Akhir Zaman

20476578_1413878435333172_3249580991497912249_n

Shaykh Muhammad Nazim Al-Haqqani An-Naqshbandi
Shohbat tahun 1998
Lefke – Siprus

 

Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Kami telah menyampaikan beberapa kata di sini untuk orang-orang Inggris,untuk orang-orang Jerman, namun sebenarnya kata-kata ini harus disampaikan dalam semua bahasa.

Sejak pertama manusia berada di dunia ini, kita–di antara semua orang yang pernah hidup, adalah orang-orang yang telah sampai pada hari-hari yang sangat berbahaya dan menakutkan. Di samping hal ini, ketakutan ini adalah ringan dibandingkan ketakutan hari-hari yang akan datang, yang sekarang bukan apa-apa. Karena di masa mendatang akan ada kejadian-kejadian di mana orang-orang yang terlibat di dalam peperangan, mereka akan tertembak mati atau tidak sanggup untuk menanggung beban pada saat itu. Mereka akan mengalami depresi–mentalnya runtuh. Ketika mental seseorang runtuh tubuhnya tidak mampu lagi untuk membawa dirinya lebih jauh lagi. Ketika mentalnya hidup, tubuh seseorang menjadi segar dan aktif. Ketika mentalnya kehilangan kekuatan, ketika ia runtuh, tak peduli betapa kuat tubuhnya, ia tidak akan mampu bertahan. Agar mampu menahan beratnya hari-hari saat kita hidup sekarang ini dan agar mampu menanggung beban menghadapi kejadian-kejadian yang mengerikan di masa mendatang, maka orang harus memiliki kehidupan spiritual yang kuat. Orang yang mentalnya tidak didukung atau diperkuat akan menderita dalam situasi ini, dan ia tidak akan mampu menanggung beban berat hari-hari yang akan datang.

“Mereka akan seperti benteng-benteng dari kardus”, saya katakan. Berapa lama benteng kardus itu dapat bertahan? Ia tidak akan mampu menahan apa-apa, ia tidak bisa melindungi orang. Orang hanya akan terlindungi dengan benteng yang kuat. Benteng itu adalah iman mereka. Orang yang imannya imitasi, mereka tidak akan mampu bertahan menghadapi badai-badai besar yang akan datang, mereka akan tersapu bersih. Situasi sekarang membuat mereka tertekan, tetapi kejadian-kejadian yang akan datang akan menghancurkan mereka berkeping-keping. Oleh sebab itu iman yang kuat adalam elemen penting pertama agar orang dapat bertahan dengan kokoh pada situasi tersebut. Iman yang kuat adalah satu-satunya kekuatan yang akan membuat orang mampu berdiri kokoh menghadapi kejadian-kejadian yang mengerikan di masa mendatang. Tanpa iman yang kuat orang tidak akan bertahan menghadapi situasi sekarang maupun kejadian yang mengerikan di masa mendatang. Tanpanya mereka akan hancur.

Jika seseorang tidak terbunuh, tidak tertembak oleh berbagai jenis senjata, maka beratnya kejadian-kejadian tersebut akan menghancurkan mereka, mereka tidak akan sanggup untuk bertahan. Jumlah orang yang akan tewas–bukan karena tertembak, namun karena tidak sanggup menahan beratnya beban mereka akan mencapai jutaan orang. Jika ada beberapa orang yang tidak meninggal, mereka akan menjadi gila. Jutaan orang akan kehilangan pikiran mereka, mereka menjadi gila. Kejadian-kejadian yang akan datang begitu berat, begitu menakutkan. Satu-satunya yang dapat menolong orang adalah iman yang kuat, tidak ada lagi yang lainnya. Tidak ada lagi yang dapat menolong. Sebagaimana yang saya katakan, jika tidak tertembak, maka kejadian-kejadian yang akan menimpa manusia nanti akan membunuh mereka atau mencabik-cabik hati mereka karena ketakutan dan membuat mereka menjadi gila. Tidak ada yang bisa menolongnya.

Kejadian-kejadian saat ini sangat kecil dibandingkan kejadian-kejadian di masa mendatang. Walau demikian banyak juga orang yang menjadi gila sekarang ini. Kejadian-kejadian saat ini bukanlah apa-apa. Ia bagaikan permen dibandingkan kejadian-kejadian yang akan datang, ya permen. Apa yang membuatnya menjadi tertekan? Huuu ya Lathif. Kita berlindung kepada Allah, kita berlindung kepada Allah. Mengenai hal ini saya berbicara sedikit dalam bahasa Inggris, kalian harus mendengarnya juga.

Pada hari-hari tersebut, hanya iman yang kuat yang akan menguntungkan kalian. Bagaimana meraih iman yang kuat? Kalian tidak dapat mencapainya dengan membaca buku-buku. Mungkin kalian dapat meraihnya dari para Awliya yang merupakan para pemilik iman yang kuat, yang dapat mereka transmisikan dari qalbu ke qalbu. Nabi kita `alayhi ‘sh-shalatu wa ‘s-salam, membangun para Sahabatnya dari tingkat kebodohan terbawah hingga ke tingkat keimanan tertinggi. Beliau memenangkan mereka semua melalui jalan qalbu.

Sekarang di masa ini ada para pewaris Nabi (saw). Para awliya yang merupakan para pewaris Nabi (saw) tidak pernah absen. Meskipun kalian tidak mengetahui mereka. Kalian mungkin tidak mengetahui mereka, tetapi bila kalian memohon agar dapat menemukan mereka, maka ada izin untuk memanggil mereka.

Jika kalian mengenal seseorang, panggillah ia sebagaimana yang dikatakan oleh qalbu kalian. Jika tidak, katakanlah, “Wahai Awliyaullah, wahai teman-teman Allah, wahai ahlul Haqq, tolonglah kami (madad)!” Kapanpun dan di manapun kalian berada dalam situasi yang sulit, panggillah mereka. “Demi Nabi (saw), wahai Ahlul Haqq, raihlah aku.” Segera setelah kalian mengucapkannya, ia harus menolong kalian. Saya mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk berkata, “Demi Nabi Isa/Yesus,” dan untuk umatnya Nabi Musa (as), “Demi Musa `alayhi ‘s-salam, raihlah kami.” Mereka harus mengucapkannya. Mereka bisa mengatakan, “Tolonglah kami demi Nabi Ibrahim `alayhi ‘s-salam.” “Demi Ahlul Bayt Rasulullah (saw)” – orang dapat meminta pertolongan demi mereka. Jika seseorang tidak mengetahui caranya, “Demi Nabi kita (saw)” namun ia memanggil demi Nabi-Nabi lainnya, para Awliya diperintahkan untuk tetap menolong mereka.

Tamu: Sejak sekarang hingga hari-hari yang penuh masalah?

Kapan saja, sejak sekarang, mereka boleh memanggilnya. Tidak masalah! Para Awliya diperintahkan untuk mendatangi mereka untuk menolongnya. Sekarang waktunya sudah sangat dekat, kami diperintahkan untuk menyampaikan hal tersebut. Peperangan sangat dekat. Para Awliya bekerja pada qalbu. Mereka adalah orang yang dapat melihat qalbu. Mereka menolong orang-orang yang memanggil mereka melalui qalbu. Jika orang memanggil mereka hanya lewat lidah, mereka akan tetap mendatanginya. Jika orang tidak terlalu takut, mereka akan muncul kepada orang yang memanggilnya. Tetapi mereka tidak menampakkan diri mereka untuk tidak menakutkan bagi orang-orang. Orang dapat merasakan kehadiran mereka, jika ia dapat menerima kedatangannya. Ia akan merasakan kedatangan mereka di hadapannya.

Jadi ini adalah masalah yang penting. Perhatikan hal ini! Jalan menuju keimanan yang kuat terbuka melalui pertemuan dengan para Awliya yang merupakan para pemilik iman yang kuat. Jika kalian tidak mengenal mereka, panggillah salah seorang di antara mereka secara umum, katakan, “Ya Awliyaullah, adrikni, wahai Awliyaullah, raihlah aku.” Katakan, “Tolonglah aku demi Nabi `alaihi ‘sh-shalatu wa ‘s-salam.” Maka situasi kalian yang sulit akan menjadi mudah. Ketakutan kalian akan hilang, iman kalian akan dikokohkan, dan perbuatan kalian akan diperbaiki.

Bi hurmati ‘l-Habib bi hurmati ‘l-Fatihah

Advertisements

Awliya’ullah ingin agar Murid-Muridnya Berhasil

20031555_1398315943556088_6797954207478564640_n

Lensa terbesar di dunia adalah Teleskop Hubble. Salah satu di antara orang-orang yang membangunnya mengatakan kepada saya bahwa lensa yang dibutuhkan (diameternya) adalah sepanjang jarak antara San Francisco ke New York, tetapi karena terus-menerus dipoles dan dipoles lensa lebar sepanjang tiga kakinya dapat menjangkau begitu jauh. Jika kita semua memoles qalbu kita, kita akan menjadi seperti Teleskop Hubble dan dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat orang, mendengar apa yang tidak bisa didengar orang, karena pada saat itu qalbu kita terhubung dengan sangat baik kepada Syekh kita, sehingga mulai melihat penglihatan spiritual dan mimpi-mimpi. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh salah satu Awliya yang Agung, Sayyidina Muhiyyidin ibn `Arabi (q), “Ketika Allah ingin melihat pada Ciptaan-Nya, Dia tidak melihatnya secara langsung, melainkan melihat pada Sayyidina Muhammad (saw), sang cermin!

