Jahiliyah Kedua dan Kedatangan Imam Mahdi (as)

IMG-20160831-WA0001

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
London, 25 Maret 1992

22 Ramadhan 1412 

Wahai saudara-saudariku, khususnya yang baru bergabung, kalian semua datang ke sini karena cinta kepada Syekh.  Kalian tidak datang karena cinta terhadap Islam. Tak seorang pun yang datang ke London karena cintanya kepada Islam.  Kita semua, termasuk pembicara, datang karena cinta kepada Syekh, beliau menunjukkan jalan kebenaran kepada kita, beliau menunjukkan pula bahwa jalan kebenaran itu melalui Islam.  

Allah (swt) telah menciptakan manusia dalam pola keislaman.  Benih keislaman terdapat dalam setiap orang. Islam, seperti keselamatan, berarti “damai” dalam bahasa Arab, dan ia merujuk pada kedamaian hati.  Cahaya kedamaian Allah (swt) telah diberikan ke dalam hati setiap manusia. Tanpa disadari, kita semua datang kepada Mawlana Syekh Nazim (q) melalui pintu cinta, pintu tawaduk dan penghormatan, dan beliau telah membawa kita ke dalam Islam.  

Mengapa para Sahabat menerima Rasulullah (saw)?  Mengapa Allah (swt) memilih makhluk terbaik untuk menjadi Rasulullah?  Sebab akhlak yang baik selalu membuat orang tertarik, sebaliknya akhlak yang buruk tidak akan mampu melakukan hal itu.  Ketika kita melihat akhlak Mawlana Syekh Nazim (q), kita akan tertarik kepadanya. Daya tarik itu membuat kita mengikuti jalannya, yang pada kenyataannya merupakan jalan keimanan dalam Islam.  

Di Amerika, banyak orang yang mendatangi kita, dan setelah kedatangan mereka yang ketiga atau keempat kalinya, mereka minta syahadat, ikrar keimanan dalam Islam, mereka bahkan tidak mengetahui apa yang membuat mereka terinspirasi untuk bersyahadat.  Setelah mereka duduk dan shalat bersama kita, ketika mereka ditanya apa agama mereka, mereka menjawab, “Kami adalah Sufi”. Hal ini disebabkan karena mereka tidak datang semata-mata karena Islam. Selang beberapa waktu kemudian, empat sampai enam bulan, mereka baru menyadari bahwa mereka adalah Muslim! 

Islam adalah ajaran spiritual yang tertinggi, dan ia merupakan agama Allah.  Nabi Musa (as) membawa Judaisme kepada umat Yahudi di masa mereka. Ketika Nabi ‘Isa (as) datang, Judaisme diambil alih dan setiap orang percaya kepada Nabi ‘Isa (as).  Ketika Nabi Muhammad (saw) datang, semuanya lenyap, yang tersisa hanya Islam. Oleh sebab itu, kepercayaan yang tertinggi adalah Islam.  

Mengapa kita tidak menyangkal Nabi Musa (as), tetapi umat Yahudi menolak Islam?  Mengapa kita tidak menyangkal Nabi ‘Isa (as) tetapi orang Kristen, yang mengakui Nabi Musa (as), malah menyangkal Islam?  Kita tidak menolak siapa pun. Ini merupakan bukti kesempurnaan. Sesuatu yang tidak sempurna tidak mungkin dapat melampauinya.  Rasulullah (saw) adalah yang tertinggi, dan itulah sebabnya agama lain tidak dapat menjangkaunya. Namun demikian, sebagai Muslim dan pengikut Rasulullah (saw) dan mematuhi ajarannya, kita menerima orang-orang Kristen, sebab kita tahu bahwa mereka benar dalam mengakui Nabi ‘Isa (as), dan kita juga menerima orang-orang Yahudi karena mereka menerima Nabi Musa (as).  Sama halnya dengan orang-orang Kristen yang tingkatannya lebih tinggi dari orang-orang Yahudi karena agama mereka lebih sempurna—mereka bisa melihat Nabi Musa (as) sebagai seorang rasul, tetapi umat Yahudi tidak dapat melihat Nabi ‘Isa (as) sebagai rasul, mereka tidak bisa melihat yang lebih tinggi atau yang paling tinggi tingkatannya.  

Ketika Nabi Musa (as) datang, Allah (swt) memberinya seratus pelat (kepingan-kepingan berisi ajaran Allah).  Ketika beliau kembali dari berkhalwat kepada Allah (swt) selama empat puluh hari dan melihat bahwa umatnya telah menyimpang dari jalan yang benar, beliau melemparkan pelat-pelat itu, sehingga sembilan puluh delapan di antaranya hilang.  Hanya dua pelat yang diberikan kepada umatnya. Itulah salah satu contoh ketidaksempurnaan yang sifatnya relatif dalam agama, yang mengharuskan umat Kristen untuk terus melakukan proses penyempurnaan, dan kelanjutan proses ini, serta penyempurnaan agama Kristen dilakukan oleh Islam. 

Islam datang untuk membawa orang-orang dari kegelapan menuju cahaya.  Masa itu disebut Jahiliyah yang dalam bahasa Arab berarti Masa Kebodohan.  Menyesal sekali, di abad sekarang ini terjadi lagi Jahiliyyah Ukhra.  Di mana-mana kalian bisa menjumpai kebodohan tersebut.  Orang-orang yang berada di jalan yang benar ditentang, tidak disukai, diserang dan dilawan.  Orang-orang yang salah justru dipuja dan dihormati. Hal ini telah diprediksi oleh Rasulullah (saw),

Yukhawwanul amiin wa yushaddaqul khaa’in,”
orang yang khianat dipercaya tetapi orang yang jujur tidak dipercaya.
 

