Berkah yang Luar Biasa dari Memberikan Donasi untuk Masjid

Seri Ramadan 2015, Vol 15

Shaykh Hisham Kabbani

 

5 Juli 2015, Zawiyah Fenton, Michigan

Shuhbah Zhuhur (2)

 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu’l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-saluuk, fii hadza ‘l-masjid

 

أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Athii`uullaaha wa athii`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum.

Patuhi Allah, patuhi Rasul dan patuhi para ulil amri (pemimpin) di antara kalian. (Surat an-Nisa, 4:59)

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Alhamdulillah bahwa di bulan Ramadan ini kita telah mencapai Nikmat Allah (swt), dan di bulan Ramadan tentu saja orang menjadi haus, tetapi Allah menginginkan agar mereka haus sehingga di Hari Perhitungan mereka tidak kehausan.  Jadi bagi mereka yang berpuasa selama 17-18 jam akan memperoleh kenikmatan untuk tidak kehausan pada hari tersebut. Jadi para awliyaullah, semua fokus mereka adalah pada awraad yang mereka berikan kepada para pengikut mereka, agar mereka tidak dihisab dan mereka tidak kehausan.  Yang saya maksud “dihisab” di sini adalah sebagaimana sabda Nabi (saw) kepada Sayyida `Aisyah (ra),

من حوسب عذب

(Wahai `Aisyah!) Barang siapa yang dihisab, pasti akan mendapat azab. (Bukhari)

Beliau menyebut “dzarrah,” yaitu partikel terkecil yang ada di alam semesta ini.  Orang-orang biasanya menggunakan ukuran atom; kebaikan apa pun yang dilakukan seseorang akan dihitung dengan berat atom, tetapi “dzarrah” adalah partikel terkecil yang dapat diketahui.  Sekarang orang-orang mengatakan bahwa quarks lebih kecil (daripada atom).  Jadi sekecil apa pun kebaikan yang telah mereka lakukan, Allah (swt) akan membusanai mereka dengan Busana Surgawi.  Jadi pada Hari Perhitungan, orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah karena perbuatan mereka di dunia akan dikenali melalui bintang-bintang kebaikan ini.  Allah akan memberi petunjuk dan membusanai mereka dengan maghfirah pada Hari Perhitungan.

Saya telah menceritakan tentang kisah Sayyidina Ibrahim ad-Dasuqi (q), agar tidak menyia-nyiakan waktu kalian dengan meninggalkan awraad kalian, karena awraad sebagaimana yang beliau katakan pada saat itu adalah bagaikan sebuah lilin yang diletakkan dan dinyalakan di dalam masjid.  Awraad bagaikan lilin yang menyala yang akan memberikan cahaya kepada diri kalian dan juga orang lain. Oleh sebab itu, jadilah seperti lilin, yang bersinar di tengah kegelapan.

Beliau memberi contoh tentang Sayyidina Ahmad al-Badawi (q).  Beliau mengatakan bahwa pada suatu hari Sayyid Ahmad al-Badawi (q), salah satu dari kelima Qutub pada saat itu, sedang melewati sebuah jalan dan beliau bertemu dengan seorang Yahudi yang menyapanya.  Orang itu membawa sejumlah lilin di tangannya dan ia berkata, “Wahai Imam.” Pertama, lihatlah bagaimana ia menyapa Sayyidina Ahmad al-Badawi (q), ia tidak mengatakan, “Wahai Bapak,” karena ia mengenali bahwa beliau adalah seorang Imam, yang artinya ada sesuatu di dalam hatinya.  Kita ini adalah orang-orang yang lalai, kita tidak bisa mengatakan hal itu kepada seseorang.

Kita tidak suka mengatakan, “Wahai Imam,” untuk mengangkat derajat seseorang, tetapi orang Yahudi tersebut mengatakan, “Wahai Imam, aku ingin memberikan lilin-lilin ini kepadamu untuk diletakkan di dalam masjidmu.”  Ia memberikan enam batang lilin kepada Imam Ahmad al-Badawi untuk diletakkan di dalam masjid agar orang-orang dapat melihat satu sama lain.

Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Engkau menyangkal agama kami dan engkau tidak menyukai Nabi kami meskipun beliau (saw) menerima Sayyidina Musa (as) dan Sayyidina `Isa (as), namun engkau datang kepadaku untuk menyerahkan enam lilin ini untuk di masjid?”

Beliau adalah Qutub sedangkan orang Yahudi itu adalah orang biasa; di mana pada saat itu orang-orang Yahudi, Muslim dan Kristen tinggal berdampingan.

Orang Yahudi itu berkata, “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Hari Perhitungan.  Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku atau agamaku, barangkali aku akan mendapat manfaat dari lilin-lilin ini, barangkali aku akan diselamatkan dari kesulitan besar di Hari Perhitungan.”

Ketika ia mengatakan hal itu, Sayyid Ahmad al-Badawi (q) menerima lilin-lilin tersebut, padahal sebelumnya beliau sempat mempertanyakannya, tetapi beliau melihat ada perubahan di dalam hatinya ke arah kebenaran, bukannya menyangkal atau berbohong, jadi beliau menerima keenam lilin tersebut dan meletakkannya di dalam masjid dan menyalakannya di setiap penjuru di sekeliling mihrab di mana beliau mengajar.  Orang itu memberikan enam batang lilin. Sekarang perhatikan, ada 6.666 ayat dalam kitab suci al-Qur’an ya kan? 6.666. Allah menciptakan Langit dan Bumi dalam enam hari.

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء

“Dan Dialah yang menciptakan Langit dan Bumi  dalam enam hari.” (Surah Hud, 11:7)


Ada 114 Surat, di mana 1+1+4=6. “Enam” mempunyai makna yang istimewa.  Beliau menyalakan lilin-lilin itu dan meletakkannya di dalam masjid, kemudian beliau menyampaikan ajarannya sampai lilin-lilin itu menjadi redup saat matahari terbit, kemudian lilin itu pun padam.  Beliau meninggalkan masjid, tetapi hatinya berkata, “Pasti ada sebuah `ibrah dari perbuatan orang Yahudi itu.”

Allah berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki. (Surat al-Qasas, 28:56)

 

Allah ingin agar setiap orang masuk Islam terlepas dari agama mereka, karena,

 

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُُ

Agama di sisi Allah adalah Islam (tunduk pada Kehendak-Nya). (Surat Aali-`Imraan, 3:19)

 

Wa li kulli wajhi muwalihaa. Allah membuat arah bagi setiap orang, sebuah shiraath, jalan, thariqah, madzhab, seorang ulama dan seorang pemandu, orang yang memberi petunjuk.

 

وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

Bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. (Surat Ar-Ra`d,13:7)

 

Dia menjadikan pemandu bagi setiap orang, karena Dia tidak ingin ada orang yang mengatakan, “Allah tidak memberkahiku dengan seorang pemandu.”  Tidak, ada pemandu, ada Sahabat (ra), Rasul dan para Anbiya yang membimbing umat; jadi Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Pasti ada sesuatu di dalam hati orang itu, aku akan melihatnya,” dan beliau mempunyai kekuatan khariqa, yang dapat bergerak seperti laser yang menembus segala sesuatu; dan beliau melihat bahwa orang itu mempunyai karomah di dalam hatinya, yang begitu tercerahkan sehingga ia hanya perlu sedikit saja untuk menjadi Muslim.  Oleh sebab itu tanpa melihat melalui kekuatan spiritualnya, dan hanya menggunakan kekuatan fisiknya, Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Orang ini telah memberi kebaikan untuk kita, terima kasih.” Kemudian tiba-tiba beliau mendapat ilham, “Lihatlah dirinya dengan kekuatan yang Aku berikan kepadamu,” dan awliyaullah mempunyai kekuatan semacam itu.  Beliau lalu melihat bahwa dari masjidnya cahaya lilin itu terpancar hingga ke Bayt al-Ma`muur; Itu adalah cahaya petunjuk yang menunjukkan bahwa orang itu harus dibimbing untuk masuk Islam!

