Kekuatan Penyembuhan Awliyaullah

92848440_523781051649174_4688627196439298048_n

Dr. Nour Kabbani
Seri Ramadhan hari ke-15
8 Mei 2020

Suatu ketika Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani menceritakan sebuah kisah kepada Grandsyekh Syekh Nazim. Pada masa Dinasti Tsar Rusia yang menjadi kepala dokter di sana adalah ayah dari Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani. Beliau banyak mempunyai medali kehormatan dari kaisar. Grandsyekh Abdullah mengatakan, “Wahai anakku tercinta, Nazim Effendi, Ayahku meninggal dunia ketika aku berumur dua belas tahun, tetapi aku masih ingat seluruh perlakuan yang diberikan Ayahku kepada pasien-pasiennya. Semua ilmu ini tersimpan di dalam hatiku. Setiap orang yang datang kepadaku dengan penyakitnya, aku mempunyai pengobatan untuknya, tetapi aku tidak dapat mengobati diriku sendiri.” Itu artinya, “Aku memerlukan seseorang yang dapat memberikan penyembuhan untukku.” Grandsyekh memerlukan Grandsyekhnya, beliaulah yang akan memberikan penyembuhan kepadanya.

Ini adalah masalah yang kita hadapi sekarang. Orang-orang mengatakan, “Bagaimana agar aku menjadi lebih baik lagi?” “Bagaimana aku dapat melakukan tazkiyatun nafs?” “Aku akan membaca buku-buku dan menemukan jalan untuk memurnikan diriku sendiri.” Grandsyekh mengatakan, “Tidak! Kalian tidak dapat melakukan hal itu. Kalian harus menemukan seorang guru.” Waliyullah akan merawat kalian. Waliyullah akan mengobati kalian. Kalian bisa memberikan pengobatan kepada orang lain, tetapi tidak bisa pada diri kalian sendiri. Setan mengatakan, “Aku dapat melakukannya sendiri. Aku tidak memerlukan orang lain untuk mengajariku bagaimana merawat diriku.” Itulah sebabnya ia menjadi terusir, jadi jangan sampai terperangkap ke dalam tipu dayanya.

Grandsyekh mengatakan bahwa karunia itu diperoleh dari Rasulullah (saw), karena Anbiyaullah diutus kepada manusia untuk menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani mereka; begitu pula dengan Awliyaullah, mereka akan menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani kalian. Contoh orang suci seperti ini yang disebutkan di dalam al-Qur’an adalah Sayyidina Isa (as). Beliau adalah orang yang memperoleh risalah Surgawi untuk merawat dan menyembuhkan manusia, baik fisik maupun rohani. “Aku akan menyembuhkan orang yang buta, dan aku akan menyembuhkan penderita lepra.” Jadi Anbiyaullah, mereka memberikan perawatan untuk penyakit rohani dan jasmani, begitu pula dengan Awliyaullah. Dan mereka telah mewarisinya dari Rasulullah (saw). Jika Sayyidina Isa (as) mempunyai kekuatan seperti itu, tentu saja Rasulullah (saw) juga mempunyai kekuatan seperti itu. Dan Rasulullah (saw) telah memberikannya kepada Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani. Beliau mengatakan, “Aku mempunyai obat untuk semua penyakit zhahiri wa ma’nawi, jasmani dan rohani.”

Oleh sebab itu penting sekali untuk percaya bahwa Syekh kalian mampu mengobati penyakit jasmani dan rohani.  I`tiqad, kalian harus percaya dengan Syekh kalian. Seseorang mendatangi Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani karena ibunya menderita kanker. Grandsyekh memerintahkan agar ibunya minum jus bawang (dalam hal ini maksudnya adalah bawang bombai–penerj.).  Orang ini sudah pergi ke mana-mana, termasuk ke Eropa dan Amerika, tetapi ia tidak dapat menemukan obat untuk ibunya. Ia datang kepada Grandsyekh dan beliau mengatakan agar ibunya minum jus bawang. Hal yang sederhana. Orang itu berkata, “Apa yang bisa dilakukan bawang ini?!” Ketika ia ragu, Grandsyekh mengatakan, “Saat itu rahasianya menjadi terhenti.”

