekurangan dalam ilmu dan adabnya, yang lebih dekat pada Allah (swt) dan pada ma’rifatullah (pengenalan akan Allah) daripada seorang Sufi berilmu yang menyimpan dalam hatinya kesombongan walau hanya setitik debu.  Semoga Allah (swt) melindungi diri kalian dan diri kami!

Ibrahim al-Khawwass berkata bahwa ilmu (pengetahuan) bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi untuk menaati Sunnah dan mengamalkan apa yang diketahui sekalipun itu hanya sedikit.

Imam Malik berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi ia adalah cahaya Allah (swt) yang Dia timpakan pada hati.

Imam as-Syafi’i berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui bukti dan dalil, melainkan untuk mengetahui apa yang bermanfaat.

Dan ketika seseorang berkata tentang Ma’ruf al-Karkhi (murid dari Dawud at-Ta’i, yang merupakan murid dari Habib ‘Ajami, murid dari Hasan al-Bashri; guru dari Sari as-Saqati, guru dari Sayyid Taifa Junayd al-Baghdadi, penerj.), “Dia bukanlah seseorang yang amat alim (berilmu),” Imam Ahmad pun berkata, “Mah!  Semoga Allah (swt) mengampunimu!  Adakah hal lain yang dimaksudkan oleh Ilmu selain dari apa yang telah dicapai oleh Ma’ruf?!”

Kritik lain berisi keberatan atas Rabithah atau “Ikatan”, suatu karakteristik khusus dari Tarekat Naqsybandi.  Lebih jelasnya, mereka yang mengkritik rabithah ini berkeberatan atas unsur tasawwur atau “Penggambaran” dalam rabithah yang meminta Murid untuk menggambarkan wujud sang Syekh dalam hatinya pada permulaan maupun selama dzikir.  Tetapi Allah (swt) telah berfirman, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah e itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [33:21] dan Dia berfirman pula, “Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; “ [2:189] dan karena itulah kita datang kepada Nabi (saw) melalui ash-Shiddiq (ra), dan datang kepada beliau melalui Salman (ra), dan datang kepada beliau melalui Qasim (ra), dan kepada beliau dari Sayyid Ja’far (as), dan seterusnya.  Karena “Ulama adalah para pewaris Nabi”, dapat dipahami bahwa Mursyid adalah teladan kita bagi teladan Nabi tersebut (merujuk pada ayat 33:21 di atas, penerj.) dan ia (Mursyid) mestilah seseorang di antara mereka yang atas mereka, Nabi e bersabda, “Jika kalian melihat mereka, kalian ingat akan Allah!” Hadits ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas , Asma’ bint Zayd, dan Anas (semoga Allah ridha atas diri mereka semua), juga dari Tabi’in Sa’id ibn Jubayr, ‘Abd al-Rahman ibn Ghanam, dan Muslim ibn Subayh.

Beberapa orang memprotes terhadap konsep fana’ sang Murid dalam diri Syekh, atau fana’ fis-Syekh. Mereka berkata, “Syekhmu hanyalah seorang manusia; jadikanlah fana’-mu pada diri Rasulullah (saw)!” Tetapi, adalah salah untuk menyamakan Syekh pembimbing sama seperti yang lain.  Syekh Ahmad Sirhindi qaddas-Allahu sirrahu – berkata: “Ketahuilah bahwa melakukan perjalanan (suluk) pada tarekat yang paling mulia ini adalah dengan ikatan (rabithah) dan cinta pada Syekh yang kita ikuti.  Syekh seperti itulah yang berjalan dalam tarekat ini dengan keteguhan (istiqamah), dan ia tercelupi (insabagha) dengan segenap macam kesempurnaan melalui kekuatan daya tarik Ilahiah (jadzbah).  Pandangannya menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan konsentrasinya atau pemusatan pikirannya (tawajjuh) mengangkat habis cacat-cacat rohani.  Pemilik dari kesempurnaan-kesempurnaan ini adalah Imam dari zaman ini dan Khalifah pada waktu itu… jadi, ikatan kita (padanya) adalah (melalui) cinta, dan hubungan (nisbah) kita dengannya adalah pencerminan dan pencelupan diri, tak peduli apakah diri kita dekat atau jauh (secara fisik darinya, penerj.). Hingga kemudian sang murid akan tercelupkan dalam tarekat ini melalui ikatan cintanya pada Syekh, jam demi jam, dan tercerahkan oleh pantulan cahaya-cahayanya.

Dengan pola seperti ini, pengetahuan terhadap proses bukanlah suatu prasyarat untuk memberi atau menerima manfaat.  Buah semangka matang oleh panas matahari jam demi jam dan menghangat dengan berlalunya hari… Buah semangka itu semakin matang, namun pengetahuan seperti apakah yang dimiliki oleh semangka terhadap proses ini?  Apakah sang surya mengetahui bahwa dirinya sedang mematangkan dan menghangatkan semangka itu?

Sebagaimana disebutkan di atas, keberatan terhadap konsep fana’ fis-Syekh berarti pula keberatan terhadap cinta pada Syekh.  Kita semua memiliki keinginan dan tujuan untuk mencintai Syekh kita dan mengetahui bahwa beliaulah objek yang paling patut menerima cinta dan hormat kita di dunia ini.

Sebagaimana sang penyair berpuisi:

Atas kesetiaan padamu yang suci dan tuluslah, aku berkata,

“Cinta atasmu terpahat dalam kalbu dari kalbu-kalbuku,

sebagai suatu ukiran yang dalam [NAQSY], suatu prasasti kuno.

Tak kumiliki lagi kehendak [IRADAH] apa pun, selain cintamu,

tak pula dapat kuucapkan apa pun padamu, selain “aku cinta padamu.”

Tentang hal ini, Mawlana berkata pada suatu kesempatan baru-baru ini,  “Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci.  Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita Cinta. Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang dicintai. ITTIBA’ bermakna untuk mencintai dan mengikuti, sementara ITA’AT bermakna [hanya] untuk mengikuti.  Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tetapi tidaklah selalu karena cinta.”

“Nah, Allah I menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah I mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya.  Dan setiap orang yang mencintai Awliya’ dan Anbiya’, melalui Awliya’ akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah.”

“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi.  Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah I akan mencintai kalian?”

“Namun manusia kini sudah seperti kayu, yang kering, kayu kering, mereka menyangkal cinta.  Mereka adalah orang-orang yang kering – tak ada kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, terbuka, bersemi dan berbunga di kala musim semi.  Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, tak akan pernah terbuka.  Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia.  Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya.”

“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari iman.  Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tetapi kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudra!” (akhir shuhbat Mawlana).

Dengan dan melalui Mawlana, Allah (swt) telah membuat segala macam hal yang sulit menjadi mudah.  Kita sangat bersyukur mengetahui beliau karena beliaulah jalan pintas bagi kita menuju nuur/cahaya dalam Agama ini.  Nur ini adalah tujuan dan sasaran dari setiap orang yang sehat.  Nur dan cahaya inilah yang dilukiskan dalam Ayat yang Agung,

Allah (swt) menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.  Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” [2:269]

Semoga Allah (swt) mengaruniakan bagi diri kita hikmah ini dan menjaga diri kita pada Jalan yang telah Dia perintahkan dan Dia ridhai bagi diri kita!  Semoga Allah (swt) mengaruniakan pada Mawlana umur panjang dalam kesehatan dan mengaruniakan pada diri kita tingkatan (maqam) Murid Sejati demi kehormatan orang yang paling mulia, Sayyidina Muhammad  (saw)!

 

Catatan:

[1] Ada beberapa variasi pendapat tentang tahun lahirnya Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah (q), berkisar antara 1284 H (dalam kitab at-Thariqat an-Naqsybandiyya, karangan Muhammad Darniqa) hingga 1294 H menurut murid tertua Syekh ‘Abdullah (q), Mawlana as-Syekh Husayn (q) (dalam kitab at-Thariqat an-Naqsybandiyya al-Khalidiyya ad-Daghistaniyya, karangan Ustadz Muhammad ‘Ali ibn as-Syekh Husayn) hingga 1303 H dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniyya, karangan Syekh ‘Adnan Kabbani (q) serta 1309 H dalam buku The Naqshbandi Sufi Way, karangan Syekh Hisyam Kabbani (q). 

