Wali Sejati Terhubung dengan Sayyidina al-Mahdi (as)

91150429_512789539414992_4341452152246370304_o

Dr. Nour Kabbani
Fenton, Michigan, 28 April 2020
Seri Ramadhan Hari ke-6

A`uudzubillaahi sami`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
A`uudzubillaahi sami`i ‘l-`aliim mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Alhamdulillaahirabbi ‘l-`aalamiin
Wa ‘sh-shalaatu wa ‘s-salaamu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin 
wa man tabi`ahu bi ihsan ila yaumiddin
Wa `ala saa’iri ‘l-Anbiyaa’i wa ‘l-Mursaliin wa ‘l-Awliyaa’ wa `ibaadilaahi ‘sh-shaalihiin wa `alayna ma’ahum ajma`iin yaa Arhama ‘r-raahimiin,  wa laa hawlaa wa laa quwwata illa bilaahi ‘l-`Aliyyi ‘l-`Azhiim
Allaahumma alhimnaa rusydanaa wa a`idznaa min syuruuri anfusinaa
Allaahumma arina ‘l-haqqa haqqan warzuqna ‘t-tiba`ah, wa arina ‘l-bathila baathilan warzuqna ‘j-tinaabah yaa rabba ‘l-`aalamiin

Destuur yaa Sayyidi yaa Sulthaan al-Anbiyaa, yaa Sulthaan al-Awliyaa’ , madad yaa Rijalallaah
Destuur yaa Sayyidi wa Mawlay, yaa Sayyidi Syaykh Naazhim, nadharak yaa Sayyidi, madadak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi ‘l-kariim, 
Destuur yaa Sayyidi Quthba ‘l-Mutasharrif, madad yaa Sulthaan al-Awliyaa’, nadharak yaa Sayyidi, himmatak yaa Sayyidi ‘l-kariim,

Assalamu’alaykum warahmatullaahi ta`aala wabarakatuh,

Alhamdulillah, saya adalah orang yang dhaif (lemah), saya adalah hamba yang dhaif, tidak banyak mempunyai ilmu; dan sebelum memulai shuhbah sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, dan kalian juga sudah mengetahuinya bahwa saya memohon dukungan kepada guru saya, Grandsyekh–Syekh Nazim al-Haqqani (q), saya katakan, “Yaa Sayyidi,” dan saya memohon dukungan kepada Quthbu ‘l-Mutasharrif, saya katakan, “yaa Sayyidi, untuk orang-orang yang menyaksikan, apa yang mereka perlukan yaa Sayyidi, aku tidak mengetahuinya.”

Masya Allah, shuhbah-nya Mawlana begitu luas, jadi saya katakan, “Yaa Sayyidi, apa yang harus kulakukan? Mana yang harus kubaca?” Dan saya biasanya membuka buku, lalu seperti ini dan pada akhirnya saya membuka suatu halaman dan saya letakkan “Yaa Maalikal Mulk” (pembatas buku) Ini adalah kalimat yang tertulis di atas rumah guru saya. Saya katakan, “Yaa Sayyidi apa yang harus kubaca? Apa yang harus kukatakan, berilah aku petunjuk.”

Jadi hari ini, ketika saya berusaha untuk menemukan apa yang harus saya baca untuk shuhbah, muncullah shuhbah ini, mengenai Sayyidina Mahdi (as). Saya tidak mengetahui banyak mengenai Sayyidina Mahdi (as) selain bahwa kita sedang menunggu datangnya seorang penyelamat bagi ummah yang akan muncul di akhir zaman.  Beliau berasal dari keluarga Rasulullah (saw), yakni anak cucu beliau (saw), dan beliau akan muncul di antara ummah untuk membimbing mereka pada kebenaran, dan mengantarkan mereka pada kedamaian dan keadilan yang diharapkan oleh semua orang.  Itulah yang saya ketahui.  Kita masih menunggu kedatangannya, sebagaimana yang dikatakan oleh guru kita, “Kalian harus menunggu kedatangannya,” maka kita menunggu dan insya Allah beliau akan muncul di masa hidup kita.   

Berbicara mengenai Mahdi (as) adalah hal yang sulit, karena berbicara tentang sesuatu yang tidak kalian ketahui adalah hal yang sulit, kalian harus melihatnya, kalian harus mendengarnya, kalian harus memahaminya.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim, “Berbicara mengenai Imam Mahdi (as) bukanlah tentang membaca kitab-kitab, ini adalah hakikat yang diperoleh melalui ru’yah, melalui penglihatan.”  Awliyaullah mempunyai ru’yah, penglihatan–bukan mimpi.  Tentu saja sebagian di antara mereka mempunyai mimpi, tetapi ini adalah mengenai ru’yah.   Jadi, berbicara mengenai Imam Mahdi (as) bukanlah seperti membaca kitab-kitab, atau seperti membaca sinopsis buku yang mengatakan bahwa beliau seperti ini atau seperti itu, tidak; tetapi kita harus melihat pada hakikat Mahdi (as).  

Rasulullah (saw) ketika berbicara mengenai kejadian-kejadian di masa mendatang, sebagaimana yang kita pelajari dari guru kita, Grandsyekh, Syekh Nazim al-Haqqani, beliau mengatakan bahwa Rasulullah (saw) akan memvisualisasikan kejadian-kejadian itu kepada para Sahabat.  Beliau tidak hanya membicarakan kejadian-kejadian di masa depan, tetpi beliau juga menunjukannya.  Dalam al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskannya, di antaranya,

wa idz qaala Rabbuka li ‘l-malaa’ikati,
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat. (QS Al-Baqarah, 2:30). 

Bukan hanya ingatlah mengenai waktunya, tetapi juga melihat  kejadian pada saat itu.  Jadi ketika Rasulullah (saw) berbicara mengenai kejadian di masa depan, waktu-waktu yang akan datang itu berisi peristiwa-peristiwa di dalamnya, dan peristiwa itu dapat dilihat oleh para Shahabatil kiraam.  Jadi berbicara mengenai Mahdi (as) pun, bukan seperti kalian membaca buku lalu berbicara, tidak; tetapi itu dilakukan setelah mendapat ru’yah, setelah melihatnya.  

Mawlana Syekh Nazim telah bertemu dengan Mahdi (as).  Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa pada suatu ketika Grandsyekh, Syekh Abdullah ad-Daghestani diperintahkan untuk bertemu dengan Mahdi (as) secara fisik.  Kita menyakini bahwa Mahdi (as) berada di suatu tempat antara Yaman dan Hijaz, di daerah yang kosong menantikan al-`amr, perintah untuk muncul.  

Jadi Grandsyekh (Mawlana Syekh Nazim) mengatakan bahwa, “Guruku, Syekh Abdullah ad-Daghestani ketika itu sedang melakukan khalwat di Madinatul Munawwarah, dan beliau diperintahkan untuk bertemu Mahdi (as) secara fisik.”  Barang siapa yang mempunyai izin, maka Bumi akan melipat diri untuknya, ini yang kita sebut tayyul makan, tayyul ardh.  Para Awliyaullah bisa pergi dengan kecepatan yang sangat tinggi seolah-olah Bumi terlipat di bawah mereka.  Mereka dapat tiba dalam sekian menit, atau sekian detik, atau bahkan kurang dari satu detik, wallaahu a`lam.  Jangan berpikir bahwa ini adalah hal yang mustahil.  Jangan berpikir bahwa mereka tidak dapat pergi ke tempat yang jauh dalam sekejap.  Mereka dapat melakukannya.  Jika kalian berpikir bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan, berarti kalian menyangkal peristiwa Israa’, di mana Rasulullah (saw) dibawa dari Mekah ke Jerusalem dalam sekejap dan orang-orang pada saat itu tidak dapat menerima hal ini.  Jadi janganlah kalian seperti orang-orang yang hatinya tidak mau menerima hal ini.  Milikilah hati yang lapang, yang artinya mempunyai iman yang kuat.  Iman, percaya terhadap kata-kata Awliyaullah.  