Ada kekuatan rahasia yang dikirimkan oleh Awliyaullah, energi rahasia. Yang perlu kalian lakukan adalah percaya bahwa mereka mempunyai energi penyembuhan semacam itu. Seperti tabib, di mana sekarang setiap orang pergi mendatangi tabib. Ada tabib yang asli dan ada juga yang palsu. Awliyaullah adalah tabib sejati. Mereka dapat memberi penyembuhan. Yang perlu kalian lakukan adalah percaya bahwa mereka dapat melakukannya! Mungkin saja seorang Waliyullah akan membacakan sesuatu ke dalam air, kemudian meniupkannya dan memberikannya kepada kalian, dan kalian mengatakan, “Aku percaya bahwa Syekhku memberikan air yang dapat menyembuhkan aku.” Kalian lalu meminumnya dan kalian akan sembuh, insyaaAllah. Tentu saja atas izin Allah.

Mawlana Syekh Nazim mengatakan, “Seorang hamba sejati, bila ia menginginkan sesuatu, maka Allah pun menginginkannya.” Jika ia mengatakan, “Yaa Rabbii, sembuhkanlah ia.” Allah (swt) tidak akan membuatnya mengulangi lagi permintaannya, Dia akan menyembuhkannya. Air itu akan menyembuhkan penyakitnya. Apakah kalian percaya dengan hal itu atau tidak? Itu adalah ujian terhadap keimanan kalian wahai Muslim, wahai orang-orang yang selalu keberatan.

Kalian harus mempercayainya. Sayyidina Jibril mengatakan kepada Sayyidina Ayyub (as), “Injaklah tanah itu dengan kakimu, air akan terpancar darinya, minumlah air itu dan penyakitmu akan sembuh.” Apakah Sayyidina Ayyub (as) mempercayainya? Sayyidina Ayyub (as) mempunyai penyakit yang sangat parah yang membuatnya terusir dari desanya. Cacing-cacing keluar masuk dari kulitnya. Ia kehilangan segalanya, kulit dan dagingnya mengelupas. Siapa yang dapat menyembuhkan penyakit seperti itu? Dokter mana yang dapat menyembuhkannya? Masya Allah kalian terkenal dengan segala vaksin dan kemoterapi, dan saya tidak tahu lagi, ada imunoterapi dan pengobatan canggih lainnya, tetapi kalian tidak bisa menyembuhkan semua orang. Kalian mengalami kebuntuan, dan pada akhirnya pasien itu akan meninggal di tangan kalian karena kalian memberikan sesuatu yang tidak dapat menolongnya. Iman, percaya kepada Allah dan Kekuatan-Nya akan menyembuhkan segala penyakit.

Allah (swt) mengatakan, “Injaklah tanah itu dengan kakimu.” Itu adalah kaki dari Sayyidina Ayyub (as) yang suci. Kaki dari orang yang suci–dan kalian keberatan dengan Nalayn Syariif (terompah Nabi (saw)), “Injaklah tanah itu wahai Ayyub, engkau akan menemukan air yang memancar darinya, minumlah air itu, dan mandilah dengan air itu. Kisah ini ada dalam Surat Shad, bacalah wahai Muslim yang selalu keberatan. Bagi Non Muslim tidak perlu dibicarakan lagi karena mereka memang tidak menerima seluruh risalah ini, tetapi bagi Muslim, mereka menyangkal dan keberatan dengan keajaiban yang dimiliki oleh Anbiyaullah dan Awliyaullah. Kaki suci Sayyidina Ayyub (as) menginjak tanah dan air memancar dari sana, air biasa saja tetapi apa yang terjadi padanya? “Kami tidak hanya memberinya syifa tetapi Kami kembalikan juga keluarga dan anak-anaknya.” Anak-anak Nabi Ayyub (as) semuanya meninggal dunia tertimpa rumahnya yang runtuh, kemudian api membakar rumah dan seluruh harta bendanya. Beliau kehilangan anak-anak dan juga harta bendanya.

Air itu memberikan kesembuhan kepadanya, dan bukan hanya itu, Allah (swt) berfirman, “Aku kembalikan kepadanya keluarganya, dan menambahkan anak-anaknya, rahmatan minna, itu adalah Rahmat dari Kami!” Jadi orang yang mempunyai pikiran yang baik, pikiran yang murni dapat mengingat Kekuatan Allah (swt) pada kaki suci dari seorang hamba yang suci. Allah (swt) meletakkan kekuatan penyembuhan itu di sana. Jangan menyangkal kekuatan Awliyaullah. Wahai manusia, kalian mengetahui satu dua hal, tetapi masih banyak hal yang tidak kalian ketahui, jadi jangan suka menyangkal. Kaki suci seorang hamba dapat membawa kesembuhan untuk penyakit fisik dan tidak hanya itu, Allah (swt) juga mengarunikannya lebih banyak lagi. Jika kalian percaya dengan kekuatan Awliyaullah dan keajaibannya, kalian akan memperoleh kemenangan.

Datanglah ke Majelis Awliyaullah, biarkan mereka merawat penyakit hati dan penyakit jasmani kalian. Grandsyekh Syekh Nazim al-Haqqani adalah orang semacam itu, dan Quthbul Mutasharrif, orang yang kita ikuti, dan beliau membawa kita kepada Syekh Nazim, dan seluruh Awliyaullah mempunyai kekuatan semacam itu. Semoga Allah (swt) senantiasa mengumpulkan kita bersama mereka, dan memberi kekuatan kepada kita untuk mengikuti mereka dengan benar, insyaaAllah, insyaaAllah. Datanglah ke majelis Awliyaullah, percayalah pada kekuatannya, dan kalian akan memperolah kemenangan. Jika kalian tidak percaya dengan kekuatan Awliyaullah, kalian bisa mendapat masalah, namun demikian mereka akan tetap menjangkau kalian, karena mereka adalah rahmat untuk Ummah.

Wa min Allah at-tawfiq, bi hurmatil habiib, wa bi sirri Suuratil Faatihah.

AYAT SUCI YANG DAPAT MENYELAMATKAN MANUSIA DARI SEGALA PENYAKIT

89614700_10157130179505886_2694062736572153856_o

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

12 Maret 2020 | Fenton Zawiya, Michigan



Adab terhadap Syekh adalah jika kalian mengaitkan sesuatu kepada diri kalian sendiri, maka tidak akan ada yang berhasil. 


Duduklah di rumah!  Jika kalian mempunyai masalah, bacalah: 

‏بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Surah Yasiin, 36:38)

 

Masalah tersebut akan cair dengan sendirinya. Itulah yang diajarkan oleh Grandsyekh AbdAllah ad-Daghestani (q) kepada kami pada tahun-tahun yang baik di masa lalu.  Sekarang kita berada di tahun-tahun yang buruk. Tahun yang buruk, tetapi insyaAllah khalaash, keselamatan akan datang.  Pada akhirnya Islam akan menyebarkan kedamaian di mana-mana dan kita (Muslim) tidak menyebarkan apa-apa selain kedamaian.  


As-salam `alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh 

Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat dan keberkahan kepada kalian.  

 

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim dibaca sebelum ayat untuk mengikutsertakan setiap orang yang telah meninggal dunia akibat penyakit ini agar mereka diampuni.  Itulah sebabnya mengapa Umat Sayyidina Muhammad (saw) sangat beruntung memperoleh semua keselamatan dari Langit ini.
 

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim.

 

Dan Dia memberitahukan pentingnya Dzikrullah waqt al-masaa’ib, mengingat Allah pada masa-masa sulit.  

Ja’at al-ayat ats-tsaaniya Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim.

Kemudian ayat kedua muncul: 

Demikianlah ketetapan dari-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, artinya Dia mengetahui segalanya, jadi jangan menempatkan iraadah, kehendak kalian di atas Kehendak-Nya.  Iraadah kalian adalah seberapa banyak dzikrullah yang dapat kalian lakukan dalam sehari: itulah yang Allah (swt) berikan kepada kalian untuk memilihnya; sementara Iraadah Allah, Kehendak Ilahiah adalah untuk menghapuskan kezaliman, kegelapan dan penindasan, dan memberikan umat Muslim dari ketetapan pentingnya Bahr al-`Azhama, Samudra Keagungan, Qudratullah, Samudra Kekuasaan Allah di seluruh dunia ini. 

Keagungan-Nya adalah, bahwa dari satu ayat al-Qur’an suci seluruh dunia selamat.  Ketika Allah tidak senang dengan manusia, Dia menarik kekuatan dari dunia dan sebelum itu terjadi, seluruh dunia akan mengalami kejatuhan.  Jadi, agar kalian selamat dari masalah ini, `alaykum bi qira’at hadzihi ayah, kalian harus membaca ayat ini: 

 

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim.

Dzalika taqdiiru ‘l-`Aziizi ‘l-`Aliim. (36:38)

 

Itu adalah dzikirnya Mawlana Syekh AbdAllah yang biasa beliau baca 100 kali sebelum terbang, atau mengendarai kendaraan atau ketika bepergian.  Bila kalian membacanya atau menuliskannya, Allah (swt) akan membukakan bagi kalian sebuah taj (mahkota), satu derajat, satu maqam di atas maqam lainnya di atas maqam lainnya di atas maqam lainnya dan seterusnya sampai seluruhnya habis. 


Pada saat itu kemurnian akan muncul ke dunia dan Allah (swt) akan menunjukkan `Azhamat-Nya kepada manusia.  Jadi berusahalah untuk menjadi orang yang baik, daripada melakukan maksiat setiap saat, lebih baik melakukan dzikrullah.  

Dzikrullah (adalah apa) yang harus kita tunjukkan kepada Allah bahwa betapa kita sangat tertarik untuk mengikuti apa yang telah dijelaskan oleh Nabi (saw) mengenai ayat ini dan apa yang telah dijelaskan oleh para ulama mengenai hal ini.  

Semoga Allah mengampuni kita dan memberkahi kita, dan semoga Allah menyingkirkan penyakit (virus Corona) tersebut.  Barang siapa yang membaca dzikir ini 100 kali setiap hari ia akan diselamatkan dari segala penyakit. Jadi siapa pun yang mempunyai masalah dari penyakit semacam ini, biarkan mereka membaca ayat tersebut 100 kali setiap hari dan insyaAllah itu akan terbuka. 

Wa min Allah at-tawfiiq, dan segala keberhasilan berasal dari Allah. 

Doa Penyembuhan Khusus dengan Asmaa’ Allah

74666339_10156784413965886_8446017264477536256_o

Seri Penyembuhan dalam Qur’an dan Sunnah, Volume 6

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Zawiyah Fenton, Michigan, 26 Desember 2012

Shuhbah bakda Zhuhur

 

A`uudzu billaahi min asy-syaythaani r-rajiim, Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Rahiim
Nawaytu ‘l-arba’īn, nawaytu ‘l-`itikāf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyādhah, nawaytu ‘s-sulūk, lillāhi ta`āla fī hadza ‘l-masjid 

Dastuur yaa Sayyidii, madad!

Grandsyekh `AbdAllah (q) mengatakan bahwa jika Allah (swt) ingin membuka hakikat seorang yang telah meninggal dunia di kuburnya, karena sebagian orang mempunyai bau yang tidak sedap–seperti ketika kalian berdoa, sebagian dari doa yang kalian baca keluar dengan bau yang tidak sedap karena dosa-dosa kalian–jadi jika seseorang meninggal dunia dan Allah (swt) ingin mengekspos bau dari ghibah, gunjingan, namiimah, rumor palsu yang ia sebarkan, dan perbuatannya meninggalkan shalat, puasa, senang minum-minuman, senang bermain wanita, merokok, dan bau dari segala perbuatan yang dilarang Allah (swt), maka seluruh dunia akan jatuh pingsan!  Tetapi bagaimana dengan doa seseorang yang Allah (swt) gambarkan dalam kitab suci al-Qur’an sebagai orang yang saleh, seorang wali? Doanya segera diterima, sebagaimana Allah (swt) berfirman di dalam sebuah Hadits Suci,

من عادا لي وليا فقد آذنته بالحرب

Man `adaa lii waliyyan faqad aadzantahu bi ’l-harb.

(Allah [swt] berfirman) Barang siapa yang menentang Wali-Ku, Aku nyatakan perang terhadapnya. 

(Hadits Qudsi; Bukhari, dari Abu Hurayrah)

Jadi, apakah Allah (swt) akan menyatakan perang terhadap seseorang yang Dia gambarkan sebagai seorang wali?  Allah (swt) akan menyatakan perang terhadap orang yang menentang wali-Nya! Itu artinya, para awliyaullah tidak mempunyai musuh karena Allah (swt) menjadikan mereka murni.  Itulah sebabnya mengapa Nabi (saw) mengatakan (bahwa Allah berfirman), “Barang siapa yang menentang Wali-Ku, Aku nyatakan perang terhadapnya,” yang artinya bahwa Dia akan menerima doa wali tersebut.  Allah tidak akan memerangi seorang wali.

Kalian mungkin bertanya, “Baiklah, jika tidak seorang pun dapat menyakiti seorang wali, lalu mengapa mereka mempunyai masalah?”  Masalah mereka sebenarnya bukanlah masalah mereka; lebih tepatnya masalah mereka adalah seperti kamera siaran yang mempunyai sebuah hub dan kita membawa hub kita dan datang ke sang mursyid dengan mengatakan, “Kami mengambil tanganmu untuk berbay’at kepadamu.”  Jika mursyid itu mengulurkan tangannya dan memberi bay’at kepada kita maka ia menjadi bertanggung jawab atas hub tersebut (yakni kerusakan atau penyakit yang kita semua bawa) dan ia harus menyingkirkannya. Jadi itu adalah kesalahan kita, kekejian kita, keburukan kita, dan kegelapan kita yang kita bawa kepada wali tersebut dan membuatnya memikulnya untuk kita karena ia menerima bay’at kita kepadanya, jadi menjadi tanggung jawabnya untuk untuk membersihkan diri kita dan memikul kesalahan kita.  

Itulah sebabnya ketika ia berdoa untuk seseorang yang datang dengan berbagai macam paket, seperti malas atau terlalu banyak bicara, doanya menjadi tertunda.  Hal tersebut bukanlah karena wali itu tidak suci, karena mereka semua adalah suci dan doa mereka bisa cepat, tetapi kalian juga harus suci agar doanya sampai pada tempatnya.  Ketika kalian menceritakan situasi kalian kepadanya dan ia berdoa, jika kalian 90% dalam keadaan suci, maka doanya meluncur bagaikan roket untuk sampai ke tempatnya dan masalahnya menjadi terpecahkan, tetapi bila kalian 10% suci, maka kecepatan doanya pun menurun sebesar 90%!

Itulah sebabnya Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, 

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

Alaa inna awliyaa’ullaahi laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun. Alladziina amanuu wa kaanuu yattaquun.

Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati, (yaitu) mereka yang beriman dan senantiasa bertakwa. (Surat Yunus, 10:62-63)

“Tidak ada rasa takut” artinya tidak ada sesuatu yang akan menunda agar doa mereka segera diterima; namun demikian, hal itu tergantung pada kita dan bagaimana kita datang kepadanya.  Doa apa pun yang kalian panjatkan dengan Ismullaahi ’l-`A’zham, Nama Allah Teragung, akan menjadi seperti pedang yang akan memotong masalah kalian dengan cepat dan membawa kalian ke Hadirat Ilahi!  Itulah sebabnya ada doa-doa yang disebutkan oleh para Sahabat (ra) dan Nabi (saw) menyetujuinya. Dan kalian semua mengetahui kedua ayat ini, wa ilaahukum ilaahun waahidun laa ilaaha illa Huwa ’r-Rahmaanu ‘r-Rahiim, dan Alif. Laam. Miim. Allaahu laa ilaaha illa Huwa ‘l-Hayyu ‘l- Qayyum; satu dari Surat al-Baqarah dan satunya dari Ali-`Imraan.  Siapa pun yang mempunyai masalah dan berdoa dengan kedua ayat yang mengandung Ismullaah al-`A’zham ini, Allah (swt) akan menerima apa yang ia inginkan!

حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان إذا أهمه الأمر رفع رأسه إلى السماء ، وإذا اجتهد في الدعاء ، قال : يا حي يا قيوم .

Anna ’n-Nabi (saw) kaana idzaa ahamahu ’l-amra rafa`a raasahu ila ’s-samaa wa idzaa ’jtahada fi ’d-du`aa, qaala: Ya Hayyu Yaa Qayyum.


Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah (ra), setiap kali Nabi (saw) ditimpa kesulitan, beliau akan menengadahkan kepalanya ke langit, dan ketika beliau berusaha keras dalam doanya, beliau akan mengatakan, “Yaa Hayyu, yaa Qayyum!” (Sahih Tirmidzi)

Biasanya kita melihat tangan kita ketika berdoa, namun ketika ada masalah besar, alih-alih menunjukkan ketawadukan, kalian mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sambil berdoa, “Yaa Rabbii!  Yaa Rabbii!” Untuk menunjukkan bahwa kalian sungguh memerlukan pertolongan. Jadi Nabi (saw) mengangkat kedua tangannya, menengadah ke langit dan berdoa, “Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Yaa bad`ii as-samawaati wa ‘l-ardh, yaa Dzu ’l-Jalaali wa ’l-Ikraam.