[2]  Beliau menerima pula Tarekat Qadiriah dari Syekh Ibrahim al-Qadiri (demikian pula Syekh Jamaluddin) yang dengan bimbingannya, beliau memulai suluknya hingga Syekh Ibrahim menyuruhnya ke Syekh ats-Tsughuri, lihat ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 229).

[3]  lihat Hadaya al-Zaman fi Tabaqat al-Khawajagan an-Naqsybandiyya (halaman 375) karangan Syu’ayb ibn Idris al-Bakini.  Beliau mengambil pula dari al-Yaraghi, lihat Sullam al-Wusul karangan Ilyas al-Zadqari, sebagaimana dikuti di Hadaya (halaman 378).

[4]  lihat Hadaya, al-Bakini (halaman 396). Beliau menerima Thariqat Qadiri dari Syekh Ibrahim al-Qadiri dan memperkenalkan dzikir jahr dalam cabang Daghistani dari Naqshbandiyya melalui ijazah tersebut, lihat al-Bakini, Hadaya (halaman 396); ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 229).

[5] dan bukannya 1254 H, sebagaimana secara salah disebutkan di beberapa sumber. Koreksi ini dari ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 214). Muhammad al-Yaraghi juga mengambil secara langsung  dari Syekh Isma’il asy-Syirwani, lihat al-Bakini, Hadaya (hal. 350-351).

[6] dari Syirwan di masa sekarang di Azerbaijan.  Beliau wafat di Damaskus dan dimakamkan di Jabal Qasyoun, di samping Mawlana Khalid (q) dan Mawlana Isma’il al-Anarani (q) yang merupakan penerus pertama Mawlana Khalid (q), yang wafat tujuh belas hari setelah wafatnya Mawlana Khalid (q), keduanya karena wabah – semoga Allah (swt) merahmati mereka semua dan seluruh Syuhada’-Nya.

 

Mengapa Kita Memperingati Urs Seorang Wali

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
5 Mei 2015   Lefke, Siprus
Shuhbah di Dergah Mawlana Syekh Nazim

 

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. Alhamdulillahi Rabbi ‘l-`Alamiin, wa ’sh-shalaatu wa ’s-salaamu `alaa asyrafi ‘l-mursaliina Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin. Alhamdulillahi yaa Rabb al-ladzii ja`altanaa min atbaa`i Sayyidinaa Syaykh Muhammad Nazim al-Haqqani wa ayyadtanaa bi ta`yiidin minhu wa `allamtanaa maa lam nakun na`lam wa haadza bi-fadl al-masyaaykh al-`izhaam.

Ya Allah!  Segala puji bagi-Mu bahwa Engkau telah membawa kami menjadi pengikut Mawlana Syekh Nazim–semoga Allah memberkati ruhnya.  Satu tahun telah berlalu dan saya tidak bisa menerima, bukan ‘menerima’ dalam arti sebenarnya, tetapi saya tidak dapat menggambarkan bahwa Mawlana meninggalkan dunia karena saya masih mengingatnya setiap saat dan bagaimana beliau berada di dalam kubur, bahwa beliau–sebagaimana Allah (swt) berfirman,

بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Tidak, mereka itu hidup di Sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Surat Aali-`Imraan, 3:169)

“Mereka hidup di kubur mereka, yurzaquun,” mereka mendapat rezeki, berupa apa?  Apakah buah-buahan, daging, atau manisan?  Allah (swt) berfirman, “Mereka mendapat rezeki,” dan ketika Dia memberi rezeki kepada seseorang, itu artinya Dia menghiasinya dengan Khazanah Ilmu-Nya yang tak terhingga!  Allah (swt) menciptakan makhluk untuk mengenali-Nya.  Jadi ketika Allah membusanai awliya-Nya, itu adalah untuk lebih mengenali-Nya lebih banyak lagi, yang artinya untuk belajar.  Ketika kalian belajar di universitas, mereka membawa kalian dari gelar Sarjana menuju gelar Doktor, kalian meningkat pada setiap langkah, bukannya menurun.

أولياء الله تحت قبابي لا يعلمهم غيري

Awliya-Ku berada di bawah Kubah-Ku, tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Aku. (Hadits Qudsi)

Ketika Allah (swt) berkata, “Tidak ada yang mengetahui wali-Ku kecuali Aku,” dan “Mereka mendapat rezeki di Sisi Tuhannya,” itu tidak mudah, itu artinya orang yang berada di Hadirat Ilahi dilindungi dan Allah menjaganya bersama-Nya.  Ketika Allah telah memberi awliyaullah derajat rezeki itu, itu adalah derajat perlindungan dari Api Neraka, azab dan segala perbuatan Setan di dalam diri kita untuk para pengikutnya.  Ini adalah berkat kewaliannya dan karena ia berada di Hadirat Ilahi, bukannya di luar. Itu adalah salah satu makna dari yurzaquun; itu tidak berarti memperoleh sesuatu yang bersifat duniawi di dalam kubur, itu artinya kubur itu akan menjadi sebuah Surga.  Dan apa manfaatnya jika sebuah surga itu kosong, kalian duduk sendiri dan berkata, “Aku ada di Surga.”  Wali itu memerlukan sahabat dan kalian adalah sahabatnya dan juga anaknya, kalian adalah segalanya baginya, beliau duduk dengan para pengikutnya.

Tahun lalu di bulan Maret sebelum meninggalkan dunia, Mawlana Syekh Nazim (q) menyebutkan sesuatu, saya tidak tahu apakah ada yang memperhatikannya.  “Aku menginginkan sahabat-sahabatku, aku menginginkan sahabat lamaku, aku menginginkan murid-murid lamaku, aku merindukan mereka dan ingin bertemu dengan mereka.”  Jika Mawlana merindukan murid-murid lamanya, beliau juga merindukan murid baru karena yang baru menjadi lama, jadi itu artinya beliau merindukan semua orang!

Pertemanan dengan awliyaullah adalah penting.  Ketika Allah (swt) berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah!  Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [QS 10:62]

“Jangan takut mengenai awliyaullah, tidak perlu repot-repot untuk berusaha memahami level mereka, karena itu adalah mustahil.  Ia (wali itu) bersama kita dan bersama Nabi (saw).”  ‘Mendapat rezeki di kubur mereka’ maksudnya mereka berada dalam asosiasi bersama Nabi (saw) bersama umatnya, para awliya dan para anbiya di Hadirat Ilahi.  Itulah sebabnya apa yang kita lihat dari sisi luarnya sama sekali berbeda dengan sisi batinnya, seperti halnya ketika kalian mencari sebuah sumur dan kalian melihat air dari kejauhan, tetapi ketika kalian mendekat ternyata itu hanyalah fatamorgana, tidak ada airnya.  Air itu ada, tetapi mata kalian tidak dapat melihatnya.  Awliyaullah tidak akan mengatakan kepada kalian untuk mencari bila memang tidak ada apa-apa!  Itu bukan fatamorgana, tetapi orang awam tidak dapat melihat airnya.  Orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah, dan menjadikan kubur itu sebagai mi’raj, itu adalah Surga.  Mereka berada di `Aalam al-Barzakh, yang disebutkan dalam Ahadiits mengenai Tanda-Tanda Akhir Zaman, di mana ruh orang Mukmin bergerak bebas ke seluruh dunia tanpa batasan dalam gerakan mereka, karena kubur mereka adalah Surga.

Jadi mereka mempunyai dua macam ilmu: pertama, yang mereka sampaikan kepada kalian dan satunya lagi yang mereka sampaikan pada seseorang lainnya, yang berbeda dengan kalian, atau mereka dapat mengatakan kepada seseorang tentang sesuatu yang sama dengan yang dikatakan kepada kalian tetapi dengan cara yang berbeda.  Sebagaimana dalam Ahadiits: Nabi (saw) menyampaikan sebuah hadits dan tergantung pada waktu dan kejadinnya, bagaimana wahyu itu turun dan siapa yang duduk, beliau akan menyampaikan hadits yang sama, namun lebih panjang atau lebih singkat.  Jika seorang wali duduk bersama Mawlana Syekh Nazim (q), ilmunya akan berbeda dengan ilmu yang beliau berikan kepada murid-murid seperti kita.  Ketika dua orang awliya duduk bersama, mereka berbicara wali-ke-wali, tetapi ketika mereka bersama murid mereka, itu bagaikan ayah kepada putranya atau ayah kepada putrinya, karena mereka menyayangi anak-anaknya dan ia menutupi mereka di bawah sayapnya. Kalian adalah anak-anaknya, putra putrinya.  Jadi ilmunya berbeda, ia mempunyai dua wajah: satu pada pemahaman ilahiah, yang lainnya pada pemahaman normal.  Saya tidak ingin berbicara tentang hal ini hari ini, kita hanya ingin berziarah dan mengikuti acara Urs.

Mengapa mereka mengatakan “Urs”, apakah ada yang bertanya tentang hal ini?  Dalam bahasa Arab Urs artinya “pernikahan.” Ya, ia berada dalam pernikahan, karena kalian memberikan yang terbaik dalam sebuah pernikahan.  Allah memberi para Awliya-Nya tahun-tahun lebih banyak dari tahun sebelumnya dan itu adalah Urs bagi mereka.  Misalnya, lihatlah bagaimana ilmu itu berubah, Allah (swt) menyebutkan beberapa huruf, huruf al-muqaththa`ah, di dalam Al-Qur’an Suci dan huruf pertama dalam Surat al-Fatihah dan Surat al-Baqarah adalah Alif.  Bagi para awliyaullah dan bagi Mawlana Syekh, Alif melambangkan al-Wujuud al-Kamil yang mutlak, “Wujud yang Sempurna.” Dari Alif, awliyaullah dapat menganalisis dan mengeluarkan wujud yang terbaik, karena ‘Wujud’ itu adalah bagi Allah (swt) bukan bagi yang lainnya karena semua orang akan pergi sedangkan Allah tetap ada. Dia adalah Sang Pencipta dan kita adalah hamba-Nya.  Jadi Alif itu melambangkan Wujud dan kalian dapat mengambil ilmu dari segala sesuatu yang berada di bawah Wujud itu, bahkan jika itu adalah sehelai daun dari sebuah pohon atau loquat.  Jadi awliyaullah dapat mengambil semua rahasia ini dan itulah sebabnya Al-Qur’an Suci dimulai dengan huruf Alif.

Allah mengirim ilmu ini bahwa Dia ingin dikenal kepada Jibril (as), yang merepresentasikan al-Mulk wal Malakut.  Ada dua Laam dalam “Allah,” satu berada dalam “Mulk” dan satu lagi dalam “Malakut,” kita tidak akan membicarakannya sekarang.  Tetapi kedua Laam merujuk pada Wujud al-Mulk wal Malakut, yaitu “Ilmu Duniawi” dan “Ilmu Surgawi,” atau “Khazanah Duniawi” dan “Khazanah Surgawi.” Laam merepresentasikan (makhluk) yang Allah berikan untuk memberi, yakni Jibriil (as).  Itulah sebabnya dikatakan di antara para awliyaullah bahwa Laam melambangkan Sayyidina Jibriil (as), kita tidak akan lebih jauh membicarakannya.

