Berkah yang Luar Biasa dari Memberikan Donasi untuk Masjid

Seri Ramadan 2015, Vol 15

Shaykh Hisham Kabbani

 

5 Juli 2015, Zawiyah Fenton, Michigan

Shuhbah Zhuhur (2)

 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu’l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyaadhah, nawaytu ‘s-saluuk, fii hadza ‘l-masjid

 

أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Athii`uullaaha wa athii`uu ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum.

Patuhi Allah, patuhi Rasul dan patuhi para ulil amri (pemimpin) di antara kalian. (Surat an-Nisa, 4:59)

As-salaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Alhamdulillah bahwa di bulan Ramadan ini kita telah mencapai Nikmat Allah (swt), dan di bulan Ramadan tentu saja orang menjadi haus, tetapi Allah menginginkan agar mereka haus sehingga di Hari Perhitungan mereka tidak kehausan.  Jadi bagi mereka yang berpuasa selama 17-18 jam akan memperoleh kenikmatan untuk tidak kehausan pada hari tersebut. Jadi para awliyaullah, semua fokus mereka adalah pada awraad yang mereka berikan kepada para pengikut mereka, agar mereka tidak dihisab dan mereka tidak kehausan.  Yang saya maksud “dihisab” di sini adalah sebagaimana sabda Nabi (saw) kepada Sayyida `Aisyah (ra),

من حوسب عذب

(Wahai `Aisyah!) Barang siapa yang dihisab, pasti akan mendapat azab. (Bukhari)

Beliau menyebut “dzarrah,” yaitu partikel terkecil yang ada di alam semesta ini.  Orang-orang biasanya menggunakan ukuran atom; kebaikan apa pun yang dilakukan seseorang akan dihitung dengan berat atom, tetapi “dzarrah” adalah partikel terkecil yang dapat diketahui.  Sekarang orang-orang mengatakan bahwa quarks lebih kecil (daripada atom).  Jadi sekecil apa pun kebaikan yang telah mereka lakukan, Allah (swt) akan membusanai mereka dengan Busana Surgawi.  Jadi pada Hari Perhitungan, orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah karena perbuatan mereka di dunia akan dikenali melalui bintang-bintang kebaikan ini.  Allah akan memberi petunjuk dan membusanai mereka dengan maghfirah pada Hari Perhitungan.

Saya telah menceritakan tentang kisah Sayyidina Ibrahim ad-Dasuqi (q), agar tidak menyia-nyiakan waktu kalian dengan meninggalkan awraad kalian, karena awraad sebagaimana yang beliau katakan pada saat itu adalah bagaikan sebuah lilin yang diletakkan dan dinyalakan di dalam masjid.  Awraad bagaikan lilin yang menyala yang akan memberikan cahaya kepada diri kalian dan juga orang lain. Oleh sebab itu, jadilah seperti lilin, yang bersinar di tengah kegelapan.

Beliau memberi contoh tentang Sayyidina Ahmad al-Badawi (q).  Beliau mengatakan bahwa pada suatu hari Sayyid Ahmad al-Badawi (q), salah satu dari kelima Qutub pada saat itu, sedang melewati sebuah jalan dan beliau bertemu dengan seorang Yahudi yang menyapanya.  Orang itu membawa sejumlah lilin di tangannya dan ia berkata, “Wahai Imam.” Pertama, lihatlah bagaimana ia menyapa Sayyidina Ahmad al-Badawi (q), ia tidak mengatakan, “Wahai Bapak,” karena ia mengenali bahwa beliau adalah seorang Imam, yang artinya ada sesuatu di dalam hatinya.  Kita ini adalah orang-orang yang lalai, kita tidak bisa mengatakan hal itu kepada seseorang.

Kita tidak suka mengatakan, “Wahai Imam,” untuk mengangkat derajat seseorang, tetapi orang Yahudi tersebut mengatakan, “Wahai Imam, aku ingin memberikan lilin-lilin ini kepadamu untuk diletakkan di dalam masjidmu.”  Ia memberikan enam batang lilin kepada Imam Ahmad al-Badawi untuk diletakkan di dalam masjid agar orang-orang dapat melihat satu sama lain.

Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Engkau menyangkal agama kami dan engkau tidak menyukai Nabi kami meskipun beliau (saw) menerima Sayyidina Musa (as) dan Sayyidina `Isa (as), namun engkau datang kepadaku untuk menyerahkan enam lilin ini untuk di masjid?”

Beliau adalah Qutub sedangkan orang Yahudi itu adalah orang biasa; di mana pada saat itu orang-orang Yahudi, Muslim dan Kristen tinggal berdampingan.

Orang Yahudi itu berkata, “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Hari Perhitungan.  Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku atau agamaku, barangkali aku akan mendapat manfaat dari lilin-lilin ini, barangkali aku akan diselamatkan dari kesulitan besar di Hari Perhitungan.”

Ketika ia mengatakan hal itu, Sayyid Ahmad al-Badawi (q) menerima lilin-lilin tersebut, padahal sebelumnya beliau sempat mempertanyakannya, tetapi beliau melihat ada perubahan di dalam hatinya ke arah kebenaran, bukannya menyangkal atau berbohong, jadi beliau menerima keenam lilin tersebut dan meletakkannya di dalam masjid dan menyalakannya di setiap penjuru di sekeliling mihrab di mana beliau mengajar.  Orang itu memberikan enam batang lilin. Sekarang perhatikan, ada 6.666 ayat dalam kitab suci al-Qur’an ya kan? 6.666. Allah menciptakan Langit dan Bumi dalam enam hari.

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء

“Dan Dialah yang menciptakan Langit dan Bumi  dalam enam hari.” (Surah Hud, 11:7)


Ada 114 Surat, di mana 1+1+4=6. “Enam” mempunyai makna yang istimewa.  Beliau menyalakan lilin-lilin itu dan meletakkannya di dalam masjid, kemudian beliau menyampaikan ajarannya sampai lilin-lilin itu menjadi redup saat matahari terbit, kemudian lilin itu pun padam.  Beliau meninggalkan masjid, tetapi hatinya berkata, “Pasti ada sebuah `ibrah dari perbuatan orang Yahudi itu.”

Allah berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki. (Surat al-Qasas, 28:56)

 

Allah ingin agar setiap orang masuk Islam terlepas dari agama mereka, karena,

 

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُُ

Agama di sisi Allah adalah Islam (tunduk pada Kehendak-Nya). (Surat Aali-`Imraan, 3:19)

 

Wa li kulli wajhi muwalihaa. Allah membuat arah bagi setiap orang, sebuah shiraath, jalan, thariqah, madzhab, seorang ulama dan seorang pemandu, orang yang memberi petunjuk.

 

وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

Bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. (Surat Ar-Ra`d,13:7)

 

Dia menjadikan pemandu bagi setiap orang, karena Dia tidak ingin ada orang yang mengatakan, “Allah tidak memberkahiku dengan seorang pemandu.”  Tidak, ada pemandu, ada Sahabat (ra), Rasul dan para Anbiya yang membimbing umat; jadi Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Pasti ada sesuatu di dalam hati orang itu, aku akan melihatnya,” dan beliau mempunyai kekuatan khariqa, yang dapat bergerak seperti laser yang menembus segala sesuatu; dan beliau melihat bahwa orang itu mempunyai karomah di dalam hatinya, yang begitu tercerahkan sehingga ia hanya perlu sedikit saja untuk menjadi Muslim.  Oleh sebab itu tanpa melihat melalui kekuatan spiritualnya, dan hanya menggunakan kekuatan fisiknya, Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) berkata, “Orang ini telah memberi kebaikan untuk kita, terima kasih.” Kemudian tiba-tiba beliau mendapat ilham, “Lihatlah dirinya dengan kekuatan yang Aku berikan kepadamu,” dan awliyaullah mempunyai kekuatan semacam itu.  Beliau lalu melihat bahwa dari masjidnya cahaya lilin itu terpancar hingga ke Bayt al-Ma`muur; Itu adalah cahaya petunjuk yang menunjukkan bahwa orang itu harus dibimbing untuk masuk Islam!

Allah (swt) memberi kekuatan kepada Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) untuk melihat bahwa orang Yahudi itu telah diterima sehingga beliau harus memberinya Syahadat atas kebaikannya memberikan lilin-lilin itu untuk masjid sehingga orang-orang dapat melihatnya ketika beliau sedang menyampaikan ajarannya.  Kemudian beliau mendengar suara yang berkata kepadanya, “Wahai Ahmad! Kabar gembira! Aku telah mengubah orang Yahudi itu menjadi Muslim karena kebaikan yang telah diberikannya untuk masjid.”

Dikatakan bahwa jika seseorang menyalakan sebatang lilin di bulan Ramadan, pada Hari Perhitungan Allah akan memberinya sepuluh lilin dari Bayt al-Ma`muur, bukannya lilin fisik, tetapi Dia akan memberikan sepuluh pelangi cahaya yang indah dari Asmaul Husna wal Sifaat-Nya sebagai sebuah donasi untuk menunjukkan Kemurahan-Nya atas sebatang lilin di bulan Ramadan, jadi jika kalian menyalakan 30 batang lilin, kalian akan meraih keberhasilan, kalian akan diberi hasanaat selama 30 hari dikalikan 10 sehingga menjadi 300 hasanaat dari dalam Bayt al-Ma`muur yang tidak diketahui oleh siapa pun!

Sekarang di Mekah, ketika mereka membuka Ka`bah, orang-orang akan melompat ke dalamnya bahkan untuk mengambil sebuah batu untuk mendapat keberkahan.  Lalu bagaimana menurut kalian ketika Allah (swt) akan membusanai kalian dengan Cahaya dari Bayt al-Ma`muur, dari Langit Keempat, karena donasi kalian untuk masjid?  Allah akan menyukai kalian melebih orang lain karena kalian telah memberikan sesuatu yang besar untuk orang-orang yang mengelola masjid tersebut. Dia mengatakan bukan hanya ketika orang memberi donasi, di sini dikatakan “lililn,” tetapi itu adalah sebuah donasi.  Jadi ketika seseorang memberikan sebatang lilin atau memberi donasi ke masjid, pada saat sakaratul maut, Allah akan memerintahkan Malaikat Maut untuk membawa sepuluh lilin dari Bayt al-Ma`muur dan meletakkannya di kuburnya dan ia akan memperoleh fadilahnya di Akhirat di mana hatinya bersinar dengan Cahaya Surgawi tersebut, dan bukan hanya itu, Allah (swt) akan memberinya Cahaya untuk kuburnya, yang akan menjadi bagian dari Surga, sebagaimana Nabi (saw) bersabda,

 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ

Di dalam kubur ada sebuah taman dari Taman-Taman Surga atau parit dari Neraka. (Sunan at-Tirmidzi)

