Pentingnya memiliki Niat yang Baik

16835731_10154365063835886_772839708438681323_o

Setiap gerakan yang kalian lakukan dan setiap perbuatan yang kalian lakukan bergantung pada niyyah kalian: jika niyyat kalian adalah untuk Allah dan Nabi-Nya (saw) dan kalian ingin berbuat suatu kebaikan, kalian akan dikaruniai pahala atas kebaikan tersebut, bahkan seandainya kalian tidak jadi melakukannya, tetapi kalian telah meniatkannya, Allah (swt) akan mengaruniakan pahala bagi kalian. Jika seseorang berniat melakukan perbuatan itu untuk dunia, maka Allah (swt) akan memberinya bagian dari dunia dan melarang mereka mendapatkan bagian dari Akhirah, sesuatu yang tidak diinginkan kaum Muslimin dan Mukminin.

Karena itulah, Nabi (saw) menyuruh kita untuk berhati-hati, “Innama ‘l-a’maalu bi ‘n-niyyaat” artinya jika apa yang kalian niatkan dalam hati adalah untuk Allah dan Nabi-Nya (saw), maka itulah yang terbaik. Namun, jika yang kalian niatkan dalam hati adalah untuk suatu persekongkolan atau untuk bertengkar, atau untuk menunjukkan kesalehan dan ketulusan palsu sambil menyembunyikan ego negatif dan syaitani kalian, maka hijrah kalian, adalah untuk kenikmatan dunia belaka.

Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Niat untuk Semua Ibadah dalam Tarekat Naqsybandi

The Intention for Any Worship in the Naqshbandi Tariqah Mawlana Shaykh Hisham Kabbani Sohba Discourse

Syekh Hisyam Kabbani

5 September 2015   Burton, Michigan

Shuhbah Maghrib di Masjid As-Siddiq Institute & Mosque (ASIM) (2)

 

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim.

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,

nawaytu ‘r-riyaadha, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta’ala al-`Azhiim fii hadza ‘l-masjid.

Aku berniat empat puluh hari (khalwat), aku berniat khalwat (dari dunia), aku berniat untuk memutuskan diri (dari dosa), aku berniat untuk mengambil disiplin (dari tarekat), aku berniat suluuk (patuh sepenuhnya) kepada Allah, Yang Maha Agung, di masjid ini.

 

Dengan Niat Kuat Kalian, Syekh dapat Mengangkat Kalian

Segala sesuatu…subhaanAllah, Awliyaullah tahu, mereka mempunyai bakat dan mengatahui rahasia bagaimana cara mengangkat kalian lebih  tinggi dan lebih tinggi lagi, dengan kita hanya melakukan  hal-hal kecil dan mereka  membuatnya begitu luar biasa.  Para ulama mengajari umat, tetapi mereka tidak mempunyai kemampunan seperti itu, untuk membuat sesuatu yang kecil menjadi besar.

Saya ingat Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya, Syekh `AbdAllah al-Fa`iz ad-Daghestani, dan kita harus membedakan antara Grandsyekh `AbdAllah ad-Daghestani dan Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah mengangkat derajat mereka–Grandsyekh `AbdAllah berkata bahwa  ketika kalian salat, Allah (swt) akan mencurahkan kalian dengan pahala yang tidak kalian ketahui besarnya; misalnya, jika seseorang pergi ke masjid, untuk setiap langkah mereka berjalan atau menaiki kendaraan apa saja, untuk setiap langkah Allah memberi satu hasanat, amal baik, dan menghilangkan satu sayyia`at, dosa.

Bahkan itu masih di dalam batasan, Syekh Abdul Haqq datang ke sini dari Chicago, 325 mil, 520 kilometer, dan kira-kira 520 ribu meter, atau 1 juta 716 ribu langkah!  Di zamannya Grandsyekh (q) mengatakannya bahwa pada tanggal 27 Rajab (Laylat al-Bara`ah), Allah membukakan Nikmat-Nya pada semua orang yang membuat niat tetapi tidak memenuhinya, misalnya jika mereka ingin pergi ke Chicago tetapi mereka tidak pergi, tetap saja ia akan mendapat pahala seolah-olah ia pergi, dan dari Rahmat Allah di Hari Akhir ini, niat kalian akan mengangkat derajat kalian begitu tinggi sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah (swt) dan Nabi-Nya (s)!

Itulah sebabnya beliau berkata, setiap kali kalian melakukan salat, [atau melakukan ibadah apa pun,  atau melakukan amal baik, atau meminta sesuatu], buatlah niat kalian, Nawaytu ‘l-arba`iin,  “Yaa Rabbii! Aku berniat untuk duduk berkhalwat selama empat puluh hari.”  Jika kalian melakukan hal itu, saat kalian duduk melakukan tafakur, di mana kadang-kadang orang duduk selama lima atau sepuluh menit untuk melakukan refleksi dan meditasi mengenai ma`rifah, Keagungan Allah dan Ciptaan-Nya, itu seolah-olah kalian duduk selama empat puluh hari!  Menutupi diri kalian dengan sehelai kain dan melakukan zikrullah, “Laa ilaaha illa-Llah” atau zikir apapun yang kalian inginkan, dan dengan niat tersebut, itu seolah-olah kalian berada dalam khalwat selama empat puluh hari dan kalian akan diberi pahala yang sangat besar, begitu besarnya sehingga para malaikat tidak mampu menuliskan hasanaat dan pahala yang Allah berikan kepada kalian dengan niat tersebut!  Ibadah yang sama yang biasa kalian lakukan kini diperkuat dengan niat kalian.  Grandsyekh (q) juga mengatakan untuk membaca seluruh niat yang mudah diingat ini,

Nawaytu ‘l-arba`iin, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,

nawaytu ‘r-riyaadha, nawaytu ‘s-saluuk, lillahi ta’ala al-`Azhiim fii hadza ‘l-masjid.