Jadi apa yang tersisa?  Miim. Alif untuk Allah, Laam untuk Jibriil (as), al-Mulk wal Malakut, dan seluruh alam semesta yang Allah ciptakan berada pada Miim.  Dan Miim itu adalah Muhammad (saw).  Sementara Miim mewakili Nabi (saw) saja, ada rahasia di dalamnya; bukan seperti ketika orang membaca “Alif, Laam, Miim,” dan berpikir bahwa itu tidak ada artinya. Miim dibentuk dari dua Miim.  Ketika kalian melihat alfabet, kalian mengucapkan Miim dua kali, dan di antara kedua Miim adalah Yaa.  Yaa adalah huruf terakhir dari alfabet. Alif adalah huruf pertama dan Yaa terakhir; Alif mewakili keseluruhan Wujud dan Yaa mewakili Yang Tersembunyi, dan ini berada di antara kedua Miim.  Dalam tata bahasa Arab, Yaa adalah Alif, bukannya Yaa; kalian tidak mengucapkannya kecuali sebagai Alif. Jadi ketika Yaa berada di antara dua Miim, itu artinya satu Miim berada dekat Yaa, yaitu Alif, dan Miim kedua berada di sisi lainnya yang terbuka bagi semua orang.  Itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda,

ولكل شيء وجهان وجه الى الخلق ووجه الى ربه

Segala sesuatu mempunyai dua wajah: satu wajah menghadap ciptaan dan satu wajah menghadap Tuhannya. (Ghazali dalam Misykat al-Anwar)

Jadi satu Miim bersama Hadirat Ilahi dan yang lainnya bersama umat.  Apa yang Jibril (as) berikan kepada Miim pertama, Nabi (saw), diberikan dengan kekuatan terbaik, ‘Alif, Laam, Miim.’  Ketika ia sampai pada Miim kedua pada sisi lainnya, ilmu itu diberikan secara perlahan karena Nabi (saw) mengalami mi’raj, seperti ketika listrik masuk ke dalam transformator, ia akan  dikurangi sehingga dapat dialirkan; ilmu yang sampai pada Miim kedua sebenarnya tidak dikurangi, tetapi diberikan secara perlahan dalam mi’rajnya Nabi (saw).  Itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda,

أوتيت جوامع الكلم

Aku telah diberikan induknya kalam. (Muslim)

Awliyaullah menerima ilmu semacam itu dan mereka tidak membukanya untuk orang-orang tertentu, melainkan hanya kepada orang yang dapat memahaminya, jadi ketika mereka membukanya, itu dalam jumlah tertentu.  Namun demikian kita harus tahu bahwa ketika mereka membaca  “Alif, Laam, Miim,” itu bukan seperti kita membacanya.  Dan itu bukan berarti mereka tidak akan memberikannya kepada murid-murid apa yang mereka sembunyikan dari mereka, tetapi murid itu tidak dapat membawanya sehingga mereka menghiasi mereka dengannya dan itu akan diberikan secara perlahan-lahan ke dalam qalbu mereka, baik pria maupun wanita.  Itulah sebabnya Allah (swt) berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah! Sesungguhnya Wali-Wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Surat Yunus, 10:62)

“Mereka tidak mempunyai sesuatu untuk dikhawatirkan atau disedihkan, Aku memberi rezeki pada mereka.”  Mereka hidup: Mawlana hidup, tetapi beliau tidak berada di sini.  Segera setelah beliau ditempatkan di makamnya, para malaikat membawanya ke Syaam.  Pada suatu waktu, Grandsyekh–semoga Allah memberkahi ruhnya, mengatakan dari rahasia ini, “Ketika seorang Wali, Mukmin, atau siapa pun dari pengikutku meninggal dunia, mereka akan dipindahkan ke Syaam, karena itu adalah tempat di mana Allah akan menurunkan Singgasana-Nya pada Hari Kiamat.”

Jadi mereka akan diberkahi dengan keberkahan yang turun pada makam-makam Muslim dan Mukmin yang dikuburkan di Syaam.  Beliau berkata, “Setiap Muslim atau Mukmin dengan Iman yang baik yang memasuki Syaam, ketika ia keluar, dosa-dosanya akan dihapuskan.”  Jasad Mawlana tidak berada di sini.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Grandsyekh (q), dan saya kutip, “Seluruh 124,000 awliya bertemu pada setiap hari Senin, Kamis, dan Jumat dalam sebuah asosiasi bersama Nabi (saw) di Jabal al-Qasiyoun dalam kehidupan rohaniah mereka, (di alam) Barzakh.”  Itulah sebabnya seluruh awliya dipindahkan ke sana.

Menjelang akhir hayatnya, sebelum Mawlana meninggalkan dunia ini, beliau sering mengatakan bahwa Syaam adalah Siprus sekarang.  Apa yang beliau maksudkan dengan hal itu, tidak ada yang mengerti.  Itu artinya ketika beliau berada di sini, tajali Syaam turun ke Siprus dan kini karena keberadaan beliau di sini, itu akan menjadi seperti tajali yang turun di Syaam.  Jadi awliyaullah memindahkan Mawlana ke Syaam asy-Syariif. Grandsyekh (q) menambahkan, “Seluruh Nabi selain Sayyidina Muhammad (saw) pindah dari tempat asalnya,” hal ini tidak diketahui orang karena ada banyak sekali makam dan ada banyak sekali Nabi, “dan ketika Sayyidina Mahdi (as) muncul, tajali mereka juga akan muncul dan kekuatan mereka akan muncul.”

Semoga Allah (swt) rida dengan kita!  Kalian beruntung karena kalian dapat melakukan ziarah setiap hari.  Kami melakukan ziarah dan mengingat Mawlana Syekh dari jarak jauh, tetapi kami percaya bahwa jarak bukanlah masalah karena mereka dapat menjumpai kita dalam sekejap.  Di mana pun murid berada di seluruh dunia ini, ketika ia memanggil Syekhnya, beliau hadir, bahkan jika ia tidak melihatnya secara bertatap muka, syekhnya hadir ketika ia memanggilnya!  Sekarang kita memanggil Syekh kita dan membaca ayat:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Surat an-Nisa, 4:64)

Kami membaca ayat ini, yaa Sayyidi dan kami datang padamu!  Kami memohon syafaatmu di hadirat Nabi (saw), untuk menghiasi kami dengna rahasia dari ayat tersebut!  Semoga Allah memberkahimu dan semoga Allah rida dengan kami semua.

Kita menghadapi masalah besar, jika orang tidak mengetahui, biarkan mereka tahu.  Kita perlu bersatu, karena sebatang lidi mudah dipatahkan, tetapi seratus lidi tidak dapat dipatahkan.  Saya berada di Inggris, memberikan ceramah dan ada seorang ulama terkenal dari Pakistan di sana.  Beliau senang dengan ceramah saya dan mengundang saya untuk datang ke Pakistan bulan Juni, tetapi saya pikir saya tidak dapat pergi ke sana.  Pada akhir acara, beliau mendatangi saya dan berkata, “Saya seorang Naqsybandi.  Saya mempunyai lima juta murid dan saya ingin semua orang mendengar apa yang engkau katakan.  Ini adalah berkah dari syekh Anda, Mawlana Syekh Nazim (q).”  Jadi ini adalah sebuah kabar gembira, tetapi ada serangan besar pada Tarekat Naqsybandi dari sebuah negeri di Timur Jauh, dari menteri agamanya.  Kami berusaha untuk tenang.  Kami telah mencoba segala cara yang mungkin, tetapi mereka telah ditekan untuk melakukannya.  Mereka mulai mengambil beberapa daerah dan mengatakan bahwa kami adalah kelompok yang sesat.  Kita harus menunjukkan yang sebaliknya pada mereka, dengan mengikuti Syari`ah dalam setiap perbuatan sebagaimana seharusnya.  Ada kesalahpahaman dan saya harus menjaga pada level itu. yang artinya mereka harus menghentikan apa yang mereka tuduhkan pada kita.  Jika kita bersatu, seperti keluarga di sini, tidak akan ada kesalahpahaman dalam segala hal karena  insyaa-Allah seluruh murid akan bersatu dan menunjukkan cinta kepada Mawlana Syekh, dan Mawlana Syekh akan menunjukkan cintanya kepada kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

 

http://sufilive.com/Why-We-Celebrate-the-Urs-of-the-Wali-5839.html

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.