Allah (swt) memberi kekuatan kepada Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) untuk melihat bahwa orang Yahudi itu telah diterima sehingga beliau harus memberinya Syahadat atas kebaikannya memberikan lilin-lilin itu untuk masjid sehingga orang-orang dapat melihatnya ketika beliau sedang menyampaikan ajarannya.  Kemudian beliau mendengar suara yang berkata kepadanya, “Wahai Ahmad! Kabar gembira! Aku telah mengubah orang Yahudi itu menjadi Muslim karena kebaikan yang telah diberikannya untuk masjid.”

Dikatakan bahwa jika seseorang menyalakan sebatang lilin di bulan Ramadan, pada Hari Perhitungan Allah akan memberinya sepuluh lilin dari Bayt al-Ma`muur, bukannya lilin fisik, tetapi Dia akan memberikan sepuluh pelangi cahaya yang indah dari Asmaul Husna wal Sifaat-Nya sebagai sebuah donasi untuk menunjukkan Kemurahan-Nya atas sebatang lilin di bulan Ramadan, jadi jika kalian menyalakan 30 batang lilin, kalian akan meraih keberhasilan, kalian akan diberi hasanaat selama 30 hari dikalikan 10 sehingga menjadi 300 hasanaat dari dalam Bayt al-Ma`muur yang tidak diketahui oleh siapa pun!

Sekarang di Mekah, ketika mereka membuka Ka`bah, orang-orang akan melompat ke dalamnya bahkan untuk mengambil sebuah batu untuk mendapat keberkahan.  Lalu bagaimana menurut kalian ketika Allah (swt) akan membusanai kalian dengan Cahaya dari Bayt al-Ma`muur, dari Langit Keempat, karena donasi kalian untuk masjid?  Allah akan menyukai kalian melebih orang lain karena kalian telah memberikan sesuatu yang besar untuk orang-orang yang mengelola masjid tersebut. Dia mengatakan bukan hanya ketika orang memberi donasi, di sini dikatakan “lililn,” tetapi itu adalah sebuah donasi.  Jadi ketika seseorang memberikan sebatang lilin atau memberi donasi ke masjid, pada saat sakaratul maut, Allah akan memerintahkan Malaikat Maut untuk membawa sepuluh lilin dari Bayt al-Ma`muur dan meletakkannya di kuburnya dan ia akan memperoleh fadilahnya di Akhirat di mana hatinya bersinar dengan Cahaya Surgawi tersebut, dan bukan hanya itu, Allah (swt) akan memberinya Cahaya untuk kuburnya, yang akan menjadi bagian dari Surga, sebagaimana Nabi (saw) bersabda,

 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ

Di dalam kubur ada sebuah taman dari Taman-Taman Surga atau parit dari Neraka. (Sunan at-Tirmidzi)

Jadi donasi untuk masjid adalah seperti itu, dan haddith wa laa haraj, berbicara tanpa akhir mengenai pahala yang diberikan kepada orang-orang yang menyumbang untuk masjid.  Orang Yahudi tadi menjadi Muslim karena cahaya dari hati Imam Ahmad al-Badawi (q) dipantulkan pada hatinya.  Jadi saya katakan di sini bahwa ada kebaikan dari program-program interfaith yang mereka lakukan di sini, di masjid maupun di negeri-negeri lainnya.  Untuk enam batang lilin, orang Yahudi itu akhirnya masuk Islam. Kalian tidak tahu berapa banyak orang yang akan masuk Islam melalui program interfaith oleh para Muslim yang menunjukkan keramahannya kepada non-Muslim.  Itu akan membawa manfaat besar bagi banyak pihak, karena kita harus berdoa agar Allah memberi hidayah kepada semua orang. Nabi (saw) ingin agar umatnya masuk Surga. Tentu saja orang-orang ini adalah bagian dari Ummat an-Nabi (saw), baik dari Ummat al-Ijaabah, yaitu mereka yang menerima seruannya Nabi (saw) atau dari  Ummat ad-Da`wah, yaitu mereka yang telah diserukan untuk masuk ke dalam Islam namun masih belum menerimanya. Tentu saja Nabi (saw) ingin agar mereka masuk Islam setiap saat.

Orang-orang ini memberikan hibah untuk masjid dan menyumbang di sana sini seperti orang Yahudi yang memberikan enam batang lilin dan Allah memberinya Cahaya Surgawi.  Jika kalian menyalakan lilin di bulan Ramadan, akan ada pahala yang besar bagi Ummat an-Nabi (saw) dan apa itu?

Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) bertanya kepada Nabi (saw) untuk memberi informasi kepada kita mengenai pahala dari puasa Ramadan.  Jika mereka bangun di bulan Ramadan menurut adab dari bulan tersebut, tanpa menggunjing, tanpa berbuat curang dan tidak berbohong dan tidak melakukan segala perilaku buruk yang kalian lakukan dalam kehidupan kalian, jika mereka mengikuti adab Ramadan menjaganya, maka Ramadan tersebut yarmud adz-dzunuub, menghapuskan dosa.  Allah akan menjadikan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya Nabi (saw), ja`ala min kulli kalimat kharajat min famihi laylat al-mi`raaj bahran muwakkalan `alayhaa malaaikat laa y`alamu `addadahum illa Huwa fa idzaa jaa ramadhan `alaa ummatii araa tilka al-malaaikati tahmil dzunuuba ummatii wa yakuunuhaa fii [tidak jelas] kamaa yahmil al-janaza ila maqaabir fi ‘d-dunya yaa abaa bakr.

Beliau bersabda, “Orang yang menjaga Ramadan dengan segala prinsip-prinsip, etika dan adab, pada malam di mana Allah mengundangku ke Qaaba Qawsayni aw Adnaa, pada hari itu Allah menjadikan setiap kata yang aku ucapkan sebagai samudra ilmu.”  Allah menciptakan sebuah Surga khususnya untuk kata-kata dalam hati Nabi (saw) dan kata-kata yang telah diucapkannya tanpa huruf dan bunyi; Nabi (saw) memahami kata-kata tanpa bunyi dan juga kata-kata dengan bunyi. Tanpa bunyi Allah mewahyukan ke dalam hati Nabi (saw) tanpa tulisan dan Nabi (saw) dapat memahami apa yang Allah kirimkan kepadanya.

Beliau (saw) bersabda, “Dari mulutku, apa pun kata-kata yang keluar tanpa huruf atau bunyi, Allah menciptakan samudra ilmu dan meletakkan malaikat-malaikat yang tak terhingga di samudra itu dan ketika Ramadan tiba, aku melihat dosa-dosa umatku dibawa oleh para malaikat ini dan kemudian dilemparkannya ke dalam samudra-samudra itu dan akan menghapuskan dosa-dosa mereka sepenuhnya.”  Itu akan dibukakan bagi hati mereka dari setiap kata yang beliau (saw) ucapkan dan kita tidak tahu ada berapa kata yang beliau ucapkan, yang dari sana Allah (swt) memberikan samudra-samudra ilmu kepada Nabi (saw) yang dikendalikan oleh para malaikat dan tidak ada yang tahu berapa jumlahnya.

Beliau (saw) bersabda, “Ketika Ramadan tiba, aku melihat para malaikat mengambil dosa-dosa dari umatku dan melemparkannya ke dalam samudra-samudra itu dan mereka akan muncul dengan bersih suci pada Hari Perhitungan .”  

Sekarang masih Ramadan, jadi mari kita hindari menempatkan diri kita dalam masalah akibat menggunjing, melakukan kecurangan dan seterusnya, dan berusahalah sebaik mungkin untuk menerima dari bulan suci ini, di mana sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari keduanya adalah maghfirah, dan sepuluh hari terakhirnya adalah `itqun min an-naar.