Jadi Grandsyekh diperintahkan untuk pergi dari Madinah ke sebuah tanah kosong antara Yaman dan Hijaz untuk bertemu dengan Mahdi (as).  Ketika tiba, Grandsyekh mendapati Sayyidina Mahdi (as) berdiri di pintu gua, di baabil ghar.  Ada sebuah gua yang disebut ghaaru Su’ada.  Mahdi (as) sekarang berada di sebuah tempat antara Yaman dan Hijaz yang disebut Rub al-Khali, sebuah tempat yang kosong yang pada dasarnya adalah sebuah gurun pasir, di ghaari suada, beliau menunggu perintah Allah (swt) untuk muncul.  Daerah itu dikelilingi oleh makhluk-makhluk rohaniah untuk mencegah siapa pun memasuki daerah itu. 

Ketika Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani tiba, beliau melihat Sayyidina Mahdi (as) berdiri di depan gua.  Gua itu selebar enam puluh meter, dan Mahdi (as) menutupi pintu masuk gua itu dengan tangannya.  Salah satu ciri khas Mahdi (as) adalah bahwa tangan beliau sampai hingga ke bawah lututnya, begitu panjangnya.  Itu artinya beliau sangat kuat!  Mahdi (as) dapat menjangkau lututnya.  Mahdi (as) dapat meraih ego kalian dan mendisiplinkannya.  

Mahdi (as) melambangkan Cahaya Allah (swt), Ruh Allah (swt).  

wa nafakhtu fihi min ruhi
Dan Aku tiupkan padanya (ketika manusia diciptakan) dari Ruh-Ku, dari Napas-Ku. (QS Al-Hijr: 29).  

Beliau melambangkan kekuatan tersebut, nuuru ‘r-ruuh, cahaya ruh, kekuatan ruh, ilmu ruh, dari ruh kalian, ruh Ilahiah kalian, di mana Allah (swt) telah meniupkan Ruh-Nya kepadanya.  Allah (swt) meniupkan Napas Suci-Nya kepada kalian, Ruh Suci-Nya kepada kalian dan Mahdi (as) melambangkan hal itu.  Itulah yang ingin kalian capai.  Kalian memohon agar dapat mencapai Napas Suci Ilahi yang ada dalam diri kalian, wahai manusia.  Itu adalah makna rohaniah dari Mahdi (as), Imam Mahdi (as).  

Kita katakan bahwa ada nama, ada shuurah atau citra atau fisik; ada makna dan ada hakikat untuk beliau.  Mahdi (as) melambangkan Napas Suci Ilahiah yang ditiupkan ke dalam diri kalian, nuuru ‘r-ruuh.  Beliau melambangkan ruh, dengan ilmunya, dan itu ada dalam diri kalian.  Kalian harus menemukannya. 

Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa kekuatannya, bahwa tangannya mencapai lututnya.  Kekuatan Mahdi (as) akan mencapai ego kalian.  Apakah kalian pernah mendengar tentang Balqis, Ratu Sheba?  Di dalam Al-Qur’an disebutkan bersama Nabi Sulayman (as). 

Innahu min Sulayman wa innahu Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim 
Sesungguhnya (surat) itu berasal dari Sulayman dan sesungguhnya (isinya) itu adalah Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim. (QS An-Naml, 27:30)  

Beliau menyampaikan sebuah pesan dari Yang Mahabesar, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, beliau mewakili Tuhan, dengan apa?  Dengan ruh tersebut.  Kalian adalah khalifah, kalian mewakili Tuhan, dengan apa wahai manusia?  Dengan nuur  dalam diri kalian yang berasal dari Napas Suci Allah (swt) yang ditiupkan pada diri kalian.

Jadi ketika Sulayman (as) mengirimkan surat kepada Balqis, sang Ratu Sheba, artinya beliau menjangkaunya dan isi surat itu adalah Bismillaahi ‘r-Rahmaani r-Rahiim.  Pada akhirnya, apa yang ia lakukan?  Ketika ia memasuki istana yang megah itu bersama Sulayman (as), ia masuk ke dalam samudra yang dalam, samudra yang tak bertepi, Samudra Rahmat-Nya Allah (swt).  Ia masuk dan ia mengangkat sedikit gaunnya, artinya ia tidak ingin agar gaunnya menjadi basah–itu yang dikatakan dalam tafsir kepada kita, tetapi beliau membuka sebagian dari kakinya, itu artinya Sayyidina Sulayman (as) menjangkau egonya.  Balqis melambangkan ego.  Sulayman (as) melambangkan Napas Ilahi yang datang untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan ego yang buruk.  Dan pada akhirnya ia menjadi Muslim.  

Ego yang ada pada diri kita harus menjadi Muslim dan itulah yang menjadi tugas Mahdi (as).  Tugas beliau adalah menundukkan ego kalian sepenuhnya agar menjadi patuh sehingga dalam diri kalian tidak ada lagi bisikan Setan, hati kalian dipenuhi cahaya Rasulullah (saw).  Tidak ada Setan di dalam hati yang dipenuhi dengan cahaya Mahdi (as), nuur dari ruh, nuur dari Rasulullah (saw).  Mahdi (as) muncul untuk menyelamatkan kalian dari diri kalian, dari sisi jahat kalian wahai manusia.  Itulah makna rohaniah dari Mahdi (as), itulah hakikat dari Mahdi (as).  

Secara fisik Mahdi (as) juga mempunyai rupa, beliau akan menyelamatkan dunia ini secara fisik dari kejahatan dan keburukan di dalamnya; dari ketidakadilan, korupsi, dan pertumpahan darah yang terjadi.  Secara fisik Mahdi (as) akan menyelamatkan mereka.  Dan Mahdi (as) juga akan menjangkau kalian, wahai manusia dari sisi batin kalian.  Beliau akan menjangkau ego yang buruk dari diri kita dan membuatnya mengatakan, 

aslamtu ma’a sulaymāna lillāhi rabbil-‘ālamīn, rabbi innī ẓalamtu nafsī.  

Ratu Sheba pada akhirnya mengatakan, “Yaa Rabbii, aku telah berbuat salah, aku telah berbuat zalim kepada diriku dan aku menjadi Muslim (berserah diri) kepada-Mu wahai Tuhanku, bersama Sulayman.”  (QS An-Naml, 27:44).

Kita akan menjadi Muslim yang sempurna.  Bersama siapa?  Bersama Mahdi (as).  Itulah yang kita nantikan, yakni menjadi Muslim yang sempurna.  Muslim yang sempurna maksudnya adalah Waliyullah.  Lihatlah apa yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim.  Ketika kalian menjadi orang yang sempurna, artinya menjadi Waliyullah, bersama Mahdi (as); beliau mengatakan, “Tidak ada Waliyullah kecuali bahwa ia telah bertemu dan berada dalam hadirat Mahdi (as) salafan, sejak dahulu, seluruh Awliya terdahulu.  Mereka selalu berada dalam hadirat Mahdi (as) dan juga mereka yang akan muncul setelahnya.  Mereka yang hadir di dunia ini, dan mereka yang berada di alam Barzakh, artinya orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang telah wafat.  Tidak ada Waliyullah, illa mukaasyif, kecuali bahwa hijabnya telah terbuka bagi mereka untuk melihat dan bertemu dengan Mahdi (as) untuk mengambil kekuatan darinya dan memperoleh ilmu darinya.  

Adalah suatu keharusan bagi seseorang yang mempunyai rahasia kewalian, sirrul wilayah–setiap orang berbicara mengenai rahasia kewalian ini.  Ada seseorang yang bertanya kepada saya setahun yang lalu, “Apakah sirrul wilayah itu?”  Saya katakan, “Saya tidak tahu.”  Saya tidak tahu, tetapi Mawlana tahu, guru saya tahu.  Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa sirrul wilayah atau rahasia kewalian, pembukaan gerbang menuju kewalian, kunci menuju kewalian, kunci menuju khazanah kalian, wahai manusia adalah ketika kalian mempunyai sila, pertalian, hubungan dengan Mahdi (as).  Ketika kalian menjadi seorang Waliyullah, kalian bergerak bersama Mahdi (as), kalian mengambil dari Mahdi (as), kalian belajar dari Mahdi (as), kalian berperang bersama Mahdi (as).   

