Tanda-Tanda Akhir Zaman

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim,
wassalamu alaykum wa rahmatullahi ta`aala wa barakatuh
Ramadhaan Kariim!

Allah telah memperlakukan kita bi luthfihi, wa karamihi, wa juudihi wa husnihi wa mahabbatihi, dengan Kebaikan-Nya, dan Kemurahan-Nya, dan Kasih Sayang-Nya, dan Cinta-Nya dan Dia memberikan yang terbaik bagi kita. Allah memberikan bulan ini sebagai karunia bagi kita semua, bagi Ummah Habibi ‘l-Mushthafa (saw).

Dari mana saya harus memulai?
Saya tidak tahu.
Di mana saya harus mengakhirinya?
Saya tidak tahu.

Awliyaullah bertanya pada diri mereka sendiri, kapankah bala bencana ini akan berakhir? Kemudian muncul jawabannya, “Biarkan tidak ada yang mencampuri quwwatillah `azza wa Jalla wa bi qudratillah, Kekuatan dan Kehendak-Nya sehubungan dengan apa yang telah diperintahkan-Nya,” jadi kita hanya bisa mengikutinya.

Ini adalah sebuah perintah Rabbani, bukan untuk mencurahkan Rahmani, rahmat-Nya; tetapi atas Ketentuan-Nyalah kegelapan turun kepada seluruh Ummah, pada seluruh manusia karena mereka tidak mengikuti Sunnah Rasulullah (saw). Setelah Allah mengaruniai kita dengan cintanya Nabi (saw), kita tidak mengikuti Sunnahnya, kecuali hanya segelintir Muslim saja di sana sini dan mereka yang menegakkan iman di sana sini. Mereka mengikuti jejaknya orang-orang yang saleh.

Kita menunggu perubahan-perubahan di dunia dan perubahan yang akan segera terjadi menuju Akhirat. Jangan mengatakan bahwa tidak ada jalan bagi kita untuk mengetahuinya. 1500 tahun telah berlalu dan Hadits Nabi (saw) tidak pernah usang, ia tetap mengajari kita dan kita harus mengikutinya. Jika kita tidak mengikutinya, maka kita akan berakhir di tempat yang tidak baik bagi kita.

Peristiwa-peristiwa penting akan terjadi dan sejak 50 tahun yang lalu atau lebih, Mawlana Syekh Abdullah telah mengatakan hal itu kepada kami dan hal itu terekam bersama kami. Beliau mengatakan bahwa dari setiap tujuh orang, enam di antaranya akan mati dan hanya satu orang yang tersisa. Hal itu adalah sebagai hukuman karena tidak mengikutinya. Dan kami bertanya pada diri kami sendiri 50 tahun yang lalu, “Bagaimana hal ini akan terjadi, di mana dari setiap tujuh orang, enam orang akan mati dan hanya seorang yang akan tersisa?”

Kita telah diperintahkan untuk tidak mengikuti pendapat kita sendiri dan bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana?” tetapi kita diperintahkan untuk mengikuti junjungan kita Nabi (saw), para Awliya dan sang pemilik zaman ini, shahibu ‘z-Zaman, yakni al-Mahdi (as). Zaman di mana kita hidup bukanlah milik kita, beliaulah yang memilikinya. Ini adalah zamannya Wilayah (kewalian) dan zamannya Mahdawiyyah, yakni orang-orang yang percaya dengan Mahdi (as), sebagaimana yang ditunjukkan oleh munculnya tanda-tanda dan beberapa hal yang menunjukkan peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi dan fonomena-fenomena besar yang akan tersebar. Banyak orang yang telah mati, dan mereka memprediksi bahwa akan ada lebih banyak lagi orang yang akan mati. Dan itulah yang kita lihat sebagai prediksi di mana banyak orang akan mati. Oleh sebab itu kita harus mengikuti persiapan-persiapan yang diajarkan oleh para Awliyaullah dan membaca Hadits Rasululullah (saw) tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada akhir zaman.

Perselisihan dan pertikaian akan terjadi dan itu akan membuat kaum muda dan tua tercengang. Kaum tua akan merasa bahwa peristiwa-peristiwa besar itu telah terjadi dan akan terus muncul. Dan peristiwa-peristiwa lain yang tidak akan muncul meskipun beberapa orang memperkirakan akan terjadi, dan apa yang terlihat dari kematian setiap hari merujuk pada kematian Ummah secara keseluruhan. Namun demikian ini adalah masalah yang pasti akan terjadi, tidak ada keraguan tentang hal itu.

Alhamdulillah, kita akan melihat orang yang akan menjadi pembawa kabar gembira, seorang yang bijak dalam agama, seorang pria yang saleh, yang akan muncul untuk memperbaiki keadaan Ummah seluruhnya, dan beliau adalah al-Mahdi (as), di mana banyak peristiwa yang disebutkan dalam Hadits Nabi (saw) berada di bawah perintahnya dan tak kurang dari 124.000 Awliyaullah berusaha untuk mengikutinya dan memperkuat diri mereka dengan mengambil kekuatan bagi keselamatan kalian. Barang siapa yang mengucapkan kata-kata, “Assalamu `alaykum warahmatullahi wabarakatuh,” ia akan berada dalam naungan dan tudung (perlindungan) dari pembacaan tentang peristiwa-peristiwa ini dan pembacaan hadits mengenai peristiwa-peristiwa ini.

633434

Kami mempunyai banyak laporan, khususnya berupa hadits Nabi (saw) di mana kami telah menerbitkan sebuah buku dalam bahasa Inggris mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi menjelang Hari Kiamat (yakni buku The Approach of Armageddon, edisi Indonesia: Kiamat Mendekat), yang menyebutkan tentang situasi dan keadaan Ummah, dalam hal ini adalah semua orang yang muncul setelah zamannya Nabi (saw). Jadi jangan menganggap remeh hal ini. Letakkan di depan mata kalian dan pikirkanlah mengenai hal ini.

Jika Ummah tidak berhenti dari perselisihan, pertikaian dan fitnah, maka Ummah akan menderita dan terkena hantaman yang mematikan sebagaimana yang dialami oleh kaum `Aad dan Tsamud, kaum yang sudah binasa di masa lalu. Pendapat bisa berbeda-beda, tetapi al-haqaiq wahidah, kebenaran hanya satu dan bersifat permanen.

Kita memohon agar Allah `azza wa Jalla mengampuni kita dan menjauhkan kita dari hal-hal tersebut, karena kita akan hidup pada zaman itu. Mungkin tidak semua di antara kita, tetapi beberapa orang yang masih muda, mereka akan hidup untuk menyaksikan zamannya Shahibu ‘z-Zaman. Saya menceritakan hal ini kepada kalian–tidak peduli apakah mereka menceritakannya kepada kalian atau tidak–tidak ada halangan bagi kemunculan Shahibu ‘z-Zaman, dan tidak ada rintangan bagi kemunculannya pada zaman yang penuh gejolak dan fitnah ini, karena itu merupakan sebuah perintah Ilahi.

Walhamdulillaahi rabbil `aalamiin, wal `aqibatu lil muttaqiin, dan kebaikan akan selalu menghampiri mereka yang bertakwa; fa laa `udwaana illa `alaa ‘zh-zhaalimiin, dan tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang zalim. Kita berharap bahwa kita semua akan mengerti tentang kekuatan al-Mahdi (as). Sesungguhnya Mawlana Syekh, qaddas Allahu sirruh, mengatakan, “Bagaimana kalian dapat mengenali tanda-tanda Mahdi (as)?” Hal itu seperti kalian mengambil sebutir kacang utuh yang besar, lalu kalian letakkan di tangan kanan, kemudian lihatlah kacang itu setelah dimasak, kalian akan melihat bahwa permukaannya akan seperti permukaan gunung. Orang-orang yang beriman akan melihatnya dengan mata mereka, tetapi orang-orang yang tidak beriman akan melihat hal itu sebagai sesuatu yang aneh, padahal yang aneh adalah kalian, wahai non Mukmin yang takut kepada selain Allah.

wassalamu`alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Berjuanglah dan lakukan yang terbaik, sebelum waktunya habis. Berjuanglah dengan kebenaran. Kami menyerukan untuk kedamaian dan keselamatan, bukan untuk yang lain. Dan ini membuat damai dengan Tuhan kalian. Ketika kalian mengucapkan, “Asyhadu an lā ilāha illa ‘l-Lāh, wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlulāh” bi hubbika li ‘n-nabiy (saw), dengan rasa cinta terhadap Nabi (saw) di dalam hati kalian, wa bi kalaamika fii haqqillaahi `azza wa Jalla, dan dengan perkataan kalian mengenai Allah `azza wa Jalla, wa mahabbatihi fi ‘sh-shaalihiin, dan cinta kalian kepada orang-orang saleh, kalian akan masuk ke dalamnya, itu adalah suatu kepastian, kalian akan masuk ke dalam Baabu ‘s-salaamah, Pintu Keselamatan, insyaaAllah. Kalian akan masuk dari satu pintu ke pintu berikutnya dan dari satu pintu ke pintu berikutnya lagi hingga pintunya berakhir dan kalian akan menemukan apa yang kalian cari.

Jadi lanjutkanlah perjuangan kalian, sampai kalian mencapai apa yang telah ditetapkan Allah bagi kalian dan kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap.

Wa qul jaaa al haqqu wazahaqal baathilu innal baathila kaana zahuuqaa

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS Al-Israa, 17:81)

wassalamu`alaykum warahmatullahi wabarakatuh,
Kita akan bertemu lagi besok atau lusa, insyaaAllah.
Assalamu`alaykum.

~ Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
9 Mei 2020

https://www.youtube.com/watch?v=lWBGHKVIjI8&feature=youtu.be

JANGAN MENJADI VIRUS BAGI DIRI KALIAN SENDIRI DAN BAGI ORANG LAIN

90260650_10215384003895398_9093989248029163520_n

Shaykh Hisham Kabbani | 13 Desember 2004
Atas perkenan Sufilive.com

Mana yang lebih kecil, virus atau bakteri? Virus yang dapat berjalan ke sana ke sini lebih kecil daripada bakteri, kecil tetapi beracun! Setiap racun berasal dari virus dan orang-orang mengatakan bahwa mereka tidak dapat menghentikannya. Kalian dapat menghentikan bakteri dengan antibiotik, karena mereka lebih besar daripada virus.

Kita-kita ini adalah virus! Kita beracun, kita semua—pikiran kita, tubuh kita, hati kita, kaki kita, tangan kita, darah kita—dan kita harus diremajakan (rejuvenated). Itu artinya kalian harus mengambil segala sesuatunya dan memasukannya ke dalam mesin cuci, lalu kalian harus mencucinya untuk memastikan bahwa kalian telah terbebas dari segala virus. Bahkan di mesin cuci pun, jika kalian tidak mencucinya dengan suhu tinggi (dry clean), masih ada bakteri yang tersisa. Itulah sebabnya sekarang mereka mengatakan agar jangan mencuci peralatan makan dengan tangan, karena masih ada bakteri atau virus di sana. Sekarang mereka memasukan peralatan makan itu dalam panas yang sangat tinggi untuk memurnikannya. Apa istilahnya? Sterilisasi. Kalian harus mensterilisasi diri kalian! Dan kalian tidak dapat melakukannya sendiri, kalian memerlukan seorang pemandu (mursyid) untuk mensterilisasi diri kalian.

Kalian adalah virus, tetapi tidak lebih daripada sebuah virus yang bisa dihancurkan! Dengan segala virus yang beracun itu, kita tetap saja sombong, begitu bangga dengan diri kita, pikiran kita, dan bangga dengan segala sesuatu yang kita miliki! Kita ingin segala sesuatunya sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan kita tidak mau mendengar pendapat orang lain. Kita adalah virus, dan virus yang bertengkar satu sama lain, meracuni satu sama lain, virus ini melawan virus itu.

Itulah sebabnya mengapa para Awliyaullah tersembunyi sekarang. Mereka mundur karena sekarang ini adalah zaman jahiliah, zaman yang penuh kebodohan. Nabi Muhammad (saw) menyebutkan, “Pada akhir zaman kebodohan akan memenuhi bumi.” Jadi sekarang virus itu ada di mana-mana. Orang-orang telah korup, lalai dan mereka seperti virus bagi diri mereka sendiri. Jangan berpikir bahwa ada seseorang yang sempurna di antara orang-orang itu, kecuali para Awliyaullah, Sahabat Allah. Bahkan seorang wali pun tidak seratus persen sempurna, karena ada berbagai tingkatan di antara mereka.

Jangan menjadi virus! Tingkatkanlah diri kalian sedikit, jadilah bakteri, itu lebih baik [tertawa]. Bila kalian mengangkat diri kalian dari virus menjadi bakteri, dan dari bakteri masuk ke sterilisasi, pada saat itu kalian akan mampu memahami bahasa-bahasa gerak. Kalian akan mampu memahami bahasa rasi bintang dan benda-benda langit yang bergerak di alam semesta, dan kalian akan melihat Keseimbangan dan berbagai bintang dalam orbitnya. Kalian dapat memahami semuanya! Ketika mereka bergerak, mereka menghasilkan bahasa, seperti lantunan musik. Itu bukan musik sungguhan, karena itu tidak dapat dijelaskan, tetapi itu adalah sumber pencerahan malaikati yang mana para Awliyaullah dapat memahami rahasia-rahasia. Allah (swt) akan membusanai mereka dengan busana yang indah tersebut karena suara-suara malaikati yang indah dan musikal yang mereka terima melalui gerakan dari konstelasi bintang-bintang ini mengelilingi satu sama lain dengan cara surgawi!

Semoga Allah (swt) membuat kita dapat memahaminya dan menempatkan kita pada kaki Awliyaullah, untuk belajar dari mereka dan agar tidak menjadi virus dan bakteri, tetapi agar kita disterilisasi.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq bi hurmati ‘l-Fatihah.

Jahiliyah Kedua dan Kedatangan Imam Mahdi (as)

IMG-20160831-WA0001

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
London, 25 Maret 1992

22 Ramadhan 1412 

Wahai saudara-saudariku, khususnya yang baru bergabung, kalian semua datang ke sini karena cinta kepada Syekh.  Kalian tidak datang karena cinta terhadap Islam. Tak seorang pun yang datang ke London karena cintanya kepada Islam.  Kita semua, termasuk pembicara, datang karena cinta kepada Syekh, beliau menunjukkan jalan kebenaran kepada kita, beliau menunjukkan pula bahwa jalan kebenaran itu melalui Islam.  

Allah (swt) telah menciptakan manusia dalam pola keislaman.  Benih keislaman terdapat dalam setiap orang. Islam, seperti keselamatan, berarti “damai” dalam bahasa Arab, dan ia merujuk pada kedamaian hati.  Cahaya kedamaian Allah (swt) telah diberikan ke dalam hati setiap manusia. Tanpa disadari, kita semua datang kepada Mawlana Syekh Nazim (q) melalui pintu cinta, pintu tawaduk dan penghormatan, dan beliau telah membawa kita ke dalam Islam.  

Mengapa para Sahabat menerima Rasulullah (saw)?  Mengapa Allah (swt) memilih makhluk terbaik untuk menjadi Rasulullah?  Sebab akhlak yang baik selalu membuat orang tertarik, sebaliknya akhlak yang buruk tidak akan mampu melakukan hal itu.  Ketika kita melihat akhlak Mawlana Syekh Nazim (q), kita akan tertarik kepadanya. Daya tarik itu membuat kita mengikuti jalannya, yang pada kenyataannya merupakan jalan keimanan dalam Islam.  

Di Amerika, banyak orang yang mendatangi kita, dan setelah kedatangan mereka yang ketiga atau keempat kalinya, mereka minta syahadat, ikrar keimanan dalam Islam, mereka bahkan tidak mengetahui apa yang membuat mereka terinspirasi untuk bersyahadat.  Setelah mereka duduk dan shalat bersama kita, ketika mereka ditanya apa agama mereka, mereka menjawab, “Kami adalah Sufi”. Hal ini disebabkan karena mereka tidak datang semata-mata karena Islam. Selang beberapa waktu kemudian, empat sampai enam bulan, mereka baru menyadari bahwa mereka adalah Muslim! 

Islam adalah ajaran spiritual yang tertinggi, dan ia merupakan agama Allah.  Nabi Musa (as) membawa Judaisme kepada umat Yahudi di masa mereka. Ketika Nabi ‘Isa (as) datang, Judaisme diambil alih dan setiap orang percaya kepada Nabi ‘Isa (as).  Ketika Nabi Muhammad (saw) datang, semuanya lenyap, yang tersisa hanya Islam. Oleh sebab itu, kepercayaan yang tertinggi adalah Islam.  

Mengapa kita tidak menyangkal Nabi Musa (as), tetapi umat Yahudi menolak Islam?  Mengapa kita tidak menyangkal Nabi ‘Isa (as) tetapi orang Kristen, yang mengakui Nabi Musa (as), malah menyangkal Islam?  Kita tidak menolak siapa pun. Ini merupakan bukti kesempurnaan. Sesuatu yang tidak sempurna tidak mungkin dapat melampauinya.  Rasulullah (saw) adalah yang tertinggi, dan itulah sebabnya agama lain tidak dapat menjangkaunya. Namun demikian, sebagai Muslim dan pengikut Rasulullah (saw) dan mematuhi ajarannya, kita menerima orang-orang Kristen, sebab kita tahu bahwa mereka benar dalam mengakui Nabi ‘Isa (as), dan kita juga menerima orang-orang Yahudi karena mereka menerima Nabi Musa (as).  Sama halnya dengan orang-orang Kristen yang tingkatannya lebih tinggi dari orang-orang Yahudi karena agama mereka lebih sempurna—mereka bisa melihat Nabi Musa (as) sebagai seorang rasul, tetapi umat Yahudi tidak dapat melihat Nabi ‘Isa (as) sebagai rasul, mereka tidak bisa melihat yang lebih tinggi atau yang paling tinggi tingkatannya.  

Ketika Nabi Musa (as) datang, Allah (swt) memberinya seratus pelat (kepingan-kepingan berisi ajaran Allah).  Ketika beliau kembali dari berkhalwat kepada Allah (swt) selama empat puluh hari dan melihat bahwa umatnya telah menyimpang dari jalan yang benar, beliau melemparkan pelat-pelat itu, sehingga sembilan puluh delapan di antaranya hilang.  Hanya dua pelat yang diberikan kepada umatnya. Itulah salah satu contoh ketidaksempurnaan yang sifatnya relatif dalam agama, yang mengharuskan umat Kristen untuk terus melakukan proses penyempurnaan, dan kelanjutan proses ini, serta penyempurnaan agama Kristen dilakukan oleh Islam. 

Islam datang untuk membawa orang-orang dari kegelapan menuju cahaya.  Masa itu disebut Jahiliyah yang dalam bahasa Arab berarti Masa Kebodohan.  Menyesal sekali, di abad sekarang ini terjadi lagi Jahiliyyah Ukhra.  Di mana-mana kalian bisa menjumpai kebodohan tersebut.  Orang-orang yang berada di jalan yang benar ditentang, tidak disukai, diserang dan dilawan.  Orang-orang yang salah justru dipuja dan dihormati. Hal ini telah diprediksi oleh Rasulullah (saw),

Yukhawwanul amiin wa yushaddaqul khaa’in,”
orang yang khianat dipercaya tetapi orang yang jujur tidak dipercaya.
 

Kita telah sampai pada akhir zaman.  Tidak ada lagi waktu yang tersisa bagi dunia ini untuk terus berlanjut.  Hari ini kita mendengar kabar yang sangat mengejutkan, Tarekat Naqsybandi dilarang di salah satu negeri Timur Tengah.  Ini adalah pengaruh dari golongan Wahabi. Dengan uang mereka, mereka berusaha mengontrol dan memerangi cinta kepada Rasulullah (saw).  Mereka tidak suka orang lain mencintai Rasulullah (saw), dan untuk itu Allah (swt) akan menempatkan mereka di bawah kaki para pengikut Tarekat Naqsybandi.   

Wahabi menyebarkan ajaran yang salah untuk menentang pengikut Rasulullah (saw) dan menentang ajaran keempat mazhab, untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang kering dan liar.  Merekalah yang bertanggung jawab terhadap skandal yang baru-baru ini terjadi, yang menyebabkan Islam mempunyai nama buruk di muka Barat. Mereka berkata bahwa kaum Yahudilah yang harus bertanggung jawab dalam melontarkan gagasan bahwa Islam adalah agama yang liar.  Sebenarnya hal ini tidak benar dan kebalikannya yang benar, hal-hal yang menyakitkan bagi Islam lebih banyak berasal dari golongan Wahabi daripada Yahudi. Kebencian Wahabi terhadap Rasulullah (saw) melebihi orang-orang Yahudi, bahkan lebih buruk lagi. Ketika Imam Mahdi (as) datang, ia akan memenggal leher 70.000 orang pengikutnya untuk  membersihkan bumi ini dari orang-orang kotor yang menyebarkan ajaran Wahabi secara luas dari Timur ke Barat dengan uang mereka. Mereka membeli institusi keagamaan di setiap negeri. Mereka memprovokasi orang dengan memberikan banyak uang agar cintanya terhadap Rasulullah (saw) menjadi luntur.  

Ada sejarah yang panjang mengenai hal ini.  Di masanya, mereka mendatangi Rasulullah (saw) dan meminta agar beliau berdoa untuk mereka.  Beliau bersabda,

“Allaahumma baarik lanaa fii Syaaminaa wa fii Yamaninaa.”
“Yaa Allah, berkahilah Syam kami dan Yaman kami.”

Mereka bertanya, “Bagaimana dengan Nejd, Ya Rasulallah (saw)?”  Nejd adalah seluruh area yang mencakup Riyadh sekarang ini. Di lain kesempatan Rasulullah (saw) bersabda, “Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman.”  Mereka lalu bertanya lagi, “Bagaimana dengan Nejd?” dan lagi-lagi beliau tidak menjawab pertanyaan mereka, kecuali dengan permohonan rahmat terhadap Syam dan Yaman.  Ketiga kalinya mereka bertanya tentang Nejd, Rasulullah (saw) bersabda,

Yakhruju minha qarnayyi ‘sy-syaythani wa yakthuru fiha az-zalazilu wa ‘l-fitan.” 
Kedua tanduk Setan akan muncul di sana, dan keguncangan-keguncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah dan korupsi akan banyak terjadi di sana.”  (Bukhari—Muslim).

Sekarang adalah awal dari kejadian yang telah diprediksi dalam hadits tersebut.  Dalam hadits yang lain Rasulullah (saw) bersabda, 

Sawfa tudhi’u naarun min ardhi Najdin yashra’ibbu laha a’naqul ibili bi Bushra,”
“Api seperti itu akan datang dari tanah Nejd sehingga unta di Bushra akan lari karena panasnya.” (Bukhari—Muslim).  

Itu terjadi tahun lalu (Perang Iraq).  Oleh sebab itu persiapkanlah diri kalian, bukan untuk yang terbaik tetapi untuk yang terburuk.  Bukannya kemajuan yang akan muncul, melainkan masa-masa kegelapan. Barulah setelah masa tersebut akan datang masa keemasan, yaitu masanya Imam Mahdi (as).  

Dalam waktu dekat banyak kejadian yang akan terjadi di sekitar kita.  Setiap orang dari kita harus berhati-hati menjaga imannya, termasuk iman istri dan keluarga, serta anak-anaknya.  Setan tidak akan meninggalkan orang sendirian. Ia mencoba untuk mengubah iman kalian dan menggoyahkan cinta kalian terhadap para Awliya, pengikut Sufi, dan Rasulullah (saw). 

Allah (swt) berfirman dalam Hadits Qudsi,

“lawla Muhammadun ma khalaqtu ahadan min khalqi.”
“Jika bukan untuk Muhammad (saw), Aku tidak akan menciptakan satu makhluk pun.” 

Mereka menentang Rasulullah (saw) sebab mereka pikir beliau akan berasal dari golongan mereka, dari Nejd.  Mereka tidak menerimanya, bahkan di masanya sekalipun. Mereka itu termasuk orang-orang munafik, sama seperti sekarang ini.  Hal ini telah dilukiskan dalam al-Quran. Jika kalian membacanya, kalian akan menemukannya di sana. Ketika Imam Mahdi (as) datang dan berkata,”Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim,” mereka akan gemetar ketakutan terhadap apa yang akan menimpa mereka.  

Mereka mempersiapkan dirinya untuk peristiwa itu dengan bantuan dari negara-negara Barat.  Mereka menyimpan senjata dengan harapan dapat membantu mempertahankan kerajaan mereka. Tidak akan!  Jika Allah (swt) menginginkan yang lain, Dia dapat mengirimkan gempa bumi dan segalanya akan musnah. Tetapi Allah (swt) meninggalkan mereka karena mereka menyebarkan fitnah, pemandu mereka akan kebingungan, dan Allah (swt) menguji hati hamba-hamba-Nya dan mengecek siapa di antara mereka yang hatinya baik dan siapa yang tidak.  

Bergembiralah, karena halaqah kita, halaqahnya Mawlana Syekh Nazim (q) adalah halaqah yang terbaik, dan termasuk halaqah yang langka, yang menunggu kedatangan Imam Mahdi (as), insya Allah, beliau akan muncul.  Imam Mahdi (as) melihat kegelapan sekarang dan dengan senang hati beliau akan segera muncul.  Mawlana berkata jika kalian meletakkan cinta itu pada semua gunung di bumi ini, gunung-gunung itu akan hancur luluh menjadi kerikil dan debu.  Sampai sekarang, meskipun dengan cinta seperti itu, beliau masih menunggu untuk muncul sebab izin dari Allah (swt) belum diberikan kepadanya. Beliau menunggu izin itu, dan izin itu insya Allah akan diberikan kepada kita semua, sebab kehadiran Imam Mahdi (as) menandakan kehadiran Syekh kita, dan kehadiran Syekh adalah kehadiran kita semua sebagai pengikutnya.   

Kehadiran Syekh ada di tangan Rasulullah (saw).  Sekarang kita mendatangi Mawlana untuk bersalaman atau menciumnya, suatu saat nanti kalian tidak akan mampu mendekatinya, karena kalian akan melihat jutaan orang mencoba mendekatinya, seperti yang kita lakukan sekarang ini, melihat dan menyentuhnya.  Itu adalah masa keemasan, dan insya Allah, Allah (swt) akan memanjangkan umur kita untuk menyaksikan masa itu.  

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah (saw) kepada para Sahabat mengenai tanda-tanda Hari Kiamat, “Afdhalul ummah,akhyarul ummah akhirul ummah,” “Umat terbaik, umat yang paling disukai, adalah umat terakhir,”  Sayyidina ‘Umar (ra) mengangkat tangannya dan berkata, “Ya Rasulallah, Aku rela untuk mengorbankan semua pahala yang engkau berikan kepadaku agar Aku bisa dimasukkan sebagai umat terakhir!”  Rasulullah (saw) menjawab, “Tidak, ini hanya untuk mereka saja.” 

Alhamdulillah, kita talah mencapai masanya umat terakhir.  Rasulullah (saw) bersabda, 

Idza saluhat ummati falaha ma’ishatu yawmin wa in fasudat falaha ma’ishatu nisfi yawmin, wa innayawman ‘inda rabbika ka’alfi sanatin mimma ta’uddun,” 
“Jika umatku tetap menjaga kemurniannya dan berlaku baik, mereka akan merasakan kenikmatan selama satu hari, tetapi bila mereka korup, mereka tinggal menyisakan setengah hari.” (hadits)

Dan satu hari menurut perhitungan Allah (swt) adalah 1000 tahun menurut perhitungan kalian.” [al-Hajj: 47].  

Dengan demikian menurut Rasulullah (saw), Allah (swt) telah memberikan kita seribu lima ratus tahun.  Sekarang kita berada di tahun 1412 hijriah (1992 M), tidak banyak lagi waktu yang tersisa untuk dunia ini. 

Semua tanda bagi kedatangan Nabi ‘Isa (as) sudah ada, beliau akan memerintah dunia ini selama empat puluh tahun, begitu pula untuk Imam Mahdi (as) yang muncul mendahului beliau dan akan memerintah selama tujuh  tahun.  Peristiwa ini akan terjadi tak lebih dari delapan puluh tahun yang akan datang. Kita telah mendekati akhir zaman dan tidak ada lagi waktu yang tersisa. Kita harus mempersiapkan diri kita dengan jalan mempersiapkan hati kita.  Bagaimana cara melakukan hal itu? Caranya adalah dengan meninggalkan nafs, ego kita. 

Kita bertanya,”Bagaimana kita dapat meninggalkan ego seperti yang selalu dikatakan oleh guru kita, Mawlana Syekh Nazim (q)?”  Setiap orang mempunyai ego. Bila Allah (swt) tidak memberikan ego kepada kita, kita semua akan menjadi malaikat tanpa dosa. Suatu hari Sayyidinna Abu Yazid al-Bisthami (q) pergi ke Ka’bah, sambil memegang rantai di pintu Ka’bah, baliau berdoa, “Wahai Tuhanku, izinkanlah Aku merantai kaki Setan dan menahannya, dengan kekuatan yang Engkau berikan kepadaku, sehingga seluruh makhluk dapat melihatnya, dan ia tidak dapat melihat orang-orang, sehingga ia tidak dapat mengganggu hamba-hamba-Mu lagi dan mereka semua tidak lagi berdosa!”  Allah (swt) telah memberikan wali ini kekuatan yang luar biasa sehingga beliau dapat berdoa seperti itu. Tetapi Allah (swt) berbicara melalui hatinya, “Wahai Abu Yazid (q), lihatlah di atasmu.” Ini berarti, lihatlah ke dalam maqam yang lebih tinggi dalam hatinya. Ketika Abu Yazid (q) melakukannya, beliau kehilangan kesadarannya dan tetap tinggal di sana selama 1 jam. Setelah bangun, beliau merayap ke pintu Ka’bah dan berbisik, “Ya Afuw, Ya Afuw, Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah aku!” 

Dan Allah (swt) berkata, “Wahai Abu Yazid (q), untuk siapa Aku meninggalkan Samudra Rahmat yang telah Ku-ciptakan kalau bukan untuk hamba-hamba-Ku?  Jika Aku membiarkan engkau merantai setan, maka orang-orang menjadi tidak berdosa, sementara Aku adalah Yang Maha Pengampun!” “Ana ‘l-Ghafuru ‘r-Rahiim” [al-Hajr: 49], Aku Maha Pengampun dan Maha Penyayang!  Siapa lagi yang akan Ku-ampuni kalau bukan para pendosa? Jika mereka menjadi tidak berdosa mereka akan seperti malaikat, tanpa mengenal tingkatan.  Biarkan mereka berdosa, Aku akan mengampuni mereka dan akan Ku angkat derajatnya lebih tinggi. Samudra Rahmat ini adalah untuk para pendosa. Oleh sebab itu, jangalah ikut campur dalam Kehendak-Ku.  Aku adalah pencipta manusia, dan Akulah yang menjaga dan melindungi mereka dari Setan, dengan Samudra Rahmat ini, biarkan mereka datang kepada-Ku ketika mereka berdosa.”

Jika seorang anak kecil terluka, ia akan segera berlari kepada ibu atau ayahnya.  Ketika Setan melukai kalian dan membuat kalian berdosa, berlarilah menuju Allah (swt) dan katakan, ‘Ya Allah, Aku telah berbuat dosa, ampunilah aku.’  Kalian akan segera mendapatkan pengampunan-Nya. Mengapa wahai para pendosa, kalian tidak datang kepada Allah? Mengapa kita tidak, dengan seluruh ego kita, datang kepada Allah?  Kita harus mendatangi-Nya. Bergegaslah dan dapatkan pengampunan-Nya, tetapi jika kalian tidak datang kepada-Nya, bagaimana Dia dapat memaafkan kalian? 

Kita berkata, ”Bagaimana kita dapat menghindari ego kita?” Mawlana Syekh Nazim (q) memberikan teladan yang sangat baik untuk menjauhi ego kita.  Setiap hari tuliskan sebanyak-banyaknya perilaku buruk yang ada dalam hati kalian dan yang kalian lakukan pada hari itu. Setiap orang mempunyai sedikitnya 700 karakter buruk dalam hatinya.  Semuanya harus dibersihkan dari diri kita. Beberapa orang berkata, “Kami tidak mempunyai perilaku yang buruk.” Tidak!! Duduk dan renungkanlah, dan tuliskan perilaku buruk apa saja yang masih ada dalam hati kalian.  Setiap orang mengenal dirinya sendiri dan tahu bahwa hatinya menyimpan perilaku buruk. Tuliskanlah, dan cobalah setiap hari menghilangkan satu perilaku buruk tersebut. Hari demi hari akan kalian lihat bahwa kalian telah meninggalkan perilaku buruk itu satu per satu. 

Setan tidak akan membiarkan orang melakukan hal ini.  Ketika kalian duduk dan merenung, kalian akan menemukan begitu banyak perilaku buruk yang bisa kalian pikirkan.  Kita semua adalah pendosa, kalian lebih mengenal diri kalian daripada orang lain. Namun ketika seorang Wali melihat ke dalam hati kalian, ia tahu apakah kalian bersih atau tidak.  Dengan demikian, ia tahu, kapan ia akan mengirimkan kalian untuk berkhalwat atau tidak sama sekali. Khalwat berarti kalian mencoba untuk maju dan meninggalkan perilaku buruk. Ketika seorang Wali melihat bahwa kalian mencoba meninggalkan perilaku buruk di dalam hati, ia akan memberikan izin untuk berkhalwat.  Tetapi kalau ia tidak melihat hal ini, tentu saja ia tidak mungkin memberikan izin tersebut. 

Perangilah ego kalian!  Apa pun yang diinginkan olehnya, lakukanlah yang sebaliknya.  Jangan menerima nasihat darinya, sebab ia akan menyesatkan kalian.  “Fa la tuzakku anfusakum,” “Jangan menyembah dirimu sendiri,” “Jangan pernah memberikan alasan kepada ego” [an-Najm: 32] “An-nafsu ammaratun bissu’” Ego kalian selalu menganjurkan, mengizinkan dan menyuruh kalian untuk berbuat sesuatu yang buruk dan melakukan kesalahan.  Oleh sebab itu jangan sekali-kali mendengarkannya, sebagaimana sabda Rasulullah (saw), ”Jangan dengarkan dirimu sendiri, tetapi dengarkan aku.”  Tetapi siapa yang mau mendengarkan Rasulullah (saw)? Tidak ada. 

Alhamdulillah, kelompok kita mendengarkan dengan cinta mereka.  Cinta itu akan membawa kita keluar dari kegelapan dunia dan menuju cahaya dari akhirat.  Mawlana berkata bahwa seorang Badui mendatangi Rasulullah (saw) ketika beliau sedang berada di mimbar menyampaikan khotbah Jumat.  Orang itu berdiri di pintu masjid dan berkata, “Yaa Sayyidi yaa Rasulallah, matas saa`atu yaa Rasulallah,” “Ya Rasulallah (saw) kapankah Hari Kiamat tiba?” “Mendengar dan melihat hal ini para Sahabat yang duduk di sana menjadi geram, seolah-olah mereka ingin membunuhnya karena orang itu berbicara dengan nada tinggi, namun tentu saja hal itu tidak diperbolehkan.  Ketika seorang pemimpin berada di sana, para pengikut tidak diperkenankan melakukan apa pun. 

Ini adalah adab! Ketika Mawlana berada di antara kalian, apa pun yang kalian lihat, siapa pun yang datang, siapa pun yang lewat, jangan menoleh kepada mereka.  Mata kalian harus selalu tertuju pada Syekh. Ketika beliau di sana, beliaulah yang menjadi pemimpin dan kalian tidak bertanggung jawab atas apa pun. Bahkan jika kalian melihat anak-anak membuat keributan, atau seseorang melakukan suatu perbuatan buruk, jangan ikut campur, beliau yang akan menanganinya.  

Jika seseorang masuk pada saat Syekh sedang memberikan shuhbah, ia harus duduk di mana pun tempat yang ditemukannya.  Pada saat itu mendatangi Syekh dan mencium tangannya adalah tarkul adab, bertentangan dengan adab, tidak hormat.  Mereka harus memberi salam dalam hati lalu duduk dan menyembunyikan diri mereka.  Kita juga tidak boleh melihat orang-orang yang baru datang, atau memberi salam, atau menjawab salam mereka.  Hanya Syekh yang memberi atau membalas salam. Andaikata ada beberapa orang yang datang, bersalaman dengan Syekh, kemudian  bersalaman dengan yang lainnya dengan membelakangi Syekh, semua itu adalah adab yang buruk. Setelah kalian memberi salam kepada Syekh, selesai, dan kalian boleh duduk.  

Para Sahabat marah tetapi tidak dapat berbicara apa-apa di hadapan Rasulullah (saw).  Ketika Badui itu berbicara dengan keras untuk ketiga kalinya, “Kapankah Hari Kiamat tiba?”  Saat itu Jibril (as) datang dan meminta Rasulullah (saw) untuk menjawabnya. Lalu beliau pun menjawabnya.  

Dari teladan ini, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah (saw) secara konstan mendengar dan patuh.  Hanya ketika ada inspirasi yang datang, beliau patuh dan menjawabnya. Kita tidak mendengar Syekh dan tidak juga mematuhinya.  Kita hanya patuh ketika kita bisa memperlihatkannya kepada semua orang, misalnya ketika mendapat hak istimewa untuk membawakan sepatu beliau, tongkat atau jubahnya.  Ketika diperintahkan untuk meninggalkan ego kalian dan perilaku buruk kalian, tiada yang menghormatinya lagi. Pada saat itu kita lebih suka mendengarkan ego kita dari pada perintah Syekh.  Berhentilah membawakan jubah untuk Syekh, jika kalian ingin agar orang lain melihatnya. Tetapi berlarilah dalam hati kalian menyambut perintahnya untuk meninggalkan ego kalian, dan dengarkan perintahnya, jagalah ego kalian. 

Rasulullah (saw) berkata, “Wahai orang Badui, Hari Kiamat adalah suatu perjalanan yang panjang, dan engkau membutuhkan banyak bekal untuk itu; amal dan ibadah apa yang telah engkau persiapkan?”  Orang itu menjawab,”Ala mahabbatuka, Yaa Rasulallah,” “Bukankah Aku mempunyai cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu, Ya Rasulallah! Cintamu!” Dan Rasulullah (saw) pun membalas, “Kafi yai’rabi,” “Ya, itu sudah cukup wahai orang Badui, engkau akan bersama orang yang engkau cintai”(diriwayatkan oleh Bukhari, Ahkam).  Orang itu pergi, bahkan tanpa masuk ke dalam masjid dan shalat bersama yang lain.  

Cinta kepada Syekh adalah sangat penting.  Ia akan membawa kalian bersamanya ke mana pun beliau pergi!  Jangan sampai membiarkan cinta itu menjadi lemah! Apa pun yang terjadi, jangan menerima serangan terhadap cinta itu.  Jika orang Wahabi mendatangi kalian dan menentang apa yang kalian lakukan dengan mengatakan, ”Ini syirik, ini bid’ah, ini tidak baik,” jangan dengarkan mereka.  Ambil tongkat dan pukul mereka. Jangan coba-coba untuk menasihati mereka. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mendengar dan sangat keras kepala, sehingga mereka tidak akan menerima kalian.  Oleh sebab itu, jangan dengarkan mereka.  

Sufisme tidak pernah merupakan syirik atau bid’ah selama 1400 tahun dan tidak bisa dinyatakan demikian karena 30 tahun  yang lalu. Pernyataan yang keliru ini timbul karena kebencian terhadap Rasulullah (saw) dalam hati orang-orang itu. Jangan dengarkan mereka,   jangan pergi ke masjid mereka, jangan shalat dengan mereka. Jika kalian tidak menemukan masjid yang imamnya mencintai Rasulullah (saw) dan memujinya, jangan shalat di sana, shalatlah di rumah.  Kalau tidak, kegelapan akan menyelimuti hati kalian, berhati-hatilah, Grandsyekh berkata bahwa satu jam bersama orang yang tidak mempunyai cinta terhadap Rasulullah (saw) atau Syekh dalam hatinya, akan mendatangkan setahun kegelapan di dalam hati kalian.  Perlu waktu satu tahun untuk membersihkan kegelapan itu dari hati kalian! Dengan demikian, jagalah diri kalian, jangan dengarkan orang-orang seperti itu. Jangan takut. Ketika mereka datang kepada kalian, katakanlah, “Lakum diinukum wa liya diin.”  “Bagimulah agamamu dan bagikulah agamaku.” [al-Kafirun: 6].  Jika mereka menyangkal bahwa kalian bukan Muslim, katakanlah, “Kami Muslim, kalianlah yang bukan!” 

Kita adalah orang-orang yang mengikuti jalur yang benar, jalannya Rasulullah (saw), para Sahabat, khalifah Rasulullah (saw), dan keempat imam dalam Islam.  Keempat imam itu mempunyai Syekh yang sufi! Mereka belajar kepada Syekh, walaupun ada beberapa Syekh yang buta huruf, misalnya, Syekh Bisyr al-Hafi (q) dan Syekh Syayban ar-Ra’i (q).  Setiap kali Imam Syafi’i bersama Syekh Bisyr al-Hafi (q) yang membuat tujuh kesalahan dalam membaca al-Fatihah, beliau tetap meminta Syekhnya untuk menjadi imam shalat. Syekh Bisyr (q) membaca, bukan dari ilmu-ilmu dari buku, melainkan dari cahaya hati.  Inilah yang kita butuhkan. Insya Allah, kita berdoa semoga cahaya akan diberikan kepada kita karena kecintaan kita kepada Syekh.  Semoga kecintaan kepadanya juga akan berkembang di hati kita. Tanpanya kita tidak akan bisa sampai ke pintu Rasulullah (saw).  

Kita harus bersikap rendah hati kepada sesama dan kepada orang lain.  Menerima saudara-saudari kita bukanlah suatu kejahatan. Agama ini berdasarkan cinta, agama ini berdasarkan hormat, dan agama ini berdasarkan kerendahan hati.  Jika kita tidak mempunyai perilaku yang baik ini, kita tidak akan menemukan Cahaya Allah dalam hati kita, sebagaimana yang diterangkan Allah (swt) dalam Hadits Qudsi, “Qalbu ‘l-Mu’min baytur Rabb,” “hati orang-orang yang beriman adalah rumah Allah.”  Untuk menjadi seorang Mukmin yang baik berarti menjadi seorang yang rendah hati, penuh hormat, dan mencintai sesama.  Tanpa ketiga perilaku baik ini, kalian tidak akan menemukan cahaya dalam hati kalian dalam kehidupan ini, ketika kita meninggal dan mengeluarkan tujuh napas terakhir—tanpa menghirup, tetapi hanya mengeluarkan—pada saat itu Syekh kita berada di sana untuk menarik kita ke dalam hatinya.  Sampai detik itu, kita tidak akan menemukan atau melihat cahaya hati kecuali, pertama kita harus memiliki ketiga perilaku baik tersebut. Berusahalah untuk mendapatkannya sekarang. Berusahalah untuk mempengaruhi ego kita agar menerima ketiga sifat ituBersikaplah rendah hati, jika seorang menyakiti kalian, jangan sakit hati, datangilah ia dan beri maaf, lebih jauh lagi ciumlah tangannya atau kakinya—itu bukan suatu kejahatan!  Sejauh kalian bisa merendah terhadap orang lain, maka lakukanlah, Allah (swt) akan mengangkat derajat kalian.  

Insya Allah, kita semua akan bersatu, karena kita memerlukan persatuan.  Biarkan semua percaya dengan hal ini, dan ikuti selalu satu Imam, satu Syekh, satu bay’at, satu pintu, satu sumber cahaya dari Sumbernya, satu stasiun pemancar untuk seluruh hati.  Pada saat itu kalian akan terangkul dengan tulus kepadanya. Semakin kuat kalian berusaha mendatanginya, semakin kuat dan kokoh rangkulannya. 

Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Fatihah

 

Akhir Zaman

20476578_1413878435333172_3249580991497912249_n

Shaykh Muhammad Nazim Al-Haqqani An-Naqshbandi
Shohbat tahun 1998
Lefke – Siprus

 

Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Kami telah menyampaikan beberapa kata di sini untuk orang-orang Inggris,untuk orang-orang Jerman, namun sebenarnya kata-kata ini harus disampaikan dalam semua bahasa.

Sejak pertama manusia berada di dunia ini, kita–di antara semua orang yang pernah hidup, adalah orang-orang yang telah sampai pada hari-hari yang sangat berbahaya dan menakutkan. Di samping hal ini, ketakutan ini adalah ringan dibandingkan ketakutan hari-hari yang akan datang, yang sekarang bukan apa-apa. Karena di masa mendatang akan ada kejadian-kejadian di mana orang-orang yang terlibat di dalam peperangan, mereka akan tertembak mati atau tidak sanggup untuk menanggung beban pada saat itu. Mereka akan mengalami depresi–mentalnya runtuh. Ketika mental seseorang runtuh tubuhnya tidak mampu lagi untuk membawa dirinya lebih jauh lagi. Ketika mentalnya hidup, tubuh seseorang menjadi segar dan aktif. Ketika mentalnya kehilangan kekuatan, ketika ia runtuh, tak peduli betapa kuat tubuhnya, ia tidak akan mampu bertahan. Agar mampu menahan beratnya hari-hari saat kita hidup sekarang ini dan agar mampu menanggung beban menghadapi kejadian-kejadian yang mengerikan di masa mendatang, maka orang harus memiliki kehidupan spiritual yang kuat. Orang yang mentalnya tidak didukung atau diperkuat akan menderita dalam situasi ini, dan ia tidak akan mampu menanggung beban berat hari-hari yang akan datang.