Semoga Allah (swt) mengampuni dan memberkahi kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://sufilive.com/Adab-in-the-Naqshbandi-Tariqah-8–5934.html

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Bagaimana Cara untuk Berada dalam Hadirat Spiritual Mawlana Syekh Nazim (q)

The Secret of How To Be in the Spiritual Presence of Mawlana Shaykh Nazim.   YouTube

Syekh Nour Kabbani
Chicago, Illinois; 20 Februari 2016

 

A’udzubillaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulilaahi Rabbi ‘l-`alamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidina Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin
Destur yaa Sayyidi, yaa Sulthaanul Anbiya
Destur yaa Sayyidi, yaa Sulthaanul Awliya
Destur yaa Sayyidi, Mawlana Syekh Nazim (q)
Destur yaa Sayyidi, Yaa Qutbal Mutasharrif
Yaa Rijalallaah…

[tawassul]

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Kita semua ingin terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) dan Mawlana Syekh Nazim (q) mengajari kita bagaimana cara melakukannya.  Sekarang kita dapat terhubung dengan mursyid kita dan kita dapat salat dengannya, kita dapat bersamanya secara spiritual dan itu adalah sebuah rahasia yang diungkapkan oleh Mawlana Syekh Nazim (q).  Jadi, bagaimana caranya untuk dapat terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) sekarang?  Mawlana Syekh Nazim (q) telah pergi ke alam berikutnya.  Bagaimana cara agar terhubung dengannya, beliau sudah mengatakan bagaimana cara melakukannya.   Beliau berkata, pertama-tama Mukmin harus mengetahui apakah amal terbaik yang dapat dilakukannya dan  melalui amal itulah tercipta koneksi kepada Mawlana Syekh Nazim (q).  Dan itu adalah amal yang sangat sangat mudah dilakukan bagi para pecinta Mawlana Syekh Nazim (q) dan pecinta seluruh awliya yang tadi kita sebutkan nama-namanya.

Seluruh awliya, 124.000 wali, seluruh Nabi—jika kita ingin terhubung dengan mereka, kita ingin salat bersama mereka, kita ingin berada dalam hadirat spiritual bersama mereka, kedua-duanya dapat kita lakukan sekarang, kita akan melakukannya malam ini dan kita akan melakukannya besok.  Dan kita dapat melakukannya setiap malam dan setiap hari dan Mawlana Syekh Nazim (q) telah mengajari kita caranya.

Beliau berkata bahwa para Wali, para Nabi dan Mukmin yang telah pergi ke alam berikutnya, khususnya orang yang membawa rahasia dan cahaya; dan telah menyebarkannya di dalam kehidupan ini, ketika mereka pergi ke alam berikutnya, Allah membusanai mereka dengan atribut dari ayat suci fii sabilillaahi amwaatan bal ahyaaun `inda rabbihim yarzaquuna, mereka hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki.  (QS 3:169).  Itulah rahasia dari ayat itu, “hidup”.  Mawlana Syekh berkata bahwa bila mereka hidup, bila kita hidup kita harus melakukan salat kita, kita harus melakukan puasa kita, kita harus melakukan ibadah kita.  Ketika orang telah pergi ke alam berikutnya, semua itu berhenti kecuali satu hal yang diperintahkan dan diwajibkan bagi mereka.  Awliya yang telah pergi ke alam berikutnya, para Nabi yang telah pergi ke alam berikutnya, semua orang saleh, para syekh yang telah pergi ke alam berikutnya mempunyai kewajiban untuk melakukan satu hal dari dunia ini.  Dan satu hal yang tidak hilang itu adalah Shalatul Fajr, salat di waktu Subuh.  Mereka diperintahkan—semua Syekh, semua Awliya, semua Anbiya, semua orang saleh, mereka diperintahkan, ketika mereka telah pergi ke alam berikutnya—dikarenakan rahasia dari ayat tersebut bahwa mereka hidup di Hadirat Tuhannya dan mendapat rezeki—mereka diperintahkan untuk melakukan salat Fajr bersama Nabi (saw).

Dan Nabi (saw) setiap subuh, beliau salat di Baitul Ma’mur, di Ka’bah di Surga.  Ka’bah pernah diangkat pada saat banjir (Nabi Nuh) dan diangkat ke Surga dan itu disebut Baitul Ma’mur dan di sanalah para malaikat dan makhluk spiritual berdoa dan salat kepada Tuhannya, Allah (swt)—Tuhan kita.  Jadi beliau, Mawlana Syekh berkata, “Semua Wali, semua Nabi, segala kewajibannya berhenti ketika mereka telah pergi ke alam berikutnya, kecuali saat Subuh mereka harus melakukan salat di belakang Nabi (saw) di Ka’bah Surgawi, di Baitul Ma’mur, Ka’bah di Surga.”  Dan beliau berkata, “Mereka yang telah pergi ke alam berikutnya, para Nabi dan para Wali berada di belakang Nabi (saw) dan orang-orang yang masih hidup di dunia ini, mereka diwajibkan untuk menjalani perjalanan secara spiritual ke Surga ke Ka’bah Surgawi tersebut dan melakukan salat bersama para Anbiya dan Awliya di belakang Nabi (saw), tetapi mereka diperintahkan untuk tetap mempertahankan fisik mereka, kehadiran mereka di dunia bersama kita, tetapi hakikatnya berada dalam hadirat Nabi (saw) bersama para Anbiya dan Awliya.

Dan beliau—Mawlana mengatakan, “Jika kita salat Subuh berjamaah Allah (swt) akan menciptakan seorang malaikat yang berdoa untuk kita di Surga di belakang Nabi (saw), di belakang para Awliya, di belakang para Syekh, di belakang para Anbiya. Jadi kita akan hadir bersama mereka setiap pagi.  Siapa pun yang ingin terhubung secara spiritual dengan Mawlana Syekh Nazim (q) harus bangun untuk melakukan salat Subuh dan pergi ke masjid.  Jika kalian ingin terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q), jika kalian ingin terhubung dengan Sidi `Abdul Qadir al-Jilani (q), jika kalian ingin terhubung dengan Sidi Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q), jika kalian ingin terhubung dengan Sidi ad-Dasuqi (q), jika kalian ingin terhubung dengan Sidi al-Badawi (q), dengan Sidi Ali al-Hujwiri (q), kita bangun pada saat Subuh, kita salat berjamaah; jika kalian dapat melakukannya di rumah secara berjamaah juga baik, tetapi bila kita pergi ke masjid, itulah sulitnya, karena tidak ada yang mau untuk bangun dari tempat tidurnya lalu pergi dengan mobilnya untuk pergi ke masjid untuk salat Subuh berjamaah.  Dan di sanalah tempat kita kehilangan hubungan dengan mursyid kita.