Antara Ciptaan dengan Pencipta adalah Sayyidina Muhammad (saw): itulah sebabnya nama beliau diangkat, agar seluruh makhluk mengetahui Hakikat tersebut. Laa ilaaha illa-Llah Muhammadun Rasuulullah: bagian akhir dari ‘laa ilaaha illa-Llah’ adalah Allah dan haa di sana artinya tersembunyi, Qul Huw Allahu Ahad. Laa ilaaha illa-Llah ilaa Huw, bagian akhir dari ‘Allah’ adalah Huw, yang merupakan Ghayban Mutlaaq, Ghaib Mutlak, tak seorang pun dapat melihatnya, tetapi:

“Katakanlah, yaa Muhammad, ‘Qul Huw Allahu Ahad.’ Dia adalah Yang Tidak Bisa Dilihat, Dia adalah Yang Maha Unik, Sang Pencipta, Dia adalah Segalanya!” Ketika Allah ingin melihat pada hamba-hamba-Nya ketika mereka dikirim ke Surga Pertama, Dia melihat mereka melalui cerminnya Nabi (saw), karena apa pun yang mereka lakukan akan terpantul pada cerminnya Nabi (saw), dan dari sana ia akan sampai pada Alastu bi-rabbikum qaaluu balaa:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَىٰ
[Allah bertanya] “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka berkata, “Ya!” (Surat al-A’raaf, 7:172)

Awliyaullah sangat hati-hati dalam mengarahkan pandangan mata mereka. Seorang Wali, sejak kelahirannya… karena sebagian mereka tidak terhijab, mereka dapat melihat segalanya, bahkan al-Lawh al-Mahfuuzh, apakah orang suka atau tidak. Nabi (saw) adalah orang yang Allah beri kewenangan atas seluruh manusia, bukankah begitu?

Awliyaullah mengamati para pengikutnya untuk membawa mereka ke Jalan yang Benar; mereka mengetahui apa yang dikerjakan oleh murid-muridnya untuk mendukung mereka agar terlihat pada cerminnya Nabi (saw). Ketika seorang Wali ingin melihat muridnya, ia melihatnya pada qalbu Nabi (saw), yang memantulkan apa yang dikerjakan oleh murid tersebut, apakah itu baik atau buruk:

تعرض علي أعمالكم
Aku mengamati amal umatku. (al-Bazzaar di dalam Musnadnya)

Beliau (saw) melihat kita dan beliau mempersembahkan kita kepada Allah (swt) dalam keadaan suci, dan itu merupakan kehormatan bagi kita. Semoga Allah (swt) senantiasa menjaga kita di dalam jalan yang benar, yang tersambung dengan Nabi (saw), yang merupakan mesin utama bagi dunia dan seluruh Ciptaan. Allah menciptakan Ciptaan dan tidak memandangnya, Dia hanya melihat pada Nabi (saw)! Dari Cahaya yang Allah berikan kepadanya setiap `abd muncul dan ketika Cahaya itu diambil, kalian tidak tampak lagi kepada mereka. Jika amal kalian baik, kalian akan diberi Surga, dan setiap orang yang diberikan Surga di dalam hidupnya, ia tidak akan menjadi buta, matanya selalu dapat melihat segala sesuatu. Mari kita membuat mata kita dapat melihat segala sesuatu dengan merefleksikan Kalimat at-Tawhiid karena itu merupakan Miftah al-Jannah, Kunci ke Surga.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Mengetuk Pintu Awliya-Nya

16507878_10154329157045886_5805998787206520098_n
Bagi Allah, seluruh dunia (beserta isinya) tidak lebih dari sayap seekor nyamuk, dan kita semua berjuang untuk mendapatkannya, dan setiap orang berusaha untuk menggigit kaki orang lainnya. Jadi kita memerlukan seorang psikiater, dan Allah memberi kita para Awliya-Nya sebagai psikiater di antara umat untuk menjaga mereka agar senantiasa berada di Jalan yang Benar. Jika kalian mengetuk pintu seorang Wali, ia akan membimbing kalian menuju tujuan kalian, tetapi bila kalian tidak mengetuk pintunya, maka kalian akan tersesat di dunia ini.
 
Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Hakikat Awliyaullah

15740792_1208448452542839_8441647537473211480_n
Kalian melihat Awliyaullah sebagai orang biasa, tetapi pada hakikatnya mereka bukan orang biasa. Mereka adalah orang yang sangat halus, transparan, mereka menyingkirkan bentuk mereka, ego mereka. Ketika kita menyingkirkan ego kita, barulah kita dapat melihat segala sesuatu dan mendengar segala sesuatu, kita dapat berbicara kepada setiap orang, kita dapat menjangkau setiap orang, sebagaimana Nabi ﷺ menyebutkannya dalam sebuah Hadits Qudsi,
 
عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏قال ‏‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إن الله قال ‏ ‏من عادى لي وليا فقد ‏ ‏آذنته ‏ ‏بالحرب وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها وإن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه وما ترددت عن شيء أنا فاعله ترددي عن نفس المؤمن يكره الموت وأنا أكره مساءته ‏
ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره
الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها،
 
Hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku telah mencintainya, maka Aku yang akan menjadi telinganya yang digunakannya untuk mendengar, Aku akan menjadi matanya yang digunakannya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya yang digunakannya untuk berbuat, Aku akan menjadi kakinya yang digunakannya untuk berjalan. (dan dalam versi lainnya termasuk, “dan lidahnya yang digunakannya untuk bicara.”).
(Hadits Qudsi, Bukhari)
 
~ Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia