Kekuatan Penyembuhan Awliyaullah

92848440_523781051649174_4688627196439298048_n

Dr. Nour Kabbani
Seri Ramadhan hari ke-15
8 Mei 2020

Suatu ketika Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani menceritakan sebuah kisah kepada Grandsyekh Syekh Nazim. Pada masa Dinasti Tsar Rusia yang menjadi kepala dokter di sana adalah ayah dari Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani. Beliau banyak mempunyai medali kehormatan dari kaisar. Grandsyekh Abdullah mengatakan, “Wahai anakku tercinta, Nazim Effendi, Ayahku meninggal dunia ketika aku berumur dua belas tahun, tetapi aku masih ingat seluruh perlakuan yang diberikan Ayahku kepada pasien-pasiennya. Semua ilmu ini tersimpan di dalam hatiku. Setiap orang yang datang kepadaku dengan penyakitnya, aku mempunyai pengobatan untuknya, tetapi aku tidak dapat mengobati diriku sendiri.” Itu artinya, “Aku memerlukan seseorang yang dapat memberikan penyembuhan untukku.” Grandsyekh memerlukan Grandsyekhnya, beliaulah yang akan memberikan penyembuhan kepadanya.

Ini adalah masalah yang kita hadapi sekarang. Orang-orang mengatakan, “Bagaimana agar aku menjadi lebih baik lagi?” “Bagaimana aku dapat melakukan tazkiyatun nafs?” “Aku akan membaca buku-buku dan menemukan jalan untuk memurnikan diriku sendiri.” Grandsyekh mengatakan, “Tidak! Kalian tidak dapat melakukan hal itu. Kalian harus menemukan seorang guru.” Waliyullah akan merawat kalian. Waliyullah akan mengobati kalian. Kalian bisa memberikan pengobatan kepada orang lain, tetapi tidak bisa pada diri kalian sendiri. Setan mengatakan, “Aku dapat melakukannya sendiri. Aku tidak memerlukan orang lain untuk mengajariku bagaimana merawat diriku.” Itulah sebabnya ia menjadi terusir, jadi jangan sampai terperangkap ke dalam tipu dayanya.

Grandsyekh mengatakan bahwa karunia itu diperoleh dari Rasulullah (saw), karena Anbiyaullah diutus kepada manusia untuk menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani mereka; begitu pula dengan Awliyaullah, mereka akan menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani kalian. Contoh orang suci seperti ini yang disebutkan di dalam al-Qur’an adalah Sayyidina Isa (as). Beliau adalah orang yang memperoleh risalah Surgawi untuk merawat dan menyembuhkan manusia, baik fisik maupun rohani. “Aku akan menyembuhkan orang yang buta, dan aku akan menyembuhkan penderita lepra.” Jadi Anbiyaullah, mereka memberikan perawatan untuk penyakit rohani dan jasmani, begitu pula dengan Awliyaullah. Dan mereka telah mewarisinya dari Rasulullah (saw). Jika Sayyidina Isa (as) mempunyai kekuatan seperti itu, tentu saja Rasulullah (saw) juga mempunyai kekuatan seperti itu. Dan Rasulullah (saw) telah memberikannya kepada Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani. Beliau mengatakan, “Aku mempunyai obat untuk semua penyakit zhahiri wa ma’nawi, jasmani dan rohani.”

Oleh sebab itu penting sekali untuk percaya bahwa Syekh kalian mampu mengobati penyakit jasmani dan rohani.  I`tiqad, kalian harus percaya dengan Syekh kalian. Seseorang mendatangi Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani karena ibunya menderita kanker. Grandsyekh memerintahkan agar ibunya minum jus bawang (dalam hal ini maksudnya adalah bawang bombai–penerj.).  Orang ini sudah pergi ke mana-mana, termasuk ke Eropa dan Amerika, tetapi ia tidak dapat menemukan obat untuk ibunya. Ia datang kepada Grandsyekh dan beliau mengatakan agar ibunya minum jus bawang. Hal yang sederhana. Orang itu berkata, “Apa yang bisa dilakukan bawang ini?!” Ketika ia ragu, Grandsyekh mengatakan, “Saat itu rahasianya menjadi terhenti.”

Ada kekuatan rahasia yang dikirimkan oleh Awliyaullah, energi rahasia. Yang perlu kalian lakukan adalah percaya bahwa mereka mempunyai energi penyembuhan semacam itu. Seperti tabib, di mana sekarang setiap orang pergi mendatangi tabib. Ada tabib yang asli dan ada juga yang palsu. Awliyaullah adalah tabib sejati. Mereka dapat memberi penyembuhan. Yang perlu kalian lakukan adalah percaya bahwa mereka dapat melakukannya! Mungkin saja seorang Waliyullah akan membacakan sesuatu ke dalam air, kemudian meniupkannya dan memberikannya kepada kalian, dan kalian mengatakan, “Aku percaya bahwa Syekhku memberikan air yang dapat menyembuhkan aku.” Kalian lalu meminumnya dan kalian akan sembuh, insyaaAllah. Tentu saja atas izin Allah.

Mawlana Syekh Nazim mengatakan, “Seorang hamba sejati, bila ia menginginkan sesuatu, maka Allah pun menginginkannya.” Jika ia mengatakan, “Yaa Rabbii, sembuhkanlah ia.” Allah (swt) tidak akan membuatnya mengulangi lagi permintaannya, Dia akan menyembuhkannya. Air itu akan menyembuhkan penyakitnya. Apakah kalian percaya dengan hal itu atau tidak? Itu adalah ujian terhadap keimanan kalian wahai Muslim, wahai orang-orang yang selalu keberatan.

Kalian harus mempercayainya. Sayyidina Jibril mengatakan kepada Sayyidina Ayyub (as), “Injaklah tanah itu dengan kakimu, air akan terpancar darinya, minumlah air itu dan penyakitmu akan sembuh.” Apakah Sayyidina Ayyub (as) mempercayainya? Sayyidina Ayyub (as) mempunyai penyakit yang sangat parah yang membuatnya terusir dari desanya. Cacing-cacing keluar masuk dari kulitnya. Ia kehilangan segalanya, kulit dan dagingnya mengelupas. Siapa yang dapat menyembuhkan penyakit seperti itu? Dokter mana yang dapat menyembuhkannya? Masya Allah kalian terkenal dengan segala vaksin dan kemoterapi, dan saya tidak tahu lagi, ada imunoterapi dan pengobatan canggih lainnya, tetapi kalian tidak bisa menyembuhkan semua orang. Kalian mengalami kebuntuan, dan pada akhirnya pasien itu akan meninggal di tangan kalian karena kalian memberikan sesuatu yang tidak dapat menolongnya. Iman, percaya kepada Allah dan Kekuatan-Nya akan menyembuhkan segala penyakit.

Allah (swt) mengatakan, “Injaklah tanah itu dengan kakimu.” Itu adalah kaki dari Sayyidina Ayyub (as) yang suci. Kaki dari orang yang suci–dan kalian keberatan dengan Nalayn Syariif (terompah Nabi (saw)), “Injaklah tanah itu wahai Ayyub, engkau akan menemukan air yang memancar darinya, minumlah air itu, dan mandilah dengan air itu. Kisah ini ada dalam Surat Shad, bacalah wahai Muslim yang selalu keberatan. Bagi Non Muslim tidak perlu dibicarakan lagi karena mereka memang tidak menerima seluruh risalah ini, tetapi bagi Muslim, mereka menyangkal dan keberatan dengan keajaiban yang dimiliki oleh Anbiyaullah dan Awliyaullah. Kaki suci Sayyidina Ayyub (as) menginjak tanah dan air memancar dari sana, air biasa saja tetapi apa yang terjadi padanya? “Kami tidak hanya memberinya syifa tetapi Kami kembalikan juga keluarga dan anak-anaknya.” Anak-anak Nabi Ayyub (as) semuanya meninggal dunia tertimpa rumahnya yang runtuh, kemudian api membakar rumah dan seluruh harta bendanya. Beliau kehilangan anak-anak dan juga harta bendanya.

Air itu memberikan kesembuhan kepadanya, dan bukan hanya itu, Allah (swt) berfirman, “Aku kembalikan kepadanya keluarganya, dan menambahkan anak-anaknya, rahmatan minna, itu adalah Rahmat dari Kami!” Jadi orang yang mempunyai pikiran yang baik, pikiran yang murni dapat mengingat Kekuatan Allah (swt) pada kaki suci dari seorang hamba yang suci. Allah (swt) meletakkan kekuatan penyembuhan itu di sana. Jangan menyangkal kekuatan Awliyaullah. Wahai manusia, kalian mengetahui satu dua hal, tetapi masih banyak hal yang tidak kalian ketahui, jadi jangan suka menyangkal. Kaki suci seorang hamba dapat membawa kesembuhan untuk penyakit fisik dan tidak hanya itu, Allah (swt) juga mengarunikannya lebih banyak lagi. Jika kalian percaya dengan kekuatan Awliyaullah dan keajaibannya, kalian akan memperoleh kemenangan.

Datanglah ke Majelis Awliyaullah, biarkan mereka merawat penyakit hati dan penyakit jasmani kalian. Grandsyekh Syekh Nazim al-Haqqani adalah orang semacam itu, dan Quthbul Mutasharrif, orang yang kita ikuti, dan beliau membawa kita kepada Syekh Nazim, dan seluruh Awliyaullah mempunyai kekuatan semacam itu. Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama mereka, dan memberi kekuatan kepada kita untuk mengikuti mereka dengan benar, insyaaAllah, insyaaAllah. Datanglah ke majelis Awliyaullah, percayalah pada kekuatannya, dan kalian akan memperolah kemenangan. Jika kalian tidak percaya dengan kekuatan Awliyaullah, kalian bisa mendapat masalah, namun demikian mereka akan tetap menjangkau kalian, karena mereka adalah rahmat untuk Ummah.

Wa min Allah at-tawfiq, bi hurmatil habiib, wa bi sirri Suuratil Faatihah.