Nabi Muhammad (saw) adalah Pilar Pendukung Kita

photo_2020-03-28_10-26-14
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani berbicara mengenai prediksi Mawlana Syekh Nazim (q) mengenai pandemi virus Corona, kedatangan Sayyidina al-Mahdi (as) dan pentingnya Nabi Muhammad (saw) sebagai pilar pendukung kita.
______
A`udzu billah mina ‘sy-Syaythani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
 
Hanya kepada-Nya (Allah) kita memohon pertolongan dalam memenuhi kebutuhan kita.
 
Yaa Rabbi, angkatlah semua kezaliman dari kami, kezaliman dari manusia dan dari semua musuh. Yang menjadi musuh kini telah diketahui, yakni karena virus Corona ini. Itu adalah musuhnya orang-orang Islam.
 
Mawlana Syekh Nazim (q) pernah menggambarkannya. Beliau berbicara secara umum, tidak secara spesifik; dan beliau menggambarkan virus itu satu demi satu. Beliau banyak menyebutkan tentang virus dan banyak ceramah tentangnya di Sufilive.

Mereka ingin agar saya mengatakan sesuatu. Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, a`udzu billaah mina ‘sy-syaythani ‘r-rajiim… Nabi (saw) memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan syayaathiin, itu artinya Setan akan tetap ada hingga masanya Iblis berakhir.
 
Dan insyaAllah ajalnya akan jatuh di tanah ini dan mahabbatu ‘r-Rasuul, kecintaan terhadap Rasulullah (saw) akan dituliskan untuk setiap orang.
 
Dan ini merupakan isyarat bahwa kedatangan Sayyidina Mahdi (as) tidak begitu dekat namun juga tidak begitu jauh, beliau sudah ada, beliau mendengar dan juga menyaksikan.
 
Kita harus membaca Surat al-Jinn, karena di dalamnya terkandung banyak makna. Jangan mengatakan masih ada waktu, karena ini seperti orang yang mengatakan, “Waktu sudah berlalu.” Waktu itu bagaikan emas, dan kemunculan Mahdi (as) adalah emas; kemunculan Awliyaullah bersama Mahdi (as) bagaikan permata.
 
Jadi kabar gembira bagi kalian, wahai orang-orang Islam. Alhamdulillah, segala puji bagi-Nya yang telah mengumpulkan kita, kaum Muslimin, Muwahidin (monotheis), Muhibbiin (para pecinta), dan kita bukanlah Zhalimiin, orang-orang yang zalim. Dan buktinya adalah bahwa seluruh dunia bersatu melawan kuman yang kecil ini, seperti yang masuk ke dalam kepalanya Namrud.
 
Ia masuk dalam keadaan kecil, namun keluar dalam keadaan besar. Kita memohon kepada Allah `azza wa Jalla agar Dia tidak membawanya kepada kita, tetapi menghancurkannya melalui kecintaan kita kepada Nabi (saw) dan dengan kekuatan Nabi (saw); karena Allah `azza wa Jalla memberi kekuatan kepada Nabi (saw) di dunia dan di Akhirat. Para Awliya dan orang-orang yang alim mengetahuinya dan kita memohon agar kita dapat mengikuti jejak mereka.
 
بشرى لنا معشر الإسلام إن لنا من العناية ركنًا غير مُنهدم
 
Busyra lanaa ma’syaral Islami inna lanaa
minal `inayati ruknan ghayra munhadimi

Kabar gembira wahai golongan umat islam!
Karena kita punya tiang besar yang tidak akan rubuh atas pertolongan Allah (swt)
(Qasidah Burdah)
 
Persoalan ini sudah selesai. Nabi (saw) mengatakan dalam lisan Imam Busayri bahwa persoalan ini sudah selesai, karena kalian mempunyai pilar inayatullah (Perawatan Allah) yang besar, kokoh dan tidak akan hancur. Perawatan Allah akan datang pada kalian melalui sebuah pilar yang besar dan pilar itu tidak lain adalah Nabi (saw).
 
Di masanya, kehadiran Nabi (saw) merupakan suatu kejutan yang besar bagi para Sahabat. Dan sekarang, Nabi (saw) bersabda dalam sebuah hadits,
 
اَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُمْلَأَ الْأَرْضُ ظُلْمًا وَجَوْرًا وَعُدْوَانًا، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي مَنْ يَمْلَؤهَا قِسْطًا وَعَدْلًا ، كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا

Dari Abu Said al-Khudri (ra), sesungguhnya Rasulullah (saw) bersabda, “Akan muncul di antara keturunanku, ia akan mengisi dunia dengan keseimbangan dan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan penindasan dan ketidakadilan. (Ahmad, Al-Hakim)
 
Dan beliau adalah al-Mahdi (as). Kemunculannya merupakan suatu yang pasti (dalam Islam). Saya telah membaca lebih dari 100 Ahadits mengenai Mahdi (as). Dan kemunculannya ini akan menghapus yang salah sebagaimana ia telah menghapus yang salah di masa lalu. Jika ia (Dajjal) muncul, itu adalah agar ia terbunuh, karena jika ia bersembunyi, ia tidak bisa dibunuh; tetapi bila ia muncul, itu merupakan sebuah pertanda besar bahwa ia akan dibunuh dan tidak ada seorang pun yang dapat membunuhnya kecuali Mahdi (as).
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ ، يَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ ،

Sebagaimana Nabi (saw) bersabda, “Hari Kiamat tidak akan muncul sebelum ada dua kelompok besar saling berperang satu sama lain, dan di antara mereka akan terjadi suatu pertempuran yang besar, padahal seruan dakwah mereka adalah sama. (Bukhari)
 
Ini adalah bentuk penantian (intizhar) yang makbul, dapat diterima, sehingga tidak ada pertumpahan darah atas nama Islam dan kaum Muslim dan mereka yang mengikuti jejaknya–dan insyaAllah kita berada di jejak mereka–dan selamat.
 
Hadirkan hati kalian, wahai Muslim! Waktunya telah sempurna; meskipun membela umat Muslim dan rumah-rumah mereka adalah tugas bagi setiap Muslimin dan Muslimah, tetapi hal itu hanya ketika Allah memerintahkannya, yaitu ketika Mahdi (as) telah muncul. Jadi, kita berdoa kepada Allah agar beliau muncul dan kedatangannya akan memunculkan `aynul Haqiqat. `Aynul Haqiqat ini adalah bersama Awliya dalam mencakup samudra biru.
 
Beliau akan muncul dari tempatnya dan beliau akan membusanai umat Muslim dari berbagai maqamnya. Kemudian maqam al-Haqq akan tersebar dan bersamanya seruan kepada Allah (swt) juga akan tersebar. Setelah itu tidak ada lagi orang-orang di dunia yang tidak mengucapkan, “Laa ilaaha illaAllah“, atau “Allah, Allah,” dan pada saat itu al-Massih ad-Dajjal akan terbunuh.
 
Kita memohon kepada Allah (swt) untuk tidak menunjukkan kepada kita apa yang dikandung dalam hari-hari sekarang ini, kita memohon agar kita hanya ditunjukkan hari-hari yang terbaik, karena mereka mengandung mata air hikmah. Dari sana hikmah itu akan muncul. Kita sebagai umat Muslim menginginkan hikmah tersebut. Ini adalah sikap kita dan cinta kita untuk al-Habiibi ‘l-Mushthafa (saw). Beliau telah menunjukkan agama yang haqq.
 
Kita memohon kepada Allah untuk membusanai kita dengan apa yang belum pernah dilihat oleh mata, apa yang belum pernah didengar oleh telinga dan apa yang belum pernah terjadi pada hati manusia dari apa yang telah Allah berikan dari Surga-Nya yang hijau dan indah. Ini berasal dari `Aynul Haqiqat, sebagaimana yang ditunjukkan dalam peristiwa Israa’ Mi’raaj. Sekarang kita berada di awal bulan Sya`ban. Insya Allah kita akan bersama dengan orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang muhsin, dan mereka inilah teman sebaik-baiknya.
 
As-salamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakatuhu.

Jangan takut… Ada malaikat-malaikat yang meliputi dua Timur (al-masyriqayni) dan dua Barat (al-maghribayni). Mereka hadir membela umat Muslim dan juga umat-umat lainnya, karena mereka pun tidak bersalah dalam persoalan ini. Ini adalah kesalahan dari jin-jin pembangkang. Jin mempunyai banyak pertanyaan, mereka selalu bertanya. Mereka selalu mempunyai pertanyaan sampai mereka tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Itulah sebabnya banyak jin yang menjadi Muslim di tangan Rasuuli ‘l-Mushthafa, Sayyidina Muhammad (saw). Dan di antara jin-jin itu, sebagian di antaranya adalah Mukmin dan yang lainnya tidak beriman. Dan jin yang beriman dilindungi, sementara yang tidak beriman, mereka tidak peduli dengan agama dan pada akhirnya mereka akan dikalahkan.
walhamdulillaahi ‘r-Rabbi ‘l-`aalamiin, al-Fatihah

Sekilas tentang Kehidupan dan Ajaran Mawlana Syekh Nazim (q) yang Kita Cintai

Salinan dari urs

Oleh Dr. Gibril Fouad Haddad

Damaskus, 12 Rabiul Awal 1425 H/1 Mei 2004

 

Segala puji dan syukur bagi-Mu, wahai Tuhan kami, yang telah membimbing kami pada Samudra Rahmat dari Kebenaran dan Cahaya-Mu.   Allaahumma! Shalawat dan salam semoga Engkau curahkan kepada junjungan kami Sayyidina Muhammad (saw), Penutup para Nabi dan Rasul-Mu, yang membawa Quranul Karim, juga bagi keluarga dan seluruh Sahabatnya, serta para pewaris beliau, baik yang hidup di masa lalu, maupun di masa sekarang, terutama pewaris dan wakil utama beliau di zaman ini.

Hamba yang dhaif ini, Gibril ibn Fouad diminta untuk “Menulis biografi dan artikel tentang kekasih kita Mawlana Syekh Nazim (q) dengan kata-kata saya sendiri, khususnya tentang kehidupan dan ajaran-ajaran beliau dan pengalaman bersama beliau.”  Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal 1425H (Mei 2004) dan ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya. Semoga Allah (swt) mengilhami penulis dan pembaca tentang Mawlana Syekh Nazim (q) agar memiliki gambaran yang adil dan tepat terhadap figur yang mulia ini. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan-Nya.  Sebagaimana Dia melingkupi kebodohan kita dengan Ilmu-Nya, semoga pula Dia melingkupinya dengan Rahmat-Nya, Amin! (Al-Hamdulillah, izin telah diperoleh dari Mawlana untuk merilis tulisan ini pada hari ini.)

Nama lengkap Mawlana adalah Muhammad Nazim `Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yashil Bash al-Haqqani al-Qubrusi ash-Shalihi al-Hanafi (q), semoga Allah mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya.  Kunyah (nama panggilan) beliau adalah Abu Muhammad – diambil dari nama anak laki-laki tertua beliau – selain itu beliau juga adalah ayah dari Baha’uddin, Naziha, dan Ruqayya.

Beliau dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Siprus (Qubrus) dari keluarga Arab dengan akar budaya Tatar.  Beliau mengatakan kepada saya bahwa ayah beliau adalah keturunan dari Syekh `Abdul Qadir Al-Jailani (q).  Diceritakan pula kepada saya bahwa ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin ar-Rumi (q).  Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad (saw) dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dari sisi ibunya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Siprus, Mawlana melanjutkan ke perguruan tinggi di Istanbul dan lulus sebagai sarjana Teknik Kimia.  Di sana, beliau juga belajar bahasa Arab dan Fiqh di bawah bimbingan Syekh Jamal al-Din al-Alsuni (wafat 1375H/1955M) dan menerima ijazah dari beliau.  Mawlana juga belajar tasawuf dan Tarekat  Naqsybandi dari Syekh Sulayman Arzarumi (q) (wafat 1368H/1948M) yang akhirnya mengirim beliau ke Syam (Suriah).

Mawlana melanjutkan studi Syariahnya ke Halab (Aleppo), Hama, dan terutama di Homs.  Beliau belajar di zawiyah dan madrasah Masjid Sahabat Agung Khalid ibn Al-Walid (ra) di Hims/Homs di bawah bimbingan Ulama besarnya dan memperoleh ijazah dalam Fiqh Hanafi dari Syekh Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud dan Syekh ‘Abd al-Jalil Murad, dan ijazah dalam ilmu Hadits dari Muhaddits Syekh ‘Abd al-‘Aziz ibn Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud al-Hanafi.

Perlu dicatat bahwa nama terakhir tadi adalah salah satu dari sepuluh guru hadits dari Rifa’i Hafizh di Aleppo, Syekhul Islam ‘Abd Allah Siraj al-Din (1924-2002 M), yang duduk berlutut selama dua jam di bawah kaki Mawlana Syekh ‘Abdullah Faiz Daghestani (q) ketika beliau mengunjungi Aleppo pada tahun 1959 dan yang memberikan bay’at dalam Tarekat Naqsybandi pada Mawlana Syekh Nazim (q) ketika beliau mengunjunginya terakhir kali di Aleppo pada tahun 2001, sebagaimana diriwayatkan kepada saya oleh Ustadz Muhammad `Ali ibn Mawlana al-Syekh Husayn ‘Ali dari Syekh Muhammad Faruq ‘Itqi al-Halabi yang juga hadir pada peristiwa tersebut.

Mawlana Syekh Nazim (q) juga belajar di bawah bimbingan Syekh Sa’id al-Siba’i yang kemudian mengirim beliau ke Damaskus setelah menerima suatu pertanda berkaitan dengan kedatangan Mawlana Syekh `Abdullah Faiz Ad-Daghestani (q) ke Suriah.  Setelah kedatangan awal beliau ke Suriah dari Daghestan di akhir tahun 30-an, Mawlana Syekh `Abdullah (q) tinggal di Damaskus, tetapi sering pula mengunjungi Aleppo dan Homs.  Di kota yang terakhir inilah, beliau mengenal Syekh Sa’id al-Siba’i yang adalah pimpinan dari Madrasah Khalid bin Walid (ra).  Syekh Sa’id menulis pada beliau (Mawlana Syekh ‘Abdullah (q), “Kami mempunyai seorang murid dari Turki yang luar biasa, yang sedang belajar pada kami.” Mawlana Syekh `Abdullah (q) menjawab, “Murid itu adalah milik kami; kirimkan dia kepada kami!”  Murid tersebut adalah guru kita, Mawlana Syekh Nazim (q), yang kemudian datang ke Damaskus dan memberikan bay’at beliau pada Grandsyekh kita pada kurun waktu antara tahun 1941 dan 1943.

Pada tahun berikutnya, Mawlana Syekh `Abdullah (q) pindah ke rumah baru beliau yang dibeli oleh murid Suriah pertamanya, dan khalifahnya yang masih hidup saat ini, Mawlana Syekh Husayn ibn ‘Ali  ibn Muhammad ‘Ifrini al-Kurkani ar-Rabbani al-Kurdi as-Syekhani al-Husayni (q) (lahir 1336H/1917M) – semoga Allah (swt) mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya – di Qasyoun, sebuah gunung yang menghadap Damaskus, di mana Allah (swt) berfirman tentangnya; “Demi Tiin dan buah Zaitun! Demi Bukit Thursina!” (QS. 95:1-2).  Qatadah dan al-Hasan Al-Basri berkata, “At-Tiin adalah Gunung di mana Damaskus terletak [Jabal Qasyoun] dan Zaitun adalah Gunung di mana Jerusalem terletak.”  Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq, al-Tabari, al-Wahidi, al-Bayzawi, Ibn al-Jawzi, Ibn Katsiir, al-Suyuti, as-Syaukani, dll., semua dalam tafsir-tafsir mereka.

Mawlana Syekh Nazim (q) juga membeli sebuah rumah dekat rumah Grandsyekh dan bersama Mawlana Syekh Husayn, membantu membangun Masjid al-Mahdi, Masjid Grandsyekh, yang akhir-akhir ini diperbesar menjadi sebuah Masjid Jami’, di mana di belakangnya terletak maqam dan zawiyah Grandsyekh, di mana hingga saat ini, makanan dan sup ayam yang lezat selalu disiapkan dalam kendi-kendi besar dan dibagi-bagikan kepada fakir miskin dua kali seminggu.

Mawlana Syekh Nazim (q) tinggal di Damaskus sejak pertengahan tahun 40-an hingga awal 80-an, sambil sesekali melakukan perjalanan untuk belajar atau sebagai wakil dari Grandsyekh, hingga Grandsyekh wafat pada tahun 1973. Setelah tahun itu, Mawlana tinggal di Damaskus selama beberapa tahun sebelum pindah ke Siprus.

Jadi, Mawlana, yang aslinya Cypriot, dan Grandsyekh, yang asalnya Daghistani, keduanya telah menjadi penduduk Damaskus “Syamiyyun” dan tinggal di distrik orang-orang salih (ash-shaalihiin) yang disebut Shalihiyya!  Tak ada keraguan lagi, bahwa pentingnya Damaskus bagi Mawlana dan Grandsyekh adalah karena Syam adalah negeri yang penuh berkah dan dilindungi melalui para Nabi dan Awliya’.

Imam Ahmad dan murid beliau, Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Nabi suci (saw) bersabda, “Kalian harus pergi ke Syam.  Tempat itu telah terpilih secara Ilahiah oleh Allah (swt) di antara seluruh tempat di bumi-Nya ini.  Di dalamnya Dia melindungi hamba-hamba pilihan-Nya; dan Allah (swt) telah memberikan jaminan padaku berkenaan dengan Syam dan penduduknya!” Imam al-Nawawi (ra) berkata dalam kitabnya Irsyad Tullab al-Haqa’iq ila Ma’rifati Sunan Khayr al-Khala’iq, “Hadits ini berkenaan dengan fadilah (keistimewaan) yang besar dari Syam dan merupakan suatu fakta yang dapat teramati!”

Direktur pimpinan Dar al-Ifta’ (secara harfiah artinya “Rumah Fatwa”, maksudnya Majelis Fatwa seperti MUI di Indonesia, penerj.) di Beirut, Lebanon, Syekh Salahud Diin Fakhri mengatakan pada saya di rumah beliau di Beirut dan menulis dengan tangan beliau kepada diri saya,

“Pada suatu pagi di hari Ahad, 20 Rabiul Akhir 1386 H, bertepatan dengan hari Minggu 7 Agustus 1966 M, kami mendapat kehormatan untuk mengunjungi Syekh ‘Abd Allah al-Daghistani (q)–rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) – di Jabal Qasyoun di Damaskus atas inisiatif serta disertai pula oleh Mawlana al-Syekh Mukhtar al-‘Alayli– rahimahullah – Mufti Republik Lebanon saat itu; [yang adalah paman dari Syekh Hisyam Kabbani], Syekh Husayn Khalid, imam dari Masjid Nawqara; Hajj Khalid Basyir – rahimahumallah (semoga Allah merahmati keduanya); Syekh Husayn Sa’biyya [saat ini adalah direktur dari Dar al-Hadits al-Asyrafiyya di Damaskus]; Syekh Mahmud Sa’d; Syekh Zakariyya Sya’r; dan Hajj Mahmud Sya’r.  Syekh ‘Abdullah (q) menerima kami dengan amat baik dengan penyambutan yang ramah serta penuh kebahagiaan dan kegembiraan.  Syekh Nazim al-Qubrusi (q) – semoga Allah (swt) merahmati dan menjaga beliau – juga berada di situ saat itu!

Kami duduk dari pukul sembilan di pagi hari hingga tiba panggilan adzan Zhuhur, sementara Syekh (Grandsyekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani, penerj.) – rahimahullah – menjelaskan tentang Syam (Suriah), keutamaannya, kelebihan-kelebihannya yang luar biasa, dan bahwa tempat itu merupakan tempat Kebangkitan dan bahwa Allah akan mengumpulkan seluruh manusia di sana untuk diadili dan dihisab.  Beliau menyebutkan pula hal-hal yang membuat hati dan pikiran kami tersentuh, dikuatkan pula oleh pengaruh suasana distrik Salihiyya yang suci, dan beliau berbicara pula tentang hubungan yang tak terpisahkan – dalam praktik maupun dalam teori – antara tasawwuf dengan Syariah… Semoga Allah membimbing dan menunjukkan pada kita petunjuk-Nya dalam perkumpulan dan shuhbah dengan Awliya’-Nya yang shiddiq.  Aamiin, yaa Rabbal ‘Aalamiin!”

Masih banyak lagi nama-nama Ulama dan Awliya’ Syam yang prestisius yang mencintai dan bersahabat dengan Syuyukh kita dalam periode keemasan tersebut, seperti Syekh Muhammad Bahjat al-Baytar (1311-1396), Syekh Sulayman Ghawji al-Albani (wafat 1378H), ayah dari guru kami, Syekh Wahbi, Syekh Tawfiq al-Hibri, Syekh Muhammad al-‘Arabi al-‘Azzuzi (1308-1382H) Mufti dari Lebanon, dan Syekh utama dari guru kami Syekh Husayn ‘Usayran, al-‘Arif Syekh Syahid al-Halabi, al-‘Arif Syekh Rajab at-Ta’i, Syekh al-Qurra’(ahli qira’at Quran, penerj.) Syekh Najib Khayyata al-Farazi al-Halabi, al-‘Arif Syekh Muhammad an-Nabhan, Syekh Ahmad ‘Izz ad-Din al-Bayanuni, al-‘Arif Syekh Ahmad al-Harun (1315-1382H), Syekh Muhammad Zayn al-‘Abidin al-Jadzba, dan lain-lain – semoga Allah (swt) merahmati mereka semuanya!