Kita telah sampai pada akhir zaman.  Tidak ada lagi waktu yang tersisa bagi dunia ini untuk terus berlanjut.  Hari ini kita mendengar kabar yang sangat mengejutkan, Tarekat Naqsybandi dilarang di salah satu negeri Timur Tengah.  Ini adalah pengaruh dari golongan Wahabi. Dengan uang mereka, mereka berusaha mengontrol dan memerangi cinta kepada Rasulullah (saw).  Mereka tidak suka orang lain mencintai Rasulullah (saw), dan untuk itu Allah (swt) akan menempatkan mereka di bawah kaki para pengikut Tarekat Naqsybandi.   

Wahabi menyebarkan ajaran yang salah untuk menentang pengikut Rasulullah (saw) dan menentang ajaran keempat mazhab, untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang kering dan liar.  Merekalah yang bertanggung jawab terhadap skandal yang baru-baru ini terjadi, yang menyebabkan Islam mempunyai nama buruk di muka Barat. Mereka berkata bahwa kaum Yahudilah yang harus bertanggung jawab dalam melontarkan gagasan bahwa Islam adalah agama yang liar.  Sebenarnya hal ini tidak benar dan kebalikannya yang benar, hal-hal yang menyakitkan bagi Islam lebih banyak berasal dari golongan Wahabi daripada Yahudi. Kebencian Wahabi terhadap Rasulullah (saw) melebihi orang-orang Yahudi, bahkan lebih buruk lagi. Ketika Imam Mahdi (as) datang, ia akan memenggal leher 70.000 orang pengikutnya untuk  membersihkan bumi ini dari orang-orang kotor yang menyebarkan ajaran Wahabi secara luas dari Timur ke Barat dengan uang mereka. Mereka membeli institusi keagamaan di setiap negeri. Mereka memprovokasi orang dengan memberikan banyak uang agar cintanya terhadap Rasulullah (saw) menjadi luntur.  

Ada sejarah yang panjang mengenai hal ini.  Di masanya, mereka mendatangi Rasulullah (saw) dan meminta agar beliau berdoa untuk mereka.  Beliau bersabda,

“Allaahumma baarik lanaa fii Syaaminaa wa fii Yamaninaa.”
“Yaa Allah, berkahilah Syam kami dan Yaman kami.”

Mereka bertanya, “Bagaimana dengan Nejd, Ya Rasulallah (saw)?”  Nejd adalah seluruh area yang mencakup Riyadh sekarang ini. Di lain kesempatan Rasulullah (saw) bersabda, “Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman.”  Mereka lalu bertanya lagi, “Bagaimana dengan Nejd?” dan lagi-lagi beliau tidak menjawab pertanyaan mereka, kecuali dengan permohonan rahmat terhadap Syam dan Yaman.  Ketiga kalinya mereka bertanya tentang Nejd, Rasulullah (saw) bersabda,

Yakhruju minha qarnayyi ‘sy-syaythani wa yakthuru fiha az-zalazilu wa ‘l-fitan.” 
Kedua tanduk Setan akan muncul di sana, dan keguncangan-keguncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah dan korupsi akan banyak terjadi di sana.”  (Bukhari—Muslim).

Sekarang adalah awal dari kejadian yang telah diprediksi dalam hadits tersebut.  Dalam hadits yang lain Rasulullah (saw) bersabda, 

Sawfa tudhi’u naarun min ardhi Najdin yashra’ibbu laha a’naqul ibili bi Bushra,”
“Api seperti itu akan datang dari tanah Nejd sehingga unta di Bushra akan lari karena panasnya.” (Bukhari—Muslim).  

Itu terjadi tahun lalu (Perang Iraq).  Oleh sebab itu persiapkanlah diri kalian, bukan untuk yang terbaik tetapi untuk yang terburuk.  Bukannya kemajuan yang akan muncul, melainkan masa-masa kegelapan. Barulah setelah masa tersebut akan datang masa keemasan, yaitu masanya Imam Mahdi (as).  

Dalam waktu dekat banyak kejadian yang akan terjadi di sekitar kita.  Setiap orang dari kita harus berhati-hati menjaga imannya, termasuk iman istri dan keluarga, serta anak-anaknya.  Setan tidak akan meninggalkan orang sendirian. Ia mencoba untuk mengubah iman kalian dan menggoyahkan cinta kalian terhadap para Awliya, pengikut Sufi, dan Rasulullah (saw). 

Allah (swt) berfirman dalam Hadits Qudsi,

“lawla Muhammadun ma khalaqtu ahadan min khalqi.”
“Jika bukan untuk Muhammad (saw), Aku tidak akan menciptakan satu makhluk pun.” 

Mereka menentang Rasulullah (saw) sebab mereka pikir beliau akan berasal dari golongan mereka, dari Nejd.  Mereka tidak menerimanya, bahkan di masanya sekalipun. Mereka itu termasuk orang-orang munafik, sama seperti sekarang ini.  Hal ini telah dilukiskan dalam al-Quran. Jika kalian membacanya, kalian akan menemukannya di sana. Ketika Imam Mahdi (as) datang dan berkata,”Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim,” mereka akan gemetar ketakutan terhadap apa yang akan menimpa mereka.  

Mereka mempersiapkan dirinya untuk peristiwa itu dengan bantuan dari negara-negara Barat.  Mereka menyimpan senjata dengan harapan dapat membantu mempertahankan kerajaan mereka. Tidak akan!  Jika Allah (swt) menginginkan yang lain, Dia dapat mengirimkan gempa bumi dan segalanya akan musnah. Tetapi Allah (swt) meninggalkan mereka karena mereka menyebarkan fitnah, pemandu mereka akan kebingungan, dan Allah (swt) menguji hati hamba-hamba-Nya dan mengecek siapa di antara mereka yang hatinya baik dan siapa yang tidak.  

Bergembiralah, karena halaqah kita, halaqahnya Mawlana Syekh Nazim (q) adalah halaqah yang terbaik, dan termasuk halaqah yang langka, yang menunggu kedatangan Imam Mahdi (as), insya Allah, beliau akan muncul.  Imam Mahdi (as) melihat kegelapan sekarang dan dengan senang hati beliau akan segera muncul.  Mawlana berkata jika kalian meletakkan cinta itu pada semua gunung di bumi ini, gunung-gunung itu akan hancur luluh menjadi kerikil dan debu.  Sampai sekarang, meskipun dengan cinta seperti itu, beliau masih menunggu untuk muncul sebab izin dari Allah (swt) belum diberikan kepadanya. Beliau menunggu izin itu, dan izin itu insya Allah akan diberikan kepada kita semua, sebab kehadiran Imam Mahdi (as) menandakan kehadiran Syekh kita, dan kehadiran Syekh adalah kehadiran kita semua sebagai pengikutnya.   

Kehadiran Syekh ada di tangan Rasulullah (saw).  Sekarang kita mendatangi Mawlana untuk bersalaman atau menciumnya, suatu saat nanti kalian tidak akan mampu mendekatinya, karena kalian akan melihat jutaan orang mencoba mendekatinya, seperti yang kita lakukan sekarang ini, melihat dan menyentuhnya.  Itu adalah masa keemasan, dan insya Allah, Allah (swt) akan memanjangkan umur kita untuk menyaksikan masa itu.  

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah (saw) kepada para Sahabat mengenai tanda-tanda Hari Kiamat, “Afdhalul ummah,akhyarul ummah akhirul ummah,” “Umat terbaik, umat yang paling disukai, adalah umat terakhir,”  Sayyidina ‘Umar (ra) mengangkat tangannya dan berkata, “Ya Rasulallah, Aku rela untuk mengorbankan semua pahala yang engkau berikan kepadaku agar Aku bisa dimasukkan sebagai umat terakhir!”  Rasulullah (saw) menjawab, “Tidak, ini hanya untuk mereka saja.” 

Alhamdulillah, kita talah mencapai masanya umat terakhir.  Rasulullah (saw) bersabda, 

Idza saluhat ummati falaha ma’ishatu yawmin wa in fasudat falaha ma’ishatu nisfi yawmin, wa innayawman ‘inda rabbika ka’alfi sanatin mimma ta’uddun,” 
“Jika umatku tetap menjaga kemurniannya dan berlaku baik, mereka akan merasakan kenikmatan selama satu hari, tetapi bila mereka korup, mereka tinggal menyisakan setengah hari.” (hadits)

Dan satu hari menurut perhitungan Allah (swt) adalah 1000 tahun menurut perhitungan kalian.” [al-Hajj: 47].  

Dengan demikian menurut Rasulullah (saw), Allah (swt) telah memberikan kita seribu lima ratus tahun.  Sekarang kita berada di tahun 1412 hijriah (1992 M), tidak banyak lagi waktu yang tersisa untuk dunia ini. 

Semua tanda bagi kedatangan Nabi ‘Isa (as) sudah ada, beliau akan memerintah dunia ini selama empat puluh tahun, begitu pula untuk Imam Mahdi (as) yang muncul mendahului beliau dan akan memerintah selama tujuh  tahun.  Peristiwa ini akan terjadi tak lebih dari delapan puluh tahun yang akan datang. Kita telah mendekati akhir zaman dan tidak ada lagi waktu yang tersisa. Kita harus mempersiapkan diri kita dengan jalan mempersiapkan hati kita.  Bagaimana cara melakukan hal itu? Caranya adalah dengan meninggalkan nafs, ego kita. 

Kita bertanya,”Bagaimana kita dapat meninggalkan ego seperti yang selalu dikatakan oleh guru kita, Mawlana Syekh Nazim (q)?”  Setiap orang mempunyai ego. Bila Allah (swt) tidak memberikan ego kepada kita, kita semua akan menjadi malaikat tanpa dosa. Suatu hari Sayyidinna Abu Yazid al-Bisthami (q) pergi ke Ka’bah, sambil memegang rantai di pintu Ka’bah, baliau berdoa, “Wahai Tuhanku, izinkanlah Aku merantai kaki Setan dan menahannya, dengan kekuatan yang Engkau berikan kepadaku, sehingga seluruh makhluk dapat melihatnya, dan ia tidak dapat melihat orang-orang, sehingga ia tidak dapat mengganggu hamba-hamba-Mu lagi dan mereka semua tidak lagi berdosa!”  Allah (swt) telah memberikan wali ini kekuatan yang luar biasa sehingga beliau dapat berdoa seperti itu. Tetapi Allah (swt) berbicara melalui hatinya, “Wahai Abu Yazid (q), lihatlah di atasmu.” Ini berarti, lihatlah ke dalam maqam yang lebih tinggi dalam hatinya. Ketika Abu Yazid (q) melakukannya, beliau kehilangan kesadarannya dan tetap tinggal di sana selama 1 jam. Setelah bangun, beliau merayap ke pintu Ka’bah dan berbisik, “Ya Afuw, Ya Afuw, Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah aku!” 

Dan Allah (swt) berkata, “Wahai Abu Yazid (q), untuk siapa Aku meninggalkan Samudra Rahmat yang telah Ku-ciptakan kalau bukan untuk hamba-hamba-Ku?  Jika Aku membiarkan engkau merantai setan, maka orang-orang menjadi tidak berdosa, sementara Aku adalah Yang Maha Pengampun!” “Ana ‘l-Ghafuru ‘r-Rahiim” [al-Hajr: 49], Aku Maha Pengampun dan Maha Penyayang!  Siapa lagi yang akan Ku-ampuni kalau bukan para pendosa? Jika mereka menjadi tidak berdosa mereka akan seperti malaikat, tanpa mengenal tingkatan.  Biarkan mereka berdosa, Aku akan mengampuni mereka dan akan Ku angkat derajatnya lebih tinggi. Samudra Rahmat ini adalah untuk para pendosa. Oleh sebab itu, jangalah ikut campur dalam Kehendak-Ku.  Aku adalah pencipta manusia, dan Akulah yang menjaga dan melindungi mereka dari Setan, dengan Samudra Rahmat ini, biarkan mereka datang kepada-Ku ketika mereka berdosa.”

Jika seorang anak kecil terluka, ia akan segera berlari kepada ibu atau ayahnya.  Ketika Setan melukai kalian dan membuat kalian berdosa, berlarilah menuju Allah (swt) dan katakan, ‘Ya Allah, Aku telah berbuat dosa, ampunilah aku.’  Kalian akan segera mendapatkan pengampunan-Nya. Mengapa wahai para pendosa, kalian tidak datang kepada Allah? Mengapa kita tidak, dengan seluruh ego kita, datang kepada Allah?  Kita harus mendatangi-Nya. Bergegaslah dan dapatkan pengampunan-Nya, tetapi jika kalian tidak datang kepada-Nya, bagaimana Dia dapat memaafkan kalian? 

Kita berkata, ”Bagaimana kita dapat menghindari ego kita?” Mawlana Syekh Nazim (q) memberikan teladan yang sangat baik untuk menjauhi ego kita.  Setiap hari tuliskan sebanyak-banyaknya perilaku buruk yang ada dalam hati kalian dan yang kalian lakukan pada hari itu. Setiap orang mempunyai sedikitnya 700 karakter buruk dalam hatinya.  Semuanya harus dibersihkan dari diri kita. Beberapa orang berkata, “Kami tidak mempunyai perilaku yang buruk.” Tidak!! Duduk dan renungkanlah, dan tuliskan perilaku buruk apa saja yang masih ada dalam hati kalian.  Setiap orang mengenal dirinya sendiri dan tahu bahwa hatinya menyimpan perilaku buruk. Tuliskanlah, dan cobalah setiap hari menghilangkan satu perilaku buruk tersebut. Hari demi hari akan kalian lihat bahwa kalian telah meninggalkan perilaku buruk itu satu per satu. 

Setan tidak akan membiarkan orang melakukan hal ini.  Ketika kalian duduk dan merenung, kalian akan menemukan begitu banyak perilaku buruk yang bisa kalian pikirkan.  Kita semua adalah pendosa, kalian lebih mengenal diri kalian daripada orang lain. Namun ketika seorang Wali melihat ke dalam hati kalian, ia tahu apakah kalian bersih atau tidak.  Dengan demikian, ia tahu, kapan ia akan mengirimkan kalian untuk berkhalwat atau tidak sama sekali. Khalwat berarti kalian mencoba untuk maju dan meninggalkan perilaku buruk. Ketika seorang Wali melihat bahwa kalian mencoba meninggalkan perilaku buruk di dalam hati, ia akan memberikan izin untuk berkhalwat.  Tetapi kalau ia tidak melihat hal ini, tentu saja ia tidak mungkin memberikan izin tersebut. 

Perangilah ego kalian!  Apa pun yang diinginkan olehnya, lakukanlah yang sebaliknya.  Jangan menerima nasihat darinya, sebab ia akan menyesatkan kalian.  “Fa la tuzakku anfusakum,” “Jangan menyembah dirimu sendiri,” “Jangan pernah memberikan alasan kepada ego” [an-Najm: 32] “An-nafsu ammaratun bissu’” Ego kalian selalu menganjurkan, mengizinkan dan menyuruh kalian untuk berbuat sesuatu yang buruk dan melakukan kesalahan.  Oleh sebab itu jangan sekali-kali mendengarkannya, sebagaimana sabda Rasulullah (saw), ”Jangan dengarkan dirimu sendiri, tetapi dengarkan aku.”  Tetapi siapa yang mau mendengarkan Rasulullah (saw)? Tidak ada. 

Alhamdulillah, kelompok kita mendengarkan dengan cinta mereka.  Cinta itu akan membawa kita keluar dari kegelapan dunia dan menuju cahaya dari akhirat.  Mawlana berkata bahwa seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) ketika beliau sedang berada di mimbar menyampaikan khotbah Jumat.  Orang itu berdiri di pintu masjid dan berkata, “Yaa Sayyidi yaa Rasulallah, matas saa`atu yaa Rasulallah,” “Ya Rasulallah (saw) kapankah Hari Kiamat tiba?” “Mendengar dan melihat hal ini para Sahabat yang duduk di sana menjadi geram, seolah-olah mereka ingin membunuhnya karena orang itu berbicara dengan nada tinggi, namun tentu saja hal itu tidak diperbolehkan.  Ketika seorang pemimpin berada di sana, para pengikut tidak diperkenankan melakukan apa pun. 

Ini adalah adab! Ketika Mawlana berada di antara kalian, apa pun yang kalian lihat, siapa pun yang datang, siapa pun yang lewat, jangan menoleh kepada mereka.  Mata kalian harus selalu tertuju pada Syekh. Ketika beliau di sana, beliaulah yang menjadi pemimpin dan kalian tidak bertanggung jawab atas apa pun. Bahkan jika kalian melihat anak-anak membuat keributan, atau seseorang melakukan suatu perbuatan buruk, jangan ikut campur, beliau yang akan menanganinya.  

Jika seseorang masuk pada saat Syekh sedang memberikan shuhbah, ia harus duduk di mana pun tempat yang ditemukannya.  Pada saat itu mendatangi Syekh dan mencium tangannya adalah tarkul adab, bertentangan dengan adab, tidak hormat.  Mereka harus memberi salam dalam hati lalu duduk dan menyembunyikan diri mereka.  Kita juga tidak boleh melihat orang-orang yang baru datang, atau memberi salam, atau menjawab salam mereka.  Hanya Syekh yang memberi atau membalas salam. Andaikata ada beberapa orang yang datang, bersalaman dengan Syekh, kemudian  bersalaman dengan yang lainnya dengan membelakangi Syekh, semua itu adalah adab yang buruk. Setelah kalian memberi salam kepada Syekh, selesai, dan kalian boleh duduk.  

Para Sahabat marah tetapi tidak dapat berbicara apa-apa di hadapan Rasulullah (saw).  Ketika Badui itu berbicara dengan keras untuk ketiga kalinya, “Kapankah Hari Kiamat tiba?”  Saat itu Jibril (as) datang dan meminta Rasulullah (saw) untuk menjawabnya. Lalu beliau pun menjawabnya.  

Dari teladan ini, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah (saw) secara konstan mendengar dan patuh.  Hanya ketika ada inspirasi yang datang, beliau patuh dan menjawabnya. Kita tidak mendengar Syekh dan tidak juga mematuhinya.  Kita hanya patuh ketika kita bisa memperlihatkannya kepada semua orang, misalnya ketika mendapat hak istimewa untuk membawakan sepatu beliau, tongkat atau jubahnya.  Ketika diperintahkan untuk meninggalkan ego kalian dan perilaku buruk kalian, tiada yang menghormatinya lagi. Pada saat itu kita lebih suka mendengarkan ego kita dari pada perintah Syekh.  Berhentilah membawakan jubah untuk Syekh, jika kalian ingin agar orang lain melihatnya. Tetapi berlarilah dalam hati kalian menyambut perintahnya untuk meninggalkan ego kalian, dan dengarkan perintahnya, jagalah ego kalian. 

Rasulullah (saw) berkata, “Wahai orang Badui, Hari Kiamat adalah suatu perjalanan yang panjang, dan engkau membutuhkan banyak bekal untuk itu; amal dan ibadah apa yang telah engkau persiapkan?”  Orang itu menjawab,”Ala mahabbatuka, Yaa Rasulallah,” “Bukankah Aku mempunyai cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu!” Dan Rasulullah (saw) pun membalas, “Kafi yai’rabi,” “Ya, itu sudah cukup wahai orang Badui, engkau akan bersama orang yang engkau cintai”(diriwayatkan oleh Bukhari, Ahkam).  Orang itu pergi, bahkan tanpa masuk ke dalam masjid dan shalat bersama yang lain.  

Cinta kepada Syekh adalah sangat penting.  Ia akan membawa kalian bersamanya ke mana pun beliau pergi!  Jangan sampai membiarkan cinta itu menjadi lemah! Apa pun yang terjadi, jangan menerima serangan terhadap cinta itu.  Jika orang Wahabi mendatangi kalian dan menentang apa yang kalian lakukan dengan mengatakan, ”Ini syirik, ini bid’ah, ini tidak baik,” jangan dengarkan mereka.  Ambil tongkat dan pukul mereka. Jangan coba-coba untuk menasihati mereka. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mendengar dan sangat keras kepala, sehingga mereka tidak akan menerima kalian.  Oleh sebab itu, jangan dengarkan mereka.  

Sufisme tidak pernah merupakan syirik atau bid’ah selama 1400 tahun dan tidak bisa dinyatakan demikian karena 30 tahun  yang lalu. Pernyataan yang keliru ini timbul karena kebencian terhadap Rasulullah (saw) dalam hati orang-orang itu. Jangan dengarkan mereka,   jangan pergi ke masjid mereka, jangan shalat dengan mereka. Jika kalian tidak menemukan masjid yang imamnya mencintai Rasulullah (saw) dan memujinya, jangan shalat di sana, shalatlah di rumah.  Kalau tidak, kegelapan akan menyelimuti hati kalian, berhati-hatilah, Grandsyekh berkata bahwa satu jam bersama orang yang tidak mempunyai cinta terhadap Rasulullah (saw) atau Syekh dalam hatinya, akan mendatangkan setahun kegelapan di dalam hati kalian.  Perlu waktu satu tahun untuk membersihkan kegelapan itu dari hati kalian! Dengan demikian, jagalah diri kalian, jangan dengarkan orang-orang seperti itu. Jangan takut. Ketika mereka datang kepada kalian, katakanlah, “Lakum diinukum wa liya diin.”  “Bagimulah agamamu dan bagikulah agamaku.” [al-Kafirun: 6].  Jika mereka menyangkal bahwa kalian bukan Muslim, katakanlah, “Kami Muslim, kalianlah yang bukan!” 

Kita adalah orang-orang yang mengikuti jalur yang benar, jalannya Rasulullah (saw), para Sahabat, khalifah Rasulullah (saw), dan keempat imam dalam Islam.  Keempat imam itu mempunyai Syekh yang sufi! Mereka belajar kepada Syekh, walaupun ada beberapa Syekh yang buta huruf, misalnya, Syekh Bisyr al-Hafi (q) dan Syekh Syayban ar-Ra’i (q).  Setiap kali Imam Syafi’i bersama Syekh Bisyr al-Hafi (q) yang membuat tujuh kesalahan dalam membaca al-Fatihah, beliau tetap meminta Syekhnya untuk menjadi imam shalat. Syekh Bisyr (q) membaca, bukan dari ilmu-ilmu dari buku, melainkan dari cahaya hati.  Inilah yang kita butuhkan. Insya Allah, kita berdoa semoga cahaya akan diberikan kepada kita karena kecintaan kita kepada Syekh.  Semoga kecintaan kepadanya juga akan berkembang di hati kita. Tanpanya kita tidak akan bisa sampai ke pintu Rasulullah (saw).  

Kita harus bersikap rendah hati kepada sesama dan kepada orang lain.  Menerima saudara-saudari kita bukanlah suatu kejahatan. Agama ini berdasarkan cinta, agama ini berdasarkan hormat, dan agama ini berdasarkan kerendahan hati.  Jika kita tidak mempunyai perilaku yang baik ini, kita tidak akan menemukan Cahaya Allah dalam hati kita, sebagaimana yang diterangkan Allah (swt) dalam Hadits Qudsi, “Qalbu ‘l-Mu’min baytur Rabb,” “hati orang-orang yang beriman adalah rumah Allah.”  Untuk menjadi seorang Mukmin yang baik berarti menjadi seorang yang rendah hati, penuh hormat, dan mencintai sesama.  Tanpa ketiga perilaku baik ini, kalian tidak akan menemukan cahaya dalam hati kalian dalam kehidupan ini, ketika kita meninggal dan mengeluarkan tujuh napas terakhir—tanpa menghirup, tetapi hanya mengeluarkan—pada saat itu Syekh kita berada di sana untuk menarik kita ke dalam hatinya.  Sampai detik itu, kita tidak akan menemukan atau melihat cahaya hati kecuali, pertama kita harus memiliki ketiga perilaku baik tersebut. Berusahalah untuk mendapatkannya sekarang. Berusahalah untuk mempengaruhi ego kita agar menerima ketiga sifat ituBersikaplah rendah hati, jika seorang menyakiti kalian, jangan sakit hati, datangilah ia dan beri maaf, lebih jauh lagi ciumlah tangannya atau kakinya—itu bukan suatu kejahatan!  Sejauh kalian bisa merendah terhadap orang lain, maka lakukanlah, Allah (swt) akan mengangkat derajat kalian.  

Insya Allah, kita semua akan bersatu, karena kita memerlukan persatuan.  Biarkan semua percaya dengan hal ini, dan ikuti selalu satu Imam, satu Syekh, satu bay’at, satu pintu, satu sumber cahaya dari Sumbernya, satu stasiun pemancar untuk seluruh hati.  Pada saat itu kalian akan terangkul dengan tulus kepadanya. Semakin kuat kalian berusaha mendatanginya, semakin kuat dan kokoh rangkulannya. 

Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Fatihah

 

Langit dan Bumi Bersuka Cita untuk Mawlid an-Nabi (saw)!

Sulthan al-Awliya

Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani

Lefke, Siprus, 22 Februari 2010

 

Bismillaah Sayyidii, madad. (Mawlana Syekh berdiri.)  La ilaaha illa-Llaah, la ilaaha illa-Llaah, la ilaaha illa-Llaah, Sayyidina Muhammad-ur Rasuulullah. Sayyidi ‘l-awwaliin wa’l-akhiriin, Sayyidina Muhammad (saw), zidhu `izzan wa syarafan, nuuran wa suruuran. Syafa`atak, kami memohon syafaatmu, dan menentang orang-orang bodoh yang menyangkal syafaatmu. syafa`ata ‘l-uzhma adalah untukmu! (Mawlana Syekh duduk.)

Sulthan al-Awliya, kami memohon dukungan surgawimu, wahai tuan kami, yang mengawasi segala sesuatu di planet ini.  Allah Allah, Allahu akbar al-akbar. Dan kami ucapkan, “Dastuur, memohon dukunganmu.”  Kami adalah orang-orang yang lemah, tidak mengetahui apa-apa.  Ajarilah kami segala yang kami perlukan untuk menjadi hamba yang baik bagi Tuhan Surgawi.  Awal dari adab yang baik adalah mengucapkan, “a`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim, menyatakan bahwa kita tidak bersama kelompok setani.  Begitu banyak kelompok berada di bawah payung Islam. Nabi (saw) mengatakan bahwa akan ada 73 golongan; satu di antara mereka akan selamat di dunia dan akhirat, dan mendapat kemuliaan yang lebih tinggi di antara seluruh makhluk, hanya satu (golongan) di antara mereka.

Para Sahabat (ra) Nabi Suci (saw) bertanya, “Siapakah mereka wahai Nabi yang kami cintai?”  

Nabi (saw) menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang akan bersamaku dan mengikuti kalian, karena kalian mengikuti aku.  Dan mereka akan berusaha untuk mengikuti kalian karena mereka tahu bahwa jalan kalian adalah jalan yang lurus, Shiraatha ‘l-Mustaqiim. Dan itu hanya ada satu, tidak mungkin ada dua Shiraatha ‘l-Mustaqiim.  Kalian dan orang-orang yang mengikuti kalian akan menjadi firqatun naajiyyah, golongan orang-orang yang selamat.  Mereka akan masuk Surga karena jalan mereka adalah jalan yang benar.”

“Bagaimana dengan 72 golongan lainnya?”

“Mereka akan mengaku bahwa, ‘Kami bersama Khatamul Anbiya, Nabi Penutup,’ tetapi mereka adalah para pembohong.  Mereka tidak mengikutiku, mereka mengikuti Setan. Ke-72 golongan itu semuanya bersama Setan. Jika Setan tidak bersama mereka, maka mereka akan menghormatiku.  Tetapi mereka tidak menghormatiku karena Setan mengatakan kepada mereka, ‘Engkau berada di jalan yang benar, dan merekalah yang tidak berada di jalan yang benar.”  

Guru dan pemimpin mereka yaitu Setan telah meletakkan sesuatu ke dalam 72 golongan ini.  Jika kalian bertanya siapa saja mereka, itu mudah. Besok malam adalah hari kelahiran Nabi (saw), Milad un-Nabi.  Orang-orang yang menolak untuk merayakan hari kelahiran Nabi Penutup (saw), kalian tahu–mereka bersama Setan. Hal ini karena Setan begitu hasad, begitu dengki dengan Nabi (saw), dan membuat orang-orang tidak merayakan hari kelahiran dan malam pertama dari Nabi Penutup (saw).  Mereka semua ini merayakan hari ulang tahun seseorang, ptuuh (meludah), tetapi jika kalian merayakan hari ulang tahun Nabi Penutup (saw), mereka mengatakan itu adalah haram, syirik, bid’ah dan kufur.

Di kepala mereka akan tertulis raghab `ala anfihim, kutukan bagi mereka!  Mereka begitu dengki terhadap manusia yang seharusnya dihormati, manusia yang paling mulia di antara seluruh makhluk!  Apa itu? Setan tidak senang, ia iri dengan Nabi (saw), sebagai makhluk yang paling dicintai, yang paling agung, yang paling mulia.  Setan adalah makhluk yang paling iri terhadap Nabi Penutup (saw), terhadap Kekasih Allah, makhluk yang paling dicintai di Hadirat Ilahi!  Saya bertanya pada kalian, wahai ulama Salafi dan orang-orang Wahhabi, siapakah makhluk yang paling dicintai di Hadirat Ilahi? Katakan!! (Mawlana Syekh berdiri)  Jika Muhammad (saw) bukan orang itu, lalu siapa yang akan berada di Hadirat Ilahi?!! (Mawlana Syekh duduk.)

Kalian adalah bangsa Arab, dan kalian mengerti bahasa Arab.  Allah (swt) berfirman kepada Kekasih-Nya,

لولاك لولاك ما خلقت الأفلاك

Law laak law laak maa khalaqtu ‘l-aflaak.

Jika bukan untukmu (wahai Muhammad), Aku tidak akan menciptakan aflaak (tubuh Surgawi; alam semesta).”

Itu adalah bahasa Arab, ya, dan kalian mengatakan bahwa itu tidak benar, tetapi kami katakan haatuu burhaanukum, bawa bukti-bukti kalian!  Itu adalah hadits qudsi, di mana Allah berfirman kepada Kekasih-Nya (saw), “Kapan dan di mana?  Yaitu ketika belum ada waktu dan ruang,” Allah (swt) mengatakannya kepada Nabi Penutup (saw). Ya, Allah mengatakannya tetapi tidak ada orang yang mengetahui jika Nabi (saw) tidak mengatakannya, tidak ada orang yang tahu, tidak ada orang yang membawa buku catatan dari sakunya dan mencatatnya, tidak.  Itu terjadi sebelum ada waktu dan ruang, “tidak ada waktu dan ruang,” ketika Allah mengatakannya kepada Kekasih-Nya. Hanya satu! Kepada satu-satunya!

Wahai orang-orang yang lalai, wahai para pendengki, para pengikuti Setan, khalifahnya Setan!  Seseorang bertanya kepada saya, “Wahai Syekh, engkau mengatakan bahwa Khalifah Nabi (saw) ada terus hingga Hari Kebangkitan.  Bagaimana dengan Setan, apakah ia juga mempunyai khalifah?” Ya, Setan mempunyai khalifah yang menentang Nabi Penutup (saw), yang penuh kedengkian.  Mereka adalah para khalifah Setan. Khalifah Setan artinya deputi, penerus atau pengikuti sejati dari Setan. Ya, itu begitu jelas. Mereka mengatakan hal-hal yang berbeda dan mempertahankan gagasannya.  Darimana kalian membawa hal-hal semacam itu dan mengatakan bahwa hadits qudsi tadi tidak benar? Katakan, “Law laak law laak maa khalaqtu ‘l-aflaak,”  “Jika bukan untukmu, Kami tidak akan menciptakan seluruh alam semesta.”   Selama 1400 tahun (hadits) ini sudah dikenal, ia tertulis untuk setiap ulama yang mengikuti jalannya Nabi (saw) hingga sekarang.  Hatuu burhanakum, bawa bukti-bukti kalian jika ini bukan hadits qudsi sungguhan.  Katakan, dari mana sumbernya? Apakah menurut kalian Islam dimulai dari Muhammad `Abdu ‘l-Wahhab, dan umat Muslim telah mengikuti jalan yang salah dan mereka semua akan menjadi musyrik dan kafir?  Darimana ia berasal, Abdul Wahhab? Tiba-tiba muncul sesuatu yang bertentangan dengan Nabi (saw)?

Tidak, kalian yang bertentangan dengan Syariatullah, dengan perintah Allah.  Islam tidak dimulai dengan `Abdu ‘l-Wahhab, Islam dimulai dengan Nabi Penutup (saw)!  Mereka bertanya, “Mengapa kalian menyebut kami ‘Wahhabi’?” Mereka sendiri yang mengatakan bahwa mereka adalah Wahhabi!  Saya bertanya pada ulama Salafi, satu pertanyaan. Apakah kalian membaca al-Qur’an suci? Siapa yang mengatakan, `ala dhalaalah (orang-orang yang sesat)?  Bagaimana kalian mengubah nama kalian?  Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim!”  Allah (swt) menyebut kalian Muslim, mengapa kalian mengatakan, “Kami adalah Wahhabi!”  Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim!” Kalian telah melanggar Islam dan melakukan dosa terbesar, sebuah kejahatan dalam Islam.  Mengapa kalian tidak mengatakan, sammaakum; mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami menjadi Muslim.”  Kalian menyangkal diri sendiri dengan mengatakan, “Kami adalah Wahhabi!”

Wahai manusia!  Siapa yang mengikuti kaum Wahhabi, maka kutukan akan datang pada mereka.  Saya pikir mereka tidak mengetahui bahwa tafriqa (pemecahan) akan terjadi, dalam setengah abad berikutnya tidak ada satu pun dari mereka yang akan hidup di Bumi.  Seluruh dunia hanya untuk Muslim, dan kita tidak mengatakan, “Kami adalah Wahhabi,” kita mengatakan, “Kami adalah Muslim.”  Dan saya mengatakan ini kepada seluruh kaum Muslim, mengapa kalian mengikuti orang-orang itu? Mereka mengubah nama mereka, dengan mengatakan, “Kami mengikuti  `Abdu ‘l-Wahhab.” Mengapa kalian tidak mengatakan, “Kami adalah Muslim.” Apakah `Abdu ‘l-Wahhab seorang Nabi? Memberi kalian nama, “Kami adalah Wahhabi.” Siapa di antara kalian yang memberikan wewenang kepada mereka?  Para pengikut Setan, khaaf Allah, takutlah kepada Allah, qudratuh (Kekuasaan-Nya), atau kalau tidak, tidak ada seorang pun yang akan hidup di dunia.

Saya rasa tidak ada seorang pun di antara orang-orang yang mengatakan “Kami adalah Wahhabi” akan sampai pada zaman Sayyidina `Isa (as).  Ini adalah sebuah pengakuan yang besar. Kita mendapat deklarasi istimewa ini sekarang, malam ini, bahwa mereka berada di jalan yang salah, karena mereka mengatakan, “Kami adalah pengikut `Abdu ‘l-Wahhab,” dan, “Kami adalah Wahhabi,” dan memberi mereka nama bahwa mereka adalah “Wahhabi.”

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

inna bathsya rabbuka la syadiid.

Sungguh azab Tuhanmu sangat keras. (Al-Buruj, 85:12)

Allahu Akbar `alayhim, Allahu Akbar `alayhim, Allahu Akbar `alayhim dan kepada para pengikutnya!

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajiim.  Di manakah Islam sejati dan di mana (posisi dari) orang-orang yang mengikuti jalan yang salah sekarang?  Mereka begitu hasad, dengki, mereka tidak pernah rela untuk menghormati Nabi Penutup (saw). Allah (swt) sangat memuliakannya!  Itu artinya kalian berkelahi dan bertengkar dengan Allah (swt)! Kalian menentang Allah dan mengatakan, “Mengapa kalian bersama orang ini?”

Ohh, ohh, yaa Rabbii, subhaanallah!  As-salaamu `alaykum wahai para pendengar kami,

وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

wa ‘s-salaamu `alaa mani ‘ttaba`a ‘l-huda.

Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (Thaha, 20:47)

Keselamatan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk Nabi (saw).  Ya, kita berusaha untuk mengikuti jalan Nabi Penutup (saw), Sayyidi ‘l-awwaliin wa ‘l-akhiriin.  Kita adalah para pendosa. Kita tahu bahwa kita adalah para pendosa, tetapi saya pikir kita tidak mengganggu kehormatan Nabi Penutup (saw).  Kita adalah para pendosa, tetapi manusia yang paling mulia adalah Sang Nabi Penutup (saw), (Mawlana Syekh berdiri lalu duduk kembali) dan kita berharap bahwa beliau akan memberikan syafaatnya bagi para pengikutnya yang lemah!

Wahai Tuhan kami!  Kami tidak menyukai orang-orang yang salah, dan fitnah itu akan menjadi akhir dari zaman ini.  Begitu banyak fitnah yang muncul, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Penutup (saw), begitu banyak hal-hal palsu yang muncul menentang Islam sejati dari para pengikut Setan.  Mereka akan datang menentang posisi mansyuur (yang mendapat Dukungan Ilahi) dan mereka akan mengatakan, “Ini salah, itu benar.”   Akhbathu ‘n-naas, orang-orang yang sangat kotor, yang mengikuti ego mereka, heh?  Ego itu mengikuti Setan.

Wahai Tuhan kami!  Jagalah kami agar tidak terjatuh dalam perangkap Setan.  Setan berusaha sejak zamannya Nabi Penutup (saw) hingga akhir zaman, mengatakan, “Aku tidak akan membiarkan umatmu mengikutimu, tetapi aku akan membuat umatmu mengikutiku, khususnya di akhir zamanmu.”  Setan telah melakukan yang terburuk untuk membuat fitnah besar melalui Islam, mengapa? Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Penutup (saw), “Akan ada 73 golongan.” Beliau (saw) memberi peringatan kepada umatnya, “Wahai manusia!  Ikutilah jalan yang benar, karena ada begitu banyak jalan yang akan muncul dan setiap orang akan mengatakan, ‘Ikutilah jalan kami, ikutilah jalan kami,’ tetapi mereka membawa kalian ke dalam perangkap mereka. Mereka semua akan terjatuh dari jembatan Shirath.”  Semoga Allah mengampuni kita.

Wahai manusia!  Apa yang kami katakan adalah tidak mudah, karena hari Kamis (atau Rabu malam) adalah hari kelahiran Nabi Penutup (saw), sebuah perayaan menentang gagasan yang salah akan terjadi di Bumi dan begitu pula di Langit.  Seluruh Langit akan dihiasi dengan dekorasi yang begitu rupa yang belum pernah muncul sebelumnya, untuk merayakan “Malam Kelahiran Nabi Penutup (saw)!” (Mawlana Syekh berdiri). Yaa Muhammad!! Yaa Allah!! (Mawlana Syekh duduk kembali).

Seluruh malaikat, seluruh Muslim sejati, ruh mereka bernyanyi, jiwa sejati mereka bernyanyi, yaa Muhammad, Dost Muhammad canım pek sever seni.  Ribuan dan ribuan nasyid yang indah dilantunkan di Langit; malam itu akan menjadi malam perayaan di Langit, untuk Mukmin sejati yang hatinya penuh dengan kecintaan pada Sayyidina Muhammad!! (Mawlana Syekh berdiri dan duduk kembali.)  Oleh sebab itu, seluruh Muslim selama berabad-abad, mereka menyanyi dan melantunkan,

Huuuuu Huuuu Huuuuu Huuuuu Huuuuuu Huuuuuu

Huuuuu Huuuu Huuuuu Huuuuu Huuuuuu Huuuuuu Huuuu yaa Muhammad

Huu Huuu Huuuu Huuu Huuuuu Hu Huuu Hu Huuu Hu Huuuu Huuuu Hu Huuuuuu.

Fatihah.

Dari Samudra yang Tak Bertepi, apa yang kita katakan adalah sebagai takzim, penghormatan kepada Nabi Penutup (saw), dan itu lebih kecil daripada sebuah atom!

Huu Huuuu Huuuu Huuuuu Huuuu Huuuu.

Wahai para malaikat, bawalah mereka pergi, mereka yang penuh kedengkian, yang membenci Nabi Penutup (saw); Nabi yang paling dicintai di Hadirat Ilahi!  Bawalah mereka pergi atau bawalah mereka pada jalannya.

Fatihah.

(43 menit) (535)

Alhamdulillah.

(Mawlana Syekh berbicara dengan Hajjah Naziha di telepon.)