Jadi donasi untuk masjid adalah seperti itu, dan haddith wa laa haraj, berbicara tanpa akhir mengenai pahala yang diberikan kepada orang-orang yang menyumbang untuk masjid.  Orang Yahudi tadi menjadi Muslim karena cahaya dari hati Imam Ahmad al-Badawi (q) dipantulkan pada hatinya.  Jadi saya katakan di sini bahwa ada kebaikan dari program-program interfaith yang mereka lakukan di sini, di masjid maupun di negeri-negeri lainnya.  Untuk enam batang lilin, orang Yahudi itu akhirnya masuk Islam. Kalian tidak tahu berapa banyak orang yang akan masuk Islam melalui program interfaith oleh para Muslim yang menunjukkan keramahannya kepada non-Muslim.  Itu akan membawa manfaat besar bagi banyak pihak, karena kita harus berdoa agar Allah memberi hidayah kepada semua orang. Nabi (saw) ingin agar umatnya masuk Surga. Tentu saja orang-orang ini adalah bagian dari Ummat an-Nabi (saw), baik dari Ummat al-Ijaabah, yaitu mereka yang menerima seruannya Nabi (saw) atau dari  Ummat ad-Da`wah, yaitu mereka yang telah diserukan untuk masuk ke dalam Islam namun masih belum menerimanya. Tentu saja Nabi (saw) ingin agar mereka masuk Islam setiap saat.

Orang-orang ini memberikan hibah untuk masjid dan menyumbang di sana sini seperti orang Yahudi yang memberikan enam batang lilin dan Allah memberinya Cahaya Surgawi.  Jika kalian menyalakan lilin di bulan Ramadan, akan ada pahala yang besar bagi Ummat an-Nabi (saw) dan apa itu?

Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) bertanya kepada Nabi (saw) untuk memberi informasi kepada kita mengenai pahala dari puasa Ramadan.  Jika mereka bangun di bulan Ramadan menurut adab dari bulan tersebut, tanpa menggunjing, tanpa berbuat curang dan tidak berbohong dan tidak melakukan segala perilaku buruk yang kalian lakukan dalam kehidupan kalian, jika mereka mengikuti adab Ramadan menjaganya, maka Ramadan tersebut yarmud adz-dzunuub, menghapuskan dosa.  Allah akan menjadikan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya Nabi (saw), ja`ala min kulli kalimat kharajat min famihi laylat al-mi`raaj bahran muwakkalan `alayhaa malaaikat laa y`alamu `addadahum illa Huwa fa idzaa jaa ramadhan `alaa ummatii araa tilka al-malaaikati tahmil dzunuuba ummatii wa yakuunuhaa fii [tidak jelas] kamaa yahmil al-janaza ila maqaabir fi ‘d-dunya yaa abaa bakr.

Beliau bersabda, “Orang yang menjaga Ramadan dengan segala prinsip-prinsip, etika dan adab, pada malam di mana Allah mengundangku ke Qaaba Qawsayni aw Adnaa, pada hari itu Allah menjadikan setiap kata yang aku ucapkan sebagai samudra ilmu.”  Allah menciptakan sebuah Surga khususnya untuk kata-kata dalam hati Nabi (saw) dan kata-kata yang telah diucapkannya tanpa huruf dan bunyi; Nabi (saw) memahami kata-kata tanpa bunyi dan juga kata-kata dengan bunyi. Tanpa bunyi Allah mewahyukan ke dalam hati Nabi (saw) tanpa tulisan dan Nabi (saw) dapat memahami apa yang Allah kirimkan kepadanya.

Beliau (saw) bersabda, “Dari mulutku, apa pun kata-kata yang keluar tanpa huruf atau bunyi, Allah menciptakan samudra ilmu dan meletakkan malaikat-malaikat yang tak terhingga di samudra itu dan ketika Ramadan tiba, aku melihat dosa-dosa umatku dibawa oleh para malaikat ini dan kemudian dilemparkannya ke dalam samudra-samudra itu dan akan menghapuskan dosa-dosa mereka sepenuhnya.”  Itu akan dibukakan bagi hati mereka dari setiap kata yang beliau (saw) ucapkan dan kita tidak tahu ada berapa kata yang beliau ucapkan, yang dari sana Allah (swt) memberikan samudra-samudra ilmu kepada Nabi (saw) yang dikendalikan oleh para malaikat dan tidak ada yang tahu berapa jumlahnya.

Beliau (saw) bersabda, “Ketika Ramadan tiba, aku melihat para malaikat mengambil dosa-dosa dari umatku dan melemparkannya ke dalam samudra-samudra itu dan mereka akan muncul dengan bersih suci pada Hari Perhitungan .”  

Sekarang masih Ramadan, jadi mari kita hindari menempatkan diri kita dalam masalah akibat menggunjing, melakukan kecurangan dan seterusnya, dan berusahalah sebaik mungkin untuk menerima dari bulan suci ini, di mana sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari keduanya adalah maghfirah, dan sepuluh hari terakhirnya adalah `itqun min an-naar.

Semoga Allah (swt) mengampuni dan memberkahi kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

http://sufilive.com/Adab-in-the-Naqshbandi-Tariqah-8–5934.html

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Jangan Jadikan Masjid sebagai Arena Politik

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Khotbah Jumat, Masjid al-Iman, Oakland, California; 3 Januari 2003

Wahai Mukmin, wahai Muslim, wahai orang-orang beriman.  Alhamdulillah bahwa Allah telah menciptakan kita dan membimbing kita kepada Islam dan menjadikan kita sebagai bagian dari umat Nabi (saw).  Jika Dia menjadikan kita sebagai umatnya Musa (as) apa yang dapat kita lakukan?  Tidak ada.  Jika kita menjadi umatnya `Isa (as) apa yang dapat kita lakukan?  Tetapi Dia menjadikan kita sebagai umatnya Nabi (saw).

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kuntum khayra ummatin ukhrijat li-naas ta’muruuna bi ’l-ma‘aruufi wa tanhawna `ani al-munkari wa tu’minuuna billahi wa law aamana aahlu al-kitabi lakaana khayran lahum minhumu ’l-mu’minuuna wa aktsaruhumu ’l-faasiquun

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [3:110]

Dia menjadikan kita bagian dari umat tersebut.  Menjadikan kita berada di bawah nikmat tersebut, “wa maa arsalnaaka illa rahmatan.”  Dia menjadikan kita berada di bawah orang yang digambarkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.  Jika kita berasal dari umat lainnya, kita akan menderita karena tidak termasuk bagian dari umat Nabi (saw).  Penderitaan semacam apa?  Penderitaan pada Hari Kiamat. Karena Ummat an-Nabi hiya ummatan marhuma, umat yang mendapatkan rahmat.  Dan rahmat itu telah dijamin.  Umat Nabi (saw) akan menjadi umat pertama yang masuk Surga.[1]

Apakah rahmat itu karena kita atau karena beliau (saw)?  Jika itu adalah karena kita, mengapa kita tidak patuh?  Jika kita memohon siang dan malam untuk menjadi bagian dari umat Nabi (saw), bahkan jika seluruh manusia meminta, hanya karena karunia-Nyalah yang menjadikan kalian sebagai bagian darinya.  Itu bukan karena amal kalian.  Nikmat itu bukan dari amal kalian.  Bila kita tidak diberi apa-apa selain karunia itu, itu saja sudah cukup untuk membuat kita bahagia.

Lalu mengapa dengan semua rahmat dan nikmat yang Dia berikan kepada kita, kita masih mengeluh dan tidak patuh?  Mengapa kita tidak patuh?  Mengapa manusia tidak patuh?

Ia tidak patuh, karena ia mematuhi dirinya sendiri.  Karena nafs-nya–egonya memintanya untuk patuh pada dirinya dan bukan mematuhi Penciptanya.  Itulah sebabnya kalian tidak patuh.  Ego kalian mengatakan kepada kalian, “Lakukan ini!” dan kalian melakukannya.  Allah mengatakan kepada kalian, “Lakukan ini… “ tetapi kalian tidak melakukannya.

Kalian patuh dengan apa yang kalian cintai.  Kalian tidak patuh pada apa yang tidak kalian cintai.

Ketidakpatuhan memberi bukti pada kalian bahwa cinta kalian tidak sempurna.  Saya tidak ingin mengatakan bahwa cinta kalian adalah palsu, karena kita adalah orang yang dhaif.  Kalian harus berusaha.  Tetapi kalian lebih banyak patuh pada diri sendiri daripada patuh kepada Allah.  Itulah sebabnya orang-orang menjadi tersesat.

Nabi (saw) tidak pernah tersesat.  Mengapa kita tidak mengikuti jejak Nabi (saw) agar kita tidak tersesat?  

Satu-satunya yang perbuatannya menyesatkan adalah Iblis.  Jadi bila kita tersesat berarti kita mengikuti Iblis.  Berapa kali Iblis tidak patuh?  Seratus kali, sejuta kali, atau satu kali?

Jawabannya adalah satu kali.  Dan berapa kali kita tidak patuh?

Terlepas dari hal ini, kita datang dan mengatakan, “Aku harus dipanggil dengan sebutan ‘Imam’,” “Aku harus dipanggil ‘Syekh’”  “Aku harus dipanggil ‘Yang Mulia’”.  

Kalian tidak pantas mendapatkannya.  Kalian pantas mendapatkannya bila Allah memberikan sebutan itu kepada kalian.  Sebutan-sebutan dari manusia tidak ada nilainya.  Hanya sebutan dari Allah yang bernilai.  Jika orang-orang menyebut kalian ‘Imam’, ‘Syekh’, ‘Raja’, itu tidak ada nilainya.  Kalian menjadi orang penting dalam pandangan manusia, tetapi bagaimana hal itu akan menolong kalian di akhirat?  Ia tidak dapat menolong kalian!

Jadi masalah kita sekarang, di masyarakat kita dan di seluruh dunia adalah bahwa kita ingin dihormati.  Tidak ada yang lain.

Jika Allah tidak mendukung kalian, kalian tidak akan menjadi apa-apa.

Mereka katakan, kami melakukan domonstrasi, kami menentang pemerintah, menentang ini, itu.  Apa pun yang kalian lakukan, jika Allah tidak menghendaki untuk berhasil, maka kalian tidak akan berhasil.  Lalu mengapa kita tidak berhasil?  Apakah kita berada di jalan yang haqq atau batil?  Jika kita berada pada yang haqq, mengapa kita tidak berhasil?

Allah berfirman:

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“qad ja’a al-haqqa wa zahaqq al-baathila inna al-baathila kaana zahuuqa.”

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” [17:81]

Lalu mengapa Muslim di seluruh dunia tidak berhasil?  Namun demikian, mereka terus mengadakan konferensi, seminar, mendatangkan para pembicara, dan melakukan demonstrasi dan mengkritik.  Tetapi kalian tetap tidak berhasil.  Pasti ada yang sesuatu yang salah.  Sesuatu yang tersembunyi di dalam qalbu, sesuatu yang tersembunyi.  

Apakah itu?  Itu adalah arogansi.  Arogansi tersembunyi.  Kalian ingin menjadi yang terbaik, kalian tidak ingin mengakui bahwa kalian adalah orang yang berdosa, bahwa kalian harus menjaga kepala kalian dalam posisi sujud agar Allah mengubah diri kalian.

Mereka mengajari orang, sejak kanak-kanak, sesuatu yang tidak pernah kita pelajari di kampung halaman kita.  Mereka tidak pernah mengatakan, dalam bahasa Arab, “Ana fakhuur bi nafsii”- “Aku bangga dengan diriku sendiri.”  Di sini mereka mengajari orangtua untuk berkata pada anak-anaknya, “Aku bangga padamu.”  Kalian bangga.  Bangga terhadap apa?  Kata ‘bangga’ itulah yang membuat Iblis diusir dari Surga.

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Qaala ana khayrun minhu khalaqtanii min naarin wa khalaqtahu min tiin
Ia [Ibliis]  berkata, “Aku lebih baik daripadanya karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”  [38:76]

“Aku lebih baik daripadanya.”  Kata “lebih baik” itu adalah sebuah kesalahan.

Apakah kalian pernah mendengar Nabi (saw) bersabda, “Aku adalah yang terbaik; aku yang terhebat!”  Tidak pernah.  Nabi (saw) selalu tawaduk dan beliau mengajarkan kerendahan hati.

Wahai Muslim, masalah kita di seluruh dunia adalah bahwa kita harus mengubah cinta kita dan cara ibadah kita.  Kita harus kembali pada tradisi kita, kembali pada jalan yang diajarkan oleh Nabi (saw) dan para Sahabat.

Ada berapa Sahabat di sana; di Dar al-Arqam ketika wahyu pertama diturunkan?  Ada berapa?  Lima, sepuluh?  Namun demikian mereka dapat menaklukkan dunia.

Saya pernah berkunjung ke Asia Tengah, dekat perbatasan Cina.  Salah satu sepupu Nabi (saw), Qutsam ibn `Abbas (ra), beliau membawa seluruh daerah di sana ke dalam Islam.  Beliau tidak berbicara dalam bahasa Cina, beliau tidak bicara dalam bahasa Rusia.  Beliau hanya bisa berbahasa Arab.  Segera setelah beliau tiba di sana, orang-orang mulai masuk Islam.  Bagaimana beliau melakukannya?  Melalui konferensi, film, televisi, atau video?  Dengan membelanjakan jutaan petrodollar?  Sekarang dengan film dan televisi, kalian juga tidak bisa berdakwah, hanya sedikit yang masuk Islam.

Dulu mereka membawa masa ke dalam Islam.  100.000 atau 200.000 orang – seluruh kota masuk Islam.  Cahaya Islam ada dalam qalbu mereka, cahaya Iman ada dalam qalbu mereka, itulah yang membuat orang menerima Islam.

Sebagaimana Nabi (saw) menggambarkan agama terdiri atas tiga tingkatan, yaitu: Islam, Iman, Ihsan.  Mereka biasa melaksanakan kelima kewajiban, tetapi sebagai tambahan, mereka melakukan lebih banyak lagi.  Qalbu mereka penuh cahaya, menarik orang kepada mereka.  Hal itu karena mereka melakukan ibadah tambahan.  Sekarang sebagian orang mengeluh dan mengatakan tidak ada yang namanya ibadah tambahan itu.

Bagaimana Sayyidina `Umar (ra) sanggup berbicara dari Madinat al-munawaarah kepada panglima perangnya Sariya.  Apakah Sayyidina `Umar (ra) di Syam?  Beliau bukanlah nabi.  Beliau adalah seorang khalifah Nabi (saw).  Allah memberinya kemampuan itu.  Beliau mampu melihat musuh yang akan menyerang Sariya dari belakang sehingga beliau memanggilnya dan memberinya peringatan, dari jarak 2000 kilometer.  Karamah itu adalah sebuah tanda bahwa Sayyidina ‘Umar (ra) mempunyai dua karakteristik Iman, yaitu: penglihatan dan pendengaran.  Haqiqat Pendengaran– ‘Ilm al-Yaqiin dan ‘Ayn al-Yaqiin, bukan hanya Pendengaran, tetapi juga Haqiqat Penglihatan.

Karakteristik pertama adalah seperti orang yang mempunyai sebuah audio tape.  Tetapi ketika kalian mempunyai video, itu lebih kuat – itu membawa kalian kepada Haqq al-Yaqiin.  Banyak orang tidak melihat pada ajaran Islam tradisional ini lagi.

Perbedaannya adalah bahwa Sariya hanya mampu mendengar, beliau tidak melihat Sayyidina `Umar (ra), tetapi beliau mampu mendengarnya, dari jarak jauh, sementara Sayyidina `Umar (ra) mampu melihat, mendengar dan berbicara.

Orang-orang yang patuh pada Allah dan patuh pada Nabi (saw), mereka sungguh mengikuti Sunnah.  Allah berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

In kuntum tuhibuun Allah, fa-tabi‘uunii yuhbibkumullah wa yaghfir lakum dzunuubakum w’Allahu ghafuurun rahiim

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [3:31]

Mereka mengikuti jejak Nabi (saw) dan dengan mengikutinya, Allah memberi mereka kekuatan.

Mereka mampu membawa orang-orang dalam jumlah besar ke dalam Islam.

Mereka tidak punya televisi, tidak punya film, tidak ada petrodollar, tidak ada buku-buku.  Tetapi mereka mampu membawa jutaan orang ke dalam Islam.  Mereka berjalan dengan cahaya dalam qalbu mereka.  Itulah Maqam al-Ihsan yang disebut dalam hadits Jibril (as) sebagai “Untuk menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.”  Ini sangat transparan, sangat halus.  Itu artinya ada kemungkinan untuk melihat-Nya.  Kalian tidak dapat melihat-Nya, tetapi kalian dapat melihat Tanda-Tanda-Nya.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Sa-nuriihim ayaatina fil-afaaq wa fii anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu al-haqqu awa lam yakfi bi rabbika annahu `ala kulli syay’in syahiid”

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala cakrawala (ufuk) dan pada diri mereka sendiri.”  [41:53]

Dia menyebutkannya di dalam al-Qur’an, “Di mana Tanda-Tanda-Ku?”  Bukan di dalam buku-buku.  Bukan pada satelit.  “Aku akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda di cakrawala.” Itu artinya, “Jika mereka membuka mata mereka, Aku akan memberi mereka kekuatan untuk menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.”  Seseorang yang diberikan kekuatan itu, jika ia melihat, apakah menurut kalian ia akan melihat apa yang kalian lihat?  Kita tidak melihat apa-apa, kita hanya melihat hidung kita.  Jika mereka melihat, mereka mampu melihat jauh.

Sayyidina `Umar (ra) dapat melihat jauh.  Sayyidina Muhammad (saw) dapat melihat dan menyaksikan jauh.  Mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk menarik orang-orang ke dalam Islam.  Mereka menarik tanpa bicara.  Orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak ada lagi sekarang, mereka salah.  Awliyaullah ada hingga Hari Kiamat.  “alaa awliya-ullahi laa khawfun `alayhim wa la hum yahzanuun.”

Dan tidak semua Muslim adalah Mukmin.  Tidak setiap Mukmin adalah Wali.

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Qaalat il-‘Arabu aamana qul lam tu’minuu wa laakin quuluu aslamna. Wa lamma yadkhuli al-iimanu fii quluubikum wa in tuthii`uu Allaha wa rasuulahu laa yalitkum min a`malikum syay’an inna Allaha ghafuurun rahiim.

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  [49:14]

“Katakanlah ‘Kami telah menjadi Muslim.’” Seorang Muslim adalah orang yang mengatakan, “Aku percaya pada Keesaan Allah.”  Itu adalah tingkatan tauhid.  Itu adalah tingkatan Muslim, Islam: siapa pun yang percaya bahwa Allah tidak punya sekutu dan Nabi (saw) adalah Rasul penutup.  Kalian dapat menjadi Muslim, tetapi bukan seorang Mukmin.  Seorang Mukmin lebih sempurna.  Dan Muhsin ada di puncak, telah sampai pada puncaknya.

“karena iman belum memasuki qalbu-mu.”

Jika iman telah masuk ke dalam qalbu kita, barulah kita dapat mengubah kegelapan menjadi cahaya, kebatilan menjadi kebenaran.  Kebatilan akan musnah dan yang haqq akan muncul.  Hingga kita mencapainya, kita akan menderita.  Kita memohon kepada Allah agar tidak membuat kita menderita.

Allah mencintai Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

Inna ’d-diin ‘inda-Allahi ’l-Islam. – “Agama di Sisi Allah adalah Islam…” [3:19]

Lalu mengapa non-Muslim mendapat dukungan sedangkan Muslim tidak?  Setiap tahun 2-3 juta orang pergi menunaikan haji.  Kita melakukan shalat kita, kita puasa, kita membayar zakat, kita menunaikan haji.  Mengapa kita tidak berhasil?  Itu artinya ada sesuatu yang salah.

Apa itu?  Hubbud-dunya, cinta dunia.

Karena kita adalah Muslim, dan kita mencintai dunia, Allah ingin mensucikan diri kita di dunia.  Jadi Dia menjaga kita tetap di bawah.  Itu adalah proses pembersihan, seperti halnya mesin cuci.  Jika kalian mempunyai baju-baju kotor, kalian akan membersihkannya di mesin cuci.

Sucikan dulu diri kalian.  Jika kita tidak mensucikan diri kita, kita tidak akan pernah berhasil.

Nabi (saw) bersabda, “Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan, angkatlah seseorang di antaranya sebagai amir.”[2]   Bagaimana sekarang amir itu menjadi lebih tirani daripada tiran.  Bahkan pada tiga orang.  Jika kita memilih seseorang untuk berkonsultasi dan memberi nasihat, dan membuatnya bertanggung jawab, ia menjadi lebih tirani daripada tiran.  Itu adalah hubb al-riasa.  Kecintaan untuk menjadi orang yang memegang jabatan, menjadi presiden, menjadi pucuk pimpinan.

Ada sebuah kisah mengenai seseorang di masa lalu ketika orang-orang saleh dengan uangnya akan meletakkan keran air di luar rumah sehingga orang lain dapat mengambil air dan juga minum dari sana.  Orang menyebutnya sabiil dalam bahasa Arab.  Ada juga tempat yang tidak ada airnya, namun ada seseorang yang mempunyai toko jual beli, ia meletakkan kendi-kendi air sehingga orang bisa datang dan minum di sana.

Pada suatu hari orang itu menjadi arogan.  Iblis berbisik di telinganya, “Semua orang terkenal, sementara engkau membagikan air itu.  Buatlah dirimu menjadi orang yang penting.”  Ia adalah orang yang sudah tua, jadi apa yang ia lakukan?  Ia mengecat semua kendinya dengan warna-warni yang berbeda-beda.   Ketika ada orang yang datang dan mengambil kendi itu untuk minum ia berkata, “Jangan!  Ambil yang hijau, jangan yang putih…”  Ia melakukan hal ini agar ia bisa memberi perintah.  Inilah masalah yang kita hadapi sekarang.  Setiap orang ingin terkenal dan menjadi sesuatu.  Itulah sebabnya kita menjadi orang yang merugi.  Allah berfirman, dan kami akan memberi penjelasannya nanti.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Wal-‘ashr, inn al-insaana lafii khusr.
Allah bersumpah, “Demi Masa!  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” [103: 1-2]

Tidak ada orang yang lebih zalim daripada orang yang mencegah dzikrullah di masjid.  Itu adalah sebuah ayat.  Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan “Lakukan ini, lakukan itu” di masjid.  Itulah sebabnya masjid-masjid di Amerika adalah yang terburuk, tetapi bukannya orang-orang yang melakukan shalat di sana, melainkan orang-orang yang mempunyai kuasa di masjid-masjid tersebut.  Itulah sebabnya tidak ada dukungan terhadap Islam di Amerika.  Apa pun yang mereka lakukan, mereka  tidak akan menang sampai mereka kembali ke tradisi mereka, kembali pada akidah dan perilaku islami, barulah Allah akan mendukung mereka.  Mereka menghalangi cahaya dzikir di masjid-masjid sehingga ayat tadi berlaku pada mereka.

Di dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, sebagaimana diriwayatkan oleh Nabi (saw), Man adzaa lii waliiyun adzaantahu bil harb. “Barang siapa yang menentang Wali-Ku, Aku nyatakan perang kepadanya.”

Itu terkait manusia biasa yang saleh, bagaimana menurut kalian mengenai orang yang menentang Nabi (saw)?  Saya tidak peduli dengan pendeta ini dan itu.  Orang-orang yang menanggapinya (pendeta tersebut–penerj.) adalah keledai.  Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.  Jangan tanggapi dia; sebab kalian akan membuatnya terkenal.  Seperti Salman Rushdie. Orang-orang membuatnya terkenal dengan memprotes bukunya.  Jika tidak ada orang yang berbicara tentangnya, tidak ada orang yang akan tahu tentang hal itu.

اللّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُوْلَـئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلاَّ خَآئِفِينَ لهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Wa man adzlamu mimman mana`a masajida Allahi an yudzkara fiiha ’smuhu wasa`a fii kharaabiha ula’ika maa kaana lahum an yadkhuluuha illa kha’ifiina lahum fii’d-dunya khizyun wa lahum fii al-aakhirati ‘adzaabun ‘azhiimun

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya?  Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. [2:114]

Yudzkara fiiha ’smuh artinya Nama Allah dan Nama Nabi (saw).

Itu artinya masjid harus terbuka selama 24 jam.

Mereka menempatkan ketua dewan pengurus.  Apa yang mereka ketuai?  Ketua urusan uang?  Buka pintunya dan biarkan orang keluar masuk untuk shalat.  

Allah mencegah hal itu.  “Barang siapa yang menentang Wali-Ku, Aku nyatakan perang kepadanya.”  Bagaimana dengan Nabi (saw)?

Orang-orang ini tidak mempunyai rasa malu atau khajal sama sekali di hadapan Nabi (saw).  Mereka “menyerang” Nabi (saw).  Ada beberapa penyerang terhadap Muslim yang sangat terkenal; ya, memang ada, tetapi Muslim menyerang Nabi (saw), wa haasya.

Mereka katakan bahwa beliau (saw) hanyalah seorang manusia yang mendapatkan wahyu.  Mereka tidak mengerti makna dari ayat.  Mereka katakan ini bid’ah, ini haram.  Itulah sebabnya hukuman Allah turun pada kita.  Karena kita berada pada yang haqq tetapi mengenakan busana batil.  Kita tahu bahwa Islam adalah yang haqq, tetapi kita tutupi dengan kebatilan pada diri kita.

Sekarang kalian takut untuk mengatakan bahwa kalian adalah seorang Muslim.  Mengapa?  Sekarang, bahkan di negara-negara Muslim, kalian tidak bisa pergi ke bandara dengan wajah yang berjanggut.  Mereka katakan, “Engkau adalah teroris.”  Kalian harus mencukur janggut kalian atau kalau tidak mereka akan menanyai kalian beberapa jam di bandara.  Dan mereka ingin protes di Amerika.  Bahkan di negara-negara Muslim, mereka tidak membiarkan kalian [menjalankan agama].

Apakah kalian terima hidup dalam situasi seperti itu atau kalian pulang ke kampung halaman.  Jika ia pulang ke kampung halaman dengan wajah berjanggutnya, mereka akan menghentikannya di al-Hijaz, Suriah, Libia, Aljajair, negeri-negeri teluk.

Jadi, jika orang-orang itu di sini, yang berpikir bahwa mereka adalah qayyimiin `ala umur al-Muslimiin, yang menegakkan urusan-urusan umat Muslim–melanjutkan apa yang mereka lakukan, mereka akan membuat seluruh umat Muslim terkena imbasnya.  Para “pemimpin” ini di Washington, dalam satu malam, mereka berhasil mengumpulkan dana 1 juta di Los Angeles.  Mereka membeli gedung seharga 8 juta dolar.  Mengapa?  Ke mana uang itu pergi?  Tidak masalah jika uang itu digunakan di jalan yang benar, tetapi jangan membahayakan umat Muslim dengan mengirim uang itu–ke mana, kita tidak tahu.

Masjid-masjid harus digunakan untuk ibadah.  Orang yang datang untuk beribadah, silakan datang.  Itulah sebabnya masjid-masjid besar tidak mempunyai berkah di sana.  Ia telah menjadi sebuah bisnis untuk mengumpulkan uang.  Salah satu masjid-masjid ini, sebuah masjid besar di sebuah daerah mengumpulkan semua uang tunai.

Kalian tahu apa yang mereka lakukan?  Mereka membuat toko dengan tiga gerai yang menjual rokok dan anggur untuk “mencuci” uang itu.

Dan Muslim tetap diam, tidak bicara apa pun, menutup mata mereka.  Itulah sebabnya kita menjadi target pemerintah dan kita berada dalam pengawasan.

Semoga Allah menyelamatkan kita!  Jagalah qalbu kalian agar tetap bersih, dan jangan berkonspirasi menentang diri sendiri dan orang-orang di sekitar kalian.  Jangan membuat strategi-strategi, serahkan itu kepada Allah.

Itulah sebabnya para Sahabat berhasil tetapi kita tidak berhasil.  Kita datang ke suatu tempat di mana tidak ada Islam di sana, tetapi kita tidak berhasil karena kita tidak berada pada yang haqq.

Kalian temukan di setiap masjid bahwa orang-orang berkonspirasi menentang satu sama lain.  [Mereka mengatakan satu hal, tetapi mengerjakan yang lain.]

Bagaimana menurut kalian jika hal itu terjadi di sebuah masjid kecil, lalu bagaimana dengan masjid besar?  Masjid-masjid itu menjadi pusat politik.  Mereka adalah orang-orang yang spesialiasinya di bidang politik.  Tetapi jangan menjadikan masjid sebagai forum politik.  Jika kalian ingin membuat sebuah kantor dan berpastisipasi di bidang politik, itu tidak masalah.  Tetapi mereka menjadikan masjid menjadi arena politik.  Mengapa membahayakan orang-orang yang tidak bersalah?  Pergilah dan deklarasikan sikap politik kalian di luar masjid dan orang-orang yang berminat akan mengikuti kalian.

Sekarang mereka mempunyai Dewan Pengawas, dan mereka bertemu di ruang-ruang kecil dan berdiskusi, “Bagaimana menentang pemerintah, bagaimana memerangi media.”  Bahkan di negeri-negeri Arab kalian tidak bisa bicara.  Selama tiga puluh tahun, atau empat puluh tahun kalian mempunyai presiden yang sama.

Lihatlah Libia.  Tahun 1969 ia memperoleh kekuasaan.  Sampai sekarang, berapa tahun untuk presiden yang sama?  Ay – apa.  Kalian menentang raja-raja dan keluarga kerajaan?!  Mereka mengatakan, “Kami menentang monarki.”  Itu adalah salah satu contoh di mana kalian membuatnya lebih buruk lagi.  Dan mereka semua sama.  Mengapa?  Karena Hubb ar-riyasa.  Mencintai posisi puncak, kursi tertinggi.  Mintalah mereka untuk menyerahkan kursinya, mereka tidak akan memberikannya.  Itu sudah seperti lem.

Sekarang di Kenya, untuk pertama kalinya pihak oposisi menang.  Di Indonesia, Suharto berkuasa selama 35 tahun.  Di negara lain juga, saya tidak ingin menyebutkan nama-nama mereka, atau bisa jadi saya akan dihentikan di perbatasan.

Karena orang-orang Amerika tidak tahu-menahu tentang Islam.  Mereka tidak diajarkan (tentang Islam).  Mereka pikir setiap orang adalah sama.  Itu adalah kesalahan dari Muslim yang mengatakan, “Setiap orang adalah sama.”  Mereka membuatnya sama.  Mereka mengatakan tidak ada hierarki di dalam Islam, jadi jika seseorang melakukan perbuatan yang salah, mereka membawa setiap orang (terlibat) ke dalamnya.

Alhamdulillah `ala kulli haal…

[1] “Umatku adalah umat yang dirahmati, tidak ada azab bagi mereka di akhirat.  Azabnya adalah di dunia, berupa fitnah-fitnah, gempa bumi dan pembunuhan.” Abu Dawud.

[2] Abu Dawud.

Sumber:
http://naqshbandi.org/teachings/sermons-khutab/dont-turn-mosques-into-political-centers/

Membangun Masjid untuk Allah (swt)

msh_q_61

“Nabi (saw) bersabda bahwa barang siapa membangun sebuah masjid untuk Allah (swt), Dia akan membangunkan baginya sebuah istana di Surga. Tidak hanya itu, jika seseorang menaruh sebuah batu bata untuk bangunan masjid itu karena ia tidak mampu menyumbang atau membangun sendiri sebuah masjid, batu bata tersebut akan menjadi saksi baginya di Hari Kiamat bahwa ia adalah bagian dari sebuah masjid.”

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia
http://www.naqsybandi.com