Dari tiga puluh tahun shuhbah (asosiasi) yang penuh berkah antara Mawlana dan Grandsyekh tersebut, muncullah buku Mercy Oceans (secara harfiah berarti Samudra Kasih Sayang, merujuk pada buku-buku lama kumpulan shuhbah Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani, penerj.) yang tak tertandingi, yang hingga kini masih tersebar pada setiap salik dengan judul-judulnya: Endless Horizons (“Cakrawala tanpa Batas”, penerj.), Pink Pearls (“Mutiara-Mutiara Merah Muda”, penerj.), Rising Suns (“Matahari-Matahari yang sedang terbit”, penerj.). Tak ada keraguan lagi, kumpulan-kumpulan shuhbah awal tersebut adalah tonggak-tonggak utama dari seruan dakwah Islam seorang diri Mawlana Syekh Nazim (q) di Amerika Serikat dan Eropa, dengan karunia Allah (swt)!

Semoga Allah (swt) melimpahkan lebih banyak berkah-Nya pada Mawlana Syekh Nazim (q) dan mengaruniakan kepada beliau maqam-maqam tertinggi yang pernah Dia karuniakan kepada kekasih-kekasih-Nya, berdekatan dengan junjungan kita, Sayyidina Muhammad (saw), yang bersabda,

“Jika seseorang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, Allah (swt) akan membuatnya berjalan di salah satu di antar jalan-jalan Surga, dan para Malaikat akan merendahkan sayap mereka karena bahagia dan gembira pada orang yang mencari ilmu, dan para penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan dalam lautan akan memohonkan ampunan bagi seorang pencari ilmu!  Keutamaan dari seorang yang berilmu atas orang-orang beriman secara umum bagaikan terangnya bulan purnama di kegelapan malam atas segenap bintang-gemintang!  Ulama adalah para pewaris Nabi, dan para Anbiya itu tidaklah memiliki dinar ataupun dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan; dan orang yang mengambilnya sungguh telah mengambil bagian yang banyak!”

Tempat pertama yang saya datangi untuk mencari pengetahuan Nabawi ini adalah London di bulan Ramadan 1411 H, setelah saya bersyahadat laa ilaaha illa Allah, Muhammadun Rasulullah.  Di sanalah, saya meraih tangan suci Mawlana untuk pertama kali dan melakukan bay’at (janji setia) setelah diperkenalkan pada Tarekat ini oleh menantu beliau, dan khalifah beliau di Amerika Serikat, Syekh Hisyam Kabbani (q) – semoga Allah membimbingnya dan membimbing seluruh sahabat-sahabat Mawlana!

Saya mengunjungi Mawlana beberapa kali di rumah beliau di Siprus dan juga bertemu beliau di Damaskus.  Di antara hadiah Shuhba yang diberikan Mawlana adalah pada dua minggu terakhir di bulan Rajab di tahun 1422H – Oktober 2001 – di rumah dan zawiyah beliau di kota Lefke, Siprus. Catatan pengalaman ini telah ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta diterbitkan dengan judul Qubrus al-Tarab fii Shuhbati Rajab atau Kebahagiaan Siprus dalam Shuhbat.

Pada saat itulah, dan juga saat-saat berikutnya, selama dua kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat, Inggris, serta di Siprus dan Damaskus, saya mendapatkan petunjuk agung yang sama bagi setiap pencari kebenaran:

“Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad (saw) dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya shalawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau; yang untuk ini Allah (swt) mendukung kita!”

Dari sini, saya mengerti bahwa murid yang sesungguhnya dalam Tarekat Naqsybandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad (saw), dan adalah tugasnya untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqsybandi atau bukan.

Ketika seorang Waliullah yang telah berumur delapan puluh tahunan di Batu Pahat, Johor, Malaysia, al-Habib ‘Ali ibn Ja’far ibn ‘Abd Allah al-‘Aydarus menerima kami di rumahnya di bulan Mei 2003, beliau mengenakan pakaian yang tidak pernah berubah sejak tahun 1940-an, beliau terlihat seperti Mawlana Syekh Nazim (q) dalam segenap aspeknya, dan bahkan terlihat menyerupainya ketika beliau meminta maaf atas bahasa Arabnya yang tidak fasih.  Ketika kami memohon doa beliau untuk negeri-negeri kami yang terluka dan bagi penduduknya, beliau menjawab, “Umat ini terlindungi dan berada pada tangan-tangan yang baik, dan pada Syekh Nazim (q) telah kau dapati kebercukupan!”

Jadi dalam setiap perjumpaan murid Mawlana yang sederhana ini dengan para Awliya di antara umat ini; mereka semua menunjukkan penghormatan yang tinggi serta kerendahan hati yang amat dalam terhadap Mawlana dan silsilah beliau, sekalipun mereka secara lahiriah (penampakan luar) berada pada jalan (tarekat) yang berbeda, seperti al-Habib ‘Ali al-‘Aydarus di Malaysia, Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki di Mekah, al-Habib ‘Umar ibn Hafizh di Tarim, Sayyid Yusuf ar-Rifa’i di Kuwait, Syekh ‘Isa al-Himyari di Dubai, Sayyid ‘Afif ad-Din al-Jailani dan Syekh Bakr as-Samarra’i di Baghdad, as-Syarif Mustafa ibn as-Sayyid Ibrahim al-Basir di Maroko tengah, Grandmufti Suriah (alm.) Syekh Ahmad Kuftaro ibn Mawlana al-Syekh Amin dan sahabat-sahabatnya Syekh Bashir al-Bani, Syekh Rajab Dib, dan Syekh Ramazan Dib; Syuyukh Kattani dari Damaskus; Syekh (alm.) ‘Abd Allah Siraj ud-Din dan keponakan beliau Dr. Nur ud-Din ‘Itr; Mawlana as-Syekh ‘Abd ur-Rahman as-Shaghuri; Dr. Samer al-Nass; dan guru-guru serta saudara-saudara kita lainnya di Damaskus – semoga Allah (swt) selalu melindungi Damaskus dan melimpahkan rahmat-Nya bagi mereka dan diri kita!  Saya telah bertemu dengan semua nama yang saya sebut di atas kecuali Syekh Sirajud-Din dan mereka semua mengungkapkan tarazzi atas Mawlana as-Syekh Nazim, mengungkapkan keyakinan atas ketinggian wilayah-nya (derajat kewalian, penerj.) dan memohon doa beliau atau doa pengikut-pengikut beliau; 

“…Dan cukuplah Allah (swt) sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah…” (QS. 48:28-29)

Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara para Rijal-Allah (maksudnya para Kekasih Allah, penerj.) bahwa keragaman jalan ini adalah tema (dandana, maksudnya kira-kira “diperuntukkan bagi”, penerj.) mereka yang belum terhubungkan (mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, mereka yang belum mendapatkan ‘amanat’-nya, penerj.), sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”, penerj.) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain.  Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya pada Hari Kebangkitan.  Oleh karena itu, kita, murid-murid dari jalan-jalan (Thuruq, jamak dari Thariqat) itu mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan Allah (swt) dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh berkah tersebut dan masuk dalam lingkaran tertinggi dari shuhba (persahabatan) dan jama’ah, serta jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan.

Sebagaimana Allah (swt) berfriman: “Yaa Ayyuha l-ladziina aamanu t-taqu ul-laaha wa kuunuu ma’as shadiqiin” “Wahai orang-orang beriman takutlah kalian akan Allah dan tetaplah berada [dalam persahabatan dan kesetiaan] dengan orang-orang yang Benar (Shiddiqiin)!”; dan Nabi Suci kita (saw) bersabda, “Aku memerintahkan pada kalian untuk memgikuti sahabat-sahabatku dan mereka yang mengikutinya (tabi’in, penerj.), kemudian mereka yang mengikutinya (tabi’it tabi’in, penerj.); setelah itu, kebohongan akan merajalela… Tetapi kalian mestilah tetap berada pada Jama’ah dan berhati-hatilah terhadap perpecahan!” 

Jamaah inilah yang dilukiskan dalam suatu hadits mutawatir (diriwayatkan banyak orang, penerj.): Ia yang dikehendaki Allah (swt) untuk beroleh kebajikan besar, akan Dia karuniakan padanya pemahaman yang benar (haqq) dalam Agama. Aku (mengacu pada Nabi (saw), penerj.) hanyalah membagikan dan adalah Allah yang mengkaruniakan!  Kelompok itu akan tetap menjaga Perintah dan Aturan Allah, tak akan terlukai oleh kelompok yang menentang mereka, hingga datangnya Ketetapan Allah.”

Ya Allah, jadikanlah kami selalu bersyukur atas apa yang telah Kau karuniakan dan yang telah Rasul-Mu dan Habib-Mu bagikan!

Saya mendengar Mawlana Syekh Nazim (q) berkata beberapa kali atas nama guru beliau, Sultan al-Awliya’ Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah ibn Muhammad ‘Ali ibn Husayn al-Fa’iz ad-Daghestani tsumma asy-Syami ash-Shalihi (q) (ca. 1294-1393 H) [1]

  • dari Syekh Syaraf ud-Din Zayn al-‘Abidin ad-Daghestani ar-Rasyadi (q) (wafat 1354 H)
  • dari paman maternal (dari sisi ibu) beliau, Syekh Abu Muhammad al-Madani ad-Daghistani al-Rasyadi (q) [2],
  • dari Syekh Abu Muhammad Abu Ahmad Hajj ‘Abd ar-Rahman Effendi Ad-Daghistani ats-Tsughuri (q) (wafat 1299 H) [3],
  • dari Syekh Jamal ud-Din Effendi al-Ghazi al-Ghumuqi al-Husayni (q) (wafat 1292 H) [4],
  • juga (keduanya baik ats-Tsughuri maupun al-Ghumuqi) dari Muhammad Effendi ibn Ishaq al-Yaraghi al-Kawrali (q) (wafat 1260 H) [5],
  • dari Khass Muhammad Effendi asy-Syirwani ad-Daghestani (q) (wafat 1254 H) [6],
  • dari Syekh Diya’uddin Isma’il Effendi Dzabih Allah al-Qafqazi asy-Syirwani al-Kurdamiri ad-Daghestani (q) (wafat. ? )
  • dari Syekh Isma’il al-Anarani (q) (wafat 1242 H),
  • dari Mawlana Diya’uddin Khalid Dzul-Janahayn ibn Ahmad ibn Husayn as-Shahrazuri al-Sulaymani al-Baghdadi al-Dimashqi an-Naqsybandi al-‘Utsmani ibn ‘Utsman ibn ‘Affan Dzun-Nurayn (q) (1190-1242 H) dengan rantai sanadnya yang masyhur hingga Syah Naqsyband Muhammad ibn Muhammad al-Uwaysi al-Bukhari (q) yang berkata,

 

“Tarekat kami adalah SHUHBAT (persahabatan) dan kebaikannya adalah dalam JAMA’AH (kelompok)”

Semoga Allah (swt) meridhai mereka semuanya, merahmati mereka, dan mengaruniakan pahala-Nya bagi mereka, dan memberikan manfaat bagi kita lewat mereka melalui telinga kita, hati-hati kita, dan keseluruhan wujud kita, Amin!

Beberapa kritik dari “Calon Sufi” atas Tarekat Haqqani mengatakan atas tarekat kita dengan apa yang mereka sebut sebagai “kurang dalam sisi ilmu”.  Seorang Sufi yang teliti akan menjadi orang terakhir yang mengatakan kritik yang menyesatkan seperti itu!  Semestinya mereka menjadi orang-orang pertama yang mengetahui bahwa ilmu, sebagai ilmu saja, tidak hanya tanpa manfaat, tetapi juga dapat menjadi perangkap mematikan yang mengarah kepada kebanggaan syaithaniyyah.  Tak ada maaf baik bagi orang yang sombong (yaitu dengan ilmunya, penerj.) maupun orang yang bodoh; hanya Sufi yang penuh cinta, ketulusan, serta bertobatlah, walau memiliki kekurangan dalam ilmu dan adabnya, yang lebih dekat pada Allah (swt) dan pada ma’rifatullah (pengenalan akan Allah) daripada seorang Sufi berilmu yang menyimpan dalam hatinya kesombongan walau hanya setitik debu.  Semoga Allah (swt) melindungi diri kalian dan diri kami!

Ibrahim al-Khawwass berkata bahwa ilmu (pengetahuan) bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi untuk menaati Sunnah dan mengamalkan apa yang diketahui sekalipun itu hanya sedikit.

Imam Malik berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi ia adalah cahaya Allah (swt) yang Dia timpakan pada hati.

Imam as-Syafi’i berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui bukti dan dalil, melainkan untuk mengetahui apa yang bermanfaat.

Dan ketika seseorang berkata tentang Ma’ruf al-Karkhi (murid dari Dawud at-Ta’i, yang merupakan murid dari Habib ‘Ajami, murid dari Hasan al-Bashri; guru dari Sari as-Saqati, guru dari Sayyid Taifa Junayd al-Baghdadi, penerj.), “Dia bukanlah seseorang yang amat alim (berilmu),” Imam Ahmad pun berkata, “Mah!  Semoga Allah (swt) mengampunimu!  Adakah hal lain yang dimaksudkan oleh Ilmu selain dari apa yang telah dicapai oleh Ma’ruf?!”

Kritik lain berisi keberatan atas Rabithah atau “Ikatan”, suatu karakteristik khusus dari Tarekat Naqsybandi.  Lebih jelasnya, mereka yang mengkritik rabithah ini berkeberatan atas unsur tasawwur atau “Penggambaran” dalam rabithah yang meminta Murid untuk menggambarkan wujud sang Syekh dalam hatinya pada permulaan maupun selama dzikir.  Tetapi Allah (swt) telah berfirman, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah e itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [33:21] dan Dia berfirman pula, “Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; “ [2:189] dan karena itulah kita datang kepada Nabi (saw) melalui ash-Shiddiq (ra), dan datang kepada beliau melalui Salman (ra), dan datang kepada beliau melalui Qasim (ra), dan kepada beliau dari Sayyid Ja’far (as), dan seterusnya.  Karena “Ulama adalah para pewaris Nabi”, dapat dipahami bahwa Mursyid adalah teladan kita bagi teladan Nabi tersebut (merujuk pada ayat 33:21 di atas, penerj.) dan ia (Mursyid) mestilah seseorang di antara mereka yang atas mereka, Nabi e bersabda, “Jika kalian melihat mereka, kalian ingat akan Allah!” Hadits ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas , Asma’ bint Zayd, dan Anas (semoga Allah ridha atas diri mereka semua), juga dari Tabi’in Sa’id ibn Jubayr, ‘Abd al-Rahman ibn Ghanam, dan Muslim ibn Subayh.