Mawlana berkata—dan saya melihatnya sendiri ketika saya mengunjungi Mawlana Syekh Nazim (q) di Siprus; saya hadir di sebuah kamar dan beliau berbicara dengan dua orang.  Beliau mengatakan kepada orang itu bahwa orang kedua datang ke hadirat Mawlana Syekh Nazim (q) setiap pagi dan mereka ada yang datang berkunjung dan ada yang tinggal di Siprus.  Orang yang datang berkunjung itulah yang terhubung bersama Mawlana Syekh Nazim (q) setiap pagi.  Dan orang yang terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) setiap pagi itu selalu menyebut namanya setiap pagi dan ia selalu berusaha untuk melakukan salat Subuh berjamaah di masjid.  Jadi Mawlana Syekh Nazim (q) menkonfirmasi hal itu.  Dan saya ada di situ, saya menyaksikannya.  Beliau berkata, “Orang ini terhubung denganku setiap pagi.”  Beliau berkata “setiap pagi” padahal orang itu tidak tinggal di Siprus.  Orang yang tinggal di Siprus dan salat bersama Mawlana setiap pagi—tetapi orang itu tidak tinggal di sana, tetapi ia menyebut nama Mawlana setiap hari dan berusaha untuk salat Subuh berjamaah setiap hari di masjid.  Itulah yang seharusnya kita lakukan: bangun dan pergi ke masjid untuk salat Subuh.  Kita pergi ke masjid untuk salat Subuh, kalian akan terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) dan Syekh-Syekh lainnya; Nab-Nabi lainnya yang mempunyai kewajiban untuk salat di belakang Nabi (saw) setiap waktu Subuh di Baitul Ma’mur.  Dan kita sebagai Muslim biasa, bila kita melakukannya, Allah (swt) akan menciptakan seorang malaikat—sebagai wakil bagi kita, yang mewakili kita untuk salat di belakang Nabi (saw) dan mursyid kita mengatakan bahwa pahala dari salat di belakang Nabi (saw) tersebut akan dituliskan dalam buku catatan amal kalian.  Dan itu adalah untuk orang yang ingin terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q).

Ketika kita berada di dalam shaf di masjid, kalian melihat orang yang berada di sebelah kalian.  Dan kalian dapat bersalaman dengan mereka dan kalian bisa mengucapkan salam kepada mereka.  Sama halnya ketika kita berada di dalam shaf di belakang Nabi (saw) kita juga terhubung dengan semua ruh di sana, para Awliya, Malaikat dan Anbiya.  Jadi triknya adalah bagun pada saat Subuh, lalu masuk ke mobil dan pergi ke masjid.  Jika kalian mampu melakukannya, artinya kalian terhubung dengan mereka, secara spiritual kalian berada di sana.  Bahkan jika kalian tidak merasakannya, tetapi kalian ada di sana.

Hal kedua yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q) adalah bahwa jika kalian melakukan salat Isya dengan jemaah, sekarang kita akan membicarakan salat Isya berjamaah.  Jika kalian melakukan salat Isya berjamaah di masjid; kalian bisa melakukan salat Isya di rumah dengan jemaah, tetapi sekali lagi, beliau menekankan di masjid, karena itu sulit, ego tidak mau pergi, terutama untuk Isya dan Subuh.  Karena Nabi (saw) bersabda di dalam hadits bahwa yang tersulit untuk orang-orang munafik adalah kedua salat ini: salat Isya dan salat Subuh.  Orang munafik tidak mau pergi ke masjid; tetapi mereka datang untuk Zhuhur, Ashar dan Maghrib, mengapa?  Karena saat itu kalian sudah bangun, kalian sudah melakukan pekerjaan rutin kalian sehari-hari, sehingga tidak menjadi masalah—tetapi untuk Isya dan Subuh tidak.

Beliau berkata, “Barang siapa yang melakukan salat Isya di masjid, ia akan salat di belakang Abu Bakar ash-Shiddiq (r).”  Ia salat di belakang ash-Shiddiq (r), dan di belakang beliau adalah para Sadaat an-Naqsybandi, para wali Naqsybandi.  Dan untuk orang-orang yang salat Isya di masjid, Mawlana mengatakan bahwa Allah menciptakan malaikat dari Cahaya-Nya yang akan mewakili kalian, mewakili kita di hadapan Allah di belakang ash-Shiddiq (r).  Salat Isya di belakang ash-Shiddiq (r) jika kita pergi ke masjid dan salat Subuh di belakang Nabi (saw) jika kita pergi ke masjid.  Dan Mawlana Syekh Nazim (q) berkata bahwa ini adalah jihadul akbar.  Jika kita hanya melakukan hal ini, salat  Isya berjamaah dan salat Subuh berjamaah, itu adalah jihad al-akbar, di mana kalian menempatkan ego di antara dua kutub.  Kalian meletakkan ego di antara Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) setelah Isya dan kalian meletakkan ego setelah Subuh di belakang Nabi (saw).  Jadi, meletakkan ego di antara dua kutub, bagaikan kalian meletakkan sekeping logam di antara kedua kutub magnet, dia tidak dapat melarikan diri.  Ego itu terbelenggu, terbatas gerakannya karena sekarang ia berada di antara kutub Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r), setelah Isya berjamaah dan  kutub Sayyidina Muhammad (saw) setelah Subuh berjamaah.