Aku berniat empat puluh hari (khalwat), aku berniat khalwat (dari dunia), aku berniat untuk memutuskan diri (dari dosa), aku berniat untuk mengambil disiplin (dari tarekat), aku berniat suluuk (patuh sepenuhnya) kepada Allah, Yang Maha Agung, di masjid ini.

Grandsyekh (q) berkata bila kalian menggabungkan semua niat ini, semua prinsip dan fundamental bila digabung dalam niat khalwat kalian yang dilakukan di dunia ini, maka di akhirat kalian akan bersama dengan orang-orang yang juga membuat niat ini (yaitu para Awliyaullah). Kalian bahkan dapat menambahkannya dengan nawaytu ‘sh-shiyaam, “Aku berniat untuk puasa” sebelum salat atau membaca Qur’an Suci, karena kalian tidak akan berbicara dengan orang lain, kalian mendedikasikan waktu kalian untuk salat atau zikir atau beribadah seolah-olah kalian berpuasa selama kurun waktu itu, bukan puasa sesungguhnya, tetapi kalian membuat niat ibadah puasa, jadi dengan Rahmat Allah dan syafaat Nabi (s), kalian akan diberi pahala untuk semua puasa dari orang-orang yang pernah puasa di dunia, semuanya digabungkan sejak Adam hingga Hari Kiamat!  

Awliyullah adalah mercu suar dan mereka disebut “umat yang saleh dan ikhlas” di antara umat karena kebaikan apa pun yang diberikan kepada mereka, mereka juga rela membaginya dengan yang lain, karena itu merupakan salah satu prinsip iman, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Tidaklah seorang di antara kalian dikatakan beriman sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya. (Bukhari dan Muslim)

Ketika Awliya melihat rahmat ini diturunkan kepada Ummah an-Nabi (s), mereka senang membaginya sesuai dengan level mereka.  Itulah sebabnya Grandsyekh (q) … sudah tidak ada sekarang, tetapi saya akan membaginya dengan kalian.  Demi kecintaan kalian pada syekh kalian, kalian ingin memberikan sesuatu kepadanya ketika kalian berjumpa dengannya dan kami sangat mencintai Grandsyekh (q) pada saat itu, dan insyaa-Allah pada saat ini dan setiap waktu!  Sebagaimana yang kami lakukan dan sebagaimana banyak murid yang memberi sesuatu kepada Mawlana Syekh Nazim, ketika kalian bertemu dengan syekh, kalian memberinya sesuatu, meskipun Hadits Nabi (s) mengatakan,

ورجل تصدق أخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

[Di antara tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada Hari Kiamat adalah] orang yang memberi sedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. (Bukhari)

 

Jadi ketika kami mengunjungi Grandsyekh (q) kami menyerahkan sesuatu, saya tidak akan mengatakan apa itu, tetapi kami menyerahkan sesuatu dan saat itu sampai sekarang, setiap kali saya mengingatnya, saya masih bisa menggambarkan Mawlana Grandsyekh `AbdAllah (q) dengan busana yang dikenakannya dan bagaimana cara saya menyerahkan amanat itu kepadanya, hadiah itu kepadanya, dan beliau berkata, “Yaa waladii, wahai anakku! Insya’Allah engkau akan mewarisi `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin.”  Seolah-olah saya melihatnya sekarang.

Lihatlah, dengan kekuatan apa beliau mengangkat (derajat) kalian, karena cintanya kepada kalian dan cinta kalian kepadanya.  Beliau dapat melihat hubungan itu sementara kita tidak dapat melihatnya, beliau ingin memberikan yang terbaik kepada kalian, dan apakah yang terbaik itu?  Mewarisi setetes ilmu dari Samudra Nabi (s), `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin “Ilmu tentang Awal” dan “Ilmu tentang Akhir”, setetes dari ilmu tersebut, Grandsyekh sering mengatakan bahwa setetes ilmu tersebut akan membanjiri seluruh alam semesta.  Tidak akan ada lagi alam semesta jika Allah (swt) akan membukakan ilmu yang Dia berikan kepada Nabi (s)!

Itulah sebabnya Grandsyekh (q) berkata, “Semua ilmu awliyaullah, semua jutaan buku yang telah ditulis ini tidak sampai setetes dari Samudra ilmu Nabi (s) sehingga jika ada izin atas perintah Allah untuk membukanya, seluruh alam semesta akan banjir, ia akan musnah ketika kalian memasuki samudra yang dalam itu.”  Samudra apa?  Ketika kalian masuk ke dalam samudra dan berenang, kalian masih mempunyai nafs.  Ketika kalian masuk ke dalam samudra, ketika kalian melewati samudra, sebagian dapat melayang dengan punggungnya: itulah kepasrahan.  Ketika kalian pasrah, kalian tidak lagi mempunyai keinginan, mereka akan mengizinkan kalian untuk memasuki Samudra Ma`rifah, karena di sana kalian akan mendapatkan batu permata, tidak ada lagi batu kerikil, tidak ada lagi sampah–tetapi mereka ingin agar permata ini dijaga, dan dari partikel kecil berisi formula surgawi yang istimewa mereka percikkan pada Ummat an-Nabi (s) [itu menjadi sesuatu yang sangat besar], seperti di dalam Kimia, kalian menggabungkan berbagai unsur dan menghasilkan sebuah reaksi baru.  Setiap saat Awliyaullah mempunyai sebuah formula baru yang muncul dan itu tidak sama satu sama lain, masing-masing berbeda.

Di dalam Hadits an-Nabi (s), di antara jutaan buku di mana-mana, apakah yang terbaik untuk dibaca di dunia ini?  Dan sekarang mereka membuatnya lebih mudah bagi kalian, agar kalian dapat memilikinya di telepon selular, tablet atau apa pun, kalian dapat membacanya setiap saat dan kalian dapat menemukannya tetapi itu bukanlah yang terbaik yang dapat kalian baca! Yang terbaik yang dapat kalian baca adalah sesuatu yang seolah-olah kalian duduk di sebuah taman penuh bunga yang wangi semerbak, ketika kalian menciumnya kalian akan mensyukuri kehadiran kalian di dalam taman itu, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا مررتم برياض الجنة فارتع. قالو وما رياض الجنة؟ قال “حلق الذكر”

Ibn `Umar melaporkan bahwa Nabi (s) bersabda: “Ketika kalian melewati Taman-Taman Surga, maka singgahlah di sana.”  Para Sahabat bertanya, “Apakah Taman-Taman Surga itu wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.” (Tirmidzi)

 

Hilaq adz-Dzikr adalah seperti majelis ini, atau majelis-majelis di masjid.  Taman Surga ini tergantung pada apa yang kalian ajarkan dan pada tingkatan apa kalian mengangkat derajat mereka.  Tetap saja dari semua ini yang terbaik yang dapat kalian pelajari dari zikrullah atau dari ilmu ini adalah al-Qur’an Suci. Nabi (s) bersabda,

الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران

Orang yang pandai dalam membaca al-Qur’an akan bersama dengan para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membaca al-Qur’an dengan terbata-bata, dan menemukan kesulitan dalam membacanya, baginya ada dua pahala. (Muslim)

Al-maahiru bi ’l-Qur’ani ma`a ’s-safarati ’l-kiraam al-barara. Orang yang pandai membaca al-Qur’an, karena suara dan tajwidnya baik, ia juga menjaga ahkaam Qur’an Suci, ia akan membacanya bersama malaikat, malaikat akan bersama mereka.  Oleh sebab itu sekarang, sayangnya, ketika kalian bangun tidur, apa yang kalian lakukan?  Kalian minum kopi dan membaca koran, bukankah begitu?  Kebanyakan begitu, tetapi tidak setiap orang.  Di negeri-negeri Arab, atau Inggris, atau Cina atau Jepang, Perancis, Italia atau Meksiko.  Yang pertama dilakukan orang adalah yalhuuq, mereka mengganggu kalian dengan sampah berita-berita yang mereka masukkan ke dalam koran.  Jadi, apa yang kalian baca bukannya bersama malaikat, karena ketika kalian membaca al-Qur’an, kalian membaca Kalamullah.  Koran adalah kata-kata Setan.  Ketika kalian membaca al-Qur’an kalian membaca Kalamullah, dan ketika kalian membaca kitab-kitab ulama, itu adalah kata-kata ulama, walaupun mereka mengutip dari Qur’an dan Hadits; ya Qur’an adalah Kalamullah dan Hadits adalah kata-kata Nabi (s), tetapi penjelasan lainnya adalah kata-kata para ulama itu.

Ketika kalian membaca Qur’an Suci, tidak ada campuran apa-apa di sana, tidak seperti sup, itu adalah Kalamullah secara langsung.  Jadi orang-orang yang pandai itu membaca dan para malaikat juga membaca bersama mereka dengan cara yang sempurna.  Jadi apa yang dilakukan oleh orang yang tidak bisa membaca al-Qur’an?  Ada banyak mualaf dan juga banyak Muslim yang bahasa aslinya bukan bahasa Arab, apa yang akan mereka lakukan?  Apakah mereka akan disingkirkan dari pahala?  Tidak.  Yang Allah (swt) inginkan dari kalian adalah niatnya, tunjukkan niat kalian, dan itulah sebabnya Nabi (s) bersabda,

إنما الأعمال بالنيات

Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.  

