Khotbah Jumat Akhir Ramadhan

WhatsApp Image 2020-04-23 at 4.55.38 PM

Khotbah Jumat Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan; Jumat, 22 Mei 2020

Assalamu`alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh, 

[Adzan]

[Pendahuluan dalam bahasa Arabi]

Wahai orang-orang yang beriman, alhamdulillah kita sebagai Muslim, Mukmin, kita adalah pialang saham yang berbeda, kita adalah pialang saham untuk Akhirat.  Kita memperhatikan saham yang menguntungkan dan kita meninggalkan saham yang merugikan di Akhirat.  Allah (swt) mengirimkan kita pedoman, yakni al-Qur’anul kariim.  Al-Qur’anul kariim adalah pedoman bagi pialang saham Muslim. Orang yang menginginkan saham yang berkembang dan memberikan untung yang besar, mereka harus merujuk pada Qur’anul kariim dan Hadits Rasulullah (saw).  Dan keuntungan besar apa yang mereka berikan?  Tak terhitung!  

Berapa besar keuntungan orang yang menjadikan Qur’anul kariim sebagai pedoman dalam kehidupan ini dan dalam perniagaan ini?  Allah (swt) berfirman, 

Yā ayyuhalladzīna āmanụ hal adullukum `alā tijāratin tunjīkum min `adzābin alīm

Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (QS As-Shaff, 61:10) 

Allah (swt) menggunakan kata tersebut, tijaarah, saham atau perniagaan.  MasyaAllah non-Muslim telah menjadikannya halal bagi Muslim, dan Muslim mengatakan itu adalah halal, ok, kalian mempunyai ilmunya, kalian berniaga dengan saham tersebut, kalian mengambil tijaarah, perniagaan.  Allah (swt) menunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang lain, tijaarah yang lain.  

Tu’minuuna biallaahi walyawmi al-aakhiri, jika kamu beriman kepada Allah dari Hari Akhir, (QS An-Nisa`, 4:59)

Saatnya akan tiba di mana Allah (swt) akan memberi ganjaran kepada kita.  Allah akan mengganjar kita berdasarkan perniagaan yang telah kita lakukan.  Oleh sebab itu lakukanlah perniagaan qur’ani, juallah dunia untuk Akhirat.  Juallah yang fana untuk yang baqi, yang kekal.  Mukmin yang cerdas melakukan hal itu.  Mukmin yang tidak cerdas mengatakan, “Aku percaya, tetapi aku tidak puasa, aku tidak shalat, aku tidak ini, aku tidak itu.”  Pada akhirnya ia akan mengetahui siapa yang akan menuai hasil, siapa yang tidak.  Siapa yang mendapatkan tempat terhormat di hadapan Allah (swt) dan mendapatkan cinta dari Rasulullah (saw). Itulah yang penting.  Bukannya saham kalian yang naik 1 dolar, atau turun 2 dolar, kemudian kalian melakukan ini dan itu, itu tidak penting.  

Salah satu perniagaan yang penting adalah Laylat al-Qadr.  Dan saya membacakan sebuah hadits dari Awliyaullah, dan apa yang dikatakan oleh Awliyaullah adalah benar.  Sebagaimana yang diajarkan oleh guru kita, bahwa Awliyaullah, mereka dapat melihat nuur dari suatu hadits dan itu sudah cukup menunjukkan kesahihan hadits tersebut.  Jika Awliyaullah mendengar atau membaca atau melihat hadits dan mereka melihat cahaya yang memancar dari hadits tersebut, guru kita mengatakan bahwa itu artinya hadits tersebut adalah sahih, meskipun orang mengatakan bahwa itu dhaif (lemah), atau hadits palsu, tetapi selama Awliyaullah telah melhat cahaya dari hadits tersebut maka itu adalah hadits yang sahih.  

Dan Awliyaullah telah mengatakan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, “Barang siapa yang membaca innā anzalnāhu fī lailatil-qadr, Allah (swt) akan memberikan tsawaab, pahala puasa Ramadhan dan qiyam, shalat Laylat al-Qadr.”  Salah satu shalat yang dianjurkan oleh Awliyaullah adalah minimal shalat dua rakaat pada Laylat al-Qadr, yang tentu saja (waktunya) tersembunyi, oleh sebab itu kita melakukan shalat nafil (shalat sunnah) sepanjang bulan Ramadhan, tetapi dua rakaat dengan innā anzalnāhu dan tiga surat al-Ikhlash.  Dan ini adalah salah satu rahasia tersembunyi yang diberikan oleh Awliyaullah kepada Ummatul Habiib, agar mereka gembira, karena begitu banyak orang tidak mengetahui kapan terjadinya Laylat al-Qadr.   

Mereka katakan, “Bacalah Surat al-Qadr, bacalah innā anzalnāhu fī lailatil-qadr dari awal hingga akhir, yang terdiri dari 30 kata, setara dengan jumlah hari dalam bulan Ramadhan, dan salāmun hiya, hiya di sini artinya kedamaian, dan itu adalah kata ke-27 dari Surat al-Qadr.  

Jadi orang yang membaca Surat al-Qadr, Allah (swt) dengan Kemurahan-Nya akan memberi mereka tsawaab, pahala dari shalat Laylat al-Qadr dan puasa Ramadhan.  Jadi jangan terlalu gelisah atau sedih bahwa “Aku tidak mencapainya, aku tidak tahu kapan Laylat al-Qadr itu.”  Bacalah Surat al-Qadr dan Allah (swt) akan memberi kalian pahalanya; dan hadits ini disebutkan oleh Awliyaullah, dan kita percaya pada apa yang mereka katakan.  

Alhamdulillah kita sampai pada penghujung Ramadhan.  Malam ini adalah malam terakhir tarawih dan insyaAllah besok adalah hari terakhir puasa dan insya Allah hari Ahad adalah permulaan Ied.  

Dalam hadits lainnya, Al-Hasan (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, dan hadits ini disebutkan dalam Bayhaqi, bahwa setiap malam Allah (swt) akan memberikan pembebasan dari Api Neraka kepada ribuan dan ribuan Muslim, dalam hadits lainnya disebutkan sittiin alf, di hadits yang lain dikatakan alfu alf, tetapi yang jelas itu menunjukkan jumlah yang banyak.  Setiap malam Allah akan memberikan pembebasan kepada ribuan dan ribuan Muslim.  Ketika tiba pada malam terkahir, yaitu malam ini, malam terakhir tarawih dan besok laylatul ied, Allah akan memberikan pembebasan dari Api Neraka kepada orang-orang yang telah meninggal dunia.  

Jadi menurut hadits ini, sejak awal Ramadhan Allah telah membebaskan enam ratus ribu orang dari Api Neraka, malam berikutnya enam ratus ribu orang, malam berikutnya enam ratus ribu orang hingga malam terakhir, Allah akan memberikan bara’ah, pembebasan dari Api Neraka kepada seluruh orang yang telah meninggal dunia pada malam-malam sebelumnya.  Jadi besok, lakukanlah yang terbaik, mintalah ampunan kepada Allah.  Mintalah kepada Rasulullah (saw) untuk melakukan istighfaar atas nama kalian, katakanlah, “Yaa Sayyidi, yaa Rasulallaah (saw), aku datang kepadamu, sebagaimana yang diajarkan oleh guru kami, aku datang kepadamu yaa Sayyidi, aku telah berbuat banyak kesalahan, begitu banyak kebodohan, yaa Sayyidi yaa Rasulallah, aku datang kepadamu sebagaimana Allah telah mengarahkan diriku kepadamu untuk mengucapkan astaghfirullah dan engkau pun mengucapkan astaghfirullah atas namaku, sehingga Tuhanku akan mengampuniku.”  Lakukanlah hal itu, dan Allah (swt) akan mengampuni kalian.  

Pada malam Laylat al-Qadr, Allah (swt) mengatakan bahwa ruh dan malaikat akan turun.  Tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā, malaikat dan ruh turun pada malam ini.  Sebagian di antara Awliyaullah mengatakan bahwa yang dimaksud ruh tersebut adalah Malaikat Jibril (as), ia turun bersama para malaikat dan ia termasuk dalam rombongan malaikat tersebut, tetapi sebagian Awliya lainnya mengatakan bahwa ruh tersebut adalah malaikat yang berbeda.  

Para Awliya tersebut mengatakan bahwa ruh yang dimaksud adalah malaikat yang kepalanya tepat berada di bawah Arasy, sementara kakinya berada di Bumi ketujuh.  Malaikat itu bertasbih kepada Allah dua kali, yakni di pagi hari, ketika matahari terbit dan sore hari ketika matahari terbenam. Malaikat itu mempunyai seribu kepala, dan setiap kepala mempunyai seribu muka.  Di setiap muka terdapat seribu mulut, dan setiap mulut mempunyai seribu lidah dan dengan semua lidahnya itu, ia bertasbih kepada Allah dengan seribu macam tasbih yang berbeda-beda.  Setiap lidah mempunyai bahasa yang berlainan.  Pada malam Laylat al-Qadr, sebagian Awliya mengatakan bahwa malaikat tersebut turun bersama para malaikat lainnya.  

Apa yang dilakukannya?  salāmun hiya ḥattā mathla’il-fajr, sejak matahari terbenam hingga fajr, semuanya diliputi kedamaian hingga terbit fajr.  Ruh tersebut dengan semua lidah yang dimilikinya dalam seluruh mulut yang dimilikinya, pada seluruh muka yang dimilikinya, pada semua kepala yang dimilikinya akan memintakan ampunan, istighfar.  Ia akan memintakan ampunan bagi shaimin dan shaimat dari Ummatu Muhammad (saw). Ruh itu akan memintakan ampunan atas nama pria dan wanita yang berpuasa dari Ummatnya Nabi Muhammad (saw) hingga terbit fajar. 

Lihatlah bagaimana Allah (swt) memberi kenikmatan bagi orang-orang yang mengikuti perintah-Nya.  Di manakah perintah-Nya tersebut?  Di dalam buku pedoman, yakni al-Qur’aanul kariim, itulah buku perniagaan kita.  Jika kalian menginginkan hasil yang besar, bukalah al-Qur’aanul kariim dan ikuti perintah Allah (swt), dan hadits yang merupakan penjelasan dari kitab suci al-Qur’an melalui hati dan lisan yang mulia dari Rasulullah (saw).  Semoga Allah (swt) selalu menjadikan kita memegang teguh Sunnah Rasulullah (saw), memegang teguh ilmunya, mengikuti jejak Rasulullah (saw), para Sahabat dan ahlul bait menuju Hadirat Ilahiah-Nya.

[doa]  

Kekuatan Penyembuhan Awliyaullah

92848440_523781051649174_4688627196439298048_n

Dr. Nour Kabbani
Seri Ramadhan hari ke-15
8 Mei 2020

Suatu ketika Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani menceritakan sebuah kisah kepada Grandsyekh Syekh Nazim. Pada masa Dinasti Tsar Rusia yang menjadi kepala dokter di sana adalah ayah dari Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani. Beliau banyak mempunyai medali kehormatan dari kaisar. Grandsyekh Abdullah mengatakan, “Wahai anakku tercinta, Nazim Effendi, Ayahku meninggal dunia ketika aku berumur dua belas tahun, tetapi aku masih ingat seluruh perlakuan yang diberikan Ayahku kepada pasien-pasiennya. Semua ilmu ini tersimpan di dalam hatiku. Setiap orang yang datang kepadaku dengan penyakitnya, aku mempunyai pengobatan untuknya, tetapi aku tidak dapat mengobati diriku sendiri.” Itu artinya, “Aku memerlukan seseorang yang dapat memberikan penyembuhan untukku.” Grandsyekh memerlukan Grandsyekhnya, beliaulah yang akan memberikan penyembuhan kepadanya.

Ini adalah masalah yang kita hadapi sekarang. Orang-orang mengatakan, “Bagaimana agar aku menjadi lebih baik lagi?” “Bagaimana aku dapat melakukan tazkiyatun nafs?” “Aku akan membaca buku-buku dan menemukan jalan untuk memurnikan diriku sendiri.” Grandsyekh mengatakan, “Tidak! Kalian tidak dapat melakukan hal itu. Kalian harus menemukan seorang guru.” Waliyullah akan merawat kalian. Waliyullah akan mengobati kalian. Kalian bisa memberikan pengobatan kepada orang lain, tetapi tidak bisa pada diri kalian sendiri. Setan mengatakan, “Aku dapat melakukannya sendiri. Aku tidak memerlukan orang lain untuk mengajariku bagaimana merawat diriku.” Itulah sebabnya ia menjadi terusir, jadi jangan sampai terperangkap ke dalam tipu dayanya.

Grandsyekh mengatakan bahwa karunia itu diperoleh dari Rasulullah (saw), karena Anbiyaullah diutus kepada manusia untuk menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani mereka; begitu pula dengan Awliyaullah, mereka akan menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani kalian. Contoh orang suci seperti ini yang disebutkan di dalam al-Qur’an adalah Sayyidina Isa (as). Beliau adalah orang yang memperoleh risalah Surgawi untuk merawat dan menyembuhkan manusia, baik fisik maupun rohani. “Aku akan menyembuhkan orang yang buta, dan aku akan menyembuhkan penderita lepra.” Jadi Anbiyaullah, mereka memberikan perawatan untuk penyakit rohani dan jasmani, begitu pula dengan Awliyaullah. Dan mereka telah mewarisinya dari Rasulullah (saw). Jika Sayyidina Isa (as) mempunyai kekuatan seperti itu, tentu saja Rasulullah (saw) juga mempunyai kekuatan seperti itu. Dan Rasulullah (saw) telah memberikannya kepada Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani. Beliau mengatakan, “Aku mempunyai obat untuk semua penyakit zhahiri wa ma’nawi, jasmani dan rohani.”

Oleh sebab itu penting sekali untuk percaya bahwa Syekh kalian mampu mengobati penyakit jasmani dan rohani.  I`tiqad, kalian harus percaya dengan Syekh kalian. Seseorang mendatangi Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani karena ibunya menderita kanker. Grandsyekh memerintahkan agar ibunya minum jus bawang (dalam hal ini maksudnya adalah bawang bombai–penerj.).  Orang ini sudah pergi ke mana-mana, termasuk ke Eropa dan Amerika, tetapi ia tidak dapat menemukan obat untuk ibunya. Ia datang kepada Grandsyekh dan beliau mengatakan agar ibunya minum jus bawang. Hal yang sederhana. Orang itu berkata, “Apa yang bisa dilakukan bawang ini?!” Ketika ia ragu, Grandsyekh mengatakan, “Saat itu rahasianya menjadi terhenti.”

Ada kekuatan rahasia yang dikirimkan oleh Awliyaullah, energi rahasia. Yang perlu kalian lakukan adalah percaya bahwa mereka mempunyai energi penyembuhan semacam itu. Seperti tabib, di mana sekarang setiap orang pergi mendatangi tabib. Ada tabib yang asli dan ada juga yang palsu. Awliyaullah adalah tabib sejati. Mereka dapat memberi penyembuhan. Yang perlu kalian lakukan adalah percaya bahwa mereka dapat melakukannya! Mungkin saja seorang Waliyullah akan membacakan sesuatu ke dalam air, kemudian meniupkannya dan memberikannya kepada kalian, dan kalian mengatakan, “Aku percaya bahwa Syekhku memberikan air yang dapat menyembuhkan aku.” Kalian lalu meminumnya dan kalian akan sembuh, insyaaAllah. Tentu saja atas izin Allah.

Mawlana Syekh Nazim mengatakan, “Seorang hamba sejati, bila ia menginginkan sesuatu, maka Allah pun menginginkannya.” Jika ia mengatakan, “Yaa Rabbii, sembuhkanlah ia.” Allah (swt) tidak akan membuatnya mengulangi lagi permintaannya, Dia akan menyembuhkannya. Air itu akan menyembuhkan penyakitnya. Apakah kalian percaya dengan hal itu atau tidak? Itu adalah ujian terhadap keimanan kalian wahai Muslim, wahai orang-orang yang selalu keberatan.

Kalian harus mempercayainya. Sayyidina Jibril mengatakan kepada Sayyidina Ayyub (as), “Injaklah tanah itu dengan kakimu, air akan terpancar darinya, minumlah air itu dan penyakitmu akan sembuh.” Apakah Sayyidina Ayyub (as) mempercayainya? Sayyidina Ayyub (as) mempunyai penyakit yang sangat parah yang membuatnya terusir dari desanya. Cacing-cacing keluar masuk dari kulitnya. Ia kehilangan segalanya, kulit dan dagingnya mengelupas. Siapa yang dapat menyembuhkan penyakit seperti itu? Dokter mana yang dapat menyembuhkannya? Masya Allah kalian terkenal dengan segala vaksin dan kemoterapi, dan saya tidak tahu lagi, ada imunoterapi dan pengobatan canggih lainnya, tetapi kalian tidak bisa menyembuhkan semua orang. Kalian mengalami kebuntuan, dan pada akhirnya pasien itu akan meninggal di tangan kalian karena kalian memberikan sesuatu yang tidak dapat menolongnya. Iman, percaya kepada Allah dan Kekuatan-Nya akan menyembuhkan segala penyakit.

Allah (swt) mengatakan, “Injaklah tanah itu dengan kakimu.” Itu adalah kaki dari Sayyidina Ayyub (as) yang suci. Kaki dari orang yang suci–dan kalian keberatan dengan Nalayn Syariif (terompah Nabi (saw)), “Injaklah tanah itu wahai Ayyub, engkau akan menemukan air yang memancar darinya, minumlah air itu, dan mandilah dengan air itu. Kisah ini ada dalam Surat Shad, bacalah wahai Muslim yang selalu keberatan. Bagi Non Muslim tidak perlu dibicarakan lagi karena mereka memang tidak menerima seluruh risalah ini, tetapi bagi Muslim, mereka menyangkal dan keberatan dengan keajaiban yang dimiliki oleh Anbiyaullah dan Awliyaullah. Kaki suci Sayyidina Ayyub (as) menginjak tanah dan air memancar dari sana, air biasa saja tetapi apa yang terjadi padanya? “Kami tidak hanya memberinya syifa tetapi Kami kembalikan juga keluarga dan anak-anaknya.” Anak-anak Nabi Ayyub (as) semuanya meninggal dunia tertimpa rumahnya yang runtuh, kemudian api membakar rumah dan seluruh harta bendanya. Beliau kehilangan anak-anak dan juga harta bendanya.

Air itu memberikan kesembuhan kepadanya, dan bukan hanya itu, Allah (swt) berfirman, “Aku kembalikan kepadanya keluarganya, dan menambahkan anak-anaknya, rahmatan minna, itu adalah Rahmat dari Kami!” Jadi orang yang mempunyai pikiran yang baik, pikiran yang murni dapat mengingat Kekuatan Allah (swt) pada kaki suci dari seorang hamba yang suci. Allah (swt) meletakkan kekuatan penyembuhan itu di sana. Jangan menyangkal kekuatan Awliyaullah. Wahai manusia, kalian mengetahui satu dua hal, tetapi masih banyak hal yang tidak kalian ketahui, jadi jangan suka menyangkal. Kaki suci seorang hamba dapat membawa kesembuhan untuk penyakit fisik dan tidak hanya itu, Allah (swt) juga mengarunikannya lebih banyak lagi. Jika kalian percaya dengan kekuatan Awliyaullah dan keajaibannya, kalian akan memperoleh kemenangan.

Datanglah ke Majelis Awliyaullah, biarkan mereka merawat penyakit hati dan penyakit jasmani kalian. Grandsyekh Syekh Nazim al-Haqqani adalah orang semacam itu, dan Quthbul Mutasharrif, orang yang kita ikuti, dan beliau membawa kita kepada Syekh Nazim, dan seluruh Awliyaullah mempunyai kekuatan semacam itu. Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama mereka, dan memberi kekuatan kepada kita untuk mengikuti mereka dengan benar, insyaaAllah, insyaaAllah. Datanglah ke majelis Awliyaullah, percayalah pada kekuatannya, dan kalian akan memperolah kemenangan. Jika kalian tidak percaya dengan kekuatan Awliyaullah, kalian bisa mendapat masalah, namun demikian mereka akan tetap menjangkau kalian, karena mereka adalah rahmat untuk Ummah.

Wa min Allah at-tawfiq, bi hurmatil habiib, wa bi sirri Suuratil Faatihah.

Wali Sejati Terhubung dengan Sayyidina al-Mahdi (as)

91150429_512789539414992_4341452152246370304_o

Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan, 28 April 2020
Seri Ramadhan Hari ke-6

A`uudzubillaahi sami`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
A`uudzubillaahi sami`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillaahirabbi ‘l-`aalamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin 
wa man tabi`ahu bi ihsan ila yaumiddin
Wa `ala saa’iri ‘l-Anbiyaa’i wa ‘l-Mursaliin wa ‘l-Awliyaa’ wa `ibaadilaahi ‘sh-shaalihiin wa `alayna ma’ahum ajma`iin yaa Arhama ‘r-raahimiin,  wa laa hawlaa wa laa quwwata illa bilaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim
Allaahumma alhimnaa rusydanaa wa a`idznaa min syuruuri anfusinaa
Allaahumma arina ‘l-haqqa haqqan warzuqna ‘t-tiba`ah, wa arina ‘l-bathila baathilan warzuqna ‘j-tinaabah yaa rabba ‘l-`aalamiin

Destuur yaa Sayyidi yaa Sulthaan al-Anbiyaa, yaa Sulthaan al-Awliyaa’ , madad yaa Rijalallaah
Destuur yaa Sayyidi wa Mawlay, yaa Sayyidi Syaykh Naazhim, nadharak yaa Sayyidi, madadak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi ‘l-kariim, 
Destuur yaa Sayyidi Quthba ‘l-Mutasharrif, madad yaa Sulthaan al-Awliyaa’, nadharak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi ‘l-kariim,

Assalamu’alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Alhamdulillah, saya adalah orang yang dhaif (lemah), saya adalah hamba yang dhaif, tidak banyak mempunyai ilmu; dan sebelum memulai shuhbah sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, dan kalian juga sudah mengetahuinya bahwa saya memohon dukungan kepada guru saya, Grandsyekh–Syekh Nazim al-Haqqani (q), saya katakan, “Yaa Sayyidi,” dan saya memohon dukungan kepada Quthbu ‘l-Mutasharrif, saya katakan, “yaa Sayyidi, untuk orang-orang yang menyaksikan, apa yang mereka perlukan yaa Sayyidi, aku tidak mengetahuinya.”

Masya Allah, shuhbah-nya Mawlana begitu luas, jadi saya katakan, “Yaa Sayyidi, apa yang harus kulakukan? Mana yang harus kubaca?” Dan saya biasanya membuka buku, lalu seperti ini dan pada akhirnya saya membuka suatu halaman dan saya letakkan “Yaa Maalikal Mulk” (pembatas buku) Ini adalah kalimat yang tertulis di atas rumah guru saya. Saya katakan, “Yaa Sayyidi apa yang harus kubaca? Apa yang harus kukatakan, berilah aku petunjuk.”

Jadi hari ini, ketika saya berusaha untuk menemukan apa yang harus saya baca untuk shuhbah, muncullah shuhbah ini, mengenai Sayyidina Mahdi (as). Saya tidak mengetahui banyak mengenai Sayyidina Mahdi (as) selain bahwa kita sedang menunggu datangnya seorang penyelamat bagi ummah yang akan muncul di akhir zaman.  Beliau berasal dari keluarga Rasulullah (saw), yakni anak cucu beliau (saw), dan beliau akan muncul di antara ummah untuk membimbing mereka pada kebenaran, dan mengantarkan mereka pada kedamaian dan keadilan yang diharapkan oleh semua orang.  Itulah yang saya ketahui.  Kita masih menunggu kedatangannya, sebagaimana yang dikatakan oleh guru kita, “Kalian harus menunggu kedatangannya,” maka kita menunggu dan insya Allah beliau akan muncul di masa hidup kita.   

Berbicara mengenai Mahdi (as) adalah hal yang sulit, karena berbicara tentang sesuatu yang tidak kalian ketahui adalah hal yang sulit, kalian harus melihatnya, kalian harus mendengarnya, kalian harus memahaminya.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim, “Berbicara mengenai Imam Mahdi (as) bukanlah tentang membaca kitab-kitab, ini adalah hakikat yang diperoleh melalui ru’yah, melalui penglihatan.”  Awliyaullah mempunyai ru’yah, penglihatan–bukan mimpi.  Tentu saja sebagian di antara mereka mempunyai mimpi, tetapi ini adalah mengenai ru’yah.   Jadi, berbicara mengenai Imam Mahdi (as) bukanlah seperti membaca kitab-kitab, atau seperti membaca sinopsis buku yang mengatakan bahwa beliau seperti ini atau seperti itu, tidak; tetapi kita harus melihat pada hakikat Mahdi (as).  

Rasulullah (saw) ketika berbicara mengenai kejadian-kejadian di masa mendatang, sebagaimana yang kita pelajari dari guru kita, Grandsyekh, Syekh Nazim al-Haqqani, beliau mengatakan bahwa Rasulullah (saw) akan memvisualisasikan kejadian-kejadian itu kepada para Sahabat.  Beliau tidak hanya membicarakan kejadian-kejadian di masa depan, tetpi beliau juga menunjukannya.  Dalam al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskannya, di antaranya,

wa idz qaala Rabbuka li ‘l-malaa’ikati,
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat. (QS Al-Baqarah, 2:30). 

Bukan hanya ingatlah mengenai waktunya, tetapi juga melihat  kejadian pada saat itu.  Jadi ketika Rasulullah (saw) berbicara mengenai kejadian di masa depan, waktu-waktu yang akan datang itu berisi peristiwa-peristiwa di dalamnya, dan peristiwa itu dapat dilihat oleh para Shahabatil kiraam.  Jadi berbicara mengenai Mahdi (as) pun, bukan seperti kalian membaca buku lalu berbicara, tidak; tetapi itu dilakukan setelah mendapat ru’yah, setelah melihatnya.  

Mawlana Syekh Nazim telah bertemu dengan Mahdi (as).  Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa pada suatu ketika Grandsyekh, Syekh Abdullah ad-Daghestani diperintahkan untuk bertemu dengan Mahdi (as) secara fisik.  Kita menyakini bahwa Mahdi (as) berada di suatu tempat antara Yaman dan Hijaz, di daerah yang kosong menantikan al-`amr, perintah untuk muncul.  

Jadi Grandsyekh (Mawlana Syekh Nazim) mengatakan bahwa, “Guruku, Syekh Abdullah ad-Daghestani ketika itu sedang melakukan khalwat di Madinatul Munawwarah, dan beliau diperintahkan untuk bertemu Mahdi (as) secara fisik.”  Barang siapa yang mempunyai izin, maka Bumi akan melipat diri untuknya, ini yang kita sebut tayyul makan, tayyul ardh.  Para Awliyaullah bisa pergi dengan kecepatan yang sangat tinggi seolah-olah Bumi terlipat di bawah mereka.  Mereka dapat tiba dalam sekian menit, atau sekian detik, atau bahkan kurang dari satu detik, wallaahu a`lam.  Jangan berpikir bahwa ini adalah hal yang mustahil.  Jangan berpikir bahwa mereka tidak dapat pergi ke tempat yang jauh dalam sekejap.  Mereka dapat melakukannya.  Jika kalian berpikir bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan, berarti kalian menyangkal peristiwa Israa’, di mana Rasulullah (saw) dibawa dari Mekah ke Jerusalem dalam sekejap dan orang-orang pada saat itu tidak dapat menerima hal ini.  Jadi janganlah kalian seperti orang-orang yang hatinya tidak mau menerima hal ini.  Milikilah hati yang lapang, yang artinya mempunyai iman yang kuat.  Iman, percaya terhadap kata-kata Awliyaullah.  

Jadi Grandsyekh diperintahkan untuk pergi dari Madinah ke sebuah tanah kosong antara Yaman dan Hijaz untuk bertemu dengan Mahdi (as).  Ketika tiba, Grandsyekh mendapati Sayyidina Mahdi (as) berdiri di pintu gua, di baabil ghar.  Ada sebuah gua yang disebut ghaaru Su’ada.  Mahdi (as) sekarang berada di sebuah tempat antara Yaman dan Hijaz yang disebut Rub al-Khali, sebuah tempat yang kosong yang pada dasarnya adalah sebuah gurun pasir, di ghaari suada, beliau menunggu perintah Allah (swt) untuk muncul.  Daerah itu dikelilingi oleh makhluk-makhluk rohaniah untuk mencegah siapa pun memasuki daerah itu. 

Ketika Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani tiba, beliau melihat Sayyidina Mahdi (as) berdiri di depan gua.  Gua itu selebar enam puluh meter, dan Mahdi (as) menutupi pintu masuk gua itu dengan tangannya.  Salah satu ciri khas Mahdi (as) adalah bahwa tangan beliau sampai hingga ke bawah lututnya, begitu panjangnya.  Itu artinya beliau sangat kuat!  Mahdi (as) dapat menjangkau lututnya.  Mahdi (as) dapat meraih ego kalian dan mendisiplinkannya.  

Mahdi (as) melambangkan Cahaya Allah (swt), Ruh Allah (swt).  

wa nafakhtu fihi min ruhi
Dan Aku tiupkan padanya (ketika manusia diciptakan) dari Ruh-Ku, dari Napas-Ku. (QS Al-Hijr: 29).  

Beliau melambangkan kekuatan tersebut, nuuru ‘r-ruuh, cahaya ruh, kekuatan ruh, ilmu ruh, dari ruh kalian, ruh Ilahiah kalian, di mana Allah (swt) telah meniupkan Ruh-Nya kepadanya.  Allah (swt) meniupkan Napas Suci-Nya kepada kalian, Ruh Suci-Nya kepada kalian dan Mahdi (as) melambangkan hal itu.  Itulah yang ingin kalian capai.  Kalian memohon agar dapat mencapai Napas Suci Ilahi yang ada dalam diri kalian, wahai manusia.  Itu adalah makna rohaniah dari Mahdi (as), Imam Mahdi (as).  

Kita katakan bahwa ada nama, ada shuurah atau citra atau fisik; ada makna dan ada hakikat untuk beliau.  Mahdi (as) melambangkan Napas Suci Ilahiah yang ditiupkan ke dalam diri kalian, nuuru ‘r-ruuh.  Beliau melambangkan ruh, dengan ilmunya, dan itu ada dalam diri kalian.  Kalian harus menemukannya. 

Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa kekuatannya, bahwa tangannya mencapai lututnya.  Kekuatan Mahdi (as) akan mencapai ego kalian.  Apakah kalian pernah mendengar tentang Balqis, Ratu Sheba?  Di dalam Al-Qur’an disebutkan bersama Nabi Sulayman (as). 

Innahu min Sulayman wa innahu Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim 
Sesungguhnya (surat) itu berasal dari Sulayman dan sesungguhnya (isinya) itu adalah Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. (QS An-Naml, 27:30)  

Beliau menyampaikan sebuah pesan dari Yang Mahabesar, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, beliau mewakili Tuhan, dengan apa?  Dengan ruh tersebut.  Kalian adalah khalifah, kalian mewakili Tuhan, dengan apa wahai manusia?  Dengan nuur  dalam diri kalian yang berasal dari Napas Suci Allah (swt) yang ditiupkan pada diri kalian.

Jadi ketika Sulayman (as) mengirimkan surat kepada Balqis, sang Ratu Sheba, artinya beliau menjangkaunya dan isi surat itu adalah Bismillaahi ‘r-Rahmaani r-Rahiim.  Pada akhirnya, apa yang ia lakukan?  Ketika ia memasuki istana yang megah itu bersama Sulayman (as), ia masuk ke dalam samudra yang dalam, samudra yang tak bertepi, Samudra Rahmat-Nya Allah (swt).  Ia masuk dan ia mengangkat sedikit gaunnya, artinya ia tidak ingin agar gaunnya menjadi basah–itu yang dikatakan dalam tafsir kepada kita, tetapi beliau membuka sebagian dari kakinya, itu artinya Sayyidina Sulayman (as) menjangkau egonya.  Balqis melambangkan ego.  Sulayman (as) melambangkan Napas Ilahi yang datang untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan ego yang buruk.  Dan pada akhirnya ia menjadi Muslim.  

Ego yang ada pada diri kita harus menjadi Muslim dan itulah yang menjadi tugas Mahdi (as).  Tugas beliau adalah menundukkan ego kalian sepenuhnya agar menjadi patuh sehingga dalam diri kalian tidak ada lagi bisikan Setan, hati kalian dipenuhi cahaya Rasulullah (saw).  Tidak ada Setan di dalam hati yang dipenuhi dengan cahaya Mahdi (as), nuur dari ruh, nuur dari Rasulullah (saw).  Mahdi (as) muncul untuk menyelamatkan kalian dari diri kalian, dari sisi jahat kalian wahai manusia.  Itulah makna rohaniah dari Mahdi (as), itulah hakikat dari Mahdi (as).  

Secara fisik Mahdi (as) juga mempunyai rupa, beliau akan menyelamatkan dunia ini secara fisik dari kejahatan dan keburukan di dalamnya; dari ketidakadilan, korupsi, dan pertumpahan darah yang terjadi.  Secara fisik Mahdi (as) akan menyelamatkan mereka.  Dan Mahdi (as) juga akan menjangkau kalian, wahai manusia dari sisi batin kalian.  Beliau akan menjangkau ego yang buruk dari diri kita dan membuatnya mengatakan, 

aslamtu ma’a sulaymāna lillāhi rabbil-‘ālamīn, rabbi innī ẓalamtu nafsī.  

Ratu Sheba pada akhirnya mengatakan, “Yaa Rabbii, aku telah berbuat salah, aku telah berbuat zalim kepada diriku dan aku menjadi Muslim (berserah diri) kepada-Mu wahai Tuhanku, bersama Sulayman.”  (QS An-Naml, 27:44).

Kita akan menjadi Muslim yang sempurna.  Bersama siapa?  Bersama Mahdi (as).  Itulah yang kita nantikan, yakni menjadi Muslim yang sempurna.  Muslim yang sempurna maksudnya adalah Waliyullah.  Lihatlah apa yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim.  Ketika kalian menjadi orang yang sempurna, artinya menjadi Waliyullah, bersama Mahdi (as); beliau mengatakan, “Tidak ada Waliyullah kecuali bahwa ia telah bertemu dan berada dalam hadirat Mahdi (as) salafan, sejak dahulu, seluruh Awliya terdahulu.  Mereka selalu berada dalam hadirat Mahdi (as) dan juga mereka yang akan muncul setelahnya.  Mereka yang hadir di dunia ini, dan mereka yang berada di alam Barzakh, artinya orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang telah wafat.  Tidak ada Waliyullah, illa mukaasyif, kecuali bahwa hijabnya telah terbuka bagi mereka untuk melihat dan bertemu dengan Mahdi (as) untuk mengambil kekuatan darinya dan memperoleh ilmu darinya.  

Adalah suatu keharusan bagi seseorang yang mempunyai rahasia kewalian, sirrul wilayah–setiap orang berbicara mengenai rahasia kewalian ini.  Ada seseorang yang bertanya kepada saya setahun yang lalu, “Apakah sirrul wilayah itu?”  Saya katakan, “Saya tidak tahu.”  Saya tidak tahu, tetapi Mawlana tahu, guru saya tahu.  Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa sirrul wilayah atau rahasia kewalian, pembukaan gerbang menuju kewalian, kunci menuju kewalian, kunci menuju khazanah kalian, wahai manusia adalah ketika kalian mempunyai sila, pertalian, hubungan dengan Mahdi (as).  Ketika kalian menjadi seorang Waliyullah, kalian bergerak bersama Mahdi (as), kalian mengambil dari Mahdi (as), kalian belajar dari Mahdi (as), kalian berperang bersama Mahdi (as).   

Apa yang tertulis pada pedang Mahdi (as)?  Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa pada pedang Sayyidina Mahdi (as) tertulis, “Nashrun minallaah wa fathun qariib,”  “Kemenangan dari Allah bagimu wahai Mukmin, wa fathun qariib, dan pembukaan yang akrab, yang sangat dekat.”  Bersama Mahdi (as) kalian masuk ke Hadirat Ilahi.  Rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqin, Yaa Rabbi, masukkanlah aku dengan masuk yang benar; wa akhrijnī mukhraja ṣidqin, dan keluarkanlah aku dengan keluar yang benar, waj’al lī mil ladunka, dan jadikanlah aku dari sisi-Mu, dari Hadirat-Mu; sulṭānan naṣīrā, Sultan yang meraih kemenangan, yakni Mahdi (as). (QS al-Isra, 17:80).

Yaa Rabbii, kami tidak mengetahui apa-apa, yaa Rabbii, kami tidak mengetahui apa-apa.  Jadikanlah kami sebagai orang-orang yang dapat meraih sisi batinnya dan meraih Napas Suci-Mu yaa Rabbii, Napas Ilahiah Suci yang ada dalam diri kami yang dilambangkan oleh Mahdi (as), al-haqiiqatul Mahdi (as).  Itu adalah Napas Suci yang harus kalian temukan.  Napas Suci Ilahiah dari Allah (swt), dan itulah yang membuat kalian istimewa, wahai manusia.   

Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Mahdi (as)–tak peduli betapa terkenalnya ia di antara orang-orang–begitu banyak orang alim sekarang ini, kalian buka Youtube, kalian buka Facebook, kalian buka Instagram, oooh penuh dengan alim, tanyalah pada mereka, “Apakah engkau sentiasa bertemu dengan Mahdi (as)?”  Secara rohaniah hubungan kalian tidak bisa terputus; ketika kalian menemukan kebenaran, kalian tidak bisa memutuskan diri darinya, itu adalah Haqqul Yaqiin, kalian telah dibusanai dengannya.  Kalian telah menjadi qaa’imun billaah, mutahaqqiqun bi ‘l-Haqq, kalian hadir bersama Allah (swt), dan Haqq atau kebenaran telah masuk ke dalam diri kalian, dan ia telah menjadi bagian dari diri kalian.  Hanya bersama Allah (swt) kalian bergerak, ini adalah orang-orang yang shiddiq, orang-orang yang benar, para Awliyaullah.  Secara rohaniah, mereka tidak pernah memutuskan hubungannya dengan Mahdi (as), mereka selalu hadir dalam hadiratnya.  Itu adalah nuuru ‘r-ruuh.

Grandsyekh mengatakan bahwa orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Mahdi (as), tak peduli ia dikenal di antara orang-orang sebagai Qutub, sebagai Wali, sebagai Khalifah, sebagai Allamah, sebagai Mawlana atau dengan gelar lainnya yang tidak saya ketahui, yang mereka tambahkan sendiri pada diri mereka, sebagai Ayatullah, atau sebagai Hujjatullah, jika mereka tidak mempunyai hubungan dengan Mahdi (as), tak peduli betapa terkenalnya mereka atau berpura-pura menjadi Syuyukh, jangan terima mereka.  Kita memerlukan seorang yang telah bertemu dengan Mahdi (as).

Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim mengatakan, “Ketika guruku dipanggil untuk bertemu Mahdi (as) secara fisik,” secara rohaniah mereka selalu bersamanya, tidak pernah terpisah.  “Ketika Syekhku diperintahkan untuk bertemu dengan Mahdi (as) secara fisik,” beliau membawa Syekh Nazim juga.  Grandsyekh Syekh Nazim al-Haqqani mempunyai pertalian dengan Mahdi (as).  Itulah orang yang kalian cari, wahai manusia.  Orang yang mempunyai hubungan dengan Napas Ilahiah di dalam diri kalian.  

Beliau mengatakan, “Di sana aku melihatnya, bi `ayn`Ayn di sini bisa bermakna dua hal, menurut pemahaman saya.  Bi `aynihi ra’aytuh artinya “Aku telah melihat Mahdi (as) dengan mata Grandsyekhku,” dan ini yang lebih baik.  Itu artinya Mawlana Syekh Nazim menganggap dirinya tidak ada.  Beliau tidak mengatakan, “Aku melihat Mahdi (as) dengan mataku.”  Tidak ada istilah aku.  Mawlana Syekh Nazim tidak mengkonfirmasi dirinya. Bi `aynihi ra’aytuh, beliau mengatakan bahwa, “Aku telah melihat Mahdi (as) dengan mata Syekhku.”  Lihatlah ketawadukan guru kita.  Jika kalian melihat Mahdi (as), kalian akan mengatakan kepada semua orang, “Ya, aku melihatnya dengan mataku.  Aku mendengarnya dengan telingaku.”  Semuanya tentang diri kaliian!  Kalian belum mencapai apa yang telah dicapai oleh Grandsyekh, beliau mengatakan, “Bi `ayni ra’aytuh, aku telah melihat Mahdi (as) dengan mata Syekhku.”  

Kita melihat Mahdi (as) dengan mata Syekh kita.  Kita mendengar tentang Mahdi (as) dengan telinga Grandsyekh kita.  Jangan katakan dengan mata telinga kalian sendiri.  Bila kalian mengatakannya demikian berarti kalian melakukan syirik.  Wahai Wahhabi Salafi, ini adalah syirik, yaitu ketika kalian mengkonfirmasi diri kalian.  Ketika kalian mengatakan, “Aku!”  Tidak ada “Aku”, yang ada hanyalah Allah (swt) dan orang-orang yang Dia kehendaki.  Kita semua akan binasa.  Cepat atau lambat mereka akan memasukkan kita ke liang lahad, dan selesai, kalian tidak ada lagi.  Temukanlah hakikat, dan dalam hakikat tidak ada kalian, wahai manusia.  Kalian hanya ada selama beberapa tahun, dan kemudian kalian kembali ke Hadirat Ilahi, ke tempat asal kalian.  Jadi sejak sekarang kita harus mengkonfirmasi bahwa tidak ada “Aku”, itu adalah mutu qabla an tamutu, matilah sebelum engkau mati–yang selama ini kalian keberatan dengan hal ini.  Itu artinya kalian menarik diri dari dunia, dari kecintaan, dari kehidupan materialistik, dan kesenangan dunia ini dan kalian mengatakan, “Aku adalah untuk Tuhanku.  Aku bukan untuk dunia ini, tidak ada “Aku” di sini.”  

Awliyaullah mengatakan bahwa “Nafsuka samkatun, ego kalian adalah seekor ikan.”  Hayatuha bahru ‘d-dunya wa maa’ul hawaa, kehidupan seekor ikan adalah di samudra dunia ini dan air hawa nafsu, kalian harus mengeluarkannya.  Rasulullah (saw) bersabda, “Mutu qabla an tamutu, matilah sebelum engkau mati,” artinya keluarkan ego kalian dari samudra dunia dan air hawa nafsu, karena ikan akan mati bila kalian mengeluarkannya dari dalam samudra.  Artinya tariklah diri kalian dari dunia dan tariklah diri kalian dari hawa nafsu, wahai manusia; sehingga kalian mempunyai ikan yang mati.  Maka kalian menjadi ikan yang mati.  Apa yang terjadi bila kalian menjadi ikan yang mati?  Seseorang akan membawa kalian.  

Bila kalian menjadi ikan yang mati, bila kalian telah meninggalkan dunia, meninggalkan hawa nafsu kalian, itu artinya kalian berada di gerbangnya Waliyullah.  Waliyullah akan mengangkat kalian.  Kalian meninggalkan dunia kepada siapa?  Kepada Allah (swt), itu artinya kalian menuju pintunya Awliyaullah.  Itulah sebabnya di masa lalu ada dergah, ada khanaqah, zawiyah di mana masya Allah begitu banyak orang yang menarik diri mereka.  Orang-orang meninggalkan dunia, tharaqu bahra ‘d-dunya wa maa’al hawaa, mereka meninggalkan samudra dunia dan air hawa nafsu, karena tanpa air kalian akan mati.  Jadi ego, untuk melanjutkan hidupnya ia harus minum, dan minuman ego itu apa?  Hawa nafsu.  Jadi ketika kalian meninggalkan samudra dunia, dan kalian meninggalkan air hawa nafsu dan kalian pergi ke pintunya Waliyullah, ia akan membawa kalian.  Ke mana kalian akan pergi bersama Waliyullah?  

Kalian adalah seekor ikan yang mati bersama Waliyullah.  Di manakah kisah tentang ikan yang mati dalam al-Qur’an suci?  Ketika Nabiyullah membawa seekor ikan yang mati bersamanya.  Nabiyullah, dan Waliyullah–Waliyullah adalah pewaris dari Anbiyaullah, mereka mengambil ilmu tauhid darinya, mereka membawa ikan-ikan yang mati itu bersama mereka, ke mana?  Ke Majma al-Bahrain, ke tempat pertemuan antara dua alam, alam rohaniah dan alam fisik, jasmani.  Apakah ikan kalian akan hidup di sana?  Apa tandanya bagi Musa (as) di mana, “Ketika engkau menemukan pintu-Ku, ketika engkau menemukan hamba-Ku, ketika engkau menemukan ilmi ‘l-ladunni, ketika engkau menemukan ilmu rohaniah-Ku, ikan yang engkau bawa menjadi hidup.”

Ketika kalian meninggalkan bahra ‘d-dunya dan maa’ul hawaa, ketika kalian meninggalkan samudra dunia dan air hawa nafsu, dan kalian pergi bersama Waliyullah sebagai ikan yang mati dan ketika ia sampai bersama kalian ke tempat pertemuan antara dua alam, yakni alam rohaniah dan alam jasmaniah, kalian akan menjadi hidup, dan apa yang kalian lakukan?  Fattakhaża sabīlahụ fil-baḥri sarabā, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke samudra itu. (QS Al-Kahfi, 18:61), kalian mengambil jalan kalian masuk ke dalam Samudra Rahmat, Samudra Cinta-Nya Allah (swt).  Kalian menjadi hidup dan masuk ke dalam samudra tersebut. 

Ilmunya Awliyaullah begitu dalam, kita bahkan belum sampai menggores permukaannya.  Semoga Allah mengampuni kita.  Saya rasa ini sudah cukup.  Ini sudah cukup untuk menunjukkan apa yang ada bersama Awliyaullah, oleh sebab itu mari datanglah bersama Awliyaullah.  Jika kalian tidak dapat menemukannya secara fisik, pergilah ke maqam suci mereka, pergilah dan ambillah rahmat yang turun kepada mereka, ambillah berkah dari tempat itu.  Allah (swt) akan membimbing kalian kepada Awliya yang masih hidup.  Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama Awliyaullah.  Aamiin.  Yaa Rabbii, kumpulkanlah kami bersama Sayyidina Mahdi (as) zhaahiran wa bathinan, yaa Rabbal `aalaamiin.  Jadikanlah kami orang yang sempurna, dan selalu tersambung dengan Mahdi (as), aamiin, aamiin, aamiin, bi hurmatil habiib (saw), wa bi sirri Suurati ‘l-Faatihah. 

Satu hal lagi, ada seseorang yang bertanya tentang apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang merasa khawatir dan cemas.  Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, tetapi subhanallah shuhbah ini juga muncul untuk itu.  Semua kekhawatiran dan kecemasan kalian akan lenyap dengan pikiran bahwa kalian akan bersama Hadirat Ilahi dalam samudra Nuur dari dzikir, dzikrullah, tidak ada lagi kekhawatiran yang tersisa, jadi berusahalah untuk menemukan pintu Waliyullah, dan kekhawatiran dan kecemasan kalian akan hilang.  

Wa min Allah at-tawfiiq, bi hurmatil habiib (saw), wa bi sirri Suurati ‘l-Faatihah.  

Wassalamu`alaykum wa rahmatullaahi ta`aala wa barakatuh

https://sufilive.com/True-Saints-Are-Connected-with-Sayyidina-al-Mahdi-as–7243.html

© Hak Cipta 2020 Sufilive. Seluruh hak cipta. Transkrip ini dilindungi

 

oleh hukum hak cipta internasional. Harap cantumkan Sufilive saat membagikannya. JazakAllahu khayr.