Beberapa orang memprotes terhadap konsep fana’ sang Murid dalam diri Syekh, atau fana’ fis-Syekh. Mereka berkata, “Syekhmu hanyalah seorang manusia; jadikanlah fana’-mu pada diri Rasulullah (saw)!” Tetapi, adalah salah untuk menyamakan Syekh pembimbing sama seperti yang lain.  Syekh Ahmad Sirhindi qaddas-Allahu sirrahu – berkata: “Ketahuilah bahwa melakukan perjalanan (suluk) pada tarekat yang paling mulia ini adalah dengan ikatan (rabithah) dan cinta pada Syekh yang kita ikuti.  Syekh seperti itulah yang berjalan dalam tarekat ini dengan keteguhan (istiqamah), dan ia tercelupi (insabagha) dengan segenap macam kesempurnaan melalui kekuatan daya tarik Ilahiah (jadzbah).  Pandangannya menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan konsentrasinya atau pemusatan pikirannya (tawajjuh) mengangkat habis cacat-cacat rohani.  Pemilik dari kesempurnaan-kesempurnaan ini adalah Imam dari zaman ini dan Khalifah pada waktu itu… jadi, ikatan kita (padanya) adalah (melalui) cinta, dan hubungan (nisbah) kita dengannya adalah pencerminan dan pencelupan diri, tak peduli apakah diri kita dekat atau jauh (secara fisik darinya, penerj.). Hingga kemudian sang murid akan tercelupkan dalam tarekat ini melalui ikatan cintanya pada Syekh, jam demi jam, dan tercerahkan oleh pantulan cahaya-cahayanya.

Dengan pola seperti ini, pengetahuan terhadap proses bukanlah suatu prasyarat untuk memberi atau menerima manfaat.  Buah semangka matang oleh panas matahari jam demi jam dan menghangat dengan berlalunya hari… Buah semangka itu semakin matang, namun pengetahuan seperti apakah yang dimiliki oleh semangka terhadap proses ini?  Apakah sang surya mengetahui bahwa dirinya sedang mematangkan dan menghangatkan semangka itu?

Sebagaimana disebutkan di atas, keberatan terhadap konsep fana’ fis-Syekh berarti pula keberatan terhadap cinta pada Syekh.  Kita semua memiliki keinginan dan tujuan untuk mencintai Syekh kita dan mengetahui bahwa beliaulah objek yang paling patut menerima cinta dan hormat kita di dunia ini.

Sebagaimana sang penyair berpuisi:

Atas kesetiaan padamu yang suci dan tuluslah, aku berkata,

“Cinta atasmu terpahat dalam kalbu dari kalbu-kalbuku,

sebagai suatu ukiran yang dalam [NAQSY], suatu prasasti kuno.

Tak kumiliki lagi kehendak [IRADAH] apa pun, selain cintamu,

tak pula dapat kuucapkan apa pun padamu, selain “aku cinta padamu.”

Tentang hal ini, Mawlana berkata pada suatu kesempatan baru-baru ini,  “Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci.  Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita Cinta. Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang dicintai. ITTIBA’ bermakna untuk mencintai dan mengikuti, sementara ITA’AT bermakna [hanya] untuk mengikuti.  Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tetapi tidaklah selalu karena cinta.”

“Nah, Allah I menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah I mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya.  Dan setiap orang yang mencintai Awliya’ dan Anbiya’, melalui Awliya’ akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah.”

“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi.  Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah I akan mencintai kalian?”

“Namun manusia kini sudah seperti kayu, yang kering, kayu kering, mereka menyangkal cinta.  Mereka adalah orang-orang yang kering – tak ada kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, terbuka, bersemi dan berbunga di kala musim semi.  Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, tak akan pernah terbuka.  Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia.  Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya.”

“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari iman.  Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tetapi kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudra!” (akhir shuhbat Mawlana).

Dengan dan melalui Mawlana, Allah (swt) telah membuat segala macam hal yang sulit menjadi mudah.  Kita sangat bersyukur mengetahui beliau karena beliaulah jalan pintas bagi kita menuju nuur/cahaya dalam Agama ini.  Nur ini adalah tujuan dan sasaran dari setiap orang yang sehat.  Nur dan cahaya inilah yang dilukiskan dalam Ayat yang Agung,

Allah (swt) menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.  Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” [2:269]

Semoga Allah (swt) mengaruniakan bagi diri kita hikmah ini dan menjaga diri kita pada Jalan yang telah Dia perintahkan dan Dia ridhai bagi diri kita!  Semoga Allah (swt) mengaruniakan pada Mawlana umur panjang dalam kesehatan dan mengaruniakan pada diri kita tingkatan (maqam) Murid Sejati demi kehormatan orang yang paling mulia, Sayyidina Muhammad  (saw)!

 

Catatan:

[1] Ada beberapa variasi pendapat tentang tahun lahirnya Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah (q), berkisar antara 1284 H (dalam kitab at-Thariqat an-Naqsybandiyya, karangan Muhammad Darniqa) hingga 1294 H menurut murid tertua Syekh ‘Abdullah (q), Mawlana as-Syekh Husayn (q) (dalam kitab at-Thariqat an-Naqsybandiyya al-Khalidiyya ad-Daghistaniyya, karangan Ustadz Muhammad ‘Ali ibn as-Syekh Husayn) hingga 1303 H dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniyya, karangan Syekh ‘Adnan Kabbani (q) serta 1309 H dalam buku The Naqshbandi Sufi Way, karangan Syekh Hisyam Kabbani (q). 

[2]  Beliau menerima pula Tarekat Qadiriah dari Syekh Ibrahim al-Qadiri (demikian pula Syekh Jamaluddin) yang dengan bimbingannya, beliau memulai suluknya hingga Syekh Ibrahim menyuruhnya ke Syekh ats-Tsughuri, lihat ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 229).

[3]  lihat Hadaya al-Zaman fi Tabaqat al-Khawajagan an-Naqsybandiyya (halaman 375) karangan Syu’ayb ibn Idris al-Bakini.  Beliau mengambil pula dari al-Yaraghi, lihat Sullam al-Wusul karangan Ilyas al-Zadqari, sebagaimana dikuti di Hadaya (halaman 378).

[4]  lihat Hadaya, al-Bakini (halaman 396). Beliau menerima Thariqat Qadiri dari Syekh Ibrahim al-Qadiri dan memperkenalkan dzikir jahr dalam cabang Daghistani dari Naqshbandiyya melalui ijazah tersebut, lihat al-Bakini, Hadaya (halaman 396); ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 229).

[5] dan bukannya 1254 H, sebagaimana secara salah disebutkan di beberapa sumber. Koreksi ini dari ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 214). Muhammad al-Yaraghi juga mengambil secara langsung  dari Syekh Isma’il asy-Syirwani, lihat al-Bakini, Hadaya (hal. 350-351).

[6] dari Syirwan di masa sekarang di Azerbaijan.  Beliau wafat di Damaskus dan dimakamkan di Jabal Qasyoun, di samping Mawlana Khalid (q) dan Mawlana Isma’il al-Anarani (q) yang merupakan penerus pertama Mawlana Khalid (q), yang wafat tujuh belas hari setelah wafatnya Mawlana Khalid (q), keduanya karena wabah – semoga Allah (swt) merahmati mereka semua dan seluruh Syuhada’-Nya.

 

Kekuatan Nishfu Sya`ban

untitled

Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani

15 Juli 2011 Lefke, Siprus

Shuhbah setelah Jumat

 

A`uudzu billaahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahi ‘l hamd! Yaa Rabbii, yaa Allah! zidhu yaa Rabbii! A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. (Mawlana Syekh duduk kembali).

Madad, yaa Sulthaan al-Awliya. Madad yaa RijalAllah. Yaa Rabbana w`afuw `anna w ’aghfir lanaa w ’arhamna w ’ansurna `ala ’l-qawmi’l-kaafiriin, wa azhar Sayyidina al-Mahdi, ajaban-Allah, bi-jaahi nabiyyika wa`fu `anna w ’aghfir lanaa wa tub `alayna tubna wa raja’na.