Ketika kalian berdoa seperti ini, Allah (swt) akan menerima doa kalian.

من حديث أنس بن مالك ، قال : كان النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا حزبه أمر قال : يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث.

Kaan an-Nabi (saw) idzaa hazabahu amran qaala: Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Bi-rahmatika astaghiits.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (ra), setiap kali Nabi (saw) ditimpa kesulitan, beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Bi-rahmatika astaghiitsh,”  “Wahai Yang Mahahidup! Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan Rahmat-Mu aku meminta pertolongan!” (Sahih Tirmidzi)

Terakhir saya akan menyebutkan “Doa Nabi Yunus” yang dibaca oleh Sayyidina Yunus (as) ketika beliau berada dalam perut seekor paus.

وفي جامع الترمذي وصحيح الحاكم من حديث سعد بن أبي وقاص عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : دعوة ذي النون ، إذ دعا وهو في بطن الحوت ” لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين [ سورة الأنبياء : 87 ] إنه لم يدع بها مسلم في شيء قط إلا استجاب الله له . قال الترمذي : حديث صحيح

`an an-Nabi (saw) qaala: da`wata dzi’n-nuun, idz da`a wa huwa fii buthuuni’l-huut “laa ilaha illa anta subhaanak innii kuntu min azh-zhaalimiin.” innahu lam yad`u bihaa Muslim fii syay’in qath illa’stajaab allaahu lahu.

Nabi (saw) bersabda, “Doa saudaraku Dzun Nun (Yunus (as)), ketika ia berada dalam perut seekor paus adalah, ‘Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu min azh-zhaalimiin,’ “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.  Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim.’ (Surat al-Anbiya 21:87). Sesungguhnya tidaklah seorang Muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah mengabulkan doanya.” (Tirmidzi)

Ketika Sayyidina Yunus (as) merasa kesal dengan umatnya, Allah (swt) mengutusnya ke sebuah desa dengan penduduk sebanyak 100.000 orang.  Tak seorang pun percaya kepadanya, sehingga beliau pergi dan berhenti menyampaikan risalahnya. Untuk memberinya pelajaran, Allah (swt) mengirimkan seekor paus untuk menelannya.  Paus itu bisa saja mencabik-cabik tubuhnya, namun ia tidak melakukannya, karena Allah (swt) menyelamatkan seorang Mukmin dari kesulitan. Janganlah kalian datang dan mengatakan, “Aku mempunyai masalah.”  Setiap orang mempunyai masalah, namun sebagaimana yang tadi kami katakan, ketika Nabi (saw) ditimpa kesulitan beliau mengangkat tangannya dan berdoa, “Yaa Hayyu, yaa Qayyum! Bi-rahmaatika astaghiits.”  Kalian tidak lebih baik daripadanya!  Jadi Sayyidina Yunus (as) membaca doa di dalam perut seekor paus, “laa ilaha illa anta subhaanak innii kuntu min azh-zhaalimiin.”

Masalah itu muncul untuk memurnikan dan memberi pahala pada kalian dan untuk mengangkat derajat kalian lebih tinggi dan tinggi lagi, tetapi ini tergantung pada kesabaran kalian, dengan ayah kalian, dengan ibu kalian, dengan Nabi (saw), dan dengan ujian yang datang dari mursyid kalian.  Allah (swt) Mahasabar! Nama terakhir dari Sembilan Puluh Sembilan Nama-Nya adalah ash-Shabuur, Yang Mahasabar, yang muncul setelah Nama-Nama yang kuat dan berat seperti al-Jabbar dan al-Qahhar.  Melalui ujian ini, Allah (swt) mengatakan kepada kita, “Aku adalah ash-Shabuur, Yang Mahasabar.”  Mengapa Dia sabar? Dia biasa menghancurkan umat (terdahulu), menjungkirbalikkan mereka, dan menjatuhkan batu-batu dari Neraka!  Allah (swt) melemparkan batu-batu atau komet ini dari Neraka ke Bumi, yang artinya Jahannam itu ada di mana-mana karena mereka berasal dari tepat di atas atmosfer, bukannya dari empat miliar tahun cahaya jauhnya.  Ini juga berarti bahwa azab ada di mana-mana, tetapi mengapa Allah tidak mengirimkan mereka, mengapa Dia sabar dengan kita? Dia sabar karena Cinta-Nya terhadap Nabi (saw) dan ummatnya dan demi beliaulah Allah (swt) mengampuni ummat ini!  Jangan berpikir bahwa kalian hidup bahagia di mana Allah (swt) memberi kalian dengan berbagai rezeki adalah berkat kebaikan kalian! Tidak, kita tidak baik, namun (Dia memberi kita) karena salah satu ayat dalam kitab suci al-Qur’an,

