Khotbah Jumat Akhir Ramadhan

WhatsApp Image 2020-04-23 at 4.55.38 PM

Khotbah Jumat Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan; Jumat, 22 Mei 2020

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

[Adzan]

[Pendahuluan dalam bahasa Arabi]

Wahai orang-orang yang beriman, alhamdulillah kita sebagai Muslim, Mukmin, kita adalah pialang saham yang berbeda, kita adalah pialang saham untuk Akhirat.  Kita memperhatikan saham yang menguntungkan dan kita meninggalkan saham yang merugikan di Akhirat.  Allah (swt) mengirimkan kita pedoman, yakni al-Qur’anul kariim.  Al-Qur’anul kariim adalah pedoman bagi pialang saham Muslim. Orang yang menginginkan saham yang berkembang dan memberikan untung yang besar, mereka harus merujuk pada Qur’anul kariim dan Hadits Rasulullah (saw).  Dan keuntungan besar apa yang mereka berikan?  Tak terhitung!  

Berapa besar keuntungan orang yang menjadikan Qur’anul kariim sebagai pedoman dalam kehidupan ini dan dalam perniagaan ini?  Allah (swt) berfirman, 

Yā ayyuhalladzīna āmanụ hal adullukum `alā tijāratin tunjīkum min `adzābin alīm

Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (QS As-Shaff, 61:10) 

Allah (swt) menggunakan kata tersebut, tijaarah, saham atau perniagaan.  MasyaAllah non-Muslim telah menjadikannya halal bagi Muslim, dan Muslim mengatakan itu adalah halal, ok, kalian mempunyai ilmunya, kalian berniaga dengan saham tersebut, kalian mengambil tijaarah, perniagaan.  Allah (swt) menunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang lain, tijaarah yang lain.  

Tu’minuuna biallaahi walyawmi al-aakhiri, jika kamu beriman kepada Allah dari Hari Akhir, (QS An-Nisa`, 4:59)

Saatnya akan tiba di mana Allah (swt) akan memberi ganjaran kepada kita.  Allah akan mengganjar kita berdasarkan perniagaan yang telah kita lakukan.  Oleh sebab itu lakukanlah perniagaan qur’ani, juallah dunia untuk Akhirat.  Juallah yang fana untuk yang baqi, yang kekal.  Mukmin yang cerdas melakukan hal itu.  Mukmin yang tidak cerdas mengatakan, “Aku percaya, tetapi aku tidak puasa, aku tidak shalat, aku tidak ini, aku tidak itu.”  Pada akhirnya ia akan mengetahui siapa yang akan menuai hasil, siapa yang tidak.  Siapa yang mendapatkan tempat terhormat di hadapan Allah (swt) dan mendapatkan cinta dari Rasulullah (saw). Itulah yang penting.  Bukannya saham kalian yang naik 1 dolar, atau turun 2 dolar, kemudian kalian melakukan ini dan itu, itu tidak penting.  

Salah satu perniagaan yang penting adalah Laylat al-Qadr.  Dan saya membacakan sebuah hadits dari Awliyaullah, dan apa yang dikatakan oleh Awliyaullah adalah benar.  Sebagaimana yang diajarkan oleh guru kita, bahwa Awliyaullah, mereka dapat melihat nuur dari suatu hadits dan itu sudah cukup menunjukkan kesahihan hadits tersebut.  Jika Awliyaullah mendengar atau membaca atau melihat hadits dan mereka melihat cahaya yang memancar dari hadits tersebut, guru kita mengatakan bahwa itu artinya hadits tersebut adalah sahih, meskipun orang mengatakan bahwa itu dhaif (lemah), atau hadits palsu, tetapi selama Awliyaullah telah melhat cahaya dari hadits tersebut maka itu adalah hadits yang sahih.  

Dan Awliyaullah telah mengatakan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, “Barang siapa yang membaca innā anzalnāhu fī lailatil-qadr, Allah (swt) akan memberikan tsawaab, pahala puasa Ramadhan dan qiyam, shalat Laylat al-Qadr.”  Salah satu shalat yang dianjurkan oleh Awliyaullah adalah minimal shalat dua rakaat pada Laylat al-Qadr, yang tentu saja (waktunya) tersembunyi, oleh sebab itu kita melakukan shalat nafil (shalat sunnah) sepanjang bulan Ramadhan, tetapi dua rakaat dengan innā anzalnāhu dan tiga surat al-Ikhlash.  Dan ini adalah salah satu rahasia tersembunyi yang diberikan oleh Awliyaullah kepada Ummatul Habiib, agar mereka gembira, karena begitu banyak orang tidak mengetahui kapan terjadinya Laylat al-Qadr.   

Mereka katakan, “Bacalah Surat al-Qadr, bacalah innā anzalnāhu fī lailatil-qadr dari awal hingga akhir, yang terdiri dari 30 kata, setara dengan jumlah hari dalam bulan Ramadhan, dan salāmun hiya, hiya di sini artinya kedamaian, dan itu adalah kata ke-27 dari Surat al-Qadr.  

Jadi orang yang membaca Surat al-Qadr, Allah (swt) dengan Kemurahan-Nya akan memberi mereka tsawaab, pahala dari shalat Laylat al-Qadr dan puasa Ramadhan.  Jadi jangan terlalu gelisah atau sedih bahwa “Aku tidak mencapainya, aku tidak tahu kapan Laylat al-Qadr itu.”  Bacalah Surat al-Qadr dan Allah (swt) akan memberi kalian pahalanya; dan hadits ini disebutkan oleh Awliyaullah, dan kita percaya pada apa yang mereka katakan.  

Alhamdulillah kita sampai pada penghujung Ramadhan.  Malam ini adalah malam terakhir tarawih dan insyaAllah besok adalah hari terakhir puasa dan insya Allah hari Ahad adalah permulaan Ied.  

Dalam hadits lainnya, Al-Hasan (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, dan hadits ini disebutkan dalam Bayhaqi, bahwa setiap malam Allah (swt) akan memberikan pembebasan dari Api Neraka kepada ribuan dan ribuan Muslim, dalam hadits lainnya disebutkan sittiin alf, di hadits yang lain dikatakan alfu alf, tetapi yang jelas itu menunjukkan jumlah yang banyak.  Setiap malam Allah akan memberikan pembebasan kepada ribuan dan ribuan Muslim.  Ketika tiba pada malam terkahir, yaitu malam ini, malam terakhir tarawih dan besok laylatul ied, Allah akan memberikan pembebasan dari Api Neraka kepada orang-orang yang telah meninggal dunia.  

Jadi menurut hadits ini, sejak awal Ramadhan Allah telah membebaskan enam ratus ribu orang dari Api Neraka, malam berikutnya enam ratus ribu orang, malam berikutnya enam ratus ribu orang hingga malam terakhir, Allah akan memberikan bara’ah, pembebasan dari Api Neraka kepada seluruh orang yang telah meninggal dunia pada malam-malam sebelumnya.  Jadi besok, lakukanlah yang terbaik, mintalah ampunan kepada Allah.  Mintalah kepada Rasulullah (saw) untuk melakukan istighfaar atas nama kalian, katakanlah, “Yaa Sayyidi, yaa Rasulallaah (saw), aku datang kepadamu, sebagaimana yang diajarkan oleh guru kami, aku datang kepadamu yaa Sayyidi, aku telah berbuat banyak kesalahan, begitu banyak kebodohan, yaa Sayyidi yaa Rasulallah, aku datang kepadamu sebagaimana Allah telah mengarahkan diriku kepadamu untuk mengucapkan astaghfirullah dan engkau pun mengucapkan astaghfirullah atas namaku, sehingga Tuhanku akan mengampuniku.”  Lakukanlah hal itu, dan Allah (swt) akan mengampuni kalian.  

Pada malam Laylat al-Qadr, Allah (swt) mengatakan bahwa ruh dan malaikat akan turun.  Tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā, malaikat dan ruh turun pada malam ini.  Sebagian di antara Awliyaullah mengatakan bahwa yang dimaksud ruh tersebut adalah Malaikat Jibril (as), ia turun bersama para malaikat dan ia termasuk dalam rombongan malaikat tersebut, tetapi sebagian Awliya lainnya mengatakan bahwa ruh tersebut adalah malaikat yang berbeda.  

Para Awliya tersebut mengatakan bahwa ruh yang dimaksud adalah malaikat yang kepalanya tepat berada di bawah Arasy, sementara kakinya berada di Bumi ketujuh.  Malaikat itu bertasbih kepada Allah dua kali, yakni di pagi hari, ketika matahari terbit dan sore hari ketika matahari terbenam. Malaikat itu mempunyai seribu kepala, dan setiap kepala mempunyai seribu muka.  Di setiap muka terdapat seribu mulut, dan setiap mulut mempunyai seribu lidah dan dengan semua lidahnya itu, ia bertasbih kepada Allah dengan seribu macam tasbih yang berbeda-beda.  Setiap lidah mempunyai bahasa yang berlainan.  Pada malam Laylat al-Qadr, sebagian Awliya mengatakan bahwa malaikat tersebut turun bersama para malaikat lainnya.  

Apa yang dilakukannya?  salāmun hiya ḥattā mathla’il-fajr, sejak matahari terbenam hingga fajr, semuanya diliputi kedamaian hingga terbit fajr.  Ruh tersebut dengan semua lidah yang dimilikinya dalam seluruh mulut yang dimilikinya, pada seluruh muka yang dimilikinya, pada semua kepala yang dimilikinya akan memintakan ampunan, istighfar.  Ia akan memintakan ampunan bagi shaimin dan shaimat dari Ummatu Muhammad (saw). Ruh itu akan memintakan ampunan atas nama pria dan wanita yang berpuasa dari Ummatnya Nabi Muhammad (saw) hingga terbit fajar. 

Lihatlah bagaimana Allah (swt) memberi kenikmatan bagi orang-orang yang mengikuti perintah-Nya.  Di manakah perintah-Nya tersebut?  Di dalam buku pedoman, yakni al-Qur’aanul kariim, itulah buku perniagaan kita.  Jika kalian menginginkan hasil yang besar, bukalah al-Qur’aanul kariim dan ikuti perintah Allah (swt), dan hadits yang merupakan penjelasan dari kitab suci al-Qur’an melalui hati dan lisan yang mulia dari Rasulullah (saw).  Semoga Allah (swt) selalu menjadikan kita memegang teguh Sunnah Rasulullah (saw), memegang teguh ilmunya, mengikuti jejak Rasulullah (saw), para Sahabat dan ahlul bait menuju Hadirat Ilahiah-Nya.

[doa]  

Laylat al-Qadr di Masjid Ash-Shiddiq

IMG-20160814-WA0032

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Burton, Michigan, 24 Juli 2014

Shuhbah diikuti dengan Ziarah Rambut Suci Sayyidina Muhammad (saw), Syedna `Ali (ra) dan Syekh `Abdul Qadir al-Jilani (q)

 

Waktu hakiki dari Laylat al-Qadr adalah ketika kitab suci al-Qur’an diturunkan kepada Nabi (saw) di Mekah, jadi bagi mereka yang mengatakan bahwa Laylat al-Qadr adalah kemarin atau hari ini, mereka tidak mempertimbangkan bahwa Laylat al-Qadr adalah malam di mana kitab suci al-Qur’an diturunkan kepada Nabi (saw) di Mekah, dan di waktu yang sama untuk Madinah.  Jadi bagi kita di sini, kita memohon kepada Allah (swt) bahwa apa pun yang Dia kirimkan pada saat itu ke Mekah dan Madinah, Dia kirimkan juga kepada kita. Itulah sebabnya jika kalian melakukan adabnya pada hari ini atau kemarin, maka itu artinya berkah di atas berkah dan insya Allah kita akan meraih menfaat dari apa yang Allah turunkan kepada Nabi (saw) dan dari Nabi (saw) kepada Ummah dan dari kitab suci al-Qur’an, kita memperoleh manfaat dunia dan Akhirat! 

Waktu yang tepat untuk Laylat al-Qadr bukanlah Rabu atau Kamis, atau sehari sebelumnya atau setelahnya, atau pada waktu tertentu, itu bukanlah sejak tanggal 21 hingga 29 dari bulan ini, dan itu juga tergantung pada kapan kalian mulai berpuasa, ada yang mulai berpuasa satu hari sebelumnya atau satu hari setelahnya, jadi itu berbeda-beda.  Tetapi waktu hakikinya adalah waktu di Mekah dan Madinah, di mana kitab suci al-Qur’an diturunkan kepada Nabi (saw) waktu Mekah, yang juga waktu untuk Madinatu ‘l-Munawwarah `alaa sakini afdhaluu shalaatu wa ’s-salaam.

Jadi kita memohon kepada Allah untuk membusanai kita dengan apa yang telah Dia sandangkan kepada kaum Mukminin di seluruh dunia, membusanai kita dengan busana sejati dari Laylat al-Qadr.  Awliyaullah telah dibusanai, bukan menurut waktu kemarin atau sekarang, tetapi sejak awal malam ke-21 hingga malam ke-29, yakni pada malam-malam ganjil.  Ada tajali yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya setiap malam ganjil.  Malam ke-21 mempunyai tajali pada level tertentu, malam ke-23 pada level lainnya, malam ke-25 pada level lainnya, malam ke-27 dan 29 pada level lainnya, dan kita mengharapkannya, insyaAllah.  Tajali malam Laylat al-Qadr yang dilihat oleh para Awliyaullah pada setiap malam ganjil tidak seperti pada tahun-tahun sebelumnya.  

Jadi sejak malam ke-21 Ramadhan dan seterusnya ada Laylat al-Qadr untuk kelompok-kelompok Awliyaullah yang berbeda, dan alhamdulillah, dengan berkah syuyukh kita, Grandsyekh `AbdAllah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) dan Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil (q) dan dengan seluruh Syuyukh dari Tarekat lainnya, maka tajali Laylat al-Qadr akan disandangkan kepada para pengikutnya.  Sebagian orang mungkin akan melihat sesuatu, dan sebagian lagi tidak melihat apa-apa, itu tergantung pada kapasitas mereka apakah kalian dapat menerima Cahaya itu atau tidak.  Jika Cahaya itu dibukakan kepada sebagian orang, mereka akan larut akibat panasnya tajali dari Asmaul Husna wal Shifat!  Jadi malam ini kita mengikuti jejak mereka dengan melakukan dzikrullah dan insya Allah kita akan dibusanai dengan lebih banyak talaji hingga akhir Ramadhan.

[Khatm.]

http://sufilive.com/Entire_Laylatul_Qadr_Event-5598.html

© Copyright 2014 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

Pentingnya Malam Laylatu ‘l-Qadr

photo_2020-05-14_09-31-06

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

Khotbah Jumat

Fenton, MI; 24 Juni 2016

Wahai Muslim, wahai Mukmin,

Allah (swt) memberkahi kita dengan Syahru Ramadhan, dengan puasa, dan Dia berfirman Ash-shawmu li wa `ala ajibih, “Puasa adalah untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala untuk itu.” Shalat lainnya atau sesuatu yang ingin kalian lakukan sebagai ibadah nawafil adalah untuk kalian sendiri, untuk kebaikan kalian sendiri. Allah ingin mengatakan kepada kita bahwa “Kalian adalah hamba-hamba-Ku. Kalian berhenti makan sejak pagi hingga petang, Aku akan memberi ganjaran atas apa yang telah kalian lakukan. Tetapi Aku akan memberi lebih banyak lagi bila kalian berhenti menggunjing dan menyebarkan fitnah dan melakukan perbuatan dosa.”

Jadi Allah memberi kita Ramadhan, bulan penyucian diri, bulan tarawih. Mengapa Nabi (saw) melakukan shalat tarawih? Tidak ada yang tahu apa rahasia dari shalat tarawih, tetapi pasti ada sesuatu di bulan Ramadhan sehingga Nabi (saw) mengkhususkan shalat tarawih tersebut, yang pada saat itu dilakukan sebanyak 8 rakaat, kemudian Sayyidina `Umar (ra) memanjangkannya dan semua Sahabat setuju menjadi 20 rakaat. Ada apa di dalamnya? Ada apa di bulan itu yang tidak kita ketahui. Bulan itu pasti mempunyai sesuatu yang bersifat rohaniah. Sesuatu yang Allah bukakan kepada sebagian orang yang saleh dan ikhlas. Allah memberi mereka beberapa petunjuk. Dan para ulama, mereka menyatakannya di dalam banyak tafsir mereka.

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim

Poin penting pertama adalah bahwa Allah telah menurunkan al-Qur’an Suci kepada Nabi (saw) di bulan Ramadan. Dan Nabi (saw) mampu membawa kitab suci al-Qur’an sementara langit dan gunung tidak mampu membawa al-Qur’an Suci. Allah ingin menunjukkan Azhamah, Kebesaran al-Qur’an Suci.

Allah berfirman,

Law anzalnaa haadzaa al-Qur’aana `alaa Jabalin lara’aytahu khaasyi`an mutashaddi`an min khasy-yatillaahi

Jika Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, artinya jika Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada makhluk apa pun yang telah Kami ciptakan selain daripad Nabi (saw), segala sesuatu akan hancur terpecah belah, segala sesuatunya akan musnah. Tetapi kalbu Sayyidina Muhammad (saw) selalu berada di sana, selalu tangguh.

Law anzalnaa haadzaa al-Qur’aana `alaa Jabalin “Jika Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung,” Nabi (saw) lebih kuat dari gunung manapun, lebih kuat daripada alam semesta manapun. Itulah sebabnya Allah (swt) menurunkan al-Qur’an Suci kepada Sayyidina Muhammad (saw).

Innaa anzalnaahu fii laylati ‘l-Qadr

Sebelumnya Dia berfirman Law anzalnaa haadzaa al-Qur’aana `alaa Jabalin “Jika Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, ia akan hancur terpecah belah” Dalam Surat lainnya Innaa anzalnaahu fii laylati ‘l-Qadr “Tetapi Kami telah menurunkannya pada Malam Kemuliaan, secara khusus pada Malam Kemuliaan” Ada ada pada Malam Kemuliaan itu? Apakah Laylatu ‘l-Qadr itu? Ada penjelasan tersembunyi bahwa Allah telah menghadiahkan kepada Nabi (saw), bahwa Allah telah menurunkan al-Qur’an Suci pada malam itu.

Jadi bila kita melihat al-Qur’an Suci dan kita membaca Surat Innaa anzalnaahu fii laylati ‘l-Qadr, wa maa adraaka maa laylatu ‘l-Qadr, laylatu ‘l-Qadri khayrun min alfi syahr, tanazzalu ‘l-malaa’ikatu wa ‘r-ruuhu fiihaa bi ‘idzni rabbihim min kulli amr, salaamun hiya hattaa mathla`i ‘l-fajr

Berapa kali Dia mengulang kata Laylatu ‘l-Qadr dalam Surat tersebut? Tiga kali. Dan Laylatu ‘l-Qadr terdiri dari 9 huruf; 3 dikali 9 menjadi 27 huruf, benar bukan? Dan juga disebutkan hiya hattaa mathla`i ‘l-fajr. Imam Suyuthi mengatakan bahwa “hiya” kembali pada Laylatu ‘l-Qadr, dan ia terdiri dari 2 huruf, jadi ditambahkan dengan 27 huruf–hiya adalah 2 huruf, ditambahkan ke 27 menjadi 29 huruf. Jadi al-Qur’an telah diturunkan dalam 29 huruf alfabet, artinya setiap huruf mempunyai rahasia masing-masing.

Jadi kalian harus mempersiapkan diri kalian pada hari pertama bulan Ramadan; kalian harus mengetahui bahwa kalian sedang memasuki gua dari makna Laylatu ‘l-Qadr dan lambat laun gua itu akan terbuka bagi kalian karena kalian datang kepada Allah (swt), berlari menuju gua, fa firru illa’l-Laah, berlari kepada Allah (swt). Ketika kalian berlari menuju Allah (swt), kalian memulai puasa kalian, berlari menuju Allah dengan menghentikan diri kalian dari malakukan perbuatan buruk dan kalian mengimplementasikannya hingga sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan di mana kalian mempersiapkan diri kalian, awwaluhu rahmah, wa awsatuhu maghfirah, wa akhiruhu itqun minan naar. 10 hari pertama adalah rahmat, 10 hari kedua adalah maghfirah dan 10 hari ketiga adalah pembebasan dari api neraka.

Sekarang kita berada pada 10 hari terakhir dan kita melakukan adab Laylatu ‘l-Qadr pada hari-hari ganjil: 21, 23, 25, 27 dan 29. Barang siapa yang menjumpai Laylatu ‘l-Qadr itu lebih baik daripada beribadah selama 1000 bulan. laylatu ‘l-Qadri khayrun min alfi syahr, 1 malam lebih baik daripada 1000 bulan, artinya pada malam itu Allah telah menurunkan seluruh al-Qur’an ke dalam hati Nabi (saw), dan malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.

Jadi setiap orang yang berjumpa dengan Laylatu ‘l-Qadr atau ia masih melakukan awrad untuk Laylatu ‘l-Qadr dan membaca atau melakukan apa pun yang ia inginkan sebagai ibadah nawafil pada malam itu, itu merupakan suatu keberuntungan karena kalian akan diberi ganjaran oleh Allah (swt) dengan ganjaran yang diberikan kepada orang yang berjumpa dengan Laylatu ‘l-Qadr.

Nabi (saw), ketika Jibril (as) datang menemuinya pada malam Laylatu ‘l-Qadr sebelum Subuh. Itulah waktu di mana kita harus berkonsentrasi pada hari-hari yang akan datang di hadapan kita, untuk berhati-hati bagaimana kita akan berjumpa dengan mereka dan bagaimana kita harus berperilaku di hadapan hari-hari yang sangat berharga di dalam Islam.

Alhamdulillah kita berharap bahwa Allah (swt) merahmati kita pada 10 hari pertama karena Dia berfirman, awwaluhu rahmah, awalnya adalah rahmat, artinya awalnya adalah pembukaan bagi rahmatullah, dan rahmatullahwamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil `aalamiin, artinya Nabi (saw) akan mempertimbangkan orang-orang yang mengharapkan Laylatu ‘l-Qadr dan mengharapkan untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, sejak awal hingga akhir, akan diberi ganjaran 10 hari pertama seolah-olah kalian berada di antara hadirat Nabi (saw).

10 hari kedua, Allah (swt) ketika Dia mengirimkan rahmat-Nya pada kalian, Dia menyiapkan kalian untuk datang menuju maghfirah. Ketika kalian berada di bawah rahmat Allah, artinya semua dosa yang telah kalian lakukan akan dihapuskan oleh Allah (swt). Allah tidak melihat pada sesuatu yang kotor. Dia akan membersihkan kalian dengan mengucapkan astaghfirullah, jadi bagaimana menurut kalian apakah Dia tidak akan membersihkan kalian dengan puasa Ramadhan?

Jadi 10 hari kedua adalah maghfirah, Allah (swt) akan memberi kita maghfiratum minallah, Dia akan memberi kita pengampunan atas semua dosa kita dan mempersiapkan kita untuk itqun minan naar. Dan kita sekarang berada di 10 hari terakhir, di mana kita berada dalam itqun minan naar.

Allah (swt), Yawmul Qiyamah yunaadi, Allah (swt) pada Hari Kiamat Dia memanggil, ayna shaimuun–Allah Mahatahu–tetapi Dia ingin seluruh umat mendengar di mana orang-orang yang telah berpuasa selama hidupnya, biarkan mereka datang, dan semua orang yang telah berpuasa akan datang, dan diantar para malaikat Allah mengirim mereka ke sebuah pintu. Pintu itu adalah Jannatu ‘r-Rayyan. Pintu Surga ar-Rayyan, Surga khusus bagi orang-orang yang telah berpuasa, mereka akan masuk tanpa dihisab, tidak ada perhitungan bagi mereka. Allah dengan rahmat dan maghfirah-Nya akan mengirim mereka ke Surga.

Kita berharap bahwa Allah (swt) akan membawa kita pada rahmat-Nya dan Dia akan membusanai kita dengan rahmat dari Nabi-Nya, Sayyidina Muhammad (saw).

Aqulu qawli hadza wastaghfirullah al-azhiim lii walakum walisairil mustaghfirin….

http://sufilive.com/The-Importance-of-the-Night-of-Power-6227.html

© Copyright 2014 Sufilive. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Transkrip ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta Internasional. Mohon untuk menyebutkan Sufilive ketika membagi tulisan ini. JazakAllahu khayr.