Wahai hadirin dari Timur ke Barat!  Tiba waktunya di mana seluruh bangsa akan bergegas mendengar deklarasi surgawi, dan oleh sebab itu kami katakan, “Wahai manusia!  Cukup sudah mabuk kalian! Berusahalah untuk datang, mendengar dan mengetahui.” Kita harus berusaha untuk menjadi tahu. Kita datang ke sini, dan itu bukanlah sesuatu yang sia-sia, bukan seperti daun-daun yang suatu saat berada di pohon, lalu jatuh ke Bumi dan kemudian akan berlalu.  Kita harus mengetahui tentang diri kita. Apa tujuan kita, bagaimana kita bisa berada di sini untuk sementara kemudian kita akan meninggalkan dunia ini. Allah (swt) mengirimkan ratusan atau ribuan orang-orang pilihan yang mempunyai hubungan antara Bumi dan Langit, atau alam Malakut, yang memberi kabar dan peringatan untuk manusia karena mereka mengetahui sesuatu mengenai manusia dan segala sesuatu di sekitar mereka.

Dan kita ucapkan, “a`uudzu billaahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim.”  Kita harus selalu mengatakan, “Wahai Tuhan kami! Kami berlindung kepada-Mu dari Setan!”  Karena Setan berusaha untuk membuat manusia tidak percaya dengan apa yang dibawa oleh para Nabi dari Langit.  Para Nabi berseru, “Wahai manusia! Datang dan percayalah,” tetapi Setan mengejar manusia dan mengatakan, “Jangan percaya!”  Astaghfirullah.

Orang-orang berkata, “Ini seperti dongeng dari masa lalu yang tidak ada kenyataannya, jadi tidak perlu percaya pada mereka, nikmati saja apa yang fisik kita inginkan dan tidak perlu memikirkan yang lain.”  Setan menggunakan nama-nama yang berbeda tetapi dengan racun yang sama untuk membuat pemahaman kita menjadi nol. Sekarang seluruh bangsa dalam keadaan mabuk, sebagaimana Sayyidina `Ali (ra) mengatakan, “Orang-orang tertidur dan mereka tidak bangun-bangun sampai ajal mendatangi mereka, barulah mereka bangun dan menanyakan apa yang terjadi.”

Allah (swt) mengirimkan para malaikat kepada mereka dengan perintah suci dari Langit yang mengatakan, “Wahai manusia!  Jangan menanyakan apa yang terjadi karena engkau telah diberi peringatan tentang hal itu sepanjang hidupmu, tetapi engkau mengatakan bahwa itu hanyalah dongeng dari masa lalu.  Kini waktunya telah habis dan kami akan membawa ruhmu kepada Sang Penciptamu, karena ini bukanlah tujuanmu sebenarnya, kami akan membawamu ke tempat itu, ke tempat asalmu.”

Wahai manusia!  Kita sudah sangat dekat dengan tujuan kita, di mana Nabi Penutup (saw) telah memberi kabar kepada kita.  Hari Kiamat begitu dekat dan ia datang kepada kalian, jadi waspadalah! Sekarang kita semakin dekat dengan Hari Kiamat di mana sangkakala akan segera dibunyikan.  Sebelumnya begitu banyak hal yang tidak pernah kalian yakini, tetapi kini kalian telah melihat kejadian-kejadian surgawi sebagaimana yang dikatakan kepada kita oleh para Nabi, sekarang kejadian itu datang satu demi satu.

Dastuur, yaa Sayyidi.  Sekarang adalah 14 Sya’ban.  Ini adalah bulan suci, dan malam ke-15 dari bulan suci ini akan menjadi malam yang paling penting dalam setahun setelah Malam Laylatul Qadar.  Barangkali ini (lebih penting); hanya Dia Yang Maha Mengetahui! Para Nabi mengajarkan kita mengenai Laylatul Bara`ah, di mana tadir setiap orang untuk tahun yang akan datang telah ditetapkan dan dituliskan, apa yang akan terjadi pada mereka baik secara pribadi maupun berkelompok.  

Malam ini adalah awal bagi Tahun Baru Surgawi (Langit), yang dimulai pada Malam Bara`ah.  Takdir kita akan dituliskan baik secara pribadi maupun kolektif di Loh Mahfuz. Siapa yang akan hidup, siapa yang akan meninggal dunia, nama-nama mereka akan dituliskan, juga bagi mereka yang akan muncul ke dunia, dan berapa lama hidup mereka di dunia–empat puluh tahun, tiga puluh tahun, sembilan puluh tahun, tujuh puluh tahun–dan bagi setiap orang akan ditulis segala sesuatu tentang kehidupan pribadi mereka.  Itu tidak akan berubah: siapa yang akan datang, siapa yang akan meninggal dunia, apa yang akan mereka lakukan, dan apa yang akan terjadi pada mereka baik secara pribadi maupun kolektif.

Sekarang kita berada di bagian terakhir dari kehidupan manusia, kita berada di abad ke-15 tahun hijriah.  Sesuai dengan niat kita, sesuai dengan perbuatan kita, malam ini kita dapat mengubah (apa yang telah dituliskan, karena setelah itu tidak) akan ada perubahan lagi.

Manusia di Bumi ada dua macam, sebagian ada di kelompok yang positif dan yang lainnya di kelompok negatif.  Kelompok yang positif adalah orang-orang yang beriman yang melakukan perbuatan baik bagi Tuhannya, dan terhadap ciptaan Sang Pencipta.  Mereka adalah orang-orang yang berguna. Kelompok lainnya, yaitu kelompok negatif, tidak pernah memikirkan tentang mendekatnya Hari Kiamat dan mereka hanya menimbulkan masalah bagi orang-orang, mereka melakukan pembunuhan dan menyebabkan penderitaan.  Satu kelompok berusaha untuk menolong orang, berusaha membuat mereka bahagia tetapi kelompok satunya selalu menyebabkan masalah dan inilah kesenangan mereka! Malam ini, perbuatan dari seluruh manusia akan dituliskan apakah di tangan kanan (kebaikan) atau di tangan kiri (dosa-dosa).

Wahai manusia!  Menurut Nabi (saw), malam ini adalah malam yang sangat penting, jadi berusahalah agar diri kalian bersama Tuhan kalian dalam kondisi yang baik, sehingga kalian akan meraih rahmat Allah, sehingga kalian akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.  Malam ini adalah malam pertama dan besok adalah hari pertama dari tahun baru bagi seluruh dunia. Ini bukanlah kalender hijriah atau kalender Barat, ini adalah kalender Surgawi.

Wahai manusia!  Jagalah agar jasmani dan rohani kalian bersih untuk suatu awal yang baru.  Saya takut kalau niat dan perbuatan buruk manusia tiba-tiba akan membawa mereka kepada hukuman surgawi.  Mereka dapat menyebabkan pembalasan Surgawi mendatangi mereka jika mereka tidak mengatakan, “Wahai Tuhan kami!  Engkau telah menciptakan kami tetapi kami telah banyak melakukan kesalahan, Engkaulah satu-satunya yang dapat memaafkan apa yang telah kami lakukan dan memberikan energi baik kepada kami sehingga kami dapat menjadi hamba-Mu yang taat!”  

Wahai manusia!  Malam ini adalah malam yang penting karena mungkin saja ini akan menjadi malam suci terakhir bagi manusia, karena tahun depan wujud dunia ini mungkin akan berubah; mungkin saja di antara lima orang, hanya ada satu yang bertahan sementara empat lainnya meninggal dunia!  Ini adalah suatu kutukan, karena orang-orang berlari di jalan Kematian. Oleh sebab itu, siapa pun yang berlari di sisi jalan itu dapat bertahan menurut pengetahuan surgawi. Hanya sedikit orang yang bertahan di sini. Saya pikir kita tidak akan mengerti bila azab terjadi di Bumi, kalian akan mendapati gurun yang kosong, tanpa rumah, pepohonan, lautan, hujan dan segala yang menyenangkan bagi manusia akan dicabut!  Bagi yang bertahan, Allah (swt) akan membukakan dunia yang baru bagi mereka.

Suatu hari nanti akan tiba di mana dunia kalian akan berubah hingga sulit dikenali sampai-sampai orang akan bertanya, “Inikah dunia yang kita tinggali?”  Ia dapat berubah sepenuhnya dan hanya segelintir orang yang akan bertahan, mereka yang percaya dan memberi penghormatan yang tinggi bagi Tuhannya, sementara yang lain akan disapu bersih.

Wahai manusia!  Apa yang Allah katakan akan terjadi, dan saya memohon ampunan bagi saya dan bagi kalian.  Saya memohon agar Allah menjadikan niat kita, niat yang baik. Semoga Allah mengampuni kita dan mengirimkan kepada kita para pemimpin yang dapat membawa kita ke jalan yang aman, jalan yang diridai Allah; kalau tidak, pemahaman kita akan dicabut.

Wahai manusia!  Sekarang dunia, besok akan menjadi kuburan!  Jangan mengatakan, “Aku kaya,” atau “Aku adalah orang terkaya.”  Itu tidak akan memberi manfaat bagi kalian, hanya perbuatan baik yang akan bermanfaat bagi kalian, yaa Rabbanaa!

Kami hanyalah hamba-hamba-Mu. Jangan tinggalkan kami pada Setan untuk menjadi hambanya!  Barang siapa yang mengejar Allah, ia akan selamat dan barang siapa yang mengejar Setan, ia akan dimasukkan ke dalam Neraka, astaghfirullah!

Ini bagaikan samudra di mana kita dapat berbicara hingga minggu depan atau tahun depan jika Allah memberi kekuatan, tetapi saya adalah orang yang lemah, dan kalian juga lemah.  Mintalah kepada Allah ampunan dan Samudra Rahmat-Nya yang tak terhingga. Mintalah demi kemuliaan Nabi Penutup (saw) agar kita diselamatkan dari kejahatan, dan dari tempat yang buruk setelah kemaatian kita!  

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Aziiz Allah.

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Kariim Allah.

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah.

Subhan sen, Sultan sen, yaa Rabb!

Engkau adalah Sultan!  Engkau adalah Subhaan! Engkau adalah Rahmaan!  Wahai Tuhan kami, ighfir lanaa maa madaa fii salif hayatuna!  Berikanlah ampunan-Mu dan kirimkanlah kepada kami hamba-hamba-Mu yang baik yang dapat menyelamatkan kami dan mengubah gaya hidup kami menjadi pengikut al-Qur’an suci dan Islam yang suci, demi kemuliaan Rasuulullah, Sayyidina Muhammad (saw)!

Allaahuma shalli `ala Sayyidina Muhammadin wa `aala alihi wa shahbihi wa sallim.

Allaahuma shalli `ala Sayyidina Muhammadin wa `aala alihi wa shahbihi wa sallim.

Allaahuma shalli `ala Sayyidina Muhammadin wa `aala alihi wa shahbihi wa sallim.

Fatihah.

Video: https://sufilive.com/The-Power-of-Nisf-Sha-ban-3641.html

 

 

Nasihat dalam Membesarkan Anak

51858292_810860759256262_837368813136391599_n

 

Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim.

Wahai manusia, kalian harus merawat anak-anak kalian. Jika mereka melakukan sesuatu yang baik, berilah pujian dan penghargaan kepadanya, sehingga mereka akan merasa senang dan akan lebih sering melakukan perbuatan yang baik. Tetapi jika mereka melakukan tindakan yang buruk, paling tidak kalian harus menegurnya, jangan sampai tindakan yang salah ini berlalu begitu saja tanpa mereka mengerti bahwa kalian tidak setuju dengan perbuatannya.

Katakan pada mereka, “Jangan lakukan hal itu; tidak baik melakukan itu; itu menyakiti orang lain; itu adalah perilaku yang buruk.” Kadang-kadang jika pesan ini tidak sampai, kalian boleh menjewer telinga mereka dengan lembut (untuk mendapat perhatian mereka).

Yang menjadi pilar pendidikan adalah harapan untuk mendapatkan suatu penghargaan, dan ketakukan untuk mendapat teguran atau hukuman. Orang Barat telah menghilangkan kedua pilar tersebut dan seringkali membiarkan anak-anak mereka tumbuh dengan liar, itulah kesalahan mereka.

Pendidikan dengan gaya bebas telah mendatangkan bencana besar bagi peradaban Barat, begitu besarnya sehingga pemerintah bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan perdamaian di masyarakat kita?” Bagaimana kita dapat membendung gelombang kekerasan? Apa yang dapat kita lakukan dengan orang-orang liar ini?” Dan orang-orang bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan terhadap peraturan-peraturan yang menentang kita ini?”

Apa yang kita saksikan di zaman ini adalah pemenuhan dari prediksi Nabi Suci (saw) yang bersabda, “Akan tiba masanya di mana pemerintah akan mengutuk warganya dan warga akan mengutuk pemerintahnya.”

Bagaimana orang-orang dewasa itu dapat dikontrol jika orang tua mereka tidak pernah menanamkan bekal pada mereka ketika masih kecil? Ada sebuah ungkapan, “Barang siapa yang dibesarkan dengan jalan tertentu, maka ia akan berakhir dengan jalan itu juga.” Inilah asalannya mengapa pohon-pohon yang batangnya bengkok perlu diikat ketika mereka masih muda dan lentur agar dapat dibentuk. Ketika batangnya sudah besar dan mengeras, siapa yang dapat membengkokkannya? Oleh sebab itu, pendidikan harus dimulai sejak bayi.

Salah satu bagian yang sangat penting dalam pendidikan yang baik adalah mengajarkan anak-anak kalian untuk bersabar dengan tidak langsung memberikan apa pun yang diinginkannya. Katakan pada mereka, “Kau tidak akan mendapatkannya sekarang, tetapi lima menit lagi (atau setengah jam lagi atau besok; atau jika engkau berprestasi di sekolah). Atau kalian juga bisa mengatakan, “Saya tidak akan memberikannya kepadamu sampai kamu berhenti mengganggu saya, jadi lupakan saja keinginanmu itu; setelah itu mungkin saya akan memberikannya kepadamu.”

Poin lainnya adalah, kita harus melatih anak-anak kita untuk menghormati dan menghargai orang tuanya, khususnya karena hubungan kekeluargaan sudah sangat memburuk di masyarakat Barat. Jangan membiarkan anak-anak untuk memakan permen yang didapatnya sebelum mereka menawarkannya terlebih dahulu kepada ibunya. Dengan begitu Insya Allah, ketika dewasa mereka akan berpikir untuk memberikan sebagian yang mereka peroleh untuk ibunya. Ajari juga anak-anak untuk mencium tangan dan pipi kalian ketika mereka bagun di pagi hari dan sebelum tidur di malam hari. Hal ini akan menanamkan rasa kasih sayang dan hormat kepada orang tua dalam diri mereka.

~Mawlana Shaykh Nazim | 1999