Shalawatnya para Malaikat

15977227_1218786238175727_8629781162530419386_n
 
Wahai Mukmin! Jika kalian tahu apa yang Allah simpan untuk kalian karena cinta kalian terhadap Nabi (saw), kalian akan meninggalkan (urusan) dunia ini dan pergi ke pegunungan dan hutan dan tidak peduli dengan apa pun! Perbanyaklah shalawat atas Nabi (saw) dan jangan malas melakukannya karena tidak ada sesuatu yang lebih menguntungkan.
 
Shalat kalian, puasa, zakat, haji dan tawhid adalah suatu kewajiban, tetapi shalawat adalah sunnah. Itu adalah anjuran dari Allah, “Jika kalian mau melakukannya, Aku akan memberi kalian apa yang tidak bisa kalian bayangkan.” Jika kalian tidak ingin melakukannya, itu terserah kalian, tetapi kalian adalah bagian dari Ummat an-Nabi (saw) jadi para malaikat akan melakukannya bagi kalian. Mengapa para malaikat bershalawat, apakah untuk mereka sendiri? Itu adalah untuk Ummat an-Nabi (saw)! Orang-orang yang bershalawat atas Nabi (saw) akan dihiasi dengan shalawatnya para malaikat.
 
Dapatkah kalian menghitung jumlah malaikat? Sekarang mereka sedang diciptakan dan di masa mendatang mereka juga akan diciptakan terus, non-stop. Jika kalian mengatakan bahwa tidak ada lagi malaikat yang diciptakan, itu adalah haram, karena para malaikat akan terus diciptakan dan mereka semua melakukan shalawat. Ayatnya jelas. Inna-Llaaha wa malaa’ikatahu yushalluuna `ala ‘n-nabiyy, yaa ayyuha ’Lladziina aamanuu shalluu `alayhi wa sallimuu tasliima. Mereka mempunyai awal karena hanya Allah saja yang tidak mempunyai Awal, tetapi para malaikat itu akan terus diciptakan tanpa henti seperti halnya manusia dan jin, yang juga mempunyai awal, tetapi mereka akan abadi, apakah di Surga atau di Neraka Jahannam.
 
Jadi, para malaikat itu mempunyai awal, tetapi tidak mempunyai akhir, dan untuk siapa shalawat mereka? (Pahala) shalawat itu akan diberikan kepada kalian, Ummat an-Nabi (saw).
 
Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Islam adalah Agama yang Cinta Damai

15823708_10154241203980886_1698848665646596367_n

Wahai Muslim! Apa yang kita lakukan? Kita telah melupakan agama kita, yaitu agama yang cinta damai. Mana bukti cinta itu yang disebutkan oleh Nabi ﷺ? Sayyidina `Umar (r) meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi ﷺ:

 
Ada orang-orang di antara hamba-hamba Allah yang bukan Nabi dan bukan pula syuhada. Pada Hari Kiamat, para Nabi dan Syuhada sangat senang untuk berjumpa dengan mereka sehingga mereka akan memeluknya karena melihat kedekatan mereka kepada Allah (swt), dan Dia akan membawa mereka begitu dekat. Mereka bukan Syuhada dan Anbiya, dan para Syuhada dan Anbiya akan berdiri dengan terheran-heran ketika melihatnya, dan mereka berkata, “Siapakah orang-orang yang berdiri di Hadratillah ini?” Dan para Sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, “Maukah engkau mengatakan kepada kami siapa orang-orang ini?” Dan Nabi ﷺ menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berkumpul bersama dan saling mencintai satu sama lain karena Allah.” (Ibn Hibban)
 
Mereka tidak melakukan apa-apa lebih dari itu, mereka saling mencintai satu sama lain, menciptakan masyarakat yang baik, kebudayaan yang baik, dan pemahaman yang baik satu sama lain, dan itulah sebabnya hati mereka hidup dan penuh dengan spiritualitas. Allah (swt) membawa orang-orang ini dekat kepada-Nya dan mereka dibawa bersama karena mereka saling mencintai satu sama lain, meskipun mereka tidak punya hubungan darah.
 
Seperti halnya kalian yang datang ke dalam pertemuan ini, kalian bukan sanak saudara satu sama lain. Mengapa kalian datang? Ada sesuatu yang membawa kalian ke sini, sebagaimana Nabi ﷺ menyebutkan bahwa Allah (swt) meletakkan sesuatu yang istimewa di dalam qalbu Sayyidina Abu Bakr (r). Jadi tidak ada hubungan darah di sini, tidak ada paman dan keponakan, kakak beradik. Kita berkumpul bersama-sama karena kita mencintai agama kita dan kita mencintai satu sama lain. Tidak ada urusan bisnis atau “manajemen bisnis” di antara mereka.
 
Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

15442282_10154179578675886_4930454683092899671_n

Wahai Muslim! Sayyidina Muhammad ﷺ memerintahkan kita untuk mencintai satu sama lain dan bertawaduk satu sama lain. Sombong dan takabur adalam karakteristik Iblis. Saya tidak berada di sini sekarang untuk mengajari kalian tentang agama kalian, astaghfirullah. Saya juga memerlukan seseorang untuk mengajari saya juga; saya juga adalah seorang murid. Saya tidak melihat diri saya sebagai apa-apa… saya ada di bawah sepatu orang-orang; saya berada di jejak kaki para Imam dan Syuyukh.
 
Saya berharap dan saya rida berada di bawah kaki Sayyidina Muhammad ﷺ! Ketawadukan adalah apa yang kita perlukan. Jika kita kehilangan ketawadukan, kita akan kehilangan kepedulian kita, persatuan kita dan kekuatan kita. Karena jika kita mempunyai ketawadukan, kita akan merasakan bahwa siapapun yang ingin duduk di kursi (memangku jabatan), biarkan ia mendudukinya. Saya akan berada di tempat sepatu, menyembunyikan diri saya, dan tidak berada di pintu utama; itu lebih baik, membiarkan orang lain mengambil tanggung jawab itu.
 
Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

msh_q_68

“Bacalah shalawat atas Nabi! Yaa Allah, kirimkanlah kedamaian dan berkah atas Utusan Allah! Wahai Rahmat bagi segenap alam, wahai Sang Pemberi Syafaat bagi mereka yang berdosa, wahai Ciptaan Pertama Allah dan Cahaya Ciptaan-Nya, Wahai Rasulallah!”

“Mencintai Nabi (saw) adalah kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah, bagi setiap Mu’min dan Mu’minah, dan bagi semua hamba-hamba Allah (swt): mereka harus mencintai Nabi (saw)! Jika mereka tidak mencintai Nabi (saw) berarti mereka berada di luar Islam. Cinta kita pada Nabi (saw)-lah yang akan menyelamatkan diri kita. Bagaimana cinta itu menyelamatkan kita? Hal ini sebagaimana apa yang telah disabdakan Nabi (saw) kepada seorang Badui, bahwa manusia akan dibangkitkan pada Hari Pembalasan nanti bersama orang yang mereka cintai. Kalian mencintai saya, kalian akan bersama saya. Kalian mencintai Muhammad (saw), kalian akan bersama Muhammad (saw).”

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia
http://www.naqsybandi.com

Seperti Apa Cinta Kita kepada Nabi ﷺ?

15380502_10154148162245886_2067036910128396315_n

Wahai Muslim! Kita tidak bisa datang dan menyatakan cinta kita kepada Nabi ﷺ dengan pembicaraan biasa saja. Bandingkan cinta kalian kepada Nabi ﷺ dengan cinta kalian terhadap anak kalian: jika kalian mempunyai cinta kepada Nabi ﷺ seperti halnya cinta kalian kepada anak kalian, maka kalian akan melihat Nabi ﷺ! Jika anak kalian sakit, malam hari kalian tidak tidur kan? Kalian akan terjaga semalaman untuk menjaga anak kalian, memberi obat agar ia menjadi lebih kuat, mampu berdiri dan pulih seperti semula. Itu artinya kita memerlukan obat untuk disuntikkan ke dalam tubuh kita agar kita mampu bangkit dan obat yang kita perlukan ini adalah perlakuan yang berbeda terhadap Nabi ﷺ!

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia
http://www.naqsybandi.com

Tunjukkan Cinta pada Orang-Orang, Bukannya Kebencian

15380517_10154144657390886_7670017410291351532_n

Mencintai seseorang adalah hal yang diterima dari kalian. Tunjukkan cinta pada orang-orang, bukannya kebencian. Hari ini, bukannya melihat pada mereka yang mencintai kita untuk meningkatkan cinta itu, kita justru melihat pada mereka yang membenci kita, yang hanya menambah kebencian itu saja! Cinta membawa kebahagiaan, sedangkan kebencian membawa bencana. Dan dalam diri kita ada terlalu banyak karakter-karakter buruk yang berbeda-beda.

Dalam suatu buku, saya menyebutkan tujuh belas macam akhlak tercela yang mesti kita hilangkan dari hati kita, dan akar utama akhlak-akhlak tercela tersebut adalah amarah. Ketika kalian marah, kalian pun akan menipu, berbohong, berkomplot dan memiliki niat jahat pada orang lain, dan kalian pun melakukan berbagai macam keburukan. Di zaman ini, dengan adanya begitu banyak energi negatif di sekeliling kita, orang-orang banyak terjerumus ke dalam amarah, depresi dan perilaku tercela. Cobalah untuk menghalangi hal-hal tersebut!

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia
http://www.naqsybandi.com