Innama li kulli imrin ma nawaa, setiap amal yang ingin kalian lakukan dengan niat, para Awliya dapat mengangkat kalian lebih tinggi bahkan jika kalian tidak dapat melakukannya.  Misalnya, saya membaca al-Qur’an setiap pagi, tetapi sekarang ketika saya ingin membacanya, ada tamu yang datang, kemudian ketika saya mulai membaca Qur’an, tamu lainnya datang.  Setelah itu ketika saya ingin membacanya, telepon berdering.  Semua interupsi ini membuat kalian tidak bisa membaca, tetapi karena niat kalian adalah membaca al-Qur’an, maka dituliskan bagi kalian bahwa kalian telah membacanya.

Jadi orang yang tidak dapat membaca al-Qur’an karena ia tidak mengetahui bahasa Arab, niatnya adalah membaca al-Qur;an, melalui cintanya, Nabi (s) memberikan syafaat bagi umatnya dan apa yang dikatakan oleh Hadits?  “Orang yang pandai dalam membaca al-Qur’an akan membacanya bersama malaikat… dan mereka yang tidak mengetahui bagaimana membacanya dengan baik, wa yatat`at`a fi ’l-qur’an, mereka terbata-bata dalam membaca al-Qur’an sedemikian rupa sehingga orang yang mengerti bahasa Arab akan kesal mendengarnya, tetapi Allah tidak kesal, Nabi (s) tidak kesal, Awliya tidak kesal, dan Nabi (s) bersabda,  wa huwa `alayhi syaaq lahu ajraan. “Orang yang terbata-bata dalam membaca al-Qur’an Suci tetapi mempunyai niat yang kuat pada dirinya, ‘Aku harus membacanya meskipun aku melakukan kesalahan’, yatat`at`a [berjuang dalam mengeja], kalian akan mendapat dua pahala dan malaikat yang ditunjuk akan melipatgandakan pahala bagi kalian bila kalian membacanya seperti itu!   Itulah Hadits Nabi (s) dari Sahih Muslim.

Qaala `Ayesya radhiy-Allahu `anha qaala rasuulullah Al-maahiru bi ’l-Qur’an ka ’s-safarati ’l-kiraam al-barara, orang yang mahir dalam membaca al-Qur’an, ia membacanya bersama malaikat dan orang yang terbata-bata dalam membacanya akan mendapat pahala ganda, dengan malaikat yang dua kali lipat.

Jadi Awliyaullah membawa kalian dengan usaha yang kecil.  Saya melakukan serangkaian uji lab dan salah satu uji itu bernilai 425 dolar dan perawatnya berkata, “Dapatkah Anda mengubah kodenya [tagihan asuransi]?  Itu adalah uji yang sama, tetapi dengan kode itu Anda membayar 400 dolar, sedangkan dengan kode ini Anda membayar 100 dolar.”   Awliyaullah mempunyai sebuah kode untuk mengangkat kalian lebih tinggi dan tinggi lagi, Allah memberikannya kepada mereka karena mereka membawa para pengikut mereka ke Samudra Makrifat bersama mereka, seperti seorang jenderal di angkatan bersenjata, ia tidak meninggalkan tentaranya ke tangan musuh, ia akan kembali untuk membebaskan mereka.  Jadi kode-kode ini adalah perlu sebagaimana menurut Hadits, innama ’l-`amaalu bi ’n-niyyaat, itu adalah sebuah kode di mana jika niatnya adalah untuk hijrah menuju Allah dan Nabi-Nya, niatnya untuk hijrah dari dunia dan menghadap Allah dan Nabi-Nya, ia akan diberi ganjaran seolah-olah ia telah melakukannya, bahkan jika ia tidak melakukannya, dan Nabi (s) akan memberi ganjaran padanya, awliyaullah akan membawa tangannya karena mereka adalah para pengikutnya, membawa mereka menuju marifa`ahtullah melalui kalbu mereka.  Jangan berpikir bahwa Syekh kalian tidak membantu kalian melalui kalbu kalian!  Tidak, ada Syekh-Syekh sejati, dunia ini penuh dengan mereka, penuh dengan Awliyaullah, ada 124.000 Awliya untuk mengangkat umat lebih tinggi dan tinggi lagi dengan dukungan Nabi (s).

Jadi ketika beliau mengatakan, `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin, kepada saya ketika saya menyerahkan amanat itu, beliau begitu gembira karena beliau ingin memberi kalian sesuatu atas apa yang kalian berikan untuk membuatnya gembira, itu adalah sebuah hadiah kecil, bukan sampai ke level Grandsyekh, tetapi pada saat itu saya merasakan bahwa inaayatullah, dan rahmatullah turun pada saat itu ketika beliau mengucapkannya, dan beliau membawa saya bersamanya Kekuatan inaayatullah dan rahmatullah itu dan beliau berdoa, “ Ya Rabbii `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin fii kulli lahzha, pada setiap saat,” dengan niat itu beliau ingin agar saya dapat “merasakan `Uluum al-Awwaliin wa ‘l-Aakhiriin dalam setiap saat kehidupannya,” dan itu adalah sebuah ganjaran dari Awliyaullah!  Hitunglah sekarang berapa banyak ganjaran yang mereka berikan kepada kalian sepanjang hidup mereka?  Bukan hanya dalam kehidupan mereka, tetapi bahkan lebih banyak lagi di Akhirat karena mereka lebih bebas di sana, sebagaimana Nabi (s) menyebutkan,

القبر إما روضة من رياض الجنة ، أو حفرة من حفر النار

Kubur itu dapat berupa sebuah taman dari Taman-Taman Surga atau sebuah jurang dari Jurang-Jurang Neraka. (Tirmidzi)

Mengenai kehidupan di alam kubur, setiap kubur itu dapat berupa bagian dari Surga atau bagian dari Neraka.  Bila ia merupakan bagian dari Surga, kalian akan bebas, kalian dapat pergi ke mana-mana, kalian tidak akan dibelenggu, sebagaimana Nabi (s) menyebutkan di dalam banyak Hadits.  Jadi, ketika Syekh mampu melakukannya, karena Allah memberikan kekuatan itu, beliau akan membaginya kepada para pengikutnya dulu baru kemudian kepada umat.  Semoga Allah memberkati kita dengan berkah Qur’an Suci dan memberkati kita dengan berkah dari para masyaaykh ini yang nilainya tidak kita ketahui hingga mereka meninggalkan kita, terutama ketika seseorang adalah seorang kepala suku dan di zaman Nabi (s) semua orang adalah bagian dari suku-suku tertentu.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Wahai manusia!  Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu bisa saling mengenal satu sama lain. (Surat al-Hujuraat, 49:13)

Biasanya mereka mempunyai suku yang besar, 10,000, 20,000, 100,000 dan seterusnya, bukankah begitu?  Ketika sang amiir dari suku itu wafat, apa yang terjadi?  Terjadi kebingungan, kalian tidak dapat mengendalikannya lagi.  Itu seperti tasbih (rangkaian biji tasbih), ini dari Mawlana Syekh Nazim, itu seperti tasbih, qata` as-silka, dengan tali yang putus, apa yang terjadi?  Biji-bji tasbih ini akan jatuh berhamburan.  Jadi, pastikan untuk berdoa agar para Awliyaullah mempunyai umur panjang, karena jika sesuatu terjadi pada mereka, talinya akan putus, sehingga seluruh kelompok akan bercerai-berai.  Kita tidak mengetahui nilai mereka hingga wafatnya mereka, saat itu kalian melihat begitu banyak kebingungan dan sekarang kita lihat kebingungan di antara umat tanpa persatuan.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً

Jika Allah berkehendak, Dia akan membuat manusia sebagai satu bangsa. (Surat al-Hud, 11:118)

Orang-orang berkata, “Mari kita bersatu.”  Bagaimana bisa bersatu?  Pada ayat lainnya Allah berfirman, “Jika Allah berkehendak, Dia akan menjadikan kalian sebagai satu bangsa, satu suku, kalian tidak akan berselisih.”  Dia ingin agar kalian berselisih dan memiliki salah paham dan bersaing dalam hal siapa yang lebih banyak beribadah, berlomba-lomba dalam beribadah.  Allah membuat kita syu`uban wa qabaail agar kita saling mengenal satu sama lain.  Allah Maha Mengetahui.  Dia tidak mengatakan, “bersatu”, karena tidak ada orang yang mau bersatu, tetapi kelompok-kelompok akan bersatu, dan kita harus mengetahui bahwa membangun jembatan adalah penting, tetapi bersatu dulu di dalam rumah yang sama.  Apa gunanya membangun jembatan di luar ketika di dalam rumah berantakan?  Tanyalah pada orang di sampingmu. Benar?  Itulah masalahnya.  

Semoga Allah (swt) membimbing kita untuk menyebutkan–itulah sebabnya mengapa Awliya mengatakan untuk membaca Silsilah paling tidak sekali sehari dan Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, saya ingat ketika Mawlana Syekh Nazim (q) sendiri menuliskan Silsilah dalam bahasa Arab, itu adalah… Saya ingin agar setiap orang mempunyai salinannya, insyaa-Allah minggu depan kita akan buatkan salinannya dengan gelar dari setiap wali dalam Silsilah Naqsybandi, beliau menuliskan dengan gelar mereka dan beliau mendiktekan kepada kami dan kami menulisnya.  Jadi insyaa-Allah minggu depan kalian akan mengkopinya dan kalian dapat memindainya sehingga setiap orang dapat memilikinya.  Itu bukanlah sesuatu yang sudah dimiliki banyak orang, itu adalah sesuatu yang tidak pernah orang lihat sebelumnya.  Saya pikir engkau sudah membacanya, bagus sekali. Insyaa-Allah kita akan menyebarkannya kepada setiap orang paling tidak untuk dihafal dan dibaca, jika engkau menerjemahkannya, maka setiap orang dapat mengerti apa saja gelar mereka.

Semoga Allah memberkati ruh para syuyukh kita dan menjadikan kita senantiasa  bersatu di seluruh dunia di bawah Thariqah an-Naqsybandiyya al-Nazimiyya al-`Aliyyah atau Thariqah an-Naqsybandiyya al-Nazimiyya al-`Aliyyah, al-Haqqaniyya, apa pun yang mereka inginkan, apa pun itu, itu tidak akan mengubah apa-apa, tidak mengubah awraad, tetapi hanya menambahkan satu nama, yaitu nama Mawlana Syekh Nazim.  Tidak apa-apa, semoga Allah memberkahi setiap orang dan semoga Allah mendukung setiap orang.

Bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

 

http://sufilive.com/The-Intention-for-Any-Worship-in-the-Naqshbandi-Tariqah–5982.html

© Copyright 2015 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

 

Peranan Syekh

Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q)

Mengapa sebagian orang disebut mukmin?  Karena mereka percaya dengan yang gaib, tidak terlihat.  Ketika Nabi (s) datang, beliau berkata, “Percayalah kepada Allah,” begitu pula dengan Nabi `Isa (a) dan Nabi Musa (a) ketika mereka datang.  Percayalah terhadap hal-hal yang gaib.  Ketika ia sudah terlihat, maka itu bukan lagi percaya, karena sudah terbukti.  Saat itu kalian menerimanya sebab kalian melihat sesuatu, dan ini tidak diterima.

Apa yang dikatakan oleh Syekh, jangan mengatakan, “muhaqqaq” atau “benar!” dengan lidah kalian.  Kalbu kalian yang harus menerimanya.  Jalan kita adalah berusaha menerima apa yang ia katakan kepada kalian tanpa menggunakan akal kalian.  Berbaiksangkalah terhadap apa yang dikatakannya kepada kalian.

Jika kalbu kalian tidak menerimanya, kalian tidak akan mendapat manfaat apa-apa.  Kita harus memperlihatkan kepada Syekh, yang tahu bagaimana kita tidur dan bahkan saat kita tidur, bahwa kita benar-benar mempercayainya.  Apakah kalian pikir bahwa Syekh itu seperti kita?  Hasya! (amit-amit).  Suatu ketika Grandsyekh berkata, “Jika seekor semut yang berada di Barat sedang bergerak di atas permukaan batu yang lembut sedangkan aku berada di Timur, maka aku dapat mendengar langkah-langkahnya bagaikan mendengar suara guntur.”  Dan beliau berkata, “Kami, para awliya Naqsybandi—dapat mendengar dan merasakan gerakan semua murid-murid kami, apapun yang mereka kerjakan, itu akan terdengar sekeras guntur!  Jagalah kehormatan kalian ketika kalian tidur dengan istri kalian, sebab kami mendengar dan melihat segalanya.”

Kita semua berada di bawah Syekh yang sama, dan Syekh itu memegang seluruh kekuatan tarekat ini sebelum Hari Kiamat.  Jika kalian tidak mengetahui hal ini, kami mengetahuinya.  Seluruh kekuatan yang diberikan oleh Nabi (s) kepada para awliya Naqsybandi telah ditarik dari tangan mereka dan diserahkan kepada Mawlana Syekh Nazim (q).  Wali-wali yang lain tidak bisa menggunakannya kecuali melalui keramat, namun Nabi (s) tidak lagi berkenan untuk menunjukkan suatu keramat di zaman sekarang ini.  Sebagaimana yang telah beliau disebutkan di dalam hadis, bahwa korupsi dan kezaliman akhirnya menguasai dunia ini.  Jika kalian menggunakan kekuatan keramat, kalian akan menghilangkan korupsi itu, tetapi korupsi itu telah mencapai puncaknya.  Itulah sebabnya Mawlana Syekh Nazim (q) selalu bersabar dan lebih bersabar.  Bila kalian melihat beliau yang sesungguhnya, pada saat itu kita semua akan lumer, seperti garam yang terlarut dalam air.  Oleh sebab itu jagalah kehormatan terhadap Syekh dalam kalbu kalian.

Kalian berada dalam pengawasan Syekh selama 24 jam.  Kalian tidak bisa keluar dari pengawasannya.  Beliau melihat kalian.  Beliau melihat kalian ketika kalian pergi ke sana ke mari.  Tetapi ini masih belum apa-apa, beliau dapat mendengar rahasia yang masuk ke dalam kalbu kalian, dan rahasia yang kalian simpan di dalam kalbu kalian seperti halnya mendengar suara guntur.  Tinggalkan ini juga: di dalam setiap kalbu manusia terdapat 5 level kalbu.  Level pertama adalah Maqamul Qalb, atau Maqam Kalbu.  Setan dapat masuk melalui level ini dan ia mengerti apa yang kalian lakukan, inilah sebabnya kadang-kadang kalian mempunyai pikiran yang buruk.  Kalian terganggu ketika sedang salat, kalian menipu dalam bekerja atau merasa curiga…

Ada level yang lebih tinggi, yaitu Maqam Rahasia (Maqam as-Sirr).  Sekarang orang-orang membedakan antara kesadaran dan alam bawah sadar.  Yang kedua adalah tempat di dalam pikiran batin kalian di mana kalian menguburkan segala hal.  Ia adalah ekspresi ilmiah untuk maqam kedua dari kalbu, ia dapat mengenali informasi, dan Allah (swt) telah memberi suatu rahasia kepada setiap umat manusia.  Kita telah diciptakan dan dimuliakan oleh Allah (swt); Dia menciptakan kita dari Cahaya-Nya, cahaya Nabi (s) dan cahaya Adam (a).

Manusia adalah makhluk yang dimuliakan.  Mereka diciptakan dengan kesempurnaan.  Allah (swt) berfirman, “Wa laqad karramna bani Adam,” “Sesungguhnya Aku telah memuliakan anak-anak Adam,” [al-Isra, 17: 70].  Dengan kemuliaan seperti apa?  Kesempurnaan dalam penciptaan.  Dalam banyak hadis, Nabi (s) berbicara mengenai Tuhannya dengan istilah-istilah yang biasa digunakan pada manusia, “Aku melihat Tuhanku datang kepadaku dengan tersenyum.”  Itu bukan berarti bahwa Dia adalah manusia, dan bukan pula dalam suatu hal Dia serupa dengan manusia–tetapi itu merupakan indikasi kesempurnaan di mana manusia diciptakan untuk mencapainya.

Tidak ada yang tahu dengan rahasia apa Dia telah menganugerahkan cahaya yang Dia tanamkan di dalam kalbu kalian.  Itulah yang ingin dikemukakan dalam ajaran-ajaran Tarekat Naqsybandi.  Syariah mengajarkan kalian dasar-dasar memerangi Setan dan mengeluarkannya dari dalam kalbu kalian.  Tarekat menjaga Syariah dan menuju ke tingkat yang lebih tinggi—untuk mengekstrak rahasia yang telah diberikan oleh Allah ke dalam kalbu kalian.  Ekstraksi ini adalah tugas dari Syekh.  Ini tidak bisa diberikan kepada kalian kecuali melalui khalwat, dan Syekh dapat mendengar dan mengetahui apa yang terjadi pada level kedua ini.

Maqam ketiga adalah Rahasia dari Rahasia (Maqam Sirr as-Sirr), kemudian muncul maqam keempat yaitu, Yang Tersembunyi (Maqam Khafa) dan maqam kelima Yang Paling Tersembunyi (Maqam Akhfa).  Tak seorang pun dapat memasuki maqam ketiga kecuali para guru Tarekat Naqsybandi.  Guru-guru dari 40 tarekat lainnya hanya dapat memasuki tingkat kedua saja.  Tak seorang pun kecuali Nabi (s) yang dapat memasuki maqam keempat dan maqam kelima hanya diketahui oleh Allah (swt) sendiri, yang mengetahui bagaimana Dia telah memuliakan manusia.

Lihatlah, bagaimana manusia adalah makhluk yang dimuliakan.  Tidak ada diskriminasi dalam pandangan Allah (swt) pada level tersebut, tidak ada Muslim, tidak ada Kristen, tidak ada Yahudi, tidak ada Buddha, tidak ada Hindu.  Yang ada hanyalah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil-`Aalamiin

“Kami telah mengutusmu sebagai rahmat bagi umat manusia,” [al-Anbiya, 21: 107]

Tidak ada perbedaan pada level itu.  Diskriminasi berasal dari kita.  Kitalah yang berkata, “Mereka Yahudi, mereka Kristen,” orang Kristen berkata, “Mereka Muslim, mereka Yahudi,” tetapi tidak ada istilah itu dalam pandangan Allah (swt).  Yang ada hanya umat manusia—titik.

إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا

In kullu man fi ‘s-samaawaati wa ‘l-ardhi illa atii ar-rahmani `abda

Tidak ada seorang pun di langit dan bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah kecuali selaku seorang hamba. (Maryam, 19:93 )

Kalian tidak diperkenankan untuk berbicara tentang keburukan saudara-saudari kalian, kita semua adalah anak cucu Adam dan Hawa.  Kalian akan mencampuri penilaian Allah (swt).  Padahal kalian bukanlah seorang hakim, Allah (swt) adalah al-Hakim.  Oleh karena itu jangan mencampuri urusan Allah (swt) dengan memberi penilaian kalian.  Allah (swt) tidak akan menanyakan pendapat kalian di Hari Kiamat nanti.

Jika Allah (swt) berkata, “Aku ingin memasukan semua orang ke Surga,” siapa yang dapat berkata kepada-Nya, “Apa yang Kau lakukan?”  Dan jika Dia berkata, “Aku ingin menghukum semua orang,” siapa yang dapat berkata kepada-Nya, “Apa yang Engkau lakukan?” Tidak ada yang bisa.  Dan apakah kalian pikir bahwa Allah (swt) telah menciptakan kita untuk dihukum?  Apakah Dia termasuk pendendam, Dzat yang menyukai balas dendam atau memberi hukuman?  Dzat yang menciptakan hamba-Nya untuk disiksa?  Apakah kalian menerima pandangan ini?  Ini mustahil.  Allah (swt) Maha Penyayang, Dia menjaga kasih sayang-Nya terhadap semua hamba-Nya.  Nabi (s) bersabda, “Saat yang paling indah dalam hidupku adalah ketika Allah (swt) memanggilku dengan sebutan ‘hamba’ atau ‘budak’—`abd—dan Dia berkata, ‘Datanglah wahai hamba-Ku.’

Mawlana Syekh Nazim (q) mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang baik.  Mengapa kita tidak menerima dan mematuhinya?  Kita datang ke sini dan duduk selama berjam-jam, siang dan malam, untuk mendapat sesuatu.  Segala sesuatu yang ingin kita dapat tergantung pada penghambaan kita.  Beliau mengajarkan kita untuk menjadi seorang hamba, bukan untuk menjadi—seperti yang beliau bilang kemarin—seorang yang perkasa!  Sebutan Perkasa adalah milik Allah (swt).  Kita semua adalah hamba.  Lebih jauh lagi, kita adalah hamba yang lemah dan tidak berdaya.  Kita tidak bisa melakukan apa-apa.  Inilah sebabnya Allah (swt) memberi Nabi (s) syafaat,

dan Nabi (s) bersabda,

شفاعتي لأهل الكبائر من أمتي

Syafa`ati li ahli ‘l-kaba’iri min ummati,”

“Syafaatku adalah untuk para pendosa besar di antara umatku,” (Ahmad, at-Tirmīdzī, Abū Dāwud, at-Tabarānī, Khatīb, al-Bayhaqī, Hākim, as-Suyūtī).

Kita adalah makhluk yang lemah dan tidak sempurna, tetapi kita harus mengajarkan diri kita untuk menerima apa yang dikatakan oleh Syekh dan untuk memoles kalbu kita.

Syekh tidak bergantung kepada kita.  Mereka bergantung pada kekuatan yang telah diberikan Allah (swt) kepada Nabi (s), dan yang telah diberikan oleh Nabi (s) kepada mereka.  Inilah sebabnya Allah (swt) mengatakan, “Datanglah kepada-Ku satu langkah, Aku akan datang kepadamu 99 langkah.”  Datanglah kepada Syekh satu langkah, dan beliau akan berlari mendatangimu 99 langkah.  Bila kalian tidak berusaha untuk mendekatinya walaupun hanya satu langkah, bagaimana beliau akan datang kepada kalian?  Beliau tidak akan datang.  Kalian harus menunjukkan kemajuan di sisi kalian.

Grandsyekh memerintahkan setiap orang untuk berkhalwat, namun dalam konteks ini kita harus mengerti.  Setiap orang harus mengajari dirinya sendiri untuk memoles kalbunya.  Kita tidak dapat memasuki khalwat sekarang.  Kita semua adalah pendosa dan tidak seorang pun yang benar-benar mempunyai niat di dalam kalbunya untuk berkhalwat.  Oleh karena itu, terdapat cara yang lain. Mawlana Syekh Nazim (q) menunjukkan jalan bagi kita untuk menarik kita mendekatinya dengan cepat.  Sebagian orang menaiki keledai, yang lain dengan kuda, beberapa orang dengan mobil, pesawat, dan ada juga dengan roket. Semakin cepat kalian pergi, semakin cepat kalian bisa mendekatinya.

Grandsyekh berkata, “Aku akan mengajari kalian suatu cara untuk mendekatiku dengan sangat cepat.  Kapan pun kalian datang dan duduk dalam suatu asosiasi, atau ketika kalian salat di malam hari, atau siang hari, atau ketika berzikir, atau membaca al-Qur’an atau Hadis, atau melakukan hal yang lain, ketika kalian duduk, bacalah:

Nawaytu‘l-Arba`īn

aku berniat selama 40 (hari)

Nawaytu‘l-‘Itikāf

aku berniat untuk itikaf

Nawaytu‘l-Khalwah

aku berniat untuk berkhalwat

Nawaytu‘l-‘Uzlah

aku berniat untuk uzlah

Nawaytur-Riyādhah

aku berniat untuk riadat

Nawaytus-Sulūk

aku berniat untuk suluk

Nawaytus-Siyām

aku berniat untuk puasa

Fi hadza‘l-Masjid

di masjid ini,

li-llāhi Ta’āla

karena Allah (swt).

Nabi (s) biasa membaca niat yang serupa ketika beliau mengasingkan diri di gua Hira sebelum wahyu datang kepadanya.  Ketika para Sahabat Nabi (s) dan seluruh guru memasuki khalwat, mereka juga membuat niat ini.  Ketika kalian membuat niat ini untuk pertemuan kita yang berlangsung selama 1 jam ini, maka waktu ini akan dipotong dari khalwat selama 40 hari yang merupakan kewajiban bagi kita.  Buatlah niat itu sebelum duduk di dalam suatu pertemuan, ia akan membawa kalian kepada Syekh kalian seperti roket.

Berapa tahun kalian telah bersama Mawlana Syekh Nazim (q)?  Jika kalian menjumlahkannya semua, dan masing-masing mempunyai niat seperti itu, maka kalian tidak akan meninggalkan ruangan, kecuali dicatat bahwa kalian telah menghabiskan waktu 2, 3 atau 5 jam dalam berkhalwat.  Waktu tersebut akan dipotong dari waktu 40 hari khalwat.  Jika kalian telah menyelesaikan masa 40 hari itu, kalian akan merasakan bahwa cahaya yang telah diberikan Allah (swt) kepada kalian menjadi terbuka dan cahaya itulah yang akan membuka mata kalbu kalian.  Tanpa hal ini kalian tidak akan menemukan kebahagiaan yang sekarang masih tersembunyi di dalam kalbu kalian.  Kalian harus mengeluarkannya.  Ini adalah satu cara untuk “mengkatrolnya.”  Gunakan niat ini selalu saat kalian bersama Syekh.

Wa mina-llāhit-tawfīq bi hurmatì‘l-Fātihah.
http://www.naqshbandi.org/teachings/suhbats/the-role-of-the-shaykh/