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

Qul laa as’alukum `alayhi ajran illa al-mawaddata fi ‘l-qurbah.

Katakanlah (wahai Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan apa pun atas seruanku, kecuali cinta kepada keluargaku.” (Surat asy-Syura, 42:23)


Allah (swt) mencintai kalian karena Dia mencintai Nabi (saw) yang mencintai Ahlu ‘l-Baitnya!  Ahlu ‘l-Bait ada dua macam, yaitu: ummat secara keseluruhan, karena kita termasuk ummat an-Nabi (saw), dan keluarga Nabi (saw), keluarga inti yang berada di pusat lingkaran keluarga.  Nabi (saw) adalah pusat dari lingkaran itu sedangkan ummatnya berada di sekelilingnya dan menerima dari pusat. Nabi (saw) bersama Ahlu ‘l-Baitnya berada di lingkaran tersebut. Siapa yang berada di bawah abaya, gamis Nabi (saw), siapa yang berada di bawah jubah Nabi (saw) ketika beliau mengenakannya?  Mari kita mulai dari yang paling muda: Sayyidina al-Husayn (ra), Sayyidina al-Hasan (ra), Sayyidina Fatima az-Zahra (ra), Sayyidina `Ali (ra) dan Sayyidina Muhammad (saw)–kelimanya adalah dari Ahlu ‘l-Bait dan yang lainnya adalah keturunan langsung mereka, yang semuanya berada di pusat lingkaran dan yang lainnya berada di sekelilingnya.  Jadi demi Cinta-Nya kepada Nabi (saw), Allah (swt) menyelamatkan seluruh lingkaran tersebut, baik yang di pusat maupun di sekelilingnya!

Allah (swt) sabar dengan diri kalian sampai akhir hayat kalian, dan Dia berfirman, “Jika engkau memohon ampun, pada saat itu Aku akan memberikannya kepadamu, jangan khawatir!”  Tetapi jangan datang seperti orang-orang sekarang ini dengan segala macam dosa. Sekarang anak-anak tidak lagi mendengar orang tuanya. Allah ingin agar kalian mendengar orang tua kalian!  Para orang tua juga tidak patuh kepada Allah (swt), karena mereka mengatakan, “Sekarang adalah Tahun Baru (mari kita rayakan).” Setiap saat dalam kehidupan kalian adalah sebuah Tahun Baru, bukan hanya dua atau tiga hari itu!  Karena orang-orang yang tidak baik merayakan Tahun Baru dengan minum-minum, bermain wanita, kita harus menghindari perkumpulan semacam itu. Kalian tidak perlu keluar dan berbusana dengan kegelapan pada malam itu, lebih baik kalian tinggal di rumah, dan membaca istighfaar setelah Shalaat al-`Isyaa.  Duduk dan makanlah bersama keluarga kalian, jangan pergi keluar, jangan menjadi bagian dari mereka. Kalian bisa pergi mengunjungi orang tua kalian atau anak-anak, tetapi jangan merayakan seperti mereka merayakannya dengan minum-minum dan sebagainya. Waspadalah! Kalian tidak tahu, seperti ketika Allah (swt) mengirim komet pada kaum `Ad dan Tsamud, mereka mengirim semua orang yang baik keluar dari desa itu bersama Sayyidina Luth (as) karena jika mereka tinggal di sana, mereka juga akan dihancurkan!

Pada kesempatan berikutnya kita akan berbicara mengenai topik yang berbeda tentang doa, insyaAllah.

Wa min Allahi ‘t-tawfiiq, bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.


http://www.sufilive.com/Healing_in_the_Quran_and_Sunnah_6-4749.html

© Copyright 2013 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected

by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.