“Mereka akan seperti benteng-benteng dari kardus”, saya katakan. Berapa lama benteng kardus itu dapat bertahan? Ia tidak akan mampu menahan apa-apa, ia tidak bisa melindungi orang. Orang hanya akan terlindungi dengan benteng yang kuat. Benteng itu adalah iman mereka. Orang yang imannya imitasi, mereka tidak akan mampu bertahan menghadapi badai-badai besar yang akan datang, mereka akan tersapu bersih. Situasi sekarang membuat mereka tertekan, tetapi kejadian-kejadian yang akan datang akan menghancurkan mereka berkeping-keping. Oleh sebab itu iman yang kuat adalam elemen penting pertama agar orang dapat bertahan dengan kokoh pada situasi tersebut. Iman yang kuat adalah satu-satunya kekuatan yang akan membuat orang mampu berdiri kokoh menghadapi kejadian-kejadian yang mengerikan di masa mendatang. Tanpa iman yang kuat orang tidak akan bertahan menghadapi situasi sekarang maupun kejadian yang mengerikan di masa mendatang. Tanpanya mereka akan hancur.

Jika seseorang tidak terbunuh, tidak tertembak oleh berbagai jenis senjata, maka beratnya kejadian-kejadian tersebut akan menghancurkan mereka, mereka tidak akan sanggup untuk bertahan. Jumlah orang yang akan tewas–bukan karena tertembak, namun karena tidak sanggup menahan beratnya beban mereka akan mencapai jutaan orang. Jika ada beberapa orang yang tidak meninggal, mereka akan menjadi gila. Jutaan orang akan kehilangan pikiran mereka, mereka menjadi gila. Kejadian-kejadian yang akan datang begitu berat, begitu menakutkan. Satu-satunya yang dapat menolong orang adalah iman yang kuat, tidak ada lagi yang lainnya. Tidak ada lagi yang dapat menolong. Sebagaimana yang saya katakan, jika tidak tertembak, maka kejadian-kejadian yang akan menimpa manusia nanti akan membunuh mereka atau mencabik-cabik hati mereka karena ketakutan dan membuat mereka menjadi gila. Tidak ada yang bisa menolongnya.

Kejadian-kejadian saat ini sangat kecil dibandingkan kejadian-kejadian di masa mendatang. Walau demikian banyak juga orang yang menjadi gila sekarang ini. Kejadian-kejadian saat ini bukanlah apa-apa. Ia bagaikan permen dibandingkan kejadian-kejadian yang akan datang, ya permen. Apa yang membuatnya menjadi tertekan? Huuu ya Lathif. Kita berlindung kepada Allah, kita berlindung kepada Allah. Mengenai hal ini saya berbicara sedikit dalam bahasa Inggris, kalian harus mendengarnya juga.

Pada hari-hari tersebut, hanya iman yang kuat yang akan menguntungkan kalian. Bagaimana meraih iman yang kuat? Kalian tidak dapat mencapainya dengan membaca buku-buku. Mungkin kalian dapat meraihnya dari para Awliya yang merupakan para pemilik iman yang kuat, yang dapat mereka transmisikan dari qalbu ke qalbu. Nabi kita `alayhi ‘sh-shalatu wa ‘s-salam, membangun para Sahabatnya dari tingkat kebodohan terbawah hingga ke tingkat keimanan tertinggi. Beliau memenangkan mereka semua melalui jalan qalbu.

Sekarang di masa ini ada para pewaris Nabi (saw). Para awliya yang merupakan para pewaris Nabi (saw) tidak pernah absen. Meskipun kalian tidak mengetahui mereka. Kalian mungkin tidak mengetahui mereka, tetapi bila kalian memohon agar dapat menemukan mereka, maka ada izin untuk memanggil mereka.

Jika kalian mengenal seseorang, panggillah ia sebagaimana yang dikatakan oleh qalbu kalian. Jika tidak, katakanlah, “Wahai Awliyaullah, wahai teman-teman Allah, wahai ahlul Haqq, tolonglah kami (madad)!” Kapanpun dan di manapun kalian berada dalam situasi yang sulit, panggillah mereka. “Demi Nabi (saw), wahai Ahlul Haqq, raihlah aku.” Segera setelah kalian mengucapkannya, ia harus menolong kalian. Saya mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk berkata, “Demi Nabi Isa/Yesus,” dan untuk umatnya Nabi Musa (as), “Demi Musa `alayhi ‘s-salam, raihlah kami.” Mereka harus mengucapkannya. Mereka bisa mengatakan, “Tolonglah kami demi Nabi Ibrahim `alayhi ‘s-salam.” “Demi Ahlul Bayt Rasulullah (saw)” – orang dapat meminta pertolongan demi mereka. Jika seseorang tidak mengetahui caranya, “Demi Nabi kita (saw)” namun ia memanggil demi Nabi-Nabi lainnya, para Awliya diperintahkan untuk tetap menolong mereka.

Tamu: Sejak sekarang hingga hari-hari yang penuh masalah?

Kapan saja, sejak sekarang, mereka boleh memanggilnya. Tidak masalah! Para Awliya diperintahkan untuk mendatangi mereka untuk menolongnya. Sekarang waktunya sudah sangat dekat, kami diperintahkan untuk menyampaikan hal tersebut. Peperangan sangat dekat. Para Awliya bekerja pada qalbu. Mereka adalah orang yang dapat melihat qalbu. Mereka menolong orang-orang yang memanggil mereka melalui qalbu. Jika orang memanggil mereka hanya lewat lidah, mereka akan tetap mendatanginya. Jika orang tidak terlalu takut, mereka akan muncul kepada orang yang memanggilnya. Tetapi mereka tidak menampakkan diri mereka untuk tidak menakutkan bagi orang-orang. Orang dapat merasakan kehadiran mereka, jika ia dapat menerima kedatangannya. Ia akan merasakan kedatangan mereka di hadapannya.

Jadi ini adalah masalah yang penting. Perhatikan hal ini! Jalan menuju keimanan yang kuat terbuka melalui pertemuan dengan para Awliya yang merupakan para pemilik iman yang kuat. Jika kalian tidak mengenal mereka, panggillah salah seorang di antara mereka secara umum, katakan, “Ya Awliyaullah, adrikni, wahai Awliyaullah, raihlah aku.” Katakan, “Tolonglah aku demi Nabi `alaihi ‘sh-shalatu wa ‘s-salam.” Maka situasi kalian yang sulit akan menjadi mudah. Ketakutan kalian akan hilang, iman kalian akan dikokohkan, dan perbuatan kalian akan diperbaiki.

Bi hurmati ‘l-Habib bi hurmati ‘l-Fatihah