Mawlana mengatakan bahwa barang siapa yang terus melakukan hal itu, salat Isya berjamaah di masjid dan salat Subuh berjamaah  di masjid, ia akan mencapai jihad al-akbar, ia akan mencapai keselamatan dari hegemoni egonya (nafs).  Itulah rahasia untuk membebaskan belenggu di sekeliling kita karena ego, dunia, hawa dan setan.  Untuk membebaskan diri dari belenggu tersebut kita harus melakukan jihadul akbar melalui salat Isya berjamaah di masjid dan salat Subuh berjamaah di masjid.  Kita salat mengikuti ash-Shiddiq (r) dan kita salat mengikuti Nabi (saw).  Dan beliau mengatakan bahwa seluruh Wali yang telah pergi ke alam berikutnya, mereka semua melakukan salat Subuh di belakang Nabi (saw), sedangkan orang yang masih hidup, mereka berada di antara dua alam, secara fisik bersama kita dan secara hakikat bersama mereka.  Dan kita, jika kita salat seperti itu, mengikuti seorang Imam di masjid, dan kita katakan—sebagaimana yang diajarkan oleh Mawlana Syekh Nazim (q), kita harus mengatakan, ketika kita memasuki Hadirat Ilahi untuk salat, kita harus mengatakan, “Wahai Tuhanku, aku telah memasuki majelis Haqq, aku telah memasuki hadirat Haqq, dan aku telah menempatkan diriku di belakang imam yang hadir di Hadratillah.”  Dengan demikian salat kita akan langsung terhubung dengan Yang Maha Esa di Hadratillah.  Kita salat di belakang seorang imam di masjid, tetapi kalian tidak tahu apakah ia terhubung.

Jadi Mawlana berkata bahwa ini adalah amal terbaik yang dapat dilakukan oleh kita semua, yaitu Salat Subuh di masjid dan segala sesuatu akan menjadi mudah bagi kita selama hari itu, karena kita sudah memulainya dengan Salat Subuh.  Tetapi rahasia untuk terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q) adalah itu.  Jika kalian mampu bangun dari tempat tidur kalian, lalu pergi ke masjid dan Salat Subuh, kalian terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q).  Kalau tidak, kalian tidak dapat terhubung, tetapi ini adalah jalan yang lebih mudah, ini adalah jalan yang cepat.  Dan mereka semua salat di belakang Nabi (saw) pada saat Subuh.

Kita memohon kepada Allah agar dikaruniai kekuatan untuk melakukan hal itu.  Ini sangat berat bagi ego.  Ini sangat berat, tetapi kita memohon agar Allah memasukkan kita sebagai orang-orang yang melakukan salat secara spiritual di belakang semua Anbiya dan Awliya di belakang Nabi (saw), Imam kita, Imamul Anbiya, Imamul Awliya.  Dan juga bagi kita, Naqsybandi, untuk salat di belakang Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) di waktu Isya.  Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami untuk mampu melakukannya, berikan kekuatan untuk melakukannya, berikan kesehatan untuk melakukannya yaa Rabbi, berikan kekayaan untuk melakukannya yaa Rabbi, berikan kemampuan untuk melakukannya yaa Rabbi, dan berikan cinta dan dorongan untuk melakukannya yaa Rabbi untuk melakukan salat Isya di belakang Ash-Shiddiq (r) secara berjamaah di masjid dan salat di belakang Nabi (saw) pada saat Subuh secara berjamaah di masjid yaa Rabbi, bi hurmatil Habib bi hurmatil Fatihah.