Apa yang tertulis pada pedang Mahdi (as)?  Mawlana Syekh Nazim mengatakan bahwa pada pedang Sayyidina Mahdi (as) tertulis, “Nashrun minallaah wa fathun qariib,”  “Kemenangan dari Allah bagimu wahai Mukmin, wa fathun qariib, dan pembukaan yang akrab, yang sangat dekat.”  Bersama Mahdi (as) kalian masuk ke Hadirat Ilahi.  Rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqin, Yaa Rabbi, masukkanlah aku dengan masuk yang benar; wa akhrijnī mukhraja ṣidqin, dan keluarkanlah aku dengan keluar yang benar, waj’al lī mil ladunka, dan jadikanlah aku dari sisi-Mu, dari Hadirat-Mu; sulṭānan naṣīrā, Sultan yang meraih kemenangan, yakni Mahdi (as). (QS al-Isra, 17:80).

Yaa Rabbii, kami tidak mengetahui apa-apa, yaa Rabbii, kami tidak mengetahui apa-apa.  Jadikanlah kami sebagai orang-orang yang dapat meraih sisi batinnya dan meraih Napas Suci-Mu yaa Rabbii, Napas Ilahiah Suci yang ada dalam diri kami yang dilambangkan oleh Mahdi (as), al-haqiiqatul Mahdi (as).  Itu adalah Napas Suci yang harus kalian temukan.  Napas Suci Ilahiah dari Allah (swt), dan itulah yang membuat kalian istimewa, wahai manusia.   

Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Mahdi (as)–tak peduli betapa terkenalnya ia di antara orang-orang–begitu banyak orang alim sekarang ini, kalian buka Youtube, kalian buka Facebook, kalian buka Instagram, oooh penuh dengan alim, tanyalah pada mereka, “Apakah engkau sentiasa bertemu dengan Mahdi (as)?”  Secara rohaniah hubungan kalian tidak bisa terputus; ketika kalian menemukan kebenaran, kalian tidak bisa memutuskan diri darinya, itu adalah Haqqul Yaqiin, kalian telah dibusanai dengannya.  Kalian telah menjadi qaa’imun billaah, mutahaqqiqun bi ‘l-Haqq, kalian hadir bersama Allah (swt), dan Haqq atau kebenaran telah masuk ke dalam diri kalian, dan ia telah menjadi bagian dari diri kalian.  Hanya bersama Allah (swt) kalian bergerak, ini adalah orang-orang yang shiddiq, orang-orang yang benar, para Awliyaullah.  Secara rohaniah, mereka tidak pernah memutuskan hubungannya dengan Mahdi (as), mereka selalu hadir dalam hadiratnya.  Itu adalah nuuru ‘r-ruuh.

Grandsyekh mengatakan bahwa orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Mahdi (as), tak peduli ia dikenal di antara orang-orang sebagai Qutub, sebagai Wali, sebagai Khalifah, sebagai Allamah, sebagai Mawlana atau dengan gelar lainnya yang tidak saya ketahui, yang mereka tambahkan sendiri pada diri mereka, sebagai Ayatullah, atau sebagai Hujjatullah, jika mereka tidak mempunyai hubungan dengan Mahdi (as), tak peduli betapa terkenalnya mereka atau berpura-pura menjadi Syuyukh, jangan terima mereka.  Kita memerlukan seorang yang telah bertemu dengan Mahdi (as).

Grandsyekh Mawlana Syekh Nazim mengatakan, “Ketika guruku dipanggil untuk bertemu Mahdi (as) secara fisik,” secara rohaniah mereka selalu bersamanya, tidak pernah terpisah.  “Ketika Syekhku diperintahkan untuk bertemu dengan Mahdi (as) secara fisik,” beliau membawa Syekh Nazim juga.  Grandsyekh Syekh Nazim al-Haqqani mempunyai pertalian dengan Mahdi (as).  Itulah orang yang kalian cari, wahai manusia.  Orang yang mempunyai hubungan dengan Napas Ilahiah di dalam diri kalian.  

Beliau mengatakan, “Di sana aku melihatnya, bi `ayn`Ayn di sini bisa bermakna dua hal, menurut pemahaman saya.  Bi `aynihi ra’aytuh artinya “Aku telah melihat Mahdi (as) dengan mata Grandsyekhku,” dan ini yang lebih baik.  Itu artinya Mawlana Syekh Nazim menganggap dirinya tidak ada.  Beliau tidak mengatakan, “Aku melihat Mahdi (as) dengan mataku.”  Tidak ada istilah aku.  Mawlana Syekh Nazim tidak mengkonfirmasi dirinya. Bi `aynihi ra’aytuh, beliau mengatakan bahwa, “Aku telah melihat Mahdi (as) dengan mata Syekhku.”  Lihatlah ketawadukan guru kita.  Jika kalian melihat Mahdi (as), kalian akan mengatakan kepada semua orang, “Ya, aku melihatnya dengan mataku.  Aku mendengarnya dengan telingaku.”  Semuanya tentang diri kaliian!  Kalian belum mencapai apa yang telah dicapai oleh Grandsyekh, beliau mengatakan, “Bi `ayni ra’aytuh, aku telah melihat Mahdi (as) dengan mata Syekhku.”  

Kita melihat Mahdi (as) dengan mata Syekh kita.  Kita mendengar tentang Mahdi (as) dengan telinga Grandsyekh kita.  Jangan katakan dengan mata telinga kalian sendiri.  Bila kalian mengatakannya demikian berarti kalian melakukan syirik.  Wahai Wahhabi Salafi, ini adalah syirik, yaitu ketika kalian mengkonfirmasi diri kalian.  Ketika kalian mengatakan, “Aku!”  Tidak ada “Aku”, yang ada hanyalah Allah (swt) dan orang-orang yang Dia kehendaki.  Kita semua akan binasa.  Cepat atau lambat mereka akan memasukkan kita ke liang lahad, dan selesai, kalian tidak ada lagi.  Temukanlah hakikat, dan dalam hakikat tidak ada kalian, wahai manusia.  Kalian hanya ada selama beberapa tahun, dan kemudian kalian kembali ke Hadirat Ilahi, ke tempat asal kalian.  Jadi sejak sekarang kita harus mengkonfirmasi bahwa tidak ada “Aku”, itu adalah mutu qabla an tamutu, matilah sebelum engkau mati–yang selama ini kalian keberatan dengan hal ini.  Itu artinya kalian menarik diri dari dunia, dari kecintaan, dari kehidupan materialistik, dan kesenangan dunia ini dan kalian mengatakan, “Aku adalah untuk Tuhanku.  Aku bukan untuk dunia ini, tidak ada “Aku” di sini.”  

Awliyaullah mengatakan bahwa “Nafsuka samkatun, ego kalian adalah seekor ikan.”  Hayatuha bahru ‘d-dunya wa maa’ul hawaa, kehidupan seekor ikan adalah di samudra dunia ini dan air hawa nafsu, kalian harus mengeluarkannya.  Rasulullah (saw) bersabda, “Mutu qabla an tamutu, matilah sebelum engkau mati,” artinya keluarkan ego kalian dari samudra dunia dan air hawa nafsu, karena ikan akan mati bila kalian mengeluarkannya dari dalam samudra.  Artinya tariklah diri kalian dari dunia dan tariklah diri kalian dari hawa nafsu, wahai manusia; sehingga kalian mempunyai ikan yang mati.  Maka kalian menjadi ikan yang mati.  Apa yang terjadi bila kalian menjadi ikan yang mati?  Seseorang akan membawa kalian.  

Bila kalian menjadi ikan yang mati, bila kalian telah meninggalkan dunia, meninggalkan hawa nafsu kalian, itu artinya kalian berada di gerbangnya Waliyullah.  Waliyullah akan mengangkat kalian.  Kalian meninggalkan dunia kepada siapa?  Kepada Allah (swt), itu artinya kalian menuju pintunya Awliyaullah.  Itulah sebabnya di masa lalu ada dergah, ada khanaqah, zawiyah di mana masya Allah begitu banyak orang yang menarik diri mereka.  Orang-orang meninggalkan dunia, tharaqu bahra ‘d-dunya wa maa’al hawaa, mereka meninggalkan samudra dunia dan air hawa nafsu, karena tanpa air kalian akan mati.  Jadi ego, untuk melanjutkan hidupnya ia harus minum, dan minuman ego itu apa?  Hawa nafsu.  Jadi ketika kalian meninggalkan samudra dunia, dan kalian meninggalkan air hawa nafsu dan kalian pergi ke pintunya Waliyullah, ia akan membawa kalian.  Ke mana kalian akan pergi bersama Waliyullah?  

Kalian adalah seekor ikan yang mati bersama Waliyullah.  Di manakah kisah tentang ikan yang mati dalam al-Qur’an suci?  Ketika Nabiyullah membawa seekor ikan yang mati bersamanya.  Nabiyullah, dan Waliyullah–Waliyullah adalah pewaris dari Anbiyaullah, mereka mengambil ilmu tauhid darinya, mereka membawa ikan-ikan yang mati itu bersama mereka, ke mana?  Ke Majma al-Bahrain, ke tempat pertemuan antara dua alam, alam rohaniah dan alam fisik, jasmani.  Apakah ikan kalian akan hidup di sana?  Apa tandanya bagi Musa (as) di mana, “Ketika engkau menemukan pintu-Ku, ketika engkau menemukan hamba-Ku, ketika engkau menemukan ilmi ‘l-ladunni, ketika engkau menemukan ilmu rohaniah-Ku, ikan yang engkau bawa menjadi hidup.”

Ketika kalian meninggalkan bahra ‘d-dunya dan maa’ul hawaa, ketika kalian meninggalkan samudra dunia dan air hawa nafsu, dan kalian pergi bersama Waliyullah sebagai ikan yang mati dan ketika ia sampai bersama kalian ke tempat pertemuan antara dua alam, yakni alam rohaniah dan alam jasmaniah, kalian akan menjadi hidup, dan apa yang kalian lakukan?  Fattakhaża sabīlahụ fil-baḥri sarabā, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke samudra itu. (QS Al-Kahfi, 18:61), kalian mengambil jalan kalian masuk ke dalam Samudra Rahmat, Samudra Cinta-Nya Allah (swt).  Kalian menjadi hidup dan masuk ke dalam samudra tersebut. 

Ilmunya Awliyaullah begitu dalam, kita bahkan belum sampai menggores permukaannya.  Semoga Allah mengampuni kita.  Saya rasa ini sudah cukup.  Ini sudah cukup untuk menunjukkan apa yang ada bersama Awliyaullah, oleh sebab itu mari datanglah bersama Awliyaullah.  Jika kalian tidak dapat menemukannya secara fisik, pergilah ke maqam suci mereka, pergilah dan ambillah rahmat yang turun kepada mereka, ambillah berkah dari tempat itu.  Allah (swt) akan membimbing kalian kepada Awliya yang masih hidup.  Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama Awliyaullah.  Aamiin.  Yaa Rabbii, kumpulkanlah kami bersama Sayyidina Mahdi (as) zhaahiran wa bathinan, yaa Rabbal `aalaamiin.  Jadikanlah kami orang yang sempurna, dan selalu tersambung dengan Mahdi (as), aamiin, aamiin, aamiin, bi hurmatil habiib (saw), wa bi sirri Suurati ‘l-Faatihah. 

Satu hal lagi, ada seseorang yang bertanya tentang apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang merasa khawatir dan cemas.  Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, tetapi subhanallah shuhbah ini juga muncul untuk itu.  Semua kekhawatiran dan kecemasan kalian akan lenyap dengan pikiran bahwa kalian akan bersama Hadirat Ilahi dalam samudra Nuur dari dzikir, dzikrullah, tidak ada lagi kekhawatiran yang tersisa, jadi berusahalah untuk menemukan pintu Waliyullah, dan kekhawatiran dan kecemasan kalian akan hilang.  

Wa min Allah at-tawfiiq, bi hurmatil habiib (saw), wa bi sirri Suurati ‘l-Faatihah.  

Wassalamu`alaykum wa rahmatullaahi ta`aala wa barakatuh

https://sufilive.com/True-Saints-Are-Connected-with-Sayyidina-al-Mahdi-as–7243.html

© Hak Cipta 2020 Sufilive. Seluruh hak cipta. Transkrip ini dilindungi

 

oleh hukum hak cipta internasional. Harap cantumkan Sufilive saat membagikannya. JazakAllahu khayr.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s