16426285_10154315199850886_2130016408993935176_n

“Hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Kuwajibkan atas mereka, dan hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku melalui ibadah sunnah (nawafil) sampai Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia melakukan sesuatu, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti akan memenuhinya dan jika ia mencari perlindungan pada-Ku, Aku pasti akan melindunginya. (Hadits Qudsi, Bukhari)
 
Dalam Hadits Qudsi ini, Allah (swt) berfirman kepada Nabi (saw) untuk mengatakan kepada umat, “Jika mereka mendekati-Ku melalui ibadah sunnah (nawafil)…,” kita tidak bisa melarikan diri dari kewajiban kita, kita harus memenuhinya, tetapi dekati Allah dengan ibadah sunnah kita, melalui Sunnahnya Nabi (saw) dan melalui akhlak yang baik, makaarim al-akhlaaq:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِي
Dan sesungguhnya engkau benar-benar mempunyai akhlak yang agung. (Surat al-Qalam, 68:4)
انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق
Aku tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak. (Bazzaar)
 
Kalian harus mendekati Allah (swt) melalui akhlak yang baik. Barang siapa yang melakukannya ia akan mampu mendengar apa yang tidak dapat didengar oleh orang lain, dan mampu melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, yang artinya masih ada kemungkinan untuk dapat melihat dan mendengar, kalau tidak, Allah tidak akan mengatakannya kepada Nabi (saw) untuk disampaikan kepada umat. “Hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku melalui ibadah sunnah hingga Aku mencintainya,” titik, selesai! Ketika Allah mencintai seseorang (segala urusan lainnya) selesai.
 
Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Ibadah yang Mudah

16298393_10154296042370886_1564412081114490125_n

Wahai Muslimiin, wahai orang-orang beriman! Untuk mengikuti (ittiba’) bukanlah sesuatu yang mudah. Suatu hari kalian terjatuh, dan di hari lain kalian bisa mengikuti, inilah yang umumnya terjadi. Untuk mengikuti sepenuhnya, 100%, sunnah Nabi (SAW), yang merupakan kewajiban bagi kita, adalah sesuatu yang sulit. Seseorang pernah mendatangi Nabi (SAW) dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah! Prinsip-prinsip Islam terlalu banyak bagiku. Berikanlah sesuatu untukku yang mudah untuk kulakukan sebagai ibadah,” dan Nabi (SAW) pun menjawab, “Jagalah agar lidahmu selalu bergerak dalam Dzikrullah,” bukannya melakukan ghibah (menggunjing) atau menyebarkan isu yang jelek (hoax, red.), tetapi lakukanlah dzikrullah, bacalah sholawat, bacalah Qur’an Suci atau lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